Masih terlalu pagi untuk bertamu. Tapi Changmin tidak peduli. sekalipun harus mengganggu gurunya tersebut. Dan berapa kalipun Changmin harus melakukan ini, dia akan lakukan sampai Leeteuk bersedia membocorkan keberadaan Kyuhyun.

"Changmin," Leeteuk menguap sekali. Matahari belum muncul, udara juga masih dingin dan Changmin sudah memencet bel rumahnya berulang-ulang kali. "Kau harus melihat waktu untuk bertamu."

"Salah siapa aku melakukan ini?" balas Changmin.

Leeteuk tersenyum kecut. Dia memang menghindari muridnya ini, karena setiap bertemu pasti bertanya tentang Kyuhyun. Dia mau jawab apa, jika semua alasannya tidak meyakinkan pemuda itu. Sebaliknya Changmin semakin curiga dengannya.

Entah kenapa insting Changmin begitu kuat bahwa dia tahu keberadaan Kyuhyun. Leeteuk mengambil nafas dalam. Changmin tidak bergeming di muka pintu, menatap gurunya penuh desakan.

"Kau sangat peduli padanya, eoh?"

"Menurutmu?" alis Changmin terangkat satu. Apa itu masih harus dipertanyakan? Sebaliknya sebelum mengenal Leeteuk Kyuhyun lebih dulu mengenal dirinya. Mereka selalu bersama sejak kecil hingga sekarang. Kyuhyun sudah lebih dari sahabat baginya. Bahkan dia rela mengikuti dimana Kyuhyun sekolah padahal ada kesempatan untuk bisa tinggal dengan orang tuanya di luar negeri. Semua demi Kyuhyun. Menurutnya Kyuhyun lebih membutuhkannya dibanding orang tuanya yang bisa kapanpun pulang untuk melihatnya.

Leeteuk merasakan kesinisan Changmin, jadi merasa tidak enak. Sepertinya kekesalan Changmin sudah dibatasnya. Dengan mengabaikan segala etika dia ingin menunjukkan bahwa dia tidak main-main untuk mengorek informasi darinya.

"Masuklah." akhirnya Leeteuk memilih mempersilahkan Changmin masuk.

Changmin tidak duduk. Leeteuk semakin merasa Changmin tidak sabar.

"Tunggu sebentar, lagipula jam besuk belum dibuka." kata Leeteuk. "Duduk saja, dulu. Aku akan bersiap."

Jam besuk? Pikir Changmin bertanya-tanya. Selagi Leeteuk pergi untuk bersiap, pemuda itu menurut untuk duduk dan menunggu. Namun sesekali matanya mengedar untuk memperhatikan sekitar membuang rasa bosan. Sesekali juga dia melihat jam di pergelangan tangan. Dia ada pertandingan jam 10, masih ada cukup waktu sampai pertandingan nanti.

Sebenarnya Changmin kacau beberapa hari ini. Saat latihan maupun saat bertanding. Beberapa kali dia harus dikeluarkan dan diganti dengan pemain lain, karena dirinya yang tidak bisa fokus menjadikan permainannya buruk. Pelatihnya terus-terusan menegur. Dan kemarin, pelatih Yunho benar-benar sangat kesal sampai dia disuruh berhenti berlatih dan pulang untuk menyelesaikan urusan apapun itu yang membuatnya kacau.

Dia memutuskan untuk tahu hari ini juga kepastian Kyuhyun atau dia tidak akan turun untuk bertanding.

"Kau tidak sabar, ya." kata Leeteuk saat dia menghampiri Changmin yang sedang melihat jam untuk kesekian kali.

"Ada pertandingan hari ini, saem. Jika hari ini aku bisa memastikan Kyuhyun, maka aku bisa pergi bertanding."

Leeteuk cukup terkejut dengan ucapan Changmin. Namun kemudian dia tersenyum. "Kau cukup berani. Tapi bisa kau berjanji satu hal sebelum bertemu Kyuhyun?"

Meski ragu Changmin mengiyakan.

"bersikaplah tenang dan tetap menjadi Changmin sahabatnya."

