"Verum : When Mon Cher Meets Ma Cherie"

Proudly Present by Cakue-chan

.

[Preview]

.

.


[satu]


Nancy Lynch ditemukan tewas pada pukul setengah enam oleh seorang pengantar koran yang kebetulan lewat pagi itu dan merasa curiga ketika mendapati pintu toko butiknya tidak terkunci. Berita kematiannya menyebar cepat, tak perlu waktu dua puluh menit untuk sampai ke telinga markas kepolisian Scotland Yard yang tepat pada saat itu pula, berhasil mengangkat satu anggota baru.

"Tugas pertamamu, Jungkook. Aku harap kau tidak syok langsung diberi kasus kematian," hibur Jung Hoseok sambil meringis. Ia tahu benar kalimatnya itu tidak cocok digunakan sebagai kelakar. "Aku juga tidak menyangka Komisaris Park yang akan mengirimmu. Pria itu, kalau boleh aku bilang, selalu uring-uringan kalau menghadapi kasus kematian seseorang yang sedikit tidak ..." ringisan kecil, "... normal."

Jeon Jungkook, sembilas belas tahun, mengangkat sebelah alisnya heran dan memandang Hoseok agak lama. Ia menahan senyum di sudut bibir kirinya ketika gerak-gerik Hoseok kelihatan tidak nyaman, sesekali melirik keluar jendela kereta kuda yang mereka tumpangi, berdeham kecil sembari merapikan jas kepolisiannya (untuk kali ketiga, kalau Jungkook hitung), kemudian menautkan kesepuluh jari dan memilinnya berulang kali. Dia seorang inspektur yang ramah di mata Jungkook, humoris, tetapi bisa serius di waktu yang tepat. Poni belah tengahnya seakan memberikan kesan bahwa Jung Hoseok adalah tipikal orang yang segala sesuatunya menerima dengan hati meski logikanya berjalan seimbang.

"Kalau begitu, soal Nancy Lynch ini," Jungkook memulai, punggung ditegakkan dan ia sedikit mencondongkan tubuh. "Siapa dia sebenarnya, Inspektur?"

"Hyung saja, itu lebih nyaman buatku," cengir Hoseok tipis. "Mengenai Nancy Lynch yang sering aku dengar, dia seorang desainer terkenal se-London dan Britania Raya. Desain gaun-gaunnya memang sudah tidak diragukan lagi, bahkan salah satu Marquess sampai jadi pelanggan tetap di toko butiknya dan setiap bulan mengimpor persediaan gaun untuk butik kota Paris. Tapi, alih-alih membuka toko yang lebih besar di pusat kota atau menjadi seorang desainer pribadi sang ratu, Miss Lynch, begitu orang-orang menyebutnya, lebih memilih tetap tinggal dan menjalankan toko butik kecilnya di West End. Meskipun begitu, gaun-gaunnya selalu laku terjual."

"Miss?"

"Dia putuskan untuk tidak menikah, bahkan di umurnya yang sudah mencapai empat puluh lima tahun."

"Bagaimana dengan kematiannya?"

"Untuk saat ini, aku masih belum bisa menarik kesimpulan kalau tidak melihatnya langsung." Secepat Hoseok menyelesaikan kalimatnya, secepat itu pula derak roda kereta berhenti dengan suara gesekan batu dan lengkingan kikik kuda. Hoseok kembali merapikan jas, menarik napas sedalam mungkin sebelum akhirnya lebih dulu beringsut ketika kusir membukakan pintu untuk mereka. Ketuk sepatu Hoseok bergema tegas, berpijak pada tangga kecil lalu aspal jalanan sedangkan Jungkook mengekor di belakang.

Jungkook tidak tahu mana yang membuat dirinya seberuntung ini; lulus dengan cepat sebagai salah satu anggota kepolisian Scotland Yard bahkan dengan umur yang sangat muda (dan bantuan relasi, tentu saja), atau ia diberi tugas pertama yang ternyata berhadapan langsung dengan sebuah kasus kematian; meskipun toh, Jungkook tetap memilih keduanya.

Semula ini adalah hari pertamanya ia bertugas di kantor kepolisian, usai pelatihan dan pelantikan yang panjang, mengikuti setiap prosedur agar namanya lolos, dan tiba-tiba saja—bahkan tanpa Jungkook duga sekalipun—sang komisaris memerintahnya untuk segera pergi bersama Hoseok di mana tubuh tak bernyawa Nancy Lynch telah ditemukan. Ia tahu benar Park Jungsoo adalah seorang atasan yang keras, tegas dengan caranya sendiri, tapi di lain sisi mengayomi bawahannya dengan baik. Bukan hal aneh kalau pria itu begitu dihormati dari tiap kalangan di kantornya. Hanya saja, Jungkook belum paham apa maksud Hoseok kalau Komisaris Park selalu uring-uringan ketika menghadapi kasus kematian.

