Best of Me – Spin off Obat Sihir #TaeGi

Si ketua kelas nerd yang tegas dan wakilnya yang jenius dan populer! Apakah masa lalu mereka akan membantu mereka bersatu atau malah akan menghalangi mereka?

Cast:

Kim Taehyung, Min Yoongi, Park Jimin, Jeon Jungkook, Kim Seokjin. BTS (Naeun Apink, Bang PDNim)

School Life! BL / yaoi ! taegi

All POV is Kim Taehyung POV

Enjoy

Best of Me

Katakan kau mencintaiku

Hanya kata-kata itu yang inginku dengar

"Ck. Min Yoongi. Kemana si sialan itu?!"

Sudah sejam lebih aku berdiri di depan rumah Yoongi dan sekarang langit sudah berubah warna menjadi gelap. Rumahnya kosong! Pasti kali inipun paman dan bibi Min kembali ke Jepang untuk mengurus perusahaan mereka yang bergerak di bidang jasa travelling. Sebentar lagi akhir tahun. Natal dan tahun baru pasti akan membuat mereka kewalahan mengatur jadwal tiket, hotel dan perjalanan yang perusahaan mereka sediakan. Ingin rasanya aku meminta pada bibi Min untuk menyiapkan satu tiket gratis untuk berlibur natal ini. Berendam di onsen (pemandian air panas tradisional Jepan) pasti akan sangat menyegarkan, terutama untuk menghilangkan stress ini. Stress karena putra satu-satunya keluarga Min.

Lagi-lagi ku usap-usapkan kedua telapak tanganku. Dingin. Sarung tangan yang ku gunakan cukup membantu tapi tidak jika harus berdiri di jalanan seperti ini. Angin terus bertiup diantara pepohonan yang kering. Daun-daun kering berguguran diantara kaki ku malah menambah sendu. Ku silangkan kedua tanganku di dada mencoba menahan sapuan angin. Sesaat ku rasakan ponselku berdering.

Min Yoongi is calling…

Ck. Masih hidup ternyata. Malas-malasan aku menjawab panggilannya.

"Taehyung-imnidaaa"

"Kau dimana?"

Aku mengernyitkan dahi. Bukankah aku yang seharusnya menanyakan itu? Hufffttt… Mengapa hidup terasa berat saat aku menghadapi laki-laki ini?

"Yoongi, cepatlah pulang". Tidak perlu basa-basi. Lagi pula aku sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk menghabiskan energi ku hanya untuk marah-marah. Atau aku tidak bisa marah padanya?

"Aku sebentar lagi sampai. Ingat kau harus ke rumahku. Aku sudah menyelesaikan laporan yang diminta pak Bang"

"Min Yoongi pabo! Aku sudah di rumahmu sejak sejam yang lalu! Jika kau tidak berlari kesini kau tidak akan bisa melihatku tapi boneka salju! Lima menit lagi dan aku akan membeku!". Atau mungkin aku sudah bosan marah padanya?

Ku matikan sambungan telepon dengan sepihak. Kesal. Tapi marah pada Min Yoongi bukanlah hal yang tepat. Yoongi itu cuek. Terlalu cuek. Kata-kata kasar hanya akan masuk dan keluar begitu saja dari pendengarannya. Dari pada marah aku akan membuat dia merasa bersalah telah membuat ku menunggu begitu lama. Ku masukkan sarung tanganku ke dalam tas. Dingin terasa makin menusuk, tapi tak apa. Aku mendudukan diri di sebelah pagar rumah Yoongi. Duduk bersila sambil menggosok-gosokan tanganku.

Benar saja. Tak lama Yoongi datang. Tepat sebelum lima menit. Dia berjalan santai. Yang aneh adalah Yoongi hanya mengenakan kaos tipis dan juga jaket parka tipis dengan jeans yang koyak-koyak pada bagian lutut. Apa dia tidak kedinginan?

Aku sudah menatapnya tajam dari kejauhan, tapi yang dipandang? Menoleh saja tidak. Apa minus nya makin bertambah dan kaca matanya sudah tak berfungsi lagi? Aku tetap menatapnya tajam saat dia makin mendekat dan akhirnya melewatiku. Ku lihat dia membuka kunci pagar rumahnya. Setelah terbuka dia masuk begitu saja. Apa aku terlihat seperti boneka salju sekarang sampai-sampai Yoongi mengabaikanku?

"Jangan duduk di depan rumah orang seperti pengemis lama-lama". Ku dengar suara dari dalam pagar. Min Yoongi benar-benar dingin. Bahkan lebih dingin dari pada angin yang berhembus diakhir bulan November. Begitu fikirku sambil mengangguk-agukkan kepala. Aku pun berdiri, masuk lalu menutup pagar . Yoongi sudah membuka pintu rumahnya sekarang, dan dibiarkan terbuka sementara dia melangkah masuk. Aish Min Yoongi. Aku hanya bisa menghela nafas dan buru-buru masuk.

Hangat. Kediaman keluarga Min tidak berubah. Meskpun salah satu penghuninya selalu menyebarkan aura dingin, rumah ini tetaplah hangat seperti dulu. Tapi tunggu dulu. Bukankah Yoongi baru masuk? Apa Yoongi keluar tanpa mematikan penghangat ruangan? Bodoh sekali Min Yoongi itu.

Aku melepas sepatu dan mengganti nya dengan sandal rumah yang tersedia. Lalu aku duduk di sofa setelah melepas jaket yang ku kenakan dan meletakkannya di sampingku. Lama, Yoongi tak kunjung muncul.

"Yoongi, cepatlah!. Aku tidak mau pulang larut. Di luar sangat dingin".

Aku mengambil ponsel dari saku. Berniat bermain game untuk membunuh waktu. Aku memilih-mililh game apa yang kiranya harus aku mainkan, namun belum sempat memilih Yoongi sudah muncul dengan cangkir mengepul di tangannya. Ku letakkan ponsel ku di meja.

