Dark Love
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Original story by Crystal94
If there are similarities story, was just a coincidence
.
.
.
-Dark Love 7-
Sasuke memandang datar seorang gadis yang kini sedang duduk di hadapannya. Beberapa pengunjung caffe bahkan memandang heran seorang gadis yang saat ini sedang tertawa. Mengabaikan dirinya yang sedang menjadi pusat perhatian. Gadis itu tertawa sambil melemparkan pandangan mengejek kepada laki-laki di hadapannya.
"Bisa kau hentikan itu Hinata?" Sasuke menggeram saat melihat gadis itu tak juga menghentikan tawanya.
Hinata menggigit bibir bawahnya guna menahan tawanya. Gadis itu menghembuskan nafasnya perlahan dan melemparkan senyuman manisnya kepada Sasuke.
"Oh ayolah Sasuke, katakan sekali lagi, aku ingin mendengarnya."
Sasuke mendengus sebal sambil membuang pandangannya ke luar jendela. Pikirannya melayang pada kejadian beberapa jam yang lalu, dimana dirinya menerobos masuk pertemuan meeting yang sedang Hinata lakukan dengan para relasi bisnisnya.
Tentu saja bukan hal itu yang membuat gadis dihadapannya ini terus mentertawakannya. Mengingat betapa kejamnya tatapan yang dilemparkan Hinata saat melihat dirinya mengganggu jam kerja gadis itu. Sasuke mengeraskan rahangnya saat mengingat Hinata tertawa terbahak beberapa saat kemudian setelah laki-laki itu menyatakan perasaannya kepada gadis itu.
"Aku mencintaimu."
"Sasuke kau.."
Hinata membulatkan matanya saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut laki-laki itu. Gadis itu menatap geli wajah Sasuke yang sedang memasang tampang frustasinya. Sesaat kemudian, Sasuke mendengar tawa gadis itu meledak. Cukup terkejut, laki-laki itu mengerutkan keningnya sekaligus kagum karena untuk pertama kalinya dirinya bisa melihat gadis itu tersenyum.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?"
"Kau bilang apa tadi? Cinta? Ya Tuhan kau benar-benar mengatakannya?"
"Kau pikir aku bercanda, Hinata?!"
Hinata menghembuskan nafasnya perlahan dan memandang lembut kedalam mata onyx laki-laki itu.
"Tidak. Bukan itu maksudku. Kupikir laki-laki sepertimu sangat anti dengan kata-kata seperti itu."
Sasuke mendengus kasar dan membuang pandangannya kelain arah. Hinata tertawa geli melihat wajah merah laki-laki itu. Sesaat kemudian, Hinata menarik Sasuke kedalam pelukannya. Sasuke yang mendapat pelukan tiba-tiba dari gadis itu tak menyia-nyiakan kesempatan. Laki-laki itu melingkarkan lengannya disekitar pinggang Hinata dan menyembunyikan wajahnya dilekukan leher gadis itu.
"Maaf, aku hanya bercanda." Hinata tersenyum dan mengelus pelan punggung laki-laki itu.
"Hn."
.
.
"Hei, kau marah?" Hinata menggenggam telapak tangan Sasuke yang sedang duduk dihadapannya.
Sasuke menoleh dan memandang wajah gadis yang sedang melemparkan senyuman manis kearahnya. Sasuke membalas genggaman tangan Hinata dan mencium punggung tangan gadis itu.
"Tidak. Maka dari itu, berhenti menertawaiku." Hinata terkekeh melihat tampang merajuk yang ditunjukkan laki-laki itu.
"Iya baiklah, maafkan aku."
"Hn."
"Kalau begitu, habiskan makananmu." Sasuke melirik beberapa makanan yang tadi dipesankan oleh gadis itu. Hinata mengangkat kedua alisnya saat melihat Sasuke hanya diam tanpa berniat menyentuh makanannya.
"Ada apa Sasuke?"
"Well, sepertinya memakanmu lebih cepat kenyang."
"Sasuke!" laki-laki itu terkekeh saat melihat tampang kesal Hinata.
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu di caffe. Sasuke segera mengajak Hinata ke Penthouse pribadinya. Laki-laki itu cukup lega karena bisa menyelesaikan pertengkaran mereka beberapa waktu lalu. Bersyukur Hinata mau memaafkannya, dan satu hal lagi yang membuatnya lebih lega. Sasuke berhasil mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu. Sehingga Hinata tak lagi salah paham akan status hubungan mereka.
