"New Life And New War"

-0-0-0-0-

AUTHOR: KARASUMARU.666

FB: 3 atas nama Harru Ka Salamander

Disclaimer : Naruto dan Hight School DXD, Bukan punya saya tapi

:Masashi Kishimoto

: Ichiei Ishibumiuncak.

Warning: AU,gaje,abal,typo,dan alur nyeleneh. Melenceng dari canon,ooc,oc dll.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Summary: Naruto yangg telah menyegel chakra Madara,Obito,dan Juubi didalam tubuhnya. Akhirnya mencapai pada ambang batasnya,bukanya mati tapi ia malah terkirim ke dimensi lain dengan kondisi yang berbeda jauh,;

"GLORIA"

Chapter 9 : Konflik Si Red Hair.

Aura pekat yang mengerikan menguar dari aula tengah kediaman keluarga Gremory, tekanan energi sekelas Ultimate devil tersebut suksees membuat dua iblis muda berbeda marga yang berada disitu seakan akan sedang ditekan mesin pres ratusan ton. Aura yang berisi kemarahan dan Nafsu membunuh itu tercipta saat Sona dan Rias telah selesai menceritakan kejadian dua malam yang lalu{penyerangan Kokabiel} kepada iblis kelas atas yang menyandang gelar Lucifer dan Leviathan..

Pada awalnya Sona berkunjung kedunia bawah hanya untuk menceritakan kejadian itu pada kakaknya, namun saat sampai dikediamanya ia tak menemukan keberadaan kakak pengila cosplaynya, saat bertanya pada kedua orang tuanya, mereka memberitahukan bahwa kakaknya tengah berkunjung kekediaman Gremory. Setelah mendapat info tersebut, Sona tanpa buang waktu langsung menyambangi kekediaman Gremory.

Dan tanpa sepengetahuan Sona, Rias ternyata juga melakukan hal yang sama denganya. Hasilnya, disinilah mereka, terjebak diantara dua iblis tingkat atas yang menguarkan nafsu membunuh pekat melingkupi tubuh mereka.

"Apa yang sebenarnya Azazel inginkan?" laki-laki bersurai merah yang dikenal sebagai Zirsach Lucifer mengretakan gigi-giginya dengan cukup kuat, bunyi gemletuk ringan terdengar jelas dari mulut sang pemimpin dunia bawah.

"T-tenang Nii-sama, sepertinya Azazel tak ada sangkut pautnya dengan semua ini!" dengan tubuh yang bergetar Rias mencoba memberikan pendapatnya.

"Apa maksudmu Rias?"kali ini Serafall lah yang menjawab sangahan Rias, kakak dari Sona Sitri itu terlihat sangat marah, dan itu sukses membuat udara di aula tersebut terasa begitu dingin dan mencekam.

Serafall 'Leviathan' Sitri, merupakan salah satu Maou didunia bawah. Dia mengatur segala urusan dunia luar seperti hubungan dunia bawah-dunia manusia dan dunia para Dewa Mitologi, dan ia adalah Heeries Clan Sitri sebelum Sona. Serafall dulunya merupakan salah satu iblis pejuang dari golongan Anti-Maou pada saat terjadi perang saudara di dunia bawah, dia memperoleh gelar Leviathan setelah berhasil mengalahkan saingan-nya yang merupakan keturunan asli dari Maou Leviathan terdahulu. Atas kebarhasilan yang ia peroleh ia dinobatkan menjadi Maou Leviathan generasi selanjutnya.

Serafall Leviathan memiliki sifat yang energik dan ramah, ia sangat menyukai Cosplay gadis penyihir Mahou-Shojou. Serafall memiliki surai hitam panjang dan sering terlihat ia mengikatnya menjadi dua, membuat ia terlihat seperti anak kecil, wajahnya juga memiliki kemiripan dengan sang adik dan hanya dibedakan dengan ekspresinya saja, jika Sona memiliki ekspresi yang terkesan serius dan datar, maka Serafall memilih mengunakan ekspresi ceria dan penuh dengan semangat membuat setiap mahluk yang melihat senyumnya akan ikut merasakan keceriaan yang melekat pada dirinya. Namun sepertinya malam ini image ceria yang melekat kental pada dirinya tandas begitu saja. Begitu mendengar langsung dari adiknya paska penyerangan Kokabiel yang nyaris membunuh sahabatnya, gadis bersurai hitam panjang itu tanpa sadar langsung mengumbar aura Demonya yang selama ini ia tekan.

"Y-yah, ada seseorang yang memeberitahuku bahwa Azazel tak bersalah" menarik sedikit kerah bajunya untuk melongarkan pernafasanya, Rias menatap kakaknya yang uga ikt meliriknya dengan alis terangkat" Dan orang itu, kurasa dapat dipercaya"

"Apa maksudmu Rias?" Sona memandang bingung sahabatnya, ia memang tidak tau apa-apa tentang kedatangan sosok yang dimaksud Rias, saat itu dia yang terlalu khawatir dengan budaknya langsung pergi dari Akademi untuk memberikan pertolongan pada itu para budaknya yang dia tugaskan untuk kembali ke Kuoh juga tak memberikan info apa-apa perihal kedatangan sosok lain disana.

Gadis bersurai merah panjang itu mengalihkan pandanganya kearah gadis meganekko disampingnya"Saat kau dan kelompokmu pergi, dia datang,, seseorang yang mengaku Wakil dari Azazel" Rias menyandarkan tubuhnya kebelakang untuk mendapatkan kenyamanan. Ia harus menceritakan semuanya dengan detail, karena jika salah sedikit saja, maka hubungan yang sudah mulai membaik dengan pihak Fallen Angel akan kembali menegang."Dia memberitahu kami, bahwa Kokabiel melakukan penyerangan itu karena keinginan dari Kokabiel sendiri, tak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan Azazel."

"Apa kau yakin semua yang dia katakan benar?" aura merah kehitaman yang dipancarkan sang Lucifer perlahan-lahan memudar. Setelah mendengar penjelasan dari Rias, sepertinya ia mulai menemukan titik terang dari masalah yang hampir merengut nyawa imoto tersayangnya. Sebagai iblis pemegang jabatan Lucifer, ia cukup mengenal Azazel. Setahunya, meski Azazel sangat mesum dan cukup teropsesi dengan Sacread Gear, tapi dia adalah Fllen Angel yang sangat menginginkan perdamaian, jadi tak mungkin kalau Azazel mengambil tindakan yang bisa menghancurkan impianya tersebut, dan Azazel tidaklah seceroboh itu.

Rias memandang sejenak wajah Nii-sama nya yang mulai melunak sebelum menghembuskan nafasnya yang tanpa sadar sempat ia tahan. Berada ditengah tengah dua Nafsu membunuh iblis sekelas Lucifer dan Leviathan merupakan pengalaman mengerikan yang tak mungkin terlupakan seumur hidupnya.

"Tapi Sirzech, bagaimana jika semua yang dikatakan orang itu bohong?" lain Sirzech lain lagi Serafall, dia sepertinya masih belum menerima kejadian yang hampir merengut nyawa So-tan nya dilupakan begitus saja.

"Lantas, apa yang mau kau lakukan, Serafall?" jawaban kelewat santai Sirzechs sukses membuat ia mendapat delikan tajam Serafall.

"Aku ingin diadakan pertemuan pemimpin dari tiga Fraksi!" bunyi berderit terdengar saat Serafall beranjak dari sofa yang ia gunakan. Ia melangkah dengan disertai aura membunuh pekat kearah Sirzech yang mulai mengeluarkan keringat dingin. Meski kekuataan yang ia miliki jauh diatas Serafall, namun keadan Serafall saat ini mengingatkan ia pada maid bersurai putih yang bisa membuat ia sekarat dalam sekejap, dan itu sukses membuat ia hanya bisa mengangukan kepalanya secara cepat. Tidak dapat membantah tuntutan dari mantan Heeries keluarga Sitri tersebut."Aku ingin masalah ini ditangani dengan S.E.R.I.U.S!"

Sementara Rias Dan Sona yang melihat pemandangan langkah didepanya hanya bisa menahan tawa mereka, Rias dan Sona bahkan lupa jika mereka tadi hampir pingsan hanya karena aura pekat yang dikeluarkan dua iblis yang sedang berseteru didepan mereka. Melihat pemandangan langka didepanya Rias sampai mengeluarkan air matanya karena tak sangup melihat wajah takut Nii-sama nya lebih lama, yang menurutnya sangat tidak elit itu. Rias tau, meski Nii-sama nya sangat kuat dimedan perang, namun jika berurusan dengan mahluk bergender wanita, Nii-samanya akan langsung berubah bak anak kecil yang takut dengan murka ibunya, mengelikan."Y-yah,,akan ku usahakan, k-kau tenag saja , Serafall!"

Sambil berkacak pinggang Serafall mengumbar Senyum kemenanganya saat Sirzech menyetujui permintaanya." Baiklah, sudah saatnya kami pulang" berbalik kearah Sona dengan ekspresi yang sudah kembali seperti semula" ayo So-tan,,!"

