"Verum : When Mon Cher Meets Ma Cherie"

Proudly Present by Cakue-chan

.

.

.


[lima]


Lain lagi dengan kemarahan dan sifat temperamentalnya Jungsoo, keciutan Taehyung malah akan bertambah besar jika ia menggabungkan Min Yoongi yang berdiri di belakang pintu, lengan terlipat di depan dada dengan defensif, sebelah alis terangkat dan air mukanya yang keruh sampai-sampai Taehyung gemas ingin menenggelamkannya di wastafel.

"Jangan sekarang," sela Taehyung sebelum Yoongi membuka mulut, ia mengangkat satu tangan dengan panik. "Dan berhenti bersikap seperti itu, aku bukan anak kecil dan kau bukan ayahku, Hyung." Telunjuk sengaja menempel di bawah dagu, berpikir, lalu menambahkan. "Dan tidak ada peraturan jam malam omong-omong."

Yoongi menghela napas pendek. "Aku tidak bilang soal jam malam."

"Oke, itu bagus," angguk Taehyung, melepas cape dan ia sampirkan pada hanger khusus, gerakannya terburu-buru (semoga Yoongi tidak sadar), tetapi laki-laki itu memang jeli soal gestur yang dianggapnya mencurigakan. Taehyung lekas melepas sepatu, berdeham kecil, kemudian berjalan melewati Yoongi dan meniti anak tangga secepat mungkin.

"Percuma, Tae."

Yeah, Taehyung setuju, percuma saja menghindar ketika kau tinggal serumah bersama orang yang ingin kau hindari tapi mengenalmu sangat baik. Keadaan retoris bagi Taehyung dan ia menyadarinya dengan baik. Akan tetapi, untuk beberapa detik ke depan, sebentar saja, Taehyung mencoba lupa akan telinganya.

Yoongi sudah mengenal sifat Taehyung baik luar mau pun dalam, karena itu ia diam saja ketika Taehyung memilih berderap menuju pintu kamar tidurnya, sibuk sendiri dan terkadang suara gedebuk lemari pintu yang terbanting menggema keras. Perbincangan di antara keduanya nihil, tak apa, Yoongi tetap menanti. Taehyung hanya perlu waktu untuk berpikir. Menunggu sampai pemuda itu selesai mengganti baju dengan setelan piyama biru, sepasang slipper tipis, wajah dengan tetes air dan menahan omelan dalam hati betapa malasnya anak itu untuk mengusap wajah dengan handuk, ya Tuhan.

Taehyung kembali berselang sepuluh menit, menarik kursi meja makan dengan enggan, raut wajah tertekuk, sedangkan Yoongi mengambil tempat di seberangnya. Terkadang Taehyung bertanya-tanya mengapa keadaan seperti ini selalu terpisahkan antara satu meja besar dan kursi berseberangan, mengapa kesan adanya interogasi (baik dalam kepolisian mau pun kehidupan nyata seperti ini) jatuhnya selalu menegangkan dan mengintimidasi, dan mengapa Min Yoongi harus seringkali mengingatkan suatu keadaan yang Taehyung sendiri tahu betul bahwa ia memahaminya dengan baik.

Namun Taehyung sadar sorot di sepasang netra Min Yoongi selalu dan akan selalu meneduh untuk situasi yang satu ini. Tanpa ekspresi, tanpa emosi, tanpa kalimat-kalimat sarkastik yang kadang menjadi hiburan tersendiri bagi Taehyung seperti ketika ia mendengar Park Jungsoo melontarkan segala macam sindiran dan kalimat maki.

"Terakhir kau bilang padaku, kau tidak akan berhubungan lagi dengan yang namanya kasus pembunuhan, dengan segala teka-teki tentang kematian seseorang, apalagi sampai harus bermasalah dengan kepolisian Scotland Yard dan membuat atasannya secara terang-terangan membencimu, Taehyung."

"Aku tidak ingat bilang hal bodoh seperti itu,"

"Oh, kau jelas mengatakannya,"

"Kapan?" Kemudian pertanyaan beruntun. "Di mana? Dalam waktu bagaimana? Pada detik dan menit ke berapa—aduh!" Tepukan keras di puncak kepala, dari seorang Min Yoongi, Taehyung merasakan pening dan denyut-denyut aneh menjalar cepat. "Barbar," gumamnya sebal. "Baiklah, mungkin aku pernah mengeluarkan pernyataan semacam itu—"

"Lima kali, Tae."