Begitu sadar, Jungkook telah berdiri di depan sebuah toko butik yang manis, cukup luas dan entah mengapa memberikan kesan kerajaan yang kental. Catnya perpaduan antara putih dan toska muda, diseling hijau tua pada titik yang khusus, jendela lebar dengan palang bertitel; Lynch's Tailor Shop. Berliuk unik juga kolot dan mengingatkan Jungkook akan judul-judul prosa terkenal William Shakespeare. Pintu tokonya terbuka lebar, penuh sesak oleh anggota kepolisian yang salah satunya pernah Jungkook lihat di kantor. Garis-garis pembatas sudah direntangkan di sekeliling area dan akses ditutup bagi khalayak awam. Ia jelas memiliki akses bebas untuk masuk bersama Hoseok.

Lynch's Tailor Shop, pada umumnya, tidak jauh berbeda seperti toko atau bangunan yang terletak di sepanjang kawasan West End. Terlepas dari desain luarnya yang unik dan menarik mata, Jungkook kembali disuguhkan dengan keadaan interior yang feminim. Dindingnya dilapisi kertas khusus berwarna biru langit, tiga buah cermin lingkaran bersepuh kuningan, dua cermin besar yang berdiri tidak jauh dari deretan manekin bergaun renda, hiasan besar dengan dua pedang saling bersilang, dan deretan rak atau lemari dengan berbagai lebar dan tinggi yang dipenuhi dengan bermacam-macam gulungan kain. Setiap satu rak dipenuhi dengan palet warna pastel, atau soft, dan bahkan warna-warna tua.

Akan tetapi, kecantikannya terlihat kontradiksi ketika Jungkook mengalihkan pandangan, memastikan apa yang dikirimkan matanya untuk sampai ke otak bahwa ia melihat bagaimana mayat Nancy Lynch terbujur kaku laiknya manekin rusak, bersimbah pekat merah kental berbau tambaga, beberapa sekon yang langsung Hoseok tutupi dengan selembar kain besar. Sekilas Jungkook membayangkan rupa Nancy Lynch semasa hidupnya; seorang wanita yang belum mencapai umur setengah abad, hidung bangir dan bibir yang kecil, wajah tirus dengan dagu runcing.

"Bagaimana?"

Hoseok mendongak, lututnya masih tertekuk di samping tubuh korban. "Tidak salah lagi, pembunuhan. Luka tusuk sekaligus robekan di bagian jantung, kematian diperkirakan terjadi pada pukul empat pagi."

"Pisau atau pedang?"

"Bukan keduanya," Hoseok menggeleng prihatin. "Lebih sadis lagi, pelaku menggunakan gunting jahit."

Kening Jungkook mengerut janggal. "Apa sebelum itu korban baru saja bertemu dengan seorang kenalan, orang lain atau semacamnya, mungkin?"

Mulut Hoseok terbuka, nyaris melontarkan jawaban meski dia lekas menutupnya kembali ketika kericuhan kecil dan lengkingan kuda beserta gesekan roda kereta yang khas berderak nyaring dari arah luar. Semua itu disusul dengan bunyi ketuk sepatu yang kasar, terburu-buru dan tak lama kemudian Park Jungsoo melesak masuk. Keadaannya bisa dibilang sedang tidak ramah, mukanya merah padam dan lubang hidungnya kembang kempis.

"Sir," panggil Hoseok heran, berdiri dari tempatnya dengan cepat lalu beringsut ke arah sang komisaris. "Saya tidak tahu kalau Anda juga akan datang. Apa ada sesuatu yang terjadi?"

"Mana dia?" tanya Jungsoo, tajam dan nyaris menyerupai cibiran sinis. "Sembarangan menelepon kantor dan bilang akan kemari tanpa izin. Kurang ajar! Benar-benar barbar!"

"Maaf," sahut Hoseok. "Siapa?"

"Dia!" Raungnya murka. "Orang gila bedebah itu! Sukanya banyak omong dan sok tahu soal kasus yang harusnya sama sekali tidak boleh dia sentuh!"

"Sir, berteriak seperti itu tidak baik bagi kesehatan. Darah tinggi Anda, misal?"

Jungkook refleks menoleh, serentak bersama dua atasan di sampingnya dan beberapa pasang mata yang mungkin kebetulan ikut mendengar. Ada seorang laki-laki, lebih muda dengan tinggi yang cukup, tubuh kurus berbalut cape krem yang agak kebesaran untuk ukuran tubuhnya, dan sepasang kaki berpantopel hitam. Rambut cokelat tua termasuk anak-anak poninya jatuh menyentuh alis, ringan, terbingkai oleh wajah oval dan hidung yang bangir. Garis bibirnya terlihat unik, atau senyum kotak itu, atau bagaimana sinar matanya berkilat polos sekaligus menantang.

