"New Life And New War"

Disclaimer : Naruto dan Hight School DXD, Bukan punya saya tapi

: Masashi Kishimoto

: Ichiei Ishibumiuncak.

Warning: AU,gaje,abal,typo,dan alur nyeleneh. Melenceng dari canon,ooc,oc,U/N,AN dll.

Summary: Naruto yang telah menyegel chakra Madara,Obito dan Juubi di dalam tubuhnya. Akhirnya mencapai pada ambang batasnya,bukanya mati tapi ia malah terkirim ke dimensi lain dengan kondisi yang berbeda jauh,;

"GLORIA"

Chapter: 12. Invasi Di Negeri Youkai.

05:30. Kyoto.

KABUMMMM,,,,,

KABUMMMM,,,,,,

GROARRRRRRR,,,,,,!

Bola-bola merah sebesar bola Voli berjumlah puluhan melayang bebas dari dalam hutan kesegalah arah. Suara degungan keras mengema di seluruh pedalaman Kyoto ketika beberapa bola merah yang ternyata kumpulan Youkai menyentuh tanah, pohon ataupun bangunan. Suara jerit dan teriakan mulai dari anak-anak, wanita dan lansia ikut menceriahkan suasana pagi itu. Mereka yang tak mendapatkan persiaapan hanya bisa pasrah ketika kumpulan youkai padat menghujani tempat para kaum Youkai di Kyoto menetap, memisahkan orang tua dan anak, kakek dan cucu, sepsang kekasih bahkan anggota tubuh mereka sendiri.

Berbondong-bondong puluhan bahkan ratusan Chimera mulai muncul dari sele-sela lebatnya hutan yang mengepung Desa para Youkai. Dari mulut bertaring tajam mahluk-mahluk itu satu-persatu mengeleuarkan sekumpulan energi berwarna merah yang terus mereka padatkan hingga membentuk sebuah bulatan. Tanpa rasa kasihan akan nasib para penduduk kaum Youkai, berpuluh-puluh Chimera secara bersamaan kembali melontarkan kumpulan energi tersebut.

DUARRRRRR,,,,,

-0-0-0-0-0-

Tiga jam menyelami alam mimpi tak membuat insting Ninja milik Uzumaki Naruto tumpul. Merasakan adanya getaran pada tanah dan suara-suara memekakan telinga, secara suskses menjeblakan dua kelopak mata sang shinobi yang pada mulanya masih tertutup. Tanpa bisikan maupun umpatan, sang Ninja langsung berdiri tegak dari atas futon, tanganya berkelebat kesamping menyambar sebuah sweter hitam dan sebuah tas hitam bergemricik yang sengaja ia lepas ketika pemuda bermarga Uzumaki ini mulai merebahkan tubuhnya.

" MEREKA DATANG.!"

" LINDUNGI KYUUBI-SAMA"

" PASANG KEMBALI KEKKAI DAN TUTUP SEMUA PINTU MASUK"

Suara-suara ber nada tinggi silih berganti menerjang telingga Naruto, meyakinkan pemurda pirang itu bahwa ada sesuatu yang buruk tengah terjadi. Setelah mengikatkan dengan kuat tas hitam kecil pada pahanya, Naruto langsung melesat kearah pintu.

Bruk,,,

Sona,Rias serta budak milik mereka secara bersama-sama memutar kepala kebelakang ketika mendengar suara khas kayu hancur ketika sang penghuni mendobrak paksa pintu yang harusnya digeser bukan di tendang. Mata Sona memincing begitu mendapati salah satu budaknya baru saja keluar dari balik pintu yang kini sudah tak terpasang lagi pada tempatnya.

" Kaicho!" Naruto menghiraukan berpasang-pasang mata yang menatap dirinya, karena kini Fiolet milik Sona nampak begitu menarik perhatianya dari pada segala sesuatu yang ada disekelilingnya." Ada apa?"

Sona tak langsung menjawab. Gadis berkacamata itu menoleh kearah Rias, menganguk singkat pada adik Maou Luchifer sebelum akahirnya kembali mengalihkan pandanganya pada budaknya." Kyoto di serang!"

" Apa?" Mata Naruto membulat, Bukanya sekeliling mansion yang saat ini mereka tempati di pasangi Kekkai yang cukup kuat oleh Tengu dan para bawahanya? " Oleh siapa?" pemuda berparas tampan ini sedikit meninggikan pandanganya untuk melihat tim Rias berkumpul. Alis pemuda itu mengernyit begitu melihat lambang sihir teleport khas keluarga Gremony si gadis bersurai merah dan keluarganya.