0o0o0o0o0

Changmin berada di ruangan ini. Akhirnya setelah sekian lama berusaha, dia bisa meluluhkan Leeteuk. Saat dia masuk pemuda yang berbaring itu masih tidur dengan nafasnya yang teratur. Leeteuk tetap berada di luar selagi dirinya masuk dan duduk di kursi samping ranjang. Changmin menunggu. Menunggu Kyuhyun untuk bangun.

Leeteuk sempat bercerita pahwa Kyuhyun sakit dan perlu dirawat. Jadi sejak dia tidak ada kabar, Kyuhyun dirawat disini? Kenapa tidak memberi kabar? Apa susahnya memberi kabar? Bahkan Heechul pun tidak diberi kabar. Membuat lelaki pemilik café itu membuka lowongan untuk mengisi tempat Kyuhyun. Changmin menyesali saat mengingat itu. Kyuhyun akan kehilangan pekerjaan saat sembuh dari sakitnya. Apa dia tidak akan kesulitan saat tahu dia kehilangan pekerjaan? Entahlah Changmin tidak mengerti apa yang dipikirkan Kyuhyun selama dia sakit.

'Changmin, kau tahu benar kesulitan dan penderitaan Kyuhyun bukan? Kuharap kau tidak terlalu terkejut nanti. Masuklah dan tunggu dia sadar. Berbicara senormal mungkin. Setelah itu aku bisa jelaskan semuanya padamu. Aku akan mengantarmu ke pertandingan nanti.'

Saat asyik mengingat kembali apa yang diucapkan Leeteuk tadi, Changmin tidak sadar kalau pemuda yang dia tunggui mulai membuka matanya.

Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan mata. Diam sebentar lalu menoleh saat merasa dia tidak sendiri. dia melihat Changmin. Sahabatnya ada disini.

"Min," panggil Kyuhyun.

Changmin belum merespon.

Kyuhyun diam kembali memperhatikan sahabatnya.

Entah berapa lama hingga akhirnya Changmin terkejut sendiri melihat mata bulat Kyuhyun menatapnya datar.

"K-Kyu," Changmin sampai tergagap. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia menunduk tidak tahu apa yang harus dia katakan.

"Kau tahu aku disini?"

Changmin mengangguk. "Kenapa tidak memberiku kabar?"

"Mian."

Changmin mengangkat wajah, menatap Kyuhyun terluka. "Kau memang selalu begitu. Padahal seingatku kau bisa menangis meraung dipunggungku. Pundakku selalu jadi sandaranmu. Aku jadi berfikir kau tidak mungkin menyembunyikan sesuatu kepadaku. Kau sangat mempercayaiku jadi aku akan mempercayaimu juga." Changmin ingat dia tidak boleh membebani Kyuhyun tapi mulutnya terus mengoceh tidak berhenti. "Tidak peduli seberat apapun masalahmu, atau sesakit apa hati dan tubuhmu, kau akan meninggalkan jejak untukku. Aku seyakin itu kepadamu. Tapi," Changmin mengusap kedua mata dengan lengannya. Dia lelaki, seburuk apapun perasaannya dia tidak bisa menunjukkan langsung kepada lelaki lain. Dia disini bermaksud untuk menguatkan temannya, bukan sebaliknya.

"Kyuhyun-ah, aku sahabatmu. Orang luar pertama yang melihatmu menangis dan menangis untukmu. Aku ingin kau merasa lebih nyaman kepadaku. Jangan membatasi hubungan kita. Biarkan aku mengetahui semuanya. Tolong jangan menghilang seperti itu. Kau membuatku sangat khawatir. Aku jadi kacau dan tidak benar melakukan apapun."

Kyuhyun meremas selimut ditubuhnya. Changmin menyembunyikan air matanya, menghalaunya setiap akan jatuh. Lyuhyun bisa melihatnya dengan jelas setiap kali Changmin melakukan itu. Changmin benar. Mungkin di dunia ini hanya Changmin yang benar-benar tulus dan bisa dia percayai.

"Jeongmal mianhe, Changmin-ah." kata Kyuhyun dengan air mata juga mengalir.

Changmin menatap Kyuhyun. Terkejut melihat Kyuhyun menangis. Changmin segera menghambur, memeluk erat tubuh Kyuhyun yang masih berbaring. "Kyuhyunie. Kyu mianhe, jangan menangis. Maafkan ucapanku. Mianhe."

