"Kibum kau sudah mendapat kabar tentang Kyuhyun?"

Saat Kibum menggeleng bahkan dengan wajah frustasi yang jarang diperlihatkannya, Donghae mendengus kesal. Pemuda itu tidak mengerti, Kyuhyun menghilang tidak ada kabar sama sekali sejak 5 hari lalu. Tahu bagaimana itu berdampak sekali pada Heechul?

Donghae menggeleng, menyerah mencari tahu. Dia pergi dengan umpatan kecil.

Kibum menatap Donghae yang juga berubah akhir-akhir ini. Dia lebih banyak bersikap serius dan sifat childishnya menguap entah kemana. Keadaan rumah jadi aneh. Siwon dan ayahnya juga sedikit berbeda. Seperti ada suatu jarak yang terbangun diantara mereka. Tapi baik Siwon dan ayahnya mengelak saat dia mempertanyakan hal itu. Meyakinkannya bahwa tidak ada yang berubah dari hubungan mereka.

Pemuda itu menatap layar ponselnya yang berkedip. Sebuah pesan dia terima. Dia membacanya dengan cepat kemudian beranjak menuju kamarnya. Saat masuk kamar dia melihat Zou Mi yang duduk diam di tepian ranjang.

"Kau betah sekali menginap?" Kibum berjalan ke lemari. Membuka kaos dan menggantinya dengan kaos lain dan sebuah jaket.

"Kau akan pergi?" tanya Zou Mi tidak tersinggung dengan sindiran Kibum.

Kibum tidak menyahut. Saat hendak beranjak keluar suara Zou Mi kembali menginterupsi. "Ada banyak rahasia didunia ini, Kibum. Jika kau bisa mengetahui satu apa yang akan kau lakukan?"

Kibum menoleh, menatap Zou Mi penasaran. "Kau sangat berbeda belakangan ini. Yeoja tidak membuatmu tertarik lagi?"

Zou Mi menyeringai. "Aku punya banyak waktu untuk itu. Tapi sayangnya aku merasa harus berhenti. Bermain wanita tidak membuatku merasa menjadi benar."

"Kau memang tidak benar sejak awal, Zou Mi." Kibum melipat tangan di dada.

Zou Mi terkekeh. Kepalanya menunduk menatap lantai. "Tapi aku tidak pernah merebut kehormatan mereka tanpa persetujuan. Kami suka melakukannya karena kami sama-sama menginginkannya. Tapi lelaki yang aku tahu sangat mengerikan."

Kibum tidak mengerti maksud perkataan Zou Mi. "Kau membicarakan siapa?"

"Seseorang yang terlihat sempurna, tidak sesempurna yang dia perlihatkan. Dia serigala. Dia mencabik kehormatan seorang wanita bersuami. Menjijikkan!" Zou Mi melempar pandangan tajam pada Kibum. Kibum reflek menurunkan kedua tangannya. Semakin tidak memahami tingkah Zou Mi. Namun sebelum berucap Zou Mi sudah lebih dulu tertawa keras. Seolah apa yang dia ucapkan tadi hanya rangkaian lelucon.

"Kibum, wajahmu aneh. Aigo." Zou Mi mengusap air matanya yang jatuh. "Betapa gelinya melihat ekspresimu barusan. Aku sampai menangis. Kemana kau akan pergi?"

Kibum menarik nafas dan menahannya. Dia terlihat sangat kesal. "Bukan urusanmu, sinting." kemudian berlalu secepatnya.

Zou Mi menurunkan tangan. Meremas pinggiran ranjang. "Orang itu ayahmu, Kibum. Kyuhyun adalah korbannya." Zou Mi tertawa kemudian. "Bagaimana kalian, jika mengetahui hal itu? Kau begitu tertarik dengan Kyuhyun. Dia saudara sedarahmu. Hasil kekejian ayahmu. Bagaimana ini, Kibum aku tidak tahan diam dalam rahasia ini."

0o0o0o0

"Kibum sunbae?!" Changmin surprise melihat siapa yang mengetuk rumahnya siang-siang begini. Ternyata orang yang tidak pernah diduganya. Entah darimana si Kibum tahu alamatnya.

"Ada apa?" tanya Changmin saat Kibum tidak berniat berbasa-basi melihat raut mukanya.

"Kau tahu dimana Kyuhyun?"

Changmin tidak langsung menjawab. Sebaliknya memandang Kibum curiga. Sejujurnya dia masih tidak percaya dengan sunbaenya ini. Baginya Kibum sengaja mendekati Kyuhyun. Tapi apa tujuannya, Changmin tidak tahu.

"Changmin, aku tahu kau mencurigaiku. Mungkin kita tidak bisa saling menyukai tapi aku tidak pernah punya maksud buruk pada Kyuhyun. Jadi kumohon, beri tahu aku dimana Kyuhyun."

Changmin menghela nafas panjang. "Maaf sunbae, aku sebenarnya juga tidak tahu. Aku sendiri sedang mencarinya."

Kibum diam mendapati jalan buntu. Dia percaya pada Changmin yang terlihat bersungguh-sunggh mengatakan hal itu.

"Kibum sunbae, boleh aku bertanya sesuatu?"

Changmin menunggu hingga Kibum mengangguk.

