Henry bangun hari itu. Dan masih tidak percaya dia berada di tempat yang berbeda dengan rumah Kim Young Woon. Rasanya bagaimanapun dia berusaha, dia tetap tidak percaya dia akan menjadi Henry yang dulu. Henry yang tidak memiliki seorang ayah.

Pemuda itu masih betah berbaring bermalasan di futon. Ibunya sudah bangun dan memasak, dia bisa mencium aroma masakan. Namun itu tetap tidak bisa menggugah dirinya dari sikap bermalasan ini. Henry masih merenungi nasib.

Dia bertahan seperti itu hingga sang ibu memanggil. Membangunkannya untuk segera bangun dan sarapan. Setelah itu seperti biasa Hera akan melanjutkan kegiatannya membuat kue pesanan dan mengantarnya sendiri.

"Ayo bangun, Henry-ah. Walau masih liburan, jangan bermalasan begitu. Keluarlah dan lakukan hal menyenangkan." suara Hera berada tepat didepan pintu kamar. Henry masih diam menatap atap. "Ibu akan keluar sampai siang, kau tidak apa?"

Henry melirik pintu dari ekor matanya. "Hem."

"Baiklah. Jangan lupa isi perutmu."

Langkah Hera yang menjauh terdengar di telinga Henry. Hingga beberapa waktu terdengar pintu depan ditutup. Hera sudah pergi. Henry menarik tubuhnya bangun. Termenung beberapa saat. Dia menoleh ke jendela, menerawang.

0o0o0o00o0

Changmin datang saat Kyuhyun memakan sarapan rumah sakit dengan Leeteuk menemani. Kyuhyun tersenyum senang menyambut Changmin. Leeteuk tidak heran. Sejak Changmin datang waktu itu, Kyuhyun sudah mulai bersikap biasa. Meski tidak sepenuhnya dan dia tahu butuh waktu untuk itu.

"Aku bawakan banyak makanan, Kyunie." kata Changmin meletakkan dua kantung plastik di meja. Kyuhyun segera menyingkirkan makanan rumah sakit yang sejak tadi hanya berkurang sedikit.

"Aigo, begitu melihat makanan dari luar kau menyingkirkan semua itu? Ck, kau ini." gerutu Leeteuk. Matanya menatap Changmin penuh teguran. Namun Changmin masa bodoh dan mulai membuka bawaannya.

"Ini dia kesukaanmu." Changmin menyerahkan sebuah wadah makanan di meja makan Kyuhyun. Uap mengepul saat dia membuka penutupnya. Mata Kyuhyun berbinar. ***********. "Tenang saja saem, ini makanan dari rumahku. Aku senagja minta ahjuma memasak untuk Kyuhyun."

"Gomawo, Cwang!" ucap Kyuhyun yang mulai makan dengan lahap.

Leeteuk tidak berucap lagi. Dia hanya memperhatikan bagaimana Kyuhyun memakan makanan yang dibawa Changmin dengan sangat lahap. Pipi-pipi yang tirus itu menggembung penuh makanan. Dalam hati Leeteuk merasa lega. Dia juga tidak lupa memperhatikan Changmin yang bicara dengan Kyuhyun dan sesekali ikut mencomot makanan tersebut. Keduanya asyik dan mengabaikan dirinya.

"Aku akan menemui Tan uisa." Leeteuk bangun dari duduknya. "Changmin,"

"Aku ada disini. Kemarin pertandinganku yang terakhir." sahut Changmin seolah tahu apa yang akan dikatakan Leeteuk.

Leeteuk tersenyum kemudian dengan yakin pergi keluar.

Kyuhyun melirik pintu kamar inapnya, memastikan Leeteuk sudah pergi. Setelah yakin dia menghela nafas lega. "Dia selalu memaksaku memakan makanan yang tidak berperikepasienan itu. Menyebalkan!"

Changmin terkekeh. "Bahasamu aneh sekali. Jika makanan bisa bersuara mereka akan menangis dan protes kepadamu." lirikan Changmin jatuh pada makanan yang teronggok di meja, sebelum kembali pada Kyuhyun dan nyengir lebar. Kyuhyun manyun dengan kedua alis bertaut.

"Terserahlah." gumam Kyuhyun. Memilih fokus pada makanannya dan mengabaikan Changmin yang membuka bungkusan lain yang berisi banyak jenis makanan ringan. Changmin mengambil satu bungkus kue *******, lalu memakannya.

"Kupikir itu untukku." seru Kyuhyun tidak terima.

"Kau akan menghabiskan semuanya? Mana mungkin." cuek Changmin melahapnya doyan. "Kapan kau keluar, Kyunie?"

Kyuhyun mengangkat bahu tidak tahu.

Changmin memperhatikan ruang inap Kyuhyun. "Pasti mahal. VIP kelas satu." ada televisi layar datar yang terpasang kokoh di tembok kamar menghadap ranjang. Satu set sofa beludru, kulkas mini, lemari sedang, dan kamar mandi. Kamar mandinya juga bersih. Ada bath up, kloset duduk, air panas dan dingin juga tersedia. "Kau yakin ini gratis?" Changmin hanya masih tidak percaya.