Kyuhyun memejamkan mata. Merasakan tubuh Changmin yang hangat. Dia pernah merasakan yang lebih hangat dari ini dan sangat berarti. Tapi itu dulu. Sekarang hanya sebuah kenangan yang rapuh dan memudar. Jadi hanya ini yang sekarang dia miliki. Pelukan sahabatnya. Satu-satunya yang bisa dia percayai. Dulu dan sekarang hanya ini yang tulus datang dan memberinya sebuah perlindungan.

0o0o0o0

"Changmin menjenguk Kyuhyun? Leeteuk hyung yang membawanya?" Hankyung tentu saja heran. Leeteuk berusaha keras agar siapapun tidak mengetahui perihal Kyuhyun. Meski sekarang bertambah saja orang yang tahu kondisi Kyuhyun. Tapi bahkan Heechul yang datang marah-marah kepada Leeteuk pun tidak digubrisnya. Tapi kenapa dia luluh kepada Changmin?

"Jangan heran begitu, Han. Aku punya pertimbangan."

Hankyung masih tidak paham.

Leeteuk menghela nafas. Menerawang kosong. "Changmin adalah sahabat Kyuhyun. Dibandingkan dengan kau dan aku, Kyuhyun pasti jauh merasa nyaman dengan Changmin. Tidak apa, Kyuhyun tidak akan menolaknya."

Hankyung mengangguk kali ini. Memahami situasi dan apa yang diperlukan Kyuhyun.

"Jadi kapan hyung akan berbicara dengan tuan Kim?"

Leeteuk mengalihkan mata menatap Hankyung. "Kau sudah menentukan jadwal?"

"Belum. Bulan-bulan ini masih sangat padat. Tapi aku usahakan secepatnya. Yang terpenting kita mendapatkan persetujuan tuan Kim lebih dulu."

"aku juga memikirkan itu, Han. Sore ini aku akan pergi."

0o0o0o0o0

Zou Mi sudah tidak berada di kamarnya saat Kibum bangun. Entah pergi kemana, yang jelas saat dia keluar dari kamar pun sosoknya tidak terlihat. Jadi Kibum pikir temannya itu sudah pamit pulang.

'Datang seenaknya, pulang seenaknya.' gerutu Kibum dalam hati.

Kibum berjalan menuju kamar sang ayah. Setelah menahannya semalaman, dia ingin menyelesaikannya hari ini juga. Saat sampai di depan kamar ayahnya dia berniat mengetuk pintu namun dia mendengar suara Siwon di dalam.

"Kau terlalu membebani pikiranmu, appa. Jangan khawatir lagi. Kyuhyun akan baik-baik saja. Dia sudah semakin sehat, Hankyung hyung bilang dia bisa segera keluar rumah sakit."

Kibum menurunkan tangannya. Dia juga berniat menanyakan tentang Kyuhyun kepada Siwon. Pastinya Siwon tahu tentang Kyuhyun, tapi tidak mengatakan apapun juga kepadanya. Namun sekarang dia mengerti appa dan hyungnya sedang bersekongkol dibelakangnya.

"Aku tidak bisa tenang meski kau bilang begitu. Lambat laun anak itu akan tahu Kibumlah yang menerima ginjalnya. Aku sudah merasa berdosa kepada mereka. Kusembunyikan kenyataan bahwa Kyuhyun adalah pendonor Kibum, agar tidak ada yang terluka."

"Aku mengerti, appa. Akhirnya Kibum menemukan teman yang pas untuknya. Jadi jika kenyataan ini terungkap, mereka tidak akan sama lagi. Tapi appa, kau harus tenang dulu. Kau jadi sakit begini, kan. Aku akan memastikan Kyuhyun baik-baik saja dan mendapatkan yang terbaik. Kau konsentrasi dengan kesehatanmu. Semua akan baik-baik saja."