Sona yang sudak kembali ke keadaan normalnya{datar}, segera mengikuti kakaknya yang sudah mencapai pintu keluar kediaman Gremory" Rias dan Sirzechs-sama, kami permisi!" pamitnya sebelum tubuh keduanya benar-benar meningalkan kediaman keuarga Gremory mengunakan lingkaran sihir.

"Hah,, selamat aku"

Mansion Sitri.

Lingkaran sihir tiba-tiba muncul disalah satu ruangan kediama Sitri, dari lingkaran aneh itu muncul dua gadis cantik keturunan Sitri. Serafall menengok wajah adik tersayangnya dengan sedikit mengagkat alisnya heran, dapat ia lihat wajah yang biasa datar itu kini menyimpan sedikit emosi lain yang sulit diartikan olehnya.

"Soooooo-tan!"tanpa peringatan, Serafall langsung menerjang Sona yang masih asik melamun dengan menjepit wajah Sona di antara gunung gedenya. Serafall tanpa memikirkan keselamatan adiknya langsung melompat dengan tubuh Sona masih didalam pelukanya kedepan. Sona yang kurang sigap dengan tingkah agresif kakaknya hanya mampu pasrah saat merasa tubuhnya oleng kebelakang karena tak mampu menahan terjangan kakaknya. Beruntunglah mereka karena tepat dibelakang Sona adalah sebuah ranjang yang teramat lembut dan nyaman, sehinga mereka tak perlu khawatir dengan kesakitan yang akan mereka alami andai saja yang menahan tubuh kakak beradik tersebut bukan ranjang melainkan lantai marmer yang kerasnya minta ampun." Aku kangennnnnn!"

"N-nee-san, sesak!" mendengar rengekan Sona yang seperti orang asma menbuat Serafall melepaskan rengkuhanya pada tubuh kecil Sona." Hehehe,, maaf So-tan, Nee-san terlalu bersemangat!"

Setelah mengatur kembali nafasnya yang nyaris hilang, Sona mendelik galak pada kakaknya, dan hanya memperoleh cengiran polos dari sang pelaku. Menghembuskan nafasnya lelahnya karena menghadapi tingkah ajaib Kakaknya yang terlalu bodoh menurut Sona. ia mengelindingkan tubuhnya sedikit kesamping, pandanganya menatap kosong pada langit-langik kamar milik kakaknya. Sebenarnya ia ingin menyampaikan sedikit pertanyaan pada kakaknya, namun sepertinya ia sedikit ragu untuk memulainya.

"ada apa So-tan?"

Serafall yang menyadari gelagat aneh dari adiknya menunggu dengan sabar, ia tahu ada sesuatu yang menganjal difikiran adiknya, namun ia tak akan memaksa Sona untuk menceritakan padanya. Sebagai kakak yang baik Serafall tahu betul sifat Sona yang tak ingin terlalu tergantung padanya, dia tahu seberapa keras usaha yang Sona lakukan untuk membuktikan pada semua iblis lainya bahwa ia memang pantas untuk menjadi penerus Clan Sitri tanpa harus selalu tergantung dengan nama besar kakaknya. Dan jika Sona mendapat kendala dijalanya, maka ia dengan senag hati akan datang untuk melapangkan jalan sang adik, supaya Sona bisa mencapai keinginanya.

Lama tak ada suara dari Sona, membuat Serafall bosan sendiri. Merebahkan tubuhnya mengikuti arah pandang sang adik disampingnya, sesekali ia menengok kearah samping mencaritahu keadaan Sona, hanya untuk kembali menemukan Sona dengan kegiatan awalnya.

"Nee-san?" mendengar bisikan dari Sona membuat Serafall secepat kilat mengalihkan pandanganya kearah Sona. Dapat ia lihat keraguan diwajah ayu Sona, kembali menungu akan apa yang ingin diutarakan adiknya itu.

"Eem,,?"

"Apa wajar jika seorang iblis memiliki lebih dari satu elemen sihir?" iris violet Sona menatap penuh keingintahuan langsung ke wajah cantik kakaknya.

"Heem,,kenapa kau bertanya seperti itu?" Serafall balik menatap iris serupa miliknya dengan lembut. Sona kembali mengalihkan pandanganya ke langit-langit tak tahan jika ditatap begitu intens oleh sang kakak, ia mencoba menanyakan fenomena yang menurutnya aneh pada sang kakak, meski benci mengatakanya namun ia akui Serafall memiliki pengetahuan jauh lebih luas darinya.

"Tidak, hanya saja salah satu pion baruku mampu mengeluarkan dua elemen,,"

dapat Sona rasakan derit pelan di ranjang yang ia tempati, menegok kesamping ia melihat kakaknya tengah berganti posisi.",,,dan anehnya, ia mengunakan elemen yang saling bertentangan, api dan air?"

"Heem,, itu cukup aneh So-tan,,," Serafall mengelus pelan dagunya mengunakan satu jari telunjuk dan berfikir." Setahuku setiap Clan hanya mempunyai satu pengendalian elemen, sebagi contoh Phoenix dengan elemen api, Sitri dengan air dan Gremony dengan Power Of Destructionya!"

"Jadi apa kesimpulanya?"

"Hah,,entahlah, tapi,,,?" Sona menajamkan pendengaran dan penglihatanya saat sang kakak mulai memasng wajah ala-ala detektifnya" Aku sangat tertarik dengan pionmu itu hihihihi" dengan genitnya Serafall berhasil membuat Sona untuk kesekian kalinya merasakan penyesalan atas keputusanya menanyakan sesuatu yang penting pada sang kakak idiotnya itu. Dengan frustasi Sona membenamkan wajahnya kebantal yang menjadi penopang kepalanya, menghiraukan kakaknya yang cekikikan tak jelas.

"Kenapa orang sepertimu menjadi Maou?"

"Karena oppaiku gede Sot-tan hahahaha" kalimat out topik dan fulgar Serafall yang secara tak langsung menghina dirinya ,yang memang memiliki oppai ehem kecil ehem, sukses membuat Sona mengerang dan menghadiahi wajah sang kakak dengan bantal."auh, So-tan, kau iri ya hihihi"

"ONEE-SAAN,,BRENGSEK!" pukulan bertubi-tubi dilanyangkan Sona pada kakak perempuanya. Kegiatan perang bantal mereka berdua membuat kamar yang awalnya rapi kini berubah bak sebuah kapal laut habis terkena badai ganas, hancur berantakan.

"Hahahaha, kau harus sering meremasnya agar cepat besar So-tan hahaha,,"

"K-kau hentai Nee-san!, rasakan ini"

"Ups,,, meleset So-tan,," tiba-tiba sebuah ide gila melintas dikepala Serafall. Melihat kakaknya menyeringai seram membuat bulu kudu Sona berdiri seketika itu juga, ia hafal maksud seringai aneh kakaknya, apapun maksud dari senyum janggal sang kakak pasti bukanlah hal yang baik untuk mental dan fisik yang ia miliki.

Melihat Sona yang bergidik ngeri, membuat Serafall memperlebar seringainya, dan dengan secepat kilat ia sudah berada dibelakan Sona yang sayangnya kurang cermat dengan situasi" mungkin Nee-san tersayangmu ini bisa membantu So-tan!" bisikan yang teramat mistis ditelinganya membuat Sona sadar dari kekaguman pada kecepatan sang Maou, dan berkat keteledoranya itulah membuat ia jatuh kedalam lubang penderitaan.

Tanpa aba-aba terlebih dahulu, tangan sang Maou langsung mencengkram dua gunung kembar milik. Sona yang tak memprekdiksi serangan tersebut hanya mampu melengkuh saat merasakan asetnya dicengkram cukup kuat oleh kakak nistanya.

"N-nee-san, a-apa ugh,, yang k-kau lakukan ahhh"

"khukhukhu,, inilah jurus tangan setanku, So-tan" masih dengan seringai setanya Serafall mencengram kedua bukit adiknya dengan cukup kuat, dan,,,

"KYAAAAAAA,,,,,"

Teriakan melengking penuh penderitaan atau kenikmatan Sona mengema diseluruh kediaman Sitri, membuat nyonya dan tuan Sitri yang tengah asik berduaan berpandangan satu sama lain, sebelum kembali melakukan kegiatan mereka masing-masing dengan disertai senyum lebar" Mereka memang akur ya, hime"

"Kau benar Anata!"

"GLORY"

-o-o-o-o-o-o-o-o-o

Naruto melangkahkan kakinya menuju akademi tempat ia menuntut ilmu selama ini dengan langkah gontai, ia telah siuman dari tidur panjang nya satu hari yang lalu. Latihanya bersama Ringo di alam bawah sadarnya juga cukup memuaskan, sekarang ia sudah bisa mengunakan beberapa fuin yang setidaknya bisa ia gunakan sebagi kartu as saat dirinya berada dalam situasi terdesak di pertempuran, namun meski pencapaian dalam seni coret-mencoret itu cukup memuaskan tapi ia masih belum mampu membuat fuin sekelas Hakke no Fuin Shiki, meski telah mendapat gambaran secara detail dimemorinya namun menuangkan pada sebuah kanfas polos bukanlah hal yang mudah, ia berkali-kali harus rela termakan oleh kegagalanya, dan yang terparah adalah saat ia malah membuat Ringo terkurung dalam fuin percobaanya, alhasil kegagalan fatal tersebut membuat gadis rubah itu mengamuk dan menjadikan tubuh Naruto sebagai samsak tinju.

