Title : New Neighbor and Maybe The New Life

Author : Izumi Akita Suzuki a.k.a Ichan

Rated : T

Genre : Romance dan author sendiri masih bingung ^^v

Fandom : Naruto

Pairing : SasuNaru (Main) , NaruHina and SasuSaku (slight)

Disclaimmer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto, I only have the storyline of this fic ^^

Chapter: VII

Summarry : Naruto Uzumaki depresi karena kematian kekasihnya dan menganggap semua orang yang memiliki warna rambut dengan sama dengan kekasihnya adalah kekasihnya!

Warn : Sho-ai a.k.a BL,MxM,Typo(s),OOC,AU,Abal dan Gaje(las)

Normal's PoV

Sasuke kini setidaknya sudah agak tidak merana karena Naruto per malam kemarin sudah tidak menyebut dirinya sebagai Hinata. Ya, tapi ketenangan itu tak akan berlangsung lama karena sebentar lagi akan muncul cobaan baru dalam kehidupan Sasuke.

Ponsel Sasuke berbunyi dan Sasuke melirik malas ponselnya. Sebenarnya tokoh utama kita yang sering terkena siksaan malas mengangkat telefon tapi karena dia melihat nama kakaknya yang tertera disana, maka ia langsung mengangkatnya.

"Aniki?"

Sebenarnya Sasuke heran kenapa kakak tercintanya itu secara tiba – tiba menelponnya. Bagaimanapun Itachi termasuk orang yang jarang menelfon dan lebih suka datang langsung ke tempat Sasuke tanpa memberitahu.

"Ah adik laki – lakiku tersayang, kau punya waktu?" tanya suara di sebrang.

"Untuk apa?"

Sasuke kembali mengerutkan keningnya. Memang masalah sepenting apa yang akan dibahas kakak tercintanya itu? Benar – benar mencurigakan. Sasukepun merasakan bahwa perasaannya tak enak.

"Kau tau kita perlu bicara face to face." Sahut Itachi dengan nada serius.

"Asisten galakmu itu tak akan ikut kau yakin?"

Sasuke kembali dibuat Itachi bingung, memangnya masalah sepenting apa sih yang akan dibahas. Sampai – sampai menghubunginya dulu.

"Ikut. Baiklah terserah kau kalau menghendaki ditemani oleh temanmu." Kata Itachi dengan penekanan pada kata teman.

Sasuke semakin mengerutkan kening. Memang siksaan apa lagi yang akan dialaminya? Kenapa Itachi sampai seperti itu?

"Hn, jam berapa?"

"Siang ini juga di café langgangan kita." Sahut Itachi dengan santai.

"Okay, bye." Balas Sasuke.

Sasuke menghela nafas panjang. Ternyata penderitaannya tidak akan berakhir walaupun Naruto sudah memanggilnya sebagai Sasuke. Dan…

"SASUUUUKEEEEEEEE!"

Naruto nyelonong masuk ke kamar Sasuke. Sasuke yang sedang bersiap menuju kamar mandipun membatalkan niatnya. Sasuke menatap pemuda blonde di depannya dengan tatapan agak sinis. Narutopun memasang wajah cemberut.

'Cobaan apa lagi ini?' rutuk Sasuke dalam hatinya.

"Dobe, dengar Aniki memanggilku." Sahut Sasuke menghela nafas dan memandang Naruto lagi.

"Aniki?"

Naruto tampak mengerutkan keningnya. Hell, siapa itu Aniki? Walau kini dia memanggil Sasuke sebagai Sasuke tetap saja baginya Sasuke adalah Hinata. Seingat Naruto, Hinata tak pernah menyebut – nyebut nama Aniki.

"Kakakku, Uchiha Itachi." Sahut Sasuke santai.

"Jadi kau akan tega meninggalkanku sendirian begitu? Ah kau kejam!" Kata Naruto dengan mengembungkan pipinya.

Sasuke menatap pemuda blonde di depannya itu. Lagi – lagi rasa kasihan membuatnya tak tega pada pemuda pirang dengan nasib yang mirip dengannya. Ah benar – benar hidup ini menyusahkan. Sasuke memandang malas pemuda pirang di depannya itu.

"Hn, kau ikut. Sana mandi." Kata Sasuke dengan berbagai pertimbangan.

Ah ya tadi kan kakaknya itu mengijinkan dia mengajak seseorang? Huh, sepertinya berhadapan dengan pemuda pirang stress di depannya ini bisa membuatnya amnesia. Sasuke mengalihkan diri dari pikirannya dan memandangi pemuda dobe di depannya itu.

"Err ya Sasuke, Aniki-mu galak tidak? Galak mana sama Kyuu-nii?" tanya Naruto dengan santainya.

