Dark Love

Desclaimer : Masashi Kishimoto

Rating : T-M

Warning : AU, OOC, Gaje, Alur kecepetan, Typo (s)

Original story by Crystal94

If there are similarities story, was just a coincidence

.

.


-Dark Love 5-

Hinata memandang satu persatu tumpukan dokumen yang berada di atas meja kerjanya. Gadis itu menghembuskan nafasnya pelan. Well, pada akhirnya gadis itu menuruti permintaan ayahnya yang keras kepala itu. Dengan perlahan, Hinata membuka satu persatu dokumen yang menumpuk dan mulai membaca kata demi kata yang tertera di atas kertas putih itu. Hinata segera mengambil bolpoinnya dan mulai memberikan tanda tangannya sebagai bentuk persetujuan atas apa yang diajukan.

Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu terdengar dari luar pintu. Hinata mendongak dan mengangkat kedua alisnya. Gadis itu melirik jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu baru menunjukkan pukul 10.15 pagi. Ini jam sibuknya, siapa yang dengan berani mengganggunya. Hinata membuang nafasnya pelan.

"Masuk."

Dengan perlahan, Hinata melihat seorang perempuan berambut coklat masuk ke ruangannya sambil menunjukkan cengiran lebarnya. Hinata menaikkan sebelah alisnya saat melihat sekretaris sekaligus kakak iparnya masuk dengan wajah sumingrahnya.

"Well, apa aku mengganggumu ?"

"Tanpaku beritahu pun kau juga tahu, kalau ini jam-jam sibukku, Tenten."

Perempuan berambut coklat itu hanya terkekeh pelan saat melihat wajah merengut adik iparnya itu.

"Maafkan aku sayang, tapi kedatanganku kesini bukan tanpa alasan."

"Ada apa?"

"Aku ingin mengingatkanmu, hari ini kau harus menemui relasi bisnismu dari Sabaku Corporation."

"Sabaku?"

Tenten mengangguk mendengar pertanyaan gadis itu. Hinata menghembuskan nafasnya pelan dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang ia duduki. Tenten tersenyum tipis saat melihat tampang murung yang di tunjukkan gadis bermata amethyst itu. Dengan perlahan, Tenten berjalan mendekati Hinata dan mengelus pelan lengan gadis itu.

"Hei, kau tak perlu murung seperti itu. Ingat, ini sekedar untuk pekerjaan saja. Masa lalumu tak perlu kau sangkut pautkan lagi Hinata. Lagi pula, bukannya kau pernah bertemu dengannya saat di London?"

Hinata tersenyum dan mengangguk mendengar nasehat yang diberikan kakak iparnya itu.

"Ya kau benar kakak ipar, dimana dan jam berapa aku harus menemuinya?"

"Di Caffe dekat Sabaku Corporation saat jam makan siang nanti."

"Baiklah, aku akan menemuinya nanti."

"Bagus kalau begitu, aku pamit untuk menemui Neji dulu. Aku harap hubunganmu dengan Sabaku itu tetap baik-baik saja, okey?"

"Tentu saja. Sampaikan salamku untuk suamimu itu."

Tenten mengerling dan segera pergi meninggalkan ruangan Hinata. Gadis itu memijit keningnya perlahan. Setelah bertahun-tahun haruskah Hinata bertemu kembali dengan mantan kekasihnya itu? Kecuali saat pertemuan tak sengajanya saat ia menghadiri acara di London beberapa bulan yang lalu. Gadis itu tahu betul siapa pemimpin Sabaku Corporation. Bahkan gelar itu sudah di sandangnya semenjak laki-laki itu masih menjalin kasih dengan Hinata.

Hinata memutar kursinya dan mengedarkan pandangannya di balik dinding kaca ruang kerjanya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya pelan dan menutup matanya. Biar bagaimanapun laki-laki Sabaku itu orang pertama yang bisa meluluhkan hati seorang Hyuuga Hinata. Mereka menjalin hubungan cukup lama hingga akhirnya memutuskan untuk mengakhirinya. Hinata tak ingin terlalu larut dengan masa lalunya. Baginya, itu hanya secuil kenangan yang sempat mengisi hidupnya. Gadis itu kini telah menemukan seseorang yang telah mengisi hatinya beberapa bulan yang lalu.

