Haikyuu
Furudate Haruichi
Sex Commercial Work
Akai girl
KurooXKen
.
Jika berminat silahkan~
Decitan ranjang mengisi ruangan. Seorang wanita dan remaja lelaki bergulat di atasnya. Perbedaan umur mereka terlihat begitu jelas. Si wanita berumur kisaran 30 tahunan dengan lipstik merah terang yang menghiasi bibirnya menambah kesan dewasa pada dirinya. Remaja di atasnya memiliki tubuh yang jauh lebih kecil dari si wanita.
Peluh berjatuhan menuruni lapisan kulit yang bergesekan dan lembab. Si remaja bernama Kenma menatap wajah wanita paruh baya di bawahnya, yang terus mengerang dalam kenikmatan. Kenma mengenjot tubuh wanita dibawahnya sebagai tindakan mendominasi. Dia memiliki keahlian memuaskan pasangannya sejak dia mulai bekerja. Dia bisa memuaskan baik pria maupun wanita dengan menggunakan tubuhnya. Inilah pekerjaannya, pemuas nafsu duniawi.
Bibir kenma menyedot puting susu wanita diatasnya, yang berukuran sangat besar. Air liurnya meleleh ketika dia memilin puting kecoklatan yang mengucup dalam mulutnya. Sesekali dia mengigit dan menyedot pelan ujung puting kecoklatan tersebut dengan giginya. Kenma merasakan kuku setajam pisau terasa menarik helaian rambut kuningnya. Si wanita menjambak helaian rambutnya dan menekan kepalanya pada dada kenyal tersebut. Kenma tersedak, saluran pernafasannya terhalang dengan gumpalan daging yang kenyal tersebut.
"Uukh.." si wanita melepaskan tekanannya dari kepala berambut kuning Kenma setelah cukup lama, membuatnya harus menahan nafas cukup lama. Dia berguling ke samping, rongga dadanya yang telanjang dibasahi keringat bergerak naik turun, mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Kenma merasakan decitan ranjang yang semula sampingnya berpindah ke atasnya. Si wanita paruh baya berdiri di atas tubuhnya dengan posisi kaki terbuka lebar. Dia menatap ke bagian bawah tubuhnya. Bahkan setelah melakukan pemanasan beberapa waktu yang lalu dengan si wanita, miliknya tidak bereaksi sama sekali.
Pandangan iris kuning Kenma terarah ke langit-langit ruangan yang dihiasi warna putih, begitu bersih. Dunianya tiba-tiba terasa membeku pandangannya terpaku disana. Dia bahkan tidak bereaksi sama sekali ketika si wanita membelai miliknya sebelum memegang kejantanan tersebut dan memasukannya ke lubang kewanitaan dengan sendirinya. Tubuhnya berada disana namun pikirannya menerawang jauh. Si wanita mulai menjambaki rambutnya, menyalurkan rasa kesal sekaligus nikmat yang tidak dirasakan oleh Kenma. Dia hanya merasa begitu hampa di dalam sana bagian tubuh si wanita. Tidak sedikitpun kenikmatan yang terasa lagi dalam saraf-saraf tubuhnya. Segala macam desahan, hentakan maupun decitan tidak lagi terdengar. Pikirannya memutar balik semua sentuhan, pukulan, dan segala macam hal lain yang selama ini diderita tubuhnya selama bekerja. Sesuatu dalam benaknya terisi dengan pertanyaan yang sama.
'Apa yang sedang kulakukan?'
.
.
Seminggu telah berlalu. Waktu yang terasa panjang bagi Kenma tanpa kesehariannya dengan Kuroo di kelas atau bahkan dimanapun. Dia menghindari Kuroo. Setiap kali sosok Kuroo terlintas dalam pandangannya, Kenma akan menjauh dalam jarak yang cukup aman untuk tidak terlihat. Dia membuat situasi dimana dia tidak akan menemui ataupun terlihat dalam jarak pandang Kuroo. Akhir-akhir ini dia pun selalu menghadiri kelas diwaktu yang cukup terlambat. Dan dia memilih tempat duduk disudut kelas yang kosong, hanya seorang diri. Kenma tidak mau repot mendengarkan ocehan pengajarnya di depan kelas. Dia menyibukkan dirinya dengan Nintendo berada di tangan. Namun diam-diam juga dia mencuri pandang ke bangku di sudut kelas. Disana tempat Kuroo duduk bersama para gadis yang kini mulai mendekatinya lagi. Entah hanya perasaannya saja dia merasa sejak tadi tatapan Kuroo terus tertuju mengikutinya.