" Aku tidak tahu!". Sona menepuk pundak pemuda yang lebih tingi darinya dengan agak keras, membuat kedua iblis remaja itu saling menatap." Naruto, Kau, Tsubaki dan Tomoe tetap disini, sementara aku dan yang lain akan ke pusat kota dan pemukiman penduduk!"

Mata Naruto mengernyit binggung, jika tempat ini sekarang dalam setatus siaga, kenapa King dan sebagian besar keluarganya malah pergi, bukanya semakin banyak yang tinggal maka semakin besar pula peluang mereka menang? Atau jangan-jangan bukan hanya tempat ini yang diserang, namun ibu kota juga mengalami hal yang serupa?.

" Jangan bilang kalau mereka tidak hanya menyerang disini?"

Sona menganguk, menarik kembali tanganya dan bersidekap." Yah, kau benar. Mereka bukan hanya menyerang ditempat ini, namun juga menyerang tempat lain.". gigi-gigi Sona bergemletuk ketika mengingat berita yang ia dengar beberapa saat lalu dari Takumi ' Para musuh bukan hanya menyerang tempat ini, namun juga tempat-tempat lain di sekitar ibukota. Mereka membantai para penduduk mulai dari balita hingga lansia. Tak ada yang lepas dari kebrutalan mereka.'. mahluk macam apa sebenarnya yang sekarang tengah menunggu mereka. Sebegitu kejamkah para penjahat ini hingga tega menghabisi nyawa-nyawa Youkai muda yang tak bersalah?

" Dari info yang kudapat dari Takumi,dua desa di pingir Ibu kota kini telah rata dengan tanah, tak ada satupun penduduk yang selamat!"

Tangan Naruto terkulai disamping tubuhnya, info dari Sona secara tak langsung kembali mengingatkan sang Ninja pada suatu kejadian yang tidak ingin kembali ia lihat meski hanya dalam mimpi. Kejadian dimana sosok Pain Tendo meratakan sebagian besar Konoha hanya dengan satu jutsu.

Tanpa perlu perintah otak, kedua tangan Naruto mengepal dengan sangat erat begitu menagkap maksud perkataan sang King. Musuh mereka kali ini benar-benar sudah kelewat batas. Bukan hanya para prajurit saja yang mereka habisi namun para penduduk yang tak tahu apa-apa juga tak luput dari aksi brutal mereka.

" Bajingan!. Apa sebenarnya yang mereka inginkan?" Suara Naruto merendah, terdengar seperti geraman hewan buas. Sona berjengit kaget ketika Fioletnya tanpa sengaja berpapasan dengan mata kanan Naruto. Kornea hitam itu kini telah berubah menjadi merah darah dan memancarkan aura kebencian yang begitu kental mengotori udara disekitar pemuda itu.

Sona membuag wajahnya kesamping, berusaha sebisa mungkin untuk tak menatap mata kanan Naruto. Adik sang Maou Leviathan menghelanafasnya, berusaha tetap tenang menghadapi perubahan pada salah satu budak istimewanya yang sampai saat ini belum bisa ia pahami." Aku sudah meminta bantuan pada Nee-sama, dan dia berjanji akan segera datang."

Naruto menganguk paham. Kepalanya memutar menatap wajah-wajah serius keluarganya. Kini ia paham kenapa Rias dan anggotanya pergi, mereka pasti sudah mendengar kabar ini. Ia kembali menatap Sona yang anehnya masih saja membuang muka kesamping. Naruto sedikit heran dengan tingkah Kingnya, namun ia memilih cuek." Baiklah Kaicho, aku tinggal."

Sona memutar kembali wajahnya untuk bisa bertatap langsung dengan pemuda pirang didepanya. Gadis itu sedikit merasa lega begitu mendapati warna hitam telah kembali mendominasi mata kanan budaknya. " Berhati-hatilah, karena kita tidak tau musuh kita kali ini!". Sona menganguk begitu mendapati sang Ninja menganguk paham.

" Kaicho ayo!"

Suara Momo menyentak Sona. Gadis bersurai putih panjang itu menutup sebuah benda persegi sebelum memasukkanya kedalam kantong celana belakangnya. Sepertinya gadis itu baru saja mendapat kabar baru entah dari siapa yang membuat wajah yang biasanya tenag kini nampak menegang.

