BONUS 4

0000000000000000000000

Kyuhyun masih menunggu Hera hingga selesai membaca surat yang dia bawa dari sekolah. Gurunya memberikan surat itu agar diberikannya pada sang eomma. Dia ingin tahu apa isi surat tersebut, meski sedikit banyak dia mengerti kenapa ada surat yang ditujukan pada walinya menjelang ujian akhir sekolah. Apalagi jika bukan mengenai tunggakan uang sekolah. Beginilah jika berada di sekolah swasta.

Sepertinya tebakan Kyuhyun tidak salah, melihat bagaimana perubahan wajah Hera setelah membaca surat tersebut. Kertas putih itu dilipat dan dimasukkan kembali ke dalam amplopnya. Hera menarik senyum kecil, terlihat dipaksakan. "Kyunie, masih disini, eoh? Pergilah, ganti seragammu, bersih-bersih lalu turun untuk makan." kata Hera mengusirnya halus.

Kyuhyun tidak langsung melakukan apa yang diperintahkan ibunya. Dia masih sibuk memperhatikan gurat gelisah di wajah sang ibu. "Eomma, Kyunie tidak bisa ikut ujian?"

"Jangan khawatir, sayang. Eomma janji Kyunie akan bisa ikut ujian. Sekarang pergilah."

Kyuhyun mengangguk kecil. Beranjak dari tempatnya, melangkah menuju tangga untuk naik ke atas.

Hera meremas pelan amplop ditangannya. Dia sedang tidak memiliki uang sekarang. Dan suaminya? Sejak hari dimana dia menegur suaminya yang tidak membayar uang sekolah untuk Kyuhyun, lelaki itu bersungguh-sungguh tidak ingin mengeluarkan sepeser uangnya untuk biaya Kyuhyun. Hera yng melakukan semuanya. Dia membuat kue atau apapun agar bisa dijual untuk membiayai sekolah Kyuhyun. Dia juga mengambil pekerjaan apapun demi Kyuhyun.

0o0o0o00

Kyuhyun sedang mengganti pakaiannya saat pintu kamarnya bersama Henry dibuka Young Woon. Yang tidak menyenangkan adalah saat appanya segera mengunci pintu di belakangnya. Kemudian disusul dengan suara Hera yang memanggil dari luar.

Kyuhyun mundur spontan saat Young Woon melangkah lebar menghampirinya. Belum keheranannya terjawab, sang ayah menyentaknya dengan kasar. Kyuhyun meringis merasakan cengkeraman yang begitu keras di lengannya. "Sakit appa." cicitnya berharap dilepaskan.

Tanpa melepas cengkeramannya, Young Woon menangkap rahang bocah yang dirundung ketakutan. "Sakit, ha? Peduli apa aku dengan itu!" marah sang ayah murka. "Berapa kali harus kubilang untuk tidak menyusahkan istriku! Kau butuh uang? Kau ingin sekolah? Gunakan otakmu bocah sialan! Apa aku terlihat sudi memberikanmu hak atas hartaku! Kau parasit di rumah ini! Tidak akan kubiarkan kau melunjak lebih dari ini!"

Kyuhyun sudah menangis. Bentakan beserta cacian itu meluncur di depan wajahnya. Lebih lagi ekspresi sang ayah yang menakutkan. Kali ini dia merasa akan mendapat lebih dari cacian seperti itu.

"Mianhe appa." ucap Kyuhyun memohon. Lengannya mulai kebas mendapat tekanan yang kuat. Begitu juga rahangnya yang linu. Masih didengarnya suara Hera yang memohon di luar. Dia ingin sekali berlari kesana, membuka pintu dan bersembunyi di belakang Hera.

"Maaf? Enak sekali kau minta maaf, hah!" Young Woon mendorong Kyuhyun. Bocah malang itu jatuh terlentang di lantai. Belum lepas rasa kagetnya karena terdorong jatuh, rasa sakit langsung dirasakannya di badan sebelah kiri menerima tendangan. Kyuhyun mengaduh. Dia beringsut mundur saat tendangan kedua dilayangkan Young Woon.

