"New Life And New War"

Disclaimer : Naruto dan Hight School DXD, Bukan punya saya tapi

:Masashi Kishimoto & Ichiei Ishibumiuncak.

Warning: AU,gaje,abal,typo,dan alur nyeleneh. Melenceng dari canon,ooc,oc dll.

Summary: Naruto yangg telah menyegel chakra Madara,Obito,dan Juubi didalam tubuhnya. Akhirnya mencapai pada ambang batasnya,bukanya mati tapi ia malah terkirim ke dimensi lain dengan kondisi yang berbeda jauh,;

"GLORIA"

Terimakasih banyak gw ucapin buat kalian yang masih mau nunggu fict abal dari autor abal satu ini. dalam kesempatan ini akan gw coba bales beberapa Review dari kalian, tapi maaf bila tak semua pertanyaan bisa gw jawab seutuhnya.

Ryu Ansya32: thanks untuk pujianya sekaligus masukannya masalah Typo. Untuk pertanyaan mengenai pentransferan chakra Juubi ama Kyuubi, mereka bisa-bisa aja ngasih chakra mereka ama Naruto, tapi karena dalam tubuh Naru belum ada hakke no fuin shiki', jadi setiap chakra yang Juubi berikan atau diserap paksa oleh Naru akan menimbulkan efek perusak pada tubuh si penguna( sistemnya sama pas Naruto gunain chakra Kyuubi waktu lawan Orochi). Untuk alasan itulah sampai saat ini Naruto belum mau mengunakan chakra berlimpa Juubi. Selain karena masalah tubuhnya, terlalu banyak menyerap energi gelap Juubi akan membuat ia tidak bisa mengerakan tubuhnya sesuka hati, atau lepas kendali,, dan Naruto tak ingin itu terjadi karena mungkin saja dia bisa melukai teman-temanya tanpa ia kehendaki.

Wahyunamikaze05:trimakasih untuk pujianya ya, chapter kemaren emang pendek dikarenakan otak gw yang lagi agak kurang jalan, jadi segala ide dan imajinasi kurang keluar. Disini Naru gak akan punya jutsu-jutsu sepesial dari kekai genkai, jadi otomatis ia gak punya makuton.

Sagianto: Masukin Tifa ke harem? Hehehem….wani piro? Hahahaha.

Nanti ketika waktunya pasti mangekyou Naru akan bangkit kok tapi gak tau Chap berapa hehehe….Kalau nanyai masalah Work sebenernya gw agak jengkel ya, padahal ni chapter dah lebih dari 3K tapi kenapa masih kurang, perasaan autor lain juga banyak yang apdt Fict yang worknya berada dibawak 3k. Bukanya ini dah masuk kategori setandar?

Vali vanishing dragon luchifer: terimakasih. Terimakasih saranya ,akan gw perbaikin dichapter-chapter depan.

REVANOFSITHLORD: gak ada duit bro, kurang semangatnya ni hehehe.

Arc-kun: hahaha, bener gw emang niat bikin tifa punya skil mirip ma Kimimaro..

Segini ja yang bisa gw jawab ya, maaf lo gak semuanya. Karena jujur gw agak males ngetika satu-satu buat jawab pertanyaan ntu.

Dah ya, gak sah banyak cengcong lagi, selamat menikmati chap 14, semoga chap ni bisa memuaskan kalian..

Chapter 14: Cerita duka dibalik penghianatan.

Sesosok tubuh berbalut Kimono putih polos melest cepat membelah rimbunya dahan-dahan pohon hutan yang menghalangi lajunya. Sayap hiatm di belakang tubuh itu kembali mengepak, membuat tubuh si pemilik semakin melaju kencang menerobos ratusan daun dan ranting.

Sesekali Tifa memutar kepalanya kebelakang untuk memastikan kalau tidak ada yang mengikuti pergerakanya. Bibir merah pucat itu melengkung begitu merasa jarak yang ia ambil sudah cukup jauh dari mansion Tengu, dan itu terbukti dengan terlihat kecilnya ujung pagoda yang gadis setengah Succubus itu yakini berada di atas atap tempat tinggal wakil Kyuubi.

"S-sial!"

Iris caramel milik Tifa bergulir menatap pemuda yang wajahnya masih ia cengkram. Sedikit banyaknya Tifa merasa kagum dengan daya tahan tubuh pemuda pirang yang ia ketahui berasal dari golongan Iblis, berpuluh-puluh kali ia membenturkan tubuh pemuda itu kedahan keras pohon mulai dari pungung, tangan hingga kepala, tapi masih saja pemuda itu bisa bertahan. Meski hanya seorang budak, Tifa mulai yakin kalu remaja pirang itu bukan lah iblis yang lemah, dan ia harus segera melumpuhkanya agar tidak menganggu rencana tuanya.

"Kita sampai". Ketika tepat dijantung Hutan. Gadis itu berbisik, cukup pelan namun masih bisa di dengar oleh Naruto. Tubuh pemuda itu mengeras saat merasakan dirinya terayun kebelakang, ia sudah menguatkan otot-otot dalam tubuhnya untuk bersiap menerima kembali jika tubuhnya di adu dengan pohon seperti sebelum-sebelumnya.

Tifa menghentikan acara terbang cepatnya saat sebuah pohon dengan dahan yang sangat lebat berdiri angkuh di depan tubuhnya, gadis itu menapakan kedua kakinya disalah satu dahan dan dengan tenaga ekstra ia melemparkan tubuh Naruto kedepan, lebih tepatnya kepohon lain yang berukuran lebih kecil dari pohon yang saat ini ia pijak.

Iris biru dan Ruby milik Naruto terbuka ketika tidak merasakan lagi cengkraman kuat diwajahnya. Pemuda itu mengerjapkan kelopak matanya pelan untuk mempertajam penglihatanya yang masih buram karena terlalu lama berada dalam cengkraman tangan sosok misterius yang dengan tiba-tiba menyerang dirinya ketika ia lengah.

Seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang dan iris mata berwarna coklat madu berdiri ankuh pada sebuah dahan pohon adalah sosok yang pertama Naruto lihat ketika pandanganya sudah kembali kemode focus. Pion Sitri itu sebenarnya ingin lebih lama memandang sosok Tifa, namun ketika merasakan tubuhnya tanpa tumpuan ia segera sadar kalau sekarang ia tengah melayang bebas diudara. Jadi dengan cepat Naruto segera mengalihkan pandanganya dari sosok itu kesamping, dan benar saja hanya dahan dan daun pohon yang dapat ia lihat. Naruto memutar kepalanya kebelakang, matanya langsung menajam begitu mendapati sebuah pohon sudah berada cukup dekat dengan punggungnya. Tak ingin mendapatkan rasa nyeri kembali pada tulang belakang miliknya Naruto dengan gerakan cepat langsung bersalto telapak kaki dengan pohon, kemudian melesat keatas dan berhenti disalah satu cabang yang kira-kira sejajar dengan posisi Tifa sekarang berdiri.

Menarik nafas dalam dan menghembuskanya dengan pelan, begitu merasakan otot-otot kembali rileks Naruto menegakan tubuhnya. Matanya dengan awas menatap sosok gadis yang masih berdiri angkuh diatas salah satu dahan pohon tak jauh dari posisinya berdiri saat ini.

"Siapa Kau?" Kalimat pasaran, namun tetap Naruto pakai karena memang pada kenyataanya ia belum tahu siapa sosok di depanya. Walau instingnya berteriak bahwa gadis itu adalah musuh namun rasa nya kurang terhormat bila menyerang seseorang tanpa tahu terlebih dulu alasan yang harus ia pakai, yah meski pada kenyataanya Naruto tahu benar kalau sosok itu telah menyerangnya terlebih dahulu.

Bukanya menjawab Tifa malah tersenyum, senyum lembut yang cantik. Mata Naruto menyipit, pandangan teramat tajam ia perlihatkan berharap mampu menakuti gadis didepanya.

" Siapa kau?" Naruto kembali mengulang pertanyaanya, kali ini dengan nada lebih tinggi. Tangan pemuda itu secara perlahan merogoh kantung ninjanya, mengengam gagang kunai dengan erat. Jujur, melihat wajah cantik itu tersenyum bukanya membuat ia tenang malah semakin membuat Naruto merasa tegang. Menurut pemuda itu, senyum Tifa amat mirip dengan milik Sai, senyum palsu yang menyimpan begitu banyak misteri..

Wajah itu masih sama seperti tadi, tak sedikitpun berubah walau sang ninja telah memperlihatkan sikap tak bersahabat. Tifa mengangkat tanganya, jari telunjuknya mengusap bibir merah pucat itu dengan gerakan sensual, sesuatu yang harusnya membuat seorang kaum adam tergoda." Tifa"

Angin pagi berhebus semilir disekitar daerah yang ditumbuhi ratusan pohon, suara merdu Tifa membuat Naruto semakin mematenkan sikap waspada. Ia ingat nada itu, suara gadis di depanya sama persis dengan suara yang ia dengar beberapa saat yang lalu di halaman mansion Tengku. Jadi, gadis bersayap kelelawar ini pemilik sihir aneh itu.

" Hem,,jadi kau lah dalang di balik penyerangan di Mansion Tengu!" Tangan tan milik Naruto menarik pelan satu kunai dari kantung Ninjanya yang ia ikat di paha kanan. Tak adalagi formalitas, atau keramah tamahan. Identitas gadis itu sudah jelas, dia adalah otak di balik bencana di tanah Kyoto ini, orang yang bertangung jawab penuh atas nyawa-nyawa para Youkai yang di rengut paksa oleh para Chimera.