"Kau lihat Leeteuk saem? Dia terlihat tenang dan damai, itu berarti ini benar."

Kyuhyun merasa sudah kenyang meski makanannya masih tersisa separuh. Changmin membantunya membereskan semua itu dan menyingkirkan kembali meja makan duduk. Kemudian memberikan Kyuhyun segelas air putuh.

"Maksudku, si Siwon Choi itu, meski ini bantuan, apa tidak berlebihan? Jika masuk dalam daftar sumbangan apa tidak melewati batas maksimal yang harus dikeluarkan?"

"Aku tidak ingin peduli dengan itu, Changmin-ah." Kyuhyun menatap lurus ke depan. Kemudian dia menoleh cepat pada Changmin. "Jika aku keluar aku boleh menginap di tempatmu?"

Changmin balas menatap Kyuhyun. Mereka saling pandang untuk beberapa waktu. Hingga Changmin bergerak, pindah duduk di tepi kasur Kyuhyun. "apa akhirnya kau memutuskan untuk bersedia tinggal bersamaku?" mata Changmin terlihat berharap.

"Tidak. Aku hanya ingin lebih dekat." ada nada ragu diakhir kalimat Kyuhyun. Changmin mengerti. Tangannya yang lebih lebar dari milik Kyuhyun menepuk lutut Kyuhyun.

"Nde, aku paham. Kau boleh tinggal selama apapun kau mau. Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu pada Leeteuk saem?"

"Aku akan berhenti. Dia sudah memecatku." Kyuhyun memajukan bibir mengingat kembali bagaimana Leeteuk mengatakan dengan tegas Kyuhyun tidak akan bekerja lagi padanya. Dia beralasan karena semua biaya rumah sakit dan operasi Kyuhyun sudah ada yang menanggung, Kyuhyun tidak perlu lagi memaksakan diri untuk mendapat banyak pekerjaan demi mengumpulkan uang.

0o0o0o0o0

Hera menatap ragu rumah yang beberapa hari ini dia tinggal. Ada rindu dan keinginan dalam sorot matanya. Namun sekali lagi diliputi keraguan.

'Ah, Hera kau datang saat dia tidak di rumah, kan. Hanya melihat kondisi rumah lalu pergi.' putus Hera melangkahkan kakinya.

Dia sudah memegangi kunci serep yang dia miliki sedari dulu. Memasukkannya ke lubang kunci. Pintu terbuka setelah dua kali putaran. Hera melangkah masuk dengan perlahan.

Meski dirinya memutuskan hal seperti itu, dia tidak bisa membohongi diri sepenuhnya. Dia mencintai lelaki itu dan terus mengkhawatirkannya seperti ini. Dia selalu sulit tidur dan bertanya apakah Young Woon bisa mengurus dirinya selama dia pergi? Ataukah Young Woon makan dengan baik atau tidur nyenyak?

Semuanya hanya tentang Young Woon. Hanya lelaki itu yang terus mengusik setiap malam dirinya diatas futon apartemen sewa.

Baru juga Hera membuka pintu agar dirinya bisa masuk, namun justru dirinya tertegun dengan keadaan didalam.

Satu hal yang bisa dia sebut dengan kondisi yang dia lihat. Kapal pecah.

'Dia tidak bisa mengurus diri sendiri. Kenapa aku begitu peduli?'

Hera memutuskan masuk dan melakukan apa yang ingin dia lakukan.

0o0o0o0

Leeteuk sampai didepan rumah Kim Young Woon. Dia datang lagi, meski ragu bisa menemui Young Woon setidaknya pasti ada Hera dijam-jam seperti ini.

Leeteuk meninggalkan mobilnya di luar pagar, melangkah menuju pintu rumah. Dia mendengar suara-suara dari dalam. Senyum Leeteuk mengembang. Firasatnya bilang seseorang ada di rumah. Kali ini dia pasti tidak kembali dengan tangan hampa.

Mengetuk pintu dua kali, kemudian menunggu. Beberapa waktu berlalu tidak ada yang datang membukanya. Kembali Leeteuk mengetuk dan menunggu lagi.

Hera terkejut diantara kegiatannya membersihkan rumah. Kemoceng di tangan dia pegang dengan erat.

Siapa yang bertamu? Pikirnya. Dia datang sembunyi-sembunyi. Jika ada tamu apa dia harus membukanya? Jika nanti Young Woon tahu dia datang bagaimana?

Hera pikir akan mengabaikannya saja hingga si tamu mengira tidak orang dan pergi tapi rupanya si tamu bersikeras di depan sana.

Dengan was-was Hera meletakkan kemocengnya dan melangkah pelan ke pintu.

"Siapa?" tanya Hera belum membuka pintu.

"Hera-ssi, ini saya Park Jung Soo!"