Sosok Uchiha Sasuke, pemuda keras kepala itu telah berhasil masuk kedalam hidup gadis itu. Hinata mengakui, bahwa hubungan yang dijalin dengan pemuda itu tidak lebih dari sekedar teman, untuk saat ini. Tapi gadis itu tak bisa memungkiri, bahwa sosok itu telah berhasil membuka pintu hatinya yang sempat ia kunci rapat-rapat.

Hinata membuka matanya dan tersenyum tipis mengingat tingkah yang dilakukan pemuda itu beberapa minggu yang lalu. Saat itu, Hinata terkejut mendapati pemuda itu berdiri didepan pintu apartementnya saat tengah malam. Dengan tingkah konyolnya, Sasuke datang memberinya sebuket bunga mawar merah dan mencium punggung tangannya. Tanpa sepatah katapun, Sasuke hanya tersenyum dan segera pergi meninggalkan Hinata yang masih memasang tampang bingungnya.

Hinata menggelengkan kepalanya pelan saat mengingat kejadian itu. Dengan tingkah konyolnya pun, pemuda itu berhasil membuat gadis seperti Hinata tersenyum.

.

.

.

Waktu sudah memasuki jam makan siang, Hinata melangkahkan kakinya menuju lift yang terletak tak jauh dari ruangannya. Gadis itu berjalan sambil membawa beberapa dokumen sebagai bahan untuk rapat dengan relasi bisnisnya siang ini. Beberapa bawahannya membungkuk dan menyapa gadis itu saat melihatnya berjalan menyusuri koridor. Hinata hanya tersenyum menanggapi perlakuan beberapa karyawannya. Well, sepertinya Hinata harus mempersiapkan diri untuk bernostalgia dan bertemu kembali dengan laki-laki Sabaku itu.

-Dark Love 5-

Sasuke berjalan sambil menyesap putung rokoknya saat melewati beberapa karyawan yang menyapanya. Pemuda itu hanya memasang tampang datarnya tak menanggapi. Disebelahnya, sahabat pirangnya menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah atasannya itu.

"Heh, setidaknya kau balas sapaan mereka, teme."

"Hn."

"Kau ini! Memangnya tak ada jawaban lain selain dua kata itu?"

Naruto menghembuskan nafasnya kasar sambil memasang tampang kesalnya. Sasuke menghembuskan asap rokoknya dan mengangkat bahunya acuh. Tak terlalu perduli dengan ocehan sahabatnya itu. Memangnya kenapa kalau dia membalas dengan kata itu? Bukannya itu memang sudah menjadi trademark nya sejak dulu?.

"Ngomong-ngomong kau ingin makan siang dimana?" Sasuke melirik Naruto sekilas setelah mereka sampai di tempat parkiran.

"Entahlah."

"Ck! Aku ada janji makan siang dengan Shion. Kau ingin ikut?"

"Tidak perlu. Aku ada urusan." Naruto mengangkat sebelah alisnya setelah mendengar penuturan sahabatnya itu.

"Heh, urusan apa? Jangan-jangan kau ingin menemui Hinata?" Naruto tersenyum jahil menggoda pemuda bermata onyx itu. Sasuke hanya memasang tampang datarnya menanggapi perkataan Naruto.

"Kau tak perlu tahu, dobe."

"Yah..baiklah. Tapi jangan sampai kau lupa waktu. Ingat! Setelah makan siang kau harus segera kembali dan menyelesaikan pekerjaanmu."

"Berisik dobe." Naruto terkekeh melihat tampang kesal pemuda itu. Well, menggoda Sasuke sudah menjadi kegiatan favorite Naruto setelah tau sahabatnya itu tengah dekat dengan Hinata.

Laki-laki itu membuang putung rokoknya dan segera memasuki kendaraan pribadinya. Tanpa pamit, Sasuke segera menancapkan gasnya membawa kendaraan roda empat itu membelah ramainya jalanan kota Tokyo. Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, Sasuke menghentikan kendaraannya saat melihat traffic lights berwarna merah. Sasuke mengambil kesempatan itu untuk mengeluarkan handphonenya. Menekan menu kontak dan setelah menemukan nama gadis dikontak handphonenya, pemuda itu segera menghubunginya.