Kibum berbalik. Memilih diam dan tidak ingin lagi menegur mereka. Dia sudah cukup paham. Apapun yang dilakukan ayah dan kakaknya adalah demi dirinya dan hubungannya dengan Kyuhyun. Dirinya sendiri juga merasa takut. Seandainya Kyuhyun tahu, entah bagaimana reaksinya. Membenci dirinyakah? Atau sebaliknya bersikap biasa-biasa saja. Tapi mustahil hubungan mereka akan tetap sama seperti sebelumnya. Kibum belum siap untuk itu. Bilang saja dia pengecut. Dia ingin tetap seperti ini karena inilah waktu dirinya bisa tetap bersama Kyuhyun dan dekat dengannya. Dia tidak rela jika hubungannya dengan Kyuhyun akan berubah sedikit apapun itu karena kenyataan yang terbongkar.

Kibum ingin tetap berada di zona amannya.

"Kibum, kau lama sekali turun. Aku menunggumu untuk sarapan." sambut Donghae dengan manyun.

Kibum menarik kursi dan duduk di depan Donghae.

"Appa kurang sehat, Siwon hyung sedang menemaninya sarapan di kamar." kata Donghae tanpa Kibum meminta.

Mereka makan dalam diam. Donghae masih sama seperti hari kemarin. Kibum juga.

"Hae hyung lihat Zou Mi keluar?" tanya Kibum suatu waktu.

"Heum. Dia keluar pagi-pagi sekali, ahjusi memintanya pulang."

Kibum mengangguk. Mereka kembali diam beberapa saat sampai Donghae menyelesaikan sarapannya. "Masih belum ada kabar dengan Kyuhyun?"

Kibum menatap Donghae yang terlihat tidak bersemangat. Makanannya pun masih sisa banyak. "Belum. Dia juga tidak ada di rumah orang tuanya."

"Kau memeriksa kesana?"

Kibum mengangguk, mengunyah makanannya.

"Teman Heechul hyung juga tidak mengatakan apapun. Kyuhyun tinggal bersama orang itu katanya. Terakhir kali Heechul hyung bilang Kyuhyun sedang tidak sehat, tapi kemudian orang itu tidak mengatakan apapun yang bisa menjelaskan tentang absennya Kyuhyun."

"Orang itu siapa yang hyung maksud?"

Donghae menyandarkan diri. "Leeteuk-ssi. Dia juga salah satu pelanggan café, tapi sudah lama dia tidak datang lagi." Donghae membuang nafas. "Heechul hyung terlihat sangat kesal. Dia sampai membuka lowongan untuk menggantikan Kyuhyun."

Kibum menghentikan kegiatannya mendengar hal tersebut. Heechul akan menggantikan Kyuhyun dengan orang lain? Itu artinya Kyuhyun akan kehilangan pekerjaan? Kibum meremas sendoknya, dia merasa gusar.

Sebuah ide muncul di kepala Kibum. Dia akan melakukan sesuatu agar posisi Kyuhyun di Cheonchul café aman. Kyuhyun akan bersedih jika sampai kehilangan pekerjaan.

0o0o0o0o0

"Hallo, Kyunie." Siwon masuk menyapa riang pada penghuni kamar.

Kyuhyun yang hanya sedang duduk di atas ranjang dan memandang jendela menoleh. Tidak ada senyum dan hanya tatapan datar. Namun Siwon tetap merasa senang. Direktur muda itu segera menempati kursi.

"Kau terlihat segar hari ini. Kau sangat sehat, heum?"

"Terlihat seperti itu?" tanya kyuhyun lirih.

Siwon mengangguk. Kyuhyun tidak merasa seperti itu, tapi jika Siwon bilang begitu yah terserah. Kyuhyun kembali menatap keluar jendela.

"Apa yang kau lihat?" tanya Siwon mengalihkan pandang keluar. Mencari sesuatu yang sekiranya dilihat Kyuhyun. Tapi tidak ada apa-apa selain gedung-gedung yang bisa dilihat dari lantai tiga ini.

"Kyuhyunie." panggil Siwon menarik atensi Kyuhyun. "Aku berjanji memberimu sesuatu, bukan. Aku membawanya sekarang."

Kyuhyun menggerakkan kepala menatap Siwon. Lelaki itu menarik sesuatu dari saku jasnya.

Kyuhyun membola melihat benda yang dibawa Siwon. Itu dompetnya! Kyuhyun menegakkan duduknya, matanya menatap tidak berkedip pada benda yang masih berada di tangan Siwon.