Dia merapatkan balutan scarf merah di lehernya, memilih mengulangi permainannya lagi yang selalu berakhir dengan game over. Selama seminggu dia telah melakukan rutinitas demikian. Dan hampir setiap hari Kenma memakai scarf dilehernya. Tidak banyak yang tahu alasannya mengapa dan dia tidak mengatakannya pada siapapun. Tetapi, kini seseorang di kelas yang sama dengannya telah mengetahui seluruh rahasia dan alasan sebenarnya. Dia menutupi bekas luka kismark maupun bitmark di lehernya dengan scarf. Dia harus waspada jika hal yang tidak diinginkan mulai datang, sehingga dia mulai menjaga jarak dari Kuroo sejak kejadian seminggu yang lalu.
Hari ini dia tidak bekerja. Pekerjaannya banyak datang pada saat hari liburan yaitu di malam pada hari sabtu maupun minggu. Atau ketika pelanggan memesan untuk service dia akan segera memenuhi panggilan untuk datang ke perusahaan.
Dia mulai merasa ragu. Hanya akhir-akhir ini dia merasa aneh dengan segala hal dalam hidupnya. Tentang pekerjaannya. Perusahaan memang menjaga identitasnya dari pihak luar, yaitu pelanggan. Pelanggannya tidak mengetahui kehidupan sehari-harinya, alamat rumahnya maupun namanya aslinya. Namun dia merasa sesuatu yang menyesakkan dalam dadanya. Sesuatu yang terasa bukan sebagai penyakit namun sebuah luka.
.
.
Kenma menengadahkan wajahnya ketika sebuah bus kuning berhenti di depan halte. Dia menghentikan permainan nintendonya yang berakhir lagi-lagi dengan tulisan game over tertera di layar. Dia menaiki bus untuk pulang, rumahnya cukup jauh dari tempatnya kuliah. Dan dia harus berusaha keras untuk menghindari Kuroo lagi hari ini. Usahanya yang dilaluinya cukup berat untuk menghindari Kuroo dan di hari yang dingin ini membuatnya cukup kelelahan. Mungkin dia akan langsung istirahat setelah sampai di kamar.
Hari telah gelap. Kenma memandangi deretan pertokoan yang diselimuti lapisan salju putih. Pemandangan kota disertai lelehan salju berlalu dengan cepat dari jendela bus. Entah kenapa sejak pagi tadi dia merasa selalu diawasi oleh sepasang mata ataukah mungkin hal tersebut hanya perasaannya saja.
Bus berhenti setelah perjalanan beberapa lama. Seorang pria bertubuh gemuk turun di pemberhentian yang sama dengannya. Kenma berjalan melewati si pria yang menyembunyikan wajahnya di balik jaket dan topi tebal. Dia melirik si pria yang terus berdiri di sana dengan mengoperasikan ponselnya. Kenma berpikir mungkin pria itu mencoba mencari kehangatan dengan berdiri disana. Dia menaiki tangga ke lantai dua kamarnya dengan cepat.
Kenma membuka pintu tanpa menyadari seseorang yang berada di belakangnya. Sebuah tangan gempal membekap mulutnya. Tubuhnya terdorong ke depan menyambar rak sepatu miliknya sehingga berantakkan. Lututnya terasa nyeri menahan tubuhnya yang jatuh tertindih di lantai.
Kenma beringsut memandang pria tersebut. Pria itu adalah rentenir yang datang atas alasan hutang ayahnya, membuatnya harus bekerja di perusahaan. Rentenir pasti meminta tagihan hutang bulan ini yang masih harus dibayarnya. Iris kuning Kenma membelalak ketika rentenir mengesek bagian tengah tubuhnya. Tangan gempal tersebut mengelus-elus pipinya.
