"Verum : When Mon Cher Meets Ma Cherie"
Proudly Present by Cakue-chan
.
.
.
[dua]
Sebenarnya apa sih yang diinginkan si pak tua komisaris, Taehyung kerap kali membatin dan memaki, meski ia tahu keluhan seperti itu tidak akan mungkin dikeluarkan secara verbal. Kemarahan Jungsoo akan semakin menjadi-jadi atau yang lebih parahnya, riwayat darah tingginya tidak bisa terkontrol dengan baik.
Awalnya Taehyung tak menduga berita itu akan muncul begitu saja ketika Mr. Weston, pengantar langganan koran yang dipesan Yoongi, tiba dengan wajah terengah dan penuh antusias karena kawan mudanya sesama di kantor penerbitan baru saja menemukan mayat seorang wanita dengan posisi dan keadaan tidak wajar. Tak tanggung-tanggung, nama wanita yang ditemukan bukanlah orang biasa. Taehyung tahu, tapi tidak mengenalnya. Teringat bahwa Nancy Lynch pernah ia dengar dari seorang penjaga toko bunga milik wanita tua yang terletak tidak jauh dari pusat kota, Miss Swan, sering bercerita kalau desain gaun buatannya memanglah yang terbaik di antara terbaik lainnya.
Ia sadar benar Jungsoo tidak akan memberinya izin akses ke tempat kejadian dengan mudah. Entahlah, sampai sekarang Taehyung tak mengerti mengapa Jungsoo bergitu terang-terangan menunjukkan bahwa dia tidak menyukai—mungkin sudah pada tahap benci—keterlibatan Taehyung dalam urusan kepolisian. Yoongi pernah protes keberadaan Taehyung-lah yang telah membantunya meski yah, sang komisaris mungkin menaruh ego terlalu tinggi dan rasanya percuma saja berharap pada tipikal orang seperti Jungsoo.
Namun menurut terhadap perintah tanpa perlawanan bukanlah nama tengah Kim Taehyung. Jungsoo boleh saja bersuka ria membenci dan sengaja tidak memberikan akses dengan mudah, beberapa detektif Scotland Yard bebas menggunjing kemampuan analisis Taehyung yang katanya berada di luar nalar logika, tapi tak ada seorang pun yang mampu melarangnya untuk ikut andil dalam memecahkan kasus. Taehyung punya caranya sendiri, ia hidup dengan kebebasan dan jauh dari aturan yang mengikat.
Setidaknya, Taehyung pikir semua akan berjalan lancar ketika ia berhasil menyusup Lynch's Tailor Shop sambil menyelidik diam-diam, meskipun akhirnya ia gemas sendiri dan merasa bodoh kenapa pula Park Jungsoo harus dihubungi terlebih dahulu. Lain kali ingatkan dirinya untuk jangan pernah mempermainkan sang komisaris.
"Aku rasa bukan hanya Elena Beechworth, Tuan Detektif."
Bahu Taehyung tersentak pelan, ia memutar tubuh terlalu spontan hingga nyaris menyenggol salah satu manekin di dekatnya, nyaris, jika lengan lain tidak segera mencengkeram lengan si boneka dan posisinya diseimbangkan kembali. Pertama Taehyung melihat seragam dan lencana kecil berkilap perak, naik ke atas mendapati wajah berahang tegas berbingkai hidung bangir dan sepasang mata tajam agak bundar, terakhir rambut jelaga dengan poni mencuat dan keningnya terlihat jelas. Seorang laki-laki, salah satu antek-anteknya Scotland Yard, seseorang yang Taehyung yakin ini adalah kali pertama matanya merefleksikan langsung figur pemuda itu.
"Sengaja datang siang, eh?" tanyanya lugas, garis bibirnya entah mengapa terlihat aneh. "Wajar juga lihat reaksi Komisaris Park tadi pagi, pekerjaanmu sukanya menyelinap diam-diam, ya. Kau harus lebih waspada, Detektif."
Sebelah alis Taehyung terangkat. Oh, oh, apa maksudnya nada sindiran itu? "Tapi aku menghasilkan bukti, Sheriff. Tidak seperti kau, yang kerjanya cuma bisa komentar soal kelakukan orang asing."
"Namaku bukan kau," sahutnya datar. "Jeon Jungkook."
"Tidak tanya juga, sih," Taehyung berkedik tak acuh. "Tapi sebagai bentuk apresiasi, Jungkook-ssi, dan kau sedikit berhasil membuatku terkejut karena bicara dalam bahasa ibuku, jadi salam kenal."