"Ck. Aku tidak akan mengambil terlalu lama waktumu yang berharga itu". Setelah meletakkan cangkir di atas meja Yoongi melangkah pergi lagi. Kali ini ku pastikan dia pergi ke kamarnya. Kamar yang sudah lama tak ku masuki. Aku sudah hafal letak tata ruang rumah ini, dan keluarga Min tidak pernah mengubahnya. Hanya saja aku sudah tak bisa leluasa seperti dulu lagi.

Ku lihat kepulan asap dari cangkir yang dibawa Yoongi tadi. Secangkir teh hangat memang yang aku butuhkan sekarang. Setidaknya aliran darahku akan mencair. Ku ambil cangkir itu dan meminumnya pelaln-pelan. Terasa segar saat aliran teh hangat mengalir dari kerongkongan ke dadaku. Aku masih menikmati sensasi hangat teh yang menjalar di tubuhku saat Yoongi kembali dan duduk di sofa di sampingku. Kali ini Yoongi tidak memakai kaca matanya. Penampilan yang akan sangat sulit ditemui jika hanya mengenal Yoongi di sekolah. Kelopak mata tanpa lipatan itu masih sama sepertinya. Yoongi melemparkan sekumpulan kertas yang sudah disampul rapi ke atas meja.

"Daftar siswa yang tidak hadir dan jumlah uang kompensasi bolos sudah ada disana juga. Kau tinggal mengumpulkan surat izin dan mengambil uang kompensasi dari Naeun. Jika ada kesalahan di materi pelajaran perbaiki sendiri. Minta tanda-tangan dari guru-guru. Setelah itu berikan lagi padaku, aku yang akan menyerahkannya pada pak Bang".

Aku hanya menatap Yoongi dalam diam. Sudahkah aku bilang jika Yoongi itu dingin?

Ku ambil laporan dari atas meja. Melihat-lihat sekilas apa saja yang sudah dikerjakan Yoongi. Hmmm jadi aku hanya perlu mengerjakan pekerjaan lapangan karena Yoongi sudah menyelesaikan semua rincian yang perlu dikumpulkan. Apa Yoongi masih kesulitan jika harus berbicara dengan orang lain?

"Oke" ku tutup laporan itu dan meletakkannya di atas meja. Aku kemudian tersenyum pada Yoongi tapi Yoongi masih saja menampilkan wajah datarnya. Sedetik, dua detik, tiga detik. Yoongi menaikkan alisnya seolah mengatakan 'urusan kita sudah selesai, apa lagi yang mau kau lakukan?.' Aku hanya tertawa lalu kembali meraih cangkir yang sempat ku abaikan tadi. Saat aku mulai minum saat itu juga Yoongi bangkit dan berkata "Pulanglah, Tae".

What? Aku hampir saja menyemprotkan teh yang ada di mulutku jika aku tidak segera menutup mulut dengan kedua tanganku. Aku menunggu sejam lebih dan berada di dalam rumah Yoongi kurang dari lima belas menit dan Yoongi sudah mengusirku. Ya tuhan, kenapa Kau ciptakan Min Yoongi dengan wajahnya yang manis tapi sikapnya yang kelewat dingin?

Sejak saat masih di rumah hingga aku sampai di sekolah aku sudah berniat mengerjakan pekerjaan yang diminta Yoongi kemarin. Semakin cepat selesai, akan semakin cepat aku bisa bertemu dengan Yoongi lagi. Tapi aku malah berakhir di ruang klub memasak. Sedang memanggang kue! Kim Seokjin dengan paksa menyeretku bersama dengan Jungkook untuk ikut jadwal klub memasak hari ini. Apa aku bisa memasak? Tentu saja tidak! Aku ini anggota klub sains yang sehari-hari melakukan percobaan mencampurkan berbagai macam senyawa untuk melihat reaksinya, bukannya menambahkan gula dengan tepung dan telur untuk icip-icip manis setelahnya.

Dari yang ku lihat, Seokjin sedang jatuh cinta. Kali ini benar-benar jatuh cinta. Belum pernah aku melihat Seokjin, seorang ratu gosip yang cukup terkenal dan biasa dekat dengan teman laki-laki bahkan biasa dikejar-kejar oleh mereka, malah mengejar seorang laki-laki!. Aku belum tahu siapa laki-laki ini, yang jelas Seokjin sedang tergila-gila. Beginilah akibatnya. Karena Seokjin, aku, Jungkook, dan Jimin berteman sejak SD, jadilah kami menjadi korban terseret dalam jutaan upaya Kim Seokjin untuk mendaptkan laki-laki itu. Tapi kali ini minus Jimin. Dia berhasil kabur dengan alasan kegiatan klub sepak bolanya tidak bisa ditinggal.

Jungkook? Jungkook sih terlihat ikut bersemangat. Sepertinya hanya aku yang terpaksa mengikuti kegiatan aduk-mengaduk dan panggan-memanggang ini. Untungnya Seokjin tidak lepas tangan dan membantuku dan juga Jungkook. Setidaknya aku tidak akan membuat kekacauan.

Saat sudah selesai ku lihat Jungkook membungkus rapi kue yang tadi dibuatnya. Pasti untuk Jimin.

"Itu mau kau berikan pada Jimin?". Ucapku pada Jungkook yang tersenyum sendiri seperti orang gila. Sepertinya melamun. Jungkook terperanjat lalu menoleh kearahku.

"Ya begitulah". Dia terkekeh setelahnya

"Tae, aku duluan ya. Titip Jin". Dia masih terkekeh. Sedangkan aku kebingungan. Dia menitipkan Seokjin padaku? Seokjin bukan anak-anak. Malah dia terlihat seperi emak-emak. Maafkan aku Jin. Jungkook sudah hamper keluar namun dia terlihat ragu. Saat itu terdengar teriakan Seokjin.

"Yak! Aku bukan bayi! Dan Taehyung bukan tempat penitipan bayi!". Kali ini aku akhirnya ikut tertawa bersama Jungkook. Iya Seokjin itu emak-emak dengan kepribadian anak-anak. Sepertina aku akan mengawasi bayi besar setelah ini.

Setelah Jungkook pergi, aku merapikan bukuku dan kue yang sudah ku buat lalu memasukkannya ke dalam tas, belum selesai Seokjin sudah memanggilku. Aku pun segera menghampirinya.

