Title : New Neighbor and Maybe The New Life

Author : Izumi Akita Suzuki a.k.a Ichan

Rated : T

Genre : Romance dan author sendiri masih bingung ^^v

Fandom : Naruto

Pairing : SasuNaru (Main) , NaruHina and SasuSaku (slight)

Disclaimmer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto, I only have the storyline of this fic ^^

Chapter: V - Sasuke Ikut Gila!-

Summarry : Naruto Uzumaki depresi karena kematian kekasihnya dan menganggap semua orang yang memiliki warna rambut dengan sama dengan kekasihnya adalah kekasihnya!

Mood Maker : LUNA SEA - Symphonic Reboot (Album) dan modem Ichan yang akhirnya bisa ngeakses semua situs yang tadinya ke-blockir (termasuk ffn sama vimeo X"D)

Warn : Sho-ai a.k.a BL,MxM,Typo(s),OOC,AU,Abal dan Gaje(las)

Normal's PoV

Sasuke menghela nafas di kamarnya, berpikir akan segela sesuatu yang terjadi sejak dia berpindah kesini. Ya, dia jadi setengah –uhuk- gila karena tetangga blonde-nya itu. Sasuke kadang berpikir untuk menjadi sama gila-nya dengan Naruto. Namun, dia selalu saja mengurungkan niatannya itu karena dia merasa masih waras. Sasuke menghempaskan dirinya di kasurnya, dengan banyak hal berkecamuk di kepalanya. Memiliki kehidupan baru ternyata tak semenyenangkan yang dia bayangkan. Sasuke kembali berpikir akan hal yang seharusnya dia lakukan pada Naruto, tapi sekali lagi dia tak yakin dengan pikirannya sendiri. Mata onyxnya menerawang ke langit – langit kamarnya, lalu tak lama kemudian sosok pemuda yang kini berambut hitam itu memejamkan matanya. Namun, memang dasar dewi fortuna tak pernah ada di pihak Sasuke

"HINATA-KUN!" suara teriakan nan cempreng yang dikenali Sasuke terdengar diiringi dengan suara orang yang sepertinya ingin mendobrak pintu.

Sasuke –dengan setengah terpaksa- membuka matanya yang tadi telah terpenjam. Dengan segera sang pemuda Uchiha membukakan pintu dan lagi lagi empat siku – siku muncul di keningnya karena pemandangan yang tampak di depannya adalah Naruto dengan senyum –sok- polos dan menggaruk – garuk belakang kepalanya –er padahal diketahui knop pintu kamar Sasuke rusak karena ulah Naruto-.

"Masuklah Dobe." Kata Sasuke dengan wajah datarnya walaupun dalam hati dia menahan emosi yang sangat besar.

Naruto masuk ke dalam kamar apartemen Sasuke dan langsung duduk di sofa. Sasuke hanya memasang wajah lempengnya dan kembali merebahkan diri di kasur serta memejamkan matanya –mencoba meneruskan tidurnya yang terganggu karena kemunculan Naruto-. Sementara itu Naruto hanya mengerutkan kening melihat perilaku Sasuke –yang sepertinya benar – benar mengacuhkannya-.

"Hinata-kun, maafkan aku atas knop pintu kamar apartemenmu. Aku benar – benar tak sengaja." Kata Naruto dengan suara melasnya.

"Hn, kau berisik. Aku mau istirahat dulu." Sahut Sasuke yang masih saja berusaha tertidur.

Naruto mendengus ketika mengetahui bahwa Sasuke berusaha tertidur. Diapun segera mendekati sosok pemilik mata onyx itu dan kemudian Naruto mengambil langkah untuk berusaha mencium Sasuke. Ketika bibir Naruto hampir sampai di bibir Sasuke…

"NARUTO! ADA DISKON DI RESTORAN ICHIRAKU." Suara Kiba yang akhirnya menoleh lalu menjadi kaku setelah melihat pemandangan yang ada dan melanjutkan omongan sendiri…

"EH!EH AKU TAK LIHAT!SILAHKAN LANJUTKAN!"

Setelah mengucapkan kata itu Kiba langsung lari menjauh dari kamar Sasuke. Sasuke yang mendengar jeritan Kiba langsung membuka matanya dan mengerutkan kening ketika Naruto sudah ada di depannya.

"Hn, apa maumu Dobe?" Sasuke memandang horror Naruto.

"Ehehhehe, Hanya membangungkanmu kok!" kata Naruto sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal.