"Sebenarnya kenapa kau begitu peduli pada Kyuhyun? Aku selalu mencurigaimu. Kau sengaja mendekatinya dengan suatu maksud, bukan. Tapi kenapa? Apa yang menjadi tujuanmu?"

Seperti yang Kyuhyun sering bilang Changmin memang mencurigainya. Kibum tersenyum tipis, sangat tipis. "Aku punya hutang kepadanya. Jadi aku ingin membalasnya."

"Hutang? Kupikir dia kekurangan uang, kenapa bisa meminjamimu?"

Kibum kembali tersenyum tipis. "Bukan tentang materi. Dia memberikan sesuatu yang lebih berharga dari itu."

Changmin tertegun. Sesuatu yang berharga dari materi. Changmin tidak bisa membayangkan apa itu.

"Bisa kau berikan alamat rumah orang tuanya?"

"Eh." changmin rasa mendatangi rumah orang tua Kyuhyun bukan ide bagus. Tapi walau dia sudah mengatakan pemikirannya, Kibum tetap memaksa meminta alamat itu. Jadi terpaksa Changmin menyerahkan alamat Kim Young Woon.

"Kau tidak akan menemukan Kyuhyun disana, percaya padaku. Tapi jika memaksa, aku akan memberikannya."

0o0oo00o0

Kibum memperhatikan rumah dihadapannya. Tidak besar juga tidak kecil. Halaman luas dengan beberapa spot ditanam bunga dan teras yang adem. Terlihat nyaman untuk hunian.

Kibum masih berdiri entah menunggu apa. Dia hanya berdiri memandang pada pintu yang masih tertutup rapat. Pintu pagar yang hanya setinggi dada orang dewasa ini terbuka, namun dia tidak segera melewatinya dan mengetuk pintu. Ada perasaan ragu, cemas, grogi dan takut. Sudah macam orang akan bertemu camer saja. Ah Kibum berlebihan.

Sejujurnya Kibum bukan pengecut seperti itu. Dia orang yang lurus lempeng, begitu pula sikap dan tindakannya. Tapi kenapa sekarang dia jadi meragu? Kibum berdecak kesal sendiri. Dia sudah datang di alamat yang dia dapatkan dari Changmin. Sengaja memintanya agar dia bisa memastikan sesuatu. Memantapkan tekad, Kibum akhirnya melangkah hingga sampai di depan pintu.

Belum sempat dia mengetuk seorang lelaki keluar tiba-tiba membuat Kibum mundur selangkah. Orang itu juga nampak terkejut.

Kibum memperhatikan wajah itu. Meski nampak berantakan dengan jenggot tipis dan wajah yang lelah, Kibum masih bisa mengenalinya. Dia lelaki yang dulu mendatangkan donor untuknya. Jadi orang ini ayah Kyuhyun? Dia memberikan ginjal anaknya? "Kau tuan Kim?"

"Heum. Ada apa?" suara berat dan tatapan menyelidik.

"Aku Choi Kibum. Orang yang menerima ginjal putramu."

Wajah orang itu semakin tidak ramah. "Ada apa sebenarnya? Belum lama ini ayahmu datang sekarang kau juga muncul! Apa yang kalian inginkan sebenarnya?!"

'Appa?! Jadi appa sudah tahu?!' Kibum mengepalkan tangan.

"Sudah pergilah! Aku tidak punya waktu untuk berurusan denganmu! Kejadian itu sudah berlalu! Lupakan saja dan jangan mengungkitnya lagi! Pergilah!" Young Woon mengusir Kibum. Dia juga terlihat buru-buru ingin keluar.

"Dimana Kyuhyun?" Kibum bertanya hanya mencoba peruntungan.

"Dia tidak tinggal disini. Pergilah, aku masih punya urusan!" Young Woon berbalik untuk mengunci pintu. Saat akan pergi Kibum kembali menanyakan sesuatu yang membuat Young Woon marah.

"Aku tahu dia tinggal di luar, tapi kau ayahnya. Aku tidak mendengar kabarnya beberapa hari ini, jadi mungkin kau tahu dia dimana sekarang."

"Itu bukan urusanku! Cari kemanapun tapi jangan disini!" Young Woon kemudian pergi begitu saja.

Ayah Kyuhyun kenapa bersikap seperti itu? Sebenarnya ada apa? Dengan sangat kebingungan Kibum mencoba kembali menghubungi Kyuhyun. Jika ayahnya bersikap begitu pasti ada sesuatu yang buruk. Atau memang hubungan mereka tidak baik? Tapi kenapa?dia butuh sebuah penjelasan. Tidak ada cara terbaik selain bertanya langsung kepada orangnya.

Kibum memandang ponselnya. Dalam hati mengutuk, betapa tidak bergunanya benda kotak persegi panjang tersebut. Ini sudah keberapa kalinya dia mencoba menghubungi Kyuhyun. Namun untuk kesekian kali juga dijawab oleh noona operator. Oh, betapa Kibum ingin meremukkan benda pipih ditangannya. Tidak tahu bagaimana cemasnya dia sekarang. Sejak kemarin hanya Kyuhyun yang ada di pikirannya. Bagaimana dia tidak cemas jika dia belum melihat anak pucat itu sejak berhari-hari lalu? Bahkan Changmin pun tidak mengetahui keberadaan Kyuhyun.

