Jangan lakukan ini Jimin.

Jangan biarkan aku berharap padamu.

Inspired by Mahou no Kusui by Kamura Yoko

Obat Sihir 4

Sihir Berikan Aku Kekuatan Untuk...

"Jimin...?"

Jimin bodoh. Mengapa dia malah mengejarku. Aku bahkan belum memastikan perasaanku padanya.

Aku membalikkan badanku dan melihat pergelangan tanganku yang tak kunjung dilepas oleh Jimin. Jimin masih terengah.

"Yakk! Anjing bodoh! Susah payah bisa berduaan, kenapa malah kesini?!!

Aku mengangkat tanganku yang tak dipegang oleh Jimin seolah ingin memukul kepalanya. Jimin refleks melepaskan tanganku untuk melindungi kepalanya dari seranganku.

"Barusan Kookie nggak ganggu kok" seru Jimin dengan wajah sedih dan sedikit ketakutan. Aku hanya mendengus kesal. Aku yang terganggu, dasar Park Jimin!. Aku kembali mulai melangkah dan Jimin ikut berjalan di sampingku.

"Ada apa? Kenapa tiba-tiba pulang?".

"Chimmy, sana susul Taehyung. Kesempatan tidak datang dua kali. Lagi pula..."

Aku berhenti dan menatap Jimin. Jimin pun melakukan hal yang sama.

"Kenapa kau begitu lama buat pengakuan, hah? Hal gampang gitu. Kalo ditolak ya udah!".

Aku mengatakannya dengan susah payah. Ku rasakan wajahku memanas dan mataku sedikit berair. Bodoh! Bagaimana jika Jimin merasa aneh dengan ekspresiku?

Aku segera berpaling dan segera berjalan lagi. Mencoba menyembunyikan raut wajahku. Sampai kapan aku harus menghindar dan menyembunyikan ini? Aku bahkan tidak yakin apa yang sebenarnya aku sembunyikan.

Jimin masih diam di tempatnya. Saat aku sudah beberapa langkah di depannya barulah Jimin bersuara.

"Kookie! Aku tidak mengerti! Kalau Kookie terus seperti ini aku tidak akan pernah mengerti!"

Aku berhenti. Kurasakan emosi merayapi tubuhku. Park Jimin, kau tidak punya hak mengacaukan diriku seperti ini. Kau dan perhatianmu yang membuat aku tidak mengerti. Ku uratkan peganganku pada wortel di tanganku. Aku berbalik dan ku lempar wortel ditanganku ke wajah Jimin.

Strike!

Biarlah Jimin si bodoh itu terkena lemparan wortel dua kali hari ini. Jimin dan otak lemotnya itu pantas mendapatkannya. Setelah itu aku berteriak sekencang mungkin.

"Karena kau memang tidak mengerti perasaanku!!!"

Aku pun segera berlari namun aku sempat melihat ke belakang. Ku lihat Jimin tak mengejarku lagi kali ini. Dia membungkuk untuk memungut wortel yang ku lempar tadi.

Lagi-lagi aku bertindak bodoh.

Seharusnya aku tidak terbawa emosi dan membuat Jimin bingung. Apa yang Jimin fikirkan tentang aku? Apa yang akan terjadi dengan hubungan kami setelah ini?

Sepertinya aku baru menyadari perasaanku.

Ku kira aku mengerti Jimin, tapi tidak.

Aku bahkan tidak mengerti diriku sendiri.

Selama ini...

Sejak waktu itu,

saat Jimin memberikan sihir pertamanya padaku,

Aku sudah menyukai Jimin.

Sekarang aku harus bagaimana? Karena ini yang pertama kali, aku tidak tahu harus bagaimana.

Aku sekarang berada di depan pintu kelas kami. Sepanjang perjalanan ke sekolah aku terus memikirkan apa yang harus aku lakukan jika bertemu Jimin. Dan sekarang aku bahkan tidak berani membuka pintu di hadapanku. Ku hela nafas panjang. Mungkin sebaiknya aku membolos saja hari ini. Aku berbalik, dan sial! Aku malah mendapati Jimin berdiri di belakangku. Dia hanya diam. Sepertinya dia sudah berdiri disana cukup lama sepertiku. Ah benar-benar sial. Suasananya buruk. Aku tidak bisa kabur kali ini. Dengan tubuh yang kaku aku pun kembali berbalik dan masuk ke dalam kelas setelah membuka pintu. Jimin mengikuti beberapa langkah di belakangku.

