Yuuma dan Luka saling bergandengan.
Bibir mereka bertemu.
Lama dan tak ada yang mengetahuinya.
…
.
More than Friends, Less than Lovers
[Don't Worry]
.
…
Bel masuk berbunyi dengan nyaring; Yuuma keluar dari bilik kamar mandi dengan wajah gusar. Ia rasanya tak mau masuk kelas. Pasti teman-teman sekelasnya yang perempuan akan menyalahkannya karena membuat Miku terjatuh dan berteriak-teriak seperti kawanan kera. Apalagi anak bernama Luka juga melihatnya. Dan walaupun Yuuma bisa memberi argumen, Luka atau Miku pasti akan mengarang sebuah kisah fiktif baru yang meyakinkan. Persis seperti anak-anak perempuan di sekolah lamanya dulu. Pembohong, selalu berpura-pura menjadi korban di setiap kejadian.
Yuuma menghela napas. Ia berjalan pelan menuju kelasnya. Sedari tadi ia bersembunyi dalam toilet setelah meletakkan tas di meja miliknya. Ia tidak siap jika Miku dan Luka datang lalu mulai membuat suasana gaduh. Ia tidak siap jika harus mendengar semua protes yang membuat telinganya pengang. Ia sama sekali tidak siap harus menghadapi kejadian yang sama di sekolahnya yang lama. Begitu memalukan, ibunya bahkan harus dipanggil ke sekolah dan menerima protes bernada sengit dari ayah si anak perempuan yang ia buat menangis.
Yuuma sekali tak ingin mengalami hal seperti itu lagi. Ia ingin kabur, tapi tidak mungkin ia bersikap pengecut seperti itu. Seberapa pun ia trauma, tak ada kata mundur. Maka, ia langkahkan kakinya meski perutnya mulas minta ampun. Anak laki-laki itu pun sampai di depan kelasnya tak lama kemudian. Ia tak langsung masuk. Yang ia lakukan hanya mematung memandangi pegangan pintu yang berupa ceruk dilapisi logam. Suasana di dalam kelas masih terdengar riuh; wali kelasnya belum datang. Ia pun menggeser pintu, bersiap menghadapi apa yang terjadi. Namun, daripada mendapat cemoohan, ia malah mendapat salam dari teman-temannya.
"Pagi, Akito!"
"Dari mana saja kau, Yuuma? Lama sekali di toilet!"
Yuuma tersenyum kaku. Ia berjalan menuju bangkunya lalu duduk bersamaan dengan datangnya sang wali kelas. Yuuma menunggu Miku atau siapa pun mengadu, namun sampai tiga puluh menit tidak ada yang terjadi. Anak laki-laki itu memutuskan untuk mengintip Miku melalui ujung matanya dan anak perempuan itu sama sekali tidak berubah. Duduknya masih tegap dan terlihat antusias. Kemudian, Yuuma menggeser bola matanya ke arah kiri dan mendapati Luka menatapnya dengan bosan.
Yuuma terkesiap.
Luka menggerakkan bibir seperti mengucapkan sesuatu. Yuuma tak tahu pasti apa yang diucapkan anak perempuan berambut pendek itu. Ia seperti mengatakan 'jangan khawatir', tapi Yuuma tak yakin. Anak laki-laki itu memberi pandangan bertanya; Luka tersenyum misterius lalu membuka mulut.
"Jangan khawatir. Dasar bodoh."
Yuuma kini mendengar Luka berbisik, lembut sekali.
-tobecontinued-
