"New Life And New War"

Disclaimer : Naruto dan Hight School DXD, Bukan punya saya tapi

:Masashi Kishimoto

: Ichiei Ishibumiuncak.

Warning: AU,gaje,abal,typo,dan alur nyeleneh. Melenceng dari canon,ooc,oc dll.

Summary: Naruto yangg telah menyegel chakra Madara,Obito,dan Juubi didalam tubuhnya. Akhirnya mencapai pada ambang batasnya,bukanya mati tapi ia malah terkirim ke dimensi lain dengan kondisi yang berbeda jauh,;

"GLORIA"

Chapter 10: Misi

Cahaya redup milik sang dewi malam menerobos kain korden bermotif katak sebuah apartemen kumuh, memberi sedikit penerangan di dalam ruangan yang awalnya terlihat cukup gelap. Di salah satu kamar dilantai empat cahaya lampu tiba-biba menyala menandakan masih ada mahluk hidup yang masih terjaga meski waktu telah menunjukan pukul 01.05.

Sesosok pemuda bersurai pirang keluar dari balik pintu kamar di lantai empat. Setelah memastikan pintu tempat bernaungnya telah terkunci dengan semestinya, pemuda yang masih berusia dibawah kepala dua itu berjalan dengan pelan ketepi aparteman, meski dia yakin tak ada barang berharga didalam apartemen yang bisa mengundang para tikus kepala hitam berpesta namun dia tetap melakukan hal itu sebagai formalitas adai-adai ada tetangga jail yang ingin mengusilinya.

Sinar rembulan mengungkap sosok pemuda yang kini telihat jelas memiliki surai pirang lumayan panjang pada bagian depan hingga menutupi kedua mata dan sedikit pendek dibelakang, sebuah sweter hitam dengan garis putih melekat ditubuhnya.

Naruto mencengkram pagar pembatas balkon apartemen, sensasi dingin besi langsung menusuk telapak tanganya, dia memandang jauh kedepan menatap indahnya malam kota Kuoh. Lampu-lampu rumah bersinar terang menyerupai kawanan kunang-kunang di tempat asalnya dulu, jujur saja saat melihat hal ini Naruto serasa tak mempercayai kenyataan, bahwa di dunia yang terlihat damai ini ternyata masih ada konflik besar yang bisa membinasakan dunia dalam sekejap mata.

"Dingin!". angin malam menerpa kulit tan eksotis milik pemuda itu, Naruto menyibakan anak rambutnya yang jatuh menghalangi padangannya. Dia dengan cekatan melompat naik kepagar jembatan layaknya pemain sirkus yang tengah beratraksi. Wajahnya tenang, tak telihat takut sedikitpun walau pada kenyataanya saat ini ia tengah berjongkok diatas pagar besi dilantai empat, sesuatu yang menurun manusia normal, Gila.

Naruto menengkok arloji biru ditanganya yang menunjukan angka kosong satu dan dua belas." Sudah waktunya!". Shinobi pirang tersebut membuang nafasnya dengan sangat pelan, jika bukan karena Kaichonya yang menyuruh atau memerintah dia dan yang lain untuk berkumpul di Gedung OSIS tepat pukul satu lewat limabelas menit, saat ini Naruto pasti masih asik bergelung dibalik selimut tebal dengan gambar kodok tecintanya.

Dengan perlahan pendar biru tipis mulai nampak dibawah sepatu sport putih yang digunakan Naruto, setelah pendar-pendar biru yang ternyata Chakra milik Naruto setabil tubuh pemuda itu langsung melesat keangkasa dengan sangat tinggi, seakan-akan tubuh pemuda pirang itu terbuat dari material kapas yang sangat ringan.

-0-0-0-

Untuk kesekian kalinya Tomoe mengosokan kedua telapak tanganya untuk menggusir hawa dingin yang menerpa kulitnya. Gadis itu berjalan dengan sedikit cepat saat melihat jam putih yang melingkar ditanganya telah menunjukan angka 01, 16." Kenapa mendadak sekali Kaicho memberitaukanya?" gadis itu mengerutu pelan. Dia sebenarnya engan harus keluar malam-malam seperti ini, andai saja Kingnya tidak mengatakan jika ini 'wajib' mungkin ia sekarang masih asik menyelam di alam mimpi.

Uap air tercipta dari mulut Tomoe saat gadis itu menghela nafasnya entah untuk yang keberapakalinya. Meski dia sekarang adalah iblis namun tetap saja udara dingin tetap masih bisa membuat tubuhnya mengigil, sweater biru yang ia gunakan juga tak begitu membantu, sepertinya beberapa hari kedepan kota Kuoh akan segera tertimpun salju yang turun setiap tahun saat Kota itu memasuki musim dingin.

"SENPAI!" knight milik Sona Sitri itu menghentikan langkahnya saat mendengar namanya diserukan dari arah belakang. Tomoe yang mengenal intonasi suara tersebut langsung menolehkan kepalanya kearah belakang, disana terlihat sesosok bayangan hitam yang melaju'melompat-lompat' kearahnya dengan mengunakan pohon dan atap rumah penduduk sebagai pijakan. Gadis itu memincingkan matanya saat bayangan itu semakin lama semakin mendekat, dan dalam kurun dua detik sosok itu telah berdiri tegap didepanya, surai kuning emo yang membingkai wajah sosok itu sekarang terlihat naik keatas karena diterbangkan angin, Tomoe dapat melihat dua bola mata berbeda warna memandangnya dengan sinar gembira.

"Naruto-kun?"

"Yo,, senpai" Naruto mengangkat tanganya disretai dengan cengiran lebar yang tak pernah absen dari wajahnya.

Tomoe mengangguk pelan sebelum melanjutkan perjalananya, dia melirik melalui ujung matanya kearah pemuda disampingnya yang memilih ikut berjalan bersama dirinya ketimbang melompat-lompat seperti tadi."ne,, Naruto-kun?"

"Hem?"

"Kau tau kenapa Kaicho memangil kita malam-malam begini?" Tomoe melirik pemuda disampingnya yang tengah mengelus dagunya. Memang, tadi saat Sona mengontak kelompoknya lewat telefon untuk berkumpul dengan segera digedung OSIS, tapi anehnya dia tak menjelaskan secara rinci alasan mengapa dia memanggil kelompoknya malam-malam begini. Tomoe yang sudah cukup lama menjadi bagian dari keluarga Sona merasa cukup bingung dengan sifat Kingnya itu, biasanya Sona akan langsung menjelaskan masalah yang akan mereka hadapi secara detail, tidak mengantung seperti ini. Tomoe ingat, tadi saat ia menerima telfon dari kingnya ia sempat terguling dari tempat tidurnya karena Sona kanya berkata. 'Berkumpul di tempat biasa, sekarang!', bagi seorang Tomoe itu merupakan hal langka yang mencengangkan, karena biasanya saat Sona menelfonya pasti Heriees Klan Sitri itu akan terus mengoceh panjang lebar hingga membuat kuping Tomoe berdengung, tapi ini?,,aneh.

"Entahlah,, aku tidak tau,,"Naruto mengangkat kedua bahunya dengan santai." Atau mungkin ini ada hubunganya dengan apa yang sempat di bicarakan Kaicho dengan 'si tomat'!"

Tomoe terkikik pelan saat Naruto menyebut king dari keluarga Gremony dengan sebutan'tomat'. Tomoe berani bertaruh, hanya shinobi pirang disampingnya lah yang sampai saat ini berani menyamakan Rias Gremory dengan sebuah sayuran. Sebagai adik pemimpin Makai tak ada satu iblis pun yang berani menghina Rias karena mereka tau jika berani menghina sang Heriees maka mereka juga akan menerima murka kakaknya yang terkenal sedikit Overprotektif. Meski Tomoe akui, dengan wajah bulat dan surai merah terangnya Rias memanglah layak dijuluki tomat berjalan.

Perjalanan mereka ketempat pertemuan kini terasa sedikit cerah, udara dingin yang tadi begitu menusuk sekarang tak begitu dirasakan oleh kedua iblis muda yang terlalu asik dengan perbincangan mereka mengenai segala sesuatu yang menurut mereka layak untuk dibicarakan. Karena yang berbincang dengan Tomoe adalah seorang Uzumaki Naruto ' ninja penuh kejutan nomor satu di negara elemental' maka setiap topik obrolan yang harusnya begitu menegangkan selalu berhasil membuat Tomoe mengeluarkan tawanya ketika Naruto menjawab pertanyaan-pertanyaan yang lumayan penting dari gadis pemilik dua katana iblis disampingnya dengan jawaban-jawaban nyeleneh yang dikeluarkan mulut ninja pirang itu.

Tepat pukul 01.25 mereka berdua telah berdiri di depan pintu masuk ruang OSIS. Tomoe baru saja akan membuka pintu di depan mereka andai saja tak ada sosok gadis bersurai biru yang membuka pintu itu terlebih dahulu dari dalam.

"Kenapa kalian lama sekali?" Yura menyapa dua iblis di depanya seraya menyilangkan tanganya didepan dada, layaknya ibu-ibu yang tengah menasehati anaknya.

"Rumahku cukup jauh dari sini, kau tau?" Tomoe mengangkat kedua bahunya sedikit lalu menerobos begitu saja kedalam ruangan dengan melewati Yura yang mengembungkan pipinya kesal.

Meliat Tomoe yang telah duduk disalah satu sofa didalam ruangan dengan santai, Yura mengalihkan pandanganya kearah Naruto yang belum masuk kedalam." Dan kau Kiiroi?"

Naruto membuang mukanya kearah lain ketika Yura memandanganya dengan tajam.

"Aku baru saja pulang dari kedai ramen milik Yamada-jiji," Naruto menjawab seadanya, ia tak mau memancing amarah dari gadis didepanya dengan menjawab' maaf tadi aku tersesat dijalan yang bernama kehidupan', firasatnya berbisik jika ia mengunakan alasan konyol mendiang gurunya, maka dalam hitungan detik tubuhnya pasti akan segera diterbangkan dengan jet dari kedua tangan Yura yang menurut Naruto sedang PMS, karena wajahnya yang agak merah.

"Ck,, ya sudah,,"gadis itu berdecak sebentar sebelum membiarkan Naruto masuk kedalam.

Naruto mengedarkan pandanganya keseluruh ruangan, disana dapat ia lihat anggotanya yang lainya telah berkumpul semuanya, jadi dirinya dan Tomoe adalah yang terakhir pantas saja Yura agak jengkel tadi ternyata tanpa sepengetahuan Naruto anggota yang lain minus dirinya dan Tomoe telah sampai disana dari jam 01.10.

Sona metatap semua anggotanya dengan tegas, kurang dari dua jam yang lalu dia mendapat kabar dari Kakaknya bahwa ada masalah cukup serius di Kyoto, tempat sebagian para Youkai yang berkerja sama dengan bangsa iblis bernaung. Menurut info dari kakaknya, di Kyoto tengah terjadi insiden yang melibatkan pemimpin kaum Youkai. Kyuubi no Kitsune generasi ke 7, pemimpin kaum Youkai yang terkenal sangat kuat saat ini tengah terkena racun aneh yang membuat tubuh sang Kitsune tak bisa digerakan. Dengan alasan takut akan ada penyerangan dari fraksi lain yang menjadi musuh mereka, para tetua Youkai meminta batuan pada para iblis di Makai untuk membantu mereka mengamantan Kyoto. Dengan di dasari alasan itulah Serafall mengutus Sona dan budaknya untuk pergi ke Kyoto saat ini juga sebagai bantuan yang diberikan fraksi iblis.

Serafall mengutus tim Sona bukan tampa alasan tak jelas, dia memutuskan mengutus mereka karena dia percaya bahwa dengan otak jenius yang dimiliki Sona, dia pasti bisa memecahkan masalah yang tengah menimpa pemimpin para Youkai di Kyoto. Sona juga diberitahukan bahwa bukan hanya timnya saja yang akan di tugaskan ke Kyoto, namun tim sahabatnya juga akan ikut bersamanya sebagai bantuan. Karena masalah itulah saat ini dengan sangat mendesak Sona mengumpulkan anggotanya disini, dia tak cukup waktu jika harus menjelaskan masalah ini ditelefon karena sempitnya waktu yang diberikan, jadi dia hanya memberi perintah pada tim nya untuk berkumpul dan menjelaskan semuanya disini.

"Baiklah, karena kalian telah berkumpul semua disini aku akan memberitahukan masalah yang saat ini kita hadapi" iris fioletnya menatap serius para budaknya yang tengah memandangnya dengan serius pula, Saji yang biasanya celengekan kini hanya diam saja, pemuda itu paham jika kingnya sudah menunjukan wajah itu, berarti apapun yang akan dibicarakan Sona sangatlah penting, jadi tak ada ruang untuknya berbuat konyol jika masih sayang nyawa.

"Aku mendapat info, di Kyoto tengah terjadi kekacauan dan mereka meminta bantuan kita untuk membereskan masalah itu!"

"Kenapa harus kita, Kaicho?" Momo menatap Kingnya dengan tanda tanya, karena setaunya Youkai bukanlah kaum yang lemah. "Apakah mereka tak bisa mengatasi musuh mereka itu?"

"Hemm,,musuh yang mereka hadapi saat ini belum jelas kekuatanya ,Momo" gadis Maganekko itu menyanga dagunya dengan tangan kananya," Aku juga belum mengerti pasti masalah sebenarnya, karena dari info yang kudapat hanyalah pemimpin mereka, Kyuubi no Kitsune saat ini mengalami kelumpuhan akibat racun misterius yang tidak diketahui oleh kaum Youkai di Kyoto" Sona tiba-tiba berdiri dan berkacak pinggang." Tugas kita adalah mengamankan daerah Kyoto andai saja ada musuh yang memanfaatkan keadaan itu untuk mengacau didaerah kekuasaan Youkai, ini adalah tugas langsung dari Maou Leviathan sendiri, apa kalian siap?"

