"Nngh.. mm." Kenma mengeluarkan desahan dari bibirnya, lidah Kuroo membuat rasa geli dalam rongga mulutnya. Bibirnya terasa membangkak oleh hisapan dari bibir Kuroo. Dia mencoba menahan napasnya sehingga air liurnya tumpah di pinggiran bibirnya. Setelah berselang cukup lama Kuroo melepaskan pagutan bibirnya.
Kenma mengusap bibirnya dengan telapak tangannya, dadanya yang telanjang naik turun dengan jelas. Dia menundukkan kepalanya, enggan menatap iris hitam yang kini memandanginya. Dia mencoba menanyakan apa yang selama ini menganjal dirinya kepada Kuroo, "Mengapa kau selalu saja menciumku?"
Kuroo meraih dagu Kenma, agar pemuda itu memandangnya saat ini juga. Tetapi Kenma menepis tangan Kuroo. Tubuh telanjang Kenma meringkuk, dia menengelamkan wajahnya dalam ceruk lengannya, tubuh mungilnya yang telanjang bergetar pelan. Kuroo mendekat, memeluk tubuh polos Kenma yang bergetar. Kenma dapat merasakan sensasi tubuh telanjang keduanya yang bersentuhan tanpa cela, rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhnya. Reaksi Kuroo membuatnya merasa bersalah telah menolak dengan keras tadi.
Kuroo tidak akan menyakiti Kenma bagaimanapun keadaannya. Dia menyibak sisi rambut Kenma yang basah oleh keringat.
"Karena selama ini aku telah menyukaimu." Bisik Kuroo perlahan.
.
Haikyuu
Furudate Haruichi
Sex Commercial Work
Akai girl
KurooXKen
.
Jika berminat silahkan~
.
"Kau sudah mendapatkan apa yang aku ingikan?" ujar sesosok bayangan hitam yang mendekat pada seorang wanita yang tengah duduk di beranda. Sepertinya si wanita itu telah menunggu di sana cukup lama. Si wanita melirik arloji berhias perak di tangannya yang menunjuk pada angka 2, jam 2 dini hari.
"Tentu saja, dan aku minta uangku.." dia menyerahkan sebuah amplop coklat besar yang tipis. Kemudian keheningan tercipta hingga dibuyarkan oleh suara hewan malam yang memecah keheningan diantara mereka, "Aku tidak bermaksud berkata buruk tapi, apa ini adalah pelampiasan kekecawanmu karena dia menolak keinginanmu?"
"Hm.. kau tidak usah mencapuri urusan kami." suara tersebut berasal dari pria satunya. Mereka ada dua orang ditambah si wanita berdiskusi dalam cahaya remang-remang sebuah gang yang cukup lebar.
"Kalian bisa menggunakan semua pegawai di perusahaan ini. Kenapa kalian hanya menginginkan dia?" Si wanita melemparkan protesnya, tersulut emosi dari salah satu pria tersebut. Suaranya mengema pada dinding-dinding gang yang sunyi.
"Sudah kubilang ini bukan urusanmu, Yachi-san." pria pertama menyerahkan bungkusan coklat kepada si wanita setelah memastikan amplop yang diinginkannya sesuai.
Terdengar decak kesal dari si wanita. "Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" si wanita menatap iris hitam pria pertama. Dia mengenal lelaki di depannya ini cukup baik meskipun mereka tidak begitu dekat. Dia hanya terkejut bagaimana pria itu mengetahui nama aslinya. Disini identitasnya dipertaruhkan, dengan hanya sedikit identitas bisa saja menghancurkan segalanya.
"Kami tidak akan mengatakannya pada siapapun, asalkan kau juga menutup mulutmu itu." ujar si lelaki kedua.
Perdenbatan tersebut berakhir secara singkat namun dengan suasana yang cukup menegangkan. Kedua pria tersebut pergi meninggalkan gelapnya gang. Berjalan ke sudut kota yang gemerlapan dan menghilang dalam keramaian. Si wanita berdiri diam di sana, iris kuningnya mengkilat tajam.
