Title : New Neighbor and Maybe The New Life
Author : Izumi Akita Suzuki a.k.a Ichan
Rated : T
Genre : Romance dan author sendiri masih bingung ^^v
Fandom : Naruto
Pairing : SasuNaru (Main) , NaruHina and SasuSaku (slight)
Disclaimmer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto, I only have the storyline of this fic ^^
Chapter: I
Summarry : Naruto Uzumaki depresi karena kematian kekasihnya dan menganggap semua orang yang memiliki warna rambut dengan sama dengan kekasihnya adalah kekasihnya!
Warn : Sho-ai a.k.a BL,MxM,Typo(s),OOC,AU,Abal dan Gaje(las)
Normal's PoV
Sasuke dan Narutopun memasuki Restoran Ichiraku. Mata mereka saling pandang, Sasuke rasa prinsip minus dikali minus sama dengan plus gagal ia terapkan. Jadi, dia memutuskan untuk kembali ke awal.
"Dobe, kau tak pesan makanan?" mata onyx Sasuke memandng lurus mata safir milik Naruto.
"Lho? Kau tak pesan?" mata safir Naruto memandang heran pada Sasuke.
"Aku tidak suka ramen." Jabar Sasuke singkat.
Naruto hanya mengangguk dan kemudian memesan ramen pada pelayan yang ada. Sementara itu sosok dengan jacket yang menutupi wajahnya menatap Sasuke dan Naruto tajam –terutama Sasuke-, Ya, walau wajahnya tertutupi jacket tapi sebagian dari rambut merah sosok tersebut terlihat. Naruto dan Sasuke sih tidak – setidaknya belum- menyadari jikalau ada sesosok yang menatap mereka dengan tatapan intens nan bengis.
Sosok berambut merah itu masih saja menatap Sasuke dan Naruto –seolah dirinya mempunyai suatu amarah yang amat besar, terutama pada sosok Sasuke-. Sementara Sasuke dan Naruto hanya saling tatap –entah apa maksudnya-. Menunggu memang membosankan –setidaknya begitulah kata sebagian orang dan termasuk Naruto.
"Eh, Hinata-kun aku bosan." Kata Naruto dengan ekspresi malas.
"Hn, aku juga, Dobe." Sahut Sasuke.
"Kau ada permainan menarik?" tanya Naruto memandang Sasuke meragukan.
"Hn, kurasa tidak." Sahut Sasuke malas.
"Ah ya Hinata-kun tahu permainan ToD-kan?" Naruto menganggukkan kepalanya antusias.
Sasuke menggeleng. Yah, tau bagaimana orang dia orang yang hampir mendekati kata anti-sosial. Sasuke kan sangat jarang bergaul dengan orang sekitarnya. Hanya akan bicara seperlunya dan bahkan Sasuke lebih menikmati jika pergi kemana – mana sendirian.
"HAH? Kau tak tau?" tanya Naruto yang hampir melongo.
Sasuke mengerutkan keningnya. Memang dasar pemuda di depannya ini seorang Dobe. Kan tadi Sasuke sudah menggeleng, berarti dia tak tau. Jadi kenapa pemuda di depannya bertanya balik? Harusnya kan kalau pemuda blonde itu –uhuk- sedikit pintar,dia langsung menjelaskan tentang permainan –yang menurut Sasuke absurd- bernama ToD itu.
"Dobe memanglah Dobe. Aku tadi sudah bilang aku tak tau." Kata Sasuke tajam.
Naruto hanya manggut – manggut seolah mencari penjelasan yang tepat. Kemudian Naruto mengeluarkan cengiran khasnya.
"ToD itu singkatan dari Truth or Dare." Kata Naruto santai.
Hah? SI Dobe berpikir begitu lama hanya untuk menjelaskan singkatan dari ToD dan tidak sama sekali member penjelasan soal cara bermainnya? Entah kenapa Sasuke ingin memasang facepalm tapi sekali lagi ia mengurungkan niatnya itu karena dia tau itu akan menjatuhkan martabatnya dan dia tidak akan terkesan cool lagi. Daripada tanya si Dobe lebih baik Sasuke berpikir sendiri soal tata cara main permainan absurd itu, Ah ya pasti disuruh memilih antara tantangan dan kebenaran.
"Jadi kau sudah paham kan Hinata-kun?" tanya Naruto.
Sasuke hanya mengangguk.
"Baiklah, kau duluan. Truth or Dare?" tanya Naaruto.
"Hn, Truth." Balas Sasuke.