Tifa diam, ia tidak menyangkal atau membenarkan tuduhan sang Uzumaki. Kepala bersurai pirang itu menunduk, emosi benci marah dan lainya saling berhamburan mengisi hati Naruto." Kenapa?"

Tifa masih saja diam, kepala gadis itu menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya di balik surai hitam panjangnya." Karena ini perintah."

Rahang Naruto mengeras, cengkraman tangan yang mengengam gagang kunai semakin ia eratkan. 'Perintah' apa hanya karena alasan itu mahluk di depanya mau melakukan pembantaian seperti sekarang. Ratusan Youkai sipil kehilangan haknya untuk hidup, anak-anak kehilangan kasih sayang orang tua atau sebaliknya, dan gadis bernama Tifa ini melakukan pekerjaan kotor itu hanya karena perintah?.benar-benar gila.

" Kau benar-benar biadab!". Satu tangan yang tidak ia gunakan untuk memegang Kunai Naruto angkat sebatas dada dengan dua jari mengacung keatas dan jari lainya mengepal. Menghadapi lawan yang mengangap nyawa mahluk hidup tak lebih dari seongok hama benar-benar membuat Naruto jengah." Kai!"

Dengan sangat cepat kepala Tifa mendongak saat ledakan energi besar yang berasal dari tubuh pemuda pirang di depanya terdeteksi oleh radar disetiap pori kulit sensitif miliknya. Iris coklat Tifa sedikit melebar begitu mendapati tubuh sang Ninja sudah di liputi oleh energi asing berwarna kebiruan yang bergerak liar membalut setiap inci tubuh pemuda itu.

Suara angin yang awalnya begitu sering terdeteksi indra pendengaran Tifa, tiba-tiba menghilang. Area tempat mereka berada dalam waktu singkat berubah menjadi sunyi senyap, seakan mahluk apapun yang mendiami wilaya itu takut mengusik pemilik Chakra yang saat ini benar-benar tengah di kuasai amarah. Merasa mulai terancam, Tifa kembali membentangkan kedua sayapnya, mempersiapkan dirinya sebaik mungkin andai-andai pemuda pirang yang tubuhnya terbungkus aura biru menyerupi api menerjah dirinya.

" Demi nyawa-nyawa para Youkai yang peliharaanmu rengut." Kepala pirang itu terangkat dengan perlahan, suara yang biasanya terdengar ramah kini berubah dingin, membuat tubuh sang lawan mengigil tanpa sebab akibat merasakan tusukan tak kasat mata yang menghujam jiwanya.

Saat wajah itu terangkat seutuhnya dan memperlihatkan wajah jengah sang Uzumaki, Tifa harus benar benar bersiap merasakan apa yang dinamakan rasa sakit. Melihat mata biru tajam disisi kiri Naruto membuat setengah Succubus itu seakan berhadapan dengan penguasa langit yang siap menimpanya dengan beban tak terkira beratnya. Dan saat melihat mata merah dengan dua tomoe yang senantiasa berputar begitu cepat disisi kanan wajah Naruto, dengan susah payah Tifa harus menelan ludahnya sendiri, ancaman kesakitan yang diberikan mata kanan pemuda itu benar-benar nyata. Dibalik keindahan warna dan polanya Tifa dapat melihat dan merasakan energi besar yang berhasil menekan mentalnya begitu dalam.

Dalam ratusan tahun umurnya, Tifa tak pernah merasakan rasa nyeri seperti ini hanya karena menatap mata seseorang. Rasanya begitu menyesakan seakan-akan ada tangan besar yang meremast tubuhnya dengan kuat. Pemuda pirang yang bahkan belum ia ketahui namanya itu adalah satu-satunya orang yang bisa membuat Tifa seperti ini.

Naruto menarik mundur kaki kananya, badanya sedikit membungkuk."Akan kupatahkan tulang-tulang di tubuhmu!" Dalam kedipan mata, sosok itu menghilang, meningalkan dahan pohon yang hancur karena tak kuat menampung kekuatan sang Uzumaki terakhir.

Kedua mata Tifa melotot, dengan sesegera mungkin Tifa menyilangkan kedua tanganya di depan dada begitu mendapati tubuh remaja laki-laki yang tadi masih berdiri didahan pohon di depanya menghilang dan dalam kedipan mata sudah berada tepat dihadapanya dengan tiju kanan yang siap melumat tubuhnya.

"Ugh" Satu mata Tifa tertutup, bibir tipis itu meringis begitu rasa ngilu merembas luas memenuhi setiap inci kedua tanganya. Satu terjangan sudah mampu membuat mahluk sekelas dirinya seperti ini.' K-kuat'.

DUARRRRR…

Meski masih mampu di blok, namun tenaga yang digunakan untuk menyokong tinju kanan Naruto berhasil membuat tubuh ramping Tifa terlempar jauh. Gelombang kejut yang ditimbulkan dari sisa serangan menyebar luas kepenjuru hutan, menerbangkan dedaunan dan merobohkan pohon besar yang tadinya menjadi singasana Tifa.

Dalam peluncuranya yang menghancurkan beberapa pohon Tifa mulai menstabilkan tubunya kembali. Tanganya yang masih menyilang di depan dada ia turunkan, gadis itu mengigit bibir bawahnya saat rasa ngilu benar-benar begitu mengangu di kedua lenganya, mungkin jika tadi di tak sempat melapisi tanganya dengan sisik Succubus miliknya, Tifa yakin kalau tulang dibalik daging itu sekarang sudah remuk. Iris coklatnya menajam, menatap sosok yang masih menunduk diserpihan pohon yang telah hancur akibat perlakuan sosok itu sendiri.

Saat Naruto kembali mendongkak dan memandang tepat kearahnya, Tifa langsung bersiap mengunakan sayapnya untuk melesat keatas, tapi " Sial" Gadis itu mengurungkan niatnya mengudara karena Naruto telah melempar dua kunai yang mengarah keatas tubuh Tifa sebelum melesat. Sepertinya pemuda itu tahu maksud Tifa, jadi ia mengunakan pisau hitam yang tadi ia lemparkan untuk mencegah sang gadis Succubus terbang.

Jika tetap memaksa terbang, Tubuhnya akan langsung terhujam dua benda hitam milik sang ninja, jadi ia mau tidak mau memilih ikut maju menyerang dengan sebagian badan yang sudah terlapisi sisik berwarna kuning keemasan, sisik Succubus yang konon katanya mempunyai kekerasan melebihi baja tempaan terbaik.

"HEA/HYA"

BUMMMM…

Wusssss

Benturan keras mengema di dalam hutan, dua tinju dengan balutan kekuatan berbeda saling beradu, menghasilkan ledakan besar yang merubuhkan beberapa pohon malang disekitar pertarungan. Gelombag kejut yang dihasilkan membuat kedua tubuh itu terlempar, dimana Naruto harus rela menghantam pangkal pohon dan Tifa menghantam tanah dengan punggungnya. Seakan tak memiliki rasa sakit, dua mahluk itu kembali berdiri dan melesat kembali untuk saling berkontak fisik.

Dalam lajunya menyongsong musuh, Tifa mengangkat tangan kananya setinggi mulut

." Dangan Jainto". Mulut gadis itu berbisik lirih. Sebuah lingkaran sihir berwarna putih dengan ornament bintang segi enam tercipta di depan mulut Tifa. Tanpa melambatkan lajunya gadis itu meniup lingkaran sihir sebesar bola sepak di depan mulunya pelan. Dari udara kosong yang dihembuskan Tifa, berubah menjadi tulang-tulang sebesar pensil dengan ujung yang tajam setelah melewati lingkarang putih yang masih mengambang di depan wajanya. Layaknya senapan mesin otomatis rantusan misil tulang ciptaan Tifa melesat lurus kearah Naruto berada tanpa henti.

Serangan berutal Tifa sepertinya tak sedikit pun membuat keinginan Naruto untuk menghajar gadis itu sirna, meski di berondong dengan ratusan peluru tulang yang setiap saat bisa menembus tubuhnya dengan mudah, pemuda itu masih saja melesat kencang tanpa ada tanda-tanda berhenti atau menghindar. Dengan satu segel, Naruo menciptakan satu Bunshin, ia menempatkan kembaranya di depan tubuhnya dan melompat kecil keatas pundak kembaranya. Saat peluru-peluru tulang Tifa sudah mendekati keberadaanya, tanpa menghiraukan nasib sang Bunshin Naruto langsung melesat tinggi keudara.

Poffff…

Langkah cepat Tifa terhenti saat melihat lawanya masih bisa menghindar setelah mengorbankan kembaranya sendiri. Tapi itu bukan masalah untuk gadis itu karena keberadaan Naruto yang melayang diudara semakin menambah persentase dirinya untuk bisa menembus tubuh sang Ninja dengan misil-misil tulangnya. Tanpa pijakan, ia yakin Naruto tidak akan bisa mengelak kali ini.

Dengan secepat yang ia bisa, Naruto mengerakan kedua tanganya, mengkombinasikan setiap Headseal untuk mengeluarkan sebuah jutsu. Ia cukup tahu bahwa keputusanya untuk menyerang penguna sihir jarak jauh dari udara adalah keputusan yang beresiko karena andai saja ia kalah cepat sedikit saja maka habislah ia.