Siwon memperhatikan bagaimana ekspresi Kyuhyun. Terkejut namun juga nampak senang. Jadi Siwon tidak menunggu lagi untuk menyodorkan dompet itu kepada Kyuhyun.

Kyuhyun mengambil dompetnya. Menatapnya dengan mata berbinar. "Dompetku." gumamnya segera membuka dompet tersebut. Mencari benda yang ingin sekali ditemukannya. Dia was-was jika sampai benda itu menghilang dari dalam dompet tapi ternyata benda yang dicarinya masih ada disana.

Siwon tersenyum ikut senang melihat senyum Kyuhyun saat menarik selembar foto dari dalam dompet dan mengusapnya dengan penuh kerinduan.

"Kau sangat merindukan foto itu eoh? Beruntung seseorang menemukannya dan memberikannya padaku. Sekarang aku kembalikan kepadamu. Jaga itu baik-baik."

"Siwon hyung, gomawo. Gomawo sudah menemukannya untukku." Kyuhyun mengecup foto itu dengan mata berkaca.

Siwon mengusap kepala Kyuhyun lembut. Dia mulai merasakan sayangnya tumbuh didalam hati. Melihat Kyuhyun, bukan hanya seperti melihat 'dewa'nya Kibum. Namun berbeda dari itu. Saat dia bilang kepada sang ayah akan mengurus Kyuhyun seperti keluarga sendiri, dia mengatakan itu dengan keyakinan dan ketulusannya. Bukan sekedar balas budi. Tapi sesuatu yang tidak Siwon sadari. Sebuah kasih sayang yang muncul entah karena apa. siwon tidak begitu peduli, asalkan itu bukan hal buruk.

0o0o0o0o0

Kim Young Woon terdampar disini. Di depan makam istrinya. Ada sebuah buket bunga segar yang entah siapa meletakkannya disana. Dia sedikit tidak peduli setelah ingat tuan Choi bilang akan mengunjungi makan istrinya. Mungkin tuan Choi? Jadi dia mengabaikan hal itu dan mulai bersimpuh. Jemari besarnya mulai membersihkan makam tersebut dari rumput-rumput liar dan tinggi.

Terakhir kapan dia datang kemari? 7 tahun lalu? Atau 9 tahun lalu? Ah iya terakhir kali dia datang adalah saat sebelum dia memutuskan menikahi Hera. Dia dulu sangat yakin. Benar-benar yakin dengan keputusannya menikah lagi. Dirinya datang dan melakukan hal yang sama seperti hari ini. Membersihkan makam Youjin dan mengutarakan maksudnya menikah lagi. Dulu dirinya juga meminta agar Youjin di surga mau mendo'akan kebahagiaan dirinya.

Namun sekarang dia kembali lagi ke sini. Membersihkan makan Youjin dan mengutarakan hal lain. Sebuah perceraian yang sedang melilit keluarganya. Sambil tangan terus mencabuti rumput Young Woon mengatakan apapun yang menjadi keluh kesahnya.

"Hera selalu sadar dengan hatiku. Dia benar jika aku tidak bisa melupakanmu dan masih mencintaimu. Tapi dia juga salah, aku menyayanginya. Tentu saja aku menyayanginya. Bagaimana dia bisa mengira dirinya hanya pengganti." Young Woon mengusap air matanya dengan lengan kanan.

"Youjin-ah, bagaimana aku harus menghentikan ini? Aku tidak ingin kehilangan keluarga untuk kedua kali. Aku ingin mereka, istri dan anakku. Bagaimana caranya untuk membuat mereka kembali?"

Young Woon terguguk. Tangannya tak lagi sanggup mencabut rumput di makam Youjin. "Dia menuntut agar aku mengatakan alasan kenapa aku membenci anak itu? Dia selalu menuntut hal itu."

"Bagaimana aku sanggup mengatakan hal itu, Youjin-ah. Aku tidak sanggup mengatakan hal buruk mengenai dirimu. Aku tidak sanggup mengakui dia bukan anakku. Itu akan membuat semua orang salah menilaimu. Kehormatanmu adalah kehormatanku. Dan aib mu adalah sesuatu yang menjadi tanggung jawabku. Apapun yang terjadi aku akan melindungi kehormatanmu. Kau istriku, sudah menjadi kewajibanku untuk melindungi nama baikmu."

