Kyuhyun menelan obatnya tanpa air. Dia bersembunyi di dapur untuk menelan obat tersebut. Sekaligus menghindari keadaan meja makan yang terasa sangat kaku. Dia dulu biasa dengan itu tapi hari ini terlihat sangat berbeda. Hera seolah menyembunyikan sesuatu. Henry juga lebih banyak diam, tidak berinteraksi dengan sang ayah.

Ada apa sebenarnya?

Kyuhyun berjalan keluar dapur setelah merasa baikan.

"Eomma, aku pamit sekarang, ne."

"Kupikir kau akan menginap? Ini sudah malam, lho."

"Tidak. Aku hanya datang untuk melihat keadaan rumah saja tadi. Tapi ternyata kalian pulang hari ini."

Hera tidak memaksa. Menambah keheranan Kyuhyun. Biasanya Hera selalu memaksanya untuk menginap.

Hera mengantar Kyuhyun sampai pintu depan. Memegang tangan Kyuhyun dengan erat. "Kyu."

"Iya, eomma?"

"Maafkan eomma, ne."

Kyuhyun menatap kedua mata Hera. Mencoba mencari apa yang salah dengan wanita itu. Tapi Hera justru berpaling.

"Eomma, kau tidak pernah melakukan kesalahan. Kau selalu membantu dan menopangku. Justru aku yang selalu memberatkan dirimu. Kupikir aku pasti sudah lama berakhir jika tanpamu. Terima kasih, eomma."

Hera merasakan air matanya mengalir. Benar. Dia sudah banyak melakukan untuk Kyuhyun. Tapi sekarang, dia akan meninggalkan anak itu.

Hera menyusut air matanya. Kembali menatap Kyuhyun dengan senyuman. "Kau kuat dan tegar, nak. Bukan karena eomma, karena itulah dirimu. Jadi tetap seperti itu apapun yang terjadi." hera menunduk, menatap jemari Kyuhyun yang kurus dan panjang. Air matanya hampir tumpah lagi mengingat dia akan memutuskan hubungan dengan ayah anak ini. Dia sudah mengambil keputusan egois. "Kau akan baik-baik saja."

Kyuhyun memeluk Hera sebelum pergi.

Hera bertahan berdiri disana hingga bayangan Kyuhyun tidak terlihat lagi. Dia merasa sangat bersalah. Anak itu jauh dari kata baik-baik saja. Tidak ada yang berubah sejak dia datang ke rumah ini. Dia tidak bisa merubah segalanya. Tidak bisa merubah Young Woon apalagi memberi kehidupan baik untuk Kyuhyun.

Pada akhirnya Hera menyerah untuk berjuang. Dia sudah sangat lelah. Dan sekarang dia berusaha meninggalkan Kyuhyun tanpa mengatakan apapun pada anak itu. Dia megkhianati kepercayaannya.

"Eomma." Henry memanggil di belakangnya.

Hera menghapus air matanya yang terus turun.

"Bisakah kau pikirkan lagi? Appa juga tidak ingin bercerai denganmu, bukan. Tolong pikirkan lagi."

Hera menggeleng masih tidak berbalik. "Tidak Henry. Mulai sekarang bereskan barang-barangmu. Kita akan keluar dari rumah ini secepatnya."

Henry mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia maju dan menarik tubuh ibunya hingga berhadapan dengannya. "Eomma selalu memikirkan Kyuhyun hyung, kan? Bahkan sekarang kau menangis karena menyesal pada Kyu hyung! Pernahkah kau memikirkan aku? Apa yang kuinginkan?! Apa yang bisa membuatku bahagia?!"

"Henry,"

"Tidak!" Henry menurunkan tangannya dari bahu Hera. "Aku kecewa padamu, eomma. Aku tidak percaya padamu."

Hera menangkup wajah putranya. "Bukankah kau sudah cukup bahagia selama ini? Eomma sudah memberimu apa yang kau inginkan. Iya, kan Henry?"

Henry tidak menjawab. Mencoba melepaskan wajahnya dari tangkupan sang ibu. Namun Hera bertahan. Dia menarik wajah anaknya untuk menatap matanya. "Dengarkan eomma. Eomma sangat menyayangimu. Eomma melakukan banyak hal agar kau bahagia. kau sudah mendapatkannya bertahun-tahun ini. Sekarang sudah cukup, sayang. Mari kita hanya hidup berdua saja, saling menyayangi dan menjaga. Eomma tidak akan pernah membencimu atau menyingkirkanmu."

Henry menangis. Menangis dengan keras. Masih berusaha menolak keputusan ibunya.