Namun Jungkook merasa janggal. Ia bisa mengingat setiap wajah di kantor kepolisian, mengingat dengan baik bagaimana kebiasaan Jung Hoseok ketika gugup bahkan hal terkecil seperti posisi jemari Nancy Lynch sebelum Hoseok menutup tubuh kakunya, dan mengingat ornamen-ornamen kecil yang terpasang rapi di toko butik sang korban. Ia ingat Robert, seorang petugas opsir yang sempat menyapa Hoseok di pintu masuk toko ketika mereka lewat, apalagi wajah keriput Mr. Adams saat membukakan pintu kereta.

Hanya saja, Jungkook tidak bisa mengingat yang ini.

Atau dengan kata lain, ia tidak tahu kalau pemuda ber-cape krem itu ada di sana, berlutut seperti bocah dengan dua tangan di atas lutut dan raut wajahnya yang tak dapat Jungkook baca. Dari mana dia datang, atau entah bagaimana caranya pemuda itu masuk, Jungkook yakin ia belum melihatnya semenjak ia menginjakkan kaki di Lynch's Tailor Shop.

"Oh, Taehyung," sela Hoseok, mengabaikan pipi Jungsoo yang semakin merah. "Aku tidak tahu kau juga—"

"KAU!" Telunjuk Jungsoo menuding kasar. "Cepat pergi dari sini!"

"Anda yakin, Sir?"

"Jangan cari masalah denganku! Pergi!"

"Tapi data yang saya dapat dari anak buahmu, korban diperkirakan meninggal pada pukul empat pagi dan ditemukan dua jam setelahnya. Saya sudah wawancara pengantar korannya, tenang saja. Cuma kesaksiannya tidak terlalu memberikan banyak petunjuk. Dia bilang hari ini memang jadwalnya datang karena Miss Lynch langganan Daily Mail, tapi tak ada balasan sewaktu pengantar koran itu mengetuk pintu padahal dia sangat yakin kebiasaan Miss Lynch bersiap-siap buka toko tepat pada jam lima pagi. Seperti yang kita ketahui, pintunya terbuka dengan cara yang janggal. Dan saat itulah tubuhnya ditemukan, tergeletak tanpa nyawa di antara rak dan manekin-manekin ini."

Penjelasannya lancar tanpa cela, begitu yakin dan lugas, satu sekon setelah dia berhenti dan berhasil membungkam Jungsoo dengan amat sangat mudah. Berhasil menarik hening seolah suara-suara di sekeliling dalam toko dilenyapkan karena eksistensinya. Jungkook berat mengalihkan atensi barang sedetik.

"Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang bertemu dengannya sebelum pembunuhan itu terjadi? Pasti sulit meminta kesaksian orang sekitar apalagi untuk waktu dini hari. Lebih dari jam sepuluh malam saja keadaan sudah sepi. Dan bukan maksud saya meragukan kemampuan detektif kiriman Anda, Komisaris Park, tapi sampai saat ini belum ada informasi siapa saja orang terakhir yang mengunjungi toko ini." Kalimatnya berhenti, pemuda itu berdiri dengan gerakan yang ringan sembari mengayunkan satu kakinya lalu berderap menuju salah satu rak lemari topi bonnet. Diraihnya salah satu bonnet berhias renda dan pita berbentuk bunga, kemudian dia pakai tanpa merasa malu. "Akan tetapi, saya yakin Anda tahu kalau suatu keadaan selalu meninggalkan jejak, sekecil apa pun itu. Bau parfum, beberapa alat jahit dan kain yang tidak pada tempatnya, atau mungkin catatan yang kesannya tidak penting. Misal seperti topi ini," dia menunjuk bonnet berwarna salem di atas kepalanya. "Saya menerka-nerka bagaimana Miss Lynch menyimpan barang pesanan pelangannya, baik secara sengaja atau tidak. Dan topi ini tersimpan paling akhir, sedikit bergeser dari posisi yang harusnya sesuai karena barangkali Miss Lynch terburu-buru meletakkannya setelah topi yang lain. Lalu di sini tertulis, Elena Beechworth."

Analisis yang akurat, Jungkook pikir, ia bahkan terkejut dengan pemikirannya sendiri. Hoseok berdeham kecil, sejenak Jungkook menduga pria itu berusaha menahan kagum dan geli di saat yang sama. Berbeda jauh dengan Jungsoo, mukanya jadi semakin mirip tomat, bibirnya terbuka lalu terkatup dan mengingatkan Jungkook dua ikan buntal di akuarium besar kantor kepolisian.

"Sekarang, kita coba lihat—"

"Berhenti!" Kaki dihentak murka, Jungsoo berjalan cepat kemudian berhenti di depan si pemuda ber-cape krem yang langsung dia tarik dengan keras. "Kau, Kim Taehyung, keluar sekarang juga!"

"Darah tinggi Anda—"

"Persetan dengan darah tinggi! Keluar!"

Samar-samar sebelum kemarahan sang komisaris reda, Jungkook mendengar Hoseok mengeluh. "Astaga, anak itu."