"Brengsek!" krikil na'as sebesar gundu didepanya menjadi objek pelampiasan dari sang shinobi, namun sepertinya itu tak lantas membuat sang krikil tabah, sebuah lolongan kemarahan keluar dari sebuah gang tempat sang krikil mendarat membuat si pirang tertegun untuk sesaat, sebelum langkah seribu ia ambil saat seekor anjing bull dog hitam tiba-tiba muncul dari gang itu, wajah anjing yang terlihat kurang bersahabat ditambah dengan benjolan kecil dikepalanya senantiasa membuat Naruto mengambil tidakan seorang pengecut[lari]

Guk,,guk,,guk,,,

"APA SALAHKU KAMI-SAMA?" olahraga pagi ala Uzumaki Naruto.

"GLORIA"

-o-o-o-o-o-o-o-o-o

Sekumpulan remaja yang lebih dikenal penghuni Kuoh Gakuen sebagai anggota OSIS, kini tengah berjalan santai di halaman akademi ternama tersebut, mereka berjalan dengan tenang kearah clup mereka, menghiraukan tatapan kagum dari siswa-siswi yang kebetulan berada didekat mereka.

"Dimana ya nii-chan?" Kuruko menatap sekelilingnya berharap melihat sesosok remaja dengan surai mencolok diantara kerumunan masa.

"Mungkin dia belum datang Ruko-chan!" Tomoe menepuk kepala Kuruko dengan lembut, sebenarnya ia juga tengah mencari sosok itu sedari tadi, namu sampai sekarang hasilnya nihil.

Para remaja iblis tersebut menghentikan langkahnya saat didepan mereka berdiri dengan tenang kumpulan remaja lain yang merupakan anggota dari ORC[Occult Research Club]. Anggota Sona Sitri yang masih menyimpan amarah akibat perkataan dari King keluarga tersebut menatap datar para anggota ORC didepanya.

"Hey,,," Rias selaku ketua dari Clup yang ia pimpin mencoba memulai perbincangan. Ia sedikit binggung dengan tatapan yang diberikan anggota keluarga sahabatnya." Apa kalian tahu dimana Sona?"

"Ada apa anda mencari Kaicho, Gremory-sama?" masih dengan wajah datarnya Tsubaki menjawab pertanyaan king dari keluarga Gremory.

Terlalu formal! Rias mengangkat alisnya, ia merasa binggung dengan keadaan ini. Ia melirik sekilas pada ratu disampingnya yang masih senantiasa mengumbar senyum manis. Akeno yang mengerti maksud dari tatapan Rias melangkah dengan pelan kedepan dan berhenti tepat didepan Saji, satu-satunya anggota Sona yang mempunyai tingkat kemesuman menyamai Issei.

"Saji-kun, kau tahu dimana Sona-Kaicho hem?" begitu mengoda dan menantang, namun harapan tim Rias untuk mendapat info dari pemuda didepan Akeno sirna seketika.

"Tidak" singkat, atau malah terlalu singkat. Ini merupakan kejadian yang yang sangat langka, mengingat Saji yang begitu mengidolakan wanita tak terpengaruh apapun dengan tantangan Akeno yang merupakan salah satu Onee-Sama di Kuoh Gakuen. Reaksi Saji membuat Rias membuang nafasnya dengan berat' Rencana mengoda Saji gagal'.

"Hey bodoh, apa-apa-an wajah datarmu itu?" Issei yang merasa King dan ratunya tak dihargai, membentak Saji yang masih menatap Akeno didepanya.

"Apa pedulimu, Issei-san?" meski mengatakanya dengan tenang seolah tak terpengaruh sedikitpun dengan ejekan sosok disamping Rias, namun Reya yang berada paling dekat dengan posisi Saji saat ini melihat dengan jelas bagaimana sosok remaja disampingnya mengepalkan tanganya dengan sangat erat. Reya paham apa yang membuat Seorang Saji bisa berubah begitu drastis didepan anggota Gremory. Dengan pelan tangannya mengengam tangan kanan Saji yang terkepal , berniat menenangkan lelaki yang selama ini ia sukai.'tenang, Saji-kun' bisiknya pelan.

"K-kau!"

"Cukup Iseei!" Rias menengahi pertikaian dua pemuda seumuran di samping dan depanya. Ia memijit keningnya yang entah mengapa sedikit berdenyut nyeri."Ada apa sebenarnya dengan kalian?"

"Bukan ada apa dengan kami, Gremory-sama!" Bennie yang awalnya hanya diam dibelakang Tsubaki maju perlahan, menatap mata hijau Rias secara langsung" Namun perkataan kalian pada malam itu membuat kami merubah pandangan kami pada anda dan kelompok anda!" meski ia mengatakanya disertai senyum lembut, namun mereka yang ada disana menemukan fakta lain dari kelembutan itu,, sebuah amarah.

Mendengar penjelasan dari gadis manis yang merupakan haybrid shinigami tersebut, Rias mulai memutar ulang ingatanya tentang seseuatu yang membuat perubahan drastis sifat anggota OSIS. Tanpa membuang banyak waktu Rias telah menemukan sebuah fakta penyebab perubahan sifat budak Sona tersebut.' Ternyata kalian mendengarnya ya'

"Kalian mengetahuinya ya,,?"

"Yah,,kami mendengar semua kebohonganmu,,!" Rias mengalihkan pandanganya pada gadis bersurai biru disamping sosok Tsubaki." Kau menghinanya, dan kau,,, bahkan membiarkan budakmu ikut merendahkan-nya!"

"Sadarkah anda, jika dia tidak datang pada waktu itu kalian semua pasti sudah,,mati" belum juka menyangkal penghakiman dari sosok yang diketahui bernama Tsubasa Yura, sosok lain yang berada disamping Yura juga ikut menuntutnya.

"Hahhh,,ini hanya salah paham,,," Rias masih mencoba menjawab pertanyaan yang mulai memojokkanya, jika ia memberitahukan yang sesungguhnya dapat dipastikan, para anggotanya akan mengetahui kebohonganya, namun kalau tidak, hubungan dengan keluarga Sona akan terancam retak.

"Ara, ara,, apa maksud kalian hem?" Akeno yang melihat Rias mulai terdesak mencoba menganti topik pembicaraan mereka, dapat ia lihat Rias yang menatapnya seolah-olah mengucapkan 'terimakasih'.

Masuknya Akeno keacara debat itu, membuat anggota OSIS memandang wanita berdada besar itu dengan tajam. Akeno yang mendapatkan tatapan penuh intimidasi masih tetap teguh dengan senyum manisnya.

"Akeno-senpai,," Akeno menatap Saji kembali, ia menunggu apa yang akan di ucapkan pemuda pirang didepanya itu dengan penasaran",,Kau tau kejadian yang sebenarnya bukan?" tatapan Saji semkin menajam, dapat ia lihat senyum abadi diwajah Akeno perlahan-lahan memudar",,,Dan kau tahu bukan, bahwa Narut-"

"AKU BEBASSSSSSSSSS,,!"

Suara Saji seakan tercekat ditengorokanya, arah pandangnya teralih begitu saja kearah sesosok remaja dengan surai pirang yang melayang bebas kearah mereka, setelah sebelumnya muncul begitu saja dari tembok pemisah area Kuoh Gakuen dengan jalan raya.

Bukan hanya Saji saja yang mengalami blank seketika, semua anggota OSIS dan ORC yang melihat kejadian tak terduga tersebut juga sama blanknya dengan saji.

"eh-eh-ehhhhhhhhh," sosok yang pada awal kemunculanya hampir menyamai Super-man itu tiba-tiba oleng saat berada tepat diatas anggota OSIS berdiri saat ini.

"eh?" satukata penuh tanda tanya serempak keluar dari mulut setiap remaja iblis yang ada di sana.

"HYAAAAAA,,,AKU JATUHHHHHHH, DATTEBAYOO!"

Tubuh na'as sang shinobi meluncur cepat kebawah, dengan posisi kepala terlebih dahulu. Bunyi kedebuk memperihatinkan berhasil tertangkap indra pendengaran semua kaum iblis remaja disekitarnya saat tubuh si pirang bertemuh dengan tanah. Naruto jatuh tepat berada ditengah-tengah jarak antara tim Sona dan Rias. Asap mengepul dari tempat tubuh Naruto mendarat, tidak butuh waktu lama untuk menunggu asap tipis itu menghilang. Setelah asap benar-benar menghilang, seonggok tubuh terlihat menancap ditanah dengan keadaan yang menurut manusia biasa mengerikan.

Kuruko yang pertama sadar dari keterkejutanya, perlahan mendekati sosok Naruto, yang mulai memperbaiki posisinya menjadi menungging." Nii-san,, kau masih hidup?" gadis itu menusuk-nusuk punggung pemuda tersebut dengan mengunakan ranting yang ia pungut dibawah kakinya.