"Park Jung Soo? Leeteuk songsaemnim?" Hera buru-buru memutar kunci kemudian menarik engsel pintu. Wajah Leeteuk terlihat dengan senyum lega.

"Saya pikir tidak akan ada orang lagi." gumam Leeteuk senang.

0o0o0o00o0

Henry mengaduk makanan yang disediakan Hera sebelum pergi tadi. Sudah jam 10 dan ibunya belum juga pulang. Henry merasa bosan tapi lebih malas lagi jika keluar rumah. Beberapa kali Minho dan Taemin menghubunginya. Menanyakan kabar dan mengajaknya untuk keluar main. Tapi Henry enggan. Henry merahasiakan keadaan keluarganya dari mereka jadi tidak bisa berbagi keluhan dan pikirannya.

"Pck. Eomma kemana saja belum kembali." keluh Henry pergi sebelum menghabiskan makanannya.

Henry keluar ke beranda depan apartemen yang langsung menghadap ke jalan utama didepan gedung ini. Dia hanya berdiri di sana melihat jalanan. Itu sebelum dirinykemudian dia melihat seseorang yang dia kenali. Yang lebih mengejutkan bahwa orang itu melambai kepadanya. Seolah memang datang untuk dirinya. Henry tetap mengawasi saat orang itu menaiki tangga hingga sampai di lantai dua, tempat apartemen Henry.

"Ada apa Zou Mi sunbaenim?" tanya Henry tanpa basa-basi.

Zou Mi tersenyum lebar. "Ah, kau tahu namaku rupanya."

Henry mendengus halus, tentu saja di ingat orang ini yang terlihat akrab dengan Kyuhyun. Henry berpaling melihat hal lain. "Kau kebetulan disini?"

"Tidak." Zou Mi merengsek ke pagar balkon, meletakkan kedua tangannya disana. "Kau sedang bersedih? Jadi aku datang."

"Apa urusannya denganmu?"

"Kau adik kesayangan Kyuhyun, jadi"

"Tidak ada urusan dengannya!" seru Henry kesal. Dia mencengkeram kuat besi pagar.

Zou Mi menoleh memperhatikannya kemudian berpaling ke depan lagi. "Dia banyak mengalah padamu. Lalu apa yang membuatmu kesal? Karena kau lebih banyak memenangkan porsi kasih ayahnya? Jadi kau merasa sombong? Kau tahu dirinya tidak disukai, tapi kau merasa baik-baik saja dengan itu. Kau adik yang seperti apa?"

"Kau tidak merasa mengatakan hal yang seharusnya tidak kau katakan? Kau orang luar, Zou Mi sunbae. Jadi diamlah dan komentar saja di dalam hati."

Henry akan pergi masuk kedalam apartemen namun lengannya di cekal Zou Mi.

"Berdamailah. Itu akan membuatmu lebih tahu apa yang benar dan baik untuk keluargamu."

Henry mencoba menarik lengannya namun Zou Mi sangat kuat memeganginya.

"Kyuhyun pasti sudah sangat menderita. Kau tidak merasa harus sedikit lunak kepadanya? Orang bilang hubungan baik tidak hanya berada dalam sebuah keluarga, tapi disanalah hubungan itu tidak pernah menjadi bekas." Zou Mi melepas pegangannya. Namun Henry tidak kunjung melangkah. Dia hanya memunggungi Zou Mi, diam. Hingga Zou Mi berlalu tanpa mengatakan apapun lagi.

0o0o0o0

"Kau bilang-a-apa?" Hera merasa Leeteuk harus mengulangnya berkali-kali. Dan berkali-kalipun pria dihadapannya mengatakan itu dia tidak mungkin percaya begitu saja.

Leeteuk tahu ini akan berat untuk didengar sebagai kenyataan. Tapi inilah yang harus dia katakan. Akhirnya dia mengatakan apa yang Kyuhyun sembunyikan dari keluarganya. "Hera-ssi, aku tidak harus mengulangnya lagi. Hal yang perlu anda lak,"

"Kau berbohong!" potong Hera yang masih tidak percaya dengan yang didengar. "Kyuhyun baik-baik saja. Dia sempat datang dan dia baik-baik saja. Pasti hanya demam."

Leeteuk menghela nafas pelan. "Itu artinya dia sangat pandai berpura-pura. Dia selalu melakukannya. Dengan begitu dia bisa mempertahankan beasiswa dan hidup dengan normal." dia berhenti sejenak memperhatikan Hera yang masih menatap dengan bingung tapi juga cemas. "Hera-ssi, kita tidak bisa menunda-nunda terus. Sampaikan pada tuan Kim untuk datang ke rumah sakit dan membicarakan ini dengan mereka. Kumohon. Kau akan membantuku menyelamatkan Kyuhyun, bukan?"

Air mata Hera menetes perlahan kemudian menjadi deras. Dia terisak, bahunya berguncang serta bibirnya yang memanggil nama Kyuhyun. "Tidak ada yang memberitahuku. Dia juga kau, tidak ada yang mengatakannya kepadaku. Kenapa? Dia pasti sangat menderita. Dia sakit dan sendirian. Kenapa? Kenapa memilih jalan yang seperti itu. Dia pasti sangat menderita." Hera menutupi wajahnya, tangisnya semakin kencang.