Entah mimpi buruk apa yang menimpanya. Sasuke berhasil melontarkan kata-kata yang anti bagi dirinya, bagi seorang Uchiha. Cinta, jujur saja Sasuke bukan seorang laki-laki romantis yang bisa menyenangkan hati gadisnya. Namun, di depan Hinata, laki-laki itu berani membuang harga dirinya demi mendapatkan hati gadis itu.
Yah Hinata memang berbeda dari gadis lainnya. Sebut ia beruntung, karena berhasil membuat seorang Uchiha Sasuke jatuh kepelukannya. Membiarkan laki-laki itu memasuki hidupnya dan mengisi kembali hatinya yang telah lama ia kunci. Namun, Hinata lupa satu hal. Sasuke tetaplah seorang Uchiha, seseorang yang dominan dengan sifat posesif dan kepemilikannya. Gadis itu harus siap menerima rasa sakit yang suatu saat bisa saja terjadi dan melukai hatinya, kembali.
-Dark Love 7-
Gaara mengepalkan kedua tangannya dan memandang tajam kearah dua orang yang baru saja keluar dari Caffe. Laki-laki itu mendengus kesal saat melihat sang pria menggenggam erat tangan sang gadis dan menuntun gadis itu untuk masuk kedalam mobil Camero hitamnya. Hatinya bergemuruh kesal saat melihat gadis itu menunjukkan tatapan penuh cintanya kepada pria itu.
'Sialan kau Hinata!' jeritnya dalam hati. Gaara menghembuskan nafasnya perlahan guna menetralisir amarah yang berkecamuk didalam hatinya. Laki-laki itu menyeringai sesaat setelah melihat mobil hitam itu melesat meninggalkan caffe.
"Hinata..jangan kira aku akan melepaskanmu begitu saja."
Gaara segera melangkahkan kakinya menuju kursi tunggu yang disediakan untuk para pengunjung butik. Laki-laki itu melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya. Pukul 16.20, itu artinya sudah hampir 30 menit laki-laki itu berada di butik ini dan menunggu sang istri untuk berbelanja.
Beberapa saat kemudian, wanita berambut pink baru saja keluar dari ruang ganti pakaian. Wanita itu mengerutkan keningnya saat melihat Gaara duduk bersandar sambil menutup kedua matanya dengan lengannya. Wanita berambut pink itu segera memberikan baju yang baru saja dicobanya untuk diberikan kepada kasir.
"Aku ambil gaun yang ini."
"Baik."
Setelahnya, wanita itu segera melangkah mendekati sang suami. Dengan perlahan lengan wanita itu menyentuh pipi Gaara dan mengelusnya dengan pelan. Gaara segera membuka matanya dan memperbaiki posisi duduknya untuk berhadapan dengan sang istri.
"Kau sudah selesai?"
"Hm. Ada apa denganmu, Gaara?"
Laki-laki itu tak segera menjawab dan hanya diam memandang manik hijau sang istri. Gaara tersenyum tipis sata melihat sang istri semakin mengerutkan keningnya dan memasang tampang cemberutnya.
"Tidak ada apa-apa, Sakura."
"Kau menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Tidak."
"Kau berbohong."
Gaara mendengus pelan saat melihat wanita itu merajuk dan tak lagi memandang ke arahnya. Dengan perlahan, Gaara menarik Sakura dan mencium kening wanita itu.
"Kau tau aku tak pernah bisa berbohong pada istriku sendiri kan?" Bisiknya di telinga Sakura dan membawa wanita itu kedalam pelukannya. Gaara menyeringai saat merasakan anggukan kepala wanita itu di dadanya. Matanya menerawang mengingat kejadian beberapa saat lalu. Saat dirinya melihat Hinata, gadis pujaannya sedang bersama laki-laki lain.
Gaara mengecup pelan puncak kepala Sakura saat merasakan pelukan erat yang diberikan wanita itu. Manik hijau gadis itu terbuka dan kembali terpejam untuk meresapi kembali aroma tubuh sang suami. Meresapi sikap pura-pura yang diberikan laki-laki itu padanya. Karena, sebenarnya Sakura tau, laki-laki itu tak pernah mencintainya. Begitupun dengan dirinya, hatinya tak pernah ia berikan untuk suaminya, kecuali untuk laki-laki bermata kelam di masa lalunya. Pernikahan mereka ada karena kesalahan.