Melihat pemimpin mereka yang penuh semangat, tak ayal membuat semua anggotanya minus Naruto yang tengah melamun berdiri serempak. Dimata mereka tergambar jelas tekat kuat dan semangat untuk menyelesaikan misi terhormat ini.

Saji yang dari awal hanya diam saja tiba-tiba mengangkat kepalan tanganya keatas, dibelakanganya kobaran api menjilat-jilat sebagai backgroud, sepertinya pemuda satu itu begitu bersemangat." Tenag saja Kaicho, kami pasti tak akan mengecewakan mu,,,!"

"Benar Kaicho, kita pasti bisa menyelesaikan misi dari Maou Leviathan-sama!" Ruruko juga tak kalah hebohnya dengan Saji, gadis loli itu yengir lebar disertai tanganya memukul-mukul pungung Tomoe yang ada disampingnya.

"Ruruko-chan, sakit,,,"

Sona memandang wajah-wajah semangat timnya dengan bangga, namun pandanganya terhenti saat melihat salah satu budaknya yang terlihat asik duduk sendiri di samping Tsubaki. Sona tak melihat ekspresi wajah Naruto karena tempat Naruto duduk memang berada tepat dibawah bayangan lemari.

Naruto pov.

Kyuubi? Ada kyuubi lain selain Ringo? Jadi didunia ini juga ada Kyuubi ya, tapi apa bijuu lainya juga ada?

He'em,, apa kyuubi di dunia ini sama kuatnya dengan Ringo? Jika iya racun macam apa yang bisa membuat mahluk sekuat kyuubi bisa tumbang, ini aneh?

Hufff,,, terlalu berfikir membuat kepalaku pusing, aku bukan si nanas yang mempunyai IQ diatas 200, lebih baik aku pastikan saja nanti, toh kata Kaicho mereka itu partner jadi aku tak perlu khawatir akan bertarung dengan mahluk sekelas Kyuubi.

Normal pov.

"Naruto-san kau tak apa?"

Tepukan dibahu mengeluarkan Naruto dari dunianya sendiri, dia menatap gadis didepanya dengan disertai senyum canggung.

"ah Tsubaki-senpai, aku tak apa hanya sedikit ngantuk saja" Naruto mengaruk belakang kepalanya, dia sedikit Grogi saat ketahuan melamun sendiri.

Melihat kantung mata diwajah Naruto, Tsubaki hanya tersenyum tipis sebelum merogoh kantong celananya dan mengeluarkan sebutir pil berwarna putih sebesar gotri sepeda" Minumlah ini, ini pil penambah tenaga buatan Kaicho!"

Naruto memandang sejenak pil yang disodorkan Tsubaki, dengan pelan ia meneripa pil kecil itu dan menelanya dengan cepat."Arigato, senpai"

Gadis penguna Naginata itu tersenyum dan mengaguk." Efeknya akan terasa setelah lima menit kau menelanya" melihat juniornya menganguk Tsubaki kembali mengalihkan pandanganya kearah Sona yang masih berkotbah.

"Dalam misi ini kita akan dibantu dengan tim Gremony!"

""AYO KITA BERJU-APAAAAAA?" mendengar nama Gremony Saji langsung menghentikan aksi konyolnya bersama Kuruko, mereka berdua langsung melotot tak percaya kearah Sona." Bersama tim lak-eh Gremony?"

Sona menatap bingung kearah saji yang tiba-tiba menjadi lesu, Sona memang tidak tau perdebatan anggotanya denga tim sahabatnya jadi wajar dia binggung dengan ekspresi Saji yang sepertinya tak suka dengan keluarga Gremony. Sona memicingkan matanya mentap Saji yang kembali duduk dengan wajah tertekuk." Ada apa denganmu?"

Saji melirik kaichonya dengan malas" Tidak apa-apa Kaicho, hanya tersedak ludah!" jawabnya asal.

Sona tak menangapi jawaban asal pemuda blode itu saat sadar sudah waktunya mereka berangkat" Baiklah, karena sudah waktunya, ayo kita kehalaman akademi untuk menemui Rias dan timnya!"

-0-0-0-

Di halaman akademi terlihat tujuh remaja tengah berkumpul, sesosok gadis dengan surai merah darah dengan oppai wow sesekali melihat jam dinding yang terpasang di gedung akademi. Rias memandang malas kearah langit, ia mengingat-ingat kembali bagaimana kakaknya dengan seenaknya memberikan misi dadakan yang mengharuskan mereka pergi ke Kyoto.

"Bucho, kenapa kita tak berangkat sendiri saja?"

Rias mengalihkan pandanganya kearah Issei yang duduk dibelakangnya bersama dengan Koneko, Kiba, Xenovia dan Asia. Rias berjalan kearah budaknya berkumpul, duduk diantara Asia dan Koneko di salah satu anak tangga.

"Karena misi kali ini mungkin akan sangat sulit Issei-kun, jadi kita perlu bekerja sama dengan Sona dan timnya!" gadis itu tersenyum lembut pada remaja dengan surai coklat yang tengah menguap."Dan lagi kita perlu ota-"

"Bucho, mereka datang!"

Rias menengok kearah Akeno, kemudian mengalihkan pandanganya kembali kearah yang di tunjuk ratunya. Gadis bersurai merah itu meningalkan Issei yang tengah merengut karena kingnya tak menyelesaikan penjelasanya, Rias menyambut Tim Sona dengan senyum kecilnya meski hanya dibalas tatapan datar oleh para anggota Osis didepanya.

Setelah sampai didepan Rias, Sona dan anggotanya menghentikan langkahnya."Kalian sudah siap?"

"ya!" Rias mengacuhkan tatapan anggota Sona yang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup, dia lebih memilih menatap king tim Sitri itu dari pada harus berdebat seperti beberapa hari yang lalu karena meladeni mereka" Sejak dari tadi!"

"Hem,,baiklah" Sona menengok kearah Tsubaki dengan pandangan memerintah, dia melihat Tsubaki yang menganguk mengerti." Ayo kita pergi!"

Lingkaran tiba-tiba tercipta dibawah kaki anggota iblis Sona saat tsubaki telah menyelesaikan mantranya, Rias yang melihat itu mudur beberapa langkah kebelakang, cahaya yang cukup terang membuat Rias dan beberapa anggotanya yang berdiri cukup dekat dengan tim Sitri secara reflek mengangkat tanganya untuk menutupi mata mereka saat sebuah sinar terang kebiruan yang tiba-tiba muncul dari bawah kaki anggota Osis.

Rias membalik tubuhnya menghadap anggotanya, gadis itu memandang berbagai ekspresi dari wajah-wajah iblis muda bawahanya dengan serius" Mungkin dalam misi kali ini kita akan menghadapi musuh yang sedikit berbeda dengan yang selama ini kita hadapi, tapi aku yakin kalian pasti mampu mengatasi semua itu,," Rias menatap Koneko dengan sesaat, gadis mungil itu menguap pertanda ia masih sedikit mengantuk.

"Berbeda?" mata ber iris green fores milik Rias memandang Issei yang tengah memandang binggung kearah dirinya.

Rias menghela nafasnya dengan pelan, gadis itu mendongakkan kepalanya keatas, memandang langil malam Kuoh yang hari itu tertutup awan gelap.",,yah, jika selama ini yang sering kita hadapi adalah iblis liar dan Fallen Angel, namun kali ini mungkin kita akan menghadapi, Youkai"

"Youkai?" Issei memiringkan kepalanya binggung, selama menjadi iblis Issei memang belum pernah mengalami konflik dengan jenis mahluk yang baru saja disebutkan kingnya, setahu Issei Youkai adalah siluman-siluman yang menurut sejarah jepang hayalah mitos, jika masih menjadi manusia mungkin ia akan langsung mengangap perkataan kingnya adalah guyonan, tapi sekarang mau tak mau Issei harus mulai terbiasa dengan hal berbau supranaturai itu karena jika iblis, malaikat dan malaikat jatuh saja ada, pastilah Youkai memanglah ada di dunia ini.

"Yah Issei-kun, Youkai" Issei mengalihkan fokusnya dari sang king kearah Quenya yang baru saja menjawab pertanyaanya" Youkai secara garis besar sama seperti kita, iblis. Kita dan mereka sama-sama mahlik mistis yang mungkin hanya diangap mitos oleh manusia zaman zekarang. Wujud mereka bermacam-macam ada yang berwujud hewan, tumbuhan dan ada pula yang menyerupai manusia" Akeno mencupit dagunya pelan, ia berusaha menggingat-ingat informasi yang masih menempel diotaknya mengenai Youkai.",, Kekuatan mereka juga berfariasi, ada yang lemah, ada juga yang sangat kuat dan,, Koneko-chan dulunya adalah salah satu dari mereka sebelum direnkarnasi menjadi iblis oleh Bucho!"

Issei yan memang sudah tahu akan identitas kohai imutnya dimasa lalu hanya menganguk mengerti, entah ia memang mengerti atau tidak mengingah kapasitas otak pemuda bersurai coklat itu yang sepertinya tak mencakup 5 Gb. Koneko mengangkat alisnya saat Akeno menyebutkan namanya, ia kemudian membuang mukanya kesamping saat sebuah inggatan tentang kakaknya tiba-tiba melintas diotaknya.

"Jadi kau mengerti Issei!" Rias menunjuk wajah pemuda itu dengan telunjuknya tepat diwajah." Kali ini jangan gegabah, musuh kita kali ini mungkin akan sangat kuat"

" H-hai Bucho" Issei menciut saat melihat mata majikanya yang berapi-api, lebih baik menurut dari pada mendapat ceramah panjang dari red devil didepanya.

"Ok, karena telah siap, ayo kita pergi" adik maou Luchifer itu memandang quenya sesaat, pandangan itu sama seperti pandangan yang diberikan Sona pada quenya tadi." Kalian berkumpul!"

Akeno mulai merapal beberapa mantra saat timnya telah berkumpul, sebuah diagram berwarna merah mulai tercipta dibawah kaki mereka saat Akeno telah menyelesaikan mantranya, " Ara,, kita berangkat!"

Cahaya merah menyeruak dari halaman akademi Kuoh, sebelum akhirnya cahaya merah itu redup, semakin redup dan akhirnya menghilang, meningalkan kekosongan ditempat itu.

-0-0-0-

Suara gedebuk benda jatuh mewarnai kedatangan tim Sona di Kyoto, merasa sedikit penasaran Sona mengalihkan pandanganya keasal suara, keringat sebesar biji jagung langsung tercipta di pelipisnya saat melihat dua sosok tengah nungging dengan wajah biru dan pipi mengelembung.

"ughhh, perutku serasa diaduk-aduk" salah satu dari dua mahluk yang terkena efek samping sihir teleport milik kaum iblis mengerutu pelan, wajah pemuda bersurai kuning itu memucat hingga mengubah warna kulit wajahnya menjadi biru.

"Nii-chan payah" Ruruko menoel kepala pirang Naruto, gadis itu jongkok didepan dua pemuda yang tengah sekarat, kikikan pelan juga keluar dari bibirnya saat melihat wajah menderitaan dua pemuda itu.

Sona baru saja akan melangkahkan kakinya ketempat dua pionya rubuh andai saja lingkaran sihir merah tak muncul dibelakangnya, dan keringat sebesar jagung juga muncul kembali dipelipisnya saat melihat dua budak teman sekaligus Rivalnya mengalami hal yang sama dengan kedua pionya.

Rias berjongkok didepan tiga pemuda dan satu gadis yang tengah berbaring didekat pohon sakura tanpa bungga, pandanganya terarah pada seorang gadis dengan surai pirang dengan aura hijau keluar dari kedua tanganya. Asia memfokuskan energi heal sacred gear miliknya kepada gadis mungil didepanya yang tadi roboh setelah mereka sampai di tempat ini. Gadis mantan Biarawati itu menyeka keringat yang keluar dari dahinya, meski cukup melelahkan namun wajah gadis itu tetap menunjukan senyum kepuasan tatkala meliat Koneko yang mulai membuka matanya dengan pelan, warna wajah gadis nekomata itu perlahan-lahan mulai kembali kekeadaan normalnya, tak seperti tadi yang sepucat mayat.

"Arigato Asia!" Koneko mengubah posisinya menjadi duduk dengan mengunakan batang pohon sebagai sandaran, dia memberikan senyum terimakasih kepada penolongnya.

Disertai dengan senyum Asia menganguk, dia melirik anggotanya yang lain disamping Koneko, sama seperti yang dilakukan kepada Koneko, Asia juga melakukan hal yang sama kepada iblis remaja yang tengah terkapar dengan wajah membiru.

Senyum bangga terpampang diwajah Rias saat menyaksikan Asia yang tenga mengobati Issei, dia berdiri dan mendekat kearah Sona yang tengah bersandar disalah satu pohon.

Sona membuka kelopak matanya saat merasa ada yang mendekati dirinya, iris fioletnya menangkap sosok Rias telah berdiri disampingnya,",, Bagaimana?"

Dengan tangan bersideap didada, Rias menatap teman masa kecilnya yang tengah memandang jauh kedepan, tepatnya kesebuah mansion dengan gaya tradisional yang berada jauh didepan mereka" Mereka baik-baik saja, dengan bantuan Asia kurang dari sepuluh menit lagi mereka pasti akan pulih" kesunyian menyambangi mereka ketika Sona tak membuka percakapan kembali, gadis berwajah tempok itu hanya mengangukan kepalanya sebagai tanda bahwa ia menyimak.