Empat siku – siku kembali terlahir indah di kening Sasuke. Kyu-nii siapa? Memangnya dia dukun apa, yang bisa tau apa saja? Sasuke menghela nafas panjang dan menatap pemuda di depannya.

"Dobe, kau tak pernah cerita soal Kyuu-nii atau apalah itu." Sahut Sasuke dengan memijat pelipisnya karena dia kembali dibuat pusing.

"Huh?"

Naruto menampakan wajah heran. Ah ya Sasuke lupa! Naruto kan masih menganggap dirinya adalah Hinata, dan sekarang Naruto memanggilnya Sasuke hanya karena permainan ToD yang mereka lakukan di Ichiraku kemarin. Haah! Nasib sial memang setia mendampingimu Sasuke!

"Kyuu-nii, siapa dia?" Sasuke kali ini bertanya dengan nada mengintrogasi.

Kalaupun Kyuu-nii atau siapalah itu adalah kakak Naruto maka Sasuke bersumpah akan memakinya bahkan membunuhnya karena dia telah meninggalkan adiknya yang depresi begitu saja. Aniki-nya saja yangwalaupun sibuk tak pernah mengacuhkannya sampai begini.

"Err dia kakakku tapi…" Ujar Naruto dengan menggangtung.

"Dobe, kalau bicara yang benar." Kata Sasuke dengan nada menusuk.

"Dia berandalan kabur dari rumah sejak kelas 3 SMA." Balas Naruto menerawang ke langit – langit.

Sasuke menghela nafas mendengar penuturan si pirng. Dia rasa dia tak jadi memaki maupun membunuh kakak Naruto karena kakak Naruto memang sudah lama tak bertemu dengan Naruto. Jadi bisa disimpulkan bahwa kakak Naruto –yang katanya galak itu- tak mengetahui insiden soal Hinata.

"Oh." Jawab Sasuke dengan enteng.

Naruto hanya balas mengangguk dan kemudian menampakan kesedihannya. Naruto tahu dia merindukan kakaknya tapi dia tak pernah tahu harus mencari kakaknya tersebut kemana. Belum habis dukanya karena kakaknya yang kabur dari rumah, 3 bulan kemudian orang tuanya meninggal. Ah, Narutopun menangis dalam diam. Sasuke menyadari bahwa si pirang menangis karena bulir air mata dari safirnya turun secara perlahan lalu dengan inisiatifnya sendiri Sasuke memeluk Naruto.

"Dobe, kau jangan menangis." Sahut Sasuke berusaha memenangkan pemuda yang sepertinya sedang larut dalam kesedihan itu.

Naruto mengangguk di tengah isakannya.

"Ya!" balas Naruto dengan senyum yang kini terukir di bibirnya.

Sasuke hanya dapat tersenyum melihat wajah manis Naruto tersebut. Diapun mulai menghela nafas mengingat janjinya dengan Itachi. Waktunya tinggal satu jam lagi dan seingatnya untuk ke café langgangan Itachi memerlukan waktu sekitar 20 menit.

"Dobe, sana mandi. Aku tak mau kena semprot Aniki." Sahut Sasuke dengan ekspresi lempengnya –walaupun dalam batin ia merasakan aura mengerikan kalau sampai dia telat-.

Naruto hanya mengangguk dan meninggalkan Sasuke. Sasuke langsung berjalan ke kamar mandi dengan pikiran yang agak terganggu. Ya ribuan tanda tanya melintas di kepalanya karena kakaknya ini biasanya hanya minta bertemu saat ada hal yang benar – benar penting dan terakhir kali mereka bertemu adalah saat pengurusan akan kepindahan Sasuke ke apartemen ini. Sasuke menghela nafas panjang pada saat mandi. Dia benar – benar penasaran sebenarnya apa yang ada di pikiran kakaknya itu sampai repot – repot menyuruhnya menemui kakaknya tersebut.

Naruto dalam kamar mandinya juga diam dalam hening. Banyak pikiran yang kini bersarang di kepalanya. Kepergian Kyuubi dari kediaman Uzumaki, kematian kedua orang tuanya dan kematian Hinata. Untuk hal terakhir entah kenapa dia masih tak bisa percaya bahwa Hinata sudah tiada, dalam otaknya sudah terukir bahwa Hinata masih hidup tapi Sasuke benar – benar tak memiliki semua sifat Hinata. Kini Naruto malah bingung, mungkinkah selama ini dia hanya terjebak dalam ilusi yang ada di pikirannya sendiri? Entahlah dia masih tak yakin dan dia akan menunggu waktu memberikan jawaban pada dirinya.

Akhirnya setelah kedua pemuda itu selesai dengan urusan mereka masing – masing dan sudah bersiap kini mereka ada di depan pintu apartemen tersebut.