Namun rasanya dia tidak sanggup. Tidak sanggup jika harus kehilangan istri untuk kedua kalinya. Dia butuh Hera, dia menginginkan Hera menjadi yang terakhir untuknya.

"Youjin-ah, aku harus bagaimana? Aku tidak ingin kehilangan mereka. Aku mencintai mereka. Aku harus bagaimana?"

Tidak ada jawaban. Itu hanya sebuah makam, yang menutupi onggokan tulang tak bernyawa. Tidak akan memberinya jawaban yang diinginkannya untuk bisa menyelesaikan masalahnya. Young Woon harusnya tahu itu sia-sia, namun dia tetap pergi dan menangis keras di makan istri pertamanya. Mencurahkan segala kesakitan dalam hatinya hingga waktu saat dia berbalik untuk pulang dia merasa sedikit lega tapi pikirannya mengambang. Dia benar-benar berada di jalan buntu. Namun berada di tempat yang tepat saat sadar dimana dia melangkah.

Harusnya dia sampai di rumah tapi justru berada disini.

Mata tua masih awas miliknya menatap bangunan kokoh di depannya. Salip besar berdiri kokoh diatas atapnya. Dan pintunya terbuka lebar seolah mengundangnya masuk. Gereja yang sama dengan tempat berkat pernikahannya dilangsungkan.

Young Woon mulai melangkah dengan perasaan ragu. Namun tetap melangkah lurus-lurus memasuki gereja.

0o0o0o0o0

Kibum memasuki café, waitress bernama Ryewook menyambutnya ramah. Namun kemudian memandang heran pada selembar karton yang dia pegang. Baru Ryewook akan bertanya sesuatu, tapi Kibum sudah lebih dulu bergerak. Ryewook mengikuti kemana Kibum pergi dengan pandang matanya.

Kibum menuju meja kasir. Heechul berada disana sedang menulis sesuatu di buku. Satu gerakan dan Kibum sudah menutupi permukaan buku Heechul dengan kertas yang dia bawa. Sebenarnya kertas itu adalah yang dia cabut paksa dari papan pengumuman di depan.

"Aku melamar untuk posisi itu." katanya to the point.

Heechul menatap bengong pada Kibum. Pemuda dihadapannya balas menatap tanpa canggung atau malu.

Setelah aksi pelamaran yang tidak ada aturannya itu Heechul berhasil menahan kekesalan yang akhir-akhir ini mudah sekali naik. Satu kali kode agar Kibum mengikutinya ke belakang. Tepatnya ke ruang karyawan, karena Leeteuk tidak menyediakan tempat khusus untuk dirinya. Disana Heechul menanyakan apa maksud dan tujuan Kibum mengatakan hal itu, masih dengan menahan kekesalan.

"Coba jelaskan, apa maksudmu tadi?" kata Heechul. Dia tahu siapa Kibum. Meskipun Donghae dari keluarga yang sama, si Kibum ini berbeda. Dia bisa merasakan auranya.

"Sudah jelas. Aku datang untuk menggantikan Kyuhyun. Aku akan bekerja disini."

Heechul tertawa kering. "Kau tahu sekali etika melamar kerja, anak muda." sindir Heechul. Dia beralih duduk di kursi, bersedekap dada.

"Duduklah. Aku masih merasa harus melakukan interview denganmu."

Kibum duduk tanpa protes. Heechul mulai mengajukan beberapa pertanyaan dasar dalam interview dan Kibum sukses menjawab semuanya. Tapi itu tidak cukup membuat Heechul menerimanya sebagai karyawan.

"Kau tidak berpotensi menjadi waitress." itu alasan yang sudah jelas yang harus diutarakan Heechul.

Dahi Kibum berkerut. "Aku bisa melakukannya." kukuh Kibum tidak ingin kehilangan kesempatan ini.

"Coba tersenyum, Kibum."

Terdengar seperti perintah jadi Kibum menarik sudut-sudut bibirnya. Dia sebut itu sebuah senyuman tapi dimata Heechul terlihat sangat buruk.

Heechul menggeleng. "Sudah hentikan. Kau tidak akan mendapat pekerjaan ini." tolak Heechul lebih tegas. Dia hendak berdiri namun Kibum mencegahnya.

