Park Jimin...
Apakah aku benar-benar mengenalmu?
Mungkinkah...
Inspired from Mahou no Kusui by Kamura Yoko
Obat Sihir 3
Sihir Sahabat?.
"Jimin... Mungkinkah?"
Gumamku pelan. Aku masih menatapnya yang tak bergeming melihat kepergian Taehyung dan Jin. Ku rasakan perbedaan sorot matanya. Apakah orang ini benar-benar Jimin yang ku kenal?
Ku coba menarik kesadarannya kembali.
"Tentang Taehyung... Orang yang disukainya..."
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Jimin sudah terlebih dahulu menarik lenganku dan berjalan cepat. Bahkan sosoknya yang sekarang ku lihat dari belakang bukanlah Jimin yang aku kenal.
Aku menyamakan langkah ku dengannya. Mencoba memahami sisi lain Jimin yang tak pernah ku lihat dalam diam.
Hingga saat kami sudah berada di luat gedung, aku memanggil namanya agar dia berhenti.
"Jimin!"
Jimin berhenti, tapi dia tetap membelakangi ku. Aku masih menunggunya untuk membuka suara. Tapj dia masih tetap diam bahkan tak berniat sama sekali memandangku. Ku hela nafas panjang.
"Kau suka Taehyung?" Bukan pertanyaan yang ku lontarkan. Itu adalah tebakan. Kemungkinan terbesar yang ku dapat setelah untuk pertama kali ku lihat wajah Jimin yang seserius tadi. Bahkan wajahnya tak sekeras itu saat mencoba mengalahkan rekor ku bermain Overwatch. Dan itu adalah wajah paling serius seorang Park Jimin yang pernah ku lihat, tentu saja jika kejadian barusan tak dihitung.
"Waaaa...!! Jangan keras-keras. Kalau kedengeran orang lain gimana?!"
Jimin tiba-tiba berteriak dan segera membungkam mulutku. Ku lihat air mukanya begitu panik. Aku mengangguk sebagai tanda aku mengerti. Namun Jimin tak langsung melepas tangannya. Dia menatapku, kosong. Ku cubit tanganya sampai dia mengaduh dan melepas tangannya. Ku tatap Jimin kesal.
"Chim,..."
"Aku tidak akan bisa bicara lagi dengan Taehyung. Apalagi Taehyung sudah memiliki orang yang disukainya". Jimin memotong ucapanku. Dia mengusap-usap rambutnya terlihat putus asa. Aku benar-benar tidak tahu Jimin punya sisi yang melankolis seperti ini. Jadi selama ini dia menyimpan perasaan untuk Taehyung? Sejak kapan?
"Kenapa? Hmmm. Jadi kau benar-benar menyukainya sampai-sampai kau akan mati jika kau bicara dengannya? Tapi kau juga akan mati jika tidak bicara dengannya. Ya ampun Chim, apapun yang kau lakukan, hasilnya kau akan mati. Sepertinya aku harus mulai menyiapkan pemakaman".
Aku tertawa di ujung kalimatku. Jimin yang dalam mode serius bukanlah sosok yang ku kenal, jadi akan ku bawa kembali sosok seorang Park Jimin. Ya, Park Jimin yang ku kenal.
"Yak! Dasar Kelinci setan" Jimin menaikkan suaranya sedikit. Ku lihat dia mengerucutkan bibirnya dengan alis yang hampir menyatu. Membuat suara menangis palsu. Yang ku lihat di hadapanku sekarang ini adalah Jimin. Seekor anak anjing yang mengambek, menyibakkan buntutnya ke kanan- ke kiri, meminta dielus oleh pemiliknya. Jimin yang ku kenal.
"Bercanda. Bercanda. Cuma lelucon kok" aku terkekeh geli sambil mencoba menepuk kepala Jimin.
"Jangan bilang Taehyung ya, Kookie".
Jimin masih mengerucutkan bibirnya lucu. Ah anjing yang satu ini bikin gemas tingkat dewa.
"Iya, Chimmyyy". Ku cubit pipi gembilnya. Jimin kesakitan hingga mata kecilnya makin tak terlihat.
