Title : New Neighbor and Maybe The New Life
Author : Izumi Akita Suzuki a.k.a Ichan
Rated : T
Genre : Romance dan Humor
Fandom : Naruto
Pairing : SasuNaru (Main) , NaruHina and SasuSaku (slight)
Disclaimmer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto, I only have the storyline of this fic ^^
Chapter: IV -Sasuke Tak Bisa Lari Begitu Saja!-
Summarry : Naruto Uzumaki depresi karena kematian kekasihnya dan menganggap semua orang yang memiliki warna rambut dengan sama dengan kekasihnya adalah kekasihnya!
Mood Maker : DELUHI - Hybrid Truth (Ichan baru niat nulis lanjutan bagian ini pas dengeriin lagu ini, ntah kenapa... Sebelumnya sih Ichan manger : | )
Warn : Sho-ai a.k.a BL,MxM,Typo(s),OOC,AU,Abal dan Gaje(las)
Normal's PoV
Sasuke keluar dari kamar mandi dan menautkan alisnya ketika sang blonde sudah tak ada di kamarnya. Sasuke kemudian mengerutkan kening, ah ya! Pasti si bodoh itu tak akan menganggunya kan tadi dia sudah memperingati si blonde yang agak gila itu. Sasuke tersenyum puas. Sementara itu Naruto ternyata kini ada di kamar Kiba.
"Kiba, kau tau kan Hinata-chan sudah kembali? Dia menjadi lebih menarik dari sebelumnya." Kata Naruto curhat pada sahabatnya.
Kiba mengingat tentang Sasuke. Entah kenapa rasanya Kiba ingin menertawai pemuda berambut violet itu. Namun, diurungkannyalah niatan tersebut karena ia juga kasihan pada Sasuke. Kiba bergidik, membayangkan dirinya ada di posisi Sasuke.
"Eh begitu ya?" tanya Kiba –pura –pura polos dia penasaran apa saja yang telah terjadi pada Sasuke-.
"Iya, dia jadi kasar tapi perhatian!Dia bahkan memanggilku Dobe, oh ya dia sekarang juga bisa bermain gitar." Sahut Naruto dengan mata berbinar.
"Oh." Kiba hanya menganggukkan kepalanya mendengarkan cerita dari sang pemilik mata safir.
"Oh ya Kiba, mau temani aku tidak?" tanya Naruto menatap sang karib.
"Err, apa?" tanya Kiba agak takut – takut karena teringat setahun lalu Naruto memintanya untuk menemani diri Naruto ke rumah praktek seorang dukun –dan kejadian itu berakhir dengan si dukun malah naksir Kiba-.
"Temani aku mengikuti Hinata-chan ya! Please, ya ya?" tanya Naruto dengan puppy eyes miliknya.
Kiba mengerutkan kening. Menang apa gunanya mengikuti Sasuke? Memang ada hal menarik apa yang dilakukan seorang Sasuke? Mungkinkah Sasuke akan mangkal di perempatan traffic light? Atau mungkinkah Sasuke akan memulai kerja sambilan sebagai seorang tukang parkir? Kiba akhirnya berusaha melupakan semua pikirannya yang bisa dibilang –ehem- gila tersebut.
"Kenapa mengikutinya? Kau kan bisa menemaninya?" sahut Kiba menoleh pada Naruto.
"Dia tak memperbolehkanku ikut! Makanya aku penasaran, jadi temani ya?" Sekali lagi Naruto melakukan puppy eyes.