"Tae, lihat. Aku tidak tahu bagaimana, tapi sepertinya aku terlalu banyak membuat kue. Bantu aku!".

"Woah Jin. Ini kue atau hutangku di kafe internet dekat rumahku? Kok numpuk begini?"

Aku hanya geleng-geleng. Seokjin menunjukkan bungkusan-bungkusan kue di atas meja. Seokjin sendiri sudah membuat banyak kue, ditambah oleh anggota klub memasak yang tak henti memberikannya kue karena Jin telah membantu mereka. Bayangkan saja berapa banyak bungkus yang Jin dapatkan. Sepertinya Jin akan membuka toko kue dadakan atau mensedekahkan sebagian kue nya pada orang yang membutuhkan. Fakir cinta mungkin?

Aku tidak tahu harus diapakan kue-kue itu dan Seokjin sama sekali tidak memberikan penjelasan akan kata-kata 'bantu aku' yang tadi diucapkannya. Jujur saja, jika bantu makan, aku tidak kuat. Aku menelan ludah membayangkan kue sebanyak itu masuk ke dalam perutku. Aku suka makanan manis, tapi jika sebanyak ini akan akan berakhir di rumah sakit terdiagnosa penyakit diabetes. Sebenarnya aku sudah diabetes dengan melihat Yoongi setiap hari saja sih.

"Aku akan mengambil kardus. Tae, tolong pisahkan kue yang ku buat dengan kue pemberian anak-anak yang lain. Tunggu ya".

Setelah mengucapkan itu Seokjin pergi begitu saja. Aku mulai memisahkan-misahkan kue diatas meja. Mudah saja, kue buatan Jin adalah yang paling bagus tampilannya. Benar-benar seorang emak-emak. Tak lama ponsel ku bergetar. Ku ambil ponsel dari saku celanaku dan ku lihat Yoongi lah yang meneleponku. Aku segera keluar, tak ingin pembicaraan ku didengar anak-anak yang lain.

"Ya, Yoon".

"Sudah kau kumpulkan tanda tangan guru dan uang kompensasi?"

"Ah itu. Aku belum sempat"

"Selesaikan dan berikan padaku pulang sekolah besok"

Bip

Dan begitu saja pembicaraanku dengan Yoongi berakhir. Aku menghela nafas. Tiba-tiba Jungkook berlari menuju kearahku dan bersembunyi. Tentu aku kaget. Tak lama disusul oleh Jimin. Oh Jimin sudah selesai dengan klubnya dan lagi-lagi mereka sedang bermain kejar-kejaran.

"Bukankah dia seperti anak anjing yang kelelahan berlari Tae?" Jungkook menunjuk Jimin yang masih tersengal. Aku sedikit tertawa menanggapi candaan Jungkook. Sudahkah aku bilang jika Jimin dan Jungkook itu sangat akrab? Mereka sangat mesra dan dengan mudahnya mengungkapkan apa yang ada difikiran mereka. Aku jadi iri.

"Yak!" kali ini Jungkook diam. Baru saja Jimin mengeluarkan teriakan marahnya. Tapi itu malah terdengar lucu karena suara nya yang tinggi. Hanya sebentar lalu Jungkook tertawa terbahak-bahak. Aku hanya menahan tawa. Tak tega membully anjing kesayang kelas kami.

"Dasar anjing bodoh" Jungkook menimpali.

"Kookie! Jangan tertawa! Tae apa kau juga tertawa?!" jimin cemberut lucu.

Dengan senyum aku menjawab Jimin "Kookie dan Chimmy tiap hari selalu gembira ya. Seperti kelinci dan anjing. Selalu bersemangat." Tapi sepertinya ucapanku malah membuat Jimin cemberut.

"Jadi TaeTae juga benar-benar menganggapku seperti anjing ya?"

Jungkook makin tertawa senang.

"Bukan begitu Chim. Kau ingat anak anjing ku yang dulu sempat ku beri nama Chimmy? Anak anjing itu benar-benar terlihat sepertimu makanya aku beri nama Chimmy" Ku lihat Jimin malah ambruk ke lantai. Ada apa? Ada yang salah dengang ucapanku? Bukankah aku hanya menekankan jika Jimin itu sangat imut? Tiba-tiba ku dengar ponselku berbunyi.

"Ah, ini Jin. Aku harus mengangkat ini". Aku pun berjalan menjauh dari mereka lalu menerima panggilan dari Seokjin.

"Ya, Jin?"

"Kau dimana?"

"Kemari bantu aku"

"Sial! Maaf, aku kelupaan. Tunggu sebentar".

Aku pun memasukan ponsel ke sakuku. Sebelumnya aku melihat tasku terbuka. Pasti tadi aku lupa menutupnya saat Jin tiba-tiba memanggilku. Aku melihat ke dalam tas dan tak ku temukan buku diariku. Gawat! Bahaya! SOS! Aku berlari ke ruang klub memasak. Ku lihat diruangan itu hanya ada Seokjin sekarang. Seokjin memanggilku.

"Tae, sini"

Tapi aku mengabaikannya. Aku mencari di beberapa meja tapi tidak menemukan bukuku. Setelah putus asa aku keluar untuk mengecek barangkali aku menjatuhkannya. Aku benar-benar tidak bisa berfikir sekarang dan hanya mengabaikan teriakan Seokjin.

Saat aku kembali ke tempat aku menerima telepon dari Yoongi aku melihat Jimin dan Jungkook memungut buku diariku. Dengan cepat aku merebutnya.

"Te, terima kasih sudah menemukan bukuku". Aku gugup. Bagaimana jika mereka melihat isi diariku? Ya Tuhan. Aku belum siap terekspos apalagi oleh si kelinci ember satu ini.

"Kenapa? Kok Panik? Di dalamnya ada foto orang yang kau sukai ya?"

Fikiranku benar. Jungkook itu ember. Pasti dia sudah melihat diariku. Tapi, untuk apa dia bertanya seperti itu. Harusnya dia sudah tahu jawabannya. Atau….mungkin dia belum lihat dan hanya menebak.

