"Verum : When Mon Cher Meets Ma Cherie"
Proudly Present by Cakue-chan
.
.
.
[empat]
"Sudah malam, kita tidak mungkin berkunjung ke tiga tempat sisanya."
"Apanya yang berkunjung," tukas Taehyung ketus. "Datang dan menginterogasi itu tidak bisa disebut berkunjung."
Jungkook mencibir jengah. "Oke, bukan berkunjung. Tapi kita tetap tidak bisa mendatangi sisa tiga orang lainnya dan meminta kesaksian malam-malam." Ia menjeda sebentar. "Kecuali jika Komisaris Park punya izin tertentu dan pihak rumah menyetujui."
"Aiishh, aku tidak ingin berharap pada pak tua itu," dengusan kecil. "Jam berapa sekarang?"
"Tujuh lebih lima belas menit."
"Pulang kalau begitu, aku perlu memikirkan kembali kesaksian Mrs. Griggs."
"Perlu aku antar?"
"Oh, yang benar saja! Memang kau pikir aku ini apa? Gadis remaja belasan tahun?"
"Berbuat baik tidak ada salahnya."
"Tidak, tidak. Pergi sana!"
Tetapi Kim Taehyung itu memang punya keunikan tersendiri yang Jungkook sendiri tak dapat menebaknya langsung dan kerap kali bertanya-tanya, apa yang membuat dirinya begitu penasaran terhadap pemuda itu. Ia tak mengerti mengapa kepolisian Scotland Yard bisa membencinya, tidak juga dengan kemarahan atau sifat uring-uringan Park Jungsoo. Entah karena cara penyampaian Taehyung, entah pula karena daya pikir tajamnya yang menjadi nilai lebih, Jungkook tidak tahu. Ia belum tahu sepenuhnya.
Penolakan mentah-mentah Taehyung diabaikan Jungkook tanpa dosa. Jadi Taehyung memutuskan berhenti, sehingga Jungkook membiarkan pemuda Kim itu terus berceloteh sepanjang jalan dan bercerita soal London, mengenai orang-orang di sekitarnya yang hobi menggunjing, tentang flat tua namun kokoh yang ia tempati bersama seseorang, bahkan kata-kata menyakitkan Park Jungsoo mengenai dirinya yang Taehyung pikir itu lucu meski Jungkook tak menemukan letak sisi humorisnya di mana.
Taehyung bercerita mengenai laki-laki bernama Min Yoongi dan Jungkook gagal menyembunyikan iri di sudut hati. Meskipun ia punya rumah cukup luas dan terkadang seorang binatu bayaran datang untuk merapikan tempatnya, atau ketika Jungkook tahu tempatnya bersebelahan tepat dengan flat Jung Hoseok; Jungkook selalu merasa sendiri. Ia tidak kesepian, tapi pemikiran bagaimana ramainya rumah atau seseorang menyambut kepulanganmu rasanya menyenangkan juga. Sebesar dan seyakin apa pun Jungkook berpikir bahwa ia akan baik-baik saja seorang diri, bahwa ia tak masalah dengan hal sepele seperti itu, walaupun ia tahu ada saat di mana relung hatinya membohongi.
"Jungkook, jangan jalan terus, flatku di sini."
Langkah Jungkook spontan berhenti, ia berbalik dengan tumit kakinya, dan nyaris mendengus geli ketika Kim Taehyung sudah berdiri di anak tangga ketiga menuju pintu depan sebuah gedung flat tua. Ada bayang artistik menyapu sebagian wajah Taehyung, di kedipan matanya, di sudut seringai tipisnya, di sepasang sorot mata yang sampai saat ini pun, belum dapat Jungkook tebak.
"Omong-omong," lanjut Taehyung, menarik kesadaran Jungkook. "Rumahmu itu di mana sih?"
Bahu berkedik tak acuh. "Sejalan dengan jalan ini, tidak salah juga aku mengantarmu. Dari flatmu, Taehyung-ssi, kau bisa ambil jalan lurus beberapa blok dari sini untuk sampai di pertigaan ujung jalan sana." Jari telunjuk menuding jauh. "Ambil belokan kiri, jalan sekitar melewati tiga blok, dan kau temukan rumahku."
"Kau menjelaskan semua itu seolah aku akan mampir saja."
"Oh, memang, kan?"
"Seperti aku sudi." Gelak tawa Taehyung mengudara renyah, renyah sekali. Jungkook ragu apakah ia harus merasa tersinggung atau tidak. "Di luar makin dingin, maaf tidak bisa mengundangmu masuk, Jungkook-ssi. Bukannya tidak bisa sih, tapi tidak mau."
Astaga.
"Lain kali," tutur Taehyung, keyakinan melintas di keping cokelat tuanya. "Dan selamat malam, dan terima kasih untuk hari ini, dan meskipun kau menyebalkan, senang berkenalan denganmu."
Jungkook ikut melepas tawa. Ia mengambil langkah sambil berjalan mundur. "Aku juga, senang berkenalan denganmu, Taehyung." —ssi sengaja Jungkook hilangkan dan ia diam-diam berharap Taehyung memahami maksudnya, bahwa satu batas di awal pertemuan mereka baru saja hilang. Taehyung mengerti, ia mengulas senyum lebar, melambai asal, kemudian berderap cepat ke dalam gedung. Begitu sosok Taehyung hilang, Jungkook akhirnya membalik posisi tubuh dan berhenti jalan mundur, menyugar sejenak poninya yang jatuh, lalu menyusuri jalanan sepi sepekat suspensi hitam.