'the number you are calling is not active, please try again'

Sasuke mengerutkan keningnya sesaat setelah nada operator yang memasuki indera pendengarannya. Pemuda itu mencoba untuk menghubunginya sekali lagi dan hasilnya pun tetap sama. 'Kemana dia' gumamnya pelan. Setelah berkutat dengan pikirannya, suara klakson mobil menyadarkannya dan dengan segera pemuda itu menarik pedal gas dan membawa kendaraan pribadinya ke tempat tujuannya.

.

.

.

Sasuke menghembuskan nafasnya kasar setelah mengingat seseorang yang ingin ia temui tak bisa dihubungi sama sekali. Tidak seperti biasanya gadis itu tak mengaktifkan handphonenya. Entah mengapa rasa kesal dan marah menguasai dirinya. Setelah beberapa saat, pandangan Sasuke menyipit melihat seorang gadis yang amat dikenalnya berada di sebuah cafe sedang duduk berhadapan dengan seorang laki-laki berambut merah.

Sasuke mengerutkan keningnya, sepertinya ia pernah melihat laki-laki itu. Ah, ia ingat siapa laki-laki berambut merah itu. Laki-laki itu yang mengajak dan berbincang dengan Hinata saat mereka menghadiri acara di London. Sasuke tak tahu hubungan apa yang di miliki Hinata dengan laki-laki itu. Tapi sepertinya mereka cukup akrab. Sasuke segera membelokkan mobilnya memasuki area parkir cafe itu. Setelah keluar dari mobilnya, Sasuke segera berjalan memasuki area cafe. Ada rasa kesal dalam dirinya saat tahu Hinata sedang bersama pria lain.

"Well, jangan coba-coba berpaling dariku sayang." Sasuke menaikkan sudut bibirnya dan terus melangkahkan kakinya memasuki cafe.

-Dark Love 5-

"Jadi..bagaimana kabarmu Hinata?"

Hinata melirik pemuda berambut merah yang duduk di hadapannya. Gadis itu meletakkan cangkir kopinya setelah menyesap seperempat isinya. Hinata menghembuskan nafasnya pelan sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan pemuda dihadapannya.

"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja Gaara." Hinata tersenyum kecil membalas pertanyaan pemuda itu.

"Yah, tentu saja kau akan baik-baik saja. Terlepas, setelah putus dariku." Gaara menaikkan sudut bibirnya sesaat setelah melihat raut wajah Hinata berubah.

"Aku yakin kau mengenal seperti apa diriku." Hinata mendesis memandang tajam pemuda dihadapannya.

"Kau memang tak berubah. Selalu bersikap dingin kepada laki-laki. Tapi, apa kau sadar hal itu yang membuatmu lebih menarik?"

"Tentu saja." Gaara terkekeh mendengar jawaban yang di lontarkan gadis itu. Well, dimata Gaara Hinata memang tak berubah. Gadis itu tetap terlihat menawan, sama seperti mereka pertama kali bertemu. Terlebih dirinya pernah menjalin kasih dengan gadis itu. Gaara tahu betul, Hinata punya sisinya sendiri untuk mengungkapkan dan menyalurkan kasih sayangnya kepada orang yang di cintainya.

Hinata menghembuskan nafasnya kasar. Entah kesalahan apa yang telah ia perbuat. Akhir-akhir ini ia merasa hidupnya tengah di kelilingi dengan para laki-laki menyebalkan.

"Yah..dan aku cukup menyesel setelah berpisah denganmu, Hinata."

"Jaga ucapanmu Gaara."

"Kenapa?"

"Aku tak ingin mengambil resiko jika istrimu mendengar apa yang kau ucapkan barusan."

"Ya kau benar. Jika aku tak melakukan kesalahan fatal waktu itu, mungkin sampai saat ini kita masih bersama, iyakan?"

"Aku tak yakin." Hinata memandang datar kearah Gaara dan menghembuskan nafasnya pelan.

Beberapa saat kemudian, Hinata tak lagi menanggapi apa yang diucapkan Gaara. Gadis itu menyesal menyetujui permintaan Tenten untuk menemui pemuda ini. Well, biar bagaimanapun Hinata ingat apa yang diucapkan kakak iparnya itu. Tujuannya datang kesini hanya untuk sekedar pekerjaan, masa lalunya tak ada sangkut pautnya dengan ini.