Wajah Asia memucat, tubuhnya bergetar, senyum manis yang tadi dipertontonkan berubah menjadi senyum canggung. Jika ada yang berfikir gadis itu kelelahan hanya karena telah mengunakan kekuatan spesialnya maka jawabanya adalah salah!, tapi jika bukan karena masalah itu jadi apa?.

Sebenarnya yang membuat mantan biarawati itu sedikit ngeri adalah respon posesif dari teman setimnya yang sedang menatapnya dengan aura kedengkian. Namun meski keadaan jiwanya tengah terancam Asia harus tetap menyelesaikan tugasnya, ia ternyata tipikal gadis yang memegang teguh pendirianya' menolong orang harus sampai selesai tak boleh setengah-setengah' mungkin itulah moto Asia.

Dengan perlahan kedua tangan Asia mulai menempel diatas dada Naruto, iblis terakhir yang harus dia sembuhkan.

"A-s-i-a!" desisan mengerikan membat tubuh gadis itu merinding disko secara mendadak, dia kembali menarik tanganya sebelum menyentuh dada tertutup switer hitam Naruto.

"H-hai, senpai?"

"Jangan kau sentuh bagian terlarang Naruto-kun, paham!"

Dalam keadaan biasa Asia pasti akan langsung terkikik geli saat melihat tingkah posesif temanya, namun jika yang menjadi sasaran adalah dirinya, mau tak mau itu membuat dirinya agak ngeri. Asia menatap ragu kerah gadis dengan surai biru terang didepanya.

"B-baik, Xenovia-chan!"

Yah,, rupanya deklarasi Xenovia pada Kingnya waktu itu bukanlah bualan semata, dan ini terbukti bagaimana sosok itu degan iklas menjadikan pahanya sebagai bantal untuk sang pangeran tercinta a.k.a Naruto, layaknya sang lebah yang melindungi madunya. Xenovia terus memperhatikan gerak gerik Asia yang mulai kembali menyalurkan energi penyembuh dari dua cicin ajaib itu kearah dada Naruto. Satu tangan milik gadis pemegang Durandal itu dengan lembut membelai surai kuning Naruto, sementara tangan lainya memegang erat pedang keramat kebangaanya.

Kiba tersenyum senang melihat drama didepanya, tangan pemuda tampan itu begitu aktif menepuk-nepuk pungung Issei yang sedang membungkuk karena tak kuat menyaksikan adegan yang menurutnya romantis." Sabar Issei-kun, masih ada aku disampingmu!"

Mendengar pengakuan Kiba, tubuh Iseei langsung menegang, tangan kananya secara protektif memeganggi pantatnya. Tak ingin keperjakaanya direngut oleh sesama jenis, Issei dengan kecepatan melebihi Kokabiel langsung melesat menjauh dari Kiba, tujuanya tak lain dak tak bukan adalah sosok loli Koneko yang tengah bersandar pada pohon disamping mereka." KONEKO-CHAN SELAMAT KAN AK- UGGHHH!"

Miris.

Sial bagi Issei, bukanya memeluk tubuh lembut Koneko ia malah dengan nikmatnya mencium kerasnya batang pohon yang tadi sempat menjadi sandaran Koneko. Yah,, tadi sebelum Issei memeluknya, Koneko mengandalkan instingnya langsung berguling kekiri saat merasakan keselamatanya sedang terancam oleh senpai mesum. Issei yang dalam kecepatan penuhnya tak dapat menghentikan laju larinya, alhasil wajah pemuda bersurai coklat itu kini sukses merasakan asiknya mencium kulit pohon sakura yang mungkin sangat keras.

"Nasibku!"

"Bodoh!" tanpa rasa bersalah Koneko melewati tubuh naas Issei yang tengah menunging dengan wajah menempel pada pangkal pohon, ia mengalihkan perhatianya kearah Asia dan Xenovia, mendengus pelan sebelum kembali menyandarkan tubuhnya didekat Ruruko.

-0-0-0-

Sesosok mahluk hijau mirip seekor katak namun memiliki mulut bebek dan piring berisi air dikepalanya tengah berlari tergesa-gesa di sebuah lorong gelap. Setelah sampai disebuah ruangan besar dengan ornamen yang kental denganan kebudayaan Jepang, sosok itu tiba-tiba berlutut, nafasnya memburu akibat maraton tak terencana yang tadi ia kerjakan."T-tuan, ada yang datang!"

Sosok yang di panggil tuan oleh mahluk itu membuka matanya yang tadi terpejam, iris kuning itu menatap tajam bawahanya yang kini menundukan kepala." Aku sudah tau!".

"Apa yang haruk aku lakukan, Tengu-sama!"

Sosok yang di pangil Tengu-sama, itu menatap sekilas bawahanya dengan datar. Dengan perlahan sosok itu bangkit dari singasananya, Tengu memiliki tubuh layaknya manusia biasa, namum yang membuatnya berbeda adalah kepala mahluk yang menyerupai burung gagak serta sayap hitam yang tertekuk di punggungnya. Aura bangsawan terasa sangat kental serta youkai dalam kapasitas besar juga terus menguar dari sosok berkepala gagak itu." Tuntun mereka kemari, Senosuke!"

Senosuke menganguk paham, mahluk hijau itu akan segera melesat menjalankan tugasnya jika saja tuanya tidak kembali mengatakan sesuatu yang membuat ia menyeringai licik",,,Berikan ujian pada mereka, apakah layak atau tidak!"

"Tentu, Tengu-sama!"

-0-0-0-

Sona menatap mahluk aneh di depannya yang tiba-tiba menyerang klompok nya dan Rias dengan tajam, iblis muda itu tak pernah berhenti mengerakan kedua tanganya kesana kemari. Di depanya sesosok mahluk berkepala tiga{ kambing,singa dan ular}dengan tubuh percampuran singa dan kambing serta berekor ular tengah meraung-raung ganas akibat terlilit naga air berukuran sedang. Sona melirik kearah Rias, ditangan gadis bersurai merah dara itu sebuah bola energi sebesar bola voly berwarna merah gelap mulai tercipta. Melihat sahabatnya yang telah siap dengan sihir pemusnahnya, Sona menganguk sekilas saat Rias menoleh kearahnya.

Rias yang melihat tanda dari Sona mulai membuat ancang-ancang melempar, kaki dilebarkan, tangan kananya yang berisi power of destruktion ia tarik kebelakang, tatapan matanya tajam menatap sosok Chimera yang saat ini tengah terbelenggu pergerakanya oleh naga air ciptaan Sona. layaknya pemain Soft ball profesional Rias melontarkan energi pemusnah ditangan kananya kearah Chimera.

Suara debuman keras terdengar keseluruh hutan saat power of destruction menjilat kulit berbulu Chimera, mahluk malang itu tanpa bisa menjerit langsung musnah saat bola merah kehitaman milik gadis merah disampingnya secara cepat melahap tubuhnya mulai dari badan, kepala dan ekor.

~ 0~ 0 ~

"Brengsek!" dengan keceptan yang ia miliki Saji menghindari cakar tajam mahluk didepanya dengan melompat cukup jauh kesamping. Iris grey milik nya memandang serius teman satu timya yang tengah jungkir balik menghindari cakaran-cakaran chimera itu.

"SAJI JEGAL KAKINYA DENGAN BENAGMU!". Mendapat perintah dari wakil ketua Osis yang kini berada jauh disisi kanan sosok Chimera, Saji langsung melesatkan beneng-benang tipis berwarna agak kebiruan kearah kaki monster yang masih sibuk mencakar-cakar tanah tempat teman kuning dan birunya berada.

Dalam hidupnya sebagai iblis Yura sudah sering merasakan nyawanya hampir tercabut paksa oleh musuhnya, ia pernah mengalami patah kaki, tangan, bahkan kehilangan organ dalam. Sebagai iblis reinkarnasi yang mengkonsumsi bidak rock dia tak mempunyai serangan jarak jauh seperti king dan anggota lainya, jadi jika masuk kedalam pertarungan Yura harus selalu berada dekat dengan musuhnya agar bisa berkontak fisik. Jika musuhnya lebih lemah darinya maka itu adalah keuntungan, namun jika musuhnya lebih kuat itu adalah petaka. Dan saat ini musuh yang sedang mereka hadapi masuk dalam kategori 'Kuat'. Dengan alasan itulah ia saat ini hanya bisa menghindar saat lawan menyerang seraya mencari kelemahan musuhnya.

"Jangan melamun, Aoi!" gadis itu mendengus pelan saat rekanya memberi sedikit nasehat, ia menatap pemuda pirang disampingnya, matanya sedikit memincing bingung saat melihat tangan pemuda itu tengah mengulungkan sebuah kertas dengan tulisan aneh kegagang pisau hitam yang merupakan senjatanya sejak awal pertarungan dengan mahluk aneh didepan mereka.

"Jangan menguruiku, Kiiroi!". Yura kembali melompat kesamping saat cakar Chimera menghancurkan tempat ia tadi berpijak.

Naruto tak sempat menjawab, karena sebuah rahang besar tengah siap menyantapnya dari depan, demi nyawanya yang berharga ia langsung melompat mundur dan membiarkan mulut singa Chimera menghantam tanah. Mata sharinganya melihat sekilas lima benang tipis milik Saji mulai melilit kaki belakang mahluk didepanya yang kayaknya kurang ngeh dengan keadaan. Shinobi pirang itu mengalihkan pandanganya kearah gadis bersurai biru tak jauh darinya.

Yura memekikik pelan karena dikagetkan oleh tepukan pelan dibahunya, matanya memberi glare ringan pada pemuda pirang yang tadi masih ia lihat berada cukup jauh dengannya kini sudah berada dibelakangnya" Jangan mengagetkanku!"

"Sory!" Naruto mengangkat tanganya dengan tanda piss" Bersiaplah, pertunjukan sebenarnya akan segera dimulai!" sebuah head seal di buat, kurang dari dua detik satu klon yang sangat mirip denganya muncul.

Melihat benang-benangnya mulai melilit kaki Chimera, Saji dengan kekuatan penuh langsung menarik tangan Kirinya yang telah terbungkus sarung tangan mirip seekor reptil berjenis bunglon kebelakang." Tarik-tarik-tarik-TARIKKKK!"

Brukkk

"groarrrrrr"

"Bagus Saji-senpai!" bunshin Naruto langsung melompat keatas saat melihat Chimera itu rubuh karena dua kaki belakangnya ditarik oleh Saji. Naruto melirik bunshinya yang tengah membuat haed seal di udara, dia yang tak ingin kalah juga ikut membuat head seal berbeda dengan bunshinya.

"Katon : Ryuuka no Jutsu" api intensitas cukup besar keluar dari mulut bunshin Naruto dan mengarah langsung ketubuh Chimera yang masih terlentang akibat benang Saji menghalagi usahanya untuk berdiri.

"Fuuton : Reppushou no Jutsu".gelombang angin muncul dari dua telapak tangan Naruto yang diarahkan ke depan, pusaran mirip angin puyu itu melesat maju dan menabrak gelombang api yang disemburkan oleh bunshinya.

Gadis dengan Naginata ditangan kananya, saat ini hanya bisa melonggo saat melihat bagaimana dua elemen alam saling menyatu dan menciptakan sebuah tornado api ganas yang membuat tubuhnya tiba-tiba mengigil ngeri. Gadis itu menatap horrot tubuh Chimera yang tengah meraung-raung menahan kesakitan saat tornado api tadi mengilas tubuh besar mahluk itu tanpa ampun. Jika hanya api Tsubaki mungkin tak akan terlalu terkejut, namun ini 'angin'?. Sampai detik ini, Tsubaki hanya tahu bahwa pemuda pirang yang berdiri di samping Yura cukup bisa mengunakan elemen api dan air, karena memang dua elemen itu yang pernah Tsubaki lihat digunakan oleh pemuda pirang yang sering disebut Kaichonya 'Ninja'. Namun sepertinya kejutan demi kejutan akan selalu disuguhkan oleh pemuda itu, seperti saat ini. Tsubaki meghela nafasnya pelan, ia kembali melirik tempat Naruto dan Yura berada. Gengaman pada gagang Naginata semaki ia eratkan saat melihat sosok Yura yang tadi hanya melongo seperti dirinya mulai melesat maju kearah tubuh penuh luka sayat dan gosong Chimera.

Melihat tubuh sebesar kuda chimera terlahap tornado api ciptaan pemuda disampingnya membuat Yura mau tidak mau menelan ludahnya sendiri dengan berat. Meski jarak pandang terhalang asap dan api, namun gadis itu masih bisa melihat jelas bagaimana mahluk yang menyerang mereka tadi sekarang tengah kelojotan akibat badan berbulunya yang tengah tersayat-sayat oleh putaran angin setajam belati dan terbakar oleh gumpalan api panas yang menyatu dengan angin tersebut. Kadang Yura lupa jika pemuda yang menurutnya bodoh itu faktanya sangat kuat, dan itu bukan bualan semata karena dia sendiri pernah menyaksikan secara langsung bagaimana pemuda itu bisa memenangi pertarungan melawan Fallen Angel bersayap sepuluh.

"Apa kau hanya ingin berdiri saja disini, hem?" Naruto melirik kearah samping, dia mendengus pelan saat melihat gadis bersurai biru di sampingnya hanya memasang tampang blang." Hey! Dia masih bergerak tuh!" Yura tersentak saat Naruto menoel tanganya pelan." Giliran mu!"