Kibum frustasi. Tentu saja. Dia berharap menjadi orang yang mengetahui segalanya tentang Kyuhyun. Penyelamat jiwanya. Dia ingin membayar semua pengorbanan anak itu. Namun apa yang harus di laluinya untuk sampai tujuannya? Kyuhyun menghilang tidak tahu keberadaannya.

Dan sang appa yang dia percayai selama ini, ternyata sudah tahu siapa pendonornya?! Tega sekali! Ayahnya bahkan sudah datang ke rumah ini. Masih saja menyembunyikan hal itu kepadanya?

'Appa.'

0o0o0oo0

Heechul meletakkan nampan dengan kasar. Moodnya sangat buruk. Sudah berhari-hari pegawai termudanya tidak ada kabar. Karena kekosongan itu dia harus ikut turun tangan untuk melayani pelanggan. Dia merasa kesal karena Kyuhyun sama sekali tidak menghubunginya. Sebenarnya dia juga cukup mengkhawatirkan anak itu. Heechul jadi uring-uringan dan cepat marah. Pegawai lain sedikit banyak kena imbasnya. Dan itu sungguh tidak nyaman.

Donghae memperhatikan bosnya yang seharian ini menekuk wajah. Tersenyum, pura-pura, hanya jika menghadapi pelanggan. Selebihnya dia lebih banyak marah. Kesalahan kecil yang biasanya tidak jadi masalah saja membuatnya bisa meledak. Donghae dan Eunhyuk lebih sering kena marahnya.

"Donghae-ah, kalau besok Kyuhyunie masih tidak muncul, matilah kita." keluh Eunhyuk. Seharian ini dia mendapat kemarahan berulang-ulang.

Donghae mengangguk. Memeluk nampannya. "Kau sudah mecoba menghubungi Kyuhyunie? Aku mencobanya tapi tidak tersambung. Aku menanyakan pada Kibum juga dia tidak tahu."

Eunhyuk mengangguk. "Sama. Yang lain juga sudah pernah mencobanya, dan sama sekali tidak ada hasilnya. Menurutmu kenapa? Padahal sudah tidak hujan. Ini musim panas."

Donghae mengangguk paham maksud Eunhyuk. Mereka kembali memperhatikan tingkah Heechul. Bosnya itu sedang melakukan sesuatu dengan selembar kertas yang cukup lebar. Entah menulis apa dengan spidol besar.

"Menurutmu, apa yang dilakukan bos?"

Eunhyuk berkedik bahu tidak tahu. Dia masih fokus pada Heechul yang kini beranjak dari meja kasir dengan selembar kertas tadi. Eunhyuk menepuk Donghae saat menyadari Heechul berjalan ke arah mereka. Donghae segera memisahkan diri dari Eunhyuk, pergi ke meja kosong lain dan berpura-pura membersihkan meja. Eunhyuk melakukan hal yang sama dengan meja di depannya.

Heechul menepuk bahu Donghae cukup keras. Donghae berbalik terkejut, tersenyum bodoh. "Ne, bos?"

"Ambil papan pengumuman di belakang." perintah Heechul masih dengan wajah suram.

"U-untuk apa, bos?" Donghae melirik kertas yang dibawa Heechul. Eunhyuk mencuri pandang masih dengan mengelap meja, penasaran.

"Ambil saja!"

Mendapat balasan yang tidak lembut itu, Donghae segera pergi melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Dia melewati Ryewook yang juga sedang memperhatikan. Pemuda mungil itu menatapnya penuh tanya, Donghae hanya membalasnya dengan gelengan sambil lalu. Jika tidak cepat bisa dipastikan dia akan mendapatkan kemarahan Heechul.

Donghae kembali dengan sebuah papan berkaki tiga yang sering digunakan café ini untuk menempel menu diskon atau sebagainya, untuk di pajang di samping pintu café. Donghae bertanya-tanya apa yang akan dilakukan bosnya dengan ini. Seingatnya tidak ada menu baru atau discon yang perlu dipublikasikan.

Heechul segera mengambil papan itu tanpa mengucapkan apapun atau bahkan mendengar apa yang ingin dikatakan Donghae. Membuat Donghae melongo menatap Heechul yang berjalan keluar café. Eunhyuk dan Ryewook mendekat.

"Hae-ah, apa yang ingin ditempel bos?"

Donghae menggeleng menjawab tanya Eunhyuk. Ryewook bergerak cepat untuk mencari tahu, diikuti Donghae dan Eunhyuk. Mereka berdiri di pintu café yang merupakan kaca. Mengintip Heechul.

Heechul menghela nafas panjang. "Kyuhyunie, kau yang memaksaku melakukan ini. Kita lihat apa kau akan menyesal saat kembali. Kuharap kau memiliki alasan yang bagus."

Heechul memandang sekali lagi pada apa yang dia pajang disana. Seolah mengukuhkan keputusannya. Lalu kembali masuk setelah merasa yakin. Dilihatnya ketiga pegawainya berkerumun di depan pintu. Dia tersenyum miring dan berjalan lebih cepat. Membuat ketiga pengintip itu lari tunggang langgang. Heechul terkekeh, cukup terhibur dengan tingkah konyol mereka.