Hera menarik Henry dalam pelukannya. Memaksa putranya agar mengerti perasaannya. "Eomma mohon, Henry. Eomma senang kamu bahagia. tapi merasa hancur melihat Kyuhyun. Eomma sudah menyerah. Eomma sudah tidak mampu bertahan. Eomma mohon, kabulkan permintaan eomma kali ini. Ayo pergi. Kita tinggalkan kehidupan disini. Ini bukan tempat kita sayang."

Tubuh Henry diam. Hanya ada tangisan yang terdengar. Dan Hera masih memeluk putranya.

0o0o0o0o0

Baru beberapa meter meninggalkan rumah Kyuhyun harus berhenti oleh orang yang dia lihat.

Choi Jung Woon tersenyum melihat pemuda yang dia tunggu akhirnya muncul. Dia sengaja bertahan tidak jauh dari rumah Young Woon untuk menemui anak ini.

Kyuhyun rasanya ingin menghindar dari pertemuan yang disengaja ini. Tapi lelaki itu lebih dulu berjalan mendekatinya.

"Anyeong, Kyuhyun-ah. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu." sapaan yang sopan tapi tidak menyenangkan bagi Kyuhyun.

"Maaf, aku harus pergi."

"Sebentar saja," tahan Jung Woon. "Bisa kita bicara?"

Kyuhyun menatap lelaki baya di depannya. Memangnya apa yang diinginkan oleh lelaki ini?

Jung Woon melihat Kyuhyun diam saja tapi juga tidak pergi. Dia menganggapnya sebagai persetujuan. "Aku ingin bicara denganmu sejak di rumah ayahmu, tapi sepertinya ibumu tidak suka dengan kedatanganku. Jadi, aku putuskan menunggu disini."

Kyuhyun merasa aneh. "Kau yakin aku akan keluar?"

"Tidak juga. Aku hanya sedang bertaruh tadi. Tapi kau benar-benar muncul." Jung Woon tersenyum kecil. "Apa kau ingat denganku?"

Kyuhyun mengangguk pelan.

"Jadi kau juga ingat apa yang terjadi padamu sewaktu kecil?"

Kyuhyun meremas ujung jaketnya. "Kau ingin membicarakan sesuatu yang sudah lalu, tuan? Maaf aku tidak ingin mendengar apapun tentang itu."

"Kyuhyun-ah."

"Jangan memanggilku seakrab itu!" reflek Kyuhyun berteriak. Sepertinya dia sudah tidak bisa mempertahankan emosinya. "Biarkan aku pergi."

Jung Woon terkejut saat Kyuhyun meninggikan suaranya. "Maaf."

Kyuhyun hanya membuang wajah.

"Sebenarnya, aku ingin berterima kasih kepadamu secara langsung. Karena dirimu sudah menyelamatkan nyawa putraku. Aku merasa sangat berhutang budi kepadamu. Jadi kau boleh meminta apapun kepadaku. Aku pasti akan memberikannya."

Kyuhyun semakin meremas kain tebal jaketnya. "Tuan, kau salah paham." Kyuhyun memaksa menatap Choi Jung Woon lurus-lurus. "Orang yang ingin kuselamatkan bukan putramu. Jadi jangan berterima kasih padaku. Lagipula, sebelumnya pun kau tidak pernah meminta kepadaku. Jadi untuk apa kau berterima kasih?"

Pria itu tertegun dengan apa yang dia dengar. Cukup tertohok dan tidak menyangka dengan apa yang diucapkan Kyuhyun. Choi Jung Woon merasa sedang dihakimi. Kyuhyun dihadapannya seolah meminta keadilan atas dirinya.

Kyuhyun tersenyum tipis, matanya memandang dengan hampa. "Entahlah, bukankah kau dan appa sudah melakukan kesepakatan? Jadi tidak ada yang merasa dirugikan atau tersakiti karena itu. 'Dia' hanya anak kecil. Kalian tidak perlu merasa perduli atau harus merasa bersalah. Apapun yang dicuri darinya hanya akan menguntungkan bagi kalian."

"K-Kyu-"

"Tuan Choi, aku mendengarnya. Kau dan eomma kandungku adalah teman. Aku yakin ada hubungan yang baik antara kalian. Pikirkan saja tentang itu." Kyuhyun menunduk. "Tolong, jangan menemuiku dan mengucapkan terima kasih. Aku merasa tidak enak mendengarnya."

Choi Jung Woon tidak mengatakan apapun lagi. Bahkan membiarkan Kyuhyun berlalu tanpa ingin mencegahnya. Dia berdiri dengan goyah. Terguncang dengan semua yang dikatakan pemuda seukuran Kyuhyun. Dia salah jika ucapan terima kasihnya akan diterima dengan baik. Kenyataannya, dia memang sudah mencuri. Mencuri dari seorang anak kecil. Mencuri kesempatakan dalam kesusahan orang lain. Dia sudah melakukan hal salah untuk menyelamatkan anaknya.