Well, cara tersebut tentunya sangat ampuh –apalagi bagi seorang Kiba, yang notabene seorang pecinta anjing-. Kibapun hanya mengangguk menanggapi perkataan Naruto. Sementara itu Sasuke sudah berjalan keluar dari kamar Naruto dan sudah melewati Kiba. Naruto dan Kiba –yang mengintip kepergian Sasuke dari lubang pintu, sepakat bahwa mereka baru akan mengikuti pemuda berambut violet itu ketika pemuda itu sudah keluar apartemen, agar mereka tak dicurigai-. Setelah Sasuke sudah menginjakkan kakinya keluar apartemen. Kiba dan Naruto mengangguk dengan bersamaan dan langsung berjalan keluar apartemen. Sasuke menghela nafas dan melihat denah menuju salon Orochimaru yang dikirimkan kakaknya via e-mail tadi pagi. Naruto dan Kiba hanya bisa saling pandang ketika sang Uchiha masih saja berdiri di pintu apartemen. Sasuke akhirnya mengangguk dan langsung berjalan dengan –uhuk- diikuti oleh Naruto dan Kiba. Sesekali Sasuke merasa aneh karena seperti ada orang yang mengikutinya tapi dia berusaha cuek. Kiba dan Naruto terkadang yang takut ketika Sasuke melakukan gelagat yang aneh akan segera menyembunyikan diri mereka. Terakhir, mereka bersembunyi di balik bak sampah. Hal tersebut membuat mereka sempat berdebat kecil. Hm, bagaimana tidak? Hal tersebut membuat bau badan mereka tak enak dan bahkan Akamaru –anjing setia peliharaan Kiba- sampai berjalan 500 meter di belakang mereka karena tak kuat dengan bau sampah yang telah menempel di tubuh mereka. Seusai acara pembuntutan yang cukup panjang, tibalah mereka di tempat pemberhentian Sasuke. Kiba mengerutkan kening melihat Sasuke memasuki salon Orochimaru yang memang sudah terkenal di Konoha. Naruto memasang ekspresi bahagia dan menoleh pada Kiba.
"Wah! Hinata-chan ke salon, apa yang akan diperbuatnya ya?" kata Naruto.
"Hm, kalau kau masuk. Bisa – bisa kau ketahuan membuntutinya, bagaimana jika aku yang masuk?" sahut Kiba memandang sahabatnya –sebenarnya karena Kiba sendiri penasaran kenapa Sasuke ke salon? Jangan – jangan spekulasinya tentang Sasuke yang mangkal di traffic light itu benar? Maka dari itu dia memutuskan untuk mengetahui apa yang sebenarnya akan diperbuat Sasuke-.
"Eh? Benar juga! Ah ya kalau begini bagaimana, kau masuk dulu kalo nanti kau sudah hampir selesai hubungi aku dan aku akan masuk, Hinata-chan tak akan mencurigaiku kalau begitu!" sahut Naruto dengan penuh semangat.
Kiba mengangguk dan langsung berjalan memasuki salon terbesar di Konoha itu. Dia melihat sekitar dan salon tersebut sangat ramai sekali, salah satu pegawai salon yang berambut putih dan berkacamata menyambutnya.
"Ah ya, apa yang anda perlukan? Aku Kabuto, salah satu pegawai salon ini." Sahut sang pria berkacamata –bermaksud basa – basi-.
"Aku mau potong rambut." Kata Kiba –matanya sesekali melirik ke sekitar guna mencari Sasuke, namun yang ia peroleh nihil-.
Kabuto menganggukkan kepalanya dan segera melakukan pekerjaannya. Ya, dia mulai memangkas rambut Kiba. Sementara itu Sasuke sedang menjalani pengecatan rambut dan benar saja dia memilih warna rambut yang sama dengan kakaknya –entah karena alasan apa, yang terpenting dia bisa bebas dari kegilaan ini-. Sementara itu Naruto masih diluar dengan gelisahnya, menunggu pesan dari Kiba. Naruto benar – benar penasaran kenapa 'Hinata-chan'-nya pergi ke salon. Mungkinkah 'Hinata-chan'nya akan menjadi lelaki cantik? Naruto tersenyum –setengah gila- ketika membayangkan hal itu. Kegelisahan yang di alaminya akhirnya berakhir ketika pesan dari Kiba datang, dengan senyum penuh harapan cerah Naruto memasuki salon itu. Di dalam salon Naruto mencari penampakan sosok Sasuke, namun sama seperti yang di alami Kiba sebelumnya dia tak menemukan sosok itu. Sampai… sosok berambut hitam menabraknya
"Hn, kau mengikutiku Dobe?" kata sang lelaki berambut hitam sambil mengerutkan keningnya.
1…2…3
Pikiran Naruto berusaha mencerna siapa sosok di depannya. Ah ya! Sosok itu memanggilnya Dobe jadi ini 'Hinata-chan'-nya? Ah tunggu dulu tapi kenapa rambutnya berwarna hitam? Naruto mencoba mengingat – ingat lagi, oh benar pasti 'Hinata-chan'-nya ke salon untuk mengganti warna rambutnya! Tapi kenapa?
"Hinata-chan? Itu kau kan?" mata Naruto membelak tak percaya melihat Sasuke.
HELL… Masih saja begitu? Kenapa? Sasuke benar – benar ingin lari dari Konoha! Semua ini membuatnya pusing, bahkan mengganti warna rambutnyapun ternyata percuma. Jadi apa yang bisa Sasuke lakukan sekarang selain merana dan meratap? Mata onyx Sasuke memandang Naruto dan seperti biasa dia berkata dengan datar dan lempeng –sama sekali tanpa ekspresi-
"Aku bukan Hinata-chan-mu itu, Dobe."