Sona membalik tubuhnya, ia menatap Tsubaki sejenak, bibirnya bergerak tanpa suara yang dibalas angukan oleh sang Quin.

" Ayo semua, kita pergi!"

Naruto, Tsubaki dan Tomoe mundur, memberi jarak lumayan jauh dari tubuh kecil milik King mereka. Dalam diam ketiga remaja ini melihat Momo, Reya, Saji, Yura, Bennia dan Ruruko mendekati tubuh Sona.

Sona menatap ketiga Budaknya dengan pandangan dalam sebelum akhirnya menganguk begitu mendapati wajah-wajah tenang Tsubaki, Tomoe dan Naruto." Ketika, Nee-sama sudah datang. Aku akan segera menemui kalian." Sona mengangkat satu tanganya keatas, menunjuk langit-langit ruangan. Bibirnya berbisikl lirih nyaris tanpa suara, mengumandangkan sebuah mantra yang biasa di baca oleh Tsubaki setiap kali kelompok kecil Sitri akan melakukan perjalanan lintas jauh dengan cepat dan efisien.

" Jaga diri kalian baik-baik"

Suara milik Sona yang terakhir ketiga iblis muda itu dengar sebelum tubuh sang pemilik suara menghilang di telan cahaya kebiruan.

-0-0-0-0-

"Naruto, Tomoe." Tsubaki maju beberapa langkah kedepan para juniornya. Tangan lentik milik sang gadis terjulur keatas memunculkan sebuah lingkaran sihir berwarna biru sebesar ban mobil. Dari lingkaran itu sacara tiba-tiba muncul sebuah benda mirip gagang pedang berwarna ungu. Tangan sang wakil ketua Osis secara perlahan mengengam benda tersebut, menariknya cepat hingga menunjukan wujud sepenuhnya benda yang ternyata sebuah Naginata berwarna ungu gelap, dengan sebuah pisau mirip golok diujung benda keramat kebangaanTsubaki." Habisi semua yang menghalangi misi kita!". Tsubaki mendesis, suaranya terkesan sangat dingin. Lebih dingin dari biasanya.

" Yah/ ha/i!".

Tak mau kalah dengan Senpainya. Tomoe juga menciptakan lingkaran sihir. Gadis muda ini memasukan tanganya kedalam portal gaib itu sebelum kembali menariknya dan membawa dua katana berwarna putih dan hitam.

Naruto menatap sebentar katana berwarna hitam kelam milik Tomoe, ia ingat benda itu pernah ia gunakan ketika sedang melawan Kokabiel. Pemuda berusia sekitar lima belas tahun usia manusia itu kembali menatap kedepan, memandang pungung ramping Tsubaki. Rasa kagum mengelitik perasaan sang matan Shinobi Konoha yang ia tujukan pada wakil Sona dan sang Knight.

' Aku akan menjaga kalian!'

-0-0-0-0-0-

Entah untuk keberapa kalinya, Rias kembali mengumpat. Tubuh gadis bersurai merah darah ini melesat kebelakang begitu insting iblisnya menjerit. Bunyi gemletuk ringan terdengar ketika adik sang Maou Luchifer mengadu dengan kuat gigi atas dan bawah begitu melihat awal tempatnya berpjak kini telah hancur terkena cakaran sesosok mahluk sebesar kuda berkepala singa dan kambing. Ekor ular mahluk itu berkibar ganas kesana kemari sambil mendesiskan ancaman pada siapa pun yang berani mendekat atau menghalangi gegiatannya.

" Cih!" Rias meludah, menghina Chimera yang tengah menatapnya buas. Seakan mengerti dengan penghinaan sirambut merah. Sosok sebesar kuda itu melesat kencang kearah Herries Klan Gremory dengan membuka rahang Singa miliknya selebar mungkin.

" Heh!, Bodoh!" Rias tersenyum sinis begitu mendapati mahluk sebesar kuda jantan berniat melahap tubuh molek miliknya. Adik sang Maou Luchifer mengangkat tangan kananya sebatas dada, secara cepat kabut hitam yang semakin lama semakin banyak dan memadat mulai terkumpul diatas telapak tangan Rias. Setelah benda penghancur miliknya sampai pada tahap akhir, Rias menarik tanganya kebalakang tubuh." Mati"

GROARRR,,,,

Chimera mengaum dengan sekuat tenaga ketika beberapa jengkal lagi ia berpikir dapat menerkam tubuh gadis berambut merah didepanya. Otak yang sedikit jongkok tidak membuat mahluk itu sadar bahwa diamnya gadis itu bukanlah pasrah akan nasib, namun menungu.