Choi Jung Woon, lelaki sempurna yang yakin dengan semua keputusannya dalam hidup, kini merasakan dirinya terpojok oleh seorang pemuda. Seorang anak kecil yang sudah tumbuh dan memahami ketidak adilan yang terjadi padanya.

Choi Jung Woon telah melihat kenyataannya, adalah sebuah kemarahan dari seorang anak yang menjadi korban.

0o0o0o0

Kyuhyun memeriksa ponsel, ada beberapa panggilan masuk yang seharian ini dia abaikan. Sekarang pun dia mengabaikannya dan memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celana.

Kyuhyun mengeratkan jaket yang dia kenakan. Rasa dingin menusuk tulangnya. Nyeri kembali menghantam dadanya, kepalanya pusing, perutnya mual. Tapi Kyuhyun mengabaikan semua itu. Dia terus berjalan menuju flat yang masih beberapa puluh meter lagi. Dia ingin segera sampai dan merebah di ranjang tipis yang dia miliki.

Kyuhyun berhenti melangkah karena kepayahan. Jalanan disekitarnya sepi. Dia merasa sendirian serta merasakan sakit yang terus menghujam dirinya. Air matanya mengalir. Lagi.

Harus berapa lama lagi dia menahan semuanya? Sampai batas mana hingga semua mau berhenti menyakitinya?

Kenapa aku, eomma?

Kenapa aku?

Tidak ada yang bisa menyelamatkanku. Aku menyesal telah selamat, aku ingin bersamamu saja. Aku lelah, sungguh.

Kyuhyun melangkahkan kakinya yang bergetar. Memeluk dirinya seolah rasa sakit menghujam di segala tempat. Dia benar-benar kesakitan.

Dengan susah payah akhirnya pemuda itu berada di depan gedung flatnya yang nampak kumuh. Kakinya yang lemah masih berusaha berjalan mencapai gedung namun rupanya dia tidak sanggup lagi. Pemuda itu tumbang di jalanan kecil depan gedung.

Siwon nampak terkejut di kursi kemudi mobilnya. Menyaksikan bagaimana pemuda yang dia perhatikan sejak kemunculannya itu jatuh. Segera dia membuka pintu mobilnya dan berlari menyongsong tubuh itu.

"Kyuhyun!" panggilnya berusaha membangunkannya. Namun Siwon kembali berjengit merasakan dingin dari tubuh yang dia sentuh. Wajah itu pun nampak tidak baik dengan warna pucat.

Siwon tidak menunggu lagi untuk mengangkat tubuh yang dirasakannya begitu ringan dalam kedua tangannya. Memasukkannya ke dalam mobil dan segera pergi dari sana.

0o0o00

Donghae benar-benar menelan kecewa saat melihat pintu flat terkunci. Dia pikir Kyuhyun ada di dalam namun pemilik gedung bilang Kyuhyun tidak ada. Orang itu juga mengatakan Kyuhyun menginap di tempat lain sudah sejak awal liburan musim panas.

Dia kembali pada motornya. Sekali lagi berusaha menghubungi ponsel Kyuhyun. Lagi-lagi tidak diangkatnya. Sampai Donghae memutuskan untuk pulang.

Sampai di rumah dia melihat Zou Mi yang duduk sendirian di mini bar. Donghae berjalan menghampiri. Mengejutkan pemuda itu yang rupanya sedang melamun.

"Jarang sekali melihatmu yang serius, Zou Mi-ah. Ada apa?" tanya Donghae duduk di sebelahnya.

Zou Mi memutar kaleng cola di depannya. "Tidak ada, hyung."

"Yeoja, heum?"

Zou Mi tertawa. "Anniyo."

"Lalu?"

Zou Mi menatap jengah Donghae yang terus mengejarnya dengan pertanyaan.

"Ayolah. Kau bisa menceritakan apapun padaku."

Dahi Zou Mi berkerut. "Kau benar Donghae hyung?"

Donghae mencebik lidah. "Aku lebih tua darimu."

Zou Mi terkekeh. "Mianhe. Kau tidak cocok bersikap begitu, sih."

"Kau meremehkanku. Ya sudah jika tidak mau bercerita."

Keduanya diam. Zou Mi kembali memainkan kaleng minum yang hampir habis isinya. Sedangkan Donghae melamun menatap dinding di seberang bar. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing.