Sasuke menghela nafas panjang. Tak tau berapa lama lagi dia harus mengalami semua penderitaan ini. Tangan putih pucatnya menyingkirkan tangan Naruto dari belakang kepala Naruto sendiri. Kemudian Sasuke mengadah ke atas.

"Dengar Dobe, sampai kesabaranku padamu habis. Aku akan memanggilmu dengan sebutan yang lebih parah ketimbng Dobe." Sahut Sasuke dengan nada cuek.

Naruto mengerutkan kening –dia bingung dengan apa yang dimaksud oleh Sasuke-. Kemudian dia hanya menatap sang onyx dan mengangkt bahunya. Sementara Sasuke hanya menyeringai dalam hati dengan rencana yang dimilikinya.

"Hn, kau memanglah Dobe." Sahut Sasuke yang masih berdiri di samping Naruto dengan santainya.

"Oh ya Hinata-kun, kau kan tadi dengar Kiba bilang ada diskon besar di Ichiraku, temani aku kesana ya!" kata Naruto dengan cengiran andalannya.

"Hn." Sasuke kemudian langsung menuju ke kamar mandinya.

"Oh ya! Aku juga mandi dulu ya aku nanti kesini lagi!" balas Naruto yang langsung berlari menuju ke kamar apartemennya.

Sasuke yang sedang mandipun menghela nafas, tak tau penderitaan apa lagi yang akan di alami oleh dirinya.

Sementara itu para fujoshi yang kemarin memergoki Naruto dan Sasuke….

"Hey, gimana? Udah dikirim belum?" tanya salah satu dari mereka.

"Belum tuh, Ame mah lemot!" balas salah satu yang lain.

"Ish, ini lagi coba. Gagal melulu tau sinyalnya jelek sih." Kata salah seorang dari mereka yang ternyata bernama Ame itu.

"Gantih gih nomernya, pake nomer gue noh!" kata salah satu yang lain lagi.

"Isshi! Makasih banget!" timpal Ame yang nyengir – nyengir gak jelas.

Setelah itu mereka mengirim hasil jepretan nista SasuNaru yang mereka dapatkan dari peristiwa kemarin. Ame and the gangpun tersenyum iblis. Tak sabar mengetahui apa balasan yang akan mereka terima dari Itachi.

Jadi, sekarang mari kita kembali ke Sasuke dan Naruto, kini mereka sedang berjalan ke Ichiraku bak –uhuk- pasangan yang baru saja jadian. Walau yang kelihatan bahagia hanya Naruto karena yah, Sasuke masih saja merana.

"Hinata-kun, aku mau boneka itu ya ya, please." Kata Naruto sembari menunjuk – nunjuk boneka rubah yang ada di etalase sebuah took.

"Hn." Sahut Sasuke yang langsung masuk ke took boneka itu.

"Wah, kalian pacaran ya? Kalian sangat cocok lho!" kata salah satu pelayan toko tersenyum –dan agak terkikik- ketika melihat Sasuke dan Naruto.

Setelah perkataan pelayan toko itu lagi – lagi empat siku – siku muncul di kening sang Uchiha –entah untuk yang keberapa kali- . Sementara itu Naruto hanya tertawa kaku karena dia –uhuk- grogi. Setelah mereka membeli boneka rubah itupun, mereka langsung melanjutkan jalan menuju Ichiraku.

"Eheheh Hinata-kun, terimakasih ya!" kata Naruto –nyengir sekenanya-.

"Hn, oh ya aku akan menepati omonganku tadi." Sahut Sasuke dengan wajah lempengnya yang membuat Naruto mengerutkan kening –bingung dengan apa maksud Sasuke-.

"HAH? OMONGAN APA?" Jawab Naruto yang kemudian langsung memasang wajah cengo.

"Hn, memanggilmu dengan sebutan yang akan lebih menyebalkan ketimbang Dobe." Sahut Sasuke datar tanpa nada dan ekspresi.

Naruto –entah kenapa- tiba – tiba merasa bulu kuduknya berdiri, memang apa panggilan yang akan diberikan 'Hinata'-nya itu sih? Apakah itu semacam panggilan menggunakan nama hewan? Atau jangan – jangan 'Hinata'-nya akan memanggilnya dengan Orochimaru-san? Mengingat katanya Orochimaru suka menggunakan guna – guna untuk semua lelaki yang menarik. Err, itu memang kemungkinan terburuk tapi bisa saja terjadi kan? Lagipula kemarin 'Hinata'-nya pergi ke salon yang konon katanya megah namun menyimpan banyak sisi mistis itu.