Mereka berdua larut dalam rapat singkat yang sedang mereka bicarakan. Sesekali Hinata menatap kesal kearah Gaara. Pemuda itu selalu aja membuatnya jengkel dan tak berhenti menggoda gadis itu. Setelah beberapa saat, pandangan Gaara beralih kearah pemuda bermata kelam yang berjalan dari arah belakang Hinata.

Hinata mengerutkan keningnya sesaat setelah melihat focus Gaara tak lagi pada perbincangan rapat mereka.

"Ada apa?"

"Well, sepertinya akan ada keributan besar."

"Apa maksud-"

Belum sempat Hinata menyelesaikan perkataannya. Gadis itu merasakan sebuah tangan melingkar di punggungnya. Hinata juga bisa merasakan deru nafas yang menyapu telinga dan tengkuknya.

"Jadi ini alasanmu tak mengaktifkan ponselmu?"

Hinata menoleh dan membulatkan matanya saat melihat pemuda bermata kelam sedang memandang matanya dengan tajam.

"Sasuke? A..apa yang kau lakukan disini?"

"Menurutmu?" Tanpa permisi, Sasuke segera mendudukan dirinya disamping Hinata dan memandang datar ke arah Gaara.

Hinata menghembuskan nafasnya pelan. Sepertinya hari ini hari sialnya. Apalagi setelah melihat raut wajah Sasuke yang kurang bersahabat. Hinata melihat pemuda itu duduk sambil menyandarkan punggungnya, dan jangan lupakan Sasuke juga mulai mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakan pemantiknya.

"Sasuke apa yang kau lakukan disini? Aku sedang ada rapat." Hinata memandang kesal kearah pemuda itu.

"Tentu saja untuk menemuimu. Memangnya apalagi?" Sasuke berbicara tanpa mengalihkan tatapan tajamnya dari Gaara.

"Seingatku, aku tak mengundang orang lain selain dirimu. Iyakan Hinata?"

Hinata yang merasakan atmosfir mulai berubah hanya diam tak menanggapi ucapan Gaara. Sasuke terkekeh dan menghembuskan asap rokoknya. Pemuda itu tak sekalipun mengalihkan tatapan tajamnya dari pemuda berambut merah di hadapannya.

"Kau merasa terganggu?"

"Tentu saja. Kau menghancurkan pertemuanku dengan mantan kekasihku ini." Gaara menaikkan sudut bibirnya setelah menekankan kata-katanya tersebut.

"Aku tak menyangka Hinata pernah berhubungan dengan laki-laki sepertimu."

"Apa maksudmu?"

"Well, dimataku kau tipe laki-laki brengsek."

Hinata menolehkan wajahnya dan memandang kesal kearah Sasuke sesaat setelah mendengar kata yang keluar dari mulut pemuda itu.

"Sasuke! Jaga ucapanmu!" Sasuke yang mendengar ucapan Hinata tak begitu menanggapinya. Pemuda itu masih asik mengisap putung rokoknya dan menghunuskan tatapan tajamnya kearah Gaara.

"Hei, bukankah julukan itu juga cocok untukmu, bung?" Gaara membalas tatapan tajam yang Sasuke berikan untuknya. Pemuda bermata onyx itu menegakkan punggungnya dan terkekeh kearah Gaara.

"Yah..tapi sepertinya kau lebih brengsek dariku."

"Sasuke!" Hinata menatap tajam kearah Sasuke. Gadis itu cukup kesal karena lagi-lagi ucapannya di abaikan oleh pemuda keras kepala itu.

Sesaat kemudian Hinata merasakan pergelangan tangannya di genggam dengan kencang oleh pemuda yang duduk disampingnya. Sasuke segera menarik Hinata dan membawanya pergi dari cafe.

"Sasuke! Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!"

Pemuda itu tak menanggapi ucapan Hinata. Sasuke terus menyeret Hinata hingga mereka sampai di tempat dimana mobil Sasuke di parkirkan. Pemuda itu segera membuka pintu penumpang dan menarik lengan Hinata.

"Masuk!"