0o0o0o0o0

Dia memperhatikan wajah diam itu. Yang tidur dengan damai dan tenang. Meski pada kenyataannya sedang menanggung rasa sakit. Siwon memeriksa jam di pergelangan tangannya. Sudah tengah malam. Dia harus pulang tapi enggan untuk beranjak dan meninggalkan pemuda yang ditolongnya ini. Jadi dia bertahan lebih lama.

Hingga sebuah pesan masuk ke ponselnya. Sebuah pesan dari Kibum, menanyakannya yang tidak kunjung berada di rumah. Membuatnya kembali memeriksa jam tangan. Jam 2 dini hari. Tidak disangkannya, waktu berjalan cukup cepat. Padahal dia hanya duduk dan memperhatikan wajah Kyuhyun.

Siwon meraih tangan itu. Mengusapnya dengan lembut. "Mianhe, ne aku harus pulang. Hyung akan datang lagi besok." Siwon tidak bermaksud memperhatikannya, namun itu terasa di jemarinya. Sebuah bekas luka yang melintang di pergelangan tangan Kyuhyun. Dengan heran Siwon memperhatikannya lebih teliti. Sayatan yang cukup panjang dan jika bekas yang nampak jelas serta berwarna gelap pastinya luka itu cukup dalam.

0o0o0o0o0

Leeteuk berlari dari mobilnya. Tidak perduli dengan orang-orang yang dia lewati dan hampir dia tabrak. Yang dipikirkannya saat ini adalah Kyuhyun.

Dia belum bangun dari tidur saat kabar itu datang dari hankyung. Suara ponselnya yang berdering nyaring dan berulang membuatnya kesal. Namun matanya langsung terbuka lebar saat suara Hankyung mengatakan Kyuhyun berada di rumah sakit saat itu. Leeteuk tidak berfikir mengganti piyama tidurnya atau mencuci muka, dia hanya tahu untuk segera datang melihat kondisi anak didiknya.

Disinilah dia sekarang. Dengan nafas keluar masuk cepat setelah berlari dari baseman parkir, masuk lift, berlari sepanjang lorong lantai 3 rumah sakit mencari kamar inap Kyuhyun. Leeteuk mematung melihat Hankyung yang menatapnya terkejut.

"Hyung, kau datang terburu-buru?"

Leeteuk mengabaikan Hankyung. Mendekat untuk lebih jelas melihat keadaan Kyuhyun. Pemuda itu masih memejamkan mata, selang oksigen di hidung, jarum infus di lengan kirinya. "Hankyung-ah, bagaimana keadaannya? Bagaimana bisa seperti ini?"

"Aku juga baru tahu pagi tadi." kata Hankyung. "Dokter jaga semalam bilang Kyuhyun dibawa kemari oleh direktur."

Leeteuk menoleh menatap Hankyung. "Maksudmu Siwon yang waktu itu?"

Hankyung mengangguk. Menepuk bahu Leeteuk. "Aku sudah memeriksanya. Dia dalam keadaan lemah tapi masih cukup stabil. Hyung jangan khawatir."

Leeteuk menghela nafas lega.

"Emm Leeteuk hyung, kau bisa menggunakan kamar mandi di ruanganku. Ada baju ganti juga disana."

Leeteuk baru menyadari keadaan dirinya. Dia mendesah malu. Begitu khawatirnya sampai tidak ingat untuk membersihkan diri dulu.

0o0o0oo0

"Siwon, kau pulang jam berapa semalam?" tanya tuan Choi saat mereka berada di meja makan untuk sarapan.

"Jam dua mungkin." jam 2 dia baru keluar daru kamar inap Kyuhyun. Tepatnya jam berapa dia sampai rumah dia tidak begitu ingat.

Tuan Choi menatap Siwon. "Apa yang kau lakukan sampai jam segitu?"

"Mianhe appa. Aku ada lembur di rumah sakit."

Tuan Choi terlihat menerima alasan tersebut dan tidak menanyakan apapun lagi. Meja makan kembali hening. Ini tidak biasanya. Biasanya Donghae yang paling cerewet, tapi dia nampak sangat kalem hari ini.

"Donghae kau baik-baik saja?" tanya tuan Choi pada putra keduanya.

"Eum. Aku baik appa."

"Kau yakin? Tidak biasanya kau diam."

"Hanya kurang semangat saja."

Zou Mi memperhatikan mereka dalam diam. Dia hanya tamu meski sudah terbiasa menginap disini. Tapi kali ini memang berbeda. Donghae yang nampak kalem. Kibum yang lebih suram dari sebelumnya dan Siwon yang terlihat mencemaskan sesuatu. Yang terakhir adalah tuan Choi sendiri. Dia seperti berusaha mengalihkan pikirannya entah dari apa.