"Mianhe appa. Ampun." Kyuhyun mengiba. Dia teramat takut sekarang melihat Young Woon yang semakin murka, nampak olehnya sang ayah menggertakkan gigi. Bernafsu untuk memberinya banyak kesakitan.

PLAK

PLAK

Kyuhyun menangis semakin keras. Kedua pipinya terasa panas oleh tamparan tangan besar Young Woon. "Bocah sialan! Sampai kapan kau terus menyiksaku seperti ini!" Young Woon menendang kembali. Kyuhyun tidak bisa menghindar lagi. Dia sudah tersudut. Dia hanya bisa meringkuk memohon ampun dan berharap tendangan bertubi Young Woon segera berakhir.

"Rasakan rasa sakit ini! Hah, kapan kau akan jera membuat ulah!"

"Mianhe…. Sakit, appa…. Ampun…."

"Kapok sekarang, sialan?! Anak sial sepertimu untuk apa sekolah! Tidak perlu sekolah! Kau hanya akan menjadi bajingan dan benalu! Pembawa sial dan pembunuh! Kau menyiksa istriku dan membunuhnya! Bocah tidak tahu diri! Anak iblis!"

"Ampun, appa…. Mianhe…. Mianhe…."

Young Woon kalap, masa bodoh dengan kondisi mengenaskan Kyuhyun. Seolah ini kesempatan untuk melampiaskan segala kebencian dan kekecewaan yang sudah lama dia tahan. Melupakan hati nuraninya sebagai manusia dia menarik kasar rambut Kyuhyun, berulang menyentaknya dengan keras hingga rontok. Kembali menendang dan memukul kepala bocah yang pernah ditimangnya saat dulu.

"Brengsek! Sekarang kau menyusahkan istriku! Lagi dan lagi! Apa maumu, hah?! Kapan kau akan berhenti menjadi parasit di hidupku?! Anak tidak tahu diri! Anak sial! " Young Woon menyepak kaki Kyuhyun yang meringkuk takut di sudut kamar. Anak itu membenamkan kepalanya, melindungi diri dari tangan dan kaki yang sedang murka.

Nafas Young Woon memburu, menatap bengis pada bocah 11 tahun di bawah kakinya. Sayup-sayup dia mendengar kembali suara gedoran dan teriakan dari luar.

"Young Woon, apa yang kau lakukan?! Jangan menyakitinya! Berhenti, aku mohon! Buka pintunya!"

Suara Hera yang menangis memohon agar dirinya berhenti melampiaskan kemarahan pada anak dihadapannya. Dia mengusap kasar wajahnya, sebelum kembali menatap liar sosok gemetaran itu.

"Dengar!" Young Woon merundukkan badan, menarik kasar rambut Kyuhyun hingga anak itu mendongak menatap dirinya. Ada luka di pelipis, dan darah yang keluar dari sudut bibirnya mungkin akibat tendangan atau pukulan tangannya, dia tidak ingin tahu. Bahkan ketika anak itu masih menatap takut dan menggumamkan maaf berulang kali, Young Woon menyentak kepalanya ke belakang hingga Kyuhyun meringis sakit. "Jika kau ingin hidup gunakan tangan dan kakimu sendiri untuk mencari uang! Aku tidak sudi memberikan apapun padamu! Kau bukan siapa-siapa di rumah ini! Sekali lagi kau menyusahkan istriku, aku tidak segan menendangmu keluar dari rumah! Mengerti?!"

Kyuhyun mengangguk cepat-cepat agar dirinya segera lepas dari sang ayah. Sungguh dia merasakan perih di kulit kepalanya, sakit di wajahnya, nyeri di sekujur tubuh dan rasa sesak di dada. Young Woon menghempas Kyuhyun dengan kuat, anak itu terjerembat hingga kepala belakangnya terantuk tembok. Kembali Kyuhyun meringis, memegangi kepalanya yang berdenyut namun menahan suara mengaduhnya.

