Kibum mengambil duduk di kursi biasanya, didepan Donghae yang sedang memakan sarapan. Donghae hanya melirik sekilas tanpa berkomentar. Sepertinya hyungnya masih kesal soal kemarin. Kibum masa bodoh, meskipun itu memang salahnya. Heechul harusnya menegur Kibum bukan Donghae.
"Selamat pagi." Siwon muncul dengan pakaian kerjanya. Dia duduk disebelah Donghae, mengambil roti dan mengolesinya dengan selai kacang. Kopi sudah siap di depannya.
"Appa belum sembuh, hyung?" tanya Donghae.
"Sudah baikan. Jangan khawatir, appa baik-baik saja." Siwon selesai mengolesi rotinya. "Kibum, kau pulang larut malam beberapa hari ini?"
Diam-diam Donghae tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dia berharap Siwon tahu apa yang dilakukan Kibum diluar. Bekerja sebagai pelayan café, menggantikan Kyuhyun.
"Aku mengambil les." jawab Kibum kalem.
Senyum Donghae lenyap saat Siwon mengangguk dan tidak lagi bertanya.
"Kau tidak curiga, Siwon hyung?" tanya Donghae. Kibum sudah bernafsu ingin melempar Donghae dengan pisaunya.
Siwon menatap Donghae dengan alis terangkat. "Wae? Itu bagus untuk Kibum. Dia sudah kelas tiga. Meskipun jenius, dia tetap harus belajar juga."
Dalam hati Kibum puas dengan nalar Siwon yang tidak menaruh curiga kepadanya. Sedangkan Donghae sudah lebih dulu menjatuhkan rotinya. Tidak lagi bernafsu.
"Iya, kalau dia benar ikut les, bagaimana kalau hal lain? Kau tidak curiga, dia bergaul dengan Zou Mi, lho."
Siwon tertawa. "Donghae, jangan menilai Zou Mi buruk. Dia anak yang baik. Aku yakin Zou Mi juga bisa lulus dengan nilai bagus."
Donghae sudah menyerah. Dia tidak ingin sok pintar dengan memancing kecurigaan Siwon. Dan memilih segera berangkat ke kampus, beralasan Eunhyuk sudah meneleponnya untuk segera pergi dari meja makan.
Kibum ikut berpamitan pergi kemudian. Sekolah sudah dimulai. Liburan sudah berakhir. Siwon semakin khawatir. Sampai sekarang belum ada kabar dari Leeteuk perihal ijin tuan Kim. Kyuhyun sendiri menolak saat Siwon memberinya kunci apartemen yang lebih layak dan jelas sangat bagus untuk ditempati Kyuhyun. Siwon sedikit kecewa dengan itu, tapi mau bagaimana lagi dia tidak mungkin memaksa atau Kyuhyun akan mencurigai niatnya.
Sarapan Siwon hari itu tidak tersentuh, begitu juga dengan kopi paginya. Dia lebih banyak melamun dan memikirkan Kyuhyun dibanding hal lain. Sangat berbeda dari Siwon sebelumnya.
0o0o0o0o0
Changmin memarkir motor. Melepas helm, Kyuhyun turun dari belakang.
"Pagi!"
Mereka menoleh dan melihat Zou Mi yang bergerak menghampiri Kyuhyun dan merangkul bahunya. "Aaa rindu sekali denganmu, Kyunie~! Kau terlihat lebih kurus? Kau sakit, eoh?"
Kyuhyun menggeleng. Tersenyum memperlihatkan giginya. "Kau tidak bersama Kibum hyung?"
Zou Mi mengangkat bahu acuh.
Mereka berjalan dengan Zou Mi yang tetap merangkul Kyuhyun. Mengajak anak itu bicara tentang apa saja. Changmin di sebelahnya lebih banyak diam. Mereka berpisah dengan Zou Mi yang berbeda lantai.
"Huh, sunbae aneh itu tidak waras." komentar Changmin selepas Zou Mi pergi.
"Kau selalu bicara seperti itu Changmin." sahut Kyuhyun.
"Memang begitu."
Changmin memperlambat jalannya saat mereka hampir sampai dikelasnya. Dia melihat seseorang berdiri di pintu kelas Kyuhyun. Orang yang membuatnya kesal tahun-tahun belakangan ini.
"Lihat siapa yang berdiri disana." tunjuk Changmin dengan dagu.
Kyuhyun melihat lurus ke kelasnya sendiri. matanya membola melihat Henry berdiri di dekat pintu. Kyuhyun reflek mempercepat langkah menghampiri Henry. Changmin berdecak dan mendengus, tapi tetap mengikuti Kyuhyun di belakang.
"Henry-ah!" seru Kyuhyun bahkan saat jarak mereka masih beberapa meter. Changmin bisa mendengar nada tidak percaya bercampur bahagia.