Diam-diam pemuda iu menghela nafas panjang. Dia kembali melirik tuan Choi. Seketika itu juga pikirannya kembali berputar pada semua informasi yang sudah dia kumpulkan. Untuk sesaat dia memegang sumpitnya dengan kuat. Perasaan tidak enak berkecamuk dalam dirinya.

Kenapa dia harus tahu hal semacam ini?

"Zou Mi-ah? Kau tidak suka dengan makanannya?"

"Eh!?" Zou Mi tersenyum paksa. "Ti-tidak ahjusi. Aku hanya merasa sudah kenyang." Zou Mi meletakkan sumpit. Menyelesaikan acara makannya. "Kalau tidak keberatan saya permisi dulu."

Tuan Choi mengangguk kecil. Memperhatikan Zou Mi yang langsung pergi setelah diijinkan. Seolah memang sudah tidak tahan berada di meja tersebut.

Zou Mi masuk ke kamar Kibum. Kamar tempatnya menginap. Kibum tentu saja keberatan. Tapi dia mana peduli dan tetap tidur di satu ranjang dengan Kibum.

Pemuda itu kini mondar mandir di dalam kamar. Kepalanya hampir meledak tidak tahan.

"Kenapa aku harus tahuuu! Sial!"

Mengusap kepalanya dengan frustasi.

"Kau menggila? Jangan disini."

Zou Mi melompat kaget. Kibum sudah ada di ambang pintu menatapnya dalam.

"Kau ingin aku mati cepat, Kibum! Brengsek!"

Kibum mengernyit heran. "Kau mengumpat padaku?"

Zou Mi mengabaikan Kibum. Menyambar jaket dalam gantungan kemudian berlalu pergi. Kibum semakin heran dengan tingkah laku Zou Mi. Anak itu playboy tapi dia jarang mengumpat dan berkata kasar. Apalagi kepadanya. Apa ada yang salah sampai dia lepas kendali seperti itu?

Kibum mendengus menyingkirkan pemikirannya tentang Zou Mi. Berjalan masuk, dia menuju mejanya untuk mengambil ponsel. Meneruskan kembali usahanya untuk menghubungi Kyuhyun. Dia mencemaskan pemuda itu, apalagi saat Donghae bilang Kyuhyun tidak masuk kerja. Bos di café mencemaskannya, begitu juga Donghae dan sekarang dirinya juga dilanda cemas. Dia tidak bisa tidur tenang semalaman.

0o0o0o0o0

"Dia belum sadar?" ini sudah hampir siang hari dan Kyuhyun belm membuka matanya sejak dia bawa kesini? Siwon patut untuk cemas. "Kau bilang dia hanya kelelahan?"

Dokter itu nampak salah tingkah. "Maaf direktur. Tapi pasien Kim Kyuhyun sudah diambil alih Tan uisa. Anda bisa bertanya lebih banyak padanya."

Siwon berlalu setelah mendengar jawaban itu. Kebetulan sekali dia juga ada rencana untuk menemui dokter Hankyung setelah menjenguk Kyuhyun.

Direktur muda itu mengetuk pintu ruang Tan uisa hanya untuk memberi tahu yang didalam bahwa ada yang akan masuk. Setelah menunggu beberapa detik dia masuk. Merasa terkejut melihat Leeteuk ada di ruangan itu.

"Maaf, kupikir tidak ada tamu."

Leeteuk berdiri diikuti Hankyung. Keduanya membungkuk hormat mengetahui direktur rumah sakit yang datang. "Hankyung-ah aku ke tempat Kyuhyun dulu." ucapnya pelan kepada Hankyung kemudian mengangguk sopan kepada Siwon. "Siwon-ssi, kudengar anda yang membawa Kyuhyun ke rumah sakit. Saya ucapkan terima kasih sudah menolongnya."

Siwon tersenyum. "Saya kebetulan lewat disana dan melihatnya, Leeteuk-ssi. Saya hanya melakukan yang kebanyakan orang lain akan lakukan juga."

"Tidak. Anda pasti merendah. Hanya sedikit orang yang seperti anda. Sekali lagi saya berterima kasih. Permisi." Leeteuk mengulas senyum tulus sebelum pergi dengan sopan. Membuat Siwon merasa tidak enak. Siwon sedikit berbohong tentang kebetulan yang dia katakan. Kebenarannya dia sengaja berada di sekitar flat Kyuhyun untuk melihat kondisi tempat tinggal 'Dewa'nya Kibum. Melihat seperti apa tempat tinggal pemuda itu yang begitu sederhana dan sedikit kumuh. Hingga dia melihat Kyuhyun datang dan jatuh.

Siwon duduk setelah mereka tinggal berdua. Hankyung bertanya ada apa Siwon datang.

"Aku dengar kau mengambil alih perawatan Kyuhyun?"

