Desclaimer by Masashi Kishimoto
Rating : T-M
Warning : AU, OOC, Gaje, Alur kecepetan, Typo (s)
Original story by Crystal94
if there are similarities stories and ideas, believe me it was just fluke.
.
.
.
-Dark Love 6-
Sasuke menatap datar tumpukan dokumen yang memenuhi meja kerjanya. Pemuda itu sama sekali tak ada niat untuk membuka atau pun menyentuh kertas-kertas itu. Kalau di hitung, ini sudah hari ke tujuhnya pemuda itu menginap di kantor, semenjak pertengkarannya dengan gadis pujaannya itu tentunya. Ah, mengingat gadis itu entah mengapa hatinya meringis sakit. Sasuke sudah mencoba untuk menghubungi Hinata, tapi gadis itu masih terus mengabaikannya.
Sasuke menghembuskan nafasnya kasar. Menumpukkan kepalanya diatas meja kerjanya. Pemuda itu memejamkan matanya perlahan. Semenjak di abaikan oleh gadis itu, Penampilan Sasuke benar-benar terlihat kacau. Dengan kantung mata yang melingkari bawah matanya, kemeja yang tak terlihat rapih lagi, dasi yang entah sudah kemana, bahkan pemuda itu menyadari munculnya bulu-bulu halus di beberapa bagian wajahnya.
Kalau di fikir, sejak kapan seorang Uchiha Sasuke terlihat kacau hanya karena diabaikan oleh seorang gadis. Karena biasanya pemuda itu yang sering mengabaikan para gadis diluar sana. Mungkin ini karma untukmu, Sasuke. Pemuda itu menjambak rambutnya pelan, mencoba untuk menetralisir rasa nyeri di kepala terutama pada hatinya. Sejak kapan kau terlihat menyedihkan seperti ini Sasuke?
Sasuke mengangkat kepalanya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kerjanya. Pemuda itu mengeluarkan ponselnya, saat layar Lockscreen terbuka. Pemuda itu lagi-lagi mendengus sebal saat tak menemukan panggilan atau pun pesan masuk di ponselnya. Sesaat kemudian Sasuke mencoba menghubungi lagi seorang gadis yang berhasil mengacaukan kehidupannya itu.
'the number you are calling is busy, please leave a voicemail after dialing number 1'
Lagi-lagi suara operator yang menyambut panggilan pemuda itu, menyuruhnya untuk meninggalkan pesan suara. Ah, baiklah untuk kesekian kalinya Sasuke hanya bisa meninggalkan pesan suara untuk Hinata, berharap gadis itu mau mendengar dan menerima panggilannya.
"Hinata aku harap kau mau mengangkat panggilanku. Ah, ini sudah kesekian kalinya kau mengabaikanku, babe. Aku sudah ke apartemenmu berkali-kali dan kau selalu tak ada. Katakan padaku bagaimana caranya agar kau mau memaafkan aku?! Sialan Hinata! Aku tak pernah sekacau ini! Kalau kau tak mau menerima panggilanku, aku akan menghancurkan ponselmu itu!"
Sasuke mendengus sebal dan melemparkan ponselnya ke atas meja kerjanya. Memijat keningnya pelan. Hinata Hinata Hinata kau berhasil membuat pemuda itu gila. Beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu memasuki pendengaran Sasuke. Tanpa permisi, seorang pemuda berambut kuning masuk dengan membawa beberapa dokumen. Naruto menaikkan sebelah alisnya saat melihat tampang murung yang ditunjukkan sahabatnya itu.
"Sejak kapan kau sekacau ini, teme?"
"Diam kau dobe."
Naruto mendengus sebal dan meletakkan beberapa dokumen yang dibawanya diatas tumpukkan dokumen lainnya yang sudah menggunung. Naruto yakin, pasti Sasuke belum menyentuh sedikit pun kertas-kertas putih itu.
"Kalau kau hanya duduk diam sambil menunggu seperti itu. Kau fikir Hinata akan memaafkanmu dengan mudahnya?"
"Sialan! Aku sudah menghubungi dan mendatangi apartmennya, dobe. Tapi tetap saja, dia terus menghindariku."