"Bu, bukan! Bukan begitu".

Saat itu sang penyelamatku tiba. Dengan teriakan dari surganya yang melengking.

"Yak! Kim Taehyung yang tampan! Kau meninggalkanku lagi. Eh, kalian ada disini Juga".

Dua orang paling berisik bertemu. Kiamatlah dunia.

"Jinnie! Dari mana saja? Aku sudah rindu". Itu Jungkook. Satu-satunya orang yang bisa menandingi kegilaan Seokjin. Tapi dengan savage nya Seokjin berucap "Dasar! Siapa yang bayi besar sekarang, hah?"

Aku segera memotong pembicaraan mereka yang jika dibiarkan akan merambat kemana-mana.

"Jin! Maaf! Aku hanya sebentar. Ayo kita ambil kue-kuemu sekarang!" aku pun segera menarik tubuh Seokjin dari sana sebelum dia mendengar ucapan Jungkook dan memulai gosip tentang diriku.

"Iya iya Tae. Sabar! Chimmy, nanti coba kue ku ya" teriak Seokjin. Selamat!

Keesokan harinya setelah sampai di sekolah aku segera masuk ke ruang guru dan meminta tanda tangan mereka. Setelah lengkap barulah aku masuk ke kelas. Ku lihat Yoongi melihat ke arahku. Aku santai saja berjalan melewati dia menuju Naeun, misi terakhirku.

"Naeun~… apa kau membawa yang aku minta kemarin?"

"Ah Taehyung. Selamat pagi. Tentu saja. Kau sudah repot-repot mengingatkan ku larut malam bahkan pagi-pagi sekali tadi" Naeun tersenyum riang. Siapa yang tak senang jika sore, tengah malam hingga pagi pun suara orang yang pertama kali didengarnya adalah seorang Taehyung. Jenius, tampan, populer, plus suara beratku pasti membuat wanita ataupun laki-laki merinding. Aku terkekeh geli.

Naeun membuka tasnya dan mengambil amplop dari dalamnya. "Ini". Aku dengan senang menerima amplop itu. Aku bukan tersenyum karena terpesona akan kecantikan Naeun, tapi dengan begini tugasku sudah selesai. Tersisa rapat dengan ketua kelas sepulang sekolah. Ku lirik Yoongi. Wow. Mukanya masam. Ada apa?

Jam pelajaran sudah selesai dan sekarang aku sedang berjalan beriringan dengan Yoongi menuju ruang klub jurnalis. Menurut Yoongi klub jurnalis sedang libur jadi mereka bisa menggunakan ruangan itu. Yoongi tadi sempat menemui pak Bang. Laporannya sudah ditagih, padahal masih padaku. Aku terkekeh. Berbeda dengan Yoongi yang mukanya masih saja masam seperti tadi pagi. Apa dia dimarahi pak Bang? Jungkook juga terlihat berbeda hari ini. Aku harus membujuknya dulu tadi sebelum pergi dengan Yoongi.

Sesampainya di ruang klub jurnalis Yoongi masih diam. Aku diacuhkan. Ucapanku tidak ditanggapi sama sekali.

"Yak! Min Yoongi!. Baca saja sendiri laporannya. Aku lelah menjelaskannya".

Yoongi masih diam namun kali ini dia memandangku.

"Tae…."

"Hmmm"

"Lupakan…."

Aku geram dengan sifat dingin Yoongi, tapi aku tetap tak bisa marah. Ku simpan beberapa buku ku dan ku masukkan ke dalam tas sementara ku ambil buku diariku.

"Yoon… apa kau ingat Chimmy?"

Yoongi mengambil foto yang ku sodorkan padanya. Foto itu adalah fotoku saat masih kecil, juga Yoongi kecil dan seekor anak anjing ditengah-tengahnya. Kami tersenyum riang dalam foto itu.

"Hey, bukankah itu Chimmy?" terlihat senyum Yoongi sedikit mengembang di sisi pipinya. Namun kemudian ada rasa bersalah disana.

"Iya, ini Chimmy".

"Kau tau apa yang membuatku begitu menyayanginya dulu?" Iya, anak anjing ku ini sudah mati. Dan aku sangat sedih saat itu.

"Karena dia imut" jawab Yoongi sekenanya.

Aku menghela nafas panjang. Yoongi dan fikiran praktisnya.

"Saat Chimmy mati, aku kehilangan dua sosok yang berharga dalam hidupku…. Dan aku berharap satu sosok itu masih ingin kembali lagi padaku". Aku menggenggam tangan Yoongi. Tapi Yoongi segera melepaskannya.

"Tae, kau malah membuatku semakin merasa bersalah".

"Yoongi. Itu bukan salahmu. Chimmy mati karena kecelakaan".

"Tapi aku yang mengajak Chimmy jalan-jalan dan kehilangan dia sebelum …. Sebelum mobil itu …." Yoongi menutup wajahnya dan menunduk. Ku coba menyentuh dan mengangkat wajahnya. Air mata mengalir diantara kaca mata Yoongi.

"Yoon. Buka matamu". Aku menatap Yoongi dan berharap Yoongi melakukan hal yang sama. Tapi Yoongi masih terpejam.

"Yoongi. Aku tidak mau kehilangan dirimu. Apa artinya aku bisa melihatmu tapi tidak bisa menyentuhmu?"Yoongi kembali memalingkan wajahnya.

"Tapi kau membenci ku Tae. Kau bahkan pindah dari sebelah rumahku setelah kejadian itu". Yoongi makin terisak. Aku coba menggenggam tangan Yoongi.

"Aku hanya tidak bisa terus tinggal disana Yoon. Terlalu banyak kenangan bersama Chimmy dan itu membuatku sedih. Maaf aku meninggalkanmu saat itu… aku…"

Ku cium punggung tangan Yoongi.

"Aku tahu saat itu kau juga terpuruk. Chimmy yang membuat kita begitu dekat. Chimmy yang hanya mau diajak jalan-jalan oleh Min Yoongi. Chimmy yang membuatku sering tidur dikamarmu, merasakan hangat tubuhmu. Bahkan saat itu tidur dalam pelukanmu adalah keseharian yang tidak mau ku lewatkan".