"—dan aku lupa—tch, bisa tidak kau anggap saja sekadar lelucon dan aku tidak benar-benar serius mengatakannya?" Nyalinya kembali menciut akibat pelototan Yoongi. "Demi Tuhan, Hyung, aku bukan orang yang hanya bisa diam dan menunggu, menyantap kudapan sambil duduk manis, sedangkan polisi-polisi itu belum menemukan titik terang untuk satu kasus yang mereka tahu semakin lama dibiarkan, akan semakin parah."

"Dari mana kau tahu kasusnya akan semakin parah?"

"Firasafatku, Yoongi-hyung. Kau sendiri yang bilang kadang aku terlalu peka."

Yoongi mengerang jengah, sejenak menengadahkan kepala dan menatap bola lampu di atasnya, mengernyit karena terlalu silau, lalu kembali menunduk sembari menarik napas sepanjang mungkin. Sedari awal Taehyung tahu perdebatan di antara mereka tidak selalu dibilang perdebatan. Ini hanyalah waktu di mana mereka beradu argumen yang tidak sejalan, tidak seimbang dan salah satunya kukuh mempertahankan.

"Hyung," panggil Taehyung lembut, "aku akan baik-baik saja."

"Jangan janjikan aku sesuatu yang tidak bisa kau janjikan."

"Oke, aku tidak janji soal itu, tapi aku akan berusaha." Tengkuk digaruk gugup, meski tidak ada gatal di sana. "Aku ingat permintaanmu, untuk jangan jadi orang yang mencolok. Tapi percaya ini, Komisaris Park-lah yang sebenarnya memperparah keadaan."

Dengusan gusar. "Kau bahkan menumpahkan kesalahan pada orang lain."

"Owh," kening berkerut dalam. "Lama-lama pak tua itu membuatku kesal."

Yoongi mencoba kembali mengeluarkan dengus tapi gagal karena tawa yang lolos. Mau tak mau, Taehyung ikut melepas tawa pelan, menggeleng beberapa kali sembari mengusap wajah dan keningnya. Ia tak dapat memungkiri berada dalam situasi seperti ini bersama Yoongi benar-benar membuatnya gugup setengah mati.

"Taehyung, aku punya permintaan lain."

"Tergantung."

Alis kanan Yoongi naik beberapa sentimeter.

"Maksudku," lanjut Taehyung, "tergantung permintaan sejenis apa dan apakah aku bisa mewujudkannya atau tidak."

"Yah, aku juga tidak yakin kau mampu melakukannya."

"Pardon?"

Jari telunjuk Yoongi terangkat, menuding tepat jantung Taehyung berada; berdetak secara tidak teratur, pusat kehidupannya selama ini. "Hatimu, perasaanmu, satu titik kelemahan yang sebenarnya tidak pernah kau sadari," tatapan Yoongi memaku telak ketika bersirobok langsung dengan sepasang iris cokelat Taehyung. Sarat peringatan dan secuil permohonan yang dalam. "Jaga baik-baik, Taehyung. Kau bebas menggunakannya bagaimana, kau ingin menutup rapat atau menerima bahkan menyimpan perasaan orang lain—sekecil apa pun itu—aku serahkan padamu. Tapi camkan ini baik-baik, setiap pilihan yang kau ambil akan selalu ada risiko yang setimpal."

Obrolan malam itu ditutup dengan satu tepukan halus di puncak kepala Taehyung, pengganti rasa sakit sebelumnya. Telapak tangan Yoongi hangat, ada beberapa getar di ujung jemari-jemarinya sebelum pria itu memutuskan pergi tidur lebih dulu dan sempat mematikan lampu ruang tengah. Meninggalkan Taehyung seorang diri, tanpa pertanyaan yang menggantung atau kesimpulan yang jelas.

Taehyung menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya, menarik lagi, setelah itu dihembuskan sekeras mungkin. Telinganya sempat berdenging tapi ia tidak peduli. Berdiri dan menimbulkan derit samar, Taehyung menyeret langkah untuk sampai ke sebuah meja yang terletak di paling ujung ruangan. Ia sengaja menyalakan lilin, menggeser beberapa tumpukan buku ke berbagai sisi dan menarik secarik kertas beserta pena bulu juga sebotol tinta hitam. Kertas kecil pemberian Jungkook tergeletak bisu tidak jauh dari nyala lilin yang berkobar, biru bercampur oranye, hangat menjalar bagai titik-titik yang saling menyambung.

Dentang bel jam dinding berbunyi sebelas kali, suaranya menggema dalam benak Taehyung, lagi dan lagi.

.

.


[Preview End]