Leeteuk harus berpindah ke sampingnya dan menenangkan wanita tersebut. Sebagai seorang ibu pasti dia sangat terguncang dan merasa bersalah. Sebagai seorang ibu dia pasti merasa gagal dan tidak dipercayai. Leeteuk mencoba memahaminya. Leeteuk coba untuk menguatkannya. Bukan hanya karena dirinya ikut andil merahasiakan hal tersebut, namun lebih dari itu dia merasa dia harus tetap melakukannya.

Hera menurunkan tangannya. "Bagaimana ini, Leeteuk-ssi?" gumam Hera seolah kebingungan. Dia menatap Leeteuk seperti anak kecil meminta bantuan. "apa yang harus kukatakan pada ayahnya? Bagaimana aku menjelaskannya? Dan, dia, Young Woon dia sangat membenci Kyuhyun. Bagaimana jika dia tidak memberikan ijinnya?"

Leeteuk termenung. Bahkan Hera berfikir hingga ke sana. Dia yang sejak awal menyangkal pemikiran itu karena dia yakin tidak ada orang tua yang akan mempertahankan kemarahannya jika dihadapkan dalam situasi ini. "Jangan berfikiran buruk, Hera-ssi. Tuan Kim tidak akan setega itu. Aku akan membantumu bicara dengannya. Kapan tuan Kim akan pulang? Apa dia sedang bekerja?"

Hera menunduk meremas kedua tangannya. "Mungkin?"

"Mungkin?"

Hera beralih meremas kain roknya. "Ada masalah yang terjadi. Aku dan Young Woon tidak bersama sekarang."

"Apa?! Bagai," Leetek kehilangan kata-kata. Kenapa keluarga ini begitu rumit? Seorang anak yang dibuang ayahnya dan sekarang pasangan Kim ini berpisah? "Hera-ssi, sebenarnya bagaimana ini bisa terjadi? Aku datang meminta pertolongan tapi kalian bahkan dalam masalah sekarang?! Hera-ssi, aish."

Leeteuk mendengus lelah. Dia sudah melibatkan diri sejak awal jadi ini harus dia lakukan. Leeteuk mengeluarkan ponselnya, menghubungi Kim Young Woon. Namun tidak ada yang mengangkat. Hingga beberapa kali sampai Leeteuk hanya menggenggam ponselnya. "Kau benar-benar tidak tahu dia dimana?" tanyanya akhirnya.

Hera menggeleng. "Aku datang diam-daiam, tidak ada orang di rumah."

"Jadi kau yang keluar dari rumah?"

"Ini rumah suamiku." Hera berdiri. "Sekarangpun harus cepat pergi sebelum dia datang. Maaf Leeteuk-ssi, aku,"

"Tunggu!" Leeteuk ikut berdiri. "Bukannya kau harus menunggu tuan Kim pulang agar bisa bicara dengannya?"

"Tapi,"

"Jangan menghindar, kumohon. Serumit apapun masalah kalian kau harus mengutamakan Kyuhyun kali ini. Aku mohon Hera-ssi."

"Young Woon!"

Leeteuk menoleh ke pintu melihat Hera berseru seraya melihat kesana. Mereka terkejut mendapati orang yang mereka sebut sudah berdiri di ambang pintu yang terbuka. Kim Young Woon terlihat berantakan. Wajahnya kucel dan tidak sebersih dulu. Matanya merah dengan lingkaran hitam, belum lagi pakaian yang berantakan dan kusut. Seolah lelaki itu tidak membersihkan diri sejak kemarin dan kemarin. Atau memang begitu kenyataannya. Kim Young Woon bahkan belum pulang sejak kemarin.

"Hera, kau pulang?" gumamnya dengan mata yang tertuju pada Hera. Dia melangkah masuk dan langsung berhenti di depan Hera. "Hera." panggilnya tidak percaya.

Hera membuang muka. Tidak ingin menatap wajah Young Woon. Leeteuk yang memperhatikan mereka segera menengahi. Urusannya jauh lebih penting menurutnya.

"Tuan Kim, aku perlu bicara denganmu."

0o0o0o0o0

Heechul mendesah berat. Memperhatikan pegawainya yang sedang bekerja. Donghae absen. Eunhyuk bekerja lebih pendiam, begitu juga Ryewook. Pegawai bagian dapurpun tidak seceria biasanya. Apalagi dirinya sendiri, mudah emosi dan tidak tenang.

Kibum bekerja disana. Melayani seorang pelanggan wanita. Mencatat pesanan dan pergi kemudian. Kibum mengarah ke tempat kasir, untuk mengorder pesanan. Heechul meraih kertas pesanan yang disodorkan, memeriksanya sekilas dan mengordernya kembali ke bagian dapur lewat portal persegi di atas counter. Dia sendiri lekas membuat pesanan minuman.