"Err, memang panggilan apa yang akan Hinata-kun berikan padaku?" tanya Naruto dengan wajah polosnya.

"Sakura." Sahut Sasuke santai dengan ekspresi lempengnya.

Oh ya… kalian tak salah dengar! Sasuke mempraktekkan segala kegilaan yang muncul di kepalanya. Kalian tau kan prinsip minus dikali minus sama dengan plus? Kelihatannya itu yang akan dipraktekkan Sasuke. Jika orang –uhuk- gila berkumpul dengan orang –uhuk- gila lainnya maka mungkin keduanya jadi waras. Sementara itu Naruto memandang Sasuke dengan tatapan tak percaya. HELL! Berarti selama ini Hinata-nya yang versi laki – laki sudah pernah pacaran dengan wanita? Lalu dirinya hanya untuk pelampiasan begitu? Tega sekali 'Hinata'-nya ini!

"Hinata-kun, kau tega sekali!" teriak Naruto –agak liar- sembari mulai sesenggukkan.

Sontak saja semua pejalan kaki melihat ke arah mereka. Mereka mengangguk – anggukkan kepala mereka masing – masing seolah mengerti apa yang terjadi di antara Sasuke dan Naruto. Sebagian dari gang Ame ternyata juga ada disitu.

"Semenya balas menggoda! Hahaha, mereka imut ya." Kata salah satu dari mereka sembari terkikik keras.

"Mereka kan laki – laki terus saling panggil menggunakan nama perempuan, jangan – jangan mereka transgender!" salah satu dari mereka kembali menyahut.

"Ah jangan parno! Mereka itu Cuma bercanda kali!" sahut salah satu dari mereka yang lain lagi.

"Oh ya, Ame sama yang lain udah sukses kirim fansmail belum ke Itachi?" salah satu dari mereka ikut masuk dalam pembicaraan.

"Biar kita tau, makanya cepet pulang ke markas! Nontoniin merekanya besok lagi aja!" kata salah satu dari mereka –berusaha menengahi perdebatan-.

Sasuke yang merasa dirinya dilirik setiap orang dan dianggap sebagai kekasih yang tega langsung merasa merana lagi dalam batin. Niatannya kan hanya balas dendam tapi kenapa malah jadi begini? Namun, Sasuke akan tetap teguh di jalannya dan baru akan memanggil Naruto dengan nama aslinya ketika pemuda pirang itu juga memanggilnya dengan sebutan Sasuke.

"Lihatlah Sakura, kau membuat perhatian mereka teralih ke arah kita." Kata Sasuke dengan wajah datar nan lempengnya.

"Hinata-kun, sebenarnya siapa Sakura? Dan kenapa kau tega sekali?" kata Naruto yang masih sesenggukan.

"Dengar, aku akan memanggilmu begitu terus sampai kau memanggilku dengan namaku." Sahut Sasuke –masih tanpa ekspresi-.

"HAH? Kau kan Hinata, aku sudah benar kan? Kenapa kau masih protes?" kata Narutop sembari menggembungkan pipinya.

"Kalau begitu. Kau juga Sakura, kenapa kau protes?" tanya Sasuke dengan pandangan –agak- sinis pada Naruto.

Naruto mendengus dan membatin, dia benar – benar bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mata safirnya memandang lurus mata onyx Sasuke kemudian menghela nafas.

"Jikalau yang ada di pikiranmu hanya Sakura, aku tak mau menyusahkanmu lagi!" kata Naruto.

Sasuke menghela nafas. Sebenarnya apa salahnya? Ia tak tau kenapa dia harus selalu jadi yang merana. Sasuke mengangkat bahunya cuek dan tak memperdulikan omongan Sasuke.

Akhirnya perjalanan Sasuke dan Naruto berlanjut dalam diam. Tak ada satupun dari mereka yang mau bicara lebih dulu pada masing – masing namun Naruto yang memang pada dasarnya berisik akhirnya menyerah.

"Hinata-kun? Kau marah ya? Maafkan aku." Kata Naruto dengan suara melas –andalannya-.

"Hn." Sahut Sasuke masih dengan cuek dan tanpa ekspresi.

"Ayolah! Kumohon, baiklah! Kau panggil aku apa saja aku terima!" sahut Naruto.