"Tidak bisakah kita seperti dulu?"

Yoongi masih bergeming.

"Yoon…""Aku sudah berubah Tae". Potong Yoongi. Tangisnya sudah mulai mereda.

"Yoon. Tolong. Aku sudah berusaha menjadi orang yang pantas untukmu. Kau berubah. Aku juga. Aku sekarang sudah dewasa dan tidak akan merengek menyalahkanmu seperti saat Chimmy mati".

"Bahkan… bahkan aku masih mencintai Yoongi yang sekarang. Bukankah itu cukup?"

Yoongi menatap kearahku seakan tak percaya.

"Apa yang barusan kau katakana?"

"Yoon, aku mencintaimu. Mungkin sejak dulu. Sampai sekarang". Aku menatap kedua mata Yoongi yang masih berair. Aku tahu aku bodoh karena baru sekarang aku mengatakan ini pada Yoongi. Aku membiarkan masalah ini berlarut-larut bukannya jujur padanya. Aku dulu memang seorang pecundang. Dan itu menyakiti Yoongi. Yoongi berubah sejak aku pindah. Dia menjadi dingin. Dan itu salah ku. Mungkin kali ini pun aku akan membuat kesalahan dan menyakiti Yoongi. Tapi aku harus menjelaskannya pada Yoongi,

Yoongi berdiri. Mencoba keluar dari ruang klub jurnalis. Tapi aku segera mencegahnya.

"Yoon. Aku tidak perduli lagi perasaanku. Jika kau terganggu lupakan saja. Aku hanya ingin kita bisa berbaikan. Maafkan aku. Aku tidak mau kita kembali ke titik nol lagi" Aku menunduk. Bersiap akan apapun jawaban Yoongi.

Beberapa detik berlalu lalu tiba-tiba kurasakan tangan Yoongi yang dingin menyentuh pipi kanan ku. Aku mengangkat wajahku dan melebarkan mataku saat Yoongi mencium bibirku. Ku kira bibir Yoongi akan terasa manis. Tapi tidak. Ini asin. Oh, aku lupa. Yoongi baru saja menangis. Mungkin ini airmatanya, atau mungkin ini ingusnya? Aku tersenyum geli dalam ciuman kami. Ku raih wajah Yoongi untuk memperdalam ciuman kami. Tak lama setelah kami berdua sama-sama mejauhkan wajah kami, aku menatapnya penuh arti.

"Jadi, kita sudah kembali lagi?"

"Tidak Tae. Aku bukan Min Yoongi yang dulu. Begitupun kau."

"Jadi…?" tanyaku ragu.

"Kita mulai dari awal?"

Aku tersenyum lalu mengusap bibir Yoongi dengan ibu jariku.

"Dasar Yoongi jelek"

"Ini hanya karena aku memakai kaca mata" elak Yoongi

"Coba kita lihat seberapa jelek wajah dibalik kaca mata ini!" aku membuka kaca mata Yoongi. Ku letakkan kacamata itu sembarang. Aku terdiam melihat mata Yoongi. Yoongi tanpa kaca mata bukanlah konsep yang baik untuk kami berdua. Ingatkan aku untuk memastikan Yoongi mengenakan kacamatanya atau aku akan hilang kendali seperti sekarang.

"Emhh… Tae…."

END

Selesai juga dalam oneshoot. Ending Taegi yang berbahagia kenapa ini di post di tempat yang berbeda dari cerita aslinya OBAT SIHIR? Karena ini ratingnya naik ya. Tapi dipisah dibagian bonus di bawah. Jadi kalo merasa terganggu bisa g baca bagian rate M nya. Sedikit jalan cerita juga dimasukin biar ga full nista kekeke

Bonus part no edit. Ga tau bagus apa aga. First time woy bikin ginian. Belum cukup umur jangan baca.

Special req TaeGi by Nanaho Haruka

Review?

Jmp!

Bonus

Best of US

Sudah beberapa hari ini aku melewati hariku bersama Yoongi. Aku menginap di rumah Yoongi beberapa hari selama orang tuanya pergi. Mulai dari membuka mata hingga menutup mata, Yoongilah orang yang ku lilhat. Hari minggu kami memutuskan untuk bersantai saja dirumah. Aku sempat menyarankan untuk pergi keluar pada Yoongi untuk sekedar membeli bahan makanan di supermarket. Tapi ditolak mentah-mentah. Katanya aku hanya modus untuk kencan dengannya, belum lagi Yoongi mengeluh dengan cuaca dingin diluar. Salju sebentar lagi mungkin akan turun. Yoongi tidak tahu kalo candaanya tentang modus kencan itu benar. Kekeke

Sekarang aku bingung harus melakukan apa. Yoongi hanya diam duduk diatas sofa dengan ponsel di tangannya. Aku sendiri sudah menyibukkan diri sejak pagi membersihkan rumah Yoongi. Dan saat semua pekerjaan selesai aku putuskan mengambil air dingin dari kulkas dan duduk di samping Yoongi. Mungkin diluar dingin, tapi tubuhku berkeringat karena tak henti bergerak sedari tadi. Yoongi yang menyadari keberadaanku menjauhkan layar ponselnya dari jangkauan pandanganku membuatku berdecih kesal.

"Yoon…"

"Hmm"

"Lihat apa?"

"Bukan apa-apa".

Hening lagi. Ku letakkan gelas yang ku pegang ke atas meja di depan kami. Selanjutnya ku nyalakan TV untuk mengusir sepi. Ini bukan suasana canggung. Yoongi memang lebih banyak diam dan aku mengerti itu.

"Yoon. Saat orang tuamu tidak ada kau harus hemat. Matikan air, lampu dan penghangat ruangan saat kau keluar" sambil menunggu acara berita siang mulai aku iseng mengatakan hal itu pada Yoongi. Aku hanya tiba-tiba teringat saat beberapa hari yang lalu Yoongi tidak mematikan penghangat ruangannya, padahal dia sedang keluar.

"Aku selalu melakukan itu" jawab Yoongi santai.