"Aku tidak akan ikut campur. Lagi pula, perasaanmu harus kau sampaikan sendiri". Aku tersenyum lembut agar Jimin juga kembali tersenyum. Dan berhasil. Jimin telah kembali. Dia tersenyum.
"Ya, Jungkook".
"Tapi, aku penasaran siapa orang yang disukai Taehyung. Chimmy kayaknya akan patah hati" Aku tertawa sambil menjulurkan lidah pada Jimin. Aku bersiap karena pasti si anak anjing akan menyalak. Fikir ku geli.
Namun yang terjadi setelah itu, Jimin hanya membuang nafas lalu menyandarkan pundaknya pada dinding.
"Sepertinya begitu..."
Dan hening.
Tidak. Aku benar-benar tidak mengenal Park Jimin.
Hari ini aku benar-benar lelah. Setelah kejadian kemarin Jimin berubah. Dia lebih banyak diam. Dan aku lelah karena tidak bisa mengeluarkan energi ku seperti biasanya untuk bermain-main dengan Jimin. Jam pelajaran sudah selesai. Teman-teman sekelasku juga sudah mulai meninggalkan kelas. Dan disini aku merasa sia-sia duduk bebarapa jam dibangku ku saat tak ada satupun materi pelajaran yang dapat ku pahami. Semuanya seolah menjadi lebih rumit dari biasanya. Ku tarik nafas panjang, belum berniat beranjak pulang. Hari ini aku tidak ingin pulang bersama Jimin. Rasanya aneh. Ku letakkan kepala ku diatas meja menatap awan dari balik jendela. Tiba-tiba ku rasakan sebuah tangan menyentuh keningku.
"Sakit ya Kookie?".
"Apa?"
Aku yang terkejut belum sepenuhnya sadar dan mampu mencerna ucapan orang yang berada di sampingku sekarang. Ku tegakkan tubuhku. Oh, itu Taehyung.
"Kookie hari ini tidak seperti biasanya. Kookie lagi sakit?" ulang Taehyung.
"Ohh"
Aku hanya ber-oh ria. Melihat Taehyung di hadapanku aku menjadi lemah, butuh sandaran. Ku peluk Taehyung dan ku usap-usapkan kepalaku di dadanya. Nyaman. Dia adalah salah satu teman terbaikku. Taehyung, izinkan aku akan mengisi sebentar saja semangatku yang bercucuran habis sejak kemarin.
Taehyung hanya mengusap-mengusap kepalaku sebagai penenang. Terkadang aku lebih menyukai Taehyung yang banyak diam seperti sekarang.
"Tae, dipanggil ketua kelas tuh!" Ugh, ku dengar suara Jimin kesal. Seketika Tae berhenti mengusap kepalaku lalu melepaskan pelukanku. Jimin, terima kasih banyak sudah mengganggu waktu ku. Aku tak rela melepaskan Taehyung. Ku tarik lengan Taehyung. Tapi Taehyung segera melepasnya.
"Sebentar ya Kookie. Nanti aku kembali lagi". Ucapnya meyakinkan.
Ku lihat Yoongi, si ketua kelas sudah ada di depan pintu sekarang. Di pelajaran terakhir aku memang tidak melihat Yoongi di dalam kelas. Pasti dia baru saja dari ruang wali kelas kami, pak Bang, dan diminta melakukan sesuatu. Well, Taehyung itu wakil ketua kelas. Otak jeniusnya membuatnya disandingkan dengan si tegas dan pedas Yoongi. Jadi wajar jika mereka sering kedapatan mengurus keperluan kelas berdua.
Tersisa aku dan Jimin sekarang di dalam kelas. Kenapa Jimin tak mencoba bicara padaku? Apa harus aku terus yang mencairkan suasana dan memahami dia?
"Taehyung itu keren ya. Jenius, tapi tetap baik. Pantas kau suka". Ku coba bersikap biasa pada Jimin. Aku yang biasa memang usil seperti ini kan? Tapi Jimin masih diam. Ku lihat dia merapikan tasnya.
"Tapi jauh dari jangkauan ya" Sambungku kesal karena tak kunjung mendapat respon. Ku angkat kedua bahuku ke udara seakan membicarakan hal yang tak penting.
"Ya".
