Furudate Haruichi

Haikyuu

Sex Commercial Work

Akai girl

KurooXKen

Balik lagi dengan fic yang menistakan husband tercinta. Karena authornya juga nista. Chap ini aman kok. Maaf jika dirasa kurang memuaskan dan banyak typo.

.

.

"Ko-chan.. ko-chan..."

Samar-samar Kenma mendengar suara yang familiar, berbisik tepat ditelinganya dengan lembut. Dia mengenali suara tersebut sebagai suara ibunya. Dia dapat merasakan kehangatan dalam dekapan ibunya. Dia menyadari hal tersebut hanyalah kebetulan belaka yang berkali-kali terjadi dalam mimpi dari alam bawah sadarnya. Pada saat-saat yang sukar untuk dipahami begitu, ada semacam kekuatan. Dia merasakan ibunya masih bersamanya, hidup di dunia ini.

Usapan dari jari lentik ibunya terasa hangat membelai rambutnya. Puncak kepalanya yang berwarna coklat mulai menggantikan helaian rambutnya yang dengan sengaja dicat kuning. Dia sengaja mengecat rambutnya untuk menutupi warna kecoklatan tersebut yang mulai kembali. Namun kini ia tidak lagi peduli. Dia menjulurkan tangannya, meraih dan memeluk erat-erat lingkar pinggang kecil tersebut supaya jangan pergi. Namun kejadian yang berikutnya terjadi yakni ibunya yang menguncang-guncang tubuhnya.

"Ko-chan.. hei kenapa kau memelukku."

Kenma mengerang pelan telah sepenuhnya tersadar dari mimpinya barusan. Dia membuka kelopak matanya yang terasa berat. Menampakkan iris kuningnya yang mengarahkan pandangan pada wanita berambut kuning pendek disebelahnya, kemudian memejamkan matanya kembali. Wanita tersebut bernama Takano Saeko, salah satu teman Kenma yang juga bekerja sebagai pekerja seks di perusahaan. Takano mengelus rambut Kenma, menyibak helaian rambut yang menutupi kelopak matanya.

"Aku tahu kau kelelahan. Tapi bangunlah aku akan membersihkan ruanganmu." Takano berujar pelan. Menatap miris sekujur tubuh kurus Kenma yang penuh bercak baru, bercak yang lama pun masih tampak di kulit putihnya.

"Apakah ada pelanggan lagi?" Ujar Kenma dengan menguap. Tubuhnya terasa lengket oleh cairan sperma bercampur keringat. Ia dapat merasakan dari lubangnya yang merembeskan cairan hangat ketika dia bergerak.

"Ya. Kau bisa istirahat dalam sejam." Takano menangkap ekspresi kesakitan ketika Kenma mendudukkan tubuhnya, mencoba bangun dari ranjang tersebut.

Tubuh Kenma yang telanjang tanpa sehelai benang pun bangkit dari ranjang, memunggungi Takano. Tubuhnya terasa berat. Dia berjalan dengan langkah pendek dan tertatih menuju kamar mandi yang berjarak hanya beberapa meter dari ranjangnya. Dia menghiraukan cairan warna putih yang mulai meluncur turun dari belahan paha bagian dalamnya mengotori lantai.

Setibanya di kamar mandi dengan rasa sakit dari lubangnya, Kenma memutar keran shower. Dia membiarkan setiap tetes air yang jatuh membersihkan tubuhnya. Saat air menguyur kepalanya, pandangannya mulai berkabut. Dia mencengkram helain rambutnya ketika kepalanya terasa berdenyut-denyut. Kedua kakinya bergetar tidak sanggup menahan berat tubuhnya, tangannya mencoba meraih sesuatu apapun sebelum tubuhnya merosot di lantai yang basah oleh air bercampur cairan dari lubangnya. Tubuhnya masih lemah dan kelelahan.

Padahal seharian ini dia hanya melayani pelanggan pertama Lev dan Yaku. Mereka bergumul selama dua jam lamanya. Waktu yang cukup singkat dan menyiksa bagi Kenma. Dia menyadari pekerjaannya terasa memberatkan bagi tubuhnya. Namun semua itu setimpal dengan banyaknya uang yang ia terima selama bekerja. Uang yang dia pergunakan untuk membayar hutang ibunya dari seorang rentenir.

Kenma mencoba berdiri dengan bertumpu pada dinding keramik kamar mandi. Guyuran shower yang dingin, tidak cukup meredakan semua rasa sakitnya. Tetesan air terus berjatuhan dari ujung rambutnya. Dia melihat kearah cermin di sebelahnya. Memperhatikan seluruh tubuhnya yang basah dalam guyuran shower. Dia menyentuh salah satu luka bekas gigitan yang meninggalkan bekas biru dengan jarinya. Menurun menuju perutnya yang rata. Menyentuh sebuah luka baru yang memerah bekas cambukan memajang hingga pinggangnya. Luka memar dan bercak kemerahan menyebar di seluruh tubuhnya tidak juga hilang dari kulitnya.

