"Verum : When Mon Cher Meets Ma Cherie"
Proudly Present by Cakue-chan
.
.
.
[tiga]
'Jangan cari gara-gara dengan Komisaris Park, astaga. Dan berhenti jadi orang barbar, Tae!'
Begitulah pesan Yoongi, bergema di sepanjang lorong bawah ketika Taehyung berlari-lari kecil di deretan anak tangga sebelum mencapai pintu utama. Dan jangan lari-lari seperti bocah, katanya, yang dibalas teriakan Taehyung bahwa mungkin ia akan pulang malam demi serangkaian tugas yang mesti dilakukannya. Ia dapat membayangkan bagaimana kesalnya Yoongi, termasuk gertakan putus asa ketika tahu peringatannya gagal mendekam di dalam telinga Taehyung.
Taehyung selalu suka London di sore hari. Lebih tepatnya ketika jam Big Ben berjingkat ke angka empat untuk jarum pendek, dan dua belas bagi jarum panjang bersama bias senja bergradasi oranye dan lembayung. Ia lebih senang menyebutnya Elizabeth Tower, nama resmi sebelum khalayak mengenalnya dengan nama Big Ben. Sore hari adalah waktu di mana ia bisa mendengar sesama penjual roti saling menyebarkan berita yang jarang ditulis secara massa, lebih mirip gunjingan dan semua itu sampai kepada seorang pengantar susu sambil membawa botol-botol kosong untuk diisi kembali lalu dibagikan esok hari, seorang petugas pengantar pos bahkan ketika fokusnya terbagi antara mengayuh sepeda dan berbicara. Miss Swan, penjaga toko bunga di ujung jalan sempat menyapa Taehyung, berkata kalau sebaiknya ia hati-hati pasca terdengarnya berita kematian sang desainer terkenal.
Siang setelah Taehyung pulang ke rumah barang sejenak dan sebelum ia pergi lagi, Hoseok sempat menelepon kalau pria itu pasti akan memberikan bantuan untuk akses-akses tertentu dalam penyelidikan kasus Nancy Lynch, dan selama masih dalam batas kemampuannya. Taehyung jelas menerima dengan senang hati, ia sudah mengenal Hoseok cukup lama, berpikir bahwa Inspektur Jung itu lebih berpihak pada Taehyung dibandingkan atasannnya sendiri.
Ia sengaja melewati kedai Miss Caroline dan melewatkan acara minum teh sore, tak apa, wanita gemuk itu pasti mengerti setelah melihat kebiasaan Hoseok menumpahkan cangkir kopinya tadi pagi. Gugup dan sedikit stress, barangkali, disuguhkan kasus pembunuhan dan sifat uring-uringan Jungsoo. Tiga puluh menit lagi Taehyung harus sampai di kawasan elite Wesminster, ia mendapatkan waktu permintaan kesaksian bersama Helena Griggs yang sengaja Hoseok sempatkan karena tahu Jungsoo tengah menangani Elena Beechworth. Beruntungnya permintaan itu disetujui langsung oleh Helena sendiri.
Rumah Helena Griggs terlihat sama seperti pada umumnya; gaya Queen Anne yang besar sebanyak dua tingkat dan satu loteng kecil, atap kerucut, bentuk bangunan melingkar dan dikelilingi taman yang luas. Warnanya mahoni semu kokoa muda, jendela ganda gorden beludru, dan pagar-pagar dirambati tanaman ivy.
Taehyung berdeham kecil sambari merapikan rambutnya yang berantakan karena ia berlari di pertengahan jalan, yang detik setelahnya mengulurkan tangan ke arah pintu pagar sebelum tangan lain mendahului tanpa Taehyung duga. Ia terperanjat kecil, mengernyit kemudian berbalik cepat dan menemukan seulas senyum songong yang sempat ia lihat saat siang di toko butik Miss Lynch.
"KAU—"
"Shhh..." Jungkook menjawil bibir atas dan bawah Taehyung dengan tiga jarinya, telunjuk yang bebas ia letakkan di depan bibirnya sendiri. "Bisa tidak sih jangan berisik? Salah-salah Mrs. Griggs tidak akan biarkan kita meminta kesaksiannya."
Tangan Jungkook ditepisnya kasar. "Kau sedang apa di sini? Kalau mau membuntutiku jangan sekarang."
"Astaga, percaya diri sekali," dengusan angkuh. "Berterima kasihlah pada Hoseok-hyung setelah ini, Detektif. Jangan buang waktumu dengan kepercayaan diri yang berlebihan itu."