" MATI KALIAN!"

Rias dengan amarah melemparkan Power of Destruktion miliknya lurus kedepan, mengarah langsung pada mulut terbuka Chimera. Green fores yang bisasanya terlihat sangat jernih kini nampak sayu akibat sang pemilik tengah di kuasai emosi. Langkah Chimera tersendat ketika jarak tubuhnya dengan Rias tinggal beberapa jengkal lagi. Mahluk gabungan dari tiga hewan ini melebarkan matanya ketika rasa sakit yang teramat sangat menyentuh ujung moncongnya. Ia ingin berteriak, namun tidak bisa karena bola hitam sebesar bola kasti yang ada di mulutnya secara cepat menghancurkan atau lebih tepatnya memusnahkan semua bagian tubuh Chimera yang menjadi jalur lemparnya. Kurang dari hitungan detik tubuh besar milik Chimera sudah jatuh bedebam didepan mata kaki Rias ketika bola hitam beberapa detik yang lalu tanpa halangan berarti menembus tubuhnya dari mulut dan bablas ke pungung.

Srak,,,,srak,,,srak,,,

Seakan belum puas menembus tubuh satu Chimera, bola hitam milik Rias terus melaju lurus, melubagi segala macam benda ataupun tubuh yang berada pada jalurnya. Sedikitnya belasan tubuh Chimera berhasil dirobohkan sebelum akhirnya ketika mencapai jarak kira-kira dua ratus meter bola hitam itu meledak, memusnahkan apapun yang ada disekitarnya.

DUARRRRRRRR,,,,,

Meski belasan musuh telah berhasil ia binasakan namun tak membuat Green Fores itu kembali seperti semula. Tidak ada kepuasan, rasa senang maupun kebangaan, yang ada hanyalah kilat tajam penuh amarah. Ia menunduk hanya untuk mellihat bangkai Chimera yang sudah tak memiliki kepala. Seakan mahluk tak berhati, gadis cantik ini meludahi tubuh besar di depan kakinya. Wajah Rias kebali terangkat. Matanya menatap lurus kedepan, wajah dingin tanpa ekspresi masih melekat di parasnya walau dihadapkan dengan pemandangan mengerikan tubuh-tubuh tak lengkap Chimera yang telah mencicipi saktinya kemampuan Klan Bael yang diturunkan padanya.

Rias membalik tubuhnya, melangkah beberapa kali sebelum akhirnya ia berjongkok tepat didepan seongok tubuh anak perempuan yang mempunyai kulit berwarna hijau muda dengan beberapa luka besar maupun kecil disebagian tubuh. Wajah polos gadis itu merintih menahan rasa sakit akibat luka lebar menganga yang melobangi perutnya.

" G-gomen!" Suaranya terdengar serak, karena sang pemilik berusaha menahan tagis. Tangan putih itu terjulur membelai kepala yangYoukai junior, mengelusnya lembut berusaha memberi ketenangan pada mahluk bersisik ular itu.

" K-kaa-san,,,"

Seberapapun kuatnya sang Herries menahannya, tapi pada akhirnya terbebas. Satu kata sang Youkai muda sebelum akhirnya ia menghilang selama-lamanya dari kehidupan membuat pertahanan batin Rias akhirnya rutuh juga. Beberapa air mata tanpa komando mulai menampakan wujudnya melalui sela-sela kelopak mata sang gadis. Sebenarnya Rias tak ingin menunjukan rasa sedihnya, namun apa boleh buat saat insting wanitanya mengambil alih ia tak bisa berbuat banyak untuk menutupi kelemahanya. Meski ia adalah iblis, mahluk supranatural yang terkenal dikalangan manusia tak memili rasa, namun tetap saja Rias adalah wanita. Iblis atau bukan ia tetaplah mahluk hidup yang memiliki hati, dirinya dapat merasakan sedih, marah senang bahkan frustasi.

Tak ingin terlalu larut dalam kesedihan Rias kembali bangkit, dengan kasar pungung tanganya menyeka air mata yang masih saja mengalir dari kedua matanya. Sebagai King ia tak boleh terlihat lemah, masih banyak yang harus ia kerjakan, budak-budaknya tak boleh melihat keadaan menyedihkan ini. Bagaimanapun juga ia harus kuat, karena jika Rias tak segera bangkit, maka akan semakin banyak korban yang berjatuhan.