"Tapi, kau ingat saat terakhir kita membahas laporan disini? Kau tidak mematikan penghangat ruanganmu".

"Oh itu. Aku hanya berniat pergi sebentar ke toko kue di depan gang".

Aku mengernyitkan dahi. Setahuku Yoongi tidak pernah suka makanan manis. Saat kecil minum susu pun dia malas. Lihat saja tinggi tubuhnya yang tak kunjung bertambah lagi.

"Setahuku kau tidak makan kue Yoon".

"Ck… bodoh. Tentu saja itu untukmu".

"Benarkah?" aku terlonjak, sangat antusias karena mendengar jawaban Yoongi.

"Tapi kau tidak membawa kue saat itu". Aneh sekali.

"Aku sudah membelinya. Tapi aku lupa meninggalkannya dimana".

"Apa? Jadi maksudmu kau keluar dengan pakaian tipis untuk membeli kue tapi kau lupa jadi kau mencari-carinya dan membuatku menunggu sejam lebih di cuaca yang sangat dingin?"

"Kau selalu mementingkan dirimu sendiri Tae".

"Tidak. Bukan begitu maksudku. Saat itu kau memakai celana jeans yang sobek disana sini. Aku mengkhawatirkanmu Yoon. Mungkin aku menggunakan kalimat yang salah"

"Ya, kau dan kalimatmu yang selalu aneh". Aku diam. Memang benar aku terkadang kesulitan merangkai kalimat yang ingin ku sampaikan. Dulu aku sangat berisik dan mengatakan apapun yang aku katakan. Orang-orang mulai mengatai ku alien. Sejak saat itu aku mencoba menjaga ucapan ku yang malah berakhir diriku menjadi lebih pendiam. Mungkin benar diam itu emas.

Aku menatap Yoongi. Meminta penjelasan lebih lanjut. Yoongi akhirnya menyerah karena aktivitasnya terganggu oleh tatapan intensku. Dia meletakkan ponselnya diatas meja sebelum menghadap ke arahku dan mulai berbicara.

"Baiklah. Saat pulang dari toko kue itu aku diikuti seekor anjing. Anjing itu bukan anjing liar karena dia memakai sebuah kalung. Awalnya aku hanya mengabaikannya. Tapi dia terus mengikuti saat aku menyebrang. Aku tidak bisa meninggalkannya. Jadi aku berusaha mencari majikannya. Setelah berhasil aku malah melupakan kue yang sudah ku beli. Kemudian aku buru-buru pulang. Selesai."

Yoongi mengucapkan tiap kalimatnya dengan cepat lalu kembali berfokus pada ponselnya. Aku sampai terkagum-kagum mendengar keahlian bicara Yoongi. Dan ternyata Yoongi tidak berubah dalam satu hal, dia tetap disukai para anjing. Mungkin satu hal lagi. Yoongi tetaplah hangat di dalam hatinya.

Setelah sempat diam untuk menelaah ucapan Yoongi akhirnya aku tersenyum. Menyadari betapa beruntungnya aku bisa memiliki Yoongi lagi kali ini. Ku peluk Yoongi dari samping. Yoongi hanya diam namum mulai merasa risih saat aku mengeratkan pelukanku. Hubungan kami hanya sekedar peluk memeluk selama ini. Bahkan ciumanpun saat diruang klub jurnalis adalah dua-duanya yang pernah kami lakukan. XD

"Tae… Lepas". Aku menulikan telingaku. Terkadang aku berfikir mungkin Yoongi hanya menganggapku sebagai teman. Mungkin saat itu dia hanya terbawa suasana dan menciumku.

Sebuah ide terlintas untuk menggoda Yoongi. Kali ini akan ku pastikan hubungan kami ini apa. Aku melepaskan pelukan ku pada pinggang Yoongi. Namun sejurus kemudian aku mencengkram bahunya lalu menatapnya lamat-lamat. Yoongi berusaha menatap kearah selain mataku secara acak.

"Yoon. Saranghae". Aku berujar mantap. Dan saat itulah akhirnya Yoongi menerima tatapan mataku. Aku melihat kegugupan di mata Yoongi. Yoongi kemudian menggigit bibir bawahnya. Wow. Apakah itu sebuah undangan?

Aku mendekatkan wajahku padanya. Kurasakan hembusan nafas Yoongi yang tak beraturan diwajahku. Yoongi menutup matanya. Tapi usahanya terlalu keras. Sekarang wajahnya benar-benar seperti orang yang ketakutan. Aku jadi tak tega.

"Sudahlah Yoon. Buka matamu".

"Tae…" Yoongi berujar lemah.

"Aku baik-baik saja". Jawabku saat melihat raut mukanya yang khawatir.

"Tidak, aku yang baik-baik saja. Aku sudah menyiapkan diri". Jawab Yoongi Lucu.

"Maksudmu? Aku tidak akan memaksamu Yoon" memang aku menggodanya barusan, tapi aku tidak pernah berniat untuk memaksanya melakukan ini.

"Hmmm…" Yoongi terlihat ragu.

"Kau tahu, sejak hari pertama kau menginap disini aku fikir kau akan melakukan sesuatu. Tapi ternyata setelah hampir seminggu tidak terjadi apa-apa". Lagi-lagi Yoongi berujar cepat. Aku mencoba memahami kata-katanya tapi nihil. Aku tidak mengerti.

"Aku membaca ini" Yoongi menunjukkan layar ponselnya dan disana tertulis 'hal yang akan pacarmu lakukan saat menginap di tempatmu dan cara mengatasinya'.

"Aku… Aku tidak sengaja menemukan artikel ini" lanjut Yoongi malu-malu.

Aku tidak bisa tidak tersenyum simpul. Ternyata Yoongi menantikan hal ini? Aku mau mati rasanya sekarang karena bahagia. Tapi tidak, aku belum mencicipi kekasihku ini. Bahkan setelah aku mencicipinya nanti aku tidak mau mati.

"Ternyata pacarku sedang mengumpulkan teori sebelum praktek" aku terkekeh sementara Yoongi membulatkan matanya.