" Keputusan yang salah." Tifa segera mendongkak, mengarahkan moncong lingkaran sihirnya langsung ketubuh Naruto yang kini tengah melengkungkan tubuhnya kebelakang, terlihat seperti seseorang yang ingin muntah.

" Katon: Goka Mekkyaku"

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Sunyi senyap menghiasai sebuah ruangan mewah dengan puluhan kursi-kursi megah berjejer rapi mengelilingi sebuah meja bulat besar yang berada tepat di tengah ruangan. Dinding-dinding dari batu marmer yang di ukir berbagi macam rupa namun terlihat gelamor semakin memanjakan setiap pasang mata yang berkesempatan mengunjugi ruangan selebar lapangan bola itu. Sebuah menara lilin yang berada tepat ditengah meja tampak begitu mencolok, karena memang benda itulah satu-satunya penerangan di tempat megah ini.

Wusss…

Angin berhembus kencang saat pintu beraksen rubah berwarna emas disudut ruangan tiba-tiba terbuka, beberapa lilin padam karena tidak kuat menjaga eksistensinya, mengakibatkan seisi ruangan berubah menjadi agak gelap/temaram.

Tap,,,tap,,,tap,,,

Dentuman suara langkah mengema saling memantul di setiap dinding luas ruangan, sesosok mahluk mirip katak dan seorang pria dewasa yang menutupi tubuhnya dengan seluruh kain hitam mulai menyisir tengah ruangan. Meski samar namun masih dapat terlihat bahwa sosok bertudung hitam itu menyeringai begitu matanya mendapati puluhan tubuh tergolek lemah di atas kursi.

" Periksalah Kumo-Kun!"

"Hai, tuan!" Kumo, sang Kappa itu menganguk. Ia segera melangkahkan kaki mungilnya untuk mengelilingi menja bundar besar di tengah Ruangan. Wajah mahluk itu berubah-ubah ekspresi ketika melihat hasil kerjanya, kadang ia tersenyum,datar, menyeringai dan kadang ia juga meludah.

"A-apa M-maksudnya ini, S-senosuke?" Sesosok tubuh yang awalnya bersandar pada kursi paling ujung memaksakan tubuhnya untuk bergerak. Mata Kuning mahluk itu yang biasanya selalu terlihat tajam kini terlihat sayu.

Kumo menghentikan langkahnya saat sosok yang begitu ia kenal tengah menatap langsung bola matanya dengan berbagai emosi yang Kumo sendiri tak bisa mengartikanya." Ak—"

"Wah wah wah. Tengku! lama tak bertemuya!"

Mulut bebek Kumo yang awalnya ingin menjawab pertanyaan sang wakil Kyuubi kembali terkantup saat sosok berjubah hitam yang tadi masuk keruangan itu bersamanya sudah ada di belakangnya. Sadar posisinya, Kumo memundurkan tubuhnya, tidak berniat untuk membalas ucapan mantan majikanya.

"K-kau!" Niatnya ingin membentak, namun apa daya saat ini tubuhnya serasa sangat lemah. Entah apa yang terjadi, tapi Tengku dapat merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, ia merasa sangat lemah. Tengku belum pernah merasa seperti ini sebelumnya, dimana tubuhnya bahkan sangat sulit untuk digerakan, ia bahkan harus mengeluarkan seluruh tenaganya hanya agar bisa mengangkat satu jari saja.

"Hehehehe.."Sosok berjubah itu terkekeh. Dengan gerakan pelan ia membuka tudung yang menutupi hampir seluruh wajahnya." Sekarang apa kau mengingat ku?"

Kedua mata Tengu membelalak lebar, ia ingat wajah itu. Tatapan mata hijau tajamnya sama seperti dulu, surai coklat lurusnya sudah agak panjang dan yang paling Tengu ingat adalah wajah sangar sosok itu dan luka melintang di pelipis kiri yang memanjang hinga dagu, ia sangat ingat luka itu, karena dulu ialah yang membuat ukiran itu berada disana.

" Kirigawa,,,Zuko"

"HAHAHAHAHAHA,,kau benar-kau benar" Ketua pembelot itu tertawa lebar seperti anak kecil begitu melihat ekspresi ketidak percayaan Tengu melihat wajahnya.

" P-penghianat!"

Zuko menyilangkan kedua tanganya di depan dada." Ah,,,Kau salah Akaba!" Sosok Zuko mulai kembali melangkah menuju sumber suara, sesosok pria tua dengan rambut yang sudah memutih terduduk lemah tepat didepan Tengu." Aku bukan penghianat, tapi pejuang!"

Akaba Narasiko, tetua klan Youkai Rusa yang menempati satu kursi di Dewan. Pria berusia ratusan tahun ini mendelik galak saat tangan Zuko menepuk-nepuk pelan pundaknya. Andai saja tubuhnya dalam keadaan normal, mungkin sekarang Akaba akan langsung meninju wajah Youkai penghianat yang masih saja tersenyum tanpa dosa.

Pandangan sinis Akaba tak membuat Zuko gentar, pria itu kini bahkan dengan beraninya mendudukan pantatnya diatas meja tepat di depan tubuh sang tetua Klan Rusa tanpa rasa cangung sedikitpun." Pejuang yang akan membawa Kaum Youkai mendominasi dunia hahahaha"

"P-pejuang heh? K-kau mengatakan dirimu s-sebagi pejuang setelah melakukan semua ini?" terpancar jelas kemarahan dari sosok Akaba. Mata sayu berwarna putih milik pria itu menatap sinis wajah Zuko yang sama sekali tak merubah ekspresinya, masih tersenyum seperti anak kecil.

Dengan cekatan satu tangan Zuko menyambar apel hijau yang tersaji diatas piring di dekatnya."Hahahaha,,kau benar kau benar!"

"B-biadap!"

Senyum pemuda bernama Zuko lenyap, wajah tampan itu mengkerut sebelum kemudian menjadi datar. Mata berwarna daun yang awalnya menatap wajah marah Akaba beralih kebuah ditangan kananya." Kau salah, Aku melakukan semua ini demi kita, para Youkai."

"Kita kuat, tapi kenapa kaum kita masih berada di bawah bayang-bayang mereka. Andai saja dulu kalian mengijinkanku menjalankan proyek itu, sekarang kaum Youkai pasti bisa mendominasi dunia.

"K-kita tidak membutuh kan perang" Akaba menumpuhkan kedua tanganya di pingiran meja. Youkai itu sekuat tenaga mencoba bangkit dari duduknya, namun meski sudah mendapat penyangga tetap saja ia kembali ambruk."Hahh,,,dan alasan rencanamu waktu itu untuk membangkitkanya dei kejayaan kita, sebenarnya hanya kedok semata? Kau tidak perduli dengan para Youkai, kau hanya ingin mengunakan kekuatanya untuk kepuasanmu sendiri. Kami tahu semua yang kau rencanakan pada Yasaka-Hime, jadi jangan harap kau bisa menipu kami!"

" Yasaka-Hime?" Zuko menyeringai, ia tahu benar seperti apa perlakuan sosok didepanya dulu pada Yazaka. Masih tesimpan rapi di memori Zuko saat Youkai Rusa itu mencaci Yazaka hanya karena umur gadis Rubah itu yang masih terlalu muda untuk menyandang gelar Kyuubi. Walau sudah cukup lama tidak membaur dengan para Youkai karena mempersiapkan Kudeta pada malam ini, tapi Zuko yang dulunya ternyata mantan anggota dewan sangat tahu tabiat satu persatu para Youkai tua diruangan tersebut. Dibalik mulut manis mereka ada banyak bisa yang tersimpan. " Sejak kapan kau memangil bocah itu dengan begitu hormat seperti ini? bukanya dulu kau selalu meneriaki Rubah itu dengan pangilan 'Rubah liar'?"

Akaba diam, engan untuk membalas perkatan sang penghianat. Matanya masih memancar kan kemarahan pada Zuko.

Zuko menegakan tubuhnya. Tangan pemuda itu berhenti bergerak memainkan apel hijau ditangan kananya." Dasar penjilat!"

Mata Akaba melotot tak terima, gigi Youkai itu bergemletuk menahan geram. Sesaat tubuh Akaba condong kedepan dengan mulut yang menganga bersiap menyumpah, namun detik berikutnya tubuh itu kembali tersentak kebelakang menghantam sandaran kursi saat sebuah tangan dengan sangat cepat dan kuat menghantam telak wajahnya. Tubuh Akaba meronta ketika merasakan sebuah benda memasuki mulutnya dengan paksa, menyumpat udara yang ia butuhkan untuk hidup. Penghuni lain ruangan itu hanya bisa membelalakan matanya tanpa mampu berbuat lebih untuk membantu anggota mereka yang kini tengah meronta-ronta dibawah cengkraman tangan Zuko.

Wajah tampan pemuda bermata hijau itu menyeringai begis saat merasakan gerakan tubuh mantan rekanya mulai melemah." Kau banyak bicara, teman!" Dengan sekali hentakan kuat tubuh Akaba kembali terlonjak, matanya melotot maksimal dan kemudian terdiam." Mati dengan sebuah apel, memperihatinkan!"