"Aku harus mendapat pekerjaan ini! Beri aku kesempatan. Aku bisa belajar."

Heechul memandang Kibum gerah. "Kau itu terlalu kaku. Jangankan tersenyum, bicara dengan nada dan ramah apa kau bisa?"

Kibum tidak menyahut.

"Kibum, dengar. Ini pekerjaan yang memerlukan perhatian dan kebesaran hati lebih dari yang kau lihat. Tidak semua orang bisa melakukannya. Waitress harus rendah diri, sopan, santun, ramah, loyal dan mengutamakan kepuasan pelanggan. Bahkan terkadang kau harus banyak mengalah kepada mereka. Sekalipun kesal kau harus bisa menyembunyikannya jauh di dasar hatimu dan tetap menunjukkan senyum. Kau tidak akan sanggup."

Kibum ragu bisa melakukan semua itu. Tapi dia juga tidak ingin menyerah. Jika dia yang mendapatkan pekerjaan ini maka pekerjaan Kyuhyun akan aman. Dia menyimpan pekerjaan ini untuk Kyuhyun saat dia kembali nanti.

"Aku akan belajar dan berusaha. Aku pasti bisa!"

Heechul menghela nafas panjang. "Kau tidak butuh uang, Kibum. Kau akan mengikuti ujian masuk universitas? Harusnya kau lebih mengutamakan hal itu. Jadi kenapa kau ingin mendapat pekerjaan ini?"

Ini masih liburan musim panas, masih lama sampai ujian masuk universitas dilakukan. Lagipula Kibum itu pintar, dia yakin akan lulus sekalipun tidak belajar. Hanya kesialan menurutnya yang bisa menggagalkan dirinya. Kibum terlalu narsis. Sekalipun itu benar, Kibum tidak berniat melakoni pekerjaan ini selamanya. Dia hanya melakukannya sampai Kyuhyun kembali. Sejak awal itu niatan tersembunyinya.

"Itu tidak masalah. Berikan pekerjaan ini padaku."

Heechul harus berfikir lebih keras kalau begini. Pemuda ini nampak tidak akan menyerah. "Berikan alasannya."

"Ini untuk Kyuhyun." Kibum mulai bicara jujur. "Aku ingin menyimpan pekerjaan ini untuk Kyuhyun. Aku akan keluar saat Kyuhyun kembali."

Heechul tertegun. Kibum berusaha keras hanya untuk Kyuhyun? Ini membuatnya heran tapi juga salut. Entah kenapa si Kibum ini, tapi Heechul juga tidak bisa mengabaikan usaha pemuda itu untuk temannya. jadi dia putuskan untuk menerima Kibum. Lagipula dia tidak beniat menggantikan Kyuhyun sepenuhnya. Dia mencari orang baru yang bersedia berhenti jika pegawai lamanya kembali. Intinya Heechul hanya mencari pengganti sementara.

Tapi kalau pengganti itu seorang Kibum, akan jadi bagaimana? Heechul masih banyak keraguan tapi tetap menerima Kibum.

Keputusannya menggemparkan semua pegawainya. Terutama Donghae. Dia bahkan sampai protes. Tapi Kibum sendiri yang menginginkan pekerjaan itu, membuatnya bungkam seketika. Jika sang adik yang menginginkannya sendiri apalagi yang bisa dia perbuat.

Tapi Kibum menjadi waitress? Donghae tidak bisa bayangkan. Dan dia tidak berani membayangkan itu.

0o0o0o0o0

Leeteuk sudah cukup lama menunggu. Tapi tidak ada yang muncul. Baik Young Woon atapun Hera, atau juga Henry. Rumah itu masih dikunci dan dia masih di luar. Menunggu hampir 2 jam.

'Seharusnya aku menelpon dulu sebelum datang. Apa mereka tidak akan pulang?' pikir Leeteuk yang mulai ragu untuk menunggu lebih lama.

Leeteuk akhirnya melangkah meninggalkan kediaman Young Woon. Masuk ke mobilnya. Namun sebelum menyalakan mesinnya dia sempatkan diri mencoba menghubungi Hera, hanya kontak Hera yang dia miliki.