"Aowwww,,,," Naruto meringis sambil memegangi tengkuknya yang terasa nyeri akibat mencium tanah." Kurasa begitu"

"Hah syukurlah!" helaan nafas lega dihembuskan Kuroko, ia memandang sosok yang telah dia angap sebagai kakaknya sendiri dengan lembut. tanpa komando dan perintah otak sebuah senyum tulus tertercipta di wajah gadis manis itu ketika mengingat kembali kekonyolan-kekonyolan yang dibuat sosok tersebut.

"Naruto-san,, kau baik-baik saja?" Saji mendekati keluarga barunya dengan diikuti semua kelompoknya. Sinar kahawatir tertangkap jelas di mata iblis pengkonsumsi empat bidak pion milik Sona saat melihat bagaimana remaja pirang didepanya yang nyungsep dari ketingian kurang lebih lima belas meter, seorang Saji nyaris saja terpekik histeris saat melihat bagaimana indahnya shinobi pirang itu melayang bebas kemudian jatuh karena tak menemukan pijakan untuk menstabilkan tubuhnya. Saji mungkin melupakan sebuah fakta, bahwa remaja yang masih selonjoran ditanah itu bukan lagi manusia yang akan celaka begitu mudahnya hanya karena jatuh dari ketingian lima belas meter.

"ahh,, Saji-senpai,," melihat semua keluarga iblisnya mendekat, Naruto dengan segera berdiri,ia menolak dengan halus Kuruko yang berniat membantunya."Seperti yang kau lihat, aku ok-ok saja!"

"Dasar kuning bodoh!"

"Hey,,,bukanya memantu kau malah menghinaku, Aoi!" Naruto mendelik tajam dan telunjuk mengacung tepat kewajah Yuma yang sudah berdiri didepanya, disamping sosok tegap Tsubaki dan Momo.

Rias yang melihat sosok penyelamatnya tepat didepanya mengembangkan senyum lega. Ia merasa lega karena sosok itu tak mengalami luka-luka yang fatal setelah pertarunagn dengan Kokabiel, sedetik kemudian senyum sang Heeries Clan Gremory itu berubah menjadi senyum kecut saat mengingat kembali kebohonganya.'apa yang kulakukan ini benar?'

Akeno yang melihat perubahan pada emosi Kingnya mendekat kesamping Rias, menepuk pelan pundak sang King dan disertai senyum menenangkan.."Tenaglah, semua akan baik-baik saja!" biskanya pelan..

"Yah,,," mendapatkan kembali ketenaganya, ia memandang kembali interaksi ceria keluarga iblis didepanya dengan agak iri.'Terlihat cerah dan bercahaya'.

Selain merajai Rating Game, Rias sebenarnya mempunyai mimpi yang lain, yaitu menciptakan keluarganya sendiri yang dipenuhi oleh keceriaan dan kasih sayang, maka dari itu ia memperlakukan semua budaknya dengan penuh perhatian. Impian itu memang mulai terwujut saat ini, dengan anggota keluarga yang mulai saling pengertian, Kiba yang mulai melupakan dendamnya, Akeno yang sudah mulai melupakan identitasnya sebagai setengah Fallen Angel, Asia dan Xenovia yang mulai menyesuaikan diri dengan perubahan yang mereka alami dari pengikut Tuhan menjadi Iblis, Koneko yang mulai melupakan kenangan kelam tentang Kakak perempuan satu-satunya, dan Issei yang menjadi penghibur bagi mereka dengan tingkah mesumnya dikala keadaan mulai memanas. Sempurna, keluarga yang ceria dan saling pengertian.

Namun saat melihat kelompok rivalnya yang awalnya memancarkan aura serius dan dingin tiba-tiba berubah menghangat, itu membuat ia berfikir bahwa semua yang telah terjalin didalam kelompoknya serasa masih kurang, ia masih ingin lebih dan lebih.

Memfokuskan pandanganya pada sosok yang menjadi matahari baru bagi tim Sona dengan pandangan heran. Bagaimana sosok yang awalnya ia fikir tak berguna itu bisa membuat tim paling dingin di Akademi Kuoh menjadi begitu hangat. Ia tak mengerti, mungkinkah ia memiliki sihir yang mampu merubah pola pikir seseorang? Mustahil, tidak ada sihir seperti itu didunia ini. Hanya satu fakta yang bisa disimpulkan Rias, bahwa sosok yang ia kenal dengan marga Uzumaki itu adalah sesosok matahari yang terselubung kabut hitam. Jika kau bisa menembus kabut itu maka sebuah cahaya kehangatan dan kenyamanan akan kau dapatkan, dan itu dibuktikan oleh Sona.

"ano,, Naruto-san,, kau baik-baik saja?" semua mata langsung tertuju pada gadis pemegang Durandal dengan bermacam-macam ekspresi, ada yang memandangnya heran, tak percaya dan binggung.' Heran' karena gadis kasar itu berbicara layaknya remaja labil seusianya, dan itu tidak seperti dia yang biasanya yang selalu berfikir lebih dewasa. 'Tak percaya' karena yang mengucapkan kata sesopan itu adalah seorang Xenovia dan 'Binggung' akan perubahan sang gadis yang biasanya selalu menatap remeh sosok Naruto kini menghawatirkan sosok tak berguna itu. Merasa ditatap begitu intens oleh tim-nya,Xenovia mengankat alisnya heran"Apa?"

"Kau tak demamkan Xenovia-chan?" Asia meletakan tangan kananya dikening Xenovia ,memastikan pemegang Durandal itu baik-baik saja"Tidak panas?"

"Apa maksudmu? Asia?" dengan sedikit kasar Xenovia menepis tangan Asia yang masih menempel dikeningnya.

"Ah,,aku tak apa Via-san" Naruto menunjukan cengiran rubahnya pada si gadis yang secara ajaib langsung merubah warna kulit wajah Xenovia menjadi memerah. Tak mampu mendapatkan tatapan mengintimidasi dari mata-mata disekitarnya, Xenovia menundukan kepalanya, menyembunyikan wajahnya dibalik surai biru terangnya.

Melihat salah satu calon koleksi haremnya mulai terpikat oleh iblis baru itu, Issei mulai memutar otak untuk mendapat perhatian." Sampah sepertimu sedang apa disini,,?"

Mendengar kalimat menghina dari senpainya, tak membuat Naruto melunturkan cengiranya, ia sudah cukup terbiasa dengan kata-kata yang bisa membuat orang lain naik darah itu keluar dari mulut manis Issei." Aku ada disini karena teman-temanku juga disini senpai!"

"Teman heh?," sebuah seringgai tercipta dimulut Issei saat mendengar kata teman"Kau tak pantas menjadi teman mereka, orang yang lari dari pertempuran hanyalah sampah!" Iseei melihat bagaimana senyum diwajah Naruto mulai meluntur, ia juga bisa melihat saat remaja itu menundukan kepalanya menyembunyikan wajahnya dibalik surai kuning panjangnya. Issei meletakkan satu jari telunjuknya dibawah dagu dan kembali berbicara, mencoba memancing kembali amarah dari sosok yang ia anggap tak berguna" Aku heran kenapa Sona-Kaicho merenkarnasikanmu menjadi keluarganya, orang buta yang sama sekali tak berguna!"

Berbeda dengan Naruto yang masih sedikit tenang, maka lain lagi dengan Saji, dia nyaris saja menghantam wajah sok keren milik remaja bersurai coklat itu andai saja tak dicegah oleh tangan kanan Naruto yang melintang didepan dadanya.

"Aku sudah bisa melihat senpai, jadi sekarang aku bisa lebih bergun-"

"kau bisa melihat?" Issei mencela, ia menampilkan tampang kaget yang ia buat-buat. Namun pandangan meremehkan tetap tak terlihat mengelupas dari sorot matanya." kejutan sekali,, tapi tetap saja satu pion yang kau konsumsi tak akan banyak membantu, sampah!"

Cukup sudah.

Bukan hanya Saji yang sudah mengeluarkan asap dari kepalanya, namun semua anggota OSIS sekarang sudah memancarkan aura membunuh pekat. Tomoe yang berada ditengah-tengah kerumunan bahkan sudah mensummon Kedua katana kebangaanya, ia sudah siap untuk memengal kepala budak Rias tersebut andai saja pemuda yang menjadi objek penghinaan itu tak mengeluarkan suara.

"Apa sudah selesai,'senpai'?" suara yang biasanya menenagkan bagi siapapun yang mendengarnya kini berubah tak berirama, dingin dan tak beremosi.

Kepala berlapis surai pirang itu mendonkak, memperlihatkan wajah seorang Uzumaki Naruto yang sesungguhnya, wajah yang membuat ingatan Rias,Akeno dan Xenovia tertarik kembali kemalam pertarungan mereka dengan Kokabie. Tanpa ada yang menyadarinya Rias mulai mengambil langkah mundur, ia tahu seberbahaya apa sosok didepaya, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana sosok itu mengalahkan Kokabiel dengan mudahnya sebelum Fallen Angel itu meminum cairan aneh dari saku belakangnya. Jika Kokabiel saja tak mampu mereka kalahkan dengan kemampuan penuh, bagaimana mereka bisa mengalahkan sosok superior yang mengungguli Kokabiel?, yah meski sosok itu terlihat masih belum dalam kondisi prima seutuhnya.