Tubuh tak bergerak Akaba oleng kekanan sebelum akhirnya jatuh terjerembab menghantam lantai marmer ruangan saat tangan Zuko melepaskan cengkramanya dari mulut tanpa nyawa sang Youkai Rusa. Pemuda berparas rupawan itu melompat kecil melewati tubuh Akaba, berjalan santai kearah pitu keluar dengan siulan-siulan kecil. Wajahnya yang tersenyum menandakan kalau ia sama sekali tak tergangu dengan tatapan-tatapan tajam seisi penghuni ruangan yang ditujukan padanya.

"Ah!" sosok itu berbalik, mata hijaunya menatap seisi ruangan sebelum akhirnya terhenti begitu bertabrakan dengan warna kuning mengki Tlap milikengu." Untuk beberapa bulan kurasa tubuh kalian akan seperti ini, jadi nikmatilah waktu kalian."

"T-tunggu?"

Zuko kembali menghentikan langkahnya ketika sebuah suara lemah yang sangat ia kenal tertangkap indra pendengaran. Laki-laki itu menatap wajah pemilik suara dengan tatapan binggung yang ia buat-buat.

"A-apa yang kau lakukan pada Kami? Dan siapa yang memberikanmu akses atas segala kendali para Chimera?". Tengku memandang mata hijau jernih laki-laki yang beberapa saat lalu mengakhiri hidup tetua klan Rusa dengan tatapan menuntut. Bagaimanapun juga Youkai gagak ini penasaran dengan racun yang berada ditubuhnya, karena seingat Tengu ia tidak merasakan keberadaan racun itu saat berada diruangan pertemuan dan ia juga tak pernah memberitahukan pada siapa pun tentang masalah pengembang biakan Chimera yang selama ini dirinya sendiri jalankan pada Youkai lainya. Jadi bagaimana Zuko bisa membobol akses ke labnya dan menanamkan racun itu pada seluruh anggota dewan tanpa ada seorang pun mengetahui?.

Zuko mengelus dagunya." Oh, aku hanya memberikan racun yang sama seperti yang ku berikan pada Kyuubi. Tapi untuk kalian aku memberikan dosis yang sedikit dan racun itu berada di dalam minuman kalian. Kau tahu? Air mata Medusa bisa membaur menjadi satu dengan benda cair apapun tanpa bisa di identifikasi. Jadi meski kau mempunyai kemampuan otak dan kepekaan yang tinggi sekalipun, kau tak akan bisa mendeteksi racun itu!"

"Cih,,pintar juga kau!"

"Hehehehe,,biasa saja" Zuko Nyengir, satu tanganya mengaruk pipinya yang sedikit memerah. Melihat tingkah laki-laki itu sangat sulit untuk membuat orang awam befikir kalau pemuda tampan itu menyimpan iblis keji didalam otaknya.

" Dan untuk yang kedua?"

"Kalau itu, kau tanyakan saja pada dia" Zuko menunjuk Kumo yang kini berada disamping kiri pemuda itu berdiri, tindakannya membuat sosok kecil itu berjengit sesaat sebelum akahirnya kembali rileks.

Kumo menatap mata kuning mantan majikanya dengan takut-takut, walau kini Youkai gagak itu dalam keadaan yang sangat tidak baik tapi ternyata sosok Tengu masih terlalu tinggi untuk Youkai seukuran sang Kappa. Kumo menarik nafasnya dalam, setelah meyakinkan dirinya bahwa ia akan baik-baik saja, Kumo mulai mencoba membuka bibir bebeknya.

"Aku merubah sebagian data yang ada di sistem itu. Merubah tugas Chimera yang harusnya melindungi para Youkai menjadi memusnahkan."

Mendengar penjelasan Kumo membuat Tengu menutup matanya untuk sesaat. Youkai itu merenung, kembali mengingat-ingat ternyata bukan hanya dirinya sendiri yang mengetahinya,masih ada mahlik kecil mirip katak itu yang mengetahui segala aktifitasnya. Tengu sama sekali tak akan menyangka bahwa mahluk kepercayaanya akan berbalik menusuknya dari belakang. Dalam seumur hidupnya, untuk kali ini Tengu menyesal. Tengu memang beberapa kali melihat sosok Kumo berkeliaran disekitar lab yang ia bangun, tapi saat itu dia tidak begitu menangapi keberadaan mahluk kecil itu karena berfikir kalau keberadaan Kumo tidak akan mengangunya, namun sekarang setelah semuanya terjadi, ingin rasanya Tengu meremas kepala piring Kappa yang sudah ikut bersamanya sejak masih sangat kecil.

Kelopak mata berbulu Tengku kembali terbuka, iris kuningnya menatap semakin tajam sosok Kumo dengan begis." Aku akan membunuhmu setelah semua ini berakhir!" ia mendesis berbahaya.

Bukan hanya sekedar ancaman atau pun guyonan tapi sebuah sumpah. Hidup dalam jangka waktu yang lama mendampinggi sosok Tengu membuat Kumo memahami betul sang wakil Kyuubi. Di landa ketakutan, tubuh kecil itu bergetar. Tak ingin terlalu lama berada disisi mantan tuanya yang begitu berambisi menghabisinya membuat Kumo dengan cepat berlari keluar ruangan. Dari pada ia mati berdiri di bawah tatapan Tengu lebih baik kalau Kumo membereskan tugasnya yang lain."A-aku permisi, tuan" Sosok Kumo membungkuk, rasa hormat yang ia tunjuka pada majikan barunya. Begitu mendapati Zuko menganguk, Kumo dengan segera melesat kencang melewati daun pintu.

"Ah,,kau menakutinya"Zuko menatap Tengu dengan kepala yang di geleng-gelengkan.

" Baiklah, aku juga pergi. Masih banyak yang akan ku urus.".

Sosok Zuko menghilang dibalik pintu kuning emas berukiran Rubah ekor sembilan, meninggalkan ruangan pertemuan yang kembali berubah sunyi karena masing-masing dari mereka terlalu sibuk dengan pikiranya sendiri-sendiri mengenai nasib kaum Youkai diluar sana yang kini tengah bertarung habis-habisan menghadapi keganasan Chimera tanpa komando atau campur tangan para petingi.

'Semoga keajaiban menaungi tanah dan bangsa kami'

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Kepala berbalut surai pirang secerah matahari milik pemuda Uzumaki itu tertunduk dalam. Menghiraukan abu dan tanah yang kini melekat di sekujur tubuh, kedua bola mata berbeda warna milik Naruto terus memfokuskan pandanganya kedepan, dimana tanah coklat dan pepohonan rindang yang berperan sebagai jantaung kehidupan Kyoto kini telah rata dengan tanah. Tak ada lagi pohon penghasil Oksigen maupun rumpun hijau empuk sebagai alas dan bungga-bungga liar yang selalu menebarkan aroma memukaunya pada para penghuni. Keindahan yang awalnya begitu memukau mata para mahluk pecinta alam kini hanya menyisakan ratusan meter lahan kosong dengan permukaan tanah yang retak disertai warna hitam arang dan merah bara mendominasi hampir seluruh permukaan. Beberapa jilatan api merah masih terlihat berkobar di beberapa sudut, membuat tempat itu begitu mirip dengan Neraka.

"Hah,,hah,,hah,,,berlebihan kah?" Naruto menegakan posturnya. Sweter putih yang sejak awal membungkus tubuh atas sang Uzumaki kini telah menghilang entah kemana, menyisakan sebuah kaus hitam ketat tanpa lengan dengan beberapa bagian yang sudah berlubang. Nafas pemuda itu tersengal, cukup membuktikan bahwa jutsu berelemen api yang baru saja ia tampilkan cukup banyak menguras chakra dalam tubuhnya.

Asap hitam yang masih mengepul dari tengah ladang arang mulai menghilang tersisih oleh angin hutan, membuat Naruto semakin menajamkan pandanganya. Ia masih ragu jika sosok yang dengan mudah mampu mengendalikan para Chimera bisa kalah begitu saja hanya dengan satu Jutsu, walau Naruto tak memungkiri kalau Jutsu tersebut tergolong tingkat S sekali pun.

Posisinya yang berada di atas salah satu dahan pohon bernasib beruntung karena tidak tergores kebrutalanya, membua Naruto dapat meliat cukup jelas akan apa yang ada di tengah kawah. Gigi-gigi pemuda itu bergemletuk saat sebuah gerakan tertangkap penglihatanya dari balik asap hitam. Sensasi panas yang masih sedikit tertingal dikulit luar tubuh, pemuda itu hiraukan karena bagaimanapun eksistensi Tifa jauh lebih menganggu dari sekedar udara panas yang pada kenyataanya cukup sering ia alami saat pelatihan jutsu atau pertarungan.

Batsssss,,,,

Satu kepakan sayap berhasil menyingkirkan benda hitam tanpa tubuh yang mengelilingi seluruh badan dan penglihatan. Sayap sekelam malam menyerupai sayam kelelawar membentang lebar untuk kesekian kalinya, memperlihatkan pada sepasang mata berbeda warna bahwa eksistensinya masih belum mampu Naruto tumbangkan meskipun sang Ninja telah menguyurnya dengan api panas dalam jumlah yang gila.

Untuk sesaat Tifa menunduk, mata karamelnya memandang sebisa mungkin tubuh nya sendiri. Gadis itu menbuang nafas dengan berat ketika menyadari tak seluruh bagian pada dirinya selamat dari serangan si pirang. Kimono putih panjang yang ia kenakan sudah hilang, ternyata benda berbahan sutra itu tidak mampu menahan hawa panas api meski telah terlindung di balik kukunggan sepasang sayap hitam miliknya.