"Kibum, tarik sudut bibirmu." katanya sambil sibuk menyiapkan minuman.

Kibum menatap Heechul datar. Membuat si bos mendesah putus asa. Dia mengangkat tangan dan mengibasnya seolah mengusir Kibum. Namun pemuda itu justru bertahan. "Wae?!"

Kibum menarik sudut bibirnya. Hanya sedikit. Kaku. Dan Kibum buru-buru meluruskan kembali bibirnya. Leeteuk dibuat bengong dengan hal itu. "Hey, kau bisa kalau mencobanya! Ayo! Lakukan lagi. Yang seperti tadi."

Kibum mendengus kali ini. "Aku akan melakukan dengan caraku."

Heechul tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia hanya memandag Kibum yang berlalu dari depan meja kasir.

"Ish, benar-benar." sungut Heechul yang tidak bisa mengakui Kibum memiliki daya tarik tersendiri. Keberadaannya bisa dibilang tidak merugikan. Pelanggan di café tidak ada satu pun yang protes dengan sikap datar Kibum dalam melayani. Justru sebaliknya mereka, kebanyakan pelanggan wanita, tertarik dan terpesona dengan Kibum. Heechul belajar dari itu dan menempatkan Kibum untuk pelanggan wanita dibanding pelanggan pria. Karena pesona Kibum tidak mempan kepada pelanggan pria.

Meski begitu dia ingin Kyuhyun kembali. Terkadang dia pribadi sangat merindukannya. Dia sering mengutuk Leeteuk dalam hati karena tidak bisa membantunya untuk mengetahui keberadaan Kyuhyun. Padahal terakhir kali Leeteuk yang bersama Kyuhyun.

"Si jomblo tua itu pasti menyembunyikannya di suatu tempat. Sialan!" umpat Heechul selirih mungkin. Yang lebih mengecewakan adalah Kyuhyun sendiri tidak memiliki inisiatif untuk memberinya kabar.

0o0o0o0o0o0

Leeteuk selesai mengemas pakaian Kyuhyun. Sedangkan pemuda itu sendiri hanya duduk menunggu. Dia sudah menanggalkan pakaian rumah sakit dan mengganti dengan pakaian sendiri. Changmin juga ada disana, meunggu semuanya siap.

"Kau yakin akan ke rumah Changmin?" entah sudah keberapa kali Leeteuk bertanya dan masih merasa harus menanyakannya lagi.

Kyuhyun mendesis kecil. "Leeteuk saem, sekali lagi kau bertanya aku tidak akan bicara dengamu lagi." ancam Kyuhyun yang menimbulkan kekehan Changmin dan rengutan Leeteuk. Namun kemudian Leeetuk tesenyum. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Kyuhyun.

"Kau sudah bisa berkata kasar kepadaku. Jadi aku anggap kau sudah baik-baik saja dan bisa kuserahkan kepada Changmin. Dia akan menjagamu. Dia pasti bisa mengambil alih tanggung jawabku." Leeteuk mengangguk sok tua. Dan kalimatnya bak orang tua yang menyerahkan anak perempuan mereka untuk dinikahi.

Kyuhyun mengusap bahunya sendiri. Bergidik dengan nada dan kalimat Leeteuk gunakan. Pintu kamarnya terbuka dari luar. Dokter Tan masuk bersama Siwon. Keduanya tersenyum menyapa orang-orang didalam.

"Sepertinya kau sudah tidak sabar?" dokter Tan lebih dulu bicara. Dia menghampiri Kyuhyun. Mengusap pundaknya dengan yakin. "Ingat jaga kesehatan terutama pikiranmu. Penting untukmu menjauhi hal-hal yang bisa membuatmu stress."

Kyuhyun mengangguk mendengarkan dokter Tan.

"Kuhyunie." Siwon langsung memeluk tubuh Kyuhyun. Masuk dalam rengkuhan kedua tangannya, Kyuhyun nampak terlihat kecil. Apalagi cara Siwon memeluknya seperti memluk anak 5 tahun. Changmin sampai meringis melihatnya.

"Jangan sakit lagi. Kau harus tetap sehat sampai jadwal operasimu keluar. Oke?"

Kyuhyun lagi-lagi hanya mengangguk.

Pada akhirnya mereka harus melepas Kyuhyun keluar. Changmin membawakan tasnya. Mereka pergi dengan diantar ketiga orang tersebut hingga di baseman. Kyuhyun akan tinggal bersama Changmin seperti yang diinginkan Kyuhyun. Leeteuk cukup keberatan memberi ijin. Tapi jika harus berfikir demi Kyuhyun, dia merelakan. Lebih penting menjaga kestabilan mental Kyuhyun. Menurutnya, Changmin mampu melakukan itu. Bersama sahabat adalah tempat terbaik menurutnya, meski keluarga menjadi yang paling baik dan dibutuhkan.

"Kau kehilangan putra kecilmu hyung? Ouh kasihannya."

"Diam kau, cina!" hardik Leeteuk menyusut sudut matanya yang berair. Siwon tertawa kecil melihat mereka.