Saat kami masuk, seketika ruang kelas yang sebelumnya gaduh menjadi hening. Aku mengabaikan tatapan teman-temanku sementara Jimin sedang menutup pintu kelas.

"Ada apa? Kok berantemnya aneh?" Jin nyeletuk ditengah keheningan kelas. Aku memberikan tatapan tutup-mulutmu-atau-mati ke arah Jin. Jin hanya nyengir dan mengangkat kedua tangannya tanda meminta ampun. Setelah itu aku terkaget karena Jimin memanggilku

"Kookie".

Aku terperanjat. Ku lihat Jimin mengambil sesuatu dari tasnya. Dia berjalan ke arahku dan menyodorkan kotak penuh dengan berbagai jenis permen.

"Obat sihir ini untuk memperbaiki persahabatan kita. Maaf. Aku tidak mengerti perasaan Kookie".

Aku terperangah.

Selalu

Dan selalu

Jimin dan sihirnya, selalu berhasil menyihirku dan membuatku patuh.

Persahabatan mungkin yang terbaik untuk kami.

"Harusnya aku yang minta maaf. Maaf Chim". Aku mengambil kotak yang berada di tangan Jimin dan kami pun saling tersenyum.

"Wah wah kok panas ya?. Pagi-pagi sudah ada yang pamer kemesraan sih". Dasar Jin!. Mulutnya tidak bisa direm sebentar saja. Jimin juga salah, kenapa juga harus minta maaf sekarang di depan teman-teman. Huhhh. Aku menghela nafas lelah. Sepertinya akhir-akhir ini aku semakin cepat bertambah tua.

"Bukan begitu..."

"Chimmy suka sama Kookie ya?"

Belum sempat menjelaskan, Hoseok memotong ucapan Jimin. Jimin pun gelagapan mendengar pertanyaan Hoseok ditambah kegaduhan di dalam kelas yang makin menjadi-jadi.

"Hosiki, jangan ngomong ngga ngga".

Ku lihat Jimin tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin dia takut melukai perasaan ku lagi. Aku harus meluruskan ini.

"Bukan begitu. Orang yang disukai Cimmy itu TaeTae". Aku terkekeh geli sedangkan kelas semakin riuh dan Jimin sudah memerah dan salah tingkah.

"Ehhhh...''

"Masa sih?"

"Yang benar Chim?"

"Si Taehyung itu?"

Cklek

"Pagi! Ada apa kok ribut-ribut?".

Taehyung masuk ke dalam kelas dengan sebuah senyuman. Seketika kelas hening kembali. Apa Taehyung mendengar ucapan mu tadi? Tapi dilihat dari ekspresi kebingungannya, sepertinya dia tidak dengar. Aku segera melambaikan tangan dan balas menyapa Taehyung dengan semangat.

"Pagi TaeTae!!"

Jimin di sebelah ku makin tak tenang. Saat Taehyung mendekat Jimin segera berteriak dan menarik ku keluar. "Uwaaaaa!".

Aku bisa mendengar suara Taehyung memanggil kami berdua. Di sebelahnya Jin tengah menunggu. Sepertinya Jin tidak sabar ingin menyampaikan kabar heboh yang baru saja ku bocorkan.

Saat dirasa cukup jauh, Jimin akhirnya melepaskanku.

"Kookieee!! Sudah ku bilang jangan bilang sama Taehyung!!"

"Aku ngga bilang di depan Taehyung kok" jawabku acuh sambil hanya memeluk kotak permen di dekapanku.

"Tsk. Sebegitu inginnya lihat aku ditolak Taehyung ya?" Jimin menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Chimmy ga akan ditolak. Yang ditolak itu bukan Chimmy". Aku menghadap ke arah Jimin.

"Sekarang, ulurkan tanganmu". Jimin yang bingung hanya mengikuti perkataanku. Aku membuka kotak permen ditanganku dan mengambil permen di dalamnya acak.

"Aku akan memberikan obat sihir yang bisa mengeluarkan keberanianmu".

Ku jatuhkan permen itu diatas tangan Jimin.

"Jimin, aku menyukaimu. Aku tau aku ditolak, tapi yang terpenting aku sudah mengatakannya. Sekarang pergilah, dan nyatakan perasaanmu".