Jungkook mendengus geli, deretan giginya terpampang dengan khas. "Itu saja?"
"Apa ada hal yang lebih dari itu saja?"
"Namamu, Taehyung-ssi."
"Oh." Bola mata berotasi malas. "Jangan tanya kalau kau membubuhkan namaku di ujungnya." Ia memandang Jeon Jungkook dengan penuh selidik dan pengamatan, dari bawah ke atas, kening berkerut samar, lalu melanjutkan. "Baru saja kembali dari kedai kopi ujung jalan beberapa blok dari sini. Sepertinya kecerobohan Hoseok-hyung sulit hilang, lagi-lagi menumpahkan gelas kopi dan diomeli Miss Caroline. Tapi tenang saja, pakaian di rumahmu selalu tersimpan dengan rapi meskipun bau sabunnya kuat sekali. Biar aku tebak soal kedatanganmu, karena perang atau trauma yang belum hilang?"
Ah, ini dia. Taehyung suka mengamati ekspresi, gurat wajah, lekukan garis bibir, dan gerak-gerik sepele yang seringkali diabaikan. Ia mengingat dengan baik kekagetan Jungsoo di kasus pertama yang berhasil Taehyung pecahkan dan membuat geger seantero Scotland Yard. Hoseok menyebutnya, cikal bakal terkenalnya nama Kim Taehyung tapi sekaligus juga bahan gunjingan yang tak ada ujungnya. Menarik, tapi Taehyung tidak tahu harus merasa senang atau prihatin.
Dan kali ini Jeon Jungkook menunjukkan hal serupa. Yoongi pasti marah besar kalau tahu ia kurang menjaga omongannya, lagi, tapi rasa penasaran itu memang datangnya seperti ayam. Tidak sopan dan suka sekali menggerogoti dengan brutal layaknya rayap pemakan kayu.
"Tidak baik bertanya masa lalu seseorang tanpa izin, Taehyung-ssi."
Taehyung mengerjap, sekali, dua kali, tanpa sadar kagum dengan kontrol emosi yang Jungkook perlihatkan. Sempurna dan tanpa cela.
"Tapi aku cukup terkejut kau tahu sedetail itu. Kopi yang tumpah dan bau sabun?"
"Aku mencium aroma kopi dari seragammu, mungkin tidak sengaja kena cipratan kopi yang ditumpahkan Hoseok-hyung. Itu kesepuluh kalinya, kau tahu, Miss Caroline sepertinya bosan lagi-lagi Inspektur yang sama harus dia marahi." Kekeh samar mengudara. "Tapi aroma kopi itu ditutupi bau sabun yang lebih kuat. Entahlah kau mencuci semua bajumu sendiri atau bantuan binatu. Dan untuk pertanyaan akhir," Taehyung menarik napas dalam-dalam, menggeleng kecil sebelum kemudian berderap ke sisi lain dan melewati Jungkook begitu saja. "Maaf atas kelancanganku, Jungkook-ssi. Aku minta yang tadi itu lupakan saja, sekarang ada hal lebih penting yang harus dilakukan."
Tatapan Jungkook menusuk punggungnya, Taehyung pura-pura tidak sadar sambil memusatkan fokus pada bercak-bercak merah yang membekas jelas dan mulai mengering pada karpet toko. Tiga jam yang lalu tubuh Nancy Lynch dipindahkan untuk autopsi, pihak kepolisian sengaja belum membersihkan bekas yang tertinggal.
"Omong-omong, dari mana kau tahu kalau bukan Elena Beechworth saja yang berkunjung, Jungkook-ssi?"
Berlutut tepat di dekat bercak yang menyebar, Jungkook dengan senang hati menjawab. "Kertas yang terselip di lipatan gaun Miss Lynch." Kepala Taehyung menoleh cepat, Jungkook menahan geli dalam hati. Ia meraih secarik kertas lusuh dari dalam saku seragam, setitik noda darah di bagian ujung, lalu menempelkannya main-main di kening Taehyung. "Aku kira kau butuh ini, jadi sengaja tidak aku serahkan pada komisaris."
"Astaga," seru Taehyung, bola matanya membesar. "Kau mengkhianati atasanmu sendiri."
"Ambil atau aku serahkan sekarang."
"Oh, dengan senang hati," cengiran Taehyung muncul, tangan kanan meraup cepat kertas pemberian Jungkook. "Tapi Jungkook-ssi, kenapa?"
"Apanya,"
"Kertas ini, tentu saja. Membantuku dalam kasus sama saja mencari mati, atau masalah besar dan berhubungan langsung dengan Komisaris Park."