Jemarinya membuka kedua belahan pantatnya, menyentuh lubangnya yang terasa perih. Lubang yang memberikan kenikmatan dan juga rasa sakit. Dia meringis ketika jemarinya membuka lubang sempit tersebut perlahan, cairan hangat sperma meluber keluar membasahi jarinya. Niatnya untuk membersihkan terhenti oleh rasa perih tersebut. Sebaiknya dia menelpon si rentenir saat pulang nanti.

.

.

Segera setelah selesai membersihkan tubuhnya untuk melayani pelangan selanjutnya, Kenma menuju ke ranjangnya yang terletak di tengah ruangan. Ruangannya tergolong cukup mewah daripada pekerja yang lain. Terletak di lantai paling atas, lantai tujuh. Dengan jendela lebar berlapis kaca yang menerangi ruangan sekaligus memperlihatkan pemandangan kota. Tidak ada gedung tinggi yang melebihi bangunan perusahaan, sehingga aktivitas di dalam tidak akan terlihat dari luar. Terdapat satu set sofa, ranjang di tengah ruangan juga lemari yang terletak di pinggir dikhusukan untuk keperluan saat melakukan seks. Sebuah cermin tinggi menempel di dinding sebagai hiasan. Dia mendapatkan bayaran sepuluh ribu yen tiap jamnya melayani pelanggan. Dia telah cukup lama bekerja di perusahaan, sehingga mendapatkan posisi dan pendapatan yang cukup memuaskan.

Kenma membaringkan punggungnya di atas ranjangnya yang terasa empuk. Dia menarik selimutnya menutupi tubuh telanjangnya. Hanya bagian pundak serta lehernya yang memar penuh bekas gigitan terlihat di luar. Helaian rambut kuningnya yang basah tampak semakin memanjang sebatas pundak membuatnya tampak mirip Takano-san. Banyak yang mengatakan dia memang mirip dengan Takano, namun dia tidak peduli dengan hal tersebut.

Dia mengeluarkan desahan pendek dari bibirnya, mengganti posisinya menjadi menyamping menghadap pintu kamar mandi. Mungkin beristirahat sejenak membuat tubuhnya kembali bugar sehingga dia bisa melayani pelanggan selanjutnya. Perlahan dia menutup kelopak matanya. Kegelapan membawanya ke alam bawah sadar.

.

.

Kenma langsung terbangun ketika sebuah tangan mengelus bahunya perlahan. Hembusan hangat namun pelan mengelitik kulit lehernya. Elusan dan gelitikan tersebut mengandung nafsu sensual. Pelanggannya telah tiba. Dia tengah tertidur sehingga tidak mendengar suara pintu yang terbuka. Agaknya ketika dalam keadaan terlelap, Kenma sedikit merasakan kekhawatiran menghampiri dirinya ketika seseorang menyentuhnya. Hal itu disebabkan akibat trauma yang diberikan padanya di usia 15 tahun.

Sang pelanggan mendekap tubuhnya dalam balutan selimut, mulai menciumi punggung telanjangnya. Sepertinya pelanggannya kali ini terlalu bernafsu. Dia dapat merasakan desakan di sekitar pantatnya. Kenma beringsut mengubah posisinya yang terasa intim. Dia tidak terlalu nyaman dalam keintiman bersama orang lain. Dia menengadah menatap wajah disebelahnya. Bayangan wajah yang terpantul di iris kuningnya membuatnya terbelalak. Iris kuningnya menangkap gambaran sesosok wajah yang dikenalnya. Kenma bangkit dari ranjangnya. Dia menarik selimutnya, merapatkan tubuhnya pada tepi ranjang. Dia mencoba menutupi tubuhnya dengan selimut. Kenma menangkap ekspresi terkejut terpatri pada wajah pemuda tersebut.

"Kenma? Apa?" Pemuda berambut hitam dihadapannya memilih memalingkan wajahnya, menatap corak hiasan pada selimut.

Rasa panas menjalari matanya. Dia mencoba membuka bibirnya, "Ku-roo.." Suaranya bergetar dalam ketidakpercayaan pada takdir yang diberikan Tuhan padanya.

.

.

TBC

.

Emg cuma tuberkulosis yang punya artian TBC

TBC berarti To Be Continue

Sampai jumpa di chap selanjutnya

Btw, no review.. okelah

Tapi kasih saran dan kritik atau sangahan atau unek-unek atau apapun

Apapun dari kalian akai terima dengan hati terbuka

Btw, maaf gaada unek-unek dari akai di chap pertama