"Kyu hyung?" cicit Henry menegakkan badan. Dia berdiri kikuk saat Kyuhyun sampai didepannya.
"ada apa?" tanya Kyuhyun dipenuhi binar bahagia.
Henry semakin kikuk. Sesuatu dalam pelukannya dia dekap dengan erat. "E-eomma memintaku menyerahkan ini!" dengan cepat Henry menyodorkan bawaannya yang rupanya adalah sebuah bekal. Henry berpaling ke arah lain, menyembunyikan wajahnya yang memerah malu. Sudah sangat lama sejak dia berbicara kepada Kyuhyun, jadi rasanya sangat sulit dan aneh.
Bukannya segera mengambil bekal ditangan Henry, Kyuhyun justru tersenyum hingga matanya menyipit. Wajahnya ikut memerah lantaran bahagia. Bukan karena bekalnya, tapi karena Henry mau kembali memanggilnya hyung dan bicara sepeti ini kepadanya. "Henry-ah."
Henry memberanikan diri menatap wajah hyungnya. Dia sangat terkejut melihat wajah itu. Merah tapi terlihat sangat lucu. Hyungnya hampir menangis, tapi itu semakin lucu bagi Henry.
Henry sekali lagi menyorongkan bekalnya. Rasanya dia ingin segera berlari dari keadaan ini. "A-ambillah, hyung! Taganku pegal."
"E, iya." Kyuhyun mengambil bekal tersebut. Henry langsung berlari sebelum dia sempat mengatakan sesuatu.
Changmin menggaruk kepalanya. Alisnya terangkat sebelah. Pikirnya; 'Semua orang nampak aneh hari ini. Hanya menunggu waktu sampai yang satunya lagi nongol.'
"Pagi, Kyuhyunie! Ah kau membawa bekal? Tidak akan ke kantin hari ini."
Changmin merasa harus menjedugkan kepala ke tembok. Baru saja dibatin orangnya sudah nongol. Dan apa itu dengan nada sedikit merajuk? Benar-benar bukan seorang Kibum.
0o0o0o0o0
"Kau tidak ke kantor?"
Young Woon meletakkan kembali cangkir tehnya ke meja. "Aku pergi lebih siang."
Hera mengangguk saja. Dia duduk tidak tenang,Young Woon menyadari itu. "Aku masih suamimu Hera. Kenapa harus begitu kaku? Ini juga masih rumahmu. Bahkan sampai sekarang aku berharap kau akan pulang."
Hera menunduk. Memainkan jari-jari kakinya. "Bagaimana dengan ijin operasi Kyuhyun? Kau sudah cukup waktu memikirkannya."
Young Woon tersenyum kecut. "Kau akan melakukan apapun untuknya? Dia bahkan hanya anak tirimu, Hera. Kenapa kau begitu peduli? Aku selalu tidak bisa memahami tentang satu hal itu."
Hera meremas tangan dipangkuannya. "Jangan memulai berdebat, Young Woon. Aku sudah sering menjelaskan kepadamu, tidak ada artinya kujelaskan lagi." karena sama seperti Young Woon Hera juga tidak akan pernah bisa memahami Young Woon masalah Kyuhyun.
"Apa karena dia kau menginginkan perceraian?"
Hera menghela nafas ksar. "Kau selalu mengambil kesimpulan sesukamu! Seperti ini! Lagi-lagi kau menyalahkan Kyuhyun. Kim Young Woon apa masalahmu dengan perceraian? Kau sendiri yang pernah mengancamku dengan itu saat Kyuhyun keluar dari rumah. Aku menurut waktu itu karena memikirkan Henry tapi akhirnya aku mengerti. Seberapa lamapun aku menghabiskan waktu disisimu, aku tidak bisa menggantikan posisi Youjin."
Kim Young Woon diam. Hera menghela nafas kasar. Apakah dia dipanggil kesini hanya untuk ini? Sudah berapa hari sejak Young Woon mendengar kabar tentang Kyuhyun? Apa dia tidak ada sedikit saja merasa kasihan? Bahkan dirinya tidak bisa tenang sepanjang malam dan mengalami sulit tidur sejak mendengar kabar itu.
"Young Woon, aku akan mencabut pengajuan cerai itu, aku akan menepati perkataanku. Tapi kumohon berikan ijinnya. Kau tidak bisa membiarkan putramu meninggal. Jangan keras kepala, dia putramu. Anakmu. Jangan sampai kau menyesal." Hera merendahkan diri kali ini. Tidak ingin berdebat atau memancing murka seorang Young Woon.
0o0o0o0o0
Kepala keluarga Choi terlihat termenung di kursi kerjanya. Dirinya yang merasa tidak sehat belakangan ini kini sudah mulai bertenaga lagi. Namun rasa dalam hatinya tidak kunjung membaik.