"Brengsek kau, Kenma. Semua ini terjadi karena dia." bisik si wanita.
.
.
Pagi itu Kenma terbangun dalam balutan selimut. Dia mengerang ketika tidak menemukan Kuroo di sampingnya. Tubuhnya telanjang tanpa sehelai benangpun yang menempel dibadannya. Dan yang paling membuatnya kesal, yakni bagian bawah tubuhnya terasa nyeri. Hal yang pertama yang diingatnya adalah dirinya dan Kuroo melakukan sex. Mereka melakukannya selama hampir semalaman di tempat ini, kamar Kuroo. Bahkan tempat tidur yang ditempatinya kini telah berbentuk tak karuan. Cairan bekas semalam pun masih tertinggal di lantai, meja dan dinding bahkan di cermin. Mereka melakukan sex seakan hari-hari yang dinanti tidak akan datang untuk kedua kalinya.
Mereka melakukan dalam berbagai posisi, sebenarnya Kenma lah yang lebih banyak tahu, dan mengarahkan Kuroo melakukannya. Kenma masih dapat merasakan gairah semalam dalam kepalanya. Tubuh besar Kuroo yang menindih tubuhnya, menengelamkan dirinya dalam kenikmatan sekaligus rasa sakit yang coba ditahannya. Ketika Kuroo menciumi bibirnya, ciuman yang lebih dari yang pertama kali mereka lakukan, sentuhan tangan Kuroo dan ketika tubuh mereka berdua menjadi satu. Dia berharap teriakannya tadi malam tidak sampai membangunkan seisi rumah, teriakan dari bibirnya keluar dengan sendirinya karena Kuroo. Padahal dia telah banyak melakukannya tidak terhitung berapa kali.
Namun jika dia melakukan bersama Kuroo ada rasa aneh yang muncul dalam dirinya. Kuroo memberikan birahi yang terlampau besar terhadapnya. Birahi yang timbul oleh sensasi pagutan bibir Kuroo. Kuroo lah yang pertama kali memberikan rasa aneh pada dirinya, melalui ciuman pertamanya yang direbut oleh Kuroo. Berapa kalipun Kenma mencoba menghilangkan pikirannya dari sentuhan bibir Kuroo di bibirnya tidak juga berhasil. Dia ingin merasakan kembali permukaan lembut lidah Kuroo yang mengaduk-aduk bagian dalam mulutnya, kelembutan lidah yang membuainya belum pernah dia rasakan sebelumnya. Juga ketika dia merasakan rasa manis dari saliva mereka bercampur menjadi satu didalamnya. Dan ketika pagutan tersebut terlepas, bibir mereka masih terhubung dengan saliva.
"Kuroo, ibu membawakan sarapanmu." Suara seorang wanita paruh baya mengema dari luar.
Kenma yang panik tidak sempat melakukan apapun ketika pintu terbuka. Dia dengang tergesa menutupi seluruh tubuhnya dalam balutan selimut selain kepalanya. Dia dilanda gelombang perasaan aneh akibat ciuman pertamanya, membuanya melamunkan sensasi ciuman Kuroo sehingga tidak mendengar suara yang terdengar dari luar.
"Ah.. gomen." Ibu Kuroo berparas cantik dengan senyum diwajahnya. Warna rambutnya yang panjang serupa dengan rambut Kuroo. Kenma menebak dalam kepalanya umur ibu Kuroo sekitar 40 tahunan. Sejenak ibu Kuroo memandangi seluruh ruangan kemudian memandang ke arah Kenma. Ekspresi wajah Kenma menegang mendapati tatapan dari sepasang iris hitam wanita tersebut.
"Jadi teriakan kemarin berasal dari kamar Kuroo. Apakah kamu boyfriend Kuroo?"