Young Woon memutar kunci pintu dimana Hera yang masih berteriak disana segera menghentikan usahanya mendobrak pintu. Hera segera menerobos masuk begitu pintu terbuka. Wanita yang bersimbah air mata itu mematung melihat Kyuhyun meringkuk di sudut, gemetar dan menangis. Bukan hanya itu, keadaannya nampak mengenaskan. Rambutnya awut-awutan, luka di wajah dan baju yang berantakan. Dia berbalik keluar, suaminya masih berada di koridor kamar.

"Keterlaluan kau, Young Woon!" teriak Hera. Dia merengsek maju menyerang suaminya. Memukulinya bertubi-tubi yang hanya diabaikan Young Woon. Karena sungguh pukulan Hera tidak berpengaruh padanya.

Hingga pukulan Hera melemah. Mencengkeram baju Young Woon dia menangis sesenggukan. "Aku hanya meminta tolong kepadamu. Aku ingin meminjam uangmu. Kenapa ini yang kau lakukan padanya? Aku ingin meminjam, Kim Young Woon! Aku pasti mengembalikannya! Setega ini kau menyakitinya!"

Tangisan Hera tidak meluluhkan Young Woon. "Bahkan untuk memberi pinjaman padanya sekalipun, aku tidak akan pernah sudi!"

Hera menggeleng sedih. Begitu gelapkah hati suaminya? Begitu besar kebenciannya pada Kyuhyun? Young Woon melepas cengkeraman tangan Hera, namun tidak dilepasnya. Digenggamnya kedua tangan istrinya dengan erat. "Sudah bagus aku membiarkannya tinggal disini. Aku pernah mengusirnya, tapi dia tetap bertahan menunggu di depan rumah. Membuatku malu dengan orang-orang sekitar, dan sangat terpaksa membawanya kembali masuk. Dia makan, tidur dan melakukan semuanya disini dengan gratis. Harus sebaik apa lagi aku kepada anak yang telah merenggut kebahagiaanku? Nama yang sering kau ucapkan itu, selalu mengingakanku pada rasa sakit dan ketidak berdayaanku pada penderitaan mendiang istriku. Sepanjang waktu dia berada di rumah ini, saat itu juga bayangannya seperti terus mengiris lukaku yang tak kunjung sembuh. Luka ini terus ditaburi garam olehnya. Rasanya sangat sakit, Hera. Aku merasakannya setiap hari, hampir membuatku gila. Jadi kumohon, berhenti melakukan sesuatu lagi untuknya. Biarkan dia melakukannya sendiri. Dia ingin sekolah, maka dia harus mencari biayanya sendiri!"

Hera menggeleng. Mencoba menarik tangannya dari genggaman Young Woon, namun tidak berhasil. "Dia tidak akan bisa. Dia masih kecil. Aku mohon padamu, kasihani dia. Anggap saja kau bersedekah kepadanya."

Mata Young Woon kembali menajam. Dihempaskan tangan Hera yang berada dalam genggamannya. Dia mendengus kasar. "Apapun yang aku katakan kau tidak akan mendengarkannya. Bagimu, Kyuhyun sangat berharga? Anak itu yang telah menghancurkan hidupku begitu kau agungkan! Bagus Hera. Teruslah seperti itu dan aku tidak peduli! Lakukan semaumu, DAN!" Young Woon menunjukkan jari telunjuknya di hadapan Hera. Memberinya gesture peringatan, "Jangan mencoba meminta tolong kepadaku. Kesusahan yang akan kau dapatkan karena anak brengsek itu, kau sendiri yang akan merasakannya!"