Jung Woon melihat baik-baik selembar foto di tangannya. Semakin dia perhatikan semakin dia ingat masa lalunya. Semakin dia bisa mendengar jerit tangis wanita itu. Dan semakin sesak hatinya oleh penyesalan.
Dia hanya lelaki yang menyesal setelah menodai martabat seorang perempuan bersuami. Dan kini dia harus menghadapi kenyataan bahwa dosanya telah membuahkan hasil. Dan anak itu, Kyuhyun. Secara tidak langsung telah dia lukai. Jung Woon merasa diriya sangat kejam. Dia mencuri dari anaknya sendiri untuk Kibum. Belum lagi segala hal yang harus dilalui Kyuhyun.
Seorang Choi Jung Woon akhirnya tahu ada yang lebih menyakitkan dibanding kehilangan seorang yang dicintai. Adalah sebuah penyesalan setelah melakukan kesalahan. Benar-benar sangat menyiksa batin dan raganya.
Tapi lebih dari semua itu dia harus membuka mata pada kenyataan dimana anak yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya justru menjadi tanggung jawab orang lain. Syukur jika dia hidup dengan baik dan bahagia, tapi jika kenyataan seperti apa yang dialami Kyuhyun, penyesalan menumpuk beribu-ribu lipat di dalam jiwanya.
'Kyuhyun itu rusak, appa. Leeteuk-ssi menyebutnya seperti itu. Dia tertekan dan merasa dirinya tidak pantas hidup. Tuan Kim pasti akan sulit memberi ijin operasi mengingat betapa dia sangat membenci Kyuhyun.'
Kalimat Siwon yang menjelaskan saat dirinya bertanya perkembangan Kyuhyun, menjadi tongkat dan cambuk yang melukai batinnya berkali-kali.
"Apakah tuan Kim tahu Kyuhyun bukan darah dagingnya?" gumam tuan Choi penasaran. Jika menurut mereka, tuan Kim membenci Kyuhyun karena dianggap anak sial yang membuat istrinya gila dan meninggal. Tapi apakah mungkin hanya itu?
0o0o0o0o0o
Kyuhyun memakan makan siangnya dengan lahap. Dia sangat merasa lapar kali ini dan bisa menghabiskan keseluruhan bekal. Hanya dengan ingat siapa yang membawa bekal tersebut pagi tadi Kyuhyun merasa sangat sehat dan penuh tenaga.
"Pelan-pelan, Kyu." tegur Changmin yang ngeri melihat cara makan Kyuhyun kali ini.
"Sangat enak, Changmin! Kau yakin tidak mau?"
Changmin menggeleng. Menyeruput minumannya kemudian mengedar pandang ke penjuru kantin. "Tumben sekali."
"Wae?" tanya Kyuhyun tanpa mengalihkan pandang dari makanannya.
"Henry tidak di kantin. Kibum sunbe belum muncul. Zou Mi sunbae juga. Biasanya mereka ada di sekelilingmu."
"Ini hari pertama setelah libur panjang, kurasa mereka sibuk."
"Ya. Pagi tadi mereka sudah menyapamu. Bahkan si Kibum itu menempelimu sampai bel berbunyi." acuh Changmin mencomot telur gulung dari bekal Kyuhyun. Kyuhyun protes namun Changmin tetap melahap telur tersebut tidak peduli.
0o0o0o0
Kibum melihat sekeliling yang sepi. Dia berdecak. Si Zou Mi itu entah apa yang dia pikirkan hingga menyeretnya sampai di bagian sekolah yang paling sepi dan di hindari para murid. Belakang sekolah yang jauh hingga sampai di gudang bekas.
"Ada apa?" tanya Kibum tidak sabar.
"Kau bekerja menggantikan Kyuhyun, Kibum?"
Kibum nampak terkejut sekilas saja. "Kenapa kau tanyakan itu? Tidak ada pentingnya untukmu."
Zou Mi manggut-manggut. "Benar juga. Tapi bukankah aneh? Kau dan keluargamu itu?"
Mata Kibum bersorot tajam. "Apa maksudmu?"
"Aku tahu, lho. Yayasan keluargamu pemberi beasiswa kepada Kyuhyun, baru-baru ini ada proses pembiayaan penuh meliputi segala yang berurusan dengan sekolah. Kemudian yayasan rumah sakit juga memberi bantuan khusus kepada Kyuhyun."
"Zou Mi." desis Kibum. Dia mulai gelisah Zou Mi mengetahui sesuatu.
Zou Mi tersenyum. "Benar. Aku sudah tahu segalanya Kibum."
Kibum merasa ada air es yang membekukan dirinya.
"Jadi kau melakukan semua itu untuk membalas budi?"