Apa-apaan itu Park Jimin?! Ayolah. Marahlah padaku. Aku masih ingin membalas ucapannya, tapi ku lihat dia sudah berjalan keluar kelas. Ku coba menghentinkan Jimin.
"Ah.. Mau ke klub ya? Semangat Chimmy!"
"Berisik! Cepat pulang sana, kelinci bodoh".
Dan Jimin pun menghilang di balik pintu. Aku terkekeh geli. Entah mengapa setelah mendengar 'kelinci bodoh' dari mulut Jimin aku begitu senang. Seharian berjauhan dengan Jimin benar-benar menyiksa.
Baiklah. Untuk Jimin yang malang, aku akan mencari tahu siapa orang yang disukai Taehyung. Lagi pula aku juga sangat penasaran. Aku akan mengikuti kemanapun Taehyung pergi sepulang sekolah hari ini. Kalau perlu seminggu penuh aku akan mengawasinya. Sepertinya semangatku sudah kembali 100% lagi. Aku mengepalkan tanganku lalu meninju udara.
Misi rahasia kelinci manis nomor 1 dimulai!!
Tap
Tap
Tap
Aku mengendap-endap diantara beberapa ruangan klub mencari keberadaan Taehyung. Mungkin Yoongi membawa Taehyung ke ruang klub jurnalis mengingat Yoongi adalah anggota klub itu. Beruntung aku memiliki tubuh yang tinggi, aku tidak akan kesulitan menyembulkan kepala ku ke arah jendela untuk sedikit mengintip ke dalam ruang klub jurnalis.
Ku edarkan pandanganku dan bisa ku lihat Taehyung bersama Yoongi. Taehyung sedang merapikan buku-buku yang tadi dibawanya sedangkan Yoongi hanya memperhatikan Taehyung. Taehyung kemudian mengambil salah satu bukunya. Tunggu. Bukan kah itu diari nya!? Taehyung, tunggu dulu.
Ku lihat Yoongi masih diam memperhatikan apa yang akan dilakukan Taehyung. Taehyung tersenyum dan mengeluarkan sebuah foto. Ku rasa aku tidak bisa percaya apa yang aku lihat. Jika benar foto itu adalah foto orang yang disukai Taehyung, aku akan sangat kecewa. Dengan mudahnya dia memperlihatkannya pada Yoongi. Padahal aku dan Jimin adalah sahabat terdekat Taehyung. Mengapa Taehyung memperlihatkannya pada Yoongi?
"Hei, bukankah itu Chimmy?" ujar Yoongi seraya menunjuk ke arah foto yang disodorkan Taehyung.
"Iya, ini Chimmy". Taehyung tersenyum hangat dengan wajah yang merona.
Apa?!
Orang yang disukai Taehyung...
adalah ...
Chimmy?
Aku melebarkan mataku tak percaya. Ternyata Jimin dan Taehyung memiliki perasaan yang sama. Ku rasakan sedikit sesak. Kenapa?
Aku memundurkan diri perlahan sebelum akhirnya berlari sekencang mungkin. Ku turuni tangga dengan tergesa hingga akhirnya aku keluar dari gedung sekolah. Tapi sial, aku melihat Jimin bersama Hoseok sedang berjalan menuju gerbang juga. Mereka sedang tertawa gembira dengan hoseok yang sekali-sekali memainkan bola di tangannya. Sudahlah, aku akan tetap berlari saja. Aku tidak bisa menemui Jimin sekarang.
"Kookie!"
Sial! Saat aku melewati mereka Jimin malah memanggilku. Aku menghentikan langkahku sebentar. Tak bisa berbohong, aku begitu senang mendengar Jimin memanggilku, tapi kali ini saatnya benar-benar tidak tepat. Tidak mungkin aku memperlihatkan wajah ku yang kacau seperti sekarang ini, jadi aku mengacak rambutku sebelum meyakinkan diri untuk mengambil langkah kembali berlari pergi. Setelah itu aku bisa mendengar sayup suara Hoseok dari kejauhan. "Kenapa Jungkook bersikap aneh padamu Jim?".
Hoseok benar. Aku seharusnya tidak bersikap seperti ini.