Ryewook melihat Heechul telah kembali ke meja kasir. Membuka pembukuan. Sepertinya akan sibuk. Bergerak cepat dia berlari keluar café. Melihat apa yang di letakkan Heechul di papan tersebut. Dan dia sangat sangat terkejut, membuatnya berlari masuk ke dalam, langsung menghampiri Heechul.

"Bos, apa yang kau lakukan?!" tanyanya sangat cemas.

Heechul hanya meliriknya sekilas. "Memangnya apa?" membalik tanya dengan acuh.

"Kau ingin menggantikan, Kyuhyunie?!" Ryewook bertanya tidak sabar.

Donghae dan Eunhyuk saling pandang dan memutuskan untuk mendekat untuk mengetahui lebih jelas apa yang membuat Ryewook terlihat sangat cemas.

"Kenapa," Ryewook menatap Heechul tidak percaya. "Kenapa tidak menunggu, Kyuhyun? Dia pasti akan kembali. Dia tidak mungkin keluar begitu saja. Bos, lepaskan pengumuman itu. Kyuhyun pasti masuk besok."

Heechul menutup bukunya. Menatap ketiga bawahannya. Dan berahir pada Ryewook yang memasang wajah terkejut sekaligus memelas. "Aku sudah menunggunya. 5 hari dan dia tidak muncul. Tidak memberi kabar apalagi menjelaskannya kepadaku. Seenaknya saja."

Ryewook diam. Menatap lantai dengan sedih. Mereka sudah cukup lama bersama bekerja disini. "Dia menjadi pegawaimu saat usianya 15 tahun. Aku ingat dia datang dan menagih janji, katanya. Kau menerimanya begitu saja."

"Benar! Aku memang berjanji padanya. Anak itu datang saat café ini masih baru, usianya 12 tahun. Aku berjanji padanya karena dia berkeras untuk mendapatkan pekerjaan ini. Karena itu saat dia kembali saat berusia 15 tahun aku mengiyakannya bekerja disini. Dia orang yang keras kepala tapi juga pekerja keras. Aku menyukainya." Heechul melempar pandang ke arah lain. Dia membicarakan kenangan masa lalu. Kyuhyun yang datang melamar pekerjaan di usianya yang 12, tidak mau mendengarkan penjelasan bahwa dirinya masih terlalu muda untuk bekerja. Kemudian menangis dan membuat Heechul terpaksa memberi janji padanya. Hanya iseng agar Kyuhyun berhenti menangis. Namun rupanya anak itu mengingat janji itu dan kembali di usianya 15 tahun, menagih janji untuk bekerja di café milik Heechul. Saat itu café sudah mempekerjakan Ryewook, Donghae, Eunhyuk, Shindong dan Sungmin. Kedatangan Kyuhyun, yang menjadi yang termuda dan herannya semua pegawainya menyukai anak itu. Kyuhyun bekerja sangat keras untuk mengimbangi senior-seniornya agar tidak menyulitkan mereka. Dan itu membuat Heechul cukup respek dan menyukai kegigihan Kyuhyun.

"Dia seperti adikku sendiri. Aku kasar dan berbicara keras bukan berarti aku membenciya, atau membenci kalian." Heechul melunak. Mengambil nafas panjang dan kembali menatap ketiga pegawainya. "Tapi dia mengecewakanku hari ini. Jika perduli pada pekerjaannya, tidak, kalian sudah seperti keluarga baginya seharusnya dia memikirkan perasaan kalian dan menaruh sedikit hormat kepadaku. Jika dia bisa memikirkan itu dia tidak akan menunggu waktu untuk mengabariku atau kalian. Memberitahu kenapa dia tidak pergi bekerja sampai hari ini!"

Eunhyuk dan Donghae ikut menunduk. Mereka akhirnya tahu apa yang sedang diributkan Ryewook.

"Sudahlah. Kembali bekerja. Jika dia masih ingat tempat ini, dia akan muncul cepat atau lambat." Heechul mengusap ujung matanya yang berair. Mengalihkan diri pada pembukuan café. Tidak ada yang dia kerjakan sebenarnya. Hanya untuk melarikan pikirannya dari memikirkan Kyuhyun.

Ketiga pegawainya akhirnya pergi dengan wajah muram. Masih tidak menerima dengan keputusan Heechul. Tapi melihat Heechul yang nampak sangat kecewa, mereka mengerti kalau ini juga tidak mudah untuk Heechul. Mereka hanya bisa berharap, sebelum ada pelamar Kyuhyun akan datang dan meminta maaf kepada Heechul agar bisa kembali bekerja di tempat ini. Setahu mereka Kyuhyun hidup sendiri, kehilangan pekerjaan akan menghentikan penghasilannya. Apalagi sulit untuk mendapatkan pekerjaan lain di luar sana.

0o0o0o0o0

Leeteuk berjaga di ruangan. Memperhatikan bagaimana Hankyung mengurus Kyuhyun. Sesekali mengajaknya bicara tapi dibalas diam oleh Kyuhyun.

Hankyung menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Menghampiri Leeteuk.

"Keadaan vitalnya sudah stabil. Dia tidak butuh infus dan lainnya lagi. Asal kau tetap bisa menjaganya untuk makan dan menelan obatnya dia akan bisa segera keluar."