"E iya, Direktur."

Siwon meletakkan kedua tangan ke atas meja. Menatap hankyung lebih dalam. "Hankyung hyung, mari berbicara lebih akrab saja."

Hankyung tersenyum canggung. Namun kemudian mengangguk menerima usul Siwon. Bagaimanapun mereka cukup akrab di luar hubungan sebagai atasan bawahan.

"Aku sudah tahu mengenai penyakit Kyuhyun. Proposal yang kau ajukan aku sudah membacanya. Aku akan menanggung semua operasi dan perawatan Kyuhyun selama di rumah sakit."

Hankyung tersenyum lebar. Nampak girang mendengar ucapan Siwon. Dia bahkan tidak sadar telah meraih tangan Siwon dan mengucapkan banyak terima kasih. Seolah kesulitannya terangkat begitu saja.

Siwon ikut senang melihat Hankyung senang. "Segera buat jadwal nya dan lakukan yang terbaik."

"Tentu, Siwon! Tentu!"

Hankyung menarik tangannya dari Siwon. Dia baru sadar masih ada kendala lainnya sebelum operasi itu bisa dilakukan.

"Wae, Hankyung hyung?"

"Ah, tidak. Kami masih harus menunggu wali syah nya. Tapi akan ada yang mengurus untuk itu."

Hanya soal itu? Tapi kenapa Hankyung terlihat cemas? Dia jadi mengingat kembali apa yang dikatakan Zou Mi tentang hubungan Kyuhyun dan orang tuanya sedang dalam masalah.

"Apa yang perlu diurus? Kau hanya perlu mengabari mereka dan menandatangani beberapa surat. Mereka pasti senang mendengar berita baik ini." seburuk apapun hubungan mereka tentu orang tuanya akan senang dengan berita pengobatan putranya bisa segera dilakukan.

Hankyung hanya bisa menarik senyumnya yang terlihat dipaksakan. Dalam hati Siwon mempertanyakan seburuk apa hubungan Kyuhyun dengan orang tuanya?

"Apa Kyuhyun menyembunyikan penyakitnya dari orang tuanya?" tanya Siwon pada akhirnya.

Hankyung cukup terkejut pada Siwon. Entah itu hanya menebak atau memang Siwon telah menduganya tapi yang jelas Hankyung merasakan hal aneh dengan sikap Siwon. Dia sudah mendengar apa yang dikatakan rekan dokter yang semalam menangani Kyuhyun. Dia bilang Siwon terlihat sangat panik dan menekankan padanya untuk melakukan yang terbaik untuk Kyuhyun. Bahkan Kyuhyun ditempatkan di ruang VIP dan Siwon cukup lama menunggui Kyuhyun. Dokter itu sampai menduga Kyuhyun adalah kerabat Siwon dengan diperlakukan begitu baik dan hati-hati.

"Aku tidak tahu pasti tentang itu, Siwon. Yang aku tahu Leeteuk-ssi menjadi wali nya selama ini." Hankyung memutuskan untuk tidak terlalu banyak bicara tentang pribadi pasien kepada orang lain. Meski dihadapannya adalah sang atasan yang akan membantu seluruh biaya Kyuhyun.

Pintu ruang Hankyung dibuka dari luar. "Tan uisa, pasien Kim Kyuhyun!"

Hankyung beridir dengan sigap. "Kenapa?!" tanyanya seraya berlalu. Siwon ikut beranjak dan mengikuti dokter dan suster yang berjalan terburu-buru. Di belakang dia mendengar mereka berbicara tentang pasien Kim Kyuhyun. Seperti ada yang gawat yang berusaha dijelaskan si suster. Siwon ingin bertanya tapi itu akan mengganggu dan menghambat mereka. Jadi diam dan mengekor saja.

0o0o0o0o0

Leeteuk tidak mengerti ada apa? tadinya dia masih menunggui Kyuhyun yang tidur. Beberapa saat kemudian pemuda itu bangun. Terlihat linglung bahkan tidak merespon ucapannya. Leeteuk ingin menyentuhnya. Namun saat dia baru saja menempelkan kulitnya dengan kulit Kyuhyun pemuda itu tiba-tiba merintih sakit. Leeteuk tentu saja panik dan bertanya apa yang sakit? Tapi Kyuhyun hanya merintih sakit berulang kali. Dan semakin parah hingga Kyuhyun meringkuk gemetar dan merintih.

Suster datang setelah dia keluar dan menarik siapapun yang dia lihat, kebetulan adalah dua orang suster sedang lewat. Kedua suster itu masuk dan memeriksa Kyuhyun. Mereka juga nampak kesulitan untuk bicara dengan Kyuhyun, salah satu suster itu memutuskan untuk memanggil dokter yang bertanggung jawab pada Kyuhyun.