Yura menganguk pelan, dia mengencangkan sarung tangan hitam di kedua tanganya. Tanpa membalas pemuda disampingnya ia langsung melest maju, dimana tubuh Chimera terlentang. Yura menarik tangan kanan ya kebelakang dan saat jarak musuh sudah mencapai jangkauan serangnya gadis itu meghantamkan kepalan tinjunya tepat ke bagian samping Chimera. Mahluk itu meraung keras, darah hitam muncrat dari mulut dan hidungnya, pukulan dari gadis yang terlihat ringkih dari luar itu sepeertinya sukses menghancurkan organ dalam Chimera hanya dalam sekali pukul. Tubuh menyedihkan Chimera terlempar kedepat menghancurkan beberapa pohon yang ada di jalur penerbanganya.

Melihat mangsanya menjauh sosok Yura melesat kembali, dengan kecepatanya sebagai Rock dalam hitungan detik dia sudah berada di belakang musuhnya yang masih melayang datar di udara, tanpa rasa kasihan gadis itu kembali memukul perut mahluk itu sangat keras hingga menciptakan gelombang kejut dan melempar kembali Chimera malang itu keudara. Yura menatap datar mahluk mistis itu dengan pandangan dingin, ekor matanya menagkap sekilas sekelebat bayangan hitam menyusul tubuh Chimera yang melayang di udara.' Habisi dia,senpai'

Tsubaki yang telah sampai diatas tubuh musuhnya mengangkat kaki kananya tinggi-tinggi, dengan sekali hentakan full power gadis itu menghantakan tumitnya kepunggung Chimera malang yang sudah tak berbentuk. Tubuh sebesar kuda milik musuhnya menukik tajam kebawah sesaat setelah menerima tumit maut Tsubaki, bunyi bedebum terdengar kembali saat tubuh Chimera mengontak tanah.

Serasa belum puas, wakil ketua Osis itu kembali melesat kebawah dimana tubuh Chimera tergeletak. Ujung tajam Naginata ia arahkan lurus ke bawah tepat ke kepala singa Chimera.

Crassss,,,

bunyi mengerikan terdengar saat ujung Naginata milik Tsubaki berhasil melubangi kepala Chimera dengan sekali serangan. Tanpa memperdulikan mata musuhnya yang mengiba, Tsubaki kembali menyentakan senjata kebangaanya kebawah, membuat ujung naginata itu menembus kepala singa Chimera lebih dalam..

Darah hitam muncrat keudara saat gadis itu mencabut senjatanya dengan sembarang. Tubuh molek Tsubaki yang terlalu dekat dengan kepala Chimera juga tak luput dari darah hitam mangsanya, dengan tubuh yang belepotan gadis itu memangul Naginatanya dan berjalan pelan kearah Naruto yang entah mengapa terlihat memucat.

Naruto menelan ludahnya saat melihat senpainya yang baru saja menghabisi musuh mereka dengan kejam tengah melangkah mendekatinya. Wajah cantik gadis berkacamata itu ternoda oleh cairan hitam amis yang membuat wujudnya menjadi sangat mengerikan di mata Naruto."h-hiiii"

Rias dan Sona berlari pelan kearah Asia yang tengah mengobati bahu Kiba yang sepertinya terkena cakar Chimera yang mereka lawan, gadis merah itu menghembuskan nafasnya lega, bersyukur karena budaknya itu hanya mengalami luka ringan.

Selagi Rias menungui Asia, Sona mengalihkan pandanganya kesegala arah, dia mengernyit binggung saat tidak melihat empat anggotanya di sekitar mereka, pandanganya menajam saat melihat bangkai seekor Chimere terbujur kaku dengan tubuh gosong dan kepala terpengal.

"Kaicho"

Suara Tomoe muncul dibelakang Sona, membalik tubuhnya, Sona langsung menemukan bahwa tak hanya Tomoe yang ada di belakangnya. Sona menatap satu persatu budaknya dengan pandangan menyelidik, dari pengamatannya dapat ia simpulkan bahwa keadaan empat gadis didepanya tidak mengalami luka yang menganggu setelah pertarunganya dengan musuh mereka." Dimana yang lain!"

"Mereka memisahkan diri Kaicho" jawab Momo. Melihat Sona masih binggung Momo menoel pinggang Tomoe, memberi tanda gadis penguna katana itu untuk menjelaskan Kronologinya.

"Saat dua mahluk itu datang, mereka memisahkan diri,," tomoe menunjuk Bngkai Chimera, melihat Sona yang hanya menganguk Tomoe kembali menurunkan tanganya." Mereka membawa salah satu dari Chimera yang menyerang kita kedalam hutan, saat kami melawan yang satu itu!"

Tomoe melirik kearah rekan-rekan ya yang hanya diam saja, pandangan ya kembali mengarah pada kingnya saat Sona tiba-tiba membalikan badan" Kita cari mere-!"

"KAICHO!"

Sona sedikit terlonjak saat Suara cempreng yang sangat ia kenal memangilnya dengan cukup keras, Heriees Klan Sitri itu tak bisa untuk tidak tersenyum saat melihat empat anggotanya yang lain mulai terlihat mendatanginya tanpa luka berarti, ah,, minus wakilnya yang berlumuran cairan hitam kental. Sebagai king dari kelompok ini Sona tadi sempat merasakan jantungnya berdetak kencang saat tahu empat anggotanya memilih melawan Chimera secara terpisah. Meski mahluk itu tidak cukup kuat untuk iblis sekelas mereka namun tetap saja mahluk itu sekarang saat melihat dua pemuda pirang tengah nyengir lebar kearahnya perlahan-lahan kekhawatiran itu mulai lenyap, jika mereka masih bisa nyengir berarti mereka baik-baik saja kan?.

"Nii-san\ Saji-kun!" dua nama ter-alun merdu dari dua gadis dibelakang Sona. Ruruko dan Reya melesat melewati Sona, saat jarak antara mereka dan NaruSaji semakin menipis kedua gadis itu langsung menubruk dua pemuda pirang didepanya.

"R-reya-chan,,!" dengan wajah memerah Saji memegang pundak Reya. Ia yang memang kurang peka dengan perasaan gadis yang memeluknya merasa binggung tingkat dewa atas kelakuan Reya yang tiba-tiba agresif."A-ada apa?"

"Tidak" Reya semakin membenamkan wajahnya kedada Saji." Aku hanya menghawatirkanmu!". jawaban Reya sukses kembali membuat wajah Saji kembali merona.

Melihat wajah rekan blode disampingnya yang merona hebat, Uzumaki muda itu terkiki pelan. Naruto menengokan kepalanya ke bawah, saat merasakan seseorang tengah memperhatikanya. Tangan tan miliknya seolah bergerak sendiri saat menemukan Ruruko yang masih memeluknya tengah melihat kearahnya dengan wajah binggung.

"Nii-san?" gadis muda yang merupakan iblis itu memiringkan kepalanya kekiri, ketika tangan pemuda yang ia panggil Nii-san menepuk lembut kepalanya." Ada apa?"

"Hehehe,, tak apa, Ruko-chan!" Naruto melepas pelukan Ruruko pada tubuhnya dengan pelan." Ayo kita ketemat Kaicho!" sebelum berjalan Naruto menatap kearah pasangan SajiReya yang telah menyelesaikan acara pelukkanya. "Kalian berdua, ayo!"

"Ha'i!"

Akeno terkikik dengan tangan kanan menutupi mulutnya, Kiba hanya tersenyum, Issei menagis dengan tubuh gemetar, Koneko tetap setia dengan wajah datarnya, Asia mengigil dan wajahnya memucat, Rias tersenyum canggung saat melihat bagaimana salah satu Knight miliknya kini mengeluarkan aura membunuh pekat, gadis merah itu memandang Asia dengan tatapan kasihan.

Asia tanpa sadar mengambil langkah kesamping, insting nya sebagai iblis mengutuk nasib yang selalu menempatkan dirinya berada dekat dengan sumber bahaya. Ia menatap dengan takut gadis bersurai biru dengan pedang cukup besar berlumur darah Chimera ditanganya.

"Asia!"

Asia nyaris saja menjert histeris saat bisikan yang begitu dingin dan dipenuhi nafsu membunuh tertangkap indra pendengaranya. Dengan menguatkan tekat yang masih tersisa ia memandang wajah Xenovia."i-iya S-senpai?"

" Siapkan Twillight Healing mu, Asia!". Melihat wajah-wajah binggung anggotanya mengapa ia meminta gadis mantan biarawati disampingnya bersiap dengan berkah miliknya, seulas senyum mengerikan tercipta diwajah Xenovia.",,Akan ku cincang gadis kecil itu, karena telah berani memeluk Naruto-kun ku khukhukhu,,".

Dalam level inilah mental Asia telah roboh, gadis muda itu menjerit lalu berlari menjauh dari samping Xenovia. Mengetahui Quen dari tim mereka cukup kuat Asia memilih tubuh Akeno sebagai perlindungan.

Akeno kembali terkikik saat melihat Asia yang menjerit histeris sebelum berlari kearahnya dengan air mata berlinang. Menghiraukan keberadaan Asia yang mengunakan tubuhnya sebagai benteng, Akeno melirik kearah Rias yang mulai berjalan kearah Xenovia dengan langkah cepat." Ara,,,ara,,, Xenovia-chan pasti sangat bernafsu saat ini!"

-0-0-0-

Tim Sona dan Rias kini tengah berkumpul dibawah sebuah pohon Oak yang telah mati, tentu saja setelah amarah Xenovia mereda.

"Apa menurutmu kedatangan ketiga Chimera itu wajar?".

Mendengar pertanyaan Rias, saraf-saraf otak Sona mulai saling terhubung guna mencari jawaban dari pertanyaan sahabatnya.

"Kurasa tidak,,"

"Apa maksudmu?" alis Rias mengkerut.

"Kurasa ada yang memerintahkan mereka,," Sona menaikan kacamatanya dengan telunjuk, dia menatap Rias dengan tajam." Menurutku ada mahluk lain yang menyuruh mereka untuk menyerang kita."

"Apa kau tahu siapa?"

Sona mengangkat bahunya, bertanda ia tak tahu."Tidak,. tapi ada dua kemungkinan,,,"

" Yang pertama, tuan ketiga Chimera yang menyerang kita adalah musuh yang membuat Kyuubi saat ini lumpuh, mungkin ia mengetahui alasan kedatangan kita kesini, dan Dengan memusnahkan kita secepatnya mereka berfikir itu akan membuat rencana mereka untuk menginvasi Kyoto akan semakin mudah."

Rias dan timya mengangguk mengerti, alasan pertama yang diberikan oleh Heriees klan Sitri itu cukup masuk akal juga jika difikirkan.

"Yang kedua?" Asia kembali menyembunyikan tubuhnya dibalik pungung Akeno saat berpasang-pasang mata menatapnya."g-gomen!"

"Yang kedua, tuan ketiga mahluk itu adalah,," Sona mengalihkan pandanganya kearah salah satu pohon Oak besar tak jauh dari mereka dengan tatapan datar. Pohon Oak yang sepertinya sudah berusia ratusan tahun itu berdiri gagah dengan cabang dan daun yang lebat. Saking lebatnya daun pohon itu mungkin jika diatasnya ada gajah mereka tak akan bisa melihatnya karena tertutup daun Oak." Klien kita!"

Bunyi gedebuk berisik membuat tim Sona dan Rias menajamkan pandanganya kebawah pohon Oak besar yang tadi dilihat Sona. Mereka secara kompak mengkerutkan kening saat sesosok bayangan mulai nampak dari bayangan pohon. Melihat sosok tak diundang perlahan mendekati mereka, Rias memberi aba-aba pada anggotanya kalau-kalau sosok itu tiba-tiba menyerang.

Melihat tanda dari kingnya, Akeno langsung membuat petir kecil berwarna kuning ditangan kananya, sedangkan tangan kirinya direntangkan kebelakang, melindungi gadis mungil dibelakang tubuhnya. Kiba dan Issei langsung memasang kuda-kuda bertarung mereka, sedangkan Koneko dan Xenovia berada dibelakang Kiba dan Issei.

Anggota tim Sona yang melihat tim Gremory sudah mengambil ancang-ancang bertarung langsung mengambil tindakan waspada, namun kegitan mereka terganggu saat Sona memberi tanda untuk tenang.

"Kaicho?"

" Tenang". Menghiraukan tatapan binggung dari budak-budaknya, ia lebih memilih menatap kearah shinobi pirang disamping Ruruko yang tidak bergerak dan bersuara sejak mereka semua berkumpul. Sona kembali menghela nafasnya saat pendengaran supernya sebagai bangsa iblis murni menangkap dengkuran halus dari sosok yang saat ini menjadi fokusnya. Dengan bermodal krikil sebesar kelereng yang ia ambil dari bawah kakinya, Sona berharap mendapat perhatian dari salah satu budaknya yang tak mepunyai sopan-santun.

Bletakkk...

"i'iitttai!"

-0-0-

" Yo. Bro!"

Anggota tim Gremory yang berada paling dekat dengan sosok misterius itu secara komical langsung terjungkal kedepan ketika sosok yang mereka asumsikan sebagai musuh secara penuh keluar dari bayang-bayang pohon Oak dengan tampang 'sangat'polos dan cengiran lebar.

Rahang Tsubaki, Saji, Reya, Bennie, Momo, Tomoe, Ruruko dan Yura secara kompak jatuk kebawah ketika sosok yang muncul tadi sangat mirip {sama} dengan keluarga mereka. Dengan tampang abstrak secara bergantian kepala mereka menengok kearah pemuda yang tengah mengelus-elus batok kepalanya disamping Ruruko dan kembaranya.

"B-bagaimana,, Naruto-san?" Saji menunjuk-nunjuk wajah Naruto disamping Tomoe dan bunshin Naruto di depan tim Gremory secara bergantian.

Dari pada mengurusi Saji yang seperti orang linglung, Naruto sepertinya lebih senang menatap Sona dengan glare ringan karena dengan teganya menyambit kepalanya dengan batu saat ia tengah enak-enaknya menyelami alam mimpi.