"Bukan… Bukan begitu…" Yoongi langsung terdiam saat aku mulai memaksa tubuhnya berbaring diatas sofa. Ku ambil ponsel di tangannya dan meletakkannya diatas meja.

"Kau tau apa yang akan aku lakukan sekarang?" godaku melihat Yoongi yang mulai gugup. Yoongi hanya diam sambil menutup matanya. Tubuhnya kaku. Tapi kali ini aku tidak akan mundur, tidak setelah tahu Yoongi juga menginginkan hal ini. Ku cium kedua kelopak mata Yoongi bergantian untuk menghilangkan ketakutannya. Ku belai rambutnya pelan sebelum aku mencium bibirnya yang lembut. Kali ini bibir Yoongi terasa manis. Manis dan kenyal. Aku tak bisa menahan untuk tidak menggigitnya. Ku gigit bibir atas Yoongi pelan sedang tanganku masih mengusap rambut Yoongi lembut.

Ketegangan Yoongi mulai memudar. Matanya masih tertutup tapi tangannya kini mencoba meraih leherku. Yoongi sepertinya sudah terlena dengan ciuman ini. Ku lepas sebentar ciumanku untuk membenarkan posisiku. Tapi Yoongi malah membuka matanya. Saat mata kami bertemu, pipi Yoongi menjadi bersemu. Yoongi kembali menutup matanya.

"Tenanglah Yoon. Aku akan berusaha selembut mungkin".

Kuusapkank ibu jari ku dibibir bawahnya. Mengusap-usap bibir tipis yang basah oleh saliva itu. Yoongi akhirnya membuka mulutnya dan saat itulah aku kembali menciumnya.

"Mmmhhhh… Tae…."

"hmmmm?"

Aku masih berusah selembut mungkin dalam ciuman kali ini. Tapi Yoongi terus menyebut namaku dan tangannya yang berada di leherku terus menekan seolah meminta untuk memperdalam ciuman. Tanpa fikir dua kali lagi aku memasukkan lidahku. Toh Yoongi yang mengundangku dengan terus mendesahkan namaku.

"Tae… hhh… Taeehhh" mengapa tiba-tiba Yoongi menjadi berisik? Apa dia tipe yang berisik saat sex?

Kepala ku bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti tempo yang Yoongi buat. Aku hanya akan mengimbanginya untuk pertama kali kami. Tubuh Yoongi mulai gelisah di bawah sana. Aku terganggu. Lutut Yoongi terus menyentuh 'adik'ku saat bergerak. Sial! Aku mulai berkeringat lagi untuk alasan yang berbeda.

Aku berhenti sejenak untuk melihat ke bawah. Wah Yoongi sudah tegang. Aku bingung harus melakukan apa. Haruskah aku menyelesaikan hasrat Yoongi terlebih dulu atau mengejar hasratku yang baru mulai bergairah? Akhirnya aku memutuskan untuk membantu Yoongi du bawah sana terlebih dahulu.

"Tae… ada apa?" Yoongi bertanya padaku karena aku terdiam cukup lama.

Aku hanya tersenyum pada Yoongi lalu membuka celana pendek yang dikenakannya pelan. Yoongi tidak protes sama sekali. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Yoongi tidak memakai celana dalam disana. Aku meneguk ludah melihat kulit putih Yoongi. Belum lagi kaki Yoongi sangat kurus, seperti kaki wanita. Tanganku seolah bergerak sendiri menyentuh pahanya. Bahkan kulit Yoongi terasa sangat halus. Aku bagai tercandu untuk menyentuhnya. Tanganku yang satu lagi ikut mengusap-usap paha dalam Yoongi. Yoongi merasa geli dan mencoba merapatkan kedua pahanya.

"Tae… geli".

Aku malah menyelipkan tanganku yang besar diantara paha Yoongi. Ku elus-elus sambil sesekali ku remas. Yoongi kembali mendesahkan namaku sedangkan aku mulai menciumi leher Yoongi yang terbuka. Aku hanya mencium. Terlalu saying jika kulit putih Yoongi ternoda.

"Tae..hhh… mhhh". Yoongi itu terlalu sensitive. Satu fakta yang baru ku ketahui. Dimanapun tanganku berada Yoongi akan mendesah.

Lama kelamaan Yoongi tak lagi merapatkan pahanya. Tangannya yang masih setia bergantung dileherku kini turun mencari tanganku. Diarahkannya tanganku pada kejantanannya yang mulai tak sabar meminta pelepasan. Aku sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Yoongi. Benarkah dia adalah Yoongi kekasihnya yang dingin?

"Taehhh…. lebih cepat…" ku rasakan Yoongi sudah siap untuk pelepasan pertamanya. Aku pun semakin mempercepat kocokan tanganku membuat Yoongi menggila.

"Mmmhhhhhh… haaahhhppp"

Ku bungkam mulut Yoongi yang akhirnya mencapai klimaksnya. Aku sudah tidak tahan. 'Adik' ku sudah tegang sejak aku bermain-main dengan paha Yoongi. Aku membuka celanaku dan menurunkannya sampai selutut. Tanganku mengambil sperma Yoongi yang tertumpah di perutnya lalu ku oleskan pada 'adik'ku. Tanganku meraih lubang Yoongi dan langsung ku masukkan jari tengahku kesana. Yoongi menjerit kesakitan dalam ciuman kami. Tapi aku tidak membiarkannya protes.

Aku tahu mungkin Yoongi kesakitan saat ini. Tapi aku hanya remaja dalam masa puncak hormon ku. Ku gerakkan jariku keluar masuk sambil terus mencecap bibir Yoongi. Bisa kurasakan Yoongi masih merasa kesakitan, tapi hasratku benar-benar tak terbendung. Ku keluarkan jariku dan langsung menyiapkan 'adik'ku untuk menembus Yoongi. Aku bahkan menembus Yoongi dengan sekali percobaan kemudian. Ku lepaskan ciuman kami dan mendongakan kepalaku. Merasakan kehangatan yang mengelilingi 'adik'ku sepenuhnya. Yoongi berteriak tertahan.