Hera menatap kepergian Young Woon dengan nanar. Suaminya tidak main-main dalam perkataannya jika itu menyangkut Kyuhyun. Hera terisak dengan keras. Begitu gelap hati suaminya di dasar kebencian. Melihat sorot mata itu Hera merasa takut. Tapi sisi hatinya yang tidak mampu mengabaikan Kyuhyun juga mendominasi. Hatinya sebagai manusia tidak begitu mudah bisa disudutkan dan dihancurkan. Bersyukurlah Hera memiliki hati dan mental yang besar.

Hera memasuki kamar puteranya. Kyuhyun masih di posisinya. Menangis terguguk. Melihat Hera dia segera beringsut dengan kedua lututnya. "Eomma,"

Hera menjatuhkan diri, meraih Kyuhyun dalam pelukannya. Lagi air matanya tidak bisa ditahan.

"Mianhe heks….. Mianhe, eomma mianhe. Kyunie tidak akan meminta uang lagi. Kyunie tidak perlu ujian. Aku akan berhenti sekolah. Mianhe, eomma. Mianhe." cicit Kyuhyun dalam tangisnya. Memeluk Hera dengan sangat kuat.

Hera mengusap wajahnya, menepis semua sendu yang ada. Dengan kedua tangannya dia menarik wajah Kyuhyun yang membenam di dadanya. Menangkup wajah yang lebam, berdarah dan basah itu, dia hampir menjatuhkan air matanya lagi. Sekuat tenaga menahan diri, mencoba tersenyum. "Tidak, Kyu. Kyunie tetap harus sekolah. Kyunie akan ikut ujian. Kau akan pergi sekolah seperti biasa. Lakukan apa yang eomma perintahkan. Eomma," Hera menepuk dadanya sendiri, "tidak akan menyerah. Jadi Kyunie juga tidak boleh menyerah. Kau pasti ikut ujian. Kau harus lulus dan melanjutkan sekolahmu ke tingkat yang lebih tinggi. Eomma berjanji, kau akan tetap bisa sekolah. Janji pada eomma, ne kau akan pergi sekolah!"

Kyuhyun menggeleng, menjatuhkan air matanya yang menggenang. "Tidak, eomma… tidak."

Hera memasang wajah keras. Mengusap wajah Kyuhyun. "Kau akan membuat eomma sedih jika tidak menurut pada eomma. Menurutlah pada eomma, sayang. Berjanji pada eomma, kau akan sekolah apapun yang terjadi. Janji?!" Hera sedikit menyentak bahu Kyuhyun, memintanya sedikit memaksa hingga Kyuhyun mengangguki permintaan Hera. Apapun caranya Hera sudah bertekad dalam hati untuk tetap menyekolahkan Kyuhyun. Peduli apa dengan Young Woon, jika lelaki itu tidak sudi membiayai Kyuhyun dia yang akan melakukannya. Dia bisa bekerja apapun agar Kyuhyun tetap sekolah. Dia juga memiliki banyak keterampilan yang bisa dia gunakan untuk mencari uang. Sebelum bersama Young Woon, sendiripun dia bisa membiayai Henry. Dia yakin dia akan mampu melakukanya.

0oo0

Young Woon keluar dengan membanting pintu. Langkahnya berhenti saat mendapati Henry memasuki pekarangan rumah. Dia segera berjalan mendekati putra tirinya sebelum Henry menyeberangi halaman. "Henry-ah."

"Appa!" sapa Henry sumringah. Young Woon mengukir senyum. "Kau bermain hingga sore."

Henry meringis. Menggaruk kepala. "Mianhe."

Young Woon mengusap kepala Henry.

Henry memperhatikan wajah Young Woon yang memerah. "Appa waeyo? Appa sakit?"

"Eh?" Young Woon bingung dengan pertanyaan Henry. Henry menunjuk wajah ayahnya. "Wajah appa merah. Appa demam?" Henry menyentuh lengan ayahnya, tidak terasa panas.