'Kau memang pandai berbohong, Gaara.' Ucap wanita itu dalam hati.
-Dark Love 7-
Sasuke menatap pantulan dirinya dan pantulan Hinata yang membelakangi cermin wastafel yang saat ini sedang sibuk mencukur bulu-bulu halus di bagian dagunya. Pandangannya tak beralih sedikit pun dari wajah gadis indigo itu. Sesekali Sasuke menggoda Hinata dengan terus menciumi pipinya sehingga wajah gadis itu dipenuhi dengan cream putih khusus mencukur. Sasuke menyeringai jahil saat melihat manik amethyst Hinata menatap galak kearahnya.
"Bisa kau berhenti Sasuke? Kau membuat wajahku ikut terkena cream." Sasuke terkekeh dan mendekatkan mulutnya ke telinga gadis itu.
"Memangnya kenapa babe?" Bisiknya sambil sesekali meniup telinga gadis itu.
Hinata mendengus kesal dan segera mendorong tubuh laki-laki itu. Dengan segera gadis itu memutar tubuhnya dan mencuci wajahnya dengan air. Dengan posisi membelakangi Sasuke, tentu saja gadis itu lupa akan adanya seorang predator yang sedang menatap lekukan tubuhnya dengan mata penuh gairah.
Sesaat kemudian Hinata merasakan sebuah lengan melingkari pinggangnya. Gadis itu menatap Sasuke dari cermin wastafel dihadapannya. Hinata mendengus sebal saat melihat laki-laki itu menyingkirkan rambut panjangnya sehingga memperlihatkan leher putihnya. Tanpa permisi, Sasuke segera menciumi tengkuk dan leher gadis itu sehingga beberapa cream menempel di leher gadis itu.
Hinata menggigit bibir bawahnya dan menghela nafas pelan. Dengan perlahan Hinata mendorong tubuh Sasuke dan melepaskan lilitan lengan laki-laki itu di pinggangnya.
"Sasuke hentikan."
Sasuke mendengus saat melihat Hinata melepaskan pelukannya dan menatap kearahnya dengan tampang kesal gadis itu.
"Cepat bersihkan wajahmu. Aku akan menyiapkan makan malam." Ucap gadis itu sambil pergi meninggalkannya setelah selesai membersihkan lehernya dari cream akibat perbuatan laki-laki itu.
.
.
"Kau tak menginap?" Ucap Sasuke saat melihat Hinata sedang bersiap-siap dan memakai blazer hitamnya.
"Apa kau bilang?" Hinata memandang sengit kearah laki-laki itu.
"Kau menginap saja malam ini Hinata."
"Jangan harap."
"Kenapa?"
Hinata memutar bola matanya dan menghela nafas pelan saat melihat pandangan memohon yang ditunjukkan laki-laki itu.
"Aku tak yakin akan selamat kalau menginap ditempat predator sepertimu. Lagi pula jangan karena aku sudah memaafkanmu, kau bisa meminta macam-macam padaku."
Sasuke mendengus sebal dan mulai menyalakan pemantik api untuk putung rokoknya.
"Memangnya kenapa? Kita kan sepasang kekasih."
"Maka dari itu. kau tak boleh berbuat macam-macam."
"Kalau begitu aku akan segera menghalalkan hubungan kita agar aku bisa berbuat macam-macam denganmu."
"Sasuke!" laki-laki itu mengangkat bahunya dan menghembuskan asap rokoknya saat melihat tatapan kesal gadis itu.
"Okay okay kau tak perlu marah seperti itu sayang." Ucapnya sambil berjalan menyusul Hinata yang sudah berjalan menuju pintu keluar Penthousenya.
Selama diperjalanan menuju Aparmentmennya, Hinata tak bisa berhenti dibuat kesal dengan tingkah laki-laki itu yang terus menggodanya. Bahkan sesekali gadis itu harus memijat keningnya saat dengan sengajanya Sasuke memperlambat laju mobilnya. Laki-laki itu bahkan terus mencari alasan agar bisa berlama-lama dengan Hinata seperti mampir ke minimarket dengan alasan membeli rokok.