Aku berlari tanpa tujuan. Sebenarnya tadi aku ingin langsung pulang saja. Tapi aku tidak mau melihat Jimin datang ke rumahku. Setelah sikap ku tadi mungkin Jimin akan khawatir. Bahkan untuk esok hari aku rasa tak ingin bertemu dengan Jimin. Setelah tujuh tahun aku menetap di Seoul, apakah akhirnya aku harus pindah sekolah lagi?
Entah bagaimana sekarang aku berakhir duduk di puncak perosotan sebuah taman. Kenapa aku merasa semakin dan semakin bodoh setelah kemarin dan kejadian hari ini? Lihat! Bahkan sekarang aku meninggalkan tasku di sekolah. Ada apa dengan diriku. Jimin dan Taehyung saling menyukai. Bukankah itu bagus? Seharusnya aku menjadi orang yang paling bahagia untuk dua sahabat terbaikku.
Tapi perasaan ini...
Apa aku hanya sahabat?
Cuma itu?
"Mau main perosotan ya?"
"Ne, hyung~"
"Sebentar, hyung akan mendorong kelinci setan itu dulu ya. Serahkan saja pada hyung".
Yang benar saja! Itu suara Jimin, aku sangat yakin. Awalnya aku tak berniat menoleh, tapi saat mendengar 'dorong' dan 'kelinci setan' aku tak bisa menahan diri untuk tak mencari sumber suara tersebut. Aku dengan kesal melihat Jimin yang sedang mencoba menaiki tangga perosotan, lalu ku lihat tak jauh beberapa anak berada disana melihat ke arahku. Aku menggelengkan kepala. Apa aku yang membuat antrian panjang disana itu? Ku lihat wajah imut anak-anak itu lamat-lamat. Aku tak tega dan berniat langsung turun, tapi tak bisa. Jimin sudah berada di hadapanku sekarang. Dan kini giliran Jimin yang menatapku intens.
"Ini tasmu. Kau meninggalkannya" ucap Jimin santai. Aku hanya diam tak mau menatap matanya, bahkan tak mengambil tas yang disodorkan Jimin. Dejavu?. Jimin melemparkan tas kearahku karena tak mendapat jawaban. "Kookie, jangan menguasi tempat ini sendiri dong. Kan kasian anak-anak itu". Kali ini Jimin mencoba membujuk ku turun. Dia kira akan semudah itu membujukku hah. Sebenarnya bukannya aku tidak mu turun, bahkan aku sudah berniat turun kalau saja Jimin tidak terlebih dulu naik ke sini. Tapi aku sudah kepalang tanggung, ketahuan melamun diatas sini. Gengsi dong kalau aku semudah itu dibujuk.
"Aku suka lihat pemandangan dari tempat tinggi. Ada masalah?". Jawabku ku ketus.
"Tsk... Baiklah aku punya sesuatu".
Jimin merogoh sesuatu dari saku seragamnya. Aku menunggu dengan wajah bosan. Sedetik kemudian Jimin dengan tiba-tiba memasukkan sesutu ke mulut ku.
"Woah.."
Jimin dengan sangat tak elit memaksa benda itu masuk, bahkan sempat menabrak gigi-gigiku dan rasanya sakit. Aku yang terkejut terpaksa menggigit benda itu.
"Adik-adik lihat! Ada kelinci sedang makan wortel!" Jimin memandang ke bawah sambil telunjuknya nengarah ke wajahku. Suara tawa pun kemudian terdengar meriah dari bawah, tentu saja dikomando oleh tawa Jimin. Sialan si Park Jimin ini. Wortel?! Aku bertahan dengan pose bodoh sebentar. Biar saja mereka menertawakanku sepuasnya. Saat tawa mereka reda barulah ku ambil wortel itu. Ku pukulkan keras ke kepala Jimin. Jimin terhuyung hampir jatuh.
"Woaahhh.. Hyung!!~" terdengar teriakan dari bawah. Teriakan itu tak lama berubah menjadi tawa saat Jimin berhasil menyeimbangkan tubuh memegangi besi perosotan lalu memberikan pose dua jarinya ke arah anak-anak di bawah sana. Wajahnya tersenyum tapi terlihat dia sendiripun hampir jantungan karena takut terjatuh. Lihat, si bodoh dan fans dadakannya.