"Bagaimana hasil pembicaraanmu dengan tuan Kim, Leeteuk-ssi?" tanya Siwon. Hankyung yang ingin mengetahui jawabannya juga menatap Leeteuk menunggu.

"Itu,"

'Jadi begitu. Dia membutuhkanku? Berikan aku waktu untuk brfikir.'

0o0o0o0o0o0

"Aku pulang!" Hera memasuki apartemen. Melepas sepatu dan masuk kedalam. Henry yang berbaring dilantai menoleh saat Hera meletakkan sesuatu diatas meja.

"Ada makanan. Ayo, kita makan dulu." Hera pergi ke dapur sederhana. Mengambil beberapa tempat dan sumpit untuk mereka makan.

Henry bangun dan memperhatikan ibunya. "Kenapa sampai malam? Kupikir eomma juga akan meninggalkanku." katanya.

Hera menoleh terkejut mendengar dugaan putranya. Dia tersenyum kecil. "Mana mungkin. Eomma ini eommamu." Hera melangkah meletakkan semua alat makan seraya duduk menghadap Henry yang sudah lebih dulu menghadapi meja makan mereka. Ibu dan anak itu duduk di lantai saling pandang.

"Kau juga menyayangi Kyu hyung seperti anak sendiri."

"Kau cemburu dengan hyungmu?"

Henry menurunkan sudut pandangnya. Melihat bagaimana ibunya mengeluarkan makanan yang dia bawa dan menempatkannya di wadah. Hampir seharian ini dia menghabiskan waktu dengan merenungi perkataan Zou Mi. Entah bagaimana sunbaenya itu tahu dia tinggal disini. Apa itu artinya orang itu juga tahu bagaimana kondisi keluarganya sekarang? Tapi seolah itu tidak penting, Henry justru terus berfikir tentang Kyuhyun.

"Menurut eomma apa Kyu hyung membenciku?" tanya Henry dengan suara lirih.

Hera menatap lembut putranya. Henry mungkin memang jauh dengan Kyuhyun. Tapi dia kenal seperti apa putranya. Henry tetaplah anaknya yang dulu. Anak manja dan selalu kekurangan kasih sayang. Seberapapun yang dia dapatkan selalu merasa kurang dan menginginkan semuanya. Tapi Hera juga tahu Henry anak yang takut dibenci orang lain. Apalagi oleh Kyuhyun. Dia sedikit pengecut, atau sangat, tapi Hera yakin dalam hati putranya Henry tahu perbuatannya tidak benar dilakukan.

"Menurutmu Kyuhyun akan membencimu?" Hera membalik pertanyaan.

Henry masih menunduk, kali ini menatap permukaan meja. "Seingatku dia selalu tersenyum. Kyu hyung selalu mengiyakan apapun yang aku mintakan kepadanya. Dia selalu membantuku mengerjakan PR. Dia tidak pernah tersinggung meski orang bilang kenapa dia menggunakan sepatu jelek dan aku menggunakan sepatu bagus setiap tahun. Kyu hyung, akan tersenyum jika aku bertanya kenapa dia tidak minta yang baru kepada appa. Dia," air mata Henry jatuh. Dia buru-buru mengusapnya namun air matanya terus muncul menutupi pandangan. Henry terisak. "Apa aku menjadi saudara yang sangat jahat? Aku adiknya jadi kupikir dia akan selalu mengalah untukku. Dia tersenyum karena itu kewajibannya. Dia seharusnya tidak seperti itu. Kenapa dia tidak jadi egois saja? Setidakya dia bisa mengatakan apa yang dia mau atau jika memang dia tidak suka. Dia selalu seperti itu, tidak peduli seberapa banyak yang sudah kuambil darinya. Dia yang membuatku seperti ini. Karena dia selalu memanjakanku. Karena dia yang membiarkanku berbuat egois. Dia sekalipun tidak menegur atau memarahiku. Dia tidak pernah memberi tahuku berbuat yang seharusnya. Dia bukan hyung yang baik karena itu dia tidak boleh membenciku. Dia tidak boleh membenciku."

Hera mengulurkan tangannya, mencari tangan Henry dan digenggamnya. Mengusap dan menepuk-nepuknya mencoba memberi ketenangan kepada putra yang sedang kebingungan itu. Dia bisa mengerti perasaan Henry. "Kau juga tidak bisa menyalahkan hyungmu, Henry. Tidak mudah memiliki saudara tiri. Terlebih menjadi seorang hyung untuk orang lain. Sebelumnya dia juga anak tunggal. Pasti seluruh kasih dan cinta orang tua hanya miliknya. Kemudian dia harus berbagi denganmu yang lebih muda. Kyuhyun pasti juga merasa kesulitan. Tapi karena dia anak yang baik dan menurut dengan orang tuanya dia akan tetap menjadi anak baik. Mungkin tidak untukmu, tapi untuk orang tuanya pasti dia akan melakukan itu. Namun seiring waktu hal yang dilakukan sebagai kebaktian menjadi sesuatu yang lebih berarti." Hera menggenggam tangan Henry dengan kedua tangannya. Putranya yang sesenggukan.