Aku lihat Jimin sangat terkejut dengan pengakuanku. Aku pun terkejut. Entah dari mana aku mendapatkan keberanian untuk mengatakannya. Mungkin aku benar-benar sudah menyerah pada Jimin. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tegar tetap menatap Jimin dengan penuh keyakinan. Jantungku berdegup kencang, telapak tanganku basah, dan mungkin wajahku sudah seperti tomat busuk. Tapi ada sedikit rasa lega. Aku tidak perlu menyembunyikan perasaan ini lagi. Perasaan yang membuatku bodoh karena tidak bisa berfikir dengan benar.

"Aku akan pergi menemui Taehyung".

Jimin mengeratkan genggaman pada permen di tangannya. Dia berjalan melewatiku. Aku masih berusaha tegar namun ku rasakan sakit yang teramat di dadaku. Aku tidak bisa melihat ini. Aku segera berlari dan berbelok di koridor terdekat. Ku sandarkan bahuku pada dinding dan mencoba menghirup udara sebanyak mungkin. Sesak.

"Kookie! Chimmy!".

Ku dengar suara Taehyung. Oh tidak. Saatnya tiba terlalu cepat. Aku masih belum bisa beranjak saat ku dengar Taehyung berbicara dengan Jimin tak jauh dari tempatku bersembunyi.

"Chimmy, Kookie tidak bersamamu?"

Aku tidak mendengar Jimin menjawab Taehyung.

"Chimmy..."

Suara Taehyung terdengar lagi.

"Taehyung. Dengarkan aku sebentar".

Deg

Sakit

Ini terlalu sakit

Ku kuatkan pijakanku dan segera berlari dari sana. Apapun yang terjadi aku harus menyiapkan hatiku. Aku tidak akan mengecewakan persahabatan ku dengan Jimin.

Ku buka bungkus permen terakhir di dalam kotak yang ku bawa.

Hap..

Yikesss..

Yang ini rasanya asam. Air mataku kembali menetes. Entah karena asam permen ini atau perih hatiku.

Benar-benar nih. Aku sudah gila. Aku sudah menghabiskan waktu berjam-berjam diatas sebuah pohon rindang di belakang sekolah. Sudah ku bilang kan aku suka melihat pemandangan dari tempat tinggi? Angin semilir yang menerpa wajahku mampu menenangkan perasaanku, biasanya. Tidak kali ini. Ku buang asal bungkus permen yang ku pegang.

"Hei! Kalau buang sampah di tong sampah dong!".

Sumpah aku begitu kaget hingga hampir terjatuh karena mendengar suara Jimin. Ku lihat ke bawah dan benar Jimin ada disana memegang bungkus permen yang ku buang tadi.

"Chimmy?!. Kenapa bisa ada disini?"

"Kookie kan biasa nongkrong di tempat tinggi, jadi aku cari kesini"

"Bukan itu Chim. Chimmy ga jadi ngaku ke Taehyung?" ku lihat Jimin mulai memanjat pohon tempatku berada.

"Ohh... Itu.. Aku.. Ditolak" Jimin memanjat sambil menjawab pertanyaanku. Yang benar saja? Taehyung kan juga menyukai Jimin. Kenapa dia menolak Jimin?

"Apa? Tapi foto yang di dalam diari Taehyung itu..."

"Yang itu? Nih aku pinjam dari Taehyung". Jimin mengeluarkan sebuah foto sebelum duduk di sampingku.

"Memang benar ini foto orang yang disukai Taehyung. Tapi ini foto mereka bersama dulu waktu mereka masih SD". Jelas Jimin. Aku mengambil foto itu dari tangan Jimin. "Siapa ya? Sepertinya pernah lihat". Tanyaku pada Jimin.

"Itu si ketua kelas. Dulu mereka tetangga jadi sering main bareng. Dia cinta pertama Taehyung. Bahkan sampai sekarang pun belum berubah" Jimin tersenyum kecut. Tapi tunggu dulu.

"Jangan-jangan nama anjing ini..." aku menunjuk seekor anjing yang berada diantara Taehyung dan Yoongi dalam foto di tanganku.

"Iya Kookie. Kau ingat? Nama anjing Taehyung yang dulu? Namanya juga Chimmy".

"Oh. Jadi anjing betulan ya" aku tertawa hambar. Ternyata aku salah paham. Dan salah paham ku ini karena seekor anjing. Ya Tuhan!.

"Jangan tertawa! Memangnya kalau Chimmy betulan nama anjing kenapa?! Dasar kelinci setan". Jimin mengerucutkan bibirnya

"Aku ngga menertawakan Chimmy kok. Aku fikir Taehyung juga menyukai Chimmy, jadi aku merasa ditolak dan sedih". Aku masih melanjutkan tawa ku yang hambar. Tapi kemudian aku berhenti karena mendengar suara Jimin.