"Jadi Sasuke bagaimana cara kita kesana?" tanya Naruto memandang Sasuke.

"Bus Kota." Sahut Sasuke cuek.

Naruto hanya mengangguk – angguk dan mulai mengikuti langkah Sasuke.

Sementara itu Itachi dan Kyuubi sudah ada di café.

"Hhhh, akan kuhabisi adikmu nanti." Kata Kyuubi mendengus kesal.

Bagaimana tidak kesal, adik laki – laki –ya Kyuubi menegaskan kata laki – laki disini- semata wayangnya telah jadi korban pelecehan! Mana yang melecehkan adik dari –uhuk- manusia keriputan di depannya yang notabene memang ingin dia bejek – bejek sejak jaman dahulu tapi tidak pernah kesampaian itu.

"Jangan habisi dia Kyuu, dia adikku satu – satunya. Mau hidup dengan siapa aku kalau dia mati?" kata Itachi dengan sangat mendramatisi.

Kyuubi memandang ngeri lelaki yang duduk di depannya itu. Lalu memalingkan wajahnya karena dia merasa malu bersama Itachi yang kata orang – orang extra cool ini –Udin Gambut-pun kalah coeg!-.

Itachi memandang Kyuubi dengan agak mencondongkan kepalanya –agaknya dia bingung dengan tingkah sang asisten-.

"Kyuu? Kau sehat?"

Kyuubi kembali menoleh dan mengangguk malas.

"Jadi mana adikmu yang brengsek itu?" Kyuubi mendesis karena dia merasa sudah menunggu terlalu lama.

Kembali kepada dua aktor utama kita yang ternyata dari tadi masih saja berdiri di halte. Ya, daritadi bus yang lewat selalu penuh dan yah mereka tak mungkin mau berada dalam tempat yang pengap.

"Dobe, ayo jalan saja." Kata Sasuke menarik tangan Naruto.

Naruto hanya mengangguk dan kembali mengikuti langkah Sasuke. Naruto selama dalam perjalanan hanya memilih diam karena dia masih saja merasa bingung. Apa yang akan Sasuke lakukan saat bertemu dengan Aniki-nya? Apakah Sasuke akan mengenalkan Naruto sebagai calon adik iparnya? Atau semacamnya? Ehem, yang ada dipikiran Naruto sih begitu tapi hal itu tetaplah tidak mungkin karena setelah ini mereka akan bertemu bencana besar!

"Dobe, kenapa diam saja?" Sasuke memandang si pirang –tampaknya dia mulai bosan-.

"Ehm, Sasuke memang apa yang akan Aniki-mu lakukan pada kita?" tanya Naruto langsung to the point

Empat siku – siku langsung terukir lagi di jidat Sasuke. Kenapa pemuda blonde di sebelahnya ini bisa tanya langsung to the point tanpa basa – basi. Apakah ini akibat sedikit kegilaan yang dia alami? Sasuke kembali bergelut dengan pikirannya sendiri –walau wajahnya masih saja lempeng seperti biasanya-.

"Hn, tak tau Dobe." Kata Sasuke dengan dingin.

"Oh, kukira kau mau melamarku." Kata Naruto dengan tingkat kepercayaan diri tinggi.

Sasuke benar – benar ingin melakukan facepalm sekarang! Tapi sekali lagi hal itu sangat tidak etis karena dirinya menyandang nama Uchiha. Nama keluarga yang terkenal elit di Konoha. Melamar Naruto? HECK! Pacaran saja baru sehari –itupun karena ulah seorang vokalis di Restoran Ichiraku!-. Sasuke menarik nafas dalam dan memandang Naruto.

"Hn, tidak, itu terlalu cepat." Sahut Sasuke.

"Uh? Jadi suatu saat kau akan melamarku?" kata Naruto dengan polosnya.

Untuk kedua kalinya pada hari ini dan entah untuk keberapa kalinya sejak ia bertemu dengan Naruto, empat siku – siku terukir lagi di jidat pria dingin dan lempeng itu. Sasuke kembali menarik nafas dalam – dalam. Tak ingin pemud blonde itu sakit hati Sasuke memilih diam seribu bahasa.

Kyuubi dan Itachi menatap dua siluet mendekat kea rah mereka, dan mereka yakin siluet itu adalah adik – adik mereka. Kyuubi sudah mengepalkan tangannya dan bersiap menghajar Sasuke dan Itachi hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan asistennya itu

A/N : Haloo, akhirnya lanjut juga ini fic setelah 1,5 bulan belum dilanjutiin maafin Ichan ya *sungkem*. Hehehe gimana lanjutannya memuaskankah? Pokoknya Ichan selalu setia menunggu review! ^^