Puas memandangi keadaan dirinya sendiri, Tifa kembali mengangkat kepalanya. Mengedarkan tatapan matanya kesekeliling dan berhenti saat dua pasang iris coklatnya menemukan sosok yang ia cari, sosok yang telah menelanjanginya dengan cara yang sangat ekstrim.

"Hentai" Tifa berbisik lirih ketika melihat bagaimana pemuda yang tadi begitu terlihat garang sekarang tengah jongkok dengan satu tangan mengengam pisau hitam dan satu tangan yang lain sibuk menutup hidung, setetes cairan merah merembas dari celah-cela jari, dan Tifa sangat yakin bukan berasal dari efek samping jutsu api si Ninja.

'Sial sial sial,,,Ero-Sannin bajingan!'

'Mesummu menular!'

'Ingat Naruto, dia musuh!' dengan wajah memerah padam Naruto semakin mengeratkan dekapan tanganya pada hidungnya.' Tapi dia sangat mengoda dengan Oppai nya yang besar, perunya yang rata dan selak— TIDAK STOP!' mengelengkan kepalanya kencang berharap bisa untuk setidaknya menekan hormon remajanya yang keluar di saat yang tidak tepat.

Melihat tingkah Naruto, mau tak mau Tifa sedikit terhibur. Rasa bangga menyusup ke hati ketika mendapati bahwa musuhnya sekalipun ternyata tidak mampu menahan pesona tubuhnya." Ada apa Ninja-san?" Dengan langkah pelan kedua kaki jenjang milik Tifa mulai meningalkan tempatnya berada. Mengisi setiap jejakan kakinya dengan senyum, sama sekali tak terlihat bahwa gadis itu memendam amarah meski pada kenyataanya sosok yang sekarang ia tuju adalah pelaku utama yang membuat keadaanya seperti saat ini.

" BERISIK!" Naruto berteriak lantang. Kepalanya yang tadi ia tundukan terangkat. Sesuatu yang salah karena ia kembali dapat melihat pemandangan terlarang yang beberapa saat lalu ia hindari." OHHH,,,SHIT!" kembali menunduk dengan darah kemesuman yang semakin melimpah.

"Hahahahahahaha, kau mesum juga ya bocah!"Gadis setengah Succubus itu tidak bisa memendam tawanya melihat ekspresi Naruto yang terlihat begitu menderita.

"DIAM!"Naruto menunjuk kearah Tifa tanpa menoleh." CEPAT PAKAI BAJUMU!"

Tifa memiringkan kepalanya kesamping, wajahnya mengkerut terkesan sangat polos

." Kau membakar bajuku kau ingat?" menyilangkan tanganya di dada membuat kedua asetnya semakin meyembul menantang." Are,,,sejak awal kau memang ingin menodai ku kan, makanya kau meyerangku dengan api,,,hemhemhem ternyata kau mesum juga ya, Ninja-san!"

Bagai di hantam palu godam jutaan ton kepala sang Uzumaki tersentak kebawah. Selama ini meski bergaul dengan orang-orang mesum, Naruto selalu menyangkal jika dirinya di masukan dalam ketegero Mesum atau hal-hal berbau ecchi lainya. Ia memang memiliki dua sensei dengan tingkah yang tidak biasa, tapi ia selalu menolak di samakan dengan kedua senseinya. Ia berbeda, dan itu yang selalu coba Naruto beritahukan kepada semua mantan rekanya didunia ninja. Dengan bergegas Naruto kembali berdiri, dengan kain hitam menyumpal dua lubang hidung, putra tunggal Yondaime Hokage ini menghadap wajah Tifa." Aku tidak mesum, dan dengan api itu aku bukan berniat menelanjangimu, tapi membunhmu!"

"Kau menyangkal? tapi kenapa tanganmu bergetar?"

"Aku tidak mesum dan tanganku tidak bergetar" Bohong! tangan tan itu memang bergetar. Bahkan Tifa yang berjarak cukup jauh dapat melihatnya.

"Sungguh?"

"Yah!"

"Wajahmu merah?"

"Karena udara panas!"

Tifa mengelus dagu lancipnya, memasang tampang berfikir yang menandakan ia masih sangsi dengan kebenaran yang diutarakan Naruto." Apa kau tidak bernafsu melihatku seperti ini?"

Naruto berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak menerjang atau kabur secepat mungkin dari atas dahan yang ia pijak begitu melihat bagai mana mahluk setengah Youkai-Succubuss itu dengan cuek menunjuk-nunjuk gunung kembar yang menonjol di bawah dagunya sendiri dengan tampang seperti anak kecil." Tidak sama sekali" sekali lagi Naruto harus berbohong. Bagai manapun juga ia remaja normal yang tentu saja akan nmengalami reaksi aneh ketika berhadapan dengan lawan jenis, terlebih lagi Tifa selain memiliki wajah yang cantik juga mempunyai bentuk tubuh bak model majalah dewasa, dan sekarang Naruto dapat menjelajahi tubuh gadis itu dalam keadaan nudle, benar-benar ujian yang berat.

" Kau yakin?"

" Tentu saj— UGHHH"

Hancur sudah pertahanan mental sang Uzumaki, tubuhnya oleng kebelakang, tanpa bisa mengendalikan pijakanya tubuh sang pemuda melayang turun dan berakhir dengan suara gedebuk ringan yang berasal dari pungung bertemu tanah. Untuk sesaat keadaan menjadi hening, Tifa menghentikan aktifitasnya meremas-remas Oppainya sendiri, tidakan yang beberapa saat lalu memuat Naruto hilang keseimbangan. Gadis itu terkikik meliat Naruto yang perlahan bangkit sambil mengelus tengkuk malangnya. Entah mengapa melihat respon malu-malu dan menyangkal pemuda itu menjadi hiburan tersendiri untuk Tifa. Sudah cukup lama ia tidak tersenyum sesering ini.

Senyum di wajah ayu Tifa tak bertahan lama ketika mengingat setatus Naruto yang berperan sebagai musuh yang harus ia kalahkan secepatnya, untuk sesaat membuat Tifa membatin miris. Mungkin jika pemuda itu memiliki tujuan yang sama dengan dirinya Tifa yakin mereka bisa menjadi teman baik. Kepala gadis itu mendongkrak, mata coklatnya memandang langit pagi diatasnya denga tatapan sendu. Sekelebat masa lalu yang menjadi alasan kenapa ia mau menjadi bagian dari para pemberontak mulai terbayang-bayang diotaknya, memutar sekali lagi kenangan yang selama ini selalu coba ia enyahkan.

Dengan gerakan menyerupai kakek-kakek sembilan puluh tahunan yang baru bangun tidur Naruto mulai kembali berdiri. Otak bocah itu mesuh-mesuh tidak karuan, mengutuk dirinya sendiri yang begitu mudahnya kehilangan fokus hanya karena melihat seorang gadis meremas barang antiknya sendiri secara live." Kengerian wanita!".

" Kenapa kau berjuang begitu keras membela para Youkai? Bukanya mereka bukan kaummu?"

Mendengar suara lembut itu kembali, sukses membuat kepala sang Uzumaki yang awalnya tertunduk menghadap tanah kembali mendongkrak. Sesaat ia tertegun begitu mendapati pancaran mata Tifa yang begitu berbeda dengan sebelum-sebelumnya. Dari iris karamel Tifa Naruto sedikit melihat kesedihan, kemarahan, kebinggungan dan juga kecemasan. Sorot emosi yang membuat Naruto mulai ragu apa benar kalau gadis ini adalah dalang di balik pembantaian para Youkai.

Naruto mengelengkan kepalanya untuk menghilangkan pemikiran-pemikiran aneh yang ia angap bisa mengangu fokusnya. Fakta bahwa gadis itu merupakan musuh sudah lebih dari cukup untuk Naruto mengalahkannya." Jujur,,, aku tidak bisa menjawab pertanyaan mu, tapi melihat apa yang kau dan peliharaanmu lakukan, aku tidak bisa berdiam diri begitu saja."

" Begitukah?" Gadis itu mengalihkan pandanganya kewajah berbalut debu sang Ninja." Apaka salah jika aku menyebutmu sok pahlawan?"

Satu alis Naruto mengernyit bertanda ia tidak suka dengan penuturan Tifa." Kalau maksudmu semua yang kulakukan hanya karena ingin memperoleh pujian sebagai Hero, harus kukatakan kau salah besar."

"Lantas?"

" Bukankah sudah terlihat jelas kalau aku membenci tindakanmu. Mungkin kalau kau hanya menargetkan para petinggi atau Youkai elit aku tidak begitu peduli, karena pada dasarnya misi kami kemari hanya berpatok pada Kyuubi." Naruto terdiam untuk melihat ekspresi apa yang ditunjukan oleh lawanya, saat melihat sosok itu memasang tampang penasaarn mau tidak mau membuat Naruto sedikit jengah." Tapi, ketika peliharaanmu ikut membantai para penduduk Youkai yang tidak tahu apa-apa sudah cukup meberiku alasan untuk terjun dalam masalah ini"

Kontak mata dua mahluk berbeda gender itu terputus begitu Naruto berinisiatif menundukan kepalanya untuk meredap amarah yang kembali tersulut. Pemuda itu melewatkan ekspresi ketidak percayaan atau tubuh berjengit Tifa.