Young Woon tersenyum. Dia menggeleng dan balik menggandeng tangan Henry. " Appa baik-baik saja. Di dalam sangat panas tadi." elak Young Woon dengan pintar. "Bagaimana jika kita makan di luar?"

Mata Henry berbinar. "Pizza?!"

Young Woon mengangguk cepat. "Ne! Kita akan ke resoran pizza, kau boleh makan sepuasnya!"

"Oke!" seru Henry senang. Dia hendak berlari ke dalam rumah, tapi Young Woon kembali menahannya. "Kita pergi sekarang, sayang"

Kening Henry berkerut. Matanya melihat sekitar, seolah mencari sesuatu. "Kyu hyung dan eomma?"

"Mereka tidak bisa ikut. Eomma sedang sibuk, jadi hanya kita berdua. Kita pergi bersama lain kali saja. Untuk sekarang hanya appa dan Henry." Young Woon memutar bahu Henry dan menggiringnya meninggalkan rumah. Henry terkekeh kecil atas dorongan itu, tidak ada suara protes atau tanya lagi yang keluar dari mulutnya. Young Woon berhasil membuatnya mengabaikan kedua orang di dalam rumah. Dengan sengaja dia membawa Henry pergi agar anak itu tidak melihat eomma dan hyungnya sedang dalam keadaan tidak baik. Hera pasti masih menangis di dalam. Dia tidak ingin Henry melihatnya dan menanyakan banyak hal, yang pasti akan sulit menjelaskannya kepada Henry.

0o0o0o0o0o00

Kyuhyun menatap sepatunya yang sudah tidak layak pakai sebenarnya. Sol sudah tipis dan ujung berlubang. Belum lagi kakinya yang harus menahan sakit karena sepatu tersebut terlalu kecil untuknya. Jika diingat sudah dari kelas 4 dia tidak mengganti sepatu. Dia ingin mengeluh, tapi takut akan lebih menyusahkan sang ibu. Sejak dia tahu bahwa ibunya membuat kue dan menjualnya adalah untuk membiayai dirinya, karena rupanya ayahnya tidak memberikan uang untuk kebutuhannya, dia mencoba lebih keras untuk menahan diri. Dia tidak mengeluh dan menerima apapun yang dia dapat. Seragam yang warnanya sudah pudar, tas sekolah yang dijahit berkali-kali, ikat pinggang yang hampir putus, dan sepatu yang… ahh.

Kyuhyun menarik nafas panjang. Segera dia mengenakan sepatu yang untuk beberapa saat dipandanginya. Henry muncul di belakangnya, untuk melakukan apa yang dia lakukan juga.

"Hyung, hari ini kita tidak bisa berboncengan. Aku ada janji dengan teman." kata Henry setelah duduk di sebelah Kyuhyun. Menggunakan sepatu yang terlihat jauh lebih layak dari yang dikenakan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum ringan. "Tidak apa. Hyung bisa berangkat dengan Changmin."

"Apa Changmin hyung sudah kembali?"

Kyuhyun baru ingat kalau Changmin berada di rumah neneknya yang sakit. Dia meringis menyadari lupanya. "Aku bisa berangkat jalan kaki. Jangan khawatir."

Henry mengangguk mengerti. Matanya menyusuri wajah Kyuhyun. Tepatnya pada beberapa bekas luka yang masih terlihat. Dia masih ingat bagaimana malam itu dia pulang dan mendapati Kyuhyun meringkuk di futon lantai, tempat sekarang biasa Kyuhyun tidur. Bukan bagaimana cara hyungnya tidur, melainkan wajah Kyuhyun yang penuh luka dan tubuhnya yang bergetar demam. Dia sempat bertanya, tapi Kyuhyun tidak mengatakan apapun. Keesokan hari dia menanyakan hal itu pada eommanya, namun eommanya juga tidak mengatakan apapun. Karena luka itu Kyuhyun harus absen tidak sekolah.

"Kyu hyung benar sudah tidak apa?"