Memberi pandangan terakhir pada jazat sang Youkai kecil sebelum akhirnya kembali menatap kemedan perang. Kedua matanya bergerak liar menatap satu persatu para budaknya yang sejak awal ia beri tugas berbeda namun bertujuan sama 'habisi siapapun musuh didepan kalian'. Di kejauhan nampak Koneko dan Asia yang tengah sibuk mengefakuasi sisa-sisa Youkai sipil. Menoleh kesamping kiri, terdapat Xenovia yang juga tak kalah sibuknya dengan Koneko dan Asia, gadis mantan abdi tuhan itu tanpa menunjukan rasa lelah sedikitpun terus menebaskan Durandal berulang ulang, memengal, menusuk ataupun menyayat tubuh Chimera tanpa rasa puas sedikitpun. Beberapa bangkai Chimera berserakahan disekitar kaki sang Knight Gremony.

"Good job, my Knight!" mata Rias kembali bergulir kearah kanan. Di sana ia mendapati Kiba yang juga tengah menebasi para Chimera dengan dua pedang iblis dimasing-masing tanganya. Menjaukan pandanganya, Rias mampu melihat Issei. Tubuh pemuda bersurai choklat itu sudah penuh dengan dara hitam Chimera, Boster Gear pada tangan kirinya terus mengumbar aura kekuatan yang dapat Rias rasakan walau jarak ia dan pionya cukup jauh.

Sepanjang penglihatanya yang terus berubah-ubah fokus, Rias sadar bahwa ia tak mendapati Quinya di antara reruntuhan Desa. Ia mendongkak saat sebuah ledakan cukup kencang tertangkap indra pendengaran yang ia miliki. Disana, di angkasa sesosok tubuh bebalut pakaian miko berwarna putih tengah melayang. Rias tahu siapa sosok itu, bertahun-tahun bersama membuat sang Gremony muda cukup hafal dengan sosok gadis yang selalu mengunakan pakaian ala miko sebagai baju zirah dan sepasang sayap berbeda di pungungnya. Dari penglihatanya, sepertinya musuh yang dihadapi Akeno kali ini berbeda dengan para Chimera. selain fisiknya yang menyerupai kelelawar, tekanan energinya juga lebih besar daripada para Chimera. Meniliki pakaian sang Quin yang sudah robek sana-sini membuat Rias berasumsi kalau mahluk berwujud manusia kelelawar yang tengah dihadapi Akeno memanglah berada diatas level para Chimera.

"Shit!". Secepat yang ia bisa, Rias kembali membuat segumpal Power of Destruktion. tanpa membuang banyak waktu ia langsung melempar bola hitam ditanganya mengarah kebelakang tubuh sang Quen.

Akeno mengerjapkan matanya beberapa kali, saat tubuh mahluk yang beberapa saat lalu masih berada di depanya secara tiba-tiba menghilang. Kecepatan yang dimiliki musuhnya kali ini harus Akeno akui melebihi miliknya, ia bahkan berani bertaruh kalau kecepanan Kiba masih berada jauh dengan mahluk bertubuh mirip kelelawar itu.

" Dimana dia?" dengan tergesa Akeno menoleh kesana kemari, mencari keberadaan musuhnya yang saat ini tak bisa ditangkap dengan dua indra penglihatan yang ia miliki.

Tanpa disadari oleh sang Quen, sebuah seringai kemenagan tercetak di bibir mahluk berwarna hitam yang memiliki wajah seperti kelelawar yang baru saja kembali muncul tepat dibelakang Akeno.

" Surprise!." Mendapati tubuh mangsanya menegang dan berhenti bergerak membuat seringai mahluk itu semakin lebar. Katana bergagang biru laut ditangan kananya ia tarik kebelakang. Dengan ketajaman yang dimiliki benda itu, siapapun dapat memastikan bahwa tubuh Akeno pasti akan langsung terbelah seandainya benda panjang dan pipih itu melewati tubuhnya.

Sadar akan bahaya yang mengincar nyawa, Akeno dengan tergesa membalik tubuhnya. Matanya membulat ketika mendapati sosok yang sedari tadi di cari entah sejak kapan sudah ada dibelangnya. Keringat dingin mulai mengalir dari setiap pori-pori kulit begitu tahu usaha apapun yang ia gunakan tak akan bisa menahan atau menghindari tebasan kematian yang dilayangkan sosok hitam di depanya.

"Brengsek!"