"Sebenarnya aku tidak mau menolak Kookie. Saat sedih, Kookie selalu memandang langit dari tempat tinggi. Aku tahu Kookie sedang sedih, dan aku tidak mau menjadi penyebab kesedihan Kookie. Maaf, aku tidak menyadari perasaan Kookie".

Jimin, jika kau berkata seperti itu...

Aku akan makin suka padamu.

Bagaimana ini...

Padahal beberapa menit yang lalu aku sudah merelakanmu.

"Ah. Sebenarnya tentang pengakuanku waktu itu... aku bohong. Soalnya Chimmy ga mau mengaku ke Taehyung sampai kapanpun, jadi aku kasih semangat seperti itu" aku tertawa sejadi-jadinya sedangkan Jimin hanya bisa cengo sesaat lalu kemudian meneriaki ku.

"Dasar kucing setan! Sia-sia kekhawatiranku!"

Aku meredakan tawaku sebentar. "Jangan marah ya. Kali ini aku akan memberikan obat sihir untuk menyembuhkan kesedihan karena patah hati" aku merogoh saku ku mencari sesuatu. Jimin hanya mendengus kesal sambil mengulurkan tangannya. Ku keluarkan tanganku dan ku dekatkan ke tangan Jimin. Sedetik kemudian aku menggenggam tangannya dan mendekat.

Chu

Aku mencium pipi Jimin. Hanya sekilas, tapi mampu membuat pipi Jimin merona. Jimin sepertinya belum sadar sepenuhnya. Dia hanya menatapku. Dan saat matanya mulai mengerjap-ngerjap lucu, saat itu lah dia berteriak lalu kehilangan keseimbangannya dan-

Bruk

Jatuh ke tanah. Aku melompat untuk mendekati Jimin. Lagi-lagi Jimin beruntung karena tempat dia terjatuh tidak terlalu tinggi. Aku tertawa melihat wajah Jimin yang semakin memerah.

"Anjing bisa jatuh dari pohon juga ya?"

"A... Apa-apaan itu tadi...?"

Jimin tergagap.

"Ciuman ini? Permenku sudah habis, jadi itu saja pengganti obat sihirnya" aku menyentuh pipi Jimin yang tadi aku cium lalu terkekeh. Jarang sekali melihat Jimin benar-benar salah tingkah seperti ini.

"Mana boleh kau mencium orang yang tidak kau sukai" gerutu Jimin. Oh Jimin yang bodoh. Kenapa tidak mengerti juga sih!

"Benar! Sepertinya aku benar-benar menyukai Chimmy kali ini" aku tersenyum serius kepada Jimin. Jimin hanya diam dengan warna merah yang masih kentara di wajahnya. Skak mat.

"Bye, Chimmy!!"

Aku menjulurkan lidah dan meninggalkan Jimin. Biar tahu rasa. Kali ini fikiran Jimin pasti akan dipenuhi dengan diriku. Tidak! Mungkin hatinya juga.

Karena Ciuman tadi...

Adalah obat sihir untuk mendapatkan hatimu,

Park Jimin.

END

Akhirnya selesai. Complete dlm 4 chapter

Thanks yg udh review dan nyempetin baca.

Ditunggu ya sequel dan spin off nya. Untuk spin off nya kalo mau bisa request pairnya, TaeGi or NamJin (Namjin ga terekspos nih di main story Taegi juga blm ketauan ujungnya bakal brsatu apa ga (padahal kookmin jg blm jelas nasibnya ))

Kalo ga ad yg req ya udah sih ya suka2 aja pair yg mana. Toh klo mood sm ad wktu pngen buat spin off dari smua pair. Vote/req by comment.

Spin off 1 (TaeGi)

Hubungan si ketua kelas nerd yang tegas dan wakilnya yg jenius dan populer! Apakah masa lalu mereka akan membantu mereka bersatu atau malah akan menghalangi mereka?

Spin off 2 (NamJin)

Si ratu gosip jatuh cinta! Bagaimana cara mengambil hati pria yang bahkan tak melirik ke arahmu? "Kita lakukan dengan caramu atau caraku?!"

Rate belum ditentukan!

Sequel! (kookmin est rateM )

Chimmy yang nguyel-nguyel sok manis ke semua orang menguji kesabaran Kookie! Kookie dan sihirnya untuk membungkam Chimmy!

Note! Ga tau kapan bisa update Sequel dan spinn off nya! But I'll try my best

Love, Jmp!