"Ha-ah! Percuma kau ganti warna rambutnya Hinata-chan, aku tetap tau itu kau kok!" kata Naruto dengan sedikit menggembungkan pipinya.
Kiba –yang baru saja usai dari proses pemangkasan rambut langsung menghampiri Naruto dan Sasuke-. Sasuke mendelik tajam pada Kiba, pasti Kiba telah menyetujui suatu rencana Naruto yang membuat Sasuke merana. Kiba yang tau delikan tajam dari Sasuke hanya mampu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hn, Dobe tetaplah Dobe." Sahut Sasuke tanpa ekspresi dan meninggalkan Kiba dan Naruto yang masih ada di salon Orochimaru.
Kiba dan Naruto saling pandang. Entah apa yang ada di pikiran mereka. Lalu mereka mengangguk bebarengan –seperti mengerti apa yang ada di pikiran masing – masing dengan cara membaca pandangan satu sama lain-. Sementara itu Sasuke tetap saja merana –walau wajahnya memang selalu lempeng dan tanpa ekspresi-.
'Sial, percuma saja.'
Sasuke terus berjalan, entah kemana. Yang jelas saat ini dia benar – benar malas dipanggil Hinata-chan lagi oleh Naruto. Naruto dan Kiba masih saja mengikuti Sasuke dan benar saja Naruto –yang memang pada dasarnya agak hyper- berteriak memanggil Sasuke dengan sebutan Hinata-chan. Sontak sebagian pejalan kaki yang ada disitu menoleh dan memandang heran Sasuke. HELL… sosok seperti Sasuke wanita? Beberapa wanita yang shock mendengar kata – kata Naruto langsung patah hati. Sasuke lagi – lagi memperoleh empat siku – siku di keningnya. Inilah alasan kenapa dia tak mau keluar dengan Naruto! Sasuke dengan cepat menuju ke Naruto dan memandang si blonde tersebut.
"Kau menyebalkan, Dobe." Kata Sasuke –masih tanpa ekspresi tentunya-.
Sementara sebagian shock sebagian pejalan kaki yang lain, tepatnya yang merupakan –uhuk- fujoshi memperdebat soal siapa seme – uke di antara mereka. Para fujoshi itu yakin bahwa Sasuke adalah seme dari Naruto, hanya saja Naruto sedang menggoda semenya. Ah, ayolah! Dengan wajah setampan itu masakah Sasuke seorang uke, dimata para fujoshi yang sedang berjalan itu tak mungkin, lagipula di mata mereka Naruto adalah –uhuk- lelaki manis.
"Ah, Hinata-chan lebih menyebalkan!" sahut sang pemilik mata safir.
Lagi – lagi fujoshi yang ada di jalan berdebat.
"Mungkin mereka sedang melakukan roleplay!" kata seseorang di antara rombongan fujoshi itu.
"Bukan, bukan pasti Hinata-chan itu mantan pacar si blonde dan menyebabkan si blonde miring!" kata seseorang yang lain sambil melintaskan jarinya miring di kening.
"Hih, bukan dia itu memang suka membuat emosi semenya!" kata fujoshi yang lain.
"Ish, kalian semua salah! Pasti Hinata-chan itu panggilan kesayanganan untuk si seme karena dia tak mau identitasnya sebagai seorang uke terungkap, makanya dia panggil semenya pakai kata 'chan'!" sahut fujoshi yang lain lagi.
Sementara para fujoshi yang –uhuk- agak gila itu berdebat. Sasuke dan Naruto hanya saling pandang, kemudian secara sengaja –camkan itu! Secara sengaja!- Sasuke mencium Naruto. Naruto membelakkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan Sasuke.
'Jangan sampai mereka mengira aku wanita.' Batin Sasuke yang merasa horror jika dirinya dianggap wanita.
Para fujoshi hanya mampu membelakkan mata dan membuka mulut mereka tak percaya dengan apa yang mereka lagi dengan Kiba, ia hanya menautkan alis melihat Sasuke dan Naruto yang sedang berciuman. Apakah otak Sasuke sudah mengalami korsleting arus pendek? Entahlah, tapi pemandangan sukses membuat para wanita –yang tadi mengira Sasuke seorang wanita- sadar, dan bersyukur kalau Sasuke ternyata seorang laki – laki-, namun kini mereka patah hati tau kalau ternyata Sasuke tidaklah lurus. Sementara itu para fujoshi kembali berdebat tak jelas.