"Bah! Kalau seperti itu aku juga bisa, teme. Kenapa tak kau coba datang ke kantornya? Aku yakin, pasti Hinata menginap disana sama sepertimu."
"Tak Mungkin."
"Ck! Kau ini! Aku bilangkan coba dulu. Kau tak lihat bagaimana keras kepalanya gadis itu? Aku benar-benar kagum dengan Hinata, dia bisa mengabaikanmu dengan mudahnya."
"Sialan kau!" Sasuke melempar bungkus rokoknya tepat kearah wajah Naruto yang masih asik tertawa mengejeknya.
Pemuda pirang itu berjalan menuju meja bar yang terletak di sudut ruangan. Membuat dua cangkir kopi untuk dirinya dan juga Sasuke. Sasuke sendiri terlihat mulai menyalakan pematik api untuk rokoknya.
"Heh, Hinata tak marah jika mau merokok?" Sasuke hanya diam tak menanggapi pertanyaan pemuda itu. Naruto yang melihatnya hanya bisa menghela nafas lelah.
Beberapa saat kemudian Sasuke bangkit dari tempat duduknya dan mengambil kunci mobil di dalam jasnya. Sebelum meninggalkan ruangannya, dirinya menyempatkan untuk menyesap kopi yang tadi disediakan untuknya.
"Hei! Kau mau kemana teme?" Teriak Naruto saat melihat Sasuke sudah mencapai pintu.
"Memperjuangkan cintaku! Puas kau!" Naruto hanya diam mematung sesaat setelah Sasuke pergi sambil mengucapkan kata-katanya dengan tampang frustasi.
"Hei! Setidaknya kau bersihkan dirimu dulu sebelum bertemu Hinata!" Teriak pemuda itu lagi mengingat sahabatnya itu pergi dengan penampilan yang sangat kacau. Naruto bahkan lupa, kapan terakhir kali Sasuke mandi.
.
.
.
Selama diperjalanan, Sasuke terus memasang tampang datarnya. Mungkin Naruto benar, jika Hinata tak mau menerima panggilannya dan terus menghindar darinya, jalan satu-satunya yaitu menemui Hinata langsung dengan datang ke kantornya.
'Baiklah sayang, kita lihat sampai kapan kau bisa mengabaikanku.' Batin Sasuke sambil melajukan mobilnya dengan kencang.
-Dark Love 6-
Suasana hening menyelimuti ruangan pribadi President Hyuuga. Seorang gadis berambut coklat terlihat sedang sibuk menyiapkan beberapa dokumen untuk meeting yang akan di adakan sebentar lagi. Gadis yang diketahui bernama Tenten itu melirik seseorang yang sedang duduk sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Dengan sebal, Tenten berjalan mendekati meja pribadi sang Direktur utama.
"Demi Tuhan Hinata! Jika kau terus seperti ini aku akan melaporkanmu pada Neji!"
Hinata hanya diam tak menanggapi ucapan sekretaris pribadinya itu. Dengan pelan gadis itu mengangkat kepalanya dan berganti dengan menumpukan dagunya diatas meja.
"Hilangkan tampang jelekmu itu!"
"Enak saja kau!"
"Kenapa? Aku benar kan? Ini sudah hampir seminggu kau selalu menunjukkan tampang surammu itu di sini."
Lagi-lagi Hinata mengabaikan perkataan gadis itu. Dengan perlahan Hinata melirik jam dinding yang berada diruangannya dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul 10.40 AM. Dengan malas gadis itu menegakkan punggungnya dan merapikan sedikit penampilan.
"Tenten, jam berapa meeting dimulai?"
"10 menit lagi Hinata."
"Baiklah." Tenten menghela nafas dan mengelus pelan pucuk kepala Hinata.
"Hei, kalau kau ada masalah, kau bisa menceritakKannya padaku."