Senyum iblis terukir dalam batin sang Uchiha. Akhirnya, dia dan Naruto bersatu dalam suatu hal yang dinamakan kegilaan. Menganggap satu sama lain adalah bagian dari masa lalu mereka yang telah sirna dan tak mungkin kembali. Ya, memang Sasuke melakukan cara yang salah, tapi setidaknya dengan menganggap Naruto sebagai Sakura bisa sedikit mengurangi luka yang sudah terlanjur tergores dalam di hatinya bukan?

"Hn, Baiklah, Sakura." Sahut Sasuke.

Naruto sendiri menganggap dirinya mulai gila. Bagaimana tidak secara tiba – tiba 'Hinata'-nya menyebut namanya dengan sebutan Sakura, memang siapa sih Sakura? Ah ya! Naruto tau siapa Sakura, Sakura adalah orang yang telah merebut cinta 'Hinata' darinya. Ah atau mungkinkah Sakura adalah orang dari masa lalu 'Hinata' setelah dirinya? Naruto menggeleng karena kepalanya pusing dengan segala kemungkinan yang ada.

"Ha-ah, aku heran sebenarnya siapa itu Sakura, Hinata-kun." Kata naruto yang tak kuat dengan segala kemungkinan tentang Sakura yang terus berkecamuk di kepalanya.

'Suatu saat Dobe, kau akan tau.' Batin Sasuke.

Mengatakan kejujuran kadang menyakitkan bukan? Apalagi bagi orang yang sudah sakit seperti Naruto, tentu saja dia hanya akan menganggap kejujuran itu sebagai lelucon. Yah, Sasuke tau itu. Kini ia membiarkan rasa sakit dalam hatinya pudar dengan sakit dalam otaknya. Menjadi seperti Naruto mungkin menyenangkan bukan? Kau tak pernah salah karena kau memang sakit. Pikiran itulah yang terus terlintas di kepala Sasuke. Yah, walau begitu dia tak benar – benar sakit. Jadi, ini semua hanya untuk menetupi hatinya yang terluka.

"Itu dirimu sendiri." Sahut Sasuke cuek dan masih dengan wajah tanpa ekspresinya.

Naruto benar – benar heran, apakah seorang Sakura adalah gambaran dirinya di kehidupan sebelumnya? Mungkinkah? Pikiran yang memusingkan kepala kembali terlintas di otak sang Uzumaki. Namun, yah Naruto berusaha menghentikan semua itu. Karena ia tau, pasti cepat atau lambat 'Hinata'-nya akan bercerita soal siapa itu Sakura.

Sasukepun mengukir senyum dalam hati. Ia tau alasan Naruto mempercayainya sebagai sesosok Hinata hanyalah karena warna rambut aslinya. Dan kini Sasuke menganggap Naruto sebagai Sakura dengan alasan kepribadian Naruto mirip dengan sang masa lalu dari Sasuke. Sasuke mengadahkan kepalanya ke atas dan memandang langit yang penuh dengan bintang kemudian menghela nafas.

"Aku mencintaimu, Sakura." Bisik Sasuke –agak pelan, namun bisa didengarkan oleh Naruto-.

"Akupun juga, Hinata-kun." Sahut Naruto.

Sebuah Ironi bukan? Ketika kedua manusia yang sama – sama kehilangan bagian diri mereka dari masa lalu mengungkapkan cinta mereka kepada orang lain yang mereka anggap adalah bagian dari masa lalu itu. Mereka mungkin masih akan begini –entah berapa lama- Namun, mungkin secara lambat mereka akan sadar bahwa diri mereka akan berjalan maju dari masa lalu, menuju masa depan yang lebih cerah.

=TBC=

A/N : Yow update agak molor hahhaa so sorry. Entah kenapa ide baru ada. Dan buat rombongan fujoshi Ichan persilahkan para reader berimajinasi soal penampakan mereka. Huahhaa ad aide bikin fanfic lain lagi tapi Ichan mau ngelariin ini dulu… Oh ya gimana chapter ini? Agak aneh ya? Hahha Ichan sih ngerasanya gitu ._.)v. Eh ya terus butuh saran enaknya munculiin Itachi yang nerima fansmail dari para fujoshi itu chapter depan atau depannya lagi? Please ya Ichan bingung T_T . Lalu terimakasih buat pengikut setia ini fanfic dan para pereview! Oh ya mangga di review juga ya!