Lama dia menunggu namun hanya bunyi tut tut tut disusul suara operator. Membuat Leeteuk mantap untuk pergi dan akan datang lain kali lagi. Mungkin dengan membuat janji temu lebih dulu agar waktunya tidak sia-sia.

0o0o0o0o0

Kibum tidak memulai pekerjaan hari itu. Namun Heechul memintanya bertahan lebih lama. Dia meminta Kibum memperhatikan bagaimana karyawan-karyawan disana bekerja. Anggap saja dia belajar sebelum benar-benar bekerja besok. Heechul juga mengajarinya bagaimana melayani pelayan, dari menyambut di depan pintu hingga melayani pesanan mereka di meja makan hingga pelanggan meninggalkan meja. Mungkin dia bisa dengan cepat menguasai materi, namun Heechul dibuat sangat ragu saat Kibum mencoba.

Sudah sejak dua jam lalu pelajaran dari Heechul dihentikan dengan sifat pasrah Heechul yang kentara. Kibum hanya duduk di salah satu meja. Ini sudah malam, jadi dia memutuskan untuk menunggu Donghae untuk pulang bersama. Itu juga pesan Donghae tadi, agar mereka pulang bersama.

"Jangan lakukan, Kibum. Kau tidak pantas melakukan ini." Donghae mulai dengan protesnya saat mereka sampai di rumah. Masih di garasi, tapi Donghae tidak sabar untuk bicara. "Jika appa tahu, dia bisa marah. Dia masih sangat mengkhawatirkanmu meski kau sudah sembuh. Dan aku tidak mau ikut-ikut disalahkan."

"Aku akan menanggungnya. Donghae hyung diam saja."

Donghae merasa kesal kali ini. Bagaimana dia bisa diam jika dia melihat?

"Lagipula untuk apa kau bekerja? Kau ada di tahun terakhirmu. Aku akan beritahu appa agar dia menghentikanmu."

Kibum menahan lengan Donghae yang hendak berlalu. "Kumohon hyung. Hanya sementara sampai Kyuhyun kembali. Kumohon rahasiakan ini dari orang rumah."

"Untuk Kyuhyun? Kau melakukan ini untuknya? Kenapa?" Donghae tidak habis pikir. Alasan apa yang membuat Kibum rela menjadi pegawai pengganti.

Kibum menunduk menghadapi pertanyaan kakaknya, membuat Donghae jadi tidak sabar. Keheranannya sudah sampai titik ini dan membutuhkan jawaban. Kibum selalu bersikap ajaib jika dengan Kyuhyun. Dia bisa menjadi orang yang sangat berbeda untuk bocah itu. Bahkan melakukan hal semacam ini?! Donghae benar-benar heran.

"Karena dia memberikanku kesempatan hidup."

"Apa?!" jawaban Kibum lebih mengejutkannya.

Kibum mengangkat kepala, menatap Donghae dalam-dalam. "Ginjal yang kudapatkan hari itu adalah milik Kyuhyun. Jadi kumohon mengertilah dengan apa yang kulakukan ini. Bantu aku merahasiakan ini, Donghae hyung."

Sebuah bentuk balas budi. Entah bagaimana Kibum tahu identitas pendonor ginjal itu sedangkan menurut Donghae hanya appa mereka yang tahu dan itu memang dirahasiakan. Mengingat bahwa operasi hari itu dilakukan dalam keadaan mendesak. Kibum dalam kondisi sekarat kemudian pertolongan itu datang tanpa diduga. Hanya begitu yang Donghae tahu. Bukan saudara bahkan bukan orang yang mereka kenal tapi bagi keluarganya orang asing itu adalah penyelamat. Karena ginjal miliknya Kibum sembuh dan sehat hingga sekarang.

Tapi benarkah hanya karena balas budi? Kibum terlihat berbeda dimata Donghae, sikapnya terhadap Kyuhyun benar-benar berbeda.

'Tunggu. Seharusnya Kyuhyun juga masih sangat muda untuk jadi pendonor. Lalu bagaimana operasi tetap berlangsung?'

TBC

Saturday, October 22, 2016

12:17 AM

Sunday, October 23, , 2016

11:08 AM

Sima Yu'I

(SY'I)