"Ehm, hal terbodoh yang pernah kau lakukan?" Naruto memandang mata Sasuke –yang masih saja ia anggap Hinata dengan intens-.
Sasuke mengerutkan keningnya. Kemudian dia menatap sosok Naruto. Ha-ah, Sasuke akan berbohong. Lagipula Naruto tak akan tau, dan dirinya juga tak mau melukai Naruto.
"Meninggalkan orang yang kucintai." Sahut Sasuke.
"Baiklah sekarang giliranku! Aku pilih Dare." Kata Naruto dengan antusias.
Sasuke menyeringai dalam hatinya. Inilah kesempatan untuk menyingkirkan panggilan dari Naruto yang tak manusiawi itu. Rencana licik mulai terukir di batinnya.
"Hn,Panggil aku Sasuke untuk 3 hari saja." Sahut Sasuke santai.
"Ha? Kenapa?" tanya Naruto yang langsung menautkan alisnya –karena bingung-.
"Hanya ingin saja Dobe, dan jangan berikan imbuhan apa – apa." Sahut Sasuke dengan nada dinginnya.
"Er, Sasuke?" tanya Naruto –ragu – ragu-.
Sasuke mengukir senyum dalam hatinya karena berhasil membuat Naruto memanggilnya dengan nama aslinya. Ya walau hanya akan terjadi selama 3 hari sih. Tapi setidaknya itu akan membuatnya sedikit lega.
"Hn, bagus." Sahut Sasuke.
"Sekarang giliranmu kan? Kau mau pilih apa?" tanya Naruto mengerutkan keningnya.
"Dare." Sahut Sasuke –ia penasaran memang jika dirinya memilih tantangan, apakah gerangan tantangan yang diberikan oleh Naruto-.
"Katakan bahwa kau mencintaiku di depan semua orang yang ada disini." Kata Naruto dengan sebuah seringaian jahil.
Sasuke menelan ludahnya, apa yang harus dia lakukan kalau begini? Berteriak? Tidak, tidak mungkin itu sangatlah bukan dirinya. Sasuke kembali berpikir cara elegan apa yang harus ia lakukan. Ah ya di Restoran ini sering ada live band kan? Ah ya nantilah dia temui orang di belakang sana. Meminta tolong, setidaknya itu elegan.
"Dobe, aku ke belakang dulu." Kata Sasuke.
Naruto hanya menganggukkan kepalanya. Ah 'Hinata'-nya yang ingin sekali dipanggil Sasuke itu tidak menjawab tantangannya. Kenapa memang? Kalau sampai 'Hinata'-nya tak memenuhi tntangannya tersebut, maka jangan harap bahwa dia akan memanggil 'Hinata'-nya dengan sebutan Sasuke.
Sasuke sudah kembali dari kamar mandi dan Naruto sudah mendapatkan ramennya. Kini Naruto sedang makan.
"Hn, Dobe makanmu diperlambat sedikit bisa?" tanya Sasuke yang agak shock melihat Naruto bisa makan dengan begitu cepatnya.
"Kenapa? Oh yak au belum menjawab Dare-ku!" sahut Naruto dengan mengembungkan pipinya.
Sasuke hanya tersenyum tipis menanggapi hal itu. Sementara Naruto menautkan kedua alisnya –saking bingungnya dengan maksud pemuda di depannya-.
"Seijaku no yoru o koete
Wakachiaeru mono ga aru
Dakara ima te o sashinobe
Kago no naka o mitsumeteru"
Suara lembut tampak menyapa telinga semua pengujung Ichiraku. Lagu berjudul 'The Beautiful Name' milik A9 mengalun di restoran itu. Ya, sebuah band memulai penampilannya. Sasuke tersenyum dalam hatinya. Ha-ah Sasuke tahu pasti ini akan menarik. Lagu itu terus mengalun dalam syahdu. Semua orang tampaknya menikmati lagu itu, termasuk Naruto.
Lagu itu terus berlanjut sampai pada akhirnya sang vokalis mengucapkan beberapa patah kata.
"Lagu ini tadi dipesan oleh Sasuke untuk Naruto. Ah ya, Sasuke bilang dia ingin jadi pacar Naruto karena dia sangat mencintainya!." Kata vokalis band tersebut –Yamanaka Ino, yang merupakan seorang fujoshi- sambil terkikik dalam hatinya.
Sasuke shock dengan kalimat yang di katakana sang vokalis band. Perasaan tadi, dia hanya ingin mengatakan bahwa dia mencintai Naruto untuk memenuhi dare yang diberikan pemuda blonde tersebut.