"Tubuhmu seksi.. hik."
Ternyata dia dalam keadaan mabuk. Kenma baru menyadari ketika mencium bau busuk yang menguar dari mulut rentenir ketika dia berbicara. Kenma mencoba mendorong tubuh yang lebih besar diatasnya. Sebagian tubuhnya berada di bagian luar dan pintu kamarnya terbuka lebar.
"Hik.. Kau manis, untuk seorang remaja laki-laki."
Sepertinya pikiran rentenir telah terkontaminasi sepenuhnya oleh alkohol berkadar tinggi tersebut. Dan membuatnya berbicara tanpa dasar. "Kau tahuu.. aku selalu ingin melakukannya.. menjamah tubuhmu.."
Kenma melakukan penolakan terhadap tubuh di atasnya, namun rentenir semakin kuat menindih tubuhnya. Kedua tangannya, satu-satunya pertahanan yang dia miliki tertahan di di antara kepalanya. Rentenir menarik lepas dari yang terpasang di lehernya. Kenma mencoba berteriak kemudian mulutnya disumpal dengan dasi tersebut.
"Nnh.. n.." air mata mulai membasahi wajah Kenma.
"Seperti ketika ..." Si rentenir mengumam tidak jelas lagi.
Hanya satu cara yang Kenma punya dalam keadaan tersudut seperti saat ini. Dia menggunakan seluruh kekuatannya ketika tahu apa yang hendak si rentenir itu lakukan. Kenma menendang tubuh rentenir hingga berguling ke samping. Ketika pertahanannya terbuka dia berlari keluar sebelum rentenir mencoba bangkit. Dia meninggalkan apartemennya begitu saja.
Kenma berlari tanpa tujuan, hanya untuk menghindar sejauh mungkin dari sana. Dia berhenti ketika merasakan kakinya yang telanjang terasa perih, jemari kakinya membeku tanpa alas kaki. Dia melupakan sepatunya, berjalan dengan kaki telanjang diatas hamparan salju yang mulai beku. Suhu diluar sekarang ini di titik paling beku.
Tiba-tiba sebuah cahaya terang menerpa wajahnya. Mobil jenis BMW melaju dengan kecepatan penuh, membunyikan klakson yang memekakkan telinga. Kenma terpaku di tempatnya, helaian rambut kuningnya tersapu hembusan angin ketika mobil itu melesat cepat.
Kendaraan itu berhenti di pinggir jalan. Kenma tetap terduduk di sana, tubuhnya bergetar hebat dalam balutan bajunya yang lusuh dan terkoyak. Dia menghiraukan sensasi dingin yang menerpa kulitnya. Air matanya telah membeku oleh udara dingin.
"Ken.. Kenma."
Tepukan di pipi menyadarkannya. Kenma meraih tubuh kekar tersebut, merengkuhnya erat. Suara Kuroo memenuhi pendengarannya. Mereka masuk ke dalam mobil. Kenma melipat tubuhnya, dia hanya terdiam. Dia menenggelamkan wajahnya dalam lipatan lengannya, kembali mengingat ciuman pertamanya dengan Kuroo.
"Kau tak apa?" jemari Kuroo merapikan helaian rambut Kenma yang kusut. Dia mendapati banyak bercak di leher Kenma yang membuatnya justru berdecak kesal.
"Mengapa kau menghindariku akhir-akhir ini?" Kuroo meninggikan nada bicaranya.
"Urusanku bukanlah urusanmu." Gumam Kenma mempertahankan posisinya.
Kuroo meninju kemudi mobil melampiaskan kekesalannya. Dengan kesal di menjalankan kendaraannya. Dia mencoba menahan diri menghadapi sikap Kenma. Meskipun dia memang tidak mengetahui kehidupan Kenma selama ini. Mereka berdua terlarut begitu lama dalam keheningan. Kenma memilih menatap pemandangan yang berlalu di jendela. Hingga mobil berhenti di sebuah rumah bergaya modern minimalis berlantai 2. Tidak ada lampu yang menyala dari dalam sana.
Kuroo membuka pintu mobil, menarik Kenma mengikutinya, menyeretnya masuk ke dalam rumah tersebut. Seketika suasana yang semula gelap gulita menjadi terang benderang ketika Kuroo membuka pintu.