Hinata hanya bisa pasrah dan diam tak menolak semua tingkah jahil laki-laki itu. Dimatanya, saat ini Sasuke terlihat seperti anak kecil yang takut ditinggal dengan ibunya. Bahkah Hinata harus berebut setir mobil saat melihat Sasuke beberapa kali dengan sengaja memutar arah untuk kembali ke Penthousenya, laki-laki itu tak mengizinkan dirinya pergi. Waktunya dijalan dihabiskan dengan perdebatan kecil diantara mereka.
Saat mereka sudah sampai didepan gedung Apartemen gadis itu. Hinata mengerutkan keningnya saat ingin membuka pintu mobil yang masih dalam keadaan terkunci. Gadis itu menoleh untuk menatap wajah Sasuke yang saat ini sedang menatapnya dengan pandangan tak relanya.
"Oh ayolah sayang. Sampai kapan kau mau mengunci pintunya?"
"Hn."
Hinata menghela nafas pelan saat melihat Sasuke hanya diam tanpa berniat menuruti keinginan gadis itu.
"Sasuke?"
"Kiss." Hinata mengerutkan saat mendengar ucapan Sasuke dan melihat laki-laki sudah mendekatkan wajah kearahnya.
"Apa?"
"Aku tidak akan membukanya kalau kau belum memberi ciuman selamat malam untukku."
"Ya Tuhan Sasuke! Berhenti bertingkah."
"Aku serius Hinata."
Hinata menggelengkan kepalanya saat melihat sikap tak mau kalah laki-laki itu. Apalagi kalau sedang ada maunya, laki-laki itu seakan tak perduli dengan keadaan sekitarnya. Dengan perlahan Hinata mendekatkan wajahnya dan menempalkan bibirnya di bibir laki-laki itu. Hanya kecupan singkat sebenarnya, namun Hinata terbelalak saat tiba-tiba merasakan bibirnya dilumat dengan cepat oleh laki-laki itu.
Dengan perlahan Hinata mendorong pelan dada Sasuke dan menghirup udara sebanyak-banyak saat merasakan pasokan udara didadanya menipis. Hinata menatap kesal wajah Sasuke yang saat ini sedang menunjukkan tampang kemenangannya.
"Cepat buka pintunya Sasuke."
"Hn."
Sasuke segera menyusul Hinata setelah keluar dari mobil. Laki-laki itu berjalan kesisi Hinata dan segera melingkarkan sebelah tangannya dipinggang gadis itu. Hinata tersenyum tipis saat lagi-lagi mendapati sikap posesif pemuda itu. Dengan segera Hinata mengecup singkat pipi Sasuke dan melepaskan lingkaran lengannya dari pinggangnya.
"Sebaiknya kau segera pulang, ini sudah larut malam."
"Aku akan menunggumu sampai kau masuk kedalam Apartemenmu."
Hinata menghela nafas pelan dan memandang lembut manik onyx laki-laki itu.
"Baiklah. Kalau begitu hati-hati dijalan dan Terima kasih sudah mengantarku."
"Hn."
Sasuke menatap punggung Hinata yang sudah berjalan memasuki gedung Apartemennya. Laki-laki itu masih diam tak bergeming sampai punggung gadis itu menghilang dari pandangannya. Sasuke menyeringai dan segera memasuki mobilnya saat mengingat banyaknya waktu yang dihabiskan gadis itu dengannya seharian ini. Well, Hinata memang selalu berhasil membuat dirinya terus memuja dan menggilai gadis itu.
.
.
.
Tbc.
.
Hai akhirnya chapter 7 up juga hohoh.
Aku ingin berterima kasih kepada kalian yang sudah setia membaca, mereview dan bahkan menunggu ff ini. Aku mohon maaf karena telat up. Karena kemaren aku sempet stuck di chapter ini. Tapi sekarang udah enggak lagi hehe.
Aku mau minta maaf juga karena gabisa bales review kalian satu-satu. Tapi akan aku usahakan untuk balas review kalian ya. Aku tunggu reviewan kalian selanjutnya please #maksa. Oiya aku mau mengucapkan selamat buat temen aku yang baru aja mempublish ff pertamanya #ColekMomokaze dan untuk temenku yang satunya lagi, semangat ngetik ffnya juga ya king #colekOnnaMiku wkwk kalian boleh tengok akun&ceritanya^^
Baiklah, Ff ini aku dedikasikan untuk para reader yang masih mau dan setia baca Dark Love hehe;) okay segitu aja cuap-cuapnya, see you next chapter! Bye!
.
.
crystal94