"Bloody hell, Hoseok-hyung—" Taehyung berhenti, sadar berada di mana posisi pemuda polisi itu. "Yeah, pastinya. Setidaknya dia akan mengirim satu orang bawahan kepercayaannya."
"Apa kau baru saja mengumpat?"
"Apa itu terdengar seperti umpatan?" Taehyung mendorong tubuh Jungkook dengan susah payah, butuh waktu sampai Jungkook sedikit menepi dan Taehyung melesat cepat untuk membuka pintu pagar. "Kali ini aku biarkan kau, Jungkook-ssi. Tapi jangan ganggu, jangan protes cara aku bertanya pada mereka, dan jangan komentar apa-apa." Mengerti?—tapi satu kata terakhirnya sengaja Taehyung hilangkan ketika Jungkook mencoba mengambil kesempatan agar dapat menerobos masuk dan Taehyung sadar lebih cepat. Ia berjalan mendahului Jungkook, melompati petak-petak batu di sepanjang jalan setapak untuk sampai di lima anak tangga batu pertama sebelum akhirnya mencapai pintu.
Ketukan pintu kuningan tiga kali digerakkan, tak sampai hitungan enam puluh sekon, derap langkah kaki dari dalam terdengar semakin jelas dan derit pintu terbuka lebar.
Firasat Taehyung mengatakan kalau wanita bergaun rumahan marun itu adalah Helena Griggs. Berada pada rentang umur tidak jauh berbeda seperti Miss Lynch, berlesung pipit dengan bibir penuh, hidung agak bengkok, dan sepasang alis yang tebal. Matanya merah dan sedikit bengkak, sorotnya telah menelan banyak kesedihan yang dalam.
"Maaf atas kedatangan mendadak ini, Ma'am," sahut Taehyung sopan. "Saya yakin Anda sudah mendengar berita mengejutkan pagi ini, karena itu kami berusaha untuk bergerak cepat dan memohon agar Anda bisa membantu kami."
Helena mengangguk samar dan memaksakan seulas senyum ramah. "Tentu, silakan masuk ..."
"Kim Taehyung, Ma'am." Ia menunjuk Jungkook dengan gerakan sopan. "Dan ini rekan kepolisian saya, Jeon Jungkook."
"Kau detektifnya?"
Seulas senyum simpul. "Jika Anda berkenan memanggil saya begitu."
Mereka berdua masuk setelah Helena mempersilakan untuk kali kedua dan mengekor wanita itu ke sebuah ruangan tamu yang besar. Keluarga Griggs memiliki selera kerajaan yang sangat kental, artistik juga menghargai karya seni yang terekspos jelas dari cara bagaimana mereka menata setiap ornamen dan berbagai macam lukisan. Ruang tamunya mengingatkan Taehyung sebuah kastil, meskipun tidak dengan kesan angker dan lebih ke arah rumah.
Helena menunjuk sebuah sofa ganda putih gading, Taehyung mengambil sisi kanan dan Jungkook sebelahnya, sedangkan Helena di seberang mereka.
"Ann! Ann!" Dia memanggil, seorang gadis pelayan datang tergopoh-gopoh. Teh kamomil dan kudapan manis, kata Helena, karena ini sudah masuk jam acara minum teh. Si gadis pelayan mengangguk paham kemudian berlalu pergi, lalu fokus Helena kembali pada dua tamu di depannya. "Kau bisa mulai, Detektif Kim."
Taehyung sedikit mencondongkan tubuh. "Saya yakin Anda sudah dengar keadaan Miss Lynch setelah ditemukan dini hari ini, Ma'am. Semula pihak kami kesulitan menemukan orang-orang terakhir yang bertemu dengan Miss Lynch sebelumnya, sampai akhirnya munculah nama Elena Beechworth. Akan tetapi, saat siang kami menemukan ini," kertas yang sedari tadi Taehyung genggam diulurkan ke atas meja, bergeser pelan sampai jarak pandang Helena. "Terselip pada lipatan gaun Miss Lynch dan nama Anda jadi salah satunya. Apakah Anda mengenal nama-nama ini?"
Wanita itu memandang kertas yang diulurkan Taehyung cukup lama. Selintas raut mukanya ganjil, kemudian menjawab. "Ya, sangat. Tiga orang ini kawan saya sejak masih muda dulu."
"Dan mungkin ketiga orang lainnya sempat mengunjungi toko Miss Lynch?"
Helena menarik napas pelan, lalu mengangguk yakin. "Aku datang pada pukul tujuh malam, Detektif. Bersama dua kawan yang lain, Uriah dan Reneé. Kami larut membicarakan gaun yang akan dipakai untuk pesta minum teh nanti, setelah itu kami pulang dengan selang waktu yang berbeda. Aku dan Reneé lebih dulu pada pukul sembilan malam, sedangkan Uriah akan pulang setengah jam kemudian."