Hinata menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya perlahan. Mana mungkin dia menceritakkan masalah yang sedang dialaminya, terlebih lagi masalah itu hanya karena seorang laki-laki. Mengingatnya saja sudah membuat dirinya kesal. Sejak kapan dirinya murung hanya karena masalah seperti ini. Hinata tak pernah mengemis cinta pada laki-laki! Terlebih laki-laki itu adalah Uchiha Sasuke!
"Tidak ada apa-apa."
"Kau yakin?"
"Ya. Tentu saja."
"Baiklah. Kalau begitu bersiap-siaplah, aku akan menyiapkan ruangan meetingnya."
Hinata mengangguk dan menghela nafas lega sesaat setelah gadis itu pergi meninggalkan ruangannya. Gadis itu bangkit dari kursinya dan berjalan menuju dinding berlapis kaca yang memenuhi ruangannya. Hinata mengedarkan pandangannya ke seluruh jalanan kota Tokyo yang terlihat padat. Sesaat pikirannya melayang pada kejadian seminggu yang lalu, dimana dirinya bertengkar dengan pemuda bermata onyx itu.
'Kenapa juga aku harus mengingatnya kembali' batin gadis itu sebal.
Lamunannya buyar saat mendengar suara dering ponselnya. Gadis itu menoleh dan menatap datar benda persegi di atas meja yang sering ia abaikan akhir-akhir ini. Dengan malas Hinata mengambil benda itu dan melihat ada 70 voicemail dan juga berpuluh-puluh pesan masuk. Hinata menghela nafas saat mengetahui siapa pengirimnya. Dengan enggan, Hinata membuka satu persatu-satu pesan dan voicemail yang masuk.
Massage from Uchiha Sasuke :
-Hinata angkat telfonku.
-Hinata aku di depan apartemenmu, cepat buka pintunya.
-Buka pintunya sekarang atau aku akan mendobraknya!
-Sialan! Kau benar-benar membuatku gila Hinata!
Dan masih banyak lagi rentetan kalimat yang memenuhi pesan masuk di ponselnya. Hinata mengerutkan keningnya saat melihat voicemail yang dikirimkan untuknya beberapa menit yang lalu. Dengan perlahan gadis itu menekan angka 1 dan mulai mendengar pesan suara yang ditujukan untuknya.
"Hinata aku harap kau mau mengangkat panggilanku. Ah, ini sudah kesekian kalinya kau mengabaikanku, babe. Aku sudah ke apartemenmu berkali-kali dan kau selalu tak ada. Katakan padaku bagaimana caranya agar kau mau memaafkan aku?! Sialan Hinata! Aku tak pernah sekacau ini! Kalau kau tak mau menerima panggilanku, aku akan menghancurkan ponselmu itu!"
Gadis itu membuang nafasnya kasar saat mendengar pesan suara yang baru saja di dengar. Memangnya dirinya perduli, Hinata tak ingin perduli lagi dengan semua tingkah konyol laki-laki itu. Bagi Hinata sikap pemuda itu sangat keterlaluan dan juga berlebihan. Dasar menyebalkan! Tak akan ada Uchiha Sasuke lagi dihidupku! Jerit Hinata kesal di dalam hatinya.
Dengan segera Hinata pergi meninggalkan ruangannya dan berjalan menuju ruang meeting yang sedang menantinya. Saat gadis itu memasuki ruang meeting, para relasi bisnis Hyuuga membungkuk dan memberi hormat padanya. Hinata dengan canggung membalas salam mereka. Gadis itu segera berdiri berhadapan dengan para relasi bisnisnya, bersiap untuk memulai meeting.
-Dark Love 6-
Sasuke melangkahkan kakinya memasuki gedung besar yang berada di hadapannya. Pemuda itu segera mengedarkan pandangan matanya ke seluruh koridor gedung. Dengan penampilan yang berantakan dan rokok yang masih setia diapit oleh bibirnya, pemuda itu sukses membuat para karyawan perempuan berteriak histeris. Sasuke tak menghiraukan, dengan sorot mata yang dingin pemuda itu segera memasuki lift menuju lantai teratas, lantai 25.
Selama berada di dalam lift pemuda itu menatap pantulan dirinya. Sasuke mendengus sebal saat melihat kemeja hitamnya sudah tak berbentuk lagi. Siapa yang perduli dengan penampilan, yang penting dirinya bisa segera bertemu Hinata dan menyelesaikan permasalahan mereka.