Mendapat glare dari budaknya Sona membuang wajahnya kesamping, dengan bibir yang melengkung.

Didalam batinya Rias mengutuk kemampuan otak miliknya karena tak becus menyimpan memori tentang kemampuan pemuda pirang didepan mereka yang bisa mengandakan diri, ia memang pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri sosok itu mengunakan kemampunya saat melawan Kokabiel, namun karena memang daya tampung otaknya yang agak ehmmm kecil, adik pemimpin Neraka itu sepertinya melupakan fakta penting tersebut.

Rias yang telah selesai dari acara nyugsebnya, menatap sosok didepanya dengan teliti. Iris green Foresnya menyipit saat melihat benda-,, ahh bukan, mahluk aneh ditangan bunshin Naruto, mahluk dengan panjang kurang lebih 60 cm berwarna hijau lumut terlihat mengenaskan karena pemuda itu membawanya dengan mencengkram kaki kiri mahluk itu sehingga kepala mahluk itu berada dibawah{terbalik}.

"Ano Na-"

"Apa yang kau temukan, Naru!"

Tangan yang tadi akan menunjuk mahluk aneh ditangan bunshin Naruto, seketika itu juga jatuh lemas bagaikan tak bertulang saat gadis berkacamata yang merupakan sahabat sekaligus rivalnya menyerobot pertanyaanya pada pemuda yang mengunakan sweter hitam didepan mereka.

Akeno yang melihat awan hitam mengumpul diatas kepala kingnya menepuk pelan pundak Rias, saat gadis itu mendongkak kearahnya, Akeno hampir saja tak kuat menahan tawanya karena melihat wajah Rias yang hampir mewek dengan mata membulat berkaca-kaca, bibir mengerucut dan pipi memerah." A-ku k-kalah dari kacamata itu,Akeno".

"ara,,,ara,,,?"

Bunshin Naruto mengankat tangan kananya yang membawa mahluk aneh kearah Sona." Kaicho!".

Sona melihat mahluk lemas ditangan Naruto dengan jeli.' Hijau, kecil, mirik katak,mulut bebek dan sebuah benda mirip piring dikepalanya'." Kappa!"

Suara Sona yang agak meninggi membuat alis Bunshin Naruto terangkat, sepertinya gadis didepanya itu tahu jenis apa makluk ini."Kappa?".

Sona menganguk." Turunkan dia!" alis Sona sedikit berkedut ketika bunshin Naruto menurukan Kampa dengan kejam[ menjatuhkan]. Sona mendudukan mahluk itu didepanya, setelah mahluk yang terlihat tak memiliki stok nyawa itu duduk seutuhnya, Sona meletakan telapak tanganya diatas piring yang ada diatas kepala mahluk yang ia ketahui berjenis Kappa.

Bunshin Naruto menatap tertarik tangan Sona yang secara tiba tiba membentuk sebuah lingkatan sihir kecil diatas kepala mahluk tangkapanya. Kedua iris berbeda warna tersebut bersinar kagum saat dari linkaran sihir itu muncul air yang jatuh kearah piring milik Kampa hingga penuh." Sugoi!"

" Kappa adalah jenis Youkai yang lebih sering berada didalam air namun mereka juga cukup sering berada didarat. Piringan diatas kepalanya apakah tadi berisi air?" Sona menengok kearah Naruto yang hanya menganguk, membenarkan ucapanya.",, air didalam piringan itu berisi sihir Kappa, dan jika air itu mengering dalam waktu yang lama selain kekuatan Kappa hilang, Kappa juga lama-lama akan mati."

Memang benar yang dikatakan Sona. Awalnya bunshin Naruto agak kewalahan menagkap mahluk kecil itu tadi karena ia dengan enerjiknya melompat-lompat kesana kemari untuk menghindari terkaman Naruto, namun saat sang bunshin berhasil menjegal kaki kiri Kappa dan membalik tubuhnya hingga air diatas kepala Kappa tumpah seutuhnya, mahluk itu tiba-tiba lemas tak bertenaga.

Rias melihat percakapan Naruto dan Sona mengenai mahluk aneh di tengah-tengah kedua iblis itu akhirnya merasa penasaran juga, ia yang telah mendapatkan kembali semangatnya akibat ceramah pendek quinya mendekat ke tempat Sona dan bunshin Naruto berada dengan di ikuti semua anggotanya.

Setelah cukup dekat dengan posisi Sona dan bunshin Naruto, Rias langsung memasang pose berwibawah yang ia tiru dari kakaknya, pandangan mata lurus kedepan[arah Naruto], tangan berkacak pinggang dan kaki yang agak melebar.

"Naruto-san, kenapa kau men-"

Pofff,,,

Hancur.

Rias menelan kembali pertanyaanya saat sosok pemuda pirang yang tadi ada didepanya tiba-tiba berubah menjadi kepulan asap putih. Kedua tangan dipingangnya mengepal dengan sanagt kuat sampai menghasilkan bunyi gemletuk ringan, Ia menundukan kepalanya dalam-dalam hingga iblis disekelilingnya tak bisa melihat ekspresi dari Heriees klan Gremory tersebut.

Iblis bangsawan setingkat dirinya tak pernah mengalami hal yang namanya.'dihiraukan' selama hidupnya yang sangat panjang ini. Rias biasanya mendapatkan tatapan cinta, kagum, iri dan memuja entah itu dari manusia ataupun bangsanya, jadi istilah seperti.'dihiraukan ' merupakan sesuatu yang baru untuk Rias Gremory.

Issei dengan langkah bak pahlawan[ dada dibusungkan] mendekat kesamping Rias, pemuda pengila hal-hal ero itu sepertinya kurang ngeh kenapa anggotanya yang lain tiba-tiba menjauhi Sosok Rias.

Setelah memasang wajah gentel seperti yang pernaah ia lihat di tv, Issei menepuk pelan pundak Rias yang saat ini dalam mode Hight Devil. Dalam benak Issei, Rias akan menengok kearahnya, setelah melihat dirinya yang menurut Issei menyerupai artis Holliwod, kingnya akan langsung memeluknya dengan erat, menagis dipelukanya, dilanjutkan dengan Ciuman dan, dan kemudian aksi ranjang sebagai penutup. Menghiraukan tatapan jijik anggotanya yang lain Issei masih dengan setia menunggu kingnya berbalik.

Dari pandangan semua iblis muda di sana, terlihat Rias yang berbalik, mata yang biasanya memancarkan kesan ceria kini nampak begitu suram, seringai di bibir ranumnya membuat Asia pingsan, Akeno menyaksikan dengan mata melotot adekan penghakiman Issei oleh Rias dengan antusias, sesekali dari bibirnya terdengar nada'ara,,ara,,atau fufufu'.

Rias yang merasa terganggu dengan kedatangan Issei mulai menoleh kebelakang dengan senyum yang menjanjikan kesakitan. Saat melihat wajah budaknya tengah tersenyum-senyum sendiri dengan sungai merah mengalir dari hidung kananya, tangan kanan sirambut merah semakin terkepal kuat.

Dengan gerakan slow, Issei menutup matanya bersiap meneripa pelukan dari kingnya, melihat Issei yang sudah pasrah, Rias semakin memperlebar seringai miliknya, tangan kanan di angkat ke atas, dalam hitungan detik,,, BAMMMM.

Dengan senyum ceria gadis yang baru saja membuat salah satu budak miliknya tepar, berjalan kearah Sona dan Kappa berada. Meningalkan Issei yang tengah kejang kejang dan mata berputar-putar menyerupai obat nyamuk bakar.

Sona menatap bosan pada sahabatnya, sikap Rias yang seperti inilah yang kadang membuat Sona tak yakin jika Klan Gremory akan semakin berjaya jika nanti berada dibawah kepemimpinan Rias, Niatnya untuk menegur Rias ia urungkan saat mahluk kecil didepanya mulai bergerak.

Mahluk yang diketahui berjenis Kappa membuka matanya, ia sedikit mengerjap untuk mmperjelas penglihatanya."Dimana aku?" linglung. Setelah nyaris mati tak heran jika sosok itu sedikit binggung.

Sona berjongkok didepan mahluk setinggi anak usia 4-5 tahunan usia manusia didepanya. Iris Fiolet nya menatap tajam mata kuning kecoklatan Kappa yang masih sayu." Siapa kau!"

Tubuh kappa mengeras saat sebuah suara lembut namun tegas memasuki telinganya, ingatan tentang sosok pemuda yang tadi mengejarnya dan nyaris membunuhnya melintas kembali dimemorinya. Dengan mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki Kappa memfokuskan pandanganya kedepan.

"Kau,,,iblis!"

Sona menganguk, tak sedikitpun tergangu oleh tangan mahluk didepanya yang menunjuk-nunjuk wajahnya." Siapa kau? Dan apa maksudmu mengirim tiga Chimera itu kepada kami!"

Rias melonggo saat mendengar pertanyaan Sona tentang Chimera pada mahluk kecil didepanya. Dari sudut pandangnya, mana mungkin sosok kecil dan lemah itu bisa mengendalikan Chimera yang memiliki besar menyamai seekor kuda jantan? Mustahil.

Jika mahluk itu adalah makanan Chimera, baru ia percaya.

Rias hampir saja membuka mulut untuk mencela Sona seandainya Akeno tak menahan pundaknya, gadis miko itu mengeleng saat kingnya menatapnya penuh tanda tanya. Mendapat penolakan dari Quen miliknya, Rias akhirnya mengurungkan niat untuk bertanya pada Sona dan memilih diam.

"Bagaimana kau tahu aku yang mengirim ketiga Chimera itu?" tangan berselapun milik Kappa meraba-raba kepalanya, menghembuskan nafas lega saat merasa ada cukup banyak air ditempat keramatnya." Syukurlah!"

"Kau tahu, sebenarnya aku hanya asal menebak,,," melihat mahluk didepanya tersenyum mengejek Sona segera melanjutkan opininya" ,,Namun ketika aku melihat mahluk itu tak menyentuh seincipun pohon Oak yang menjadi tempatmu bersembunyi sedangkan sekeliling pohon itu hancur terkena amukan cakar dan taring Chimera, bukankah itu aneh?, dari sanalah aku mulai berfikir bahwa apapun yang ada dibalik pohon itu,, dia pastilah tuan dari ketiga Chimera, karena seekor anjing tak akan mengigit majikanya sendiri, bukan begitu?"

"Ha,,hahahahaha,,, hebat." Mahluk itu tertawa ringan." Tapi sepertinya kau kurang bukti, nona?"

" Begitukah,,,?" Sona menyeringai, tangan kananya merogoh kantung bajunya. Seringai diwajah Sona semakin lebar saat melihat mahluk didepanya yang secara tiba-tiba berhenti tertawa." Ini milikmu bukan?" sebuah lonceng hitam berukiran gagak berada ditangan Sona.

Melihat mahluk itu hanya menunduk Sona semakin yakin bahwa mahluk didepanya adalah dalang dari masalah yang saat ini mereka hadapi!" Lonceng ini aku peroleh dari ratuku yang menghabisi salah satu bawahanmu, dan ukiran pada punggung lonceng ini sama persis dengan lonceng yang kau pakai" Sona menunjuk lonceng yang ada dileher sosok didepanya. Sebuah lonceng berwarna hitam mengkilap dengan ukiran bulu perak" Jadi,, ada pembelaan?, Kappa".

Mahluk itu mengangkat kepalanya dan menatap wajah Sona dengan kagum." Yah kau benar,," Kepala mahluk itu melirik sekilas kesamping saat mendengar suara geraman yang berasal dari wanita bersurai merah." Namaku, Senosuke Kumo, kalian bisa memangilku Kumo." Mahluk yang mengaku bernama Senosuke Kumo itu memegang lonceng didadanya, tatapanya menunjukan kebangaan dan kehormatan!." Aku adalah pelayan dari Tengu-sama, wakil dari Kyuubi-sama."

"Jika kau adalah bawahan wakil dari Kyuubi, kenapa kau menyerang kami?" Kali ini Rias yang sudah tak mampu lagi membendung rasa penasaranya bertanya langsung pada Kumo, dia menghiraukan tatapan tak suka dari Kumo saat ia memangil Kyuubi tanpa embel-embel 'sama'."Bukanya kita sekutu, kenapa dia menyuruhmu menyerang kami!".

" Alasan kenapa Tengu-sama mengutus ku untuk menyerang kalian sebenarnya hanya untuk menguji kekuatan tempur dan berfikir kalian. Jika melawan Chimera saja kalian sudah kalah bagaimana kalian bisa membantu kami melawan musuh yang bisa mengalahkan Kyuubi-sama?" Kumo memincingkan matanya dengan ketika melihat sekumpulan iblis remaja mendekat dari belakang Sona, tatapanya terfokus pada seorang pemuda bersurai pirang yang tadi menagkapnya!.

" Jadi kalian meremehkan kekuatan kami hah?." Issei yang telah sembuh dari acara teparnya membentak Kumo, ia paling tidak suka diremehkan, sebagai kaisar Naga merah tak ada mahluk lain yang boleh menghina kekuatanya, kekuatan yang mampu menghancurkan apa saja, bahkan untuk membunuh Tuhan sekalipun.

Tangan Rias berkelebat mencengkram pundak Issei yang akan maju menghantam Kumo."Jangan Issei, lagian apa yang dia lakukan menurutku benar!"

"Apa maksudmu Bucho? Apanya yang benar dengan menyerang kita?"