"Selain itu tidak ada lagi yang datang?"
"Kalau setelah kami, aku tidak begitu yakin. Tapi Owen, sekretaris pribadi Timothy Breechworth, sempat mampir untuk mengambil gaun pesanan istri Tim pada pukul lima sore."
"Miss Lynch yang mengatakan itu?"
"Ya, tentu saja Nancy, katanya ada sedikit kesalahan pada bonnet yang dipesan Elena sehingga Owen belum bisa mengambilnya."
"Apa maksud Anda dengan pesta minum teh?"
"Pesta yang sengaja diadakan oleh salah satu Marquess sang ratu, dan istrinya sangat suka bahkan menjadi pelanggan tetap gaun buatan Nancy. Tidak hanya pesta minum teh, tapi juga festival dan acara dansa termasuk folk dance akan ditampilkan."
"Marquess?" Satu alis Taehyung naik. "Siapa?"
"Seperti namamu, bangsawan keluarga Kim."
"Ah, saya pernah mendengar tentang mereka." Taehyung melenting mungil, tubuhnya kembali tegak tetapi rileks. Tepat pada saat itu, si gadis pelayan datang sambil membawa nampan yang penuh dengan tiga cangkir teh kamomil hangat bersama cake tiers bertingkat dua, macam-macam kudapan manis dan bolu cokelat kecil tersedia rapi. Helena mempersilakan, Jungkook dan Taehyung meraih cangkir masing-masing. "Kalau boleh saya tahu, Ma'am," lanjut Taehyung, "kapan pesta itu diadakan?"
"Hari Sabtu di minggu kedua bulan Oktober ini."
Jungkook mengambil alih. "Pestanya dibuka secara umum?"
"Untuk pesta minum teh, acaranya memang dibuka secara umum," balas Helena. "Tapi menjelang acara malam dan memasuki pesta dansa, kami menyebar undangan secara khusus."
Bangsawan-bangsawan ini, batin Taehyung, terkadang bisa menjadi manusia bertopeng ramah lalu berubah sebaliknya. Ada masa jalan pikirannya melenceng dan senang berkelana bagaimana jika pesta malam itu sebenarnya dikhususkan untuk pasar gelap? Perbudakan atau penjualan organ secara ilegal, misal. Meskipun toh, pemikiran itu tidak bertahan lama karena Taehyung merasa tolol sendiri dan Yoongi pasti protes kalau ia terlalu banyak berfantasi.
"Kembali pada kertas tadi, Ma'am," tak, cangkir Taehyung diletakan hati-hati, isi tehnya tinggal separuh. "Apakah Miss Lynch sengaja menuliskan daftar nama itu?"
Helena statis sejenak, ia memandang lama kertas yang tersimpan bisu, sesekali mengerutkan kening seakan berusaha menggali kembali ingatan, dan akhirnya berkata. "Saya tidak begitu yakin, tapi kemungkinan Nancy menulisnya memang ada. Sewaktu aku mengunjungi tokonya, aku tidak pernah melihat kertas itu. Tapi Nancy punya buku catatan khusus di tokonya ketika mencatat nama pelanggan."
"Baiklah." Taehyung mengulas senyum tipis. "Tuan Jeon, ada yang ingin kau tambahkan?"
Jungkook menggeleng. "Saya rasa kedatangan kami cukup sampai di sini, Ma'am. Terima kasih atas waktunya."
Wanita itu mengantar Taehyung dan Jungkook sampai depan pintu, yang kepergian mereka bertepatan dengan kedatangan kereta kuda di hadapan rumah keluarga Griggs. Seorang wanita cantik keluar dengan gayanya yang anggun dan sangat berkelas, bersama seorang laki-laki lebih muda berwajah tampan. Helena menyambut keduanya dengan senyum simpul, tetapi ketika wanita cantik itu memeluknya erat, tangis Helena pecah seketika.
"Siapa mereka?" tanya Jungkook, sesaat ada sekon keduanya saling berpapasan dan bertukar senyum singkat. Laki-laki lebih muda sempat melirik Taehyung dan Jungkook agak lama, namun secepat itu pula mengalihkan pandangan.
"Nyonya Kim dan putra sulungnya," jelas Taehyung sambil lalu, Jungkook menutup pagar pintu rumah Griggs dan menjejak jalanan luas, mengekor di belakang Taehyung. "Marquess yang disebut Mrs. Griggs saat memberikan kesaksian."