"Kalian sudah dewasa Henry-ah. Apapun yang sebelumnya terjalin diantara kalian, eomma yakin itu bukan sesuatu yang terbentuk secara instan. Kau dan Kyuhyun mengetahui lebih pasti dibanding kami yang hanya melihat. Kalian juga yang tahu bagaimana itu bisa menjadi lebih baik atau menjadi sangat buruk. Eomma hanya bisa berharap, tanpa ikut campur lebih banyak, kau akan lebih dewasa menyikapi semua hal yang terjadi."

Henry diam mendengarkan semua perkataan sang eomma. Usapan lembut dari tangan hangat itu sedikit banyak menyalurkan kelegaan. Eommanya benar. Dan selalu benar. Kyuhyun hyungnya sudah banyak melalui hal sulit. Kenapa dia harus menjadi keras dan tetap seperti itu karena rasa takut? Padahal dengan itu dia hanya menambah rasa sakit dan kesulitan yang hyungnya alami. Seharusnya mereka bisa saling menguatkan, bukan? Tidak, sebaliknya Henry selalu dikuatkan oleh Kyuhyun, namun dirinya membalas dengan hal yang menyakitkan.

Dirinya bukannya tidak sadar. Henry hanya merasa takut dan kebingungan. Hingga memutuskan diam dan menjadi pengecut. Adik yang egois dan menolak kesulitan. Menutup mata dari apa-apa yang dilalui Kyuhyun.

"Aku sangat mengerikan eomma." Henry terisak dengan keras. Tubuhnya berguncang menahan segala penyesalan yang kini bisa dia terima. Tidak ingin lagi menolaknya. Tidak ingin lagi merasa tidak berguna dan serakah. Meskipun itu masih tersisa, Henry berharap semua akan terkikis sejalan dengan waktu.

0o0o0o0o0

Kamar itu terlihat baik-baik saja dari luar tapi berantakan didalam. Kim Young Woon berada diantara semua benda yang berserakan itu. Duduk diam terlihat begitu suram.

'Berikan aku waktu untuk memikirkannya.'

'Putra anda, Kim Kyuhyun, membutuhkanmu untuk operasi. Kami tidak bisa melakukan operasi tanpa persetujuan darimu.'

'Young Woon-ah kau harus membantunya. Dia putramu.'

'Tuan Kim,'

'Young Woon,'

'Appa!'

Young Woon tersentak saat suara terakhir itu timbul dipikirannya.

Suara Henry-kah?

Tidak!

Jelas sekali itu suara anak kecil.

Mata tuan Kim bergerak dengan cepat. Tangannya ikut bergerak. Mencari diantara kertas-kertas yang berantakan tanpa pola disekelilingnya. Hingga tangannya menyentuh sebuah buku keras. Sebuah album. Album itu terbuka, menampilkan sebuah gambar.

'Appa! Hahaha!'

Kim Young Woon menggeleng. "Kau bukan anakku. Bukan!"

Lelaki itu menarik album tersebut dan melemparnya menghantam dinding. Namun begitu jatuh, dia tetap membuka dan menampilkan gambar yang sama. Kim Young Woon nampak frustasi dibuatnya.

'Young Woon-ah, aku akan memikirkan perceraian ini lagi, jika kau memberikan ijinmu. Kumohon, sisihkan kebencianmu dan selamatkan putramu.'

Kenapa Hera harus mengatakan hal itu dan membuatnya menjadi dilema? Akan lebih mudah jika Hera tidak ikut campur, dia bisa memutuskannya tanpa harus memikirkan lagi. Tentu saja, dia tidak akan memberikan ijin. Tapi kenapa Hera harus menekannya dengan alasan ini? Kenapa? Kenapa dia harus menyelamatkan anak itu?

Kyuhyun bukan tanggung jawabnya. Itu yang Young Woon tekankan pada dirinya. Kyuhyun bukan miliknya. Bukan siapa-siapanya. Dia bisa memutuskan lebih cepat tanpa pikir lagi. Namun karena Hera dia harus berada dalam dilema ini. Hera pasti menepati perkataannya. Tapi jika dia memberikan ijinnya, Kyuhyun akan selamat.

'Tidak! Youjin mati, kenapa dia harus hidup?!'

Kim Young Woon bangkit. Memungut album foto itu. Memandangi gambar dirinya yang sedang memeluk anak kecil yang berada dipangkuannya.

"Benar. Kau yang datang meminta bantuanku. Aku tahu bagaimana harus menyelesaikan ini."

0o0o0o0o0o0

Kyuhyun berdiri didepan jendela kamar Changmin. Meski ada kamar lain yang bisa dia pakai, namun Changmin bilang tidak keberatan jika mereka satu kamar. Kyuhyun lebih memilih berada di kamar sahabatnya karena merasa lebih baik ada orang disampingnya dari pada sendiri.