Leeteuk masih berdiri cemas menunggu di luar. Sedangkan seorang suster menemani Kyuhyun di dalam. Dia bisa mendengar suara Kyuhyun berteriak kesakitan. Hampir saja dia menerobos masuk kembali saat Hankyung dan suster sebelumnya muncul disana. Dia kurang memperhatikan keberadaan Siwon dan memilih menyambut Hankyung. "Hankyung-ah!"

"Ada apa hyung?"

"Aku tidak tahu. Kyuhyun bangun dan dia mengeluh sakit saat aku menyentuhnya."

Hankyung mengernyit heran. Dia membuka pintu, bersama suster yang menjemputnya dia masuk ke dalam. Leeteuk hampir ikut masuk tapi suster itu menahannya agar tetap di luar.

Suster di dalam segera menyingkir menyerahan penangan Kyuhyun pada Hankyung. Kyuhyun masih sama seperti saat Leeteuk melihatnya, menggelungkan diri dan mengerang. Selang oksigen terlepas dari hidung juga jarum infus yang tertarik merobek kulitnya.

"Sakitt~"

"Aku sudah memberinya injeksi, tapi pasien tetap mengeluh sakit." lapor suster.

Hankyung memeriksa Kyuhyun. Merasa tidak mengerti. Kyuhyun tidak apa-apa menurut pemeriksaannya tapi pemuda itu terus merintih kesakitan apalagi saat disentuhnya.

"Kyuhyun-ah, katakan padaku apa yang sakit?"

Kyuhyun menatap Hankyung dengan wajah lelah dan pucat. Matanya nampak enggan terbuka. "Semuanya sakit. Tanganku, pinggangku, dadaku, semuanya sangat sakit."

"Seperti apa rasa sakitnya?"

Kyuhyun memejamkan mata, menggeleng. "Mereka suka melukaiku. Aku kesakitan. Eomma~" Kyuhyun memeluk pinggangnya dengan satu tangan sedang tangan lain meremas ujung bantalnya. Air matanya mengalir dan diriya semakin bergelung diri.

Hankyung sepertinya mulai mengerti. Dia keluar setelah menyuntikkan obat penenang dan menyerahkan Kyuhyun pada dua suster itu untuk diurus kembali.

Leeteuk dan Siwon tidak ada pembicaraan selama mereka menunggu di luar. Hingga Hankyung keluar dan tersenyum kecut pada Leeteuk. Dia melihat Siwon sejenak sebelum menarik Leeteuk menjauh. Siwon tidak bergerak, melihat mereka di tempatnya.

"Apa yang terjadi, Hankyung-ah? Kyuhyun baik-baik saja?"

"Tidak, hyung." Hankyung menatap Leeteuk masih dengan sorot yang sama. "Kurasa kau harus membuat jadwal dengan psikiater."

Leeteuk membulatkan mata. "Apa maksudmu. Dia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya."

"Aku juga merasa seperti itu. Tapi sekarang, itu terjadi lagi. Dia kesakitan, tapi tubuhnya baik-baik saja. Itu hanya imajinasinya, Leeteuk hyung. Jiwanya rapuh, tertekan dan mentalnya sedang down. Entah apa yang terjadi, tapi dia seperti itu sekarang. Harus memperbaiki psikisnya agar kesakitannya pun menghilang."

Leeteuk tidak bisa mengatakan apapun lagi. Lelaki itu menampakkan wajah sedih dan putus asa. Dia pikir dia sudah melakuan semuanya dengan baik selama ini. Dia merasa dia sudah cukup berhasil membangkitkan psikis rapuh Kyuhyun. Tapi hari ini dia mendapati kenyataan pemuda jatuh kembali.

"Jangan menyalahkan dirimu, hyung. Aku akan membantumu menangani ini."

Leeteuk mengusap wajahnya. Kyuhyun sulit untuk menerima psikiater. Karena itu Leeteuk menangani sendiri selama ini. Lagipula pasti sulit untuk orang luar memahami Kyuhyun. Setidaknya jika itu Leeteuk, dia sudah cukup tahu apa yang terjadi pada Kyuhyun. "Berikan aku waktu. Jika aku merasa sudah tidak sanggup aku akan meminta psikiater."

Hankyung menerima keputusan Leeteuk. Bagaimanapun Leeteuklah orang yang selama ini berperan menjadi psikiater Kyuhyun. Jadi sekali lagi biarlah Leeteuk yang menanganinya. Hubungan merekapun sudah jauh lebih baik dari dulu.

"Ada kabar baik."

Leeteuk menatap Hankyung sanksi. "Kabar baik di keadaan seperti ini?"