"Bagaimana kau tahu?!" Kibum belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Dia kehilangan suaranya hanya karena Zou Mi mengetahui tentang keluarganya.
Zou Mi menepuk bahu Kibum. "Entah apakah kalian benar melakukan semua itu. Tapi kurasa Kyuhyun tidak akan suka jika mengetahui ini. Semua kebaikan kalian karena balas budi. Dia pasti akan sangat terluka."
Kibum menepis tangan Zou Mi. "Tidak! Apa yang kulakuakn dan apa yang appa dan Siwon hyung lakukan sudah benar. Kyuhyun pantas mendapatkan semuanya. Dia membutuhkan semua hal itu."
"Benar. Tapi dengan kalian merahasiakan kebenarannya, itu yang akan membuatnya terluka. Kenapa tidak kau pikirkan cara yang lebih baik? Muncul dihadapannya dengan dirimu yang sesungguhnya. Seorang Kibum yang menerima donor ginjal darinya. Ucapan terima kasih pasti akan lebih membuatnya merasa dihargai daripada kalian membalasnya dari belakang seperti ini."
Kibum tidak bisa bayangkan jika dia melakukan hal yang dikatakan Zou Mi. berterus terang kepada Kyuhyun adalah hal terakhir yang akan dilakukannya. Bukan sekarang. Dia tidak berani. "Itu akan merubah hubungan baik kami. Aku tidak ingin dia berburuk sangka kepadaku."
Zou Mi menatap Kibum kecewa. "Kibum, aku tidak tahu kau sepengecut dan sepicik ini." kemudian berlalu.
Kibum merasa harus berpegangan tembok sepeninggal Zou Mi. Kenapa temannya itu harus tahu? Jika Zou Mi saja bisa tahu tidak mungkin juga suatu saat Kyuhyun akan tahu. Jika Kyuhyun tahu, bagaimana jika Kyuhyun tahu? Dia tidak bisa jika Kyuhyun membencinya.
0o0o0o0o0o0
Hera sedang memikirkan perkataan Young Woon.
'Biarkan aku bicara dengan Kyuhyun. Setelah itu aku akan putuskan.'
Permintaan Young Woon terdengar ganjil. Benarkah dia hanya ingin bicara? Memangnya apa yang ingin dia bicarakan dengan Kyuhyun.
Hera menggeleng, mengenyahkan segala pikiran buruknya. Lalu mengambil ponsel dan mengetik pesan kepada Henry.
Henry membaca pesan dari ibunya beberapa menit kemudian. Dahinya mengernyit. Tanpa pikir panjang dia balik menghubungi sang eomma.
"Eomma, apa maksud pesannya?"
'Lakukan saja Henry.'
"Tapi apa yang terjadi? Eomma merahasiakan perpisahan eomma dan appa, dan eomma menyuruhku bilang pada Kyu hyung untuk datang ke rumah? Bagaimana jika dia tahu? Atau appa marah dan memukul Kyu hyung jika melihatnya datang?"
'Ini permintaan appa, Henry-ah. Jangan khawatir. Appa berjanji tidak akan mengatakan apapun soal rencana perceraian kami.'
Henry menghela nafas dalam. Sedikit lega jika memang benar ada kesepakatan itu. Tapi kenapa appa menyuruh Kyuhyun untuk datang ke rumah?
'Henry.'
"Iya. Aku akan bilang pada Kyu hyung. Tapi apa tidak apa-apa? Eomma akan berada disana juga?"
Hera di seberang tidak langsung menjawab. Hingga Henry memanggil dan Hera masih tidak menjawab lalu mematikan sambungan telepon tersebut. Membuat Henry mengambil kesimpulan jika eommanya sendiri tidak yakin dengan apa yang dilakukan sang ayah.
0o0o0o0o0
Heechul mengangkat ponselnya dengan cepat begitu melihat id call. "Kyuhyun!" dan berseru bahkan sebelum orang di seberang menyapa.
Kyuhyun meringis mendengar seruan Heechul. "Heechul hyung."
Heechul bangkit dari kursi kasir. Berjalan mondar mandir tanpa sadar. "Astaga! Astaga astaga astaga! Kau dimana, bocah?! Dan apa-apaan itu, kau sama sekali tidak mengabariku dan kabur begitu saja?! Kau cari mati, hah?!"
Shindong dan Sungmin yang berada di dapur segera merapat ke portal. Berdesakan melihat Heechul yang tengah menelepon. Mereka mendengar nama Kyuhyun disebut membuat mereka penasaran. Apakah yang sedang berbicara dengan Heechul di telepon adalah Kyuhyun?
Kyuhyun kembali meringis. Changmin berdiri tidak jauh darinya, memperhatikan. "Mianhe, Heechul hyung."
Heechul berhenti mondar mandir, membuat pose bersedekap dengan satu tangan. "Jelaskan!" tuntutnya.