Leeteuk mengangguk mengerti. Matanya masih melihat pada Kyuhyun yang pasif.

"Jangan khawatir. Dia banyak kemajuan, Leeteuk hyung sudah melakukan yang terbaik." Hankyung menepuk bahu Leeteuk lalu pamit pergi.

Leeteuk menghampiri ranjang tempat Kyuhyun berbaring dengan mata terbuka. Dia duduk di kursi di sebelahnya. Tersenyum lembut sebelum kembali pada ritualnya.

"Hankyung bilang kau sudah jauh lebih sehat sekarang. Kau senang, heum?" menyapanya sebagai permulaan.

"Mau bercerita lagi padaku, Kyunhyunie?"

Kyuhyun menggerakkan kepala, menatap diam pada Leeteuk.

Leeteuk menunggu dengan sabar. Dia yakin akan bisa memperbaiki Kyuhyun kembali. Kyuhyun tidak bersuara atau merespon orang lain sebelumnya. Namun dua hari terakhir ini Kyuhyun mulai mau membuka mulut. Sedikit demi sedikit dia mau bicara dengan Leeteuk mengenai perasaan dan ketakutannya. Dengan rancu Kyuhyun sudah mau menceritakan tentang Choi Jung Woon dan kejadian saat dia kecil dulu. Meski merespon hanya kepada Leeteuk, Kyuhyun mulai bisa menyingkirkan rasa sakitnya.

"Kau masih merasa sakit?" tanya Leeteuk setelah lama tidak ada suara.

Kyuhyun berkedip lambat, memejam lebih lama kemudian menggeleng. Leeteuk tersenyum lembut. Tangannya bergerak ke tangan Kyuhyun. Menyentuhnya dengan pelan. Begitu dirasa tidak ada respon negatif dari Kyuhyun, Leeteuk mulai mengusap masih dengan perlahan. "Tidak ada yang sakit. Kau benar-benar sudah sehat rupanya. Jadi apa kau ingin keluar menghirup udara segar?"

Kyuhyun diam tidak memberi respon.

"Atau kau ingin ke suatu tempat?"

Kali ini Kyuhyun terlihat berfikir meski dengan ekspresi minim. Leeteuk menunggu, sedikit berharap Kyuhyun mau diajak keluar dari kamar. Namun Kyuhyun menggeleng. Leeteuk masih tetap tersenyum. Dia harus banyak bersabar dan sebisa mungkin tidak memaksa.

"Baiklah. Aku akan menemanimu saja disini." Leeteuk menarik kursinya lebih dekat ke ranjang. Tersenyum pada Kyuhyun. "Istirahatlah, sepertinya kau lelah."

Kyuhyun masih membuka matanya, melihat Leeteuk yang kini sibuk dengan bacaannya. Leeteuk terbiasa melakukan hal itu, saat dia hanya diam dan ingin mengatakan apapun pada Leeteuk. Tapi lelaki itu tidak akan pergi, dia akan masih menunggu disana. Duduk dan membaca sebuah buku. Membacanya dengan suara yang cukup bisa dia dengar. Alhasil mau tidak mau Kyuhyun akan mendengarkan apa yang dibaca Leeteuk.

Kyuhyun mengalihkan pandangnya ke atas. Telinganya masih mendengar apa saja yang dibaca Leeteuk. Lambat laun pikirannya berkelana. Dia bertanya sudah berapa lama dia disini? Sudah sejak kapan Leeteuk melakukan kebiasaan itu? Kapan terakhir dia keluar? Kenapa dia berada disini? Dan banyak hal lainnya hingga bermuara pada wajah wajah yang sering dia lihat akhir-akhir ini. Salah satunya wajah tampan dan penuh karisma, ramah juga tersenyum dengan gentle.

"Leeteuk saem."

Leeteuk spontan menghentikan kegiatannya dan menatap Kyuhyun lurus. Anak itu tidak beralih dari memandang internit kamar.

"Siwon hyung berjanji memberiku sesuatu." kata Kyuhyun mencoba mengingat Siwon pernah berjanji seperti itu saat menjenguknya. Siwon sering menjenguknya. Leeteuk sudah bicara banyak hal tentang Siwon, entah Kyuhyun bisa menangkapnya dengan jelas atau tidak. Tapi mereka terus saja bicara kepadanya. Sampai dia mengerti Siwon yang menolong dan membawanya ke rumah sakit. Dan Siwon juga yang membantunya dengan masalah keuangan untuk berobat. Saat sadar Siwon bersikap sangat baik dan terlalu baik dengan selalu menjenguknya setiap hari, Kyuhyun merasa aneh.

"Benarkah? Apa yang akan dia berikan?"

Kyuhyun menggeleng. "Dia terlalu baik, kan. Apa tidak apa?"

Leeteuk diam mencoba menebak isi pikiran Kyuhyun. "Siwon direktur-nya. Dia bisa melakukan apapun. Kau tidak perlu cemas dengan itu."

Tidak. Kyuhyun tidak ragu dengan kemampuan Siwon masalah materi. Tentu lelaki itu sanggup, dia berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Sebaliknya, kenapa Siwon melakukan semua itu? Jika memang bantuan itu atas nama yayasan haruskah lelaki itu terus menerus mengunjunginya? Bersikap baik, sangat baik. Rasanya Kyuhyun mulai sensitif dengan maksud orang lain.