Suara denting berbunyi dan pintu lift terbuka. Dengan langkah mantap Sasuke segera berjalan menuju pintu utama yang berjarak beberapa meter di hadapannya. Namun, sebelum benar-benar sampai pada tujuannya. Sasuke melihat seorang gadis berambut coklat baru saja keluar dari pintu lain yang bertuliskan 'Room Meeting' yang berada di sebelah kirinya. Pemuda itu menghembuskan asap rokoknya saat matanya berpapasan dengan iris madu gadis itu.
Sasuke menatap datar saat melihat tatapan aneh yang di lemparkan gadis itu padanya. Tak ingin membuang waktu, dirinya segera membawa kakinya menuju ruang Direktur Utama. Namun sebelum benar-benar sampai, sebuah suara menghentikkan langkahnya.
"Tu-tunggu sebentar!" Teriak gadis itu.
"Hn." Sasuke membalikkan tubuhnya dan menatap datar gadis di hadapannya.
"Kau..Uchiha Sasuke kan?"
"Hn."
"Ada urusan apa kau kemari?" Tanya Tenten pada pemuda di hadapannya.
"Aku ingin bertemu Hinata."
"Hinata? Ah! Maaf, hari ini dia tak bisa di ganggu."
"Kenapa?" Tenten mendengus sebal saat mendengar suara tak bersahabat yang keluar dari mulut pemuda itu.
"Dia sedang ada meeting." Sasuke menghembuskan asap rokoknya untuk yang kesekian kalinya dan segera membuang putung rokoknya. Tanpa menghiraukan ucapan gadis itu. Sasuke segera memutar arah dan melangkahkan kakinya menuju pintu bertuliskan 'Meeting Room'.
Tenten yang melihat gerakan pemuda itu segara merentangkan kedua tangannya menghalangi pintu.
"Apa yang kau lakukan? Menyingkir dari situ." Sasuke berkata sambil melemparkan pandangan dinginnya.
"Aku sudah bilang padamu Hinata tak bisa di ganggu." Tenten menatap galak pemuda yang berdiri di hadapannya.
"Memangnya aku perduli?" Tanpa aba-aba Sasuke segera menyingkirkan gadis itu hingga tubuhnya tak menghalangi pintu lagi.
"Hei! Apa yang kau lakukan!" Teriak Tenten saat melihat Sasuke sudah membuka pintu dan masuk ke dalam.
.
.
.
Hinata memandang datar pemuda yang sedang berdiri di ambang pintu. Seluruh relasi bisnisnya terdiam saat melihat pemuda itu berjalan menuju gadis bermata amethyst itu. Tak ada yang berani berkomentar setelah melihat aura hitam yang dipancarkan pemuda Uchiha itu. Mereka hanya diam dan menunggu pertunjukkan apa yang akan terjadi sebentar lagi.
Sementara tubuh gadis itu menegang saat melihat langkah Sasuke yang semakin mendekat. Hinata melirik Tenten yang sedang menangkupkan kedua tangannya dan melemparkan pandangan memohonnya. Saat jarak di antara mereka minipis, Hinata dapat mencium bau alcohol dan tembakau yang menguar masuk indera penciumannya. Gadis itu juga dapat melihat betapa kacaunya penampilan pemuda itu.
"Hinata." Sasuke menggenggam pergelangan tangan gadis itu. Hinata menghembuskan nafasnya pelan guna menetralisir amarah yang siap meledak kapan saja. Dengan perlahan, gadis itu mendongak dan menatap dingin iris kelam pemuda itu.
"Apa yang kau lakukan disini Sasuke?"
"Menjemputmu, mungkin."
"Kau tak lihat aku sedang ada rapat?"
"Memangnya aku perduli?"
"Kau!"