"Apa-apaan kau ini!" Hinata segera melepaskan cengkraman tangan Sasuke dan berniat melangkahkan kakinya kembali ke dalam cafe. Namun lagi-lagi cengkraman kuat ia rasakan pada pergelangan lengannya.

"Jangan membantahku, Hinata." Sasuke berkata dengan nada dinginnya dan menatap tajam ke dalam iris amethyst gadis itu.

"Sialan! Aku tak akan menurutimu! Sekarang lepaskan aku Sasuke!"

Sasuke tak menanggapi ucapan gadis itu dan segera mendorong Hinata masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu dirinya segera memutar arah dan masuk kedalam mobilnya. Tanpa sepatah kata pun Sasuke segera menancapkan gasnya meninggalkan tempat itu.

-Dark Love 5-

Hinata mengedarkan pandangannya kearah luar jendela yang berada disampingnya. Gadis itu dibuat kesal dengan tingkah Sasuke yang selalu seenaknya. Hinata benar-benar tak mengerti, kenapa pemuda itu marah dan saling melemparkan umpatan kepada Gaara. Sesaat kemudian, Hinata sadar kemana arah yang dituju Sasuke.

"Turunkan aku." Hinata berkata tanpa mengalihkan pandangannya.

"Jangan harap." Hinata menolehkan kepalanya dan memandang kesal kearah pemuda itu.

"Sebenarnya apa masalahmu Sasuke?!"

"Kenapa kau tak menghidupkan ponselmu? Apa kau takut terganggu denganku?" Pemuda itu berbicara dengan tampang datarnya, namun kesan dingin tak hilang dari setiap kata-kata yang ia lontarkan.

"Demi Tuhan! Ponselku mati."

"Ck! Alasan saja."

Hinata mengerutkan keningnya dan mengalihkan pandangannya kembali ke luar jendela. Tak ingin berdebat dengan pemuda itu. Gadis itu benar-benar dibuat kesal dengan tingkah pemuda itu. Lagi pula kenapa Sasuke harus semarah itu hanya karena hal sepele seperti ini.

"Kau tak berhak marah." Gumam Hinata pelan.

"Tentu saja aku berhak."

"Kau tak ada hubungan apa-apa denganku!"

"Diam Hinata!" Hinata mematung setelah mendengar bentakan yang keluar dari mulut pemuda itu. Tangannya mengepal menahan ledakan yang menguap-uap yang sedari tadi siap ia lontarkan kepada pemuda itu.

.

.

.

Sesaat kemudian mobil Camero hitam memasuki pekarangan Penthouse pribadi Sasuke. Pemuda itu segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu penumpang untuk Hinata. Sasuke melihat gadis itu tak bergeming sedikit pun dari tempat duduknya.

"Cepat turun Hinata." Tak ada respon dari gadis itu, Hinata tetap diam sambil memasang tampang kesalnya.

"Jangan buat aku memaksamu seperti tadi lagi." Hinata menghembuskan nafasnya kasar dan segera turun dari mobil Sasuke.

Setelah gadis itu turun, dengan cepat Sasuke menggenggam pergelangan lengan Hinata dan membawanya masuk kedalam Penthouse pribadinya. Sasuke tak memperdulikan rontaan yang Hinata berikan padanya.

"Sasuke!"

Sasuke yang memang sedang kesal segera menghempaskan tubuh Hinata ke dinding rumahnya dan mengurung gadis itu dengan kedua lengannya. Hinata sedikit meringis sesaat merasakan punggungnya menghantam dinding dengan cukup kencang. Gadis itu menatap tajam mata kelam pemuda itu.

"Aku benar-benar tak mengerti dengan dirimu. Apa maumu Sasuke?"

"Kau yang tak mengerti Hinata." Hinata mengerutkan keningnya dan dengan segera mendorong dada pemuda itu. Namun, sepertinya Sasuke tak ingin melepaskan dirinya kali ini.

"Menyingkir! Aku ingin kembali ke kantor!"

"Tak semudah itu."

Sesaat kemudian Sasuke menarik tengkuk Hinata dan membawa gadis itu ke dalam ciuman yang ia berikan.