"ergghhhhhhhhh"

"mmmmmmhhhhh…….. sakit bodoh"

Yoongi mencengkram sofa dengan kuat. Ku lihat aliran airmata diujung mata sipitnya. Oh Yoongi, bersabarlah sedikit lagi. Ini akan menjadi nikmat nanti. Atau setidaknya begitu yang orang bilang.

Aku membungkukan punggungku agar Yoongi bisa meraih tubuhku lagi. Tangannya sudah kembali meremas kaosku. Ku naikkan kedua kaki Yoongi sedikit untuk mempermudah pergerakkan ku nanti. Saat ku rasa Yoongi sudah mulai tenang aku mulai bergerak. Yoongi masih kesakitan. Dia menggigit bibir bawahnya. Ku coba menciumnya untuk sedikit meredakan sakit yang dia rasakan.

Pergerakanku masih konstan. Mencoba menghafal tiap sudut tubuh Yoongi. Yoongi sudah kembali berisik mendesahkan namaku. Meminta lebih, tapi aku masih ingin merasakan sensasi ini. Perasaan putus asa menjemput kenikmatan.

"Taehh… lebih cepat…"

Aku hanya menggigit bibir bawahku. Mencoba memasukkan hingga titik terdalam tanpa memperdulikan tempo.

"Arghhh"

Saat aku menemukan titik itu barulah aku bersiap mempercepat tusukanku.

"Yoon, desahkan namaku"

Aku mulai menggenjot Yoongi dengan kekuatan penuh. Sesekali tanganku meremas bokong Yoongi. Halusnya kulit Yoongi membuat aku lupa diri.

"Ahhh… Tae.. hhhh"

"Ya… terus Tae.. hhhhh"

"Disana…hhh"

Seperti permintaanku Yoongi terus mendesahkan namaku. Tangan Yoongi memompa kejantanannya sendiri seirama dengan tusukanku. Aku tidak bisa memfokuskan diriku selain pada gerakanku dan kenikmatan yang kurasakan di dalam sana.

"Ohhh… Yoonhh… hhhh.. Aku tidak bisa…. Berhentihhh…. Sssshhhh"

Ku cium Yoongi dengan berantakan sebentar lalu berucap tepat di depan bibirnya saat lubang Yoongi makin menghisapku dalam…

"Hmmmmhhh Yoonhhh… nikmathhhh…"

Aku tidak tahu apa lubang Yoongi yang menyempit atau 'adik'ku yang terus mengembang di dalam sana. Tak juga kurasakan klimaks akan sampai. Yoongi saat ini sudah klimaks untuk kedua kalinya. Namun aku tak memberikannya waktu untuk bernafas. Aku terus bergerak.

"Taehhhh….. hhh…. Hhh…. Akuhh.. tidak…tahannh lagihh"

Aku masih tak perduli. Aku mash setia menunggu klimaksku. Masih dengan hujaman yang dalam dan cepat. Kejantanan Yoongi sudah bangun lagi.

"Ahhh… Taehhh sedikit lagiihhh.."

"Bersamahh Yoonhh.." kali ini aku tak akan membiarkan Yoongi klimaks sendiri. Ku lepaskan 'adik'ku dari sana dengan paksa. Yoongi meringis karena ukuran 'adik'ku yang jumbo. Kuangkat tubuh Yoongi dan membuatnya menungging. Tangan Yoongi berusaha sekuat tenaga menjaga keseimbangannya. Dan aku tanpa menunggu lama langsung menusuk lubang Yoongi lagi.

"Arghhhhh… Yoonhhhh"

Kurasakan kali ini aku bisa masuk lebih dalam. Ku pegangi pinggul Yoongi agar tak jatuh. Stamina Yoongi sudah hampir habis. Suara Yoongi teredam di bawah sana hingga hanya suaraku yang bisa ku dengar.

"Mmhhhh… Yoonhhhh… kenapahh lubangmu sangat… enak…."

Sialan. Aku sudah mendekati batasku. Yoongi sudah tiba disana dan mencengkramku dengan kuat.

"Yoongiii….!"

Akhirnya aku sampai. Aku masih memegangi Yoongi sambil menikmati spermaku yang mengalir keluar. Hangat. Berada di dalam Yoongi. Ku cium leher belakang Yoongi yang sedikit tertutupi kaosnya. Suara Yoongi putus-putus. Ku lepaskan tautan kami dan membalik tubuh Yoongi. Yoongi memejamkan matanya.

"Aku bersyukur bisa memilikimu, Yoongi". Ku kecup kening Yoongi.

"Aku tidak". Jawab Yoongi ketus.

"Maaf aku berlebihan Yoon. Tapi kau tetap harus bersyukur. Aku ini populer"

"Cih…"

Aku tertawa mendengar Yoongi mendecih.

"Kau tahu, Jimin bilang menyukaiku kemarin"

Yoongi terlihat terkejut dan menatapku. Wajahnya kembali dingin walapun rona merah sehabis seks masih berada disana. Yoongi berusaha mengabaikan ceritaku. Mungkin dia kira aku berbohong atau mungkin sudah lelah dengan tingkahku yang terus membanggakan diri didepannya? Aku melanjutkan ceritaku meskipun Yoongi tak memperhatikan.

"Tapi aku bilang padanya bahwa aku menyukaimu. Lalu aku memperlihatkan foto kita. Kau tahu apa yang dilakukan Jimin?" tidak ada jawaban.

"Jimin meminjamnya. Mungkin besok akan dikembalikan saat di sekolah". Masih tidak ada jawaban

"Yoon…."

"Yoongi…"

"Aku lelah bodoh"

Aku tertawa mendengar jawaban ketus Yoongi.

"Ah lucunya pacarku. Mungkin lain kali kita pindah ke kamar sebelum mulai" Aku mengangkat tubuh Yoongi untuk membawanya berisitirahay di kamar. Yoongi memukul kepalaku sebelum berpegangan pada leherku.

"Bukan lokasinya, tapi cara bermainnya yang perlu diubah. Sialan!".

Yoongi kesal sedangkan aku hanya bisa tertawa.

REAL END

Ps: ku tak suka naked scene sex.