0o0o0o0o0

Choi Jung Woon menatap tidak percaya pada kertas yang dipegangnya. Tangannya gemetar dan kertas itu jatuh begitu saja.

Hal yang ditakutkannya telah terjadi.

Choi Jung Woon jatuh terduduk dikursi kebesarannya. Tubuhnya gemetar mendapati kenyataan yang bisa mencabut nyawanya saat itu juga. Kekejiannya di masa lalu menyisakan seorang anak.

'Bagaimana ini? Kyuhyun ada karena diriku?'

Jung Woon merasakan ketakutan yang besar melanda dirinya. Harapan yang dia pupuk tidak menghasilkan. Do'a hanya sekedar untaian tak berbuah karena dirinya. Jung Woon melihat bagaimana Tuhan melakukan kekuasaanNya.

Lelaki itu menatap kertas hasil tes rumah sakit yang terlantar di atas meja. Melihatnya seolah itu moncong pistol yang terarah lurus di kening kepalanya. Dia tidak bisa berfikir hanya tahu gemetaran dan tidak bergerak.

Dirinya yang menua tidak cukup kuat menerima kenyataan seperti ini. Dia hampir tumbang, namun ketukan di pintu mengalihkan kesadarannya.

Cepat Jung Woon mengambil kertas hasil tes DNA tersebut dan memasukkan ke dalam laci. Siwon masuk selang waktu kemudian.

Sekuat tenaga menahan getar dalam suaranya. "Ada apa Siwon?"

Siwon meletakkan beberapa berkas di depan ayahnya. Tidak bicara dan tidak duduk.

"Duduklah. Aku akan memeriksa berkas ini."

Siwon memilih berjalan ke sofa di tepi ruangan. Memilih duduk disana sambil memainkan ponsel, yang membuahkan helaan berat tuan Choi.

Alih-alih membuka berkas seperti yang dia bilang, lelaki itu justru memperhatikan Siwon. Sejak tahu kebenaran pendonoran tersebut Siwon benar-benar berubah, putra tertuanya bisa berpura-pura di depan adik-adiknya tapi menunjukkan sikap dingin begitu mereka hanya berdua seperti saat ini.

"Jika kau tidak suka, kenapa membawa berkas ini sendiri? Kau boleh mengirim asistenmu."

Siwon menatap sang ayah. "Aku ingin mengingatkanmu atas kesalahnmu dengan kemunculanku." balas Siwon tanpa intonasi.

Jung Woon merasakan telapaknya masih berkeringat. "Siwon, hentikanlah. Yakinlah ayahmu ini tahu semua kesalahannya. Jangan menghukumku seperti itu. Kau bersikap berlebihan."

Berlebihan?!

Siwon bangkit. Berjalan kembali ke meja sang ayah. Mengambil berkas-berkas tersebut dan mengalihkan satu berkas menjadi yang teratas. Membukanya dan mengetuk dengan ujung jari. "Lihat itu. Kim Kyuhyun, 16 tahun dirawat karena gangguan jantung. Masih ada lagi, seseorang mengatakan dia trauma dengan kejadian masa kecilnya."

Jung Woon tidak berkedip membaca berkas yang ditunjukkan Siwon, sedang telinganya menangkap jelas perkataan putra tertuanya.

"Dan apakah kau pernah menemui Kyuhyun, appa? Karena itulah psikisnya terganggu?"

Jung Woon mendongak demi melihat Siwon. Pemuda itu menatapnya dengan segala tuduhan dan menghakimi. Tapi Jung Woon mengabaikan semua itu dan lebih tertarik dengan apa yang dikatakan anaknya. "Gangguan psikis?"

Siwon mengalihkan pandang. Dia banyak bicara rupanya. Tapi bagaimana lagi. Setiap kali melihat sang ayah dia merasa harus ikut bertanggung jawab. Dia merasa kesal, marah dan sebagainya. Belum lagi dia harus ikut merahasiakan ini dari Kibum. Kibum, bagaimana jika anak itu tahu bahwa Kyuhyun adalah pendonornya? Selalu itu yang dipikirkannya selama ini.

"Siwon," panggil Jung Woon karena anaknya tidak kunjung menjawabnya.

Siwon masih diam. Hingga Jung Woon mencoba berdiri meski kakinya gemetaran dan dia kembali jatuh terduduk. Siwon yang melihatnya reflek segera melangkah menopang ayahnya. "Appa, wae? Gweanchana?"

Siwon anak yang baik. Jung Woon sangat tahu itu. Sialnya dia memiliki ayah seperti dirinya. Jung Woon merasa air matanya akan mengalir. "Gweanchana."

Siwon menarik kembali tangannya. Berdiri tegak dan sedikit canggung. Baru dia perhatikan ayahnya terlihat pucat dan berkeringat. "Kau yakin baik-baik saja?"

Jung Woon tersenyum meyakinkan. "Siwon, maafkan appa. Kau harus ikut menanggung semua ini. Itu karena kau memiliki ayah yang tidak baik. Maaf."