"Naiklah ke atas, ke kamarku. Aku akan menyiapkan sesuatu sebentar." bisik Kuroo.
Pandangan Kenma mengikuti mengikuti Kuroo yang menghilang dengan cepat di balik ruangan. Dengan ragu dia menaiki satu persatu anak tangga, menahan rasa perih pada telapak kakinya.
Kuroo membuka pintu kamarnya namun tidak mendapati Kenma berada di sana, hanya bajunya yang tergeletak di lantai. Dia mendengar suara percikan air dari kamar mandi, tidak lama kemudian suaranya mereda diiringi pintu kamar mandi yang terbuka.
"Maaf, aku tidak mendengarmu masuk. Dan aku memakai kamar mandimu."
Kenma keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Memperlihatkan tubuh rampingnya yang penuh luka, paling banyak di bagian pundak, leher dan dada. Tetesan air masih mengalir dari tubuhnya, rambut kuningnya jatuh mencapai pundaknya. Kuroo berdehem menunjuk sisi kamar mandi.
"Pakailah mantel mandiku disana."
Kenma dapat mencium bau tubuh Kuroo dari mantel yang dipakainya untuk mengeringkan tubuhnya. Wajahnya memerah ketika tadi mendapati pandangan Kuroo menatap tubuhnya dari atas hingga bawah. Kenma bersikap seakan-akan tidak ada apapun yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Dia mendekat pada Kuroo yang tengah menyiapkan kompres serta baskom di sofa.
"Apa kau lapar?" Kuroo menanyai Kenma sembari memberikan handuk kering diatas kepala berambut kuningnya yang basah.
"Terimakasih. Hanya sedikit lapar." ujarnya dengan nada datar.
"Perlihatkan telapak kakimu."
Kenma menuruti perkataan Kuroo dengan menaikkan kedua kakinya pada jangkauan Kuroo. Mantel yang dipakainya membuat sebagian pahanya terekspos. Dia menyandarkan punggungnya yang terasa lelah pada pinggiran sofa, juga bantal yang dipeluknya erat. Dia meringis pelan ketika kompres dari campuran antiseptik dan air hangat pada kakinya. Rasa perihnya tidak juga hilang sebelumnya ketika dia membersihkan diri tadi. Dia memperhatikan wajah datar Kuroo, bukan lagi sikap lembut yang terpasang di wajahnya.
"Apa makanan ingin kau makan, makanan yang kau suka?" Kuroo menatapnya. Pandangan mereka bertemu, Kenma yang terlebih dahulu berpaling.
"Puding dingin dengan rasa coklat dan jeruk." Kenma melupakan rasa sakitnya ketika Kuroo melakukan pijatan pada kakinya.
"Pfft.. kau akan langsung membeku seketika ketika memakannya. Sesuatu yang lain mungkin?" Timbul senyum tipis di wajah Kuroo.
"Aku sudah merasa penuh.. nngh" Kenma merasakan pipinya menghangat. Dia baru saja mengeluarkan desahan pelan dari bibirnya, yang tidak disadarinya. Mungkin akibat rasa geli dari telapak kakinya. Kuroo menjulurkan lidahnya mulai menjilati dan membasahi jemari kaki Kenma dengan air liurnya.
"Benarkah? Sepertinya hanya aku yang merasa lapar." Ketika dia tidak mendapat penolakan dari Kenma, dia melanjutkan. Tangan Kuroo merambat keatas mengelus paha Kenma yang meninggalkan sedikit bercak. Dia menjilati bekas tersebut, membubuhkan bekas baru miliknya pada tubuh Kenma.
"Ku-roo.. ahh"
.
.
Next-
Hehe.. akhirnya dilanjut juga fanfic ini
Gomen lama.. ini juga
karena akai lagi seneng banget karya pribadi udah dimuat
Akai sempet mikir dan gak percaya bakal dimuat
Sekarang akai nulis non-fic juga..
Terimakasih atas semangatnya sehingga fic ini berlanjut..
Mau lanjut terus? Omongin aja di kotak review
Next- Chapter 5