Ibu Kuroo menanyainya dengan santai, sembari meletakkan sepiring sarapan berupa telur dengan daging babi goreng ditaburi rumput laut di meja. Aroma dari sarapan tersebut mengeluarkan bau sedap kedalam indera penciuman Kenma. Membuatnya tidak sempat menjawab pertanyaan dari ibu Kuroo, pikirannya tertuju pada sarapan tersebut. Kemarin dia belum sempat menyentuh makanan, dan dia tidak lagi ingat kapan terakhir kalinya memakan sarapan buatan rumah.
Menyadari hal tersebut ibu Kuroo menimpali lagi. "Pasti kemarin malam yang panjang untukmu dengan Kuroo. Aku dapat menebak kau yang menjadi wanitanya, dimasuki oleh Kuroo."
Kenma menyembunyikan sebagian wajahnya yang memerah dalam selimut tidak lagi menatap ibu Kuroo. Perkataan tersebut mengingatkannya lagi pada kejadian semalam. Ketika Kuroo membisikan kata yang membuat hatinya berdegup kencang dan menyakitkan. Dia mengerti hubungan antara sesama jenis memang telah dilegalkan di negara mereka. Namun dalam urusan keturunan bagi keluarga akan diserahkan pada individu yang bersangkutan. Banyak kasus yang terjadi orangtua yang memperbolehkan anaknya melakukan hubungan sesama jenis, namun tidak sampai pada pernikahan.
"Kau boleh memakan sarapannya Kuroo, aku akan buatkan satu lagi." Ibu Kuroo berada di ambang pintu, "Kalian tidak perlu membersihkan ruangannya, biarkan aku yang akan membersihkannya dan aku berpikir wajahmu cukup manis untuk menjadi pacar Kuroo. "Timpalnya sekali lagi sebelum pintu benar-benar tertutup rapat meninggalkan Kenma dalam kebingungannya.
Kenma merasa rasa laparnya menghilang. Kenma beranjak dari tempat tidur mendapati pantulan tubuhnya yang telanjang di cermin yang bernoda. Dia merasa perkataan ibu Kuroo tadi tidaklah benar, meski Kuroo menyatakan perasaannya padanya, dia tidak mungkin bisa bersama dengan Kuroo. Kenma tidaklah memiliki keyakinan pada hubungan cintanya dengan Kuroo. Toh, dia melakukan hubungan ini hanya sebagai pelampiasan belaka. Ada keraguan yang terpendam dihatinya. Lihatlah bekas luka di tubuhnya yang ditorehkan oleh orang lain. Tubuhnya telah kotor. Dia tidaklah pantas bersama Kuroo.
Kenma menunggu cukup lama hingga Kuroo kembali ke kamar tersebut. Perkataan Kuro semalam kembali terngiang di kepalanya, dia mencoba mengingat kembali semua ucapan Kuroo namun dia tidak mengingatnya. Kuroo berbicara sembari mengendalikan tubuhnya, membuatnya terlena dalam kenikmatan sehingga melupakan segalanya. Pun dia belum menceritakan kejadian kemarin pada Kuroo, mungkin dia akan berbicara dengan Kuroo nanti. Dia hanya memandangi pantuulan dirinya di cermin selama itu dan memikirkan perkataan Kuroo semalam. Dia membalikkan tubuhnya yang telanjang ketika Kuroo membuka pintu.
"Kau dari mana saja? Ibumu telah menyiapkan sarapan untukmu."
Kuroo mendekat padanya, memeluknya. Bukan sekedar pelukan, sebab tangan Kuroo mulai meremas pantatnya. Sentuhan kecil tersebut membuat desahan keluar dari bibir Kenma, dia mengigit bibirnya untuk meredam suara tersebut keluar. Dia menumpuhkan tubuhnya pada tubuh Kuroo. Mereka hanyalah sepasang manusia yang menginginkan birahi tersebut, dan Kenma akan melakukannya.