" Bayangkan saja jika kau ingin membeli senjata, kau pasti akan mengujinya terleih dahulu bukan?". Rias tersenyum saaat melihat Issei menganguk." Jadi pemimpin Kumo, juga melakukan hal yang sama, ia menguji kita apakah kita layak atau tidak"

"Kumo-san, bisakah sekarang kau mengantar kami ketempat tuanmu?" Sona tersenyum puas saat melihat Kumo menganguk, ia berdiri sambil memegang tangan kecil milik Kumo, sepertinya mahluk itu masih sedikit pusing akibat kelakuan budaknya.

Berdiri dengan sedikit terhuyung, Kumo melihat Sona, kemudian mengalihkan pandangannya kearah Naruto." Kau Ninja bukan?"

Mendapat pertanyaan dari sosok didekat Sona, Naruto hanya menganguk sebagai jawaban. Pemuda itu menghiraukan beberapa tatapan binggung dari beberapa iblis disekitarnya.

"Panta saja kau cepat." Kumo menyengir ketika Ninja muda di depanya tersenyum." Kukira di zaman moderen ini, ninja sudah punah!". Mahluk itu membalik tubuhnya." Ayo ikut aku, tuan sudah menungu kalian!"

Melihat sosok Kumo mulai melangkah kearah kastil besar seberang hutan, mereka semua mengikutinya.

-0-0-0-0-0-0-

Sesosok manusia dengan sayap kelelawar hitam terbang merendah saat berada di atas sebuah kastil tua. Mahluk itu mendarat dengan mulus dibalkon paling atas kastil. Disana ia tak sendirian karena sosok lain yang menyerupai manusia dewasa dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya sudah duduk disebuah kursi disitu sebelum Mahluk tadi datang" Bagaimana,Tifa?". Suaranya berat dan sangat berwibawah.

" Mereka hanya lalat, Zuko-sama" Sosok itu membuka jubahnya dan menampilkan Sesosok wanita cantik dengan wajah bulat, surai hitam lurus sepingulnya terbang terbawa angin. Gadis itu mengenakan kimono putih panjang dengan corak pohon Sakura di belakang, kaki kananya terekspos jelas akibat pakaian yang ia kenakan seperti robek dari pingul kebawah. Meski ia memangil sosok didepaya dengan embel-embel 'sama' namun Tifa sepertinya tak begitu tunduk pada sosok itu.

"Hemm,, menurutmu mereka bukan ancaman?" melihat bawahanya hanya menganguk sambil mengambil buah apel dibalik jubahnya, Sosok yang di pangil Zuko oleh Tifa perlahan berdiri dari singasana yang ia duduki." Segera siapkan tentara kita, Kyoto akan segera kita kuasai, para iblis terlalu mengangap remeh kita sehingga hanya mengirim iblis-iblis lemah itu untuk menangani masalah ini".

" Sekarang?" Tifa duduk diatas meja, dengan kaki menyilang, menampakan paha mulusnya pada dunia."Apa tak terlalu cepat?"

" Ini adalah kesempatan kita, dengan Kyuubi yang lumpuh dan iblis-iblis lemah itu, maka akan semakin memudahkan kita untuk menguasai Kyoto," Zuko melirik kearah Tifani yang sepertinya cuek meski bagian sensitif miliknya hampir terekspos." Dan saat itu tiba, kau akan menjadi pendamping ku, huahahahah- ugh ,,uhuk,,uhuk!"

"Kau bukan tipeku, tuan!" setelah melempar sisa apel yang ia makan kearah tuanya, yang dengan sukses tepat dimulut Zuko yang tengah tertawa, gadis itu kembali mengenakan jubahnya dan terbang kembali keangkasa, meningalkan Tuanya yang tengah membungkuk sambil memukul-mukul tengkuknya sendiri.

" Succubus sialan!"

-0-0-0-0-

Setelah perjalanan yang cukup jauh akhirnya tim Sona dan Rias kini telah sampai ditempat yang ditunjukan oleh Kappa bernama Kumo. Mereka menghentikan langkahnya tepat didepan sebuah mansion besar bercat hitam kelam, disetiap diding bangunan terdapat ukiran-ukiran manusia gagak dengan berbagai pose, satu ukiran terbesar berada digerbang mansion, ukiran manusia gagak dengan baju zirah hitam dan sayam mengembang sosok itu terlihat sangat gagah meski hanya berupa karya dua dimensi.

"Tunggu disini sebentar!" Sona yang berada paling dekat dengan Kumo hanya menganguk saat sosok itu memberi perintah. Dia melihat Kumo mendekati salah satu mahluk mirip banteng berbadan manusia yang Sona asumsikan sebagai penjaga bangunan besar tempat pemimpin Kumo berada.

"Mahluk apapun yang ada didalam tempat itu, dia pasti sangat kuat!" Rias mengangkat alisnya saat Sona menatap kearahnya dengan mata memincing tajam." Apa?"

Gadis berkacamata itu mengangkat bahunya, dan kembal memandang mansion bercat hitam kelam didepanya." Jika kau sudah tahu, kuharap kau nanti tak membuat masalah!"

Heriees klan Gremory itu berdecak pelan, agak jengkel saat mendengar peringatan Sona yang seperti mengangap ia sebagai pembuat Onar." Jangan mulai deh!"

Kedua kubu iblis itu serempak menoleh kearah Kumo, disana mahluk hijau itu melambaikan tangan berselaputnya kearah mereka, memberi kode supaya mereka mengikutinya.

Naruto berdecak kagum saat melihat dekorasi-dekorasi di dinding mansion, meski suasana dilorong itu cukup gelap namun mata Naruto masih bisa melihat lukisan-lukisan dengan nilai seni tinggi menghiasi dinding lorong. Terlalu asik menikmati pemandangan disekitarnya Pemuda itu sampai menghiraukan gadis bersurai biru disampingnya yang selalu menempel padanya sejak mereka memasuki mansion milik Tengu.

Dengan senyum manis Xenovia terus memandangi pemuda disampingnya yang sepertinya tengah mengagumi mansion milik klien mereka. Merasa tak ada peningkatan dia dengan berani mulai mengandeng tangan pemuda itu dan itu pun sukses membuatnya mendapat perhatian dari pemuda tersebut.

"Ada apa Via-chan?" Naruto memiriringkan keplanya sambil menoleh kearah gadis disampingnya yang tiba-tiba mengandeng tangan kirinya."Apa kau takut?"

"um,," sebenarnya Xenovia tak merasakan takut sama sekali meski aura membunuh di tempat itu cukup kuat, namun demi mendekatkan diri dengan sosok disampingnya ia membenarkan asumsi Naruto." Takut!". Demi meyakinkan Ninja pirang itu, Xenovia sengaja membuat tubuhnya mengigil.

Merasakan getaran dari tubuh gadis yang mengandeng tanganya, Naruto menepuk pelan kepala penuh surai biru milik Xenovia dengan lembut." Tenang saja,,,". Melihat Xenovia mendongkak memandangnya dengan wajah memerah membuat Naruto nyengir lebar." Aku akan melindungimu dan semuanya hehehe,,,!"

Dengan wajah penuh Rona, Xenovia kembali menundukan kepalanya, gadis itu tersenyum lebar meski tak diketahui Naruto. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari pujaan hatinya merupakan kebahagiaan tersendiri bagi iblis muda itu." He'em" seraya mengangukan kepalanya gadis itu semaki mengeratkan gengamanya. Ia bersyukur dengan posisi mereka yang berada paling belakang, sehingga tak ada yang menganggu kebersamaan mereka berdua. Dan pada momen seperti inilah Xenivia berharap agar perjalan yang akan mereka tempuh masih cukup jauh supaya ia bisa lebih lama menyelami kehangatan dari pemuda disampingnya.

Manusia boleh berencana tapi tetap tuhanlah yang menentukan!.

Sepertinya kata-kata di atas bukan hanya berlaku untuk manusia, namun untuk iblis juga.

Gadis itu berusaha untuk tidak mendengus saat perjalanan mereka terhenti tepat di depan sebuah pintu besar berwarna merah kusam yang dipenuhi dengan ukiran bulu gagak.

Dengan berat hati Xenovia melepaskan tangan besar pemuda disampingnya saat Kumo membuka pintu didepan mereka.

" Silakan masuk!". Sona dan Rias yang memang berada paling depan diantara kelompoknya menganganguk saat penunjuk jalan mereka membungkuk ala butler dengan salah satu tangan masih memegang handel pintu. Kedua gadis iblis kelas atas itu melangkahkan kakinya kedalam ruangan di ikuti para budaknya masing-masing dibelakang mereka.

Gelap, dingin dan mencekam.

Setiap pasang mata tanpa sadar berputar menjelajah setiap sudut ruangan dengan jeli, hingga sebuah singgasana berukuran sedang menyedot perhatian mereka. Meski didalam ruangan cukup gelap namun mereka masih bisa melihat dengan jelas sesosok mahluk mirip manusia berkepala gagak dan hidung tak normal duduk dengan elegan di sebuah kursi mewah {singasana} dengan kaki kiri menyilang diatas kaki kanan dan tangan kanan menyangga dagu, sosok itu dengan perlahan membuka kedua matanya saat merasakan kedatangan tim Rias dan Sona.

Ketika iris hitam dengan pupil kuning tajam itu terbuka, sebagian anggota Osis dan ORC langsung mengalami asma mendadak, seakan-akan paru-paru mereka diremas oleh tangan astral diruangan itu.

Sona berusaha menahan sensasi ingin pingsan ketika merasakan nafsu membunuh begitu pekat dari sosok yang ia tebak adalah Tengu. Sebagai iblis kelas atas ia tak ingin dipermalukan didepan budaknya jika ia sampai kehilangan kesadaranya hanya karena nafsu membunuh mahluk itu. Dengan bersusah payah dan ikut menaikan intensites demonic powernya gadis dari klan Sitri itu berhasil setidaknya mengurangi dampak dari aura mengerikan sosok didepanya.

Brukk,,

Dengan gerakan patah-patah Rias menoleh kebelakang tempat budaknya dan budak sahabatnya berada. Adik semata wayang dari Maou Luchifer itu menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat para budaknya telah jatuh terduduk akibat tak kuat menahan nafsu membunuh mahluk didepan mereka yang Rias asumsikan tuan dari mahluk kecil hijau yang mengaku bernama Senosuke Kumo. Rias kembali mengalihkan pandanganya kesampingn tempat sahabatnya berada, gadis itu dapat melihat wajah Sona yang tetap saja datar, namun meski sahabatnya menunjukan wajah tenang kebangaanya Rias dapat menebak kalau Herries klan Sitri itu juga mengalami hal yang sama seperti dirinya, Rias berani berasumsi seperti itu karena melihat bagaimana tubuh gadis berkacamata itu bergetar, bukan hanya itu saja gadis merah itu juga sempat merasakan Sona menaikan intensitas demonic power miliknya.

Melihat bagaimana reaksi tim Sona dan Rias menghadapi nafsu membunuhnya yang sengaja ia naikkan berhasil memunculkan sebuah seringgai tipis di wajah gagak Tengu. Dengan perlahan Sosok itu berdiri dari singasananya dan mendekat ketempat para iblis muda penghuni Kuoh Akademi.

Bruk,,bruk,,bruk,,,

Saaat jarak mereka tinggal sekitar tuju meter, Tengu menghentikan langkahnya. Wakil dari Kyuubi itu mengangkat alisnya binggung saat melihat dua gadis bersurai kuning dan perak serta lelaki bersurai coklat kekuningan tiba-tiba terkapar tak sadarkan diri.

Menyadari keteledoranya yang mengakibatkan tiga bantuan dari kaum iblis pingsang Tengu mendesah kecewa. Jika hanya menghadapi nafsu membunuhnya saja sudah keok bagaimana mereka akan menghadapi musuh yang bisa mengalahkan Kyuubi yang faktanya lebih kuat dari pada dirinya.

"Kalian mengecewakan!"

Dengan serempak Rias dan Sona mendongkakan kepala mereka untuk menatap langsung wajah gagak, Tengu. ' Mengecewakan' apa maksudnya?'

"A-apa maksud anda?" meski sosok itu telah kembali menarik nafsu membunuhnya namun Rias tetap saja grogi, dalam benaknya gadis itu mencatat bahwa mahluk didepan mereka bukanlah lawan yang sepadan dengan mereka pada saat ini.

Tengu mendengus, dia menatap Rias dengan pandangan merendahkan, yang sayangnya tak disadari oleh gadis itu." Kenapa para iblis itu mengirim kalian yang lemah ini untuk membantu kami? Apa mereka pikir masalah yang tak dapat kami tangani bisa di selesaikan oleh bocah-bocah seperti kalian? Atau mereka mengangap kerja sama antara kaum iblis dan Youkai yang telah berlangsung cukup lama itu hanya sebuah lelucon, hah?"

Rias mengretakkan giginya, dia mulai mengerti dari perkataan Tenku tadi, secara tak langsung wakil Kyuubi itu tengah meremehkan mereka, tatapan mata Rias menajam setajam belati. Dia tak suka keluarganya diremehkan, dengan berbagai sumpah serapah dan penyangkalan yang telah ia siapkan di otaknya Rias menunjuk wajah Tengu dengan beringas.

"K-kau-!"

Rias kembali mengeram, namun kali ini bukan untuk Tengku tapi untuk sahabatnya yang dengan berani menghalangi sumpah serapahnya." Sona, apa yang-"

"cukup Rias!". Sona memotong desisan Rias dengan bisikan sangat dingin, tangan gadis itu berkelebat mencengkram kuat tangan Rias yang tadi teracung kearah Tengu." Mundur dan diam!"