Siwon tidak bisa mengatakan apapun. Lebih tepatnya tidak ingin. Jika segala apa yang dia rasakan harus dia katakan maka banyak yang ingin dia katakan. Tapi dia lebih memilih diam.

Jung Woon mengangkat berkas milik Kyuhyun. Membacanya lebih detail. Siwon buka mulut saat melihatnya. "Aku sudah menyetujuinya. Semua biaya sudah aku tanggung. Jadi sisihkan saja berkas itu dan anggap kita sedang mengurus keluarga sendiri."

Jung Woon sukses menatap putranya tidak berkedip.

"Wae? Kita harus menolongnya, appa. Setidaknya itu bentuk balas budi kita."

"K-kau benar."

"Aku juga berfikir untuk menyediakan tempat tinggal untuk Kyuhyun. Lebih layak. Dan membiayai semua kebutuhannya. Appa keberatan? Aku bisa menggunakan tabungan pribadiku."

Jung Woon buru-buru menggeleng. "Lakukan saja. Lakukan apapun untuk membuatnya nyaman. Tapi Siwon, tempat tinggal apa maksudnya? Mereka masih punya rumah?"

Siwon menatap sang ayah tepat di kedua mata. "Kyuhyun tinggal terpisah dari ayahnya sejak awal High School. Hubungan mereka juga tidak baik. Hubungan mereka sudah dalam masalah sejak dulu. Bahkan saat Kim Young Woon menyerahkannya untuk menjadi donor Kibum. Aku tidak tahu pasti apa masalah mereka."

0o0o0o0o0

Leeteuk terkejut melihat seorang pemuda berdiri di depan pintu ruang rawat Kyuhyun yang terbuka. Buru-buru dia menarik pemuda itu dengan cukup kasar kemudian menutup pintu rapat-rapat. Beruntung Kyuhyun sedang tidur dan semoga tidak mengetahui tentang keberadaan seorang pengunjung gelap.

"Apa yang kau lakukan disini, Choi Kibum?"

Kibum menatap Leeteuk dengan mata mengintimidasi. "Aku tidak akan pergi sebelum Saengnim berterus terang padaku."

Tadinya Kibum hanya ingin menemui Siwon. Namun hyungnya itu tidak berada di ruangannya. Seorang suster mengatakan padanya jika hyungnya mungkin berada di salah satu kamar pasien di VIP. Siwon sering pergi kesana dan menemani pasien itu, katanya. Padahal si suster tidak tidak tahu Siwon sedang keluar. Penasaran Kibum pun datang ke kamar rawat yang dimaksud. Tapi apa yang dia lihat, seorang Kyuhyun yang sudah tidak ada kabar 5 hari ini, berbaring didalam. Belum hilang rasa terkejutnya Leeteuk sudah datang dan menyeretnya seolah takut akan sesuatu.

"Hahh kumohon, Kibum. Pergilah. Ini bukan urusanmu."

Kibum memandang Leeteuk yang berbalik hendak pergi. "Aku sudah melihatnya. Kau masih menyuruhku diam?"

Leeteuk berhenti kemudian berbalik. "Tidak ada untungnya bagimu. Kau sudah kelas tiga, fokuslah belajar dan abaikan apa yang kau lihat."

"Tidak." tolak Kibum kukuh. Leeteuk nampak frustasi tapi Kibum tidak berniat mengabaikannya. Kibum sangat Khawatir, selama ini kelimpungan mencari informasi Kyuhyun hingga sampailah dia di tempat ini. Kebetulan telah membawanya ke tempat dimana Kyuhyun berada. Orang yang paling ingin ditemui saat ini berada dekat darinya.

"Beritahu aku, saengnim. Apa yang terjadi pada Kyuhyun?" Leeteuk masih diam. "Tidak apa, aku bisa tanyakan pada Siwon hyung."

Leeteuk lupa siapa Kibum ini, adik si direktur. Menghela nafas pasrah. "Tapi berjanjilah untuk merahasiakan hal ini."

Kibum mengangguk. Leeteuk menghela nafas lagi. "Kyuhyun harus dirawat. Mungkin cukup lama."

"Sakit apa?" potong Kibum tidak sabar. Namun lebih dari itu entah kenapa hatinya diliputi perasaan cemas yang tidak wajar.

Leeteuk menatap Kibum ragu.

"Aku berjanji akan merahasiakannya."

Masih meragu namun akhirnya Leeteuk mengatakannya juga. "Jantung Kyuhyun bermasalah. Dia harus menjalani operasi tahun ini."

Kibum tidak mengatakan apapun.

"Tepati janjimu atau Kyuhyun akan mendapat masalah."

Kibum menatap Leeteuk tidak mengerti.

"Pihak yayasan memiliki persyaratan ketat dalam pemberian beasiswa. Jika mereka tahu Kyuhyun sakit jantung mereka akan mencabut beasiswanya. Kyuhyun sudah mengalami banyak kesulitan, jangan sampai pendidikannya juga terancam berhenti."

Kibum baru tahu pihak yayasan memiliki persyaratan seperti itu. Semua masuk akal sekarang. Kyuhyun dan Leeteuk menyembunyikan penyakit Kyuhyun dari semua pihak bahkan sahabat Kyuhyun sendiri, Changmin. Makin sedikit yang tahu maka rahasia Kyuhyun akan lebih aman.