Keheningan kembali mengisi sekeliling karena Tifa dan Naruto sama-sama tidak kembali memulai pembicaraan. Kedua mahluk itu saat ini terlalu sibuk dengan pikiran-pikiran mereka sendiri dimana Naruto tengah mengontrol emosinya yang nyaris meledak kembali sedangkan Tifa,,entahlah, gadis itu menunduk terlalu dalam hingga wajahnya tersembunyi dibalik surai gelap panjangnya.

"Kau bohong!" Tifa mendesis lirih. Dalam keadaan normal mungkin Naruto tak akan bisa mendengarnya, tapi mengingat keadaan sekitar yang begitu hening, suara mirip desisan ular yang di ucapkan Tifa pada nyatanya tetap sampai keindra pendengaran sang Ninja.

"Heh?"

"KAU BOHONG!"

Naruto kembali mendongkak, Blue Safir dan Only nya mengerling bingung menatap Tifa yang kini nampak begitu marah, Nafas gadis itu memburu, matanya mengkilat tajam dan wajahnya memerah." Apa maksudmu? Bukanya kau sendiri yang memerintahkan para Chimera untuk menghabisa para Youkai?!"

" TIDAK!" Tifa kembali berteriak, tangan gadis itu menebas udara kesamping. Gerakan yang dapat Naruto asumsikan sebagai penyangkalan." Kami memang mengincar para Youkai, tapi tidak dengan penduduknya!"

"Benarkah?"Naruto menyahut sinis." Lantas apa penjelasanmu mengenai beberapa desa di pinggir Ibu kota yang hancur dengan penduduknya yang telah dicerna oleh para peliharaanmu?"

"I-itu tidak benar!" Tifa mengeram. Saat ini ia tengah dilanda kebinggungan antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan Naruto. Sebelum rencana penyerangan ini, Tifa di yakinkan oleh majikanya bahwa tidak akan ada penduduk yang terluka. Mereka hanya akan mengincar para pentinggi dan kepala klan atau prajurit penjaga. Tujuan awal Zuko adalah menguasai Kyoto, jadi mereka tidak perlu mengorbankan penduduknya dan hanya perlu menghancurkan sistem yang sudah ditentukan para tetua.

Memang seperti itu yang Zuko katakan dan di percayai Tifa. Tapi, apakah benar seperti itu kenyataanya?. Apa memang ratusan Chimera di berbagai sudut di perlukan jika rencana awalnya hanya menundukan para Tetua. Bukanya lebih efisien menempatakan mahluk mitologi itu dalam satu batalion dan digunakan langsung untuk menyerang satu titik dimana tempat itu para tetua berkumpul, akan lebih mempermudah kudeta ini bukan?

Jika boleh jujur, Tifa mengikuti kelompok pemberontak itu bukan karena alasan kekuasaan ataupun kekuatan. masa kecilnya sebagai mahluk campuran merupakan salah satunya.

Sewaktu kecil, Tifa mempunyai seorang kakek bernama Kurohima yang merupakan bagian dari Youkai kelinci. Kebaikan dan kasih sayang yang diberikan Kuro-jiji{begitulah Tifa memangilnya} membuat Tifa sangat menyayangi sosok itu. Di saat Youkai lain diam melihat para Youkai prajurit utusan mahluk itu ingin menculiknya, sosok Kuro selalu hadir membantunya, meski dengan kekuatan yang tidak sebanding, Kuro selalu berusaha menjauhkan tangan-tangan para pesuruh mahluk itu untuk mendapatkan Tifa, karena bagaimana pun juga Kuro tahu, apa yang akan di dapatkan gadis kecil yang sudah ia angap cucunya sendiri itu jika sampai para perajurit mendapatkan Tifa dan menyerahkan ketangan mahluk pengila eksperimen yang bersetatus tetua.

Kedekatan antara Tifa kecil dan Kuro semakin hari semakin terlihat. Tifa yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang orang tua nya lagi sejak umur lima tahun karena insiden pembantaian keluarganya oleh orang tidak dikenal berkerudung hitam, mulai dapat merasakan kembali belaian seorang keluarga di bawah sentuhan hangat tangan Kuro. Ia yang dulu mencari makan dengan mengais sisa Youkai lain saat itu dapat menikmati hidangan layak yang selalu disiapkan oleh sosok Kuro, tak adalagi rasa dingin ketika musim salju karena bulu lebat Youkai kelinci yang melingkar membungkus tubuh mungilnya. Intinya, Tifa sangat bahagia bersama dengan Kuro.

Tapi, insiden itu kembali, dimana Tifa harus dipaksa menyaksikan malaikatnya direngut oleh sosok yang sama, yang telah memisahkan ia dengan orang tuanya. Di ujung pedang, sosok Kuro mengurai menjadi butiran debu putih, lelaki tua itu tersenyum mencoba mengatakan pada Tifa bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi Tifa bukan gadis bodoh, kehidupan keras yang telqh ia jalani selamai ini telah memaksanya menjadi gadis kecil dengan pemikiran yang lebih luas, dia tidak akan percaya kalau apa yang di ucapkan lewat tatapan mata Kuro adalah kenyataan.

"Kenapa kau melakukan semua ini?"

Suara serak Naruto menarik kembali kesadaran Tifa. Gadis itu menunduk, mengerakan satu tanganya untuk menutupi wajah sekaligus menyeka setetes cairan yang tanpa ia kehendaki merembas dari ujung mata. Meski kejadian itu sudah sangat lama, tapi tetap saja tak pernah berhasil ia lupakan dan tak pernah gagal mengundang air mata setiap kali Tifa mengingatnya."Bukankan sudah kukatakan sebelumnya!"

Naruto mengertakan giginya, kedua tanganya mengepal dengan sangat erat." Jangan bercanda ha!" Pemuda itu meninggikan nada bicaranya, dua mata berbeda warna terus menatap kearah Tifa yang masih saja engan beradu pandang denganya" Dari matamu aku bisa melihat kalau kau melakukan semua ini bukan hanya karena perintah. Ada sesuatu,, yang melandasi tingkahmu ini bukan?"

"Jangan sok tahu bocah" Gadis bersurai hitam panjang itu terkekeh sinis., wajah yang sejak tadi tertunduk mulai terangkat." Kau tidak tahu apa-apa tentangku, jadi jagan berbicara seolah-olah kau sangat mengenalku!" Mata yang awalnya terlihat lembut kini berubah menjadi liar. Warna coklat dominan mulai terkikis dengan warna kuning emas.

Postur tubuh Naruto mengeras begitu mendapati energi disekelilingnya tiba-tiba nampak berat dan memenuhi seluruh pernafaanya. Dengan cekatan ia kembali merogoh kantung ninjanya untuk mengapai dua kunai.' Ini akan sulit'

"Kurasa cukup bermain-mainya, sekarang lebih baik kita akhiri ini dengan segera karena masih banyak yang harus ku kerjakan". Wajah gadis itu berubah menjadi datar. Sepasang sayap di belakan pungungnya membentang kembali, dan secara perlahan energi berwarna kuning emas menguar keseluruh tubuh Tifa..

Sang Ninja berdecak begitu mendapati energi milik Tifa mulai menyebar kepenjuru hutan. Naruto sama sekali tidak menyangka kalau gadis itu bisa menekan kekuatan sebesar ini sebegitu rapat hingga ia tidak bisa melacaknya dengan sensornya. Mata Sharingan Naruto berputar dengan cepat, mencoba mengopservasi sebagian tubuh Tifa yang mulai dibalut oleh sisik-sisik keemasan yang berperan sebagai kulit kedua. Sayap di pungung wanita itu hilang, mengurai menjadi debu dan digantikan oleh ekor panjang yang juga berwarna keemasan. Tiga pasang tanduk sebesar pensil dan panjang kurang dari satu jengkal mulai muncul disamping kepala Tifa mebentuk seperti mahkota yang biasa di kenakan putri-putri kerajaan.

"Sial" Naruto mengumpat pelan.

Dengan balutan terbaru berupa sisik-sisik yang memenuhi seluruh tubuh kecuali bagian dada atas hinga wajahnya Tifa mulai melangkah. Mata berpupil kuning bundar menatap tajam sosok iblis yang sudah memasang kuda-kuda bertarung dengan dua pisau hitam dimasing-masing tangan" Akan kutunjukan padamu kekuatanku yang sesunguhnya.!"

Untuk sedetik kedua mata Naruto melebar mendapati kecepatan Tifa yang meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya. Bermodalkan tekad dan dua kunai sebagai penyokong Naruto ikut melesat maju.

Trank,,tarank,,,rank,,,

Percikan api berhamburan mewarnai pertemuan lengan bersisik Tifa denga kunai. Tifa menunduk menyadari sabetan melintang yang berniat menebas lehernya, salah satu bagian tubuh yang tidak terlindung sisik Succubus miliknya. Mengandalkan celah yang tanpa sengaja terbuka, dengan gerakan cepat Tifa menghantamkan sikunya keperut Naruto, dan sayang nya masih bisa ditahan sang ninja mengunakan lutul. Naruto melompat mundur mengambil celah, pemuda itu kembali melompat saat Tifa dengan gerakan cepat sudah berada dihadapanya. Menghantamkan tumit kakinya dengan keras yang untungnya bisa ia hindari.