"Asal komisaris tidak tahu, itu cukup. Masalah selesai."
"Kau tahu benar bukan itu maksudku," dengus Taehyung, tapi cepat-cepat menambahkan. "Atau kau mulai meragukan kemampuan detektif bawahan Komisaris Park? Itu kantormu, omong-omong. Dan kau menyerahkan bukti penting pada orang asing sepertiku."
"Jangan besar kepala, Taehyung-ssi. Aku ingin kasus ini cepat selesai." Taehyung merasa lirikan Jungkook seakan memindai lambat-lambat dirinya. "Dan cukup terkesan dengan penjelasan tadi pagi, tidak aneh kalau Komisaris Park bermasalah dengan darah tinggi."
"Sialan, berusaha memanfaatkanku, eh?"
"Kau tahu itu dengan benar."
"Dasar bedebah."
Diam-diam Taehyung menahan gusar dalam hati, bertanya-tanya apa yang membuatnya terus meladeni setiap tutur kata Jungkook sampai ia sendiri tak ragu melontarkan umpatan yang seharusnya tidak boleh ia ucapkan sembarangan. Orang Eropa itu, katanya, menjunjung tinggi tata krama ketika bertutur kata. Taehyung merasa aturan itu memang streotipe di seluruh dunia, ada dan sifatnya absolut.
"Ada lima orang." Vibrasi Jungkook mendadak dalam. "Tapi Elena Beechworth tidak tertulis."
"Hah?"
"Kertasnya, Taehyung-ssi."
"Ah." Kertas dibuka cepat namun hati-hati, berjaga-jaga jika suatu waktu bawahan Jungsoo yang lain memergoki mereka. Taehyung ikut berlutut di samping Jungkook, sengaja merapat seakan ia menyembunyikan sebutir ranjau kecil. Kemudian, sederet nama dibacanya pelan-pelan. "Helena Griggs, Reneé Darien, Uriah Wakefield, dan Timothy Beechworth—tunggu," Ujung alis saling bertaut. "Beechworth? Mereka pasangan suami-istri?"
"Kemungkinan yang bagus, tapi tetap perlu kepastian. Ada kemungkinan lain mereka saudara kandung."
"Kau benar, bisa juga kebetulan marga mereka sama."
"Bagaimana menurutmu?"
Sudut mata Taehyung melirik Jungkook. "Kau membicarakan nama-nama ini?"
"Salah satunya," kata Jungkook. "Tapi aku ingin tahu pendapatmu mengenai keadaan korban tadi pagi. Ada hal lain yang bisa kau jelaskan selain luka tusukan berulang kali di bagian dada dan perut?"
Balasannya tak lekas terlontar, Taehyung mencoba mencari penjelasan singkat yang sekiranya sesuai dengan jalan pikirannya sendiri. "Garis tipis di antara lengan dan leher," jelas Taehyung akhirnya. "Kita misalkan si pelaku berusaha mencekik korban, tapi korban secara naluriah melawan dan berhasil lepas dari cengkraman pelaku. Merasa keadaannya gawat, si pelaku sengaja menarik lengan korban dan menyerangnya dengan senjata yang ada."
"Lalu nama-nama itu?"
"Nah," Taehyung berdiri sambil melompat, nyaris membentur pucuk hidung Jungkook. "Seperti katamu tadi, Sheriff, semua ini perlu kepastian yang benar dan logis. Kalau begitu, aku pamit dulu—" Ucapannya tidak tuntas, terpotong tanpa sengaja ketika Jungkook bangkit dengan gesit, meraih siku Taehyung tanpa tedeng aling-aling dan menghentikan laju langkah sang detektif.
"Sayangnya, Taehyung-ssi, informasi yang kau dapatkan itu tidak gratis."
Taehyung mengelak. "Baiklah, baiklah, kau serahkan saja kertas ini pada pak tua itu!"
"Diserahkan juga percuma," Jungkook menunduk, sengaja mensejajarkan bibir di telinga kiri Taehyung. "Aku tidak bohong soal kasus harus cepat selesai. Jadi, gunakan otakmu itu baik-baik."
Protesselanjutnya tidak jadi Taehyung keluarkan, gerak sandinya mendadak statis dan iabiarkan saja Jungkook melepas cengkraman di siku, melewati dirinya tanpaberkata apa-apa lagi. Sekilas Taehyung mencium aroma citrus bercampur kayumanis, sekaligus sabun juga setitik bubuk kopi, dan ia sengaja mencatat dalamhati untuk jangan mudah percaya pada manusia bermuka dua seperti Jeon Jungkook.