"He?"
"Apanya yang 'He'? Jelaskan kemana saja kau selama ini?"
"Itu," Kyuhyun mencari Changmin dan ternyata sahabatnya masih berdiri mengawasi. "Aku tidak bisa jelaskan. Mianhe."
Heechul menghela nafas panjang. "Kau baik-baik saja?" dan berubah lebih lunak.
"Eum. Kau mengkhawatirkanku? Manisnya~"
"Jangan membadut, Kyu! Kapan kau kembali bekerja?"
Kyuhyun terkejut di tempat. Dia melihat pada Changmin lagi. Changmin memberi gesture bertanya. Kyuhyun kembali bicara dengan Heechul. "Aku masih boleh bekerja? Tapi aku sudah lama sekali tidak masuk?"
"Ya apa boleh buat. Ada seseorang yang menggantikanmu. Kau boleh kembali kapanpun kau mau."
Kyuhyun terlihat senang, tersenyum lebar pada Changmin. "Gomawo Heechul hyung! Siapa yang menggantikanku?"
"Kibum. Dia datang saat aku membuka lowongan baru. Dia meminta menggantikanmu sampai kau kembali. Dia peduli kepadamu. Kau seperti adiknya saja."
Kyuhyun tertegun mendengar penjelasan Heechul.
Kibum menggantikannya di tempat kerja? Kibum menjadi pelayan café? Kyuhyun tidak habis pikir kenapa Kibum harus melakukan itu?
Dia dan Changmin berpisah di koridor bawah, sahabatnya itu pergi ke ruang klub untuk rapat dengan timnya. Sedangkan dirinya, dengan penasaran Kyuhyun pergi ke kelas tiga, berbalik dari tujuan awal pergi ke kelas. Dia ingin mendengar sendiri penjelasan dari Kibum perihal pekerjaannya yang digantikan.
Namun kemudian dia berhenti di tengah jalan. Dahinya mengernyit. "Choi Kibum." gumamnya merapal nama lengkap Kibum. "Choi." sepertinya dia menyadari sesuatu.
Wajahnya perlahan memucat tidak percaya dengan pikirannya sendiri. Kyuhyun segera berbalik, berlari pergi.
Kyuhyun mencengkeram dadanya yang berdetak tidak karuan setelah berlari dari gedung kelas tiga hingga di taman tengah. Tangannya dengan gemetar merogoh ponsel dari sakunya. Dia membuka aplikasi browser dan mengetikkan sesuatu di kolom pencari. Menunggu beberapa saat hingga hasil pencarian keluar. Dia membuka hasil teratas dan membacanya nyalang.
"Choi Jung Woon! Choi Siwon! Choi Donghae! Choi Kibum!" Kyuhyun semakin merasa dadanya berdetak berkali-kali lipat. Dia membungkuk menahan sakit. Ponselnya dia cengkeram dengan kuat. "Apa-apaan ini!" umpatnya memejamkan mata.
"Choi. Mereka semua anak dari tuan Choi. Si pencuri." Kyuhyun meremas keras dadanya. Matanya memejam. Benaknya berseru agar dirinya tenang. Tapi percuma, Kyuhyun merasa dadanya akan meledak begitu juga dengan kepalanya.
Dia jatuh terduduk di tanah berumput. Menjatuhkan ponsel dan beralih meremas kepalanya. "Siapapun tolong aku. Jangan lakukan ini padaku. Berhenti menyakitiku. Hentikan. Hentikan!"
Kyuhyun membungkuk, memeluk diri sendiri.
0o0o0o0o0
Changmin tidak menemukan Kyuhyun saat usai sekolah. Dari ketua kelasnya dia tahu jika Kyuhyun tidak mengikuti pelajaran terakhir. Jadi Changmin mengambil kesimpulan Kyuhyun tidak masuk ke kelasnya setelah menghubungi Heechul. Tadi dia sempat mendengar Kyuhyun menyebut nama Kibum.
"Changmin hyung."
Changmin berhenti. Dia mendapati Henry berjalan berlawanan arah.
"Untuk apa kau ke gedung ini?" tanya Changmin heran melihat Henry datang lagi ke gedung kelas dua, setelah pagi tadi. "Ah, jangan bilang kau juga ingin pulang bersama Kyuhyun? Ada apa kau jadi berubah begini? Dulu bahkan kau tidak sudi melihat wajah hyung yang sudah kau usir."
Henry tidak menyangkal atau tersinggung dengan perkataan Changmin. Dia hanya bisa merasa bersedih diingatkan kembali dengan kalakuannya di masa lalu. "Aku ingin berubah Min hyung. Beri aku kesempatan. Kali ini aku akan bersikap baik."
Changmin menatap Henry menyelidik. "Sudahlah. Jadi ada apa kau kesini?"