Alis Akeno terangkat ketika tak kunjung mendapati tebasan mahluh di depanya. Seakan takut dengan sesuatui, mahluk menyerupai manusia kelelawar itu malah melesat kebelakang, melebarkan jarak anatara tubuhnya dan tubuh Akeno.

Kebingungan sang pendeta petir terjawab, begitu mendapati bola hitam yang begitu familiar dimatanya melesat cepat di depan tubuhnya beberapa detik setelah tubuh musuhnya mundur.

Senyum tipis kembali menghiasi wajah sang Quin, begitu matanya menagkap siluet merah melesat kearahnya mengunakan sepasang sayap khas iblis.

"Kau tampak kurang baik Akeno?". Sapa Rias yang sudah melayang disamping kanan Ratunya.

Akeno memiringkan kepalanya sok polos, tak ingin mengakui bahwa ia benar-benar bersyukur dengan kedatangan Kingnya." Ara,,ara,,, Bucho, apa maksudmu?"

Rias mengangkat tanganya dan dengan cepat mencengkram dada sebelah kanan sang Quen yang saat ini sudah menonjol keluar." Jangan sok kuat, lihat dadamu sampai terekspos begini."

"Khukhukhu!". Akeno menutup mulutnya dengan pungung tangan, tak merasa risih atau pun tergangu dengan cengkraman Rias pada dada kananya." Ini hanya kecelakaan, Bucho!"

Rias kembali menarik tanganya, matanya memutar, bosan." Kecelakaan apanya, lihat bajumu?" Rias menunjuk bagian-bagian tubuh Akeno yang sudah tidak memiliki pelindung seperti dada kanan, paha kiri, perut dan pundak. Pakaian miko yang dikenakan gadis itu kini sudah tak bisa disebut lagi dengan baju akibat terlalu banyak lubang.

"ehehehehe!" Akeno kembali nyergir." Ini fasion, Bucho!"

"Fasion gundulmu!" Rias menempeleng kepala berbalut surai dark blue milik Quenya pelan." Mana ada Fasion yang mengumbar payudara seperti itu!". Rias mendelik." Kau tak pakai bra heh?"

Kedua tangan Akeno berkacak pingang dan tubuh ia tegakan, kelakuanya itu membuat dada kananya yang sudah tak berbalut apapun semakin nampak menyembul keluar." Kreatifitas ku!"

"Das-"

" Hoe!"

Dua gadis itu mengehentilan debatnya begitu sebuah suara berat mengitruksi pertengkaran tak penting mereka. Akeno dan Rias saling tatap sebelum kembali menatap mahluk mirip kelelawar yang awalnya merupakan musuh bertarung Akeno.

"Apa?". Keduanya menjawab bersama'an.

Mahluk itu memutar bola matanya yang berwarna merah darah dengan bosan. Katana ditangan kananya ia acungkan kedepan, mengarah langsung kewajah Rias." Aku tak punya banyak waktu mengurusi iblis manis seperti kalian, jadi ayo cepat kita selesaikan.!"

Mendengar deklarasi musuh mereka, dua gadis itu langsung menegakan tubuhnya. Akeno segera menciptakan petir kuning ditangan kananya dan petir biru ditangan kiri sedangkan Rias mulai membalut kedua tanganya dengan Power of Destruktion. meski kemampuanya dalam mengendaliakan kekuatan Klan Bael ini masih berada sangan jauh di bawak Kakaknya, namun dengan banyak-banyak latihan kini Rias sudah bisa membuat sarung tangan Destruktion, ini suatu kemajuan mengingat ia sebelumnya hanya bisa melontarkan kekuatan penghancur tersebut.

" Hahahaha,,,,Gremony heh?" mahluk itu menyeringai. Aura biru menyelimuti katana yang ia pegang." Namaku Ran Akido, ingat namuka baik-baik, Manis!"

" Akan kuingat, tuan Ran!" mengambil inisiatiif menyerang terlebih dahulu, Akeno langsung melemparkan petir kuning ditangan kanannya, targetnya adalah kepala mahluk bernama Ran.

"Hem". Mengayunkan katanyanya santai. Layaknya sebuah daun kering, petir Akeno langsung menghilang begitu bertemu dengan ujung tajam Katana." Ok,!"

Ran mengepakan sayapnya sekali dengan kuat, tekanan angin melontarkan tubuhnya tinggi keatas. Begitu merasa cukup, bagaikan anak panah yang terlepas dari busur, tubuh mahluk itu melesat tajam kearah Rias dan Akeno yang sudah siap dengan kuda-kura bertahan masing-masing.