DUARRRRR…

Serpihan tanah terangkat dan hancur berkeping-keping, sebuah kawah dengan diameter kurang dari dua meter dan dalam tiga puluh senti tercipta di bawah kaki maut Tifa. Gadis itu mendongkrak, mata kuningnya memandang remeh sang lawan yang tengah bertenger manis diatas salah satu dahan pohon."Ayolah bocah, mana kemampuanmu yang tadi?"

Dalam diam Naruto mengerang. Kecepatan dan kekuatan mahluk itu harus ia akui berada jauh di atasnya. Andai saja ia tak memiliki Saringan mungki saat ini beberapa tulang di tubuhnya telah patah. Naruto melempar dua kunai ditanganya dan mengantikanya dengan yang baru, selain kuat dan cepat, sisik di tubuh Tifa benar-benar keras." Berisik! Kage Bunshin no Jutsu" Sepuluh Bunshin yang masing-masing memegang dua kunai tercipta di sisi kiri dan kanan Naruto. Pemuda itu menegakan tubuhnya dan tanpa bersuara mengacungkan ujung pisau hitamnya kearah Tifa.

Seringai bengis tercetar dibibir Tifa saat mendapati sepuluh sosok berfisik sama menukik dari dahan pohon dengan dirinya sebagai titik sasaran." Lumayan!" dengan gerakan simpel Tifa mengeser tubuhnya kesamping, menagkap pergelangan tangan satu Bunshin Naruto yang berniat menusuk dadanya. Sang Bunshin yang merasa terjepit mulai mengerakan kakinya, namun apapun yang akan ia lakukan harus berakhir saat lutut berbalut sisik kuning emas menghantam telah lambungnya.

Melihat kawanya dengan begitu mudah di musnahkan menjadi kepulan asap oleh Tifa. Sembilan Bunshin lainya secara serempak mulai menyerang. Mengandalkan kerja sama yang sudah disusun rapi ,dua Bunshin memulai serangan. Tifa membalik tubuhnya, dan langsung disambut dua tangan berbekal kunai yang berniat memengal kepalanya, gadis itu langsung mengambil inisiatif bertahan. Menyilangkan dua tanganya di depan dada.

Trank,,,

Dengan tenaga besar Tifa menyentakkan tanganya. Tak mempunyai waktu untuk membalas perbuatan dua Bunshin Naruto karena adanya serangan lanjutan yang berasal dari satu klon yang sudah siap menusuk pungung. Dengan sekali jejakan pada tanah, tubuh Tifa melayang, salto kebelakang melewati satu Bunshin Naruto yang tengah mengacungkan sebuah kunai kedepan, tempat sebelumnya pungung Tifa berada.

Gadis Setengah Succubus itu mendarat dengan lancar dua langkah dibelakan Bunsih Naruto. Tifa menunduk saat sang Bunsil membalikan badanya cepat disertai dengan tebasan berputar."Curang heh?" Tifa menyeringai. Tangan bercakar tajam miliknya mencengkram satu kaki sang Bunshin, menariknya kuat mengakibatkan sang Bunsing terjatuh. Kepala bermahkotakan enam tanduk kecil itu mendongkank. Disana ia mendapati dua sosok identik yang saling menyatukan tanganya, dan dari kedua tangan itu sebuah bola energi berwarna hijau muda tercipta.

"RASENG—UGHHH"

Serangan kolaborasi pertama gagal, karena Tifa sudah terlebuh dahulu melempar Bunshin yang tadi ia jatuhkan kearah dua sosok kembar yang membawa Rasengan. Karena tak bisa menghindar, tiga Bunshin itu menghilang dengan rasengan yang bahkan belum lepas dari tangan dua dari mereka.

"KEPUNG!"

Sesui komando, enam Bunshin yang tersisa mulai berlari mengitari sosok Tifa. Begitu mendapati sosok gadis setengah Succubus itu sudah berada di tengah lingkaran yang mereka buat, keenam bunsin secara bersamaan merangkai Headseal jutsu yang sama dan di arah kan langsung pada satu titik." Katon: Ryuuka no Jutsu"

Di akhir triakan sekumpulan bunshin, masing-masing dari mereka menembakan Naga api yang mengarah pada Tifa. Di hadapkan oleh enam moncong Naga api yang bagi sebagian orang adalah petaka, tapi tidak untuk Tifa. Postur gadis itu tegak, wajahnya tetap tenang, seolah-olah keberadaan jutsu Naruto sama sekali tak menggangu untuk dirinya.

"Hone no Sheru"

DUARRRRRR,,,,,,,,

Kedua mata berbeda warna itu masih menatap tajam kobaran api berisikan sosok Tifa. Meski seranganya begitu nyata menghantam telak sang lawan tapi Sharingan miliknya membantah kalau sosok itu sudah kalah.

Saat api-api jutsu mulai padam, Naruto menahan diri untuk tidak menghantam pohon disampingnya, karena dugaanya ternyata benar. Di pusat serangan yang harusnya ditempati tubuh Tifa, kini berisikan sebuah kerucut tulang yang Naruto yakini berfungsi sebagai tameng untuk si pencipta yang tidak lain tidak bukan merupakan Tifa.

"Hone no ne Rippa"

Untuk kesekian kalinya mata sang Shinobi kembali terbelalak saat kerucut tulang ditengah kumpulan Bunshinya tiba-tiba pecah dan melontarkan peluru-peluru tulang yang sudah pasti tidak dapat di hindari oleh semua Bunshin yang tersisa karena jaraknya yang terlalu dekat. Teriakan dan bunyi 'pofff' menjadi akhir dari riwayat para bunshin.

"Cih,, sial!" Naruto melesat tinggi, kedua tanganya meraih kantung shuriken yang ia letakan di ikat bingang dan saat berada tepat di atas kepala sang Succubus tanpa membuang banyak waktu pemuda itu melemparkan Shuriken-Shurikenya. Mata zetan mantan musuhnya berputar dengan kecepatan gila, mungkin merasa jengkel ketika mendapati tatapan menantang dan meremehkan Tifa.

Tak terlalu ambil pusing dengan beberapa benda tajam yang dalam beberapa detik lagi menghujami tubuhnya, dengan ogah-ogahan Tifa mengangkat satu tanganya. Seketika lingkaran sihir berwarna putih dengan ornamen bintang segi enam muncul diatas telapak tanganya dan langsung saja menembakan beberapa tulang dalam jumlah yang sama dengan Shuriken Naruto. Sepertinya gadis ini tak berniat menghindar dan malah menghalau.

Naruto mendarat dengan tubuh membelakangi Tifa. Saat mendengar pergesekan langkah kaki di belakang tubunya, dengan cepat pemuda itu membalik badan. Dengan tangan kanan yang sudah ia lapisi chakra tipis Naruto menagkap pergelagan kaki Tifa yang mengincar rusuknya. Mendapati serangan kejutanya masih dapat di gagalkan, dengan cepat Tifa memutar tubuhnya dan melayangkan tumit kaki kiri ke kepala samping Naruto. Mengandalkan reflek tubuh, pemuda pirang itu menarik kepalanya kebelakang, membiarkan begitu saja telapak kaki Tifa melewati wajahnya.

"Hyaaa!"

Dengan kekuatan fisik yang ia punya Naruto melemparkan tubuh gadis yang kakinya masih ia cengkram kebelakang. Merogoh satu kunai dan ikut melemparkanya, berharap mampu mengenai sang target yang ia incar.

Grep,,,

Tifa mendarat dengan mulus walau awalnya agak terseret, tangan bercakar tajam itu berkelebat cepat menagkap sebuah pisau baja hitam yang mengarak kekepala, salah satu bagian tubuhnya yang tidak terlindungi oleh sisik-sisik Succubus." Kau menyadari kelemahanku yah!" Gadis itu mendongkak memandang wajah sang Ninja bersurai pirang, ia melempar kunai ditanganya asal, terlihat sekali kalau gadis itu cukup percaya diri dengan hanya berbekal tubuhnya, tanpa perlu senjata apapun..

Naruto mendengus, ia sama sekali tidak terhibur atau bangga dengan pujian tertutup yang dilayangkan Tifa." Tentu saja, dari seluruh tubuhmu hanya setengah dada dan kepalamu saja yang tidak tertutupi oleh sisik sialan itu, jadi sangat mudah mencari kelemahanmu"

Tifa menganguk, ia sama sekali tidak keberatan mengumbar kelemahanya." Tapi tetap saja kau harus berusaha keras untuk mengalahkan ku!"

" Yeah,,dan aku akan melakukanya!" Setelah menyelesaikan omonganya Naruto langsung melesat cepat menerjang Tifa.

Tifa kembali mengunakan tangan bersisiknya untuk mengengam sisi tajam kunai Naruto, meremasnya kuat untuk mematahkan benda tersebut. Tifa merunduk lalu dengan gerakan cepat mengayunkan cakarnya keperut sang ninja. Meski tak berhasil meyayat tubuh Naruto seutuhnya namun serangan itu berhasil merobek pakaian dan mengores sedikit kulit yang berada dibalik kain hitam tersebut.

Naruto meringis begitu merasakan sensasi nyerih menjalar di perutnya, pemuda itu segera melompat mundur, namun sebuah tangan telah terlebih dahulu mengengam pergelangan tanganya dengan kuat, menariknya kencang dan tanpa ampun Tifa menyarangkan lututnya diperut si iblis.