"Kau boleh menyebutku sampah,,,"kedua kornea berbeda warna dan aura yang terpasang diwajah sang shinobi menajam, perubahan emosi dari death last membuat beberapa iblis dikelompok ORC yang mengetahui dampak dari kemarahan Naruto tanpa sadar mengambil langkah mundur." Namun ingatlah,,,sampah ini, suatu saat nanti akan mempunyai peran yang besar" jari telunjuk Naruto secara cepat terangkat, mengarah tepat kewajah pemilik Bosteed Gear didepanya." Melebihi peran sang Sejiryuteei!"

"kau,,,? Hahahahahahah,,,," tawa meremehkan dari pemilik baru kaisar Naga Merah mengelegar, ia menatap sinis adik kelas didepannya. Dengan langkah pasti Issei melangkah mendekati Naruto hingga jarak satu meteran. Mengikuti gaya pemuda didepanya Issei ikut mengangkat tangan kananya didepan telunjuk Naruto yang masih teracung padanya" Dengan kekuatan yang tak melebihi Asia, kau bermimpi meggungguliku?" seringai Issei semakin lebar, tangan yang di acungkan mulai mengepal dan diakhiri dengan menunjukaan ibu jari yang menghadap kebawah[meremehkan]

"Omong kosong"

Jika saja yang berada dihadapan Issei adalah sosok Naruto yang masih mengunakan kedoknya sebagai orang tak berguna, mungkin saat ini ia akan bersujut dan meminta maaf pada remaja bersurai coklat didepanya namun sekarang, yang berdiri didepan Sekiryuutei bukan lah sosok bodoh, tak berguna dan lemah seperti yang mereka kenal selama ini. Bertepuk tanganlah pada Issei yang telah berhasil atau sangat berhasil membangunkan sifat alami dari Shinobi yang pernah menegecap pahit asamnya sebuah perang besar yang mampu menyaingi Great War.

Sebuah tantangan telah dilayangkan, dan pantang bagi seorang Uzumaki Naruto menolak tantangan tersebut, tangan remaja pirang itu perlahan lahan ikut mengepal dengan sangat kuat hingga menghasilkan bunyi gemeletuk pelan, mata kutukan dari dari Clan Uchiha yang kini menjadi salah satu kartu Asnya perlahan lahan menunjukan keistimewaan yang ia miliki, Mata Zetan yang dikisahkan mampu mengendalikan Bijuu sekelas Kyuubi itu kini telah merobek kover luarnya dan berganti dengan iris merah darah dengan dua tomoe yang berputar pelan.

Rias yang melihat keadaan semakin memanas maju mendekati Issei, ia tak mau harus melihat salah satu budaknya menjadi korban selanjutnya dari pelayan Sona. Rias tahu, jika saat ini Issei nekat melawan sosok didepanya, kemungkinan besar Issei tak akan menang. Rias mengakui jika Issei sudah semakin kuat dari sebelumnya berkat latihan yang ia jalani bersama Azazel, namun jika harus melawan iblis sekelas Naruto yang belum diketahu kemampuan penuhnya, itu sama saja dengan bunuh diri.

Issei menoleh kepada Kingnya yang berada disamping kiri tubuhnya, dapat ia lihat ekspresi Rias yang seolah-olah mengatakan 'mundur-jangan macam-macam'. Dengan agak jengkel dan tidak ikhlas Issei mundur kebelakang mengikuti titah Kingnya, namun sebelum ikut bergabung dengan kelompoknya dibelakan tubuh Rias ia masih sempat memberikan delikan tajam dan beberapa sumpah serapah pada Naruto.

Tatapan kedua mahluk berbeda gender itu kini bertemu, Rias memandang sosok didepanya dengan emosi bersalah. Dapat ia lihat emosi masih memancar dari kedua mata mengkilat tajam ."A-astaga?" Rias hampir saja terjungkal kebelakang saat fokusnya terarah pada bola mata kanan Naruto, meski bentuknya indah namun entah mengapa aura yang dikeluarkan mata itu sangat mencekam, dan Naruto menaikan salah satu alis matanya[binggung] saat melihat wajah One-Samat mendadak pucat.

"Gomen atas ketidak sopannan Issei!" selesai megucapkan permohonanya, Rias cepat-cepat membungkukan badanya didepan Iblis remaja didepanya yang malah langsung cenggoh atas apa yang dilakukan oleh Heriees keluarga Gremony tersebut.

"E-eh,,ano senpai,,apa maksudnya ini?" sedetik kemudian Naruto yang telah kembali pulih dari acara cengohnya hanya bisa mengaruk belakang kepalanya. Jujur, ia binggung dengan keluarga iblis Si Read Hair'pengikutnya petentang-petenteng, tapi kingnya,,?'

Menegakkan kembali tubuhnya, sekarang Rias dapat melihat mata kanan sosok didepanya telah berubah kembali menjadi hitam, menarik kembali aura mistis yang seolah-olah dapat mencekik erat siapa saja yang memandangnya"Um,, aku minta maaf atas kelakuan Issei yang kurang sopan padamu," dapat Rias dengar dengusan tidak puas dari belakang tubuhnya, namun tak ia perdulikan.",, Kuharap jangan dimasukan kehati, Issei memang seperti itu pada setiap mahluk bergender pria?"

"Heh? orang ups,,iblis aneh!"

"hey! Apa maksudmu, sampah!" teriakan protes seakan angin lalu. Naruto masih tetap memandang kearah Rias yang sepertinya tidak memperdulikan teriakan protes pionya.

"Ohh,, yah tak ap-"

"Tak semudah itu Gremory-sama" Saji maju mencela kata-kata Naruto yang sepertinya akan membiarkan masalah ini selesai hanya dengan kata maaf. Dia bingung dengan sosok kuning disampingnya, bagaimana ia masih bisa setenang itu setelah mendapat hinaan yang menurut Saji sangat menusuk hati?. Meski tak ditujukan padanya, namun hanya dengan mendengarnya saja Saji yakin siapapun yang mendapat cacian seperti Naruto tadi, pasti tangan dan kakinya akan langsung di sarangkan kewajah pelaku penghinaan.

"Jadi, apa yang kau ingin kan Saji-kun?" Rias mengalihkan pandanganya kerah Saji yang kini melipat tanganya didepan dada.

"Dia harus meminta maaf langsung pada Nii-san!" Kuruko menunjuk wajah Issei yang berada dibelakan Rias.

"Kurang!" Rias melirik kearah Yura yang sepertinya ingin menambah vonis untuk Issei"Suruh ia bersujut didepan Kirroi!"

"Masih kurang!" giliran Tomoe yang mengambil suara. Dia mengacungkan salah satu katananya kewajah Issei yang semakin mundur kebelakang" Kebiri saja simesum itu!"

Semua yang mendengar permintaan Tomoe langsung sweatdrop seketika, mungkin jika halaman dimana sekarang mereka berada masih dipenuhi penghuni Kuoh Gakuen pastilah akan ada banyak teriakan setuju dari siswi-siswi Kuoh, mengkebiri? Sadis oe.

Wajah Issei memucat saat melihat Tomoe yang mengayun-ayunkan katanaya keatas dan kebawah'w-wanita itu mengerikan'. Ia menutupi selakanganya dengan kedua tangan yang bergetar.

"e-ehehe,,,lupakan saja permintaan aneh Tomoe-senpai yang tadi,senpai,," Rias kembali mengalihkan pandanganya pada Naruto diserti senyum garing. Rias dapat melihat bagaimana pemuda itu bisa melupakan begitu saja perlakuan Issei tadi begitu mudahnya, satu nilai plus kembali Rias goreskan pada otaknya saat mengetahui pemuda itu tak hanya kuat namun juga mulia. Suatu sifat yang sangat jarang dimiliki oleh iblis yang memiliki energi negatif lebih besar dari mahluk ciptaan Tuhan lainya.

"Tapi, Naru-"

"Sudahlah Saji-senpai, jangan diperpanjang" memberikan senyum tipis pada Saji, berusaha menenangkan pemuda blode yang ada disempingnya.

"Hah,,terserah kau sajalah." Menyerah, dengan berat hati Saji mundur kembali kebelakan Naruto.

"Terimakasih Naruto-san, kau memang yang terbaik" puji Rias disertai dengan senyum tulus." Baiklah jika masalah sudah selesai kami akan kembali kekelas."

"Yah senpai,,"

Setelah kejadian yang menguras emosi itu selesai, Tim Rias mulai berbalik untuk kembali kekelas masing-masing.

"Oh iya,,katakan pada Sona utntuk mampir ke-Clup ku nanti!" teriakan Rias dibalas acungan jempol oleh Naruto dan dengusan dari Saji dan Yura.

"Ya, Senpai-Tomat hehehehe!"

"AKU BUKAN TOMAT, BAKA!"