Sebenarnya gadis itu bisa saja tak mengubris perintah sahabat sekaligus rivalnya dan terus melanjutkan aksinya menyumpahi Tengu dengan berbagai ucapan kotor dipikiranya, toh Sona dan dirinya memiliki level yang sama untuk apa ia harus patuh pada gadis kacamata itu?lagian sejak kecil mereka sudah sangat sering dengan yang namanya bertengkar karena berbeda pendapat dan tak jarang pula pertengkaran itu berujung dengan saling lempar air dan bola hitam.

Jika selama ini Rias tak mempunyai alasan untuk mematuhi perintah Sona, kenapa kali ini ia mau mengikuti adik Serafall leviathan itu?.

Alasan satu-satunya ada pada violet Sona, iris mata yang biasanya terlihat indah dan menawan kini bersinar tajam, menjadikan momok mengerikan bagi siapapun yang melihatnya. Melihat mata gadis didepanya secara tak langsung Rias serasa berhadapan dengan sang Leviathan, tanpa sifat chilliders atupun iblis pengila cosplay.

Dengan langkah dihentak-hentakan Rias terpaksa mundur, mengikuti permintaan atau lebih cocok disebut perintah mutlah dari Sona.

"Maaf atas kelakuan temanku, Tengu-sama!" Sona membungkukan badanya. Kata-kata yang ia ucapkan juga terkesan sangat formal.

Tengu tetap mempertahankan wajah datar walaupun gadis didepanya telah membungkukan badanya dan menyebut namanya dengan sufick 'sama' yang artinya gadis itu menghormatinya.

Kembali menegakan tubuhnya, Sona kembali memasang tampang tak kalah datarnya dari Tengu." Aku tak bisa menyalahkan angapan anda tentang kami, dibandingkan dengan anda kami memang jauh lebih lemah."

"Jadi kau mengakuinya, heh?"

Sona menganguk."Aku berbohong jika mengaku baik-baik saja saat anda mengeluarkan nafsu membunuh anda." Gadis itu menaikan kaca matanya yang sedikit melorot." Dari kejadian tadi aku bisa menebak dengan 'sangat jelas' bahwa perbedaan kekuatan anda dan kami sangat jauh, kami jauh dibawah anda!"

Tengu menyilangkan kedua tanganya didepan dada, ia memilih diam karena tahu jika gadis didepanya masih ingin mengatakan lebih. Meski sedikit, Tengu merasa kagum pada gadis berkacamata didepanya, kagum dengan ketenaganya, dengan sifat tegasnya serta kagum karena ia mau mengakui kekuranganya. Dari yang ia ketahui selama ini semua mahluk yang mengaku iblis adalah mahluk picik, sombong, jahat, pengoda dan arogan. Dirinya dulu pernah tertawa terbahak-bahak karena seorang iblis bodoh dan arogan yang mengaku paling kuat. Didukung dengan kekuatanya, iblis itu menghajar para Youkai sipil yang tak mempunyai keahlian tempur seperti para youkai utama, dan dirinya juga masih ingat bagaimana iblis itu bersujut dengan air mata berlinang layaknya anak manusia saat Kyuubi menghukumnya hanya dengan dua dari sembilan ekornya. Mengelikan bukan!

"Namun bukan berarti kami tak bisa membantu anda dan kaum anda! Aku adalah Heriees klan Sitri dan gadis berambut merah itu adalah Heriees klan Gremony, serta dia,," sona menunjuk kebelakang tepat kearah Rias dan Issei." Sekiryuutei,dan dia,," kembali mengunakan jarinya untuk menunjuk Saji yang mulai sadar." Dragon knight,Vitra, aku tak bisa menyebutkan satu-persatu keistimewaan mereka, namun yang aku yakini, kami mampu untuk membantu anda mengatasi masalah anda!"wanita muda itu kini menatap satu persatu budaknya yang tengah tersenyum bangga akan keyakinan dari king mereka.

"Dia benar, kami tak akan mundur dari misi ini, bangsa iblis tak mungkin mengangap perjanjian kerjasama dengan kaummu sebagai bualan semata, kaum kami telah merasakan pahitnya Great War, dan kami tak berencana memulai kembali perang itu. Bangsa kalian adalah sekutu, teman dan juga saudara kami, kami akan melakukan apapun untuk membantu kalian. Jadi,,," Rias melangkah kembali kesamping Sona. disertai senyum kecil penuh keyakinan Rias mengangkat tangan dan mengepalkanya dengan kuat kearah Tengku yang masih memasang wajah datar" Jangan remehkan kesetiaan kaum iblis, gagak!"

"hem,ha,ha,HAHAHAHAHAH,,,". Youkai gagak itu tertawa dengan sangat kencang hingga membuat tempat yang awalnya sunyi menjadi sedikit ramai akibat suara besar miliknya terpantul kedinding ruangan tertutup itu." Mulutmu besar juga bocah iblis!". Dia memandang lurus kearah violet Sona dengan tatapan merendahkan." Jujur, aku sedikit kagum dengan semangat dan keyakinanmu, namun itu saja tak cukup untuk membuang keraguan ini dari hatiku." kedua tangan itu kembali bersidekap dan wajah pemiliik hidung panjang itu kembali kekspresi datar.

Gigi-gigi Rias bergemletuk dengan keras, ternyata meyakinkan sosok satu ini sangat sulit. Gadis itu menengok kesamping untuk melihat tangapan sahabatnya, saat melihat Sona masih dengan wajah datar miliknya, Rias mengambil langkah mundur selangkah kebelakang, sepertinya Rias memilih menyerahkan masalah ini pada Heriees klan sitri didekatnya. Karena menurut Rias dalam situasi seperti ini otak sahabatnya jauh lebih berguna dari pada kekuatan dan godaanya.

"Apa tuntutanmu Tengu-Sama?".

Sosok dewasa didepan Sona menyeringai sesaat setelah gadis itu menyampaikan tawaranya.

"lawan aku!" sebuah katana berwarna hijau telah teracung manis didepan wajah Sona." Dan buat aku yakin, iblis!"

Diam.

Melawan sosok dengan kekuatan sebesar ini? Ini tak seperti yag diperediksi Sona. Bukankah seharusnya dia tahu bahwa kekuatannya dan kekuatan timnya dan tim Rias berada dilevel yang berbeda? Apa sebenarnya yang mahluk itu rencanakan?. Tubuh Sona mulai menegang saat sebuah ujung katana telah berada didepan violetnya, ia dapat mendengar decikan marah Rias dan seruan khawatir para budaknya. Dengan logika yang masuk akal Sona sebenarnya ingin lari dan kembali ke Kuoh lalu mengadu pada kakaknya mengenai penghinaan klien mereka, namun sekali lagi ego iblis muda itu terlalu tinggi untuk melakukan tindakan pengecut itu apalagi didepan para anggotanya.

"Kenapa diam saja? Apa kau takut?". Seringai dibibir Tengku semakin melebar saat melihat tubuh remaja didepanya semakin mengeras." Tak ku sangka salah satu klan penghasil Maou di Makai begitu lemah hingga Heriees mereka tak berani mengulurkan tanganya untuk melawan Youkai sepertiku"

"Kau!" mahluk apapun boleh menghinanya sesuka hati mereka, namun jika menghina keluarganya apa lagi klan kebangaanya Sona akan sangat murka. Secara perlahan sebuah lingkaran sihir mulai terbentuk kedua tangan Sona." Tarik kembali kata-katamu,'Tengu-sama!" Sona mendesis berbahaya." Atau aku-"

"Atau apa?" terlihat sekli Tengku semakin gencar memana- manasi gadis didepanya."Apa kau akan menghajarku,, cobala-!"

Trang,,,

Dengan insting yng telah terasah ratusan tahun Tengku berhasil memblokir sebuah benda tajam yang mengincar lehernya dengan katana yang tadi ia gunakan untuk mengancam iblis didepanya.

Iris kuning milik wakil Kyuubi itu menyipit memandang tajam sosok pemuda pirang didepanya yang merupakan pelaku penyerangan, mencari tahu siapa sosok yang berani meyerangnya secara langsung. Dengan waktu yang sangat cepat otak Tengku segera mengenali pemuda pirang didepanya. Pemuda itu tadi ia lihat masih berada di posisi paling belakang kelompok gadis yang tadi ia permainkan, dari posisinya berdiri dapat Tengu asumsikan bahwa pemuda ini adalah salah satu budak dari Heriees Sitri Itu.

Linkaran sihir yang sempat diciptakan Sona langsung menghilang karena kaget dengan salah satu budaknya yang seperti angin melewatinya dan langsung meyerang Tengu. Melihat surai kuning, Switer hitam, mata Sona langsung menjeblak selebar-lebarnya.

"N-naruto?"

Seorang Uzumaki Naruto tak akan pernah membiarkan mahluk apapun menghina keluarganya, sejak awal ia hanya diam ketika mendengarkan semua tuntutan dari sosok didepanya karena menurutnya itu masih dalam batas yang wajar, namun ketika mahluk itu mulai merendahkan sosok kingnya dan klan Sona pemuda penyandang gelar Shinobi itu tanpa membuang banyak waktu langsung mengeluarkan Fuma Shuriken dan melesat maju berniat merobek mulut lancang mahluk itu.

Tengu yang awalnya sempat terkejut dengan kecepatan Sosok didepanya, secara perlahan kembali mengembalikan ekspresi datarnya. Pupil kuningnya menatap tajam pemuda itu dengan tajam." Siapa kau?"

Naruto menundukan kepalanya saat Tengu menanyakan identitasnya." Aku, Uzumaki Naruto,," gengaman tanganya pada Fuma shuriken semakin mengerat." Kau membuat Kaicho marah!", kepala bersurai pirang itu secara cepat mendongkak, menunjukan pada Tengu wajah keras dan marah." Aku akan menghajarmu!"

Untuk sesaat bola mata Tengku sedikit membulat saat pandanganya berbenturan dengan tatapan penuh kebencian dari salah satu mata pemuda didepanya, didalam mata merah bermotif milik Naruto, Tengu dapat merasakan Kekuatan besar yang tak pernah iya kenali, ini bukan Yokai, bukan juga Demonick power, kekelaman energi milik mata bocah itu secara naluri membuat Bulu-bulu gagak Tengu menegang. Sebuah seringai tercetak dibibir Tenku ketika merasakan ketertarikanya pada budak Sitri tersebut.

"Hoh,,apa lagi yang kau tunggu!" Dengan sekali hentakan Tengu melemparkan Naruto kebelakang, mata nya memincing ketika melihat pemuda itu mengambil ancang-ancang melempar. Dengan sedikit usaha Tengu melompat keatas ketika benda tajam sebesar ban mobil mengarah padanya. Fuma Shuriken yang tak mengenai targetnya menancap dalam di singasana milik Tengu." Kau merusak singasanaku,bocah!"

Dengan mengandalkan tenaga dikakinya Tengu langsung melesat kearah Naruto dengan mengacungkan katananya kedepan, berniat menusuk pemuda itu. Sementara Naruto melihat musuhnya melesat cepat kearahnya mulai mengambil ancang –ancang bertahan dengan mengunakan dua kunai.

Trang,,,

Mendapati seranganya dapat diblok dengan pisau hitam milik Naruto, Tengu langsung salto kebelakang, setelah menjejak tanah Tengu kembali melesat kali ini disertai tebasan melintang kearah dada Naruto.

Trang,,

Tabrakan dua besi menghasilkan percikan-percikan api kecil setiap kali Kunai Naruto berhasil beradu dengan katana Tengu. Nafas Naruto memburu, setiap kali ia menahan serangan Tengu badanya selalu terdorong ini menandakan bahwa fisik mahluk itu lebih kuat dari pada miliknya.

Disela-sela tebasan berutalnya, Tengu menyeringai sadis ketika Naruto selalu saja menahan katananya, Tengu tahu meski pemuda itu bisa mengimbangi kecepatanya namun budak Sona itu kalah telak dalam segi Tenaga.

Trang,,

Sebuah kunai terlepas dari gengaman tangan Naruto ketika menahan katana Tengu yang mengincar lehernya. Pemuda itu sedikit oleng kebelakang akibat menghindari sisi tajam katana milik Tengu yang berniat memotong kepalanya.

Melihat sedikit celah Tengu kembali melancarkan tebasannya keleher Naruto. mengandalkan Sharingan dan refleknya Naruto menundukan badanya membiarkan katana Wakil Kyuubi menebas angin.

Bukkk,,,

"uhuk" tubuh berbalut switer hitam itu terpental keatas ketika lutut Tengu berhasil menghantam perutnya tanpa bisa ia hindari, belum juga meratapi kesakitanya mata Naruto langsung dibuat melotot saat merasakan kaki kananya dicengkram sangat kuat oleh musuhnya. Tak ingin menunggu apa yang akan tTengu lakukan pada tubuhnya, Naruto merogoh kantung senjatanya dan mengambil sebuah kunai berbalut fuin yang telah ia siapkan.

Tengku segera memutar tubuh Naruto yang masih dalam kuasanya, iris kuningnya sedikit menyipit ketika melihat tangan pemuda itu menjatuhkan sesuatu didekat kakinya. Tengku dibuat kembali terhenyak saat benda tadi tiba-tiba bersinar layaknya sebuah kemang api.

"sial!" ia melemparkan tubuh Naruto keatas, setelah itu ia melompat mudur mejauh dari senjata milik si ninja yang terlampat ia sadari.

Duarrr,,,,

Benda iru meledak dan menghasilkan asap tebal yang setidaknya mengangu jarak pandang setiap mahluk yang ada diruangan itu. Sona menatap khawatir budaknya yang saat ini tengah berjongkok terbalik di plafon ruangan, pancaran khawatir terlihat samar diwajahnya ketika melihat sosok itu menyeka sedikit darah yang mengalir dimulutnya.'Naruto'

Tsubaki dan budak Sona yang lainya mengertakan giginya masing-masing ketika melihat sosok Naruto yang tengah meringis kesakitan akibat terjangan lutut milik Tengu. mereka sebenarnya ingin membantu, namun niat itu ia urungkan ketika menyadari bahwa pertarungan ini adalah duel satu-lawan satu. Jadi yang bisa mereka lakukan saat ini hanya menonton seraya melindungi Sona dan diri mereka masing-masing dari efek pertempuran dua mahluk itu.