Kyuhyun tersenyum senang. Dia mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Henry. "Heum. Gweanchana. Pergilah. Mungkin temanmu sudah menunggu di jalan."

Henry mengangguk. Memastikan sekali lagi pada tali sepatunya. Lalu segera berangkat mengendarai sepedanya. Kyuhyun? Dia berjalan kemudian. Pikirnya itu lebih baik. Young Woon memberikan peringatan tegas padanya untuk tidak menyentuh apalagi menggunakan sepeda Henry. Kyuhyun cukup mengerti untuk tidak membantah sang ayah. Hanya saja terkadang eommanya akan memaksa agar dia berangkat bersama Henry diwaktu-waktu tertentu, jadi sesekali Kyuhyun menurut juga.

Kyuhyun berhenti berjalan. Kakinya terasa perih karena sepatu yang kecil. Maka dia melepas sepatunya agar kakinya tidak lebih lecet. Dengan menenteng sepatu Kyuhyun kembali berjalan menyusuri jalan menuju sekolah. Sepanjang jalan dia melihat murid-murid lain yang juga berangkat sekolah sepertinya. Tentu saja bukan berjalan. Mereka banyak yang menggunakan sepeda ataupun diantar orang tua.

'Ayo, Kyuhyun jangan berkecil hati! Kau harus bersemangat!' sorak hati kecilnya setiap kali perasaan minder dan iri itu mencoba mendominasi. Dia tahu bahwa masih banyak yang bisa disyukurinya. Terutama adalah memiliki Hera dalam hidupnya. Eomma terhebat yang dia miliki. Demi wanita itu dia tidak akan menyerah dan berhenti sekolah. Ibunya sudah melakukan semua yang dia bisa, maka tugasnya adalah sekolah dengan benar. Cukup itu.

Kyuhyun bukan anak minderan di sekolah. Tidak peduli dengan baju lusuh yang dipakai, atau sepatu bolong yang selalu menyiksa kakinya. Kyuhyun anak cerdas. Semua temannya tahu itu. Dan beruntunglah dia berada di sekolah yang status bukan patokan utama. Guru maupun murid tidak pernah memandang rendah Kyuhyun. Sebaliknya banyak teman yang mendekatinya, juga para guru yang mengagumi prestasinya.

0o0o0o0o00o

Hera nampak sudah bersiap, menunggu Kyuhyun di bawah tangga. Hari ini dia akan ke sekolah Kyuhyun untuk acara kelulusan. Dia nampak sangat senang. Tentu saja, Kyuhyunnya akan menerima penghargaan sebagai lulusan terbaik dengan nilai yang sempurna. Sangat menakjubkan. Rasanya semua jerih payah Hera terbayarkan dengan melihat semua nilai Kyuhyun. Dan yang lebih membuatnya lega adalah, Kyuhyun akan bisa melanjutkan sekolahnya.

'Kyuhyun anak yang cerdas, nyonya Kim. Beberapa sekolah mengirim surat pinangan untuknya. Aku sudah membicarakan ini dengan putra anda. Dia sudah memilih satu sekolah dan di sana dia akan mendapatkan beasiswa atas prestasinya. Cukup jauh, tapi itu yang paling dekat dari rumah kalian.'

Sungguh beruntungnya Kyuhyun, pikir Hera. Tuhan sangat mengasihinya. Young Woon tidak sudi membiayainya, tapi Tuhan mengulurkan tangan kepadanya. Sekarang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Karena Kyuhyun sudah pasti akan melanjutkan sekolah.

"Eomma, aku sudah siap."

Hera menatap Kyuhyun yang baru menuruni tangga dan berhenti di hadapannya. Kyuhyun sangat tampan menurutnya. Mengenakan pakaian yang dibelikannya khusus untuk hari ini. Bukan pakaian mahal, tapi ini jauh lebih baik dari pakaiannya yang sudah yeah… kekecilan ataupun lusuh.

"Eomma." panggil Kyuhyun melihat ibunya diam melamun. "Kapan kita berangkat?"