"Hei, kau belum tidur? Kau masih harus banyak istirahat. Jadi segeralah berbaring."

Changmin meletakkan ponselnya di meja, seraya melirik jam duduk disana. Sudah hampir tengah malam dan Kyuhyun masih bangun. "Kau menungguku untuk tidur, jangan-jangan? Hei aku bilang akan mengurus sesuatu, kenapa kau jadi seperti istri yang tidak tenang tidur sendirian?"

Kyuhyun berdecak mendengar kelakar Changmin, dia lekas melangkah dan berbaring disisi kiri tempat tidur, menarik selimut hingga batas dada. "Aku ingin pulang."

Changmin yang baru saja mendudukkan diri disisi lain menjadi diam. "Kau sudah pulang. Rumahku rumahmu juga."

Kyuhyun menggeleng. Matanya menatap Changmin. "Aku merindukan mereka."

Changmin menutup mulut. Memilih berbaring dan memunggungi kyuhyun.

"Aku mengatakannya karena Leeteuk saem bilang aku tidak bisa menahan-nahan lagi apapun yang bisa membuatku sesak. Jadi biarkan aku merajuk sekali-kali." Kyuhyun ikut memiringkan tubuhnya, menatap punggung Changmin.

Changmin terkejut saat pertama kali mendengar semua penjelasan Kyuhyun. Dari keadaan mental, emosi dan kesehatannya. Dia pikir selama ini mereka sudah sangat dekat. Kyuhyun selalu menceritakan apapun kepadanya. Tentu saja dia tahu semua hal tentang keluarga Kyuhyun juga perihal ginjal itu. Namun rupanya Kyuhyun menyembunyikan masalah lain. Dia tahu terkadang Kyuhyun terlihat begitu lemah dan jatuh, tapi dia tidak sangka jika Kyuhyun pernah mencoba bunuh diri. Berkali-kali. Itu membuatnya merasa tidak berguna.

Kyuhyun mencolek bahu Changmin dengan telunjuknya. "Changmin-ah, kau sudah tidur?"

"Hem."

"Apa saja yang kau urus tadi? Kau menelepon lama sekali."

Changmin tidak langsung menjawab. "Aku menelepon semua orang."

"Orang tuamu juga?"

Changmin berbalik. Menatap kedua bola mata Kyuhyun yang balik menatapnya. Changmin tidak bisa mengelak dari pertanyaannya. "Eum."

Kyuhyun mengangguk mengerti. Kemudian berbalik memunggungi Changmin. "Jangan matikan lampunya."

"Aku sudah berbaring disini, Kyu, tidak mungkin bangun untuk mematikan lampu. Malas sekali."

Kyuhyun tertawa kecil. Dia tahu Changmin lebih suka tidur dengan lampu mati. Tapi akan berbeda jika dia sedang menginap. "Aku akan ke café besok."

"Tidak boleh!"

"Wae?" balas Kyuhyun tidak terima. "Heechul hyung pasti sangat marah karena aku tidak memberi kabar."

"Kau sakit jadi dia akan memakluminya nanti."

"Semoga."

"Jangan pergi. Aku serius, Kyu. Akan kuijinkan jika sudah waktunya."

Kyuhyun ingin membalas, tapi dirasakannya Changmin yang merubah posisi kemudian diam. Itu artinya Changmin sudah tidak ingin melanjutkan pembicaraan. Jadi Kyuhyun urung meneruskan. Kalau boleh lebih jujur lagi, Kyuhyun ingin bilang bagaimana perasaannya saat ini. Dia merindukan segalanya. Segala hal yang pernah dia miliki. Rumah yang damai dan nyaman, appa yang menyayanginya, ibu yang hanya diam bak patung, atau ibunya yang sekarang juga saudara tiri yang dia sayangi. Kyuhyun ingin berteriak sekali saja betapa dia ingin melepas segalanya dan kembali tenang. Dia ingin kembali untuk sekali lagi, bisa melihat mereka tersenyum, melihat appa yang dirindukannya, adalah alasan mengapa dia lebih memilih tinggal bersama Changmin. Dia akan lebih dekat dari sini.

TBC

Sunday, October 23, 2016

9:46 PM

Monday, October 31, 2016

9:15 PM

Menunggu lama, ya? Maaf.

Apakah aku pernah menyebut anak haram di fic ini? Di chapter berapa, ya? Di kalimat langsung atau di deskripsinya? Heum saya mau benerin kalau itu gak sesuai. Kan ini mau dibuat hanya Young Woon yang tahu kalau Kyuhyun bukan anak kandungnya.

Ternyata buat SIM itu…MENYEBALKAN!

Hah kalau dipikir apa gunanya SIM sih kalau Cuma untuk menghindari penilangan? Anak SD pun sudah pada bawa motor kemana mana. Mereka lebih mahir dari pada aku malahan, harusnya lebih pantas dapat surat ijin mengemudi dibanding 17 tahun yang baru dua tiga hari pakai motor.

Sima Yu'I

(SY'I)