Beberapa saat kemudian seluruh penghuni ruangan dibuat terkejut saat melihat Sasuke yang dengan tiba-tiba memeluk Hinata. Gadis itu sendiri sangat terkejut dengan perlakuan tiba-tiba yang diberikan pemuda itu. Apalagi Hinata bisa merasakan kepala Sasuke yang tenggelam di perpotongan lehernya. Gadis itu sedikit merinding saat merasakan hembusan nafas pemuda itu.
"A-apa yang kau lakukan. Le-lepaskan aku!"
"Tidak akan sebelum kau pergi denganku."
Hinata mencoba mendorong dada pemuda itu, namun sepertinya usahanya itu sia-sia. Bukannya terlepas, pemuda itu malah mengeratkan pelukannya di pinggang ramping Hinata.
Hinata menggigit bibir bawahnya, wajahnya memerah sempurna saat melihat seluruh relasi bisnisnya menatap kearah mereka dengan pandangan aneh. Bahkan beberapa ada yang sampai mengangakan mulutnya.
"Ma-afkan aku. Meeting hari ini akan kita lanjutkan minggu depan." Sasuke menyeringai saat mendengar ucapan gadis itu. Well Sasuke, sepertiya kau akan memenangkan hati gadis itu.
Hinata bernafas lega saat seluruh penghuni ruangan pergi dan hanya menyisakkan mereka berdua.
"Bisa kau lepaskan aku Sasuke?"
"Tidak."
"Kau benar-benar keras kepala."
"Itu karenamu."
"Kau membuatku malu untuk yang kedua kalinya."
Dengan enggan Sasuke melepaskan pelukannya dan menatap sendu gadis pujaannya.
"Maaf. Maafkan aku Hinata."
Hinata memejamkan matanya perlahan dan mendongak melihat wajah tampan pemuda itu. hinata menatap onyx kelam pemuda itu, tatapannya sendu dan Hinata bisa melihat ketulusan yang di pancarkan pemuda itu.
"Sasuke."
"Aku tau sikapku sudah keterlaluan, kau boleh menamparku untuk membalasnya."
"Ck! Sejak kapan kau jadi cengeng begini?"
Sasuke hanya diam tak menanggapi ucapan gadis itu. Sesaat kemudian, Sasuke merasakan kedua tangan Hinata menangkup pipinya. Sasuke menggenggam telapak tangan Hinata dan memejamkan matanya perlahan merasakan sentuhan hangat yang di berikan gadis itu. pandangan mata Hinata melunak saat melihat penampilan kacau pemuda itu. Gadis itu bisa merasakan kedua pipi Sasuke yang mulai menirus, jangan lupakan ada bulu-bulu kasar yang tumbuh di dagu dan di atas bibir pemuda itu.
"Pipimu..terlihat tirus."
"Ya, dan kau penyebabnya."
Sasuke menempelkan keningnya dengan kening Hinata. Untuk sesaat, mereka berdua hanya diam dan saling melemparkan pandangan sayang satu sama lain. Tanpa sadar, jarak wajah mereka semakin menipis dan Hinata dapat merasakan hembusan hangat dan benda kenyal yang menempel di bibirnya. Gadis itu memejamkan matanya dan meresapi ciuman lembut yang diberikan Sasuke. Tak ada nafsu, mereka hanya menyalurkan rasa rindu dan sayang yang selama ini tertahan. Sasuke melepaskan pagutannya dan menatap wajah merona gadis itu.
"Aku mencintaimu."
.
.
.
Chapter 6 finnaly up! Huhuh T.T
Akhirnya aku bisa update lagi, sebelumnya aku mau minta maaf karena telat update dan maaf juga ya kalo kependekkan. Seperti yang aku bilang sebelumnya, aku udah mulai di sibukkin sama dunia RL aku T.T
Mungkin untuk kedepannya aku bakal up telat lagi, tapi aku harap kalian masih mau nunggu kelanjutannya^^v
Dan aku mau berterima kasih banyak buat kalian yang udah nyempetin buat review, aku tunggu reviewan kalian selanjutnya yaa #pleaseee
Maaf juga karena gabisa bls review kalian, tapi aku baca kok reviewan kalian hohoh
Udah segitu dulu aja cuap2nya. See you next chapter! Bye!
.
.
Crystal94