"Kyu hyung tidak bersamamu?"
"Mungkin dia sudah turun lebih dulu." Changmin kurang yakin dengan jawabannya sendiri.
"Eomma mengirim pesan, jadi aku ingin menyampaikannya."
"Pesan? Ayo, kurasa dia masih dibawah. Dia tidak mungkin pulang sendiri, dia pulang ke rumahku."
Mereka berjalan bersisihan dengan berjarak. "Kyuhyun hyung tinggal bersamamu? Sejak kapan?"
"Beberapa hari lalu."
0o0o0o0o0
Dia menjatuhkan baju di dekat kakinya . Serta melepas kaos dalaman putih polos hingga dirinya bisa melihat badan atasnya yang terbuka. Namun bukan itu jadi fokusnya. Melainkan luka panjang di pinggang kirinya. Kyuhyun mengusap permukaan kasar dan gelap itu.
'Sakit. Sakitnya tidak hilang.'
Sentuhannya berubah mencari cakaran. Dia ingin mengelupasnya. Ingin menghilangkan tanda tersebut.
"Kau sudah pulang rupanya?" Changmin membuka pintu melangkah masuk lalu menjatuhkan ransel Kyuhyun di ranjang. "Kau bolos di pelajaran terakhir?"
Tidak mendengar jawaban, Changmin menoleh kepada Kyuhyun yang betah berdiri di depan cermin lemari. Changmin memperhatikannya dengan heran. Hingga matanya membelalak melihat tangan Kyuhyun berada di pinggangnya. Bukan, bukan karena tangan itu.
"Apa yang kau lakukan?!" Changmin bergerak cepat. Menyambar tangan Kyuhyun, menjauhkannya dari pinggang yang kini terluka dan mengeluarkan darah. "Kau melukai dirimu sendiri? Apa yang kau pikirkan?!" Changmin tidak bodoh. Dia bisa melihat kuku Kyuhyun berdarah serta luka yang terlihat seperti cakaran.
"Sakitnya tidak bisa hilang."
Changmin menatap Kyuhyun terkejut.
"Sakit, Changmin." air mata Kyuhyun jatuh. Changmin melepas cengkeraman tangannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Changmin.
O0
Changmin dengan hati-hati mengolesi luka Kyuhyun dengan obat merah.
"Sesuatu terjadi?"
Changmin ingat setelah menelepon Heechul Kyuhyun masih baik-baik saja. Pasti setelahnya ada sesuatu yang membuat Kyuhyun seperti ini.
Dia menatap cemas Kyuhyun yang hanya diam bak patung. "Kyuhyun, jangan hanya diam. Katakan sesuatu."
Changmin menghela nafas. Dia tidak boleh memaksa Kyuhyun untuk mengatakan apapun.
"Kau ingat lelaki pencuri itu, Changmin?" tanya Kyuhyun disaat Changmin memutuskan untuk membicarakan apapun lagi.
Changmin memikirkan 'pencuri' yang dimaksud Kyuhyun. Orang yang disebut Kyuhyun pencuri adalah lelaki yang mengambil ginjalnya. "Maksudmu tuan yang saat kau kecil?"
Kyuhyun mengangguk. Changmin selesai dengan luka Kyuhyun. "Apa ini ada hubungannya? Kau melukai dirimu sendiri."
"Aku hanya ingin menghapus sakitnya."
Changmin memandang sedih Kyuhyun. Menghapus sakit yang bagaimana jika itu dengan membuat luka baru? "Dia menemuimu lagi?"
Kyuhyun menatap hampa ke depan. "Semuanya palsu. Orang-orang itu membodohiku. Semua orang sedang mempermainkan kepercayaanku. Rasanya sangat sakit."
Changmin tidak suka topik ini jika melihat mata Kyuhyun kembali mengosong. Kemudian dia ingat tentang Henry. "Tadi Henry mencarimu. Kami menunggu tapi kau tidak muncul juga."
Kyuhyun menggerakkan bola matanya, menatap Changmin.
Changmin tersenyum kecil. Setidaknya Kyuhyun merespon saat dia menyebut Henry. "Dia bilang, appamu memintamu pulang."
Mata Kyuhyun bergetar. Mulutnya terbuka. Changmin mengangguk. "aku bisa mengantarmu."
Changmin bangkit. Mengganti seragamnya yang belum sempat dia ganti karena keburu khawatir mendapati Kyuhyun mencakar diri sendiri. Dia sempat melirik Kyuhyun yang masih duduk di tepian kasur, sekilas dia menangkap keberadaan ponsel Kyuhyun tergeletak di dekat sana dengan layar yang retak. Hingga dia berlalu dengan cemas dalam hati. Young Woon memanggilnya pulang? Ada apa? Perasaannya mengatakan ada yang aneh. Tapi apa?