Kibum sempat menengok Kyuhyun sebentar, sangat singkat bahkan saat Kyuhyun sedang pulas dibawah obat tidur. Terlebih lagi Leeteuk mendesaknya untuk segera pergi dan tidak datang lagi. Tentu saja Leeteuk takut kalau Kibum tahu lebih banyak dari apa yang dia ceritakan. Kenyataan bahwa Kyuhyun lebih menderita dari sekedar sakit jantung.

Kibum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan bercampur aduk. Sedih dan cemas pada Kyuhyun yang bukan siapa-siapanya. Meskipun dia tahu Kyuhyun adalah pendonornya tapi dia merasa perasaannya bukan sesederhana itu. Dia sangat menyayangi Kyuhyun entah karena apa, sejak pertama melihatnya hari itu di halte bus. Dia ingin lebih dekat, lebih tahu dan ingin melindunginya. Perasaan seperti itu semakin kuat setelah dia memastikan bahwa Kyuhyun memang benar pendonor ginjalnya. Penyelamat hidupnya.

0o0o0o0o0

Kim Young Woon kembali ke rumahnya saat hari sudah tengah malam. Keadaannya sangat berantakan. Baju kusut, wajahnya lebih kusut lagi.

Baru saja dia masuk ke rumahnya, sudah membuka ponsel. Berharap hari ini satu kali saja Hera membalas pesan atau pun panggilannya. Yang manapun dia berharap wanita yang masih menjadi istrinya itu mau tetap berkomunikasi dengannya.

Sayangnya ponselnya sepi dari pesan yang seperti itu. Atau panggilan balik dari Hera. Dia ditinggalkan. Benar-benar ditinggalkan. Hera tidak memberitahu alamat dia tinggal sekarang.

Young Woon merebahkan diri di ranjangnya. Segera memajamkan mata dengan paksa. Tidak mandi atau mengisi perutnya. Dia benar-benar berantakan. Lihat rumahnya, tidak ada yang mengurus. Dia hanya lelaki yang jatuh terpuruk karena wanita. Begitu ditinggalkan dia lupa segalanya. Tidak fokus saat bekerja, makan sembarangan, tidur pun begitu.

Beberapa menit dia bangun kembali. Tidak bisa tidur walau segala penat sudah dia rasakan. Young Woon bergerak ke meja kerjanya. Duduk memperhatikan sebuah foto yang sengaja dia pajang disana. Foto keluarganya. Dirinya dan seluruh anggotanya.

Tangan besar itu menutupi wajah yang tidak ingin dia lihat. Wajah Kyuhyun. Dulu dia menolak keras Kyuhyun diikut sertakan. Hera juga bersikukuh dengan keinginannya ditambah Henry yang polos ingin kakaknya ikut berfoto. Terpaksa foto berempat pun jadi, dengan dirinya merangkul Henry dan Hera yang merangkul Kyuhyun.

Seharusnya menjadi keluarga bahagia, bukan? Seharusnya.

Young Woon mengusap wajah dan merebahkan kepala ke belakang. Internit kamar jauh menarik sekarang.

Dia tidak ingin bercerai. Sungguh. Dia menyayangi Hera juga Henry. Ingin membangun keluarga bahagia seperti yang seharusnya. Tapi di mimpinya tidak ada tempat untuk Kyuhyun. Kyuhyun baginya adalah sebuah kegagalan dan kesialan. Dia adalah sebuah simbol kehancuran. Young Woon menganggapnya begitu sejak hari itu. Hari yang membalik telak seluruh hidupnya.

Air mata Young Woon mengalir. Dirinya ingat kembali dengan Youjin. Wanita yang hingga kini masih mengambil tempat dihatinya. Dia sangat mencintai Youjin. Hal yang paling dia sesali adalah membiarkan wanita itu menderita. Kebodohan dan ketidak tahuannya membuat wanita itu mengalami penderitaan yang begitu besar.

"Youjin-ah, Hera pun akan meninggalkanku. Tidak ada yang tinggal. Semua tahu aku akan sendirian, tapi mereka tetap pergi."

Mencoba meneriakkan perasaannya hanya berakhir dengan tangisan. Young Woon hanya manusia rapuh yang berulang mendapat kesialan.

TBC

Saturday, October 20, 2016

7:06 PM

Thursday, October 22, 2016

5:40 PM

Saya merasa chapter ini amburadul. Entah kenapa. Tapi saya maksain.

Pesannya maklumi kalau ada typo dan kalimat kalimat yang tidak jelas. Saya sedang bleng. Bleng. Saya ingin ini cepat selesai. Tapi bukan berarti saya trus ngecepetin alur atau lainnya. Memang seperti ini.

Yang mulai bosen dan ngerasa bagaimana sama ff ini bilang saja ya, beruntung kalau bisa ngasih masukan juga. Hehehe.

Jangan harep update asap terus dong. Itu kemarin bisa update karena reader ada yg ultah dan minta di update fanficnya. Makanya saya update, berhubung sudah ada nyicil separuh dan bisa kelar hari itu juga. Bukan bermaksud untuk update perhari.

Setidaknya satu minggu dua kali. Iya?

Sekian dan terima kasih untuk semua readers.

Sima Yu'I

(SY'I)