-0-0-0-0-0-

" Kage Shuriken no Jutsu!"

Bagai beranak pinak, piringan tajam yang awalnya hanya berjumlah lima secara cepat bertambah menjadi puluhan. Shuriken-shuriken yang di lepaskan oleh pemiliknya secara cepat dan akuran menancap di tubuh-tubuh besar dua dari lima Chimera yang berhasil menerobos masuk mansion tempat sang Kyuubi berada. Menyadari adanya musuh, ketiga Chimera yang selamat dari hujaman Shuriken milik Naruto secara ganas melesat kearah lorong datangnya benda pembunuh teman mereka.

" Mereka datang!"

Tomoe dan Naruto menganguk, ketiga iblis muda itu tanpa rasa ragu terus berlari menyongsong kedatangan tiga mahluk berbadan lebih besar dari mereka.

Auman dan derap lagkah kaki semakin terdengan jelas, menandakan semakin menipisnya jarak ketiga Chimera dengan sang Iblis. Tsubaki dan Tomoe secara cepat melesat meningalkan Naruto dibelakang tubuh keduanya. Gadis penguna Naginata itu berkelit kekiri saat moncong penuh taring Chimera bertian melumat pingangnya. Tanpa menghentikan lajunya, Tsubaki menebaskan sisi tajam Naginata kebangaanya keleher Chimera yang tadi berniat menghabisinya. Dengan sekali tarikan kuat, kepala singa milik Chimera terlepas dari tubuhnya. Sadar seranganya belum bisa membunuh mahluk itu secara penuh, Tsubaki langsung memutar tubuhnya. Panjang Naginata ia manfaatkan untuk menusuk dari belakang kepala kambing Chimera. Darah menyembur dari mulut mahluk buas itu ketika ujung tajam senjata milik wakil ketua Osis sukses menembus kepala Chimera dari belakang hingga menebus moncongnya, tanpa teriakan atau auman mahluk itu tumbang diatas lantai kayu.

Di sela larinya Tomoe merubuhkan badanya. Selain untuk menghindari cakar Chimera gadis itu juga mengunakan momenya saat berlari untuk menebas kedua kaki depan Chimera ketika tubuhnya meluncur melewati sosok sebesar kuda jantan itu dari bawah. Tak selesai hanya disitu, sang Knight dari family Sitri ini segera menancapkan satu katanya ke lantai, memaksa tubuhnya langsung berdiri tegak. Tanpa adanya perintah atau peringatan, Tomoe langsung bersalo kebelakang. Mendarat manis dipungung Chimera ketiga.

Naruto yang menyaksikan aksi dua keluarganya berdecak kagum dalam hati, namun kekagumanya harus ia telan dahulu karena di depanya sudah menungu tubuh besar Chimera yang beberapa saat lalu berhasil di rubuhkan Tomoe. Tangan tan itu merogoh kantung senjatanya, mengeluarkan sebuah kunai terlilit kertas peledak. Begitu jarak dengan Chimera sudah semakin mendekan Naruto langsung melompat keatar begitu mendapati cakar penuh kuku tajam mahluk itu berniat mengoyak perutnya. Chakra pada telapak kaki ia aktifkan, membuat sang Ninja mampu berdiri terbalik bagaikan Tokek.

Merasa buruanya lepas, Chimera yang sudah tidak bisa berdiri akibat tebasan tomoe pada kaki depanya itu menengadah keatas, matanya mengkilat tajam menatap begis sosok pemuda pirang yang saat ini berdiri angkuh tepat di atasnya.

" GROAAAAARRRRR- OHOK!"

Gertakan yang harusnya membuat musuhnya mengkeret, malah di manfaatkan sang Ninja untuk melesatkan pisau hitam yang sejak beberapa waktu lalu ia gengam kedalam mulut sang monster.

Naruto mengalihkan perhatianya kearah Tomoe yang kini tengah berusaha tetap berdiri di pungung Chimera yang ia naiki, meski mahluk itu telah bergerak brutal namun tetap saja gadis penguna katana itu tetap mampu bertahan. Naruto memincingkan matanya, saat menagkap kilat berbahaya dari kedua mata Tomoe. Perasaan buruk seketika hinggap di hati sang ninja begitu mendapati tangan kanan Tomoe yang memegang katana berwarna hitam naik keatas. Bereberapa saat saja tubuh Chimera ke tiga ambruk berdebam keras menghantam dinding dengan kepala yang tertembus sebuah katana.