"Keluarkan suaramu, jangan menahannya. Aku akan membantumu mengeluarkan yang tersisa di dalam sana." Bisiknya di telinga Kenma.
"Hngh.."
Kuroo sepenuhnya menahan berat tubuh Kenma dengan melingkarkan kedua kaki Kenma pada pinggangnya. Kuroo meraup bibir mungil Kenma ketika merasakan tubuh mungil dalam dekapanya mulai bergetar menghantarkan rasa sakitnya. Kenma pasrah dalam dekapan Kuroo. Dia melingkarkan lengannya erat pada leher Kuroo.
Kuroo melepaskan ciumannya ketika tidak mendapati respon dari Kenma. Kenma hanya terdiam pasrah dalam dekapannya. apakah ada sesuatau yang salah, atau ini adalah ulah ibunya yang mengatakan sesuatu yang aneh. Cengkeraman tangan Kenma di lehernya mengerat.
"Kau lelah hm?" Tanya Kuroo kalem, lidahnya menjilati telinga Kenma ketika tidak mendapat jawaban. Dalam pantulan cermin, cairan putih mulai menetas dari lubang Kenma mengotori jemari Kuroo kemudian jatuh ke karpet di bawahnya. Kuroo hanya memastikan lubang Kenma benar-benar bersih. Dia membawa Kenma ke tempat tidur.
"Aku hanya ingin bicara denganmu." Kenma menutupi tubuhnya dengan selimut.
Kenma menceritakan apa yang sebenarnya terjadi semalam kepada Kuroo. Tentang rentenir yang menagih hutang ayahnya setelah kedua orangtuanya bercerai, ibunya memutuskan untuk tinggal di desa di rumah kakenya meninggalkan Kenma dan tidak mengetahui perihal tersebut. Kenma telah tinggal di kota ini sejak kecil sebelum kedua orangtuanya bercerai, dan dia bekerja di perusahaan seks tersebut sejak berumur 17 tahun, atas bantuan si rentenir.
Selama bekerja dia tidak luput dari berbagai macam siksaan dari para pelanggannya. Terkadang mereka menggunakan sex toys, bdsm, maupun melakukan seks dengan banyak orang, dia akan melayani maksimal hingga 6 orang secara bersamaan. Para pelanggannya kebanyakan adalah para pria pebisnis kaya hingga sekelompok yakuza, dia sangat jarang melayani pelangan wanita. Dia tetap bertahan selama ini demi mendapatkan uang dan melunasi hutang ayahnya.
Kenma merasakan cengkaraman erat tangan Kuroo pada pergelangan tangannya. Kuroo memalingkan wajahnya, mengusap matanya dengan lengan bajunya, dia tidak ingin Kenma mengetahuinya menangis maupun menunjukkan amarahnya. Dia berjanji tidak akan ada air mata. Kuroo mendekap tubuh Kenma, merengkuh bahu mungil yang bergetar tersebut dengan erat. Selama ini dia tidak mengetahui apapun namun kali ini dia tidak akan melepaskan Kenma lagi. Tidak lagi membiarkan Kenma menderita setelah sekian lama. Bukan rasa sedih tetapi rasa marah yang bergejolak dalam dirinya saat ini setelah mendengar cerita Kenma.
Kuroo mengingat suatu hal. Dia melepaskan pelukannya namun tetap memegang bahu telanjang tersebut, "Sebenarnya aku telah menanyakannya kemarin malam tapi aku tidak mendapatkan jawaban darimu."
Kenma berpaling, namun Kuroo meraih dagu Kenma lembut. Kuroo hanya menginginkan kepastian dari Kenma. Pandangan mereka bertemu. "Maafkan aku.. tapi berilah aku jawaban."
Cukup lama Kuroo menunggu hingga Kenma mengganguk samar, bahkan tidak bisa disebut sebuah anggukan. Kuroo merasakan suhu badan Kenma menghangat, namun dia tidak dapat memastikan.