"GLORIA"

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Sona menatap serius gadis dengan surai merah panjang yang merupakan rivalnya. Setelah mendapat info dari Naruto tentang permintaan Rias, ia langsung pergi ketempat Gadis merah itu berada dengan didampinggi Naruto, ia sengaja hanya mengajak pemuda pirang itu karena memang hanya dia yang belum menjalani pekerjaan iblis seperti yang dilakukan budak-budak Sona yang lain.

Sona menyandarkan pungungnya ke sofa yang saat ini ia tempati, tangan kananya menekan-nekan pelan pelipisnya. Ia tak menyangka permintaan kakaknya beberapa waktu yang lalu ternyata benar-benar ditanggapi dengan serius oleh Sirzech. Rias ternyata mengundangnya kemari untuk memberitahukan padanya bahwa beberapa hari kedepan akan diadakan pertemuan penting para petinggi Fraksi Iblis, Angel dan Fallen Angel.

"Jadi mereka akan mengunakan tempatmu ini sebagai tempat pertemuan?" Sona menegok kesamping saat melihat Naruto dan Akeno yang baru keluar dari dapur, ditangan pemuda itu memapah sebuah mangkuk besar yang Sona asumsikan berisi Ramen. Dia mengelengkan kepalanya saat mengetahui bahwa Budak barunya itu sangat teropsesi dengan makanan berlemak yang menurut Sona tidak baik jika dikaonsumsi dalamam jumlah yang besar.

"Yah,,seperti itulah yang disampaikan Nii-sama,," Rias ikut menglihkan pandanganya ke arah pemuda pirang yang tengah nyengir lebar disamping Akeno, dia mengangkat alisnya heran saat melihat sebuah mangkuk sebesar ban mobil berada ditangan kanan Naruto.

"Ara,,ara,,silakan tehnya?" Akeno meletakkan sebuah nampan yang berisi minuman penghangat tersebut diatas meja.

"Arigato.." Sona mengecap sedikit minuman panas yang disediakan oleh Ratu dari sahabatnya. Akeno tersenyum sekilas pada Sona sebelum beranjak menuju samping Naruto yang tengah mematahkan sumpitnya.

"Settttt, Sona?" mendengar bisikan Rias seraya mengerakan kepalanya kearah Naruto dan Akeno bersimpuh, gadis maganekko itu melirik kearah yang dimaksud Rias.

Helaan nafas lagi-lagi keluar saat mengetahui arti tatapan yang diberikan Rias." Hah,,,jangan difikirkan, dia memang, um tertarik dengan makanan berkuah itu!"

"Tapi, jika sampai sebanyak itu, apa tak keterlaluan?" Rias memandang ngeri isi mangkuk besar tersebut.

"Hah,,ramen memang yang terenak!" Naruto mengeluarkan pendapat sepihaknya setelah meneripa suapan pertama dari mangkuk didepanya, ia memandang dengan mata bersinar-sinar, menghiraukan beberapa tatapan geli dari sekeliling yang tertuju padanya.

"ara,,ara,, Naruto-kun, apa tak maslah kau makan sebanyak ini?" Akeno sedikit mengeluarkan keringatnya saat melihat ekspresi Naruto yang seperti seseorang memenangkan lotre jumbo ratusan Ryo.

Remaja tanggung itu mengalihkan pandanganya menghadapp Akeno setelah terlebih dahulu menelat mie yang masih ada di mulutnya"Akeno-san, jika maslah makanan para dewa ini yang kau maksud maka jawabanku adalah, tidak!" dia menyeka mulutnya mengunakan pungung tanganya, menghilangkan kuah ramen yang masih tersisa disana."Aku bahkan bisa menghabiskan porsi yang lebih besar dari ini!"

"Iblis aneh!" kalimat pedas itu terlontar dari mulut seorang Issei yang tampak iri dengan kedekatan Akeno dan Naruto.

"Kau dengar Rias?" Sona menyunggingkan senyum tipis saat mendengar deklarasi budak barunya" Kau tak perlu khawatir"

"Naruto-kun, bagaimana rasanya ramen buatanku?" Akeno mengeser badanya semakin mendekati Naruto. Dia tak mampu untuk tidak tersenyum saat melihat wajah pemuda didepanya yang penuh dengan bercak ramen tengah mencoba berfikir mencari jawaban yang pas untuk pertanyaanya.

" Masakan mu sangat enak Akeno-san!" Naruto meletakan sumpitnya dan memberi jempol pada Akeno" Kau pasti akan menjadi istri yang baik nantinya hehehehe!"

Mendengar pernyataan Naruto, Xenovia langsung menyemburkan tehnya keajah Kiba yang ada didepanya. Kiba yang mendapat hujan lokal itu hanya memasang ekspresi binggung serta sedikit jengkel, ia menyeka wajahnya dengan korden jendela dibelakangnya seraya berbisik pelan karena tak mau menghancurkan imejnya" Zetan!"

Sona yang juga mendengar pernyataan itu hanya mengangkat sebelah alisnya tak peduli.

Rias yang sepertinya lebih tertarik dengan aksi penyemburan Xenovia, tertawa tertahan saat melihat wajah jengkel Kiba.

Issei hanya mendengus pelan, namun ia juga berusaha menahan tawanya saat melihat wajah tampan sang rival yang diserang oleh Xenovia.

Asia dan Koneko yang duduk berdampingkan mengeluarkan senyum tipis, Koneko memandang mangkok yang sudah tinggal setengah isi itu dengan tajam, hidungnya mengendus-endus aroma yang menguar kuat dari makanan berlemak didepan teman sekelasnya, entah apa yang ia pikirkan.

"are,, Terimakasih Naruto-kun!" Akeno menyeringai saat melihat tatapan membunuh dari Xenovia yang diarahkan padanya. Akeno tahu salah satu temanya itu memiliki rasa pada pemuda yang tengah asik menyantap Ramen didepanya.'fufufu,,kena kau Xonovia-chan!'

Naruto menganguk pada gadis disampingnya, ia lalu menatap Kaichonya yang tengah menikmati minumannya dengan tenang"Kaicho!, kau mau?"

Sona yang merasa dipanggil menghentikan acara minum tehnya, ia menatap sebentar budaknya sebelum mengelengkan kepalanya pelan. Mengetahui maksud Kaichonya Naruto kembali akan melahap makanan dewanya anda saja tak ada sebuah kepala yang dipenuhi surai perak dengan telingga kucing tiba-tiba menyembul disampik tubuhnya.

Dengan reflek ninja kelas atas yang masih ia miliki Naruto secara cepat menarik mangkuk ramen didepanya kesamping, menghindari tangan kecil gadis Nekomata yang berusaha meraih sumpit ditengah mangkuk. Koneko yang merasa buruanya semakin menjauh mendongkakkan wajahnya, iris coklatnya menatap duapasang mata berbeda yang juga menatapnya dengan binggung dengan cukup lama hingga",,,Ramen"

"eh?"

"Aku mau!" gadis loli tersebut menunjuk magkuk yang Naruto lindungi disamping tubuhnya.

Mengetahui maksud gadis kucing disampingnya Naruto kemudian mengulung sedikit mie dengan sumpitnya dan diarah kan pada mulut sang gadis yang memandangnya dengan binggung"aak"

Koneko yang cukup paham maksud Naruto dengan perlahan membuka mulut kecilnya, saat makanan berupa mie itu masuk seutuhnya kedalam mulut mungil sang gadis, sensasi lembut,sedap dan gurih dari mie yang direndam dalam kuah kecoklatan penuh rempah-rempah langsung menghantam indra perasa gadis penyuka makanan manis tersebut. Menikmati makanan asing yang menurutnya cukup enak, Koneko tanpa sadar menyungingkan senyum mahalnya, ia dengan mata berkaca-kaca kembali membuka mulutnya[tambah].

Melihat bagaimana si gadis Nekomata bisa sejinak itu pada pemuda kuning tersebut, langsung saja membuat seisi ruangan melonggo. Setahu mereka Koneko adalah tipe yang tak akan langsung dekat dengan orang lain yang baru ia kenal, ia bahkan dulu pernah menghajar Issei hanya karena Issei berniat menyentuhnya, namun sekarang saat melihat bagaimana gadis mungil itu bisa langsung jinak hanya karena Ramen, tentus saja membuat mereka shok, tak pecaya!.

"K-koneko-chan k-kau hiks TIDAKKKKKK!" Issei melompat kepojokan dengan airmata mengalir deras.

Melihat romantisme antara sosok remaja didepanya Xenovie tanpa ba bi bu langsung melesat dan bersimpuh diantara Koneko dan Naruto.

Melihat salah satu gadis yang dikenalnya saat pertarungannya kemarin kini bersimpuh didepanya memunculkan tanda tanya besar dikepala sipirang.

"anu,,,ada apa ya?"shinobi pirang itu memandang binggung Xenivia yang wajahnya sudah merah padam."Apa kau mau juga?" Naruto menyodorkan ramenya kewajah Xenovia. Dengan secepat kilat gadis yang merupakan mantan pengikut Tuhan itu memajukan kepalanya dan menyambar ujung sumpit yang menjepit mie ramen.

"emm" suara yang terkesan erotis keluar begitu saja dari mlut Xenovie, ia mengulum ujung stik kembar itu dengan penuh makna.