"He? Hinata-ku eh Sasuke benarkah?" tanya Naruto yang memandang Sasuke penuh harap.
Sasuke menghela nafas. Mencoba tidak ada salahnya bukan? Mungkin inilah saat yang tepat untuk melangkah dari kisah lamanya dan bergerak ke kisah baru. Dan kalaupun bisa, mungkin juga kan, dia menyembuhkan naruto dari trauma masa lalunya. Sasuke menghela nafas dan kemudian mengangguk.
"Hn, Dobe." Sahut Sasuke.
Naruto memasang wajah ceria nan bahagianya. Ah ya, 3 hari memanggil sosok di depannya dengan nama Sasuke? Memang siapa sih Sasuke? Jelas – jelas baginya pemuda di depannya adalah 'Hinata' yang sudah di make-over oleh keluarga Hyuuga.
Sementara itu pria berambut merah yang tadi ada di Restoran Ichiraku sudah sampai di suatu tempat.
"Wajahmu, kusut sekali apa yang terjadi?" tanya Itachi –yang kini berdiri tepat di hadapan pria itu-.
"Menurutmu? Oh yeah kau pasti belum membuka fansmail-mu." Kata sang pria berambut merah dengan nada sarkastik.
"fansmail apa?" Itachi mengerutkan keningnya bingung.
"Adikmu memang brengsek." Sang pria berambut merah menatap Itachi dan mengucapkan kalimatnya sambil mendnegus.
"Wah, wah kau tau darimana, Uzumaki Kyuubi?" Itachi kembali menatap sosok di depannya bingung.
"Maknya cek fansmail-mu itu bodoh!" kata Kyuubi tak terima.
"Disana ada café, sebaiknya kita kesana." Kata Itachi yang yang langsung menuju ke café yang tadi ditunjukna.
Seusai mereka berdua di café tersebut.
"Jadi fansmail mana yang bermasalah, asisten?" kata Itachi memandang Kyuubi atau asistennya dalam mengurusi segara e-mail dari fans.
"Cari saja sendiri." Sahut Kyuubi ketus.
Itachi menautkan alisnya. Memang apa sih yang dilakukan adiknya sampai asistennya ngamuk – ngamuk tak jelas mirip orang PMS begini? Itachi mengeluarkan notebooknya dan segera membuka fansmail. Itachi mengerutkan kening, bagaimana caranya mencari fansmail yang bermasalah itu kalau yang tau malah tak memberitahunya, lagipula fansmail yang diterimanya begitu banyak.
"Kyuu, katakanlah." Itachi mendengus karena bingung mencari fansmail yang dimaksud Kyuubi.
"Nama pengirimnya Ame, harusnya kau tau itu soal adikmu kalau kau membacanya dengan serius." Sahut Kyuubi memandang Itachi sinis.
Itachi kembali menyusuri fansmail itu satu – persatu. Dan Gotcha! Dia mendapatkan fansmail atas nama Ame dengan judul "Adik laki – lakimu Putus dengan kekasihnya ya?". Itachi mengerutkan kening, ah ya interview terakhirnya ketika membahas adik laki – lakinya alias Sasuke adalah beberapa tahun lalu saat Sasuke masih dengan Sakura.
"Apa yang salah?" Itachi kembali bingung.
"Lihat isinya dulu!" kata Kyuubi yang sepertinya memang sewot pada fansmail itu.
Itachi membelakkan matanya. Kemudian menghela nafas dalam. Adiknya sudah miring? MANA MIRINGNYA DENGAN ADIK ASISTENNYA LAGI! Duh, dunia pasti akan kiamat.
"Adikmu memang brengsekkan?" kata Kyuubi yang kemudian kembali mendengus kesal.
Itachi menghela nafas. Pantas saja asistennya sampai begitu, ternyata. Itachi kemudian menggelen. Apa yang harus dia lakukan?
Baiklah daripada melihat kerusuhan yang tak jelas antara Itachi dan Kyuubi mari kita kembali ke pemeran utama kita.
"Jadi Hinata-kun eh maksudku Sasuke apa yang kita lakukan setelah ini?" Naruto memandangi Sasuke dengan intens.
"Hn, aku tak tau Dobe." Sahut Sasuke.
~TBC~
A/N : Dah molor hasilnya singkat lagi duh Ichan bingung, pikiran mampet padahal dah selesai UAS : | hahaha so sorry chapter ini sangat sangat mengecewakan. Tapi tetep ya silahkan di review!