Hera terkekeh kecil. "Arra. Kita berangkat sekarang."

"Hanya berdua?" tanya Kyuhyun cukup lirih. Dia tahu Young Woon tidak akan sudi ke sekolah untuk dirinya. Dia juga tahu hari ini, bertepatan dengan kelulusannya, Young Woon sengaja membawa Henry ke Lotte World. Mereka berencana dan pergi tanpa mengajak atau menawarinya, seperti biasa. Dia hanya tak mampu berhenti berharap untuk dilibatkan dalam sesuatu yang seperti itu. Setidaknya Young Woon akan sudi untuk datang ke sekolah, melihatnya menerima sertfikat penghargaan. Tapi rupanya harapannya tidak terkabul, pagi-pagi tadi kedua anggota rumah ini sudah pergi untuk bersenang-senang.

"Maaf, sayang. Sepertinya Henry tidak sabar untuk pergi. Tidak apa, kita bisa menyusul mereka nanti." hibur Hera.

Kyuhyun menggeleng tidak setuju dengan rencana ibunya. Dia tidak ingin membuat mood ayahnya berubah buruk dengan kemunculannya. Terlebih lagi dia tahu jika ada Henry kedua orang tuanya akan berusaha menahan diri untuk tidak bertengkar. Young Woon tidak akan bisa bertahan dan memilih untuk pergi menghindar. Itu artinya akan merusak kebersaman mereka. Dia sudah cukup tertekan membuat kedua orang tuanya berada dalam hubungan yang sulit. "Aku hanya ingin memakan kue buatan eomma hari ini. Eomma sudah berjanji. Ini masih Februari, ingat?"

"Ah!" ingat Hera akan janji itu. Ulang tahun Kyuhyun yang lewat beberapa hari. Hera menyesal karena tidak bisa merayakannya meski begitu dia tidak pernah lupa dengan kado. Hera berjanji kue ulang tahun akan menyusul di hari kelulusannya. "Baiklah. Eomma akan buatkan kue terenak untuk Kyunie. Sekarang kita berangkat?"

Kyuhyun meraih tangan Hera dan berdua mereka keluar.

Hera sebenarnya tidak lega dengan sikap suaminya. Setidaknya untuk sekali saja, di hari ini Young Woon berusaha untuk berbangga akan prestasi yang sudah diraih Kyuhyun. Namun apalah nasib, hati Young Woon sangat sulit untuk dijangkau. Sebagai gantinya, Hera ingin mencurahkan semua kasih sayangnya untuk Kyuhyun. Membuat anak itu mendapatkan apa yang harusnya dia dapat juga di rumah ini. Haknya sebagai seorang anak. Kesalahan apa yang dia bawa hingga dia pantas diperlakukan seperti ini? Cinta tidak memandang sebuah kesalahan bukan? Jika Young Woon bisa mengagungkan cintanya kepada mendiang istri, kenapa harus ada kebencian kepada darah daging wanita itu? Anak yang tidak berdosa, tidak memahami sesuatu sebelum dirinya, tidak pantas untuk di perlakukan seperti ini. Tidak, Hera tidak bisa menerima semua perlakuan Young Woon yang seperti ini.

Terlebih lagi, tanpa sengaja dia berhutang keselamatan Henry kepadanya.

'Kyuhyun, sayangku. Kau akan tetap seperti ini, kan? Kau akan kuat, seperti karang kokoh yang di terpa ombak berkali-kali. Tetap berdiri dengan gagah. Jangan pernah merasa kau akan jatuh dan hancur. Tidak peduli aku hanya ibu sambungmu, tapi yakinlah 'eomma' ini akan selalu menjadi eommamu.'

SELESAI

Monday, May 23, 2016

10:07 AM

Edit:

Sunday, October 16, 2016

2:37 PM

Bonusnya udah kelar sampai disini saja ya.

Sima Yu'I

(SY'I)