"Karena itukah mengapa kau menghindariku selama ini?"
Kenma menghela nafas lega. Degup jantungnya berdetak tidak karuan. Dia merasa gelisah jika Kuroo menanyakan pernyataannya kemarin malam. Namun dugannya tidak tepat. Dia menjawab dengan ragu, "Bukan.."
"Lalu mengapa, mengapa kau menghindariku padahal selama ini.." Kuroo tidak melanjutkan perkatannya.
Kenma telah berusaha menahan air mata yang coba ditahannya. Dia tidak ingin menyakiti siapapun lagi. Meskipun Kuroo bersikeras menyatakan perasaannya padanya, dia tidak mungkin bisa bersama dengan Kuroo.
"Hiks.. jangan mengucapkannya lagi.. Kuroo.. Rasanya sakit.. hiks.." Kenma mengigit bibirnya, menahan isak tangisnya. Dia tahu mustahil dia akan bersama dengan Kuroo. Dan dia tidak akan berharap.
"Aku akan tetap menyukaimu."
Kuroo meraup bibir Kenma dan dengan lembut mendorongnya, mengiring Kenma pada kenikmatan. Dia tidak bisa menahan dirinya lagi, Kenma tidak berdaya menolak hasratnya. Rasa ingin menyentuhnya lagi, menyentuh seluruh tubuh Kenma, menengelamkan dirinya dalam tubuh Kenma dan merasakan kehangatan penyatuan tubuh mereka. Bersama mereka menyalurkan semua rasa amarah, kesedihan, rasa sakit mereka yang melebur menjadi satu dalam kenikmatan seks. Segalanya telah terlampiaskan, namun mereka hanya dapat berharap sedangkan tuhan yang menentukan jalan terbaik.
.
.
"Yachi-chan."
Yachi terlonjak kaget ketika namanya di panggil. Ketika itu dia baru saja selesai melayani pelanggan, dan seluruh tubuhnya terasa pegal. Ternyata yang memangilnya adalah salah satu pegawai wanita berambut biru gelap, bernama Fushimi yang juga temannya. Dia tidak terlalu suka namanya disebut saat berada di perusahaan. Ternyata Fushimi hanya menanyakan tentang Kenma yang langsung membuatnya kesal.
Emosinya memuncak, "Aku tidak tahu." Ujar Yachi singkat dengan nada ketus. Padahal dia baru saja melayani salah satu pelanggan Kenma. Sejak seminggu yang lalu Kenma telah jarang terlihat di perusahaan. Bahkan pelanggan miliknya di berikan pada para pekerja lain karena alasan tersebut.
"Aku mengira kau mengetahuinya.. Padahal selama ini kau yang paling sering bersamanya." Fushimi tersenyum masam.
"Sudah kubilang aku tidak tahu dan walaupun aku tahu Kenma berada di mana, aku tidak akan terlalu peduli. Apa kau juga merasakannya? sejak Kenma jarang kemari, kita mendapatkan banyak pelanggan." Yachi berkata jujur namun sebenarnya dia lebih mengutarakan kekecewaannya sendiri.
Fushimi mengangkat bahunya. Dia dapat merasakan amarah dalam nada bicara Yachi namun dia tetap memasang senyum di wajahnya yang cantik. Fushimi mengelus bahu Yachi yang mengenakan pakaian terbuka, "Sudahlah kau jangan terlalu memikirkannya, apa yang ingin kau lakukan setelah ini?"
Yachi mencengkram handuk di tangannya dengan erat, "Apa yang paling ingin kulakukan adalah membunuhnya."
.
.
Err.. TBC
Gomenasai
Update telat mulu
Mungkin ada pertanyaan yang ingin ditanyakan?
Saran?
Tanggapan?
Kurang jelas bisa ditanyakan.. Mungkin akai bales.. Hehe
Next- chapter 6