"Hmmpp-" Hinata memukul dada Sasuke mencoba untuk lepas dari cengkraman pria itu. Sasuke mencengkram kedua lengan Hinata dengan sebelah lengannya. Tak perduli jika gadis itu marah terhadapnya. Sasuke hanya ingin menyalurkan rasa kesal dan cemburunya. Ya, tentu saja Sasuke cemburu setelah melihat Hinata bersama pria lain, terlebih pria itu mantan kekasihnya.

Hinata mendorong keras dada Sasuke setelah merasakan gigitan keras yang diberikan pemuda itu pada bibir bawahnya. Hinata meringis dan menyeka sedikit darah yang keluar dari bibirnya.

"Sialan! Apa yang kau lakukan brengsek!"

Sasuke hanya diam tak menanggapi amarah gadis itu. Dengan perlahan Sasuke menyentuh permukaan bibir gadis itu. Ia tau dirinya sudah keterlaluan kepada gadis itu.

"Hinata, maaf aku-." Hinata segera menepis tangan Sasuke dan menatap tajam onyx kelam pemuda itu.

"Kau keterlaluan Sasuke." Hinata menunduk menyembunyikan wajahnya. Gadis itu berusaha menahan air matanya agar tak jatuh keluar dari matanya.

"Hinata aku-"

"Kalau aku tak mengerti, maka buatlah aku mengerti Sasuke!" Hinata memberanikan diri untuk menatap wajah pemuda itu. Sasuke cukup terkejut saat melihat air mata yang menumpuk di pelupuk mata gadis itu.

"Hinata aku benar-benar minta ma-"

"Bagaimana aku bisa mengerti kalau kau tak pernah mengungkapkannya!"

Sasuke terdiam mendengar ucapan gadis itu. Hinata benar, bagaimana gadis itu bisa mengerti kalau dirinya saja tak pernah mengungkapkan perasaan sesungguhnya yang ia miliki terhadap gadis itu.

"Aku hanya menunggu waktu yang tepat Hinata."

"Kalau kau tak bisa, maka jangan beri aku harapan. Tinggalkan aku segera." Pandangan mata Hinata melunak setelah melontarkan ucapannya barusan.

"Tidak Hinata! Aku bersumpah! aku benar-benar menunggu waktu yang tepat. Aku tak ingin main-main denganmu."

Hinata tertawa pelan dan memandang wajah pemuda itu dengan tampang datarnya.

"Sudahlah."

Hinata segera pergi meninggalkan pemuda itu. Sasuke hanya diam menatap punggung Hinata yang semakin menghilang dari pandangannya. Pemuda itu menghembuskan nafasnya kasar, Sasuke tak berniat mengejar Hinata, karena ia sadar ini semua kesalahannya. Kesalahan atas sikap egoisnya.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin dan segera mengambil satu kaleng bir. Pemuda itu segera melahap abis cairan berwarna hitam itu. Sesaat pikirannya melayang atas kejadian beberapa saat yang lalu. Bagaimana bisa dirinya melukai gadis yang di cintainya bahkan membuat gadis itu hampir menangis. Sasuke mencengkram permukaan kaleng bir yang sudah kosong dan segera melemparnya ke sembarang arah.

"Sialan! Hinata kau benar-benar membuatku gila!"

Sasuke mendesis sambil mencengkram rambut hitamnya. Jujur saja, pemuda itu benar-benar mencintai gadis itu. Sasuke benar-benar punya alasan tersendiri kenapa dirinya belum mengungkapkan perasaannya. Pemuda itu tak ingin main-main dengan Hinata. Sasuke menginginkan hubungan yang lebih dari sekedar sepasang kekasih. Apa Hinata tak sadar Sasuke benar-benar menginginkan dirinya seutuhnya. Menginginkan dirinya untuk seluruh hidupnya.

.

.

.

.

.

Here you guys! Chap 5 up! Yeay! Hahah

Sebelumnya aku mau minta maaf karena telat update heheh soalnya kemaren itu aku bener-bener lagi stuck banget buat nulis chapter ini. Tapi akhirnya kelar juga hohoh

Aku mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kalian yang setia membaca Dark Love dan mau review ff ini. Aku tunggu reviewan kalian selanjutnya pliss #maksa

Semoga untuk chapter selanjutnya kalian masih mau nunggu kelanjutannya^^

Oke segitu aja cuap2nya. See you next chapter! Bye!

.

.

.

Mind to Review, please?

.

.

Crystal94