" Mengerikan." Naruto melangkah di langit-langit lorong. Ia mengangkat satu tanganya sejajar dengan dada dengan tiga jari mengepal dan dua jari mengacung keatas." Kai"

GROARR-

BUMMMMM.

Memang ledakanya tidak terlalu besar, tapi sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan dua kepala Chimera. Naruto melompat turun, berdiri tepat didepan Tomoe yang kini tengah mencabut katananya.

" Yo!"

Crasssss!

Naruto meneguk ludahnya begitu melihat gadis manis bertampang psikopat itu dengan sangat santai menebas kepala kambing Chimera di bawah kakinya hingga putus.

" Yo, Naru!" Seakan tak terjadi apa-apa Tomoe membalas sapaan Naruto. Gadis Knight itu nyengir membuat sang ninja ikut nyengir walau agak dipaksakan." Lihat aku dapat satu, kau satu dan Shinra-senpai satu. Aku memotong kepalanya dan bla bla bla"

Sang Ninja hanya sesekali membalas ocehan Tomoe, kedua iblis muda itu berjalan santai mendekati gadis pemegang Naginata yang bersandar pada dinding tak jau dari keduanya.

"Kalian baik-baik saja!" Tsubaki membuang tisu yang tadi ia gunakan untuk menyeka peluh dan darah Chimera pada wajahnya.

Tomoe menghentikan ocehanya, ia dan Naruto menganguk. Memberi tanda bahwa di antara keduanya tak ada yang mengalami luka setelah membantai habis tiga Chimera.

Tsubaki menganguk, matanya menatap kearah Tomoe, meski tubuh sang Knight di penuhi bercak darah, namun Tsubaki yakin kalau gadis bersurai merah kecoklatan itu dalam keadaan sehat. Ia mengalihkan pandanganya kearah Naruto, melihat tubuh pemuda itu masih bersih, meyakinkan wakil Sona kalau pemuda itu juga baik-baik saja.

" Ayo kita keluar!"

Tomoe dan Naruto lagi-lagi hanya bisa menganguk.

Tsubaki meraih gagang Naginata yang beberapa saat lalu ia sandarkan pada dinding lalu memangulnya di bahu mirip seorang petani memangul cangkul.

TBC

A/N: Hora,,,hora,,,,,

Sory lo pendek, gw updt lewat hp. Lo kepanjangan takut ada kata-kata yang ilang atau masalah lainya. Karna work-nya yang pendek gw akan usahain updetnya semakin dipercepat untuk chapter-chapter selanjutnya.

Kalo ada yang nanya kenapa konflik di Kyoto luamaaaaaa banget. Gw minta maaf karena gw gak bisa nemuin ide yang pas buat bikin konflik ini cepet selesai. Maaf lo alurnya terlalu lambat ya.

Untuk yang minta Naruto di perkuat jadi goodlike atau strong dengan cepat, gw gak bisa. Soalnya akan merusak alur dan kejutan-kejutanya. Lo ada yang kurang sabar atau malah kurang suka, kalian bisa kok cari dari fict autor lain di fandom ni. Banyak loh yang ngebuat Naruto langsung strong.

Kalo ada yang binggung kenapa kualitas cakra Naruto menurun drastis, dah gw jelasin di chapter 4. klo masih kurang jelas bisa tanyain langsung ke PM atau fb gw.

Chara harem,,,,? Bingung. Saat ini lagi gw fokuskan ke Adventure. Mungkin nanti chap-chap depan.

fict ini akan tamat pada Chapter? ,,,Gw gak tahu,,, pokoknya banyak! Ampe lo semua bosen hahahahahaha.

Untuk fick lain baru gw kerjain setengah, jadwal updt gak bisa gw tentuin karena kepentok dunia nyata.

And trimakasih banget buat kalian semua yang mendukung karya-karya gw. Gw sadar kualitas fict gw masih jauh dari kata bagus. Jadi gw masih butuh tuntunan dari kalian semua buat memperbaiki fict-fict gw yang lain. jangan pernah bosen ngasih masukan atau negur gw yah, karena bagaimanapun juga setiap usul kalian adalah penambah semangat gw.

Untuk chapter 14, akan ada scan pertarungan Naruto dan Tifa. Gw kasih dikit bocoran gak apalah hehehehehehe...kurang ya?

Carakter Tifa gw ambil dari game final fantasy dengan sedikit perombakan kemampuan dan fisik...

Sekian dari gw..

Karasumaru jaaaaa!

"