Tengu menepuk-nepuk bau zirahnya, mata gagaknya menatap lurus lawanya yang menempel di plafot ruangan. Dia mengacungkan katanya kearah Naruto yang masih mengatur nafasnya." Apa hanya itu, bocah!"

Mata Naruto sedikit memincing." Kita mulai lagi, pak tua!" menghiraukan rasa sakitnya Naruto mulai menyusun Head seal." Kage Bunshin no Jutsu"

"dia membelah diri!" Asia menatap kagum kearah sosok Naruto yang tiba-tiba memperbanyak dirinya.

"aku tak tahu dia bisa melakukan itu" Kiba mengelus dagunya dengan pelan seraya berfikir." Apakah Sacred Gear?" pemuda itu menghela nafasnya ketika tak ada yang menangapi pertanyaanya.

" Kalian!, lihat cara Naruto-san bertarung!" Rias membalikan tubuhnya dan menunjuk kearah Naruto yang masih berada di plafon Ruangan." Cermati dan pelajari!"

Mata Issei memincing tak suka ketika Kingnya menyuruhnya secara tak langsung meniru Naruto." Jangan bercanda Bucho, Aku jauh lebih kuat darinya. Aku bahkan bisa mengalahkanya hanya dalam satu serangan, kenapa aku harus menirunya?"

Rias mendesah mendengar penolakan pionya yang tak tahu apa-apa mengenai pemuda pirang itu." Terserah kau saja Issei!"

Sorot ketertarikan kemali memancar diwajah Tengku." Kau ingin mengeroyokku?"

"Begitulah!". Tanpa perintah lisan sembilan bunshin Naruto langsung melesat kearah Tengku.

Tengu mengeser tubuhnya sedikit ketika Satu Bunshin Naruto menerjangnya, belum sempat membalas sang klon, sang Wakil Kyuubi harus di paksa berjongkok ketika Dua bunshin Naruto mengarahkan kakinya kekepala gagak miliknya. Tak ingin terus menjadi target serangan, Tengu memukul salah satu bunshin disampingnya mengunakan gagang Katana dan diteruskan menusuk bunshin yang lainya. Asap kembali mengepul setiap kali tebasan, tusukan dan pukulan Tengku berhasil mengenai bunshin Naruto yang seiring waktu semakin berkurang.

"Hahaha,, sedikit menghibur!" Tengu terus meracau setiap kali katananya berhasil membunuh bunshin Naruto." Ayo tingkatkan Bocah!"

Terlalu sibuk bersenang-senang dengan bunshin lawanya ia tak menyadari keberadaan salah satu lawanya yang tengah berdiri terbalik di plafon tepat diatas kepalanya.

"Sesuai keinginanmu, 'Katon: Gokakyu no Jutsu'!"

Setelah membunuh lawan terahirnya, Tengu langsung mendongkak-kan kepalanya keatas ketika merasa sensasi panas menerjang kulitnya. Matanya langsung memincing ketika melihat bola api lumayan besar mengarah langsung kearahnya. Sejak awal pertarungan ia memang menahan diri untuk tidak mengunakan Senjutsunya karena lawan yang ia hadapi hanya seorang bocah iblis muda yang lemah, jadi ia hanya mengunakan kekuatan fisik dan tehnik berpedangnya untuk bertarung dengan Naruto, namun ketika melihat Jutsu Naruto yang sepertinya dapat membuat tubuhnya gosong jika ia tak bisa menghindari atau menangkalnya, Tengu mulai merubah pendirianya.

Kali ini Tengu tersenyum, bukan seringai seperti sebelum-sebelumnya namun senyum asli dari seorang Youkai bernama Tengu. Harus dia akui bahwa ia sangat berkesan dengan pemuda yang saat ini menjadi lawanya, karena dengan kekuatan yang berada jauh dibawahnya namun pemuda itu sudah bisa membuat Youkai kelas atas seperti dirinya kewalahan.

Gengaman pada gagang katananya mengerat, energi hitam tipis secara perlahan mulai menyelimuti senjata tajam milik Tengku." Lebih dari itu untuk kau mengalah kanku!"

Saat bola api hasil dari Jutsu Naruto semakin mendekat, Tengu menarik katananya kebelakang, dan saat bola api milik Naruto sudah masuk dalam jarak serangnya,tangan yang mengengam katana itu berkelebat menebas udara.

Naruto menahan nafasnya ketika melihat bagaimana jutsu apinya dapat dipatahkan dengan sangat mudah oleh sosok dibawahnya seakan-akan jutsunya hanyalah sebuah daun kering yang langsung mengurai hanya dalam sekali tebas. Dengan nafas memburu Naruto merogoh kembali kantung senjatanya untuk mengambil sebuah kunai, melepaskan chakra dibawah kaki membuat tubuhnya melesat jatuh kebawah.

Dengan Sharingan sebagai panduan Naruto langsung melesan dengan sangat cepat setelah kakinya menyentuh lantai, meningalkan retakan laba-laba di tempat ia tadi mendarat.

Trang,,,

Dengan mudah Tengu kembali memblokir kunai yang diarahkan oleh pemiliknya kedadanya." Terlalu mudah!"

Tatapan Naruto menajam, ia mengankat kakinya dan mengarahkanya kewajah Tengku, tengku hanya menunduk untuk menghindari tendangan Naruto, masih dalam posisi menunduk Tengu menebaskan katananya kepingang Naruto. Meski mampu menghindarinya degan melompat kebelakang namun Naruto harus merelakan Sweter hitamnya yang tak seberutung dirinya Robek cukup lebar, dalam posisi masih melayang Naruto melemparkan salah satu kunai di tanganya lalu dilanjut kan dengan merapal sebuah Jutsu.

"Kage Kunai no Jutsu!"

Satu kunai berubah menjadi puluhan dan melaju lurus kearah Tengu. Melihat puluhan benda tajam mengarah pada dirinya Tengu langsung menancapkan katananya ketanah, tanganya ia bentagkan kedepan seakan-akan ingin menghalau kunai-kunai Naruto.

" Bastion"

Dalam sekejap mata semua kunai yang melaju kearah Tengku tiba-tiba jatuh ketanah. Dia kembali mengangkat katananya dengan secepat kilat karena melihat lawanya secara tiba-tiba berada didepanya.

Trangg,,,

Serangan kejutan Naruto kembali dipatahkan, kunai yang awalnya ingin menyayat leher Tengu kembali berhasil tertahan oleh katana si gagak.

" Kau tak pernah belajar dari pengalamanya?" tekanan lebih kuat diberikan oleh Tengu." Serangan-serangan anehmu saja masih jauh dari kata kuat untuk mampu mengores kulitku, apa lagi dengan serangan langsungmu yang tak bertenaga!"

"k-kau memang lebih,,k-kuat dariku!" wajah Naruto mulai memerah karena menahan beban berupa tenaga Youkai Tengu" Tapi,," dengan nafas memburu Naruto mulai mendorong balik Kunainya yang masih beradu dengan Katana Tengku." A-aku lebih tajam darimu!"

Krak,,,

Iris kuning Tengu membelalak tak percaya ketika katana miliknya perlahan-lahan retak. Memag yang ia gunakan hanya katana biasa, tapi bukan berarti katana itu tak memiliki keistimewaan. Benda itu adalah salah satu senjata Tengu yang bisa menyalurkan senjutsu hitamnya tanpa mengalami perubahan bentuk dan tak mudah hancur, bagaimana mungkin senjata miliknya bisa rusak hanya karena serangan bocah didepanya, dia bahkan dulu pernah mengunakan katana itu untuk memotong sebuah permata hitam milik Kyuubi yang kabarnya kekerasanya menyamai taring Kyuubi sendiri.

"Apa yang kau lakukan?" Tengku menyipitkan matanya ketika melihat pendar-pendar biru menyelimuti kunai Naruto.

"Chakra angin!,," dengan meningkatkan tenaganya Naruto semakin menekan Katana Tengu yang semakin lama semakin terkikis." ,, Mampu memotong apapun!"

Trank,,,

Patah.

Manusia gagak yang baru saja kehilangan senjatanya melompat mundur merapat pada tembok dibelakang tubuhnya, ia lalu memandang potongan katananya yang masih ia pegang seolah mempertimbangkan apakan benda itu masih bisa ia gunakan atau tidak.

"Ku akui, prekdiksiku tentang kemampuanmu melenceng jauh" dengan sangat santai Tengu membuang sisa katana ditangan kananya kesamping."Aku kagum, takjub dan terkejut, Tapi itu belum cukup untuk meyakinkanku!"

"kau tahu gagak?, kau membuatku jengkel dengan segala ke aroganan mu. Aku tahu kau kuat, namun apakah dengan kekuatan itu kau bisa merendahkan mahluk lain yang lebih lemah darimu?" pemuda itu menegakkan badanya, ia melirik Tengu yang hanya diam saja." Karena sifat mu itu kau membuat keslahan besar, kau berani menghina sosok yang sangat kuhormati dan klanya didepan mataku"

"Kau tahu? Dari dalam hatiku aku telah bersumpah. Tak akan ku biarkan mahluk apapun menyakitinya sebelum ia terlebih dahulu menghancurkanku, mahluk apapun yang melukai hatinya akan kupastikan dia akan menyesal, nyawa dan tubuh ini adalah miliknya sejak dia membangkitkanku, maka dengan raga ini aku akan melindunginya mulai dari fisik dan mentalnya. Akan kuhancurkan apapun yang berani melukai perasaan dan fisik Kaicho, meskipun itu wakil dari Youkai yang terhormat sekalipun seperti dirimu." Tangan pemuda itu berkelebat melemparkan sebuah kunai yang telah berpendar sedikit hijau kebiruan akibat terselubung chakra angin.

Sona menutup matanya bibir gadis itu tersenyum ketika mendegar langsung bagaimana salah satu budak, ah maaf tapi keluarganya membela kehormatannya dan klanya. Salah satu tangan ringkihnya melepas kacamata yang selalu terpasang rapi diwajah gadis manis itu, entah mengapa pandanganya sedikit buram akibat air mata mngintip sebelum akhirny mengalir dari Iris fioletnya, sebuah air mata kebahagiaan yang tidak pernah Sona keluarkan selama hidupnya menjadi iblis.

Mengelap kacap mata mengunakan ujung bajunya sebelum memakainya kembali." Terimakasih, Naruto!"

Denga cepat Tengu kembali menaikan tangan kananya untuk menghalau sebuah kunai yang tiba-tiba dilemparkan Naruto, ketika kunai milik lawanya membentur pertahananya dan jatuh menancap ditanah depan kakinya, Tengu kembali memincingkan Iris kunignya saat tangan pemuda didepanya mulai membentuk sebuah pusaran energi berbentuk bulat berwarna biru muda yang mengeluarkan suara berdesing.

"Dan ini untuk hukumanmu!"

"Keras kepala" Tengu menghembuskan nafasnya dengan bosan ketika melihat Naruto lagi-lagi menyerangnya secara langsung. Tidakkan bocah itu belajar dari pengalamanya jika menyerang musuh seperti dirinya tanpa setrategi sama saja mengantar nyawa.

Pofff,,,

Nafas Tengku tercekat, matanya membulat sebesar bola pimpong ketika kunai yang tadi ia tahan tiba-tiba berubah menjadi replika lawanya, kejadian berikutnya begitu cepat bahkan untuk difikirkan oleh otak cemerlangnya. Wakil Kyuubi itu berusaha mengerakan tubuhnya, Tengu semakin mengretakan gigi-giginya akibat cengkraman bunshin Naruto pada dua tanganya begitu kuat dan semakin kuat setiap detiknya, setiap usaha yang ia lakukan terasa sia-sia ketika sang bunshin kembali mengunakan kakinya untuk menjegal kaki Tengu yang berusaha melompat.

"Ini untuk Bucho dan si Tomat yang kau hina". Saat jarak mereka semakin mendekat, Naruto langsung menghantamkan jutsu original Yondaime hokage itu ke pungung bunshinya sendiri yang sedang menahan gerakan Tengu, saat bunshin itu menghilang maka tak ada lagi yang menghalangi Rasengan untuk mengoyak tubuh Tengu.

"RASENGAN!". Naruto menghiraukan wajah shok lawanya ketika jutsu andalanya mulai menyentuh dada Tengu, dia dengan beringas terus menambah tenaganya semakin kuat hingga membuat tubuh wakil Kyuubi itu terlempar dan menghantam singasananya sampai hancur.

BLARRRRRRRR...

TBC

A\N; hoe maaf lo lama, banyak gangan ni,, maaf lo selamaini fic gw amburadul and membuat mata kalian sakit, tp inilah kemampuanku. Gw sudah berusaha sebaiknya.

Gw agak kehabisan ide untuk fick ini kedepanya, jadi gw bikin chapter ini untuk semakin mengeratkan hubungan kekeluargaan Naruto dan kelompoknya, sory lo banyak yang gak suka,,,

Untuk masalah updet gw gak bisa nentuin waktunya,,,

Sekian dari gw and terimakasih

Ah ya,, trimakasih banyak buat REVANOFSITHLORD, atas info yang lo berrikan, info lo bermanfaat baget buat gw..

Maaf lo review ma pm gak bisa gw bales, tp lo lewat FB pasti kebales kok! Gw jamin.

Ok ja dah

Karasumaru.666 gooo.../