Hankyung menepuk bahu Leeteuk. "Direktur akan menangani semua biaya untuk Kyuhyun. Operasinya juga."

Leeteuk segera menatap Siwon yang rupanya sedang memperhatikan mereka dengan minat. Tapi Leeteuk segera beralih kembali pada Hankyung. Meminta kepastian dari matanya. Hankyung tersenyum dan mengangguk.

"Oh Hankyung-ah itu kabar yang sangat bagus." Leeteuk hampir saja menangis. Matanya sudah berkaca-kaca.

"Tapi hyung tahu, kan masih ada hal lain yang harus diurus?"

Leeteuk mengangguk pasti. "Aku akan segera menyelesaikannya. Mana mungkin seorang ayah tidak akan peduli dengan nyawa putranya. Orang tua sering bilang cinta mereka tanpa batas. Aku akan pertaruhkan kalimat tersebut."

Leeteuk menghampiri Siwon, mengucapkan terima kasih dan membungkuk menyatakan bagaimana dia sangat bersyukur dan merasa tertolong. Setelah itu dia masuk untuk melihat Kyuhyun yang sudah kembali dipasang infus. Selang oksigen sudah tidak diperlukan lagi. Dia duduk dan segera meraih tangan Kyuhyun.

"Kau harus menerima operasi-nya apapun yang terjadi, Kyuhyun. Ada orang baik yang akan menolongmu. Jangan kecewakan aku, jangan kalah. Aku sudah bersedia berjuang bersamamu, jadi kumohon jangan kecewakan aku."

0o0o0o0o0

Sore yang kelam bagi seorang Kim Young Woon, mendapati rumah kosong tanpa siapapun. Hera dan Henry sudah pergi dari rumahnya. Hera memutuskan tinggal di luar selama gugatan cerainya di proses pengadilan. Begitu yang tertulis di surat yang ditinggalkan Hera di meja ruang tamu.

Tas kerja hitam itu jatuh dari genggaman. Begitu juga sang pemilik menjatuhkan diri nya. Bersimpuh memandang kosong.

Bahkan di pernikahan yang keduanya dia harus berakhir seperti ini. Apa yang salah hingga dia mengalami semuanya? Kenapa Tuhan suka sekali menghancurkan kebahagiaannya?

"Kenapa? Apa aku begitu tidak pantas untuk bahagia?! Seseorang sudah menghancurkan orang yang begitu aku cintai. Lalu sekarang, istriku pergi. Dia meninggalkanku. Meminta cerai dariku!" lelaki itu menjadi histeris sendiri.

Meratapi nasib yang begitu tidak adil membolak balikkan kebahagiaannya. Young Woon bangkit dan membalikkan meja. Menendang kursi dengan geram. Dia menggila di senja yang memerah. Menghancurkan apapun yang dia lihat. Meraung menunjukkan lukanya yang menganga dan menganga.

Young Woon berakhir dengan berbaring di lantai. Air matanya mengalir, mencakari lantai yang dingin namun tidak bergores. Lelaki itu mendapatkan masa kelam kembali.

"Tuhaaaan, nasib seperti apa yang kau tulis untukku?"

Merengek dengan segala keputus asaannya seolah tidak ada jalan lain agar bisa memperbaiki semua ini. Pikirannya menggelap, tertutup luka yang kian menjalar. Berakar dari satu titik yang sama.

"Kyuhyun." lirih Young Woon pelan. "Kenapa kau melakukan ini padaku? Apa salahku padamu? Apa yang harus kuberikan agar semua berakhir?"

Young Woon bangkit susah payah. Berjalan gontai layaknya mayat tidak berjiwa. Dia melangkah manaiki tangga satu persatu dan menghilang ke dalam kamar. Pikirannya kosong dan buta.

Pintu rumah yang terbuka menampikan sorot merah dari cakrawala.

Senja yang kelam.

Young Woon yang hancur.

TBC

Tuesday, October 18, 2016

12:49 AM

Thursday, October 20, 2016

6:54 PM

Terima kasih yang sudah berkenan untuk mereview, meski sangat jarang di bales bahkan sekarang kagak ada yang dibales kecuali di PM. Haha maaf.

Rahma94, sudah bisa jadi hadiah ultahmu kah ini?

Semoga bisa, ya meski telat. Saya sudah berusaha yang pasti.

Untuk yang follow, favorite dan rivew saya bersyukur sekali kalian mampir disini. Sungguh.

Tapi saya harus minta maaf, ini bakalan jadi chapter panjang kayak LBB, sepertinya. Jadi masihkah ada yang akan setia membaca dan mampir?

Terima kasih dan salam hangat di udara sepanas ini.

Sima Yu'I

(SY'I)