"TIDAK,,,XENOVIA-CHAN!" raungan nista Iseei kembali mengelegar saat melihat ekspresi ero Xenovia.

"Lagi!" Xenovia kembali membuka mulutnya, bibir gadis itu semakin memerah dan berkilat karena kuah ramen yang sedikit pedas, semburat kemerahan juga ikut ambil adil disekitar pipi gadis itu, menampilkan kesan manis dan mengoda.

Melihat gelagat Xenovia yang sepertinya meminta tambah, tangan Naruto berkelebat kesamping kearah mangkok ramenya, ia kembali menjepit mie didalam mangkuk dengan kedua sumpit ditanganya tanpa kesulitan, dia mengarahkan makanan dewa itu kearah Xenovia yang tengah menunggunya dengan wajah merona.

"aaak"

Sepersekian detik sebelum sumpit itu masuk kedalam mulut Xenovia, Koneko secara tiba-tiba muncul disamping Xenovia dan tanpa babibu langsung mencaplok ujung sumpit yang berisikan mie ramen.

Xenovia yang merasa kecolongan mendelik tajam kearah Koneko yang tengah menikmati rampasanya dengan bibir melengkung. Merasa percuma saja meladeni gadis kucing tersebut, Xenivia mengambil tindakan yang lebiah agresif. Tangan kanan Xenovia secara perlahan mengapit lengan Naruto, ia menempelkan tubuhnya ke tubuh sang ninja yang mulai blusing. Bagaimanapun juga ia tetaplah pria normal yang akan terangsang jika diperlakukan seperti itu oleh wanita, apa lagi jika mengingan bahwa Xenovia memiliki wajah yang cantik dan manis, serta jangan lupakan pula tubuh yang indah, meki dengan oppai tak sebesar Rias dan Akeno.

" Y-yuto, apa-apaan pacarmu itu?" Rias membuka mulutnya setelah sekian lama diam, ia cukup terkejut dengan tingkah agresif Xenovia. Setelah Koneko sekarang Xenovia, sebenarnya pelet apa yang pemuda pirang itu pakai hingga dengan begitu mudahnya bisa membuat dua gadis dengan emosi datar seperti Koneko dan Xenivia tertarik padanya?. Rias memijit keningnya frustasi, ia mengalihkan pandanganya pada Asia yang suda tiarap dengan wajah memerah, menoleh ke tempat Kiba, Rias harus kembali menahan tawanya saat melihat pemuda itu masih bersungut-sungut akibat ulah Xenovia tadi pada wajah tersayangnya, menoleh ke Akeno, dia merusaha meredam keinginanya untuk mengerang saat melihat Akeno yang terlihat tak terganggu dengan keadaan disampingnya, menoleh ke Issei, Rias langsung sweatdrop saat melihat sang sekiryuutei tengah nungging dipojokan dengan aura hitam melingkupinya"Astaga,,!".

Sona yang melihat dari ujung matanya bagaimana Xenovia dan Koneko seperti tengah memperebutkan budaknya, menghentikan acara minium tehnya. Sona perlahan bangkit, ia menghiraukan Rias yang tengah frustasi akibat melihat kelakuan para budaknya. Didalam hatinya entah mengapa ia sedikit merasa nyeri saat melihat bagaimana Xenovia memeluk lengan Naruto mesra, meski dia berusaha bertingkah seolah-olah tidak perduli, namun seseuatu didalam tubuhnya berkata lain. otak encernya berputar cepat mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran aneh yang mulai berkelebat dikepalanya, tubuhnya seakan-akan melemas hanya dengan memandang wajah Naruto yang memerah karena perlakuan wanita lain selain dirinya. Ini aneh Sona belum pernah merasakan hal ini sebelumnya, ia binggung dengan dirinya sendiri, ia binggung saat instingnya sebagi wanita tiba-tiba mendorongnya untuk menengelamkan gadis bersurai biru yang tengah bergelanyut manja pada Naruto.

"Naru, ayo kita kembali!" tidak mau nanfsu membunuhnya meledak disana, Sona memutuskan untuk segera meningalkan tempat itu. "Jika tak ada yang mau kau sampaikan lagi kami pergi dulu,Rias!"

Rias yang terlalu pusing memikirkan kelakuan budaknya hanya menganggukan kepalanya. Naruto yang mendengar perintah Kingnya langsung berdiri dan melepas pelukan Xenovia, sang Knight yang mengetahui kebersamaan dengan pujaan hatinya akan segera berakhir memasang tampang sebal.

"Ha'i, Kaicho" Naruto yang telah lepas dari cengkraman iblis biru disampingnya segera beranjak mendekati Sona. dalam hitungan detik kedua tubuh berbeda gender itu menghilang dengan mengunakan lingkaran sihir.

-0-0-0-0-0-0-

Setelah kepergin Sona dan Naruto, ruangan ORC seketika senyap, Koneko dengan wajah datarnya menjilati mangkao ramen yang tadi dipegang Naruto dengan tenang, Xenovia juga kembali duduk dengan santai disamping Koneko, wajah gadis itu masih merona meski tak semerah tadi. Sebagian anggota juga sudah pulang kerumah,Issei,Asia dan Kiba telah kembali kerumah masing masing. Disana hanya menyisakan Akeno yang tengah membereskan dapur Clup, Kponeko,Xenovia dan Rias.

Rias memandang wajah kedua gadis dengan surai berbeda didepanya bergantia dengan binggung."Jadi bisa kalian jelaskan alasan atas tidakan kalian tadi?" Rias menajamkan pandanganya kepada Koneko yang telah selesai dengan kegiatanya menguras sisa ramen, wajah dari Nekomata itu terlihat berantakan akibat kuah ramen yang melekat di sebagian wajah manisnya "Koneko?"

Koneko memandang Rias dengan datar, tak perduli jika yang saat ini didepanya adalah iblis yang merupakan majikanya."Hem,,aku hanya penasaran dengan makanan ini" sangahnya sambil menunjuk mangkuk kosong didepanya.

Rias yang memang mengetahui sifat alami Koneko yang selalu penasaran dengan sesuatu yang baru, layaknya seekar Kucing, percaya begitu saja dengan apa yang Koneko ucapkan, ia mengangguk singkat sebelum mengalihkan pandanganya kepada Xenovia."Biasa kau jelaskan alasanmu Xenovia, apa kau menyukai budak Sona itu?"

Gadis bersurai biru tua itu menunduk, jika kalian pikir ia takut dengan kingnya, maka kalian salah besar. Gadis itu menunduk karena menyembunyikan wajahnya yang kembali ke mode on red. Rias yang melihat gelagat dari budaknya yang agak Kundere itu menghela nafas panjang'sabar, Rias sabar!'.

"U-um Bucho" mendengar cicitan dari gadis didepanya, Rias langsung memfokuskan kembali arah pandangnya pada Xenovia." Kurasa aku memang menyukainya!"

"Kau bercandakan Xenovia?"

"Tidak Bucho!" Xenovia mengangkat kepalanya, ia kini menatap Kingnya dengan penuh keyakinan."Aku yakin , bahwa aku memang menyukainya!"

"Tapi, bukanya kau menginginkan bayi naga?" Rias menatap binggung knightnya. Dulu saat Xenovia baru menjadi iblis ia pernah bertanya alasan ia selalu menempel pada Iseei, dan jawaban yang diberikan budaknya adalah 'aku ingin bayi dengan kekuatan naga Bucho' saat tahu impian Xenovia, Rias yakin bahwa mantan pemburu iblis itu pasti akan selalu mengoda Issei yang memenag mempunyai kekuatan Naga didalam tubuhnya. Tapi sekarang,,,?

"U-uum itu dulu Bucho saat pikiranku masih naif, dulu aku berfikir, dengan kekuatan Naga yang melegenda aku pasti bisa mendapatkan semua keinginanku, tak akan ada mahluk lain yang akan menganguku, aku akan terlihat Superior dan terhormat,,," bayangan saat sosok Naruto melawan Kokabiel melintas difikiran Xenovia, sosok itu begitu gagah dimatanya apalagi saat melihat pemuda pirang itu menyemburkan api dari mulut, tanpa sadar membuat ia terkikik geli' Issei yang mempunyai kekuatan naga pun tak bisa melakukanya'.

"Lalu, kenapa sekarang kau memilih Naruto sebagai orang yang kau sukai?" Rias menghiraukan tawa kecil yang keluar dari mulut Xenovia."Bukanya menurutmu dulu ia orang yang sangat lemah dan tak berguna?"

Xenovie kembali mengingat perlakuanya dulu pada sosok itu, ia tersenyum miris saat mengingat perkataan yang sempat terlontar dari mulutnya untuk laki-laki yang saat ini dengan jujur ia sukai."Yah, dan aku sekarang merasa sangat bodoh jika mengingat itu semua"

"He'em" mungkin jika memiliki jangut Rias saat ini akan mengelus jangut tersebut, namun karena benda berbulu itu tak ia miliki, jadi dia hanya mengelus dagunya dan berfikir" Sejak kapan kau menyukainya?"