0o0o0o0o0
Changmin memarkir motornya di luar pagar sesuai permintaan Kyuhyun. Entah apa alasannya, tapi Kyuhyun juga tidak mengusirnya pulang. Dia menarik lengan Kyuhyun yang akan berlalu. "Aku akan menunggu."
"Kau terlalu khawatir, Changmin. Dia appaku. Aku percaya padanya." Kyuhyun melepas tangan Changmin. Tersenyum kecil.
Changmin tidak berkedip mengawasi Kyuhyun yang masuk ke dalam rumahnya. Entahlah hatinya merasa gusar. Dia merasa akan ada hal buruk yang terjadi.
Changmin mendongak, menatap langit senja yang muram. Menghela nafas dengan sulit. Berharap semua akan baik-baik saja.
0o0o0o0
Hera menyambut Kyuhyun ada juga Henry yang masih menggunakan seragamnya. Anak itu langsung kemari menyusul Hera. Mereka hanya datang sebagai 'pengunjung'. Sengaja untuk berjaga-jaga. Jujur saja baik Hera dan Henry, penasaran dengan pertemuan yang diminta Young Woon.
"Kalian sangat tegang." komentar Kyuhyun mencoba sedikit mencairkan suasana. Dia juga harus menyembunyikan perasaannya yang masih berantakan masalah Kibum. Rasanya dia ingin berteriak sangat keras melepaskan semua bebannya. Tapi apa yang bisa dia dapatkan setelah berteriak? Tidak akan ada yang berubah.
"Kau sudah datang, rupanya."
Semua menoleh pada Young Woon yang berdiri diujung tangga. Untuk sejenak Kyuhyun dan Young Woon saling pandang. Hanya sebentar sampai Young Woon memutus kontak tersebut beralih melihat pada Hera dan Henry. Lelaki itu tersenyum kepada Henry, namun anak itu justru melengos. Perasaan tidak enak langsung dia rasakan.
"Aku ingin bicara sesuatu denganmu, Kyuhyun."
Kyuhyun terkejut mendengar Young Woon menyebut namanya dengan jelas. Hatinya berdesir lembut mendengar sang ayah menyebut kembali namanya setelah sekian lama.
"Ikutlah." ajak Young Woon berjalan ke pintu. "Kalian tetap disini. Ini hanya tentang aku dan Kyuhyun." ucapnya lagi menahan gerakan Hera.
"Tapi,"
"Kumohon Hera. Aku akan menyelesaikan semuanya."
Hera menyerah. Dia harus percaya pada Young Woon untuk kali ini. Sekalipun itu tidak membuatnya tenang sama sekali.
0o0o0o0
Changmin langsung berdiri melihat Kyuhyun keluar bersama dengan ayahnya. Baru beberapa menit sejak Kyuhyun masuk ke rumahnya tapi kenapa sudah keluar secepat itu?
Tunggu.
Dia keluar bersama Young Woon.
Changmin segera bersiap dengan motornya saat mobil yang dinaiki Young Woon dan Kyuhyun melaju meninggalkan rumah keluarga Kim.
Sekitar 20 menit perjalanan akhirnya mobil yang ditumpangi Kyuhyun berhenti di sebuah tempat. Changmin cukup terkejut kemana mereka pergi.
"Pemakaman?"
0o0o0o0
Kyuhyun mengikuti langkah ayahnya di belakang. Dia ingin sekali bertanya kenapa mereka pergi ke tanah pemakaman? Tapi dia tidak punya nyali. Sejak dalam mobil pun tidak sepatah katapun yang keluar dari mulut Young Woon. Jadi Kyuhyun berkesimpulan sebaiknya dia tidak bicara sampai Young Woon sendiri yang bicara. Lagi pula Kyuhyun merasa sangat lelah.
Mereka berhenti di sebuah makam. Kyuhyun tidak perlu bertanya makam siapa itu. Kali ini dia tahu makam siapa yang mereka kunjungi.
"Appa merindukan eomma?" ini keceplosan. Reflek saat Kyuhyun akhirnya melihat makam ibunya. Dia menoleh takut-takut pada Young Woon. Takut pada reaksi sang appa. Namun rupanya Young Woon tidak melakukan apapun, ataupun memakinya.
Karena Young Woon diam, Kyuhyunpun ikut diam.
Namun kemudian kesunyian itu terpecahkan oleh tindakan Young Woon yang tiba-tiba berlutut kepada Kyuhyun.
"A-ap-appa!" Kyuhyun memundurkan diri tidak percaya. "Apa yang appa lakukan?" cicitnya kecil.
"Didepan makam ibumu, tolong berjanjiah padaku. Pergilah, tolong pergilah!"