"Sial, aku tak bawa kamera!" salah seorang fujoshi memasang wajah cemberut.
"Wah semenya romantis ya! Bungkam mulutnya langsung pake mulut sendiri!" kata fujoshi lain sambil mengangguk – anggukkan kepala.
"Eh, eh bentar kok kayaknya kenal ya sama muka semenya, mirip aktor!" sahut fujoshi lain –yang malah gak nyambung-.
"OH YA! MIRIP SAMA ITACHI YA KAN?" sambung seorang fujoshi lain yang menanggapi pertanyaan fujoshi tadi.
"Iya, oh ya Itachi kan bilang dia memang punya satu adik." Kata fujoshi lain –yang ikut nyerocos-.
Sasuke –yang mendengar para fujoshi memperbincangkan soal kakaknya- langsung melepas ciumannya dari Naruto. Naruto melihat Sasuke dengan pandangan penuh tanda tanya.
"Eh ya, Hinata-chan kok kamu jadi tampan ya sejak ganti warna rambut? Mungkin sekarang aku harus panggil kamu Hinata-kun." Kata Naruto dengan polosnya.
Untuk ketiga kalinya dalam sehari kembali terukir empat siku – siku di kening Sasuke. Bagaimanapun, nama Hinata tetap nama wanita! Sementara itu para fujoshi tukang gossip melihat Sasuke dan Naruto dengan kecewa karena pemandang indah di depan mata mereka telah lenyap tapi pandangan mereka langsung cerah karena mengetahui salah satu teman mereka berhasil memotret momen antara Sasuke dan Naruto.
"WUAAAH! Kalau beneran seme-nya itu adiknya Itachi bakal rame nih!" kata seseorang fujoshi yang udah ngikik –kayak Kuntilanak- pas lihat itu foto.
"Oh ya! Kirim fansmail aja ke Itachi! Biar Itachi tau kalau adiknya dah bengkok!" kata salah satu fujoshi dengan senyum bak malaikat pencabut nyawa.
"Atau jangan – jangan ini skandal? Bukannya Itachi dulu pernah bilang ya, kalau adiknya udah tunangan sama anak dari seorang pengusaha?" salah satu fujoshi lainnya menyambung pembicaraan.
"Udah, udah nanti kirim fansmail aja ke Itachi! Terus kita tanyaiin deh apa aja yang udah terjadi sama adiknya!" sahut fujoshi lain berusaha menengahi debat para fujoshi.
Semua fujoshi disitu menganggukkan kepala mereka, tanda setuju. Sasuke, Naruto maupun Kiba tak mendengar debat terakhir para fujoshi itu, karena mereka sudah berjalan kembali ke apartemen. Sasuke hanya mampu menghela nafas saat perjalanannya pulang bersama Naruto dan Kiba –karena dia tau jiwanya akan tetap merana walaupun dia sudah mengganti warna rambutnya-. Ketika sampai di apartemen, mereka kembali ke kamar masing – masing. Naruto tersenyum pada Sasuke
"Eh, ya Hinata-kun! Nanti malam mampir lagi ya ke kamarku!" kata Naruto yang langsung berlari masuk ke kamarnya.
Tetap di panggil dengan sebutan Hinata. Sasuke benar – benar jengah, apa sih yang bisa membebaskan dia dari kegilaan ini? Akankah ada bidadari ataupun malaikat dari surga yang datang dan membantunya untuk menyelesaikan semua kegilaan ini? Entahlah, Sasuke sendiri tak tau. Sasuke memilih masuk ke dalam kamar apartemenya dan beristirahat sejenak disana. Setidaknya, dia tenang tanpa mendengar suara Naruto yang memanggilnya dengan sebutan Hinata.
=TBC=
A/N : Yoho~ UAS finally is over wuahahah X"D Ichan seneng. Bahahhaa ini udah kejawab kan yang pada mau tau gimana reaksi Naruto begitu Sasuke berubah warna rambut? :p Buat yang request sweet moment SasuNaru ntar bakal ada kok kalau udah waktunya ini sih belum saat yang tepat buat mereka romantis – romantisan yang wongan Naruto masih nganggep Sasuke Hinata :p hehehe sekali lagi Ichan mau ngucapiin big Thanks buat yg udah setia ngikutiin fanfic ini dan memberikan reviewnya! Ehehhe, monggo ya di review