Aku masih diam merajuk. Entah mengapa aku merajuk. Jimin kemudian tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke telingaku lalu berbisik.
"Khasiatnya ga ada bandingannya. Ini obat sihir ke dua yang ku berikan padamu. Sihir agar selalu sehat"
Jimin menjauhkan wajahnya dan menunjuk wortel di tanganku. Aku tidak bisa tidak merona mendengar ucapannya. Jimin masih mengingat awal pertemuan kami tujuh tahun yang lalu? Sebelum Jimin menyadari wajahku yang memerah, segera aku lempar wortel itu ke wajahnya. "Makan tuh sihir, dasar anjing bodoh". Aku kemudian meluncur ke bawah perosotan, sedangkan Jimin?
Bugh
Jimin kaget dan terjatuh dari perosotan karena kehilangan pegangan.
Saat kakiku menyentuh tanah, aku tertawa terbahak-bahak. Ku lihat Jimin berdiri sambil satu tangannya memegangi pantatnya kesakitan, tangan lainnya memegang wortel yang ku lempar tadi. Untungnya perosotan yang ditujukan untuk anak-anak ini tidak terlalu tinggi, jadi Jimin tidak akan mengalami patah tulang, atau setidaknya begitu yang ku fikir. Jangan lupakan anak-anak yang segera mengerubungi Jimin sambil menanyakan apakah Jimin baik-baik saja. Jimin dengan karisma pemimpin dari pasukan perangnya segera memberikan titah dengan wortel yang diangkatnya seolah sebuah pedang yang tengah dihunus.
"Tangkap kelinci itu!" Anak-anak itu seketika berlari mengejarku. Aku segera berlari menghindari mereka. Masih tertawa dengan kelakuan Sang Raja dan pasukan dadakannya. Jimin pun segera mengikuti pasukannya dan mengejarku.
"Kelihatannya seru. Aku ikutan dong!"
Aku terhenti dan anak-anak itu berhasil menangkapku. Tapi kami hanya diam karena Jimin dengan segera berlari ke arah suara itu.
"Taehyung!" ucap Jimin dengan senyum lebar. Taehyung pun membalas tersenyum.
Itu Taehyung.
Tawa yang tadi menggema sudah hilang. Begitu pun dengan senyumku yang memudar. Kenapa aku merasa kecewa?
Aku melepaskan tangan seorang anak yang masih memegangi lenganku. Ku ambil tasku dari tanah tak jauh dari tempatku berdiri. Setelah itu aku berjalan menuju Jimin dan Taehyung. Aku mengambil wortel yang ada di tangan Jimin tanpa izin lalu dengan sengaja aku berjalan diantara mereka berdua. "Permisi. Aku pulang dulu. Sampai nanti". Akupun pergi tanpa menoleh ke belakang.
Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku.
Mengapa aku merasa bukan Jimin orang yang tak ku kenal melainkan diriku sendiri?
Sejak kapan aku begitu ingin memiliki Jimin untuk diriku sendiri?
Apa?
Aku ingin memiliki Jimin?
Aku berjalan sambil terus memikirkan perasaanku. Saat itu tiba-tiba seseorang menarik lenganku dan akupun menoleh ke arahnya
"Jimin...?"
TBC
Lumayan 2k. Kepanjangan tidak ya xD
Gapapa deh. Karena ff ini niatnya ga bakal lebih dari 5 chapter. 1 atau 2 chapter lg end ya.
Kalo udah end mau buat sequel trus naikin rate nya wkwk sequel dua biji, 1 buat main pair, 1 lg buat slight nya. Sekian spoilernya.
Thanks for reading this shit! This is really my first time writing a full story (i used only write poem). I don't even have a courage to write my own storyline so i remake this comic. hopefully i can finish this till the end and write my own storyline. It may be more darker than this cheesy story.
Last! I don't have confidence as writer so please sorry for any mistakes here and in the future too.
Love, Jmp!
Next chapter
"Kau tidak mengerti perasaanku!"
Karena ini yang pertama kali, aku tidak tahu harus bagaimana.
"Ulurkan tanganmu..."