Angin menerpa wajah Kyuhyun. Dingin dan gelap. Keterkejutan di wajah Kyuhyun berubah menjadi kebekuan. "Kenapa? Kau sudah mengusirku. Kenapa mengusirku lagi?" tanya Kyuhyun dengan suara bergumam. Mendung menyelimuti wajahnya yang keruh.
Young Woon mendongak, menatap Kyuhyun yang terlihat menyedihkan. Sosok hidup yang bahkan enggan untuk bernafas. "Seseorang mendatangi rumah. Dia mengatakan semuanya padaku tentang jantungmu."
Deg!
Kyuhyun mencengkeram bajunya. 'Leeteuk saem!'
"I-itu,"
"Dia bilang kau butuh persetujuan untuk operasi. Aku akan memberi ijinku."
Kyuhyun menatap ayahnya tidak percaya. Benarkah?! Namun bukan rasa senang yang dia rasakan melainkan sesuatu yang buruk. "Dan aku harus pergi?"
Young Woon mengangguk.
Kyuhyun menarik sudut bibirnya. Bukan senyum. Hanya kemirisan. "Pergi seperti apa maksud appa?" air mata Kyuhyun jatuh disusul langkahnya mendekati Young Woon dan menjatuhkan dirinya bersimpuh seperti sang appa.
Dia menatap ayahnya memohon. "Katakan padaku, sebenci itukah kau kepadaku? Apa salahku, appa? Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku! Kenapa harus membenciku selama itu? Aku tidak mengerti appa. Tolong katakan apa salahku?" Kyuhyun menangkupkan kedua tangan di dada, memohon dengan air mata yang tak kunjung berhenti. "Jangan mengusirku lebih jauh lagi. Jangan lakukan ini padaku lagi."
Young Woon diam, membuang wajah ke pusaran sang istri. Telinganya bisa mendengar dengan jelas tangis dan permohonan Kyuhyun namun hatinya terpaut hanya pada makam tersebut.
"Jangan! Jangan berikan persetujuanmu! Aku, aku tidak akan operasi! Tapi jangan usir aku! Jangan menyuruhku pergi!"
Young Woon menoleh cepat pada Kyuhyun. Anak itu menunduk dalam dengan suara isakan tertahan dan bahu berguncang hebat. Air mata menetes deras di pangkuan kakinya, membahasi celana cream yang dia kenakan.
Terakhir kapan anak itu menangis begitu hebat? Terlintas di pikiran Young Woon ingatan itu. Kyuhyun kecil yang menangis di dekat bak sampah di kompleks perumahan lain yang berjarak berkilo meter dari rumahnya. Di awal musim dingin, dengan seragam elementary school bermantel selutut.
Ingatan Young Woon buyar oleh sentuhan tangan dingin Kyuhyun.
"Appa, jangan membenciku lagi. Aku mohon. Lakukan apapun tapi jangan membenciku lagi. Aku anakmu. Jangan lakukan hal sekejam ini padaku."
Anak?!
Entah kenapa itu memicu emosinya hingga ke kepala. Ingatan tentang Youjin yang begitu menyedihkan dan melukai hatinya kembali menutupi matanya. Young Woon menyempar lengan Kyuhyun, melepas paksa tangan kurus nan ringkih itu.
Young Woon bangkit. Menatap langit yang menggelap. Mengerjapkan mata. Memastikan bahwa keputusannya adalah keputusan yang benar.
"Kim Kyuhyun, kau bukan Kim! Kau bukan anakku!"
TBC
Sunday, October 30, 2016
9:01 PM
Saturday, November 11, 2016
7:00 AM
Layar ponsel yang retak. Itu pengalaman pribadi. Hihihi. Kagak jatuh, Cuma sekedar di remas dengan kuat dan krak retak deh tuh layar. Ajaibnya kagak mati langsung. Saya juga heran sudah retak tapi gak mati.
Ini sedikit saya masukin ke ff. jadi ponsel Kyuhyun bukan karena retak jatuh tapi karena diremas kuat. Waktunya terserah reader bayangin kapan. Kalau aku sih bayanginnya antara sebelum dia di kamar Changmin buka baju cakarin bekas operasinya.
Entah kenapa ini semakin aneh. Huaa, jangan bully saya! Yang penting ini selesai. Saya ingin menyelesaikan ini, lalu bisa dibaca ulang. Karena kayaknya semakin aneh.
Inilah ruginya posting perchapter. Saya gak mau lagi posting yang kayak beginian.
Kapok!
Setelah ini selesai, saya akan kembali posting ff seperti sebelumnya. Posting yg sudah end saja, lebih enak dan nulisnya bisa lebih fokus.
Oke, sekian dan semoga tetap bisa diterima. Terserahah jika tidak ada yang suka lagi, ini ff tetep harus dikelarin sebelum ditinggalin. Benarkan?
Sima Yu'I
(SY'I)