"Kurasa sejak malam itu." Rias menganguk, dia tahu malam yang dimagsud Xenovie. Ia memberi pandangan perintah agar Xenovia melanjutkan kisahnya." Rasa ini tumbuh bukan saat ia datang dengan gagah atau kehebatanya dalam bertarung, Rasa ini mencul ketika aku melihat kemauanya untuk melindungi kita ketika ia terluka akibat pukulan Kokabiel" kedua tangan Xenovia terangkat menuju dagunya, menopang kepala sang gadis yang memandang jauh kejendela" Saat darah menetes dari tubuhya, aku sempat berfikir bahwa ia akan langsung pergi karena kekuatan Kokabiel yang terlalu besar, tapi ternyata aku salah,,,"

",,,dia tidak pergi, dengan darah yang terus mengucur ia malah menanyakan keadaan kita, dia orang terbodah yang perna kutemuai, tapi justru karena kebodohanya itulah aku menyukainya. Kau lihat tubuhnya saat itu Bucho?"

Otak Rias langsung berputar dengan cepat, mencoba mencari gambaran tubuh laki-laki yang dimaksud Xenovia, saat kepingan ingatan itu mulai muncul kepermukaan, wajah gadis itu sontak memerah. Koneko yang tak tahu apa-apa hanya menatap keduanya dengan alis terangkat.

Melihat kingnya blusing, Xenovia menepuk keningnya. Ternyata kingnya berbeda jalur pikiran denganya. Xenovia tahu apa yang sedang difikirkan Rias tentang tubuh Naruto, namun sepertinya maksud Xenovia bukan seperti apa yang dibayangkan Rias."Bucho! bukan tubuh Naruto-kun yang aku maksud, tapi goresan-goresan ditubuh itu yang ku maksud!" dengan nada jengkel Xenovia menghardik Rias yang hanya cengengesan saat tahu pikiran hentainya diketahui gadis didepanya.

"Heheh,,gomen"

"Hah,,dasar" dia kembali menyandarkan tubuhnya ke pungung kursi " Kau lihat luka-luka lama yang ia miliki bukan?"

Rias kembali mengupas memorinya, mencoba mencerna maksud dari Xenovia"a-ah, iya aku ingat,,dia-"

"yah, dia tak seperti Issei atau Kiba yang memiliki berkah dari tuhan berupa Sacred Gear, luka ditubuhnya membuktikan bahwa ia berlatih sangat keras untuk memperoleh kekuatanya itu. Aku tak bisa membayangkan latihan seperti apa yang ia jalani hingga bisa mengoreskan luka sebegitu banyaknya"

"Hem,,kau benar, luka yang ia miliki mampu merivali luka milik Seiraorg"Rias yang telah engerti maksud dari Xenovie mulai mebandigkan tubuh Naruto dengan tubuh sepupunya."Aku paham, jadi kau menyukainya karena kemauanya yang begitu kuat itu?"

"Yah, ia melatih tubuhnya dengan sangat ekstrim, ia ingin menjadi kuat untuk melindungi orang orang yang ia sayangi, cukup simpel bukan?" Xenovia kembali mengingat bagaimana sosok itu begitu menghawatirkan keadaan mereka, ia bahkan melupakan kondisi tubuhnya sendiri yang saat itu memiliki luka yang bahkan lebih parah dari dirinya dan timnya."Coba bayangkan jika kau menjadi sosok penting dari orang- ah iblis seperti dirinya,,pasti sangat menyenagkan bukan?"

Yah, Apa yang dikatakan Xenovia memang benar, Rias ingat emosi yang ditunjukan remaja pirang itu saat Kokabiel berusaha membunhnya, ia ingat bagaimana sosok itu membahayakan dirinya dengan menjadi penghalang untuk tombak-tobak cahaya Kokabiel. Saat itu, mereka bahkan belum begitu mengenal satu sama lain, tapi kenapa pemuda tesebut sudah berbuat sampai sejauh itu hanya untuk menolong dia dan kelompoknya, benar-benar iblis berhati Malaikat.

"Jadi yang mengalahkan Kokabiel waktu itu bukan Issei-senpai!" suara dari Koneko menyentak Rias, dia sampai lupa jika selain mereka berdua masih ada sosok lain diruangan itu."Sudah kuduga!"

Jantung Rias sudah nyaris melompat saat tahu kebohonganya terungkap, dia yang terlalu asik mendengarkan cerita asmara Xenovia tak menyadari bahwa pembicaraan mereka mulai membuka aib yang coba ia tutupi dari timnya. Setelah melihat ekspresi Koneko yang terkesan tak peduli membuat Rias binggung dengan tangapan apa yang ingin dilontarkan gadis nekomata tersebut"Apa maksudmu Koneko?"

Koneko mendengus saat mendengar pertanyaan Kingnya." Tidak, aku hanya merasa kurang yakin saat Bucho menceritakan bahwa Issei-senpai lah yang mengalakan Kokabiel. Meskipun saat itu aku tak sadarkan diri, namun kemampuanku sebagai nekomata masih bisa merasakan energi asing yang sangat besar tertingal ditempat itu, dan aku yakin bahwa itu bukanlah energi Sacred Gear milik Issei-senpai"

"Jadi kau sudah tau yah?" Rias menyahut pelan, ia merasa bersalah pada gadis kecilitu karena telah membohonginya."Setelah kau tahu kebenaranya, aku mohon rahasiakan semua ini dari Naruto dan yang lainya ya?"

"Yah baiklah, asal Bucho mau memberikan kue yang banyak untuk ku setiap hari" gadis itu menyeringai senang, ia menghiraukan Rias yang wajahnya tengah mengkerut tak suka karena merasa diperas oleh budaknya sendiri.

"Dasar, Neko licik"

"GLORIA"

-o-o-o-o-o-o-o-o-o

Didalam bengunan gereja tua yang telah tak terpakai terlihat Dua orang gadis tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Gadis dengan surai dark blue terlihat sibuk dengan sapu yang ada ditangan kananya, sedangkan gadis lainya yang memiliki surai hitam kecoklatan tengah sibuk dengan kemoceng dikedua tanganya. Kalawarner dan Rayneal saat ini tengah sibuk melakukan bersih-bersih tempat tiggal mereka.

"Hey kalian berdua,,!" kedua gadis itu tersentak saat mendengar sebuah suara memangil mereka, dengan kompak Rayneal dan Kalawarner membungkukan badanya saat melihat asal suara tersebut. Lelaki yang merupakan Gubernur Fallen Angel itu terkekeh sebentar karena mendapat sambutan yang menurutnya terlalu formal dari kedua bawahanya.

"Azazel-sama, ada apa anda kemari?" Rayneal kembali menegakkan badanya, ia dapat melihat pemimpinya itu sudah duduk di salah satu sofa yang ada diruangan tengah.

"Bagaimana keadaan kalian?" Azazel melirik kedua bawahanya yang masih berdiri memperhatikanya.

"Kami baik-baik saja Azazel-sama,, terimakasih karena anda telah mengampuni kesalahan kami!" untuk kedua kalinya kedua gadis itu membungkukan tubuhnya.

"Hahahaha,,,kalian tak perlu berterimakasih padaku, sebagai pimpinan kalian aku wajib membantu kalian" pria itu memejamkan matanya sejenak" aku tau kalian melakukan semua itu karena perintah Kokabiel-teme!"

Azazel perlahan bangkit dari duduknya dan metatap kedua gadis didepnya dengan serius, dua gadis yang ditatap seperti itu oleh pemimpinya secara serempak menundukan kepalanya" Aku ada misi untuk kalian!"

"Misi apa Azazel-sama?"

"Beberapa hari yang akan datang aku perintahkan kalian untuk mendmpingiku dan Vali kepertemuan tiga Fraksi di Kuoh Gakuen! Kalian siap?"

"Kami siap, Azazel-sama!"

"TBC"

A\N: kali ini gak banyak bacot gw, cukup minta saran dan pendapat kalian tentg chapter ni,,,,maaf lo masih ada banyak kesalahan di chp ni.

Berhubung gw masih agak baru dan belum begit

Maaf atas keterlambatanya, ayah handa gw barusaja sakit keras, sebagi anak yang baik gw harus senantiasa ada didekatnya, gw gak mau nyium panasnya api Neraka gara-gara gak berbakti dengan orang tua, jadi mohon dimaklumi. Dan untuk fick yang lain tenang ja masih tetap lanjut, namun untuk fick GHOST kayaknya agak terkendala, sekali lagi gw minta maaf jika ada yang kurang suka dengan daftar updet gw.

u mengerti cara membuat fick yang bagus , gw minta saran dari kalian semua, supaya kedepanya gw bisa membuat fick-fick yang cukup berkualitas.

Ohya, selamat hari lebaran bagi kalian yang menjalankan, gw mohon maaf ya jika ada kata-kata yang menyinggung kalian selama ini. Minal aidin wal faizin mohon maaf

lahir dan batin.

info, Untuk fick" Jutsu vs Magic" dah gw pinda ke crossover, lo da yang mau lanjut baca cari ja di narut & fairy tail crossover, ok

Minta doa kalian untuk kesembuhan ayah handa tersayang gw,ok!

Karasumaru.666 gooooooo!.