"Ughhh" Naruto melengkuh, mata pemuda itu melotot dan mulutnya terbuka dengan sedikit liur yang muncat.

Seakan tak memberi kesempatan untuk sang ninja merutuki kemalanganya Tifa kembali menyarangkan pukulanya yang berakhir manis menghantam wajah bergaris pemuda itu. Layaknya bola yang baru saja ditendang, tubuh pemuda pirang itu melesat kencang merubuhkan dua pohon sebelum akhirnya berhenti di bawah batang pohon ketiganya.

"Uhuk,,,~" Rasa nyeri yang luar biasa dengan cepat menjalar di perut dan wajahnya." S-sial uekkk" tubuh Naruto melekung kedepan saat cairan merah yang sepertinya dihasilkan oleh beberapa organ dalam yang rusak akibat hantaman Tifa memaksa keluar melalui mulut. Naruto mengernyitkan ketika indra perasanya mengecap rasa anyir yang begitu di kenal lidahnya pada kehidupan pertamanya dahulu.

Dengan perlahan pemuda itu mulai berdiri, kedua matanya yang menatap kedepan kembali di kejutkan dengan kedatangan sang lawang yang berniat kembali menyerangnya, dengan tubuh di penuhi rasa sakit, Naruto memaksakan kedua tanganya menyilang didepan wajah untuk memblok pukulan susulan sang gadis Succubus.

Dengan kecepatan tinggi, Tifa kembali melesat mendekati tubuh Naruto yang masih tertunduk. Keadaan pemuda itu sedang sangat lemah setelah menerima serangan telaknya, sebagai petarung Tifa tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini jadi begitu tubuhnya sudah berada cukup dekat dengan lawan nya, Tifa langsung melayangkan tinjunya. Gadis itu menyeringai begitu melihat Naruto dengan susah payah menahan seranganya dengan dua lengan yang di silangkan

Brakkkk,,,

Untuk kesekian kalinya empat pohon menjadi korban. Tubuh sang ninja terpelanting jauh, terseret, menabrak sebelum akhirnya berhenti disamping sebuah sungai dengan airnya yang jernih.

"Hah,,,hah,,hah,,," Sambil mengatur nafasnya yang sudah tidak seirama Naruto menatap langit biru diatasnya. Benar-benar musuhnya kali ini tidak bisa diangap remeh, dengan kekuatan hampir menyamai Tsunade, Naruto harus menerima rasa sakit disekujur tubuhnya meski hanya terkena beberapa pukulan.

Apakah hanya sampai disini saja perjalananya? Jujur, dirinya merasa tidak akan mungkin bisa mengalahkan sosok Tifa dengan kekuatanya sekarang, sosok itu begitu berada jauh diatasnya. Selain kuat, pertahanan Tifa begitu sempurna, walau dia bisa mengetahui kelemahan gadis Succubus itu tapi tetap saja itu semua tidak berguna kalau pada kenyataanya, ia bahkan tidak bisa mendekati sosok itu tanpa terkena cakar maupun pukulan yang bisa menghancurkan tulang-belulang.

Naruto mendesah, pemuda itu meringsis saat rasa nyeri memenuhi ronga dadanya." Dasar bodoh!" Umpatan yang ditujukan pada dirinya sendiri karena bisa-bisanya ia berpikir sedangkal itu disaat seperti ini, ternyata selain tubuhnya yang melemah keyakinanya juga ikut melemah. Dengan perlahan Naruto kembali memaksakan tubuhnya untuk bangkit, ia terkadang meringis saat rasa sakit kembali terasa diseluruh tubuhnya entah dari perut, tangan maupun pungung." Seorang Uzumaki Naruto tidak akan menyerah semudah ini bukan?!, cih,," pemuda itu meludahkan cairan merah kesembarang tempat.

"Hone no Ame"

Dengan cepat Naruto mendongkrak. Matanya memincing begitu mendapati lingkaran sihir besar tergambar tepat diatas kepalanya dan dalam kedipan mata memuntahkan ribuah peluru-peluru tulang dengan ia sebagai target utama." Dia benar-benar serius kali ini!" menghiraukan tulang-tulang ditubuhnya yang saling bergemletuk, Naruto melompat jauh kebelakang saat ribuat hujan tulang mulai mendekati tubuhnya.

Clap,,,clap,,,clap,,,clap,,,

Ratusan tulang berwarna putih sepanjang jari telunjuk memenuhi hamparan tanah laapang. Sekilas, ratusan tulang itu sangat mirip seperti rumput jika diperhatikan dari jarak jauh karena keadaanya yang berdiri tegak dengan ujung yang menancap dipermukaan tanah. Dengan langkah santai Tifa muncul dari balik pepohonan, wanita itu menatap musuhnya dengan tatapan datar, tak tersirat sedikitpun kepuasan atau rasa bangga karena berhasil melukai sang lawan sampai sebegitu parahnya.

" Kau menyerah?"

Naruto mendengus, ia kembali meludahkan liur bercampur darah kesamping." Jangan harap!"

Gadi itu haya mengeleng sekali mendapati kekeras kepalaan lawanya."Jawaban yang salah. Kau sadar bukan perbedaan kekuatan diantara kita! Dengan kekuatanmu sekarang tak ada celah untukmu bisa mengalahkanku. Aku terlalu kuat untukmu, lebih baik kau mundurlah sekarang atau aku,,,akan mebunuhmu!". Dengan suara yang sengaja dibuat seserius mungkin Tifa mencoba menjatuhkan mental Naruto.

" Percaya diri sekali kau." Masih sempat-sempatnya ia menyeringai walau tubuhnya sudah dipenuhi oleh luka memar.' Terpaksa aku gunakan' Keputuan telah ia buat, walau engan mengunakan Chakra sang parner pada waktu dekat, tapi dalam keadaan tertekan seperti ini, Naruto mau tidak mau harus mengunakanya. Dengan Chakra originalnya yang sudah menipis, ia sangat yakin dalam beberapa menit lagi tubuhnya akan sangat sulut bergerak." Gomen Ringo, aku pinjam Chakramu lagi!".Kedua kaki pemuda pirang itu merengang, memberi jarak kurang lebih dua jengkal dari masing-masing kaki. Tubuhnya sedikit menunduk dan dua tanganya di letakan sejajar dada dengan masing-masing dua jari mengacung ke atas serta yang lainya saling bertautan.

Dalam diam Tifa memperhatikan apa yang akan di lakukan iblis keras kepala tak jauh di depanya dengan posisi yang menurutnya aneh." Percuma saja melawan. Kau masih terlalu muda untuk mati. Masa depanmu masih panjang, aku tak ingin mengakhiri hidupmu di sini dengan kedua tanganku. Jadi segera menjauhlah dari Kyoto, biarkan para Youkai menyelesaikan masalah mereka sendiri"

" Brisisk!"Pemuda itu mendesis tanpa bergeming sedikitpun dari tempatnya. Rasa panas bara mulai menerobos daging-daging di perutnya dan terus menjalar keseluruh jengkal tubuh. Naruto menyeringai, tinggal menunggu sedikit lagi dan proses penarikan paksa Chakra milik ekor sembilan akan segera selesai.

Satu alis Tifa memincing begitu matanya melihat pergerakan energi aneh yang perlahan-lahan mulai keluar dari tubuh Naruto.'Apa itu?'.

Energi Youkai berwarna keorenge-an semakin lama semakin meluas hingga membungkus tubuh sang Uzumaki. Perlahan-lahan luka lebam maupun goresan yang di derita Naruto mulai menghilang begitu Youkai yang menurut Tifa aneh itu menutupi tubuh mantan Shinobi Konoha. Dalam hitungan kurang dari satu menit, tubuh Naruto telah kembali bersih seperti semula, hanya menyisakan pakaianya yang masih compang camping tidak jelas.

Merasakan tekanan kekuatan begitu besar yang terus bertambah setiap detiknya membuat Tifa mulai dirundung rasa cemas. Kepercayaan dirinya sedikit demi sedikit terkikis saat sadar kalau sosok yang ia panggil 'Bocah' itu ternyata menyimpan kekuatan sebesar ini sebelumnya. Energi Youkai ini begitu besar, gelap dan asing. Selama ini, dari ratusan musuh yang pernah ia hadapi, Tifa berani bersumpah kalau baru kali ini dia mendeteksi aura mengerikan seperti ini, Energi Yokai yang menuntut dirinya untuk tunduk dibawah kaki sang pemilik. Dengan susah payah Tifa menelan ludahnya." Apa-apaan ini?!"

"ARAGGGGGGGG!"

Mendengar teriakan dari mulut Naruto membuat Tifa tanpa sadar mengambil langkah mundur. Gadis itu dapat merasakan ancaman begitu nyata dari sosok didepanya yang seakan-akan terlahir kembali menjadi sesosok monster yang menjanjikan kesakitan padanya. ' Tidak, apa yang aku pikirkan! Dia hanya iblis lemah aku tidak mungkn takut pada nya kan?' Meyakinkan dirinya untuk tidak terpengarung dengan kekuatan baru sang Ninja. Tifa menarik nafasnya pelan dan menghembuskanya dengan cepat, melakukan berkali-kali dan berhenti saat rasa tenang mulai kembali ia dapatkan." Tenang Tifa. Dari pada menunggu lebih baik aku menyerangnya. Lebih cepat ia ku kalahkan semakin cepat pula masalah ini selesai!"

Setelah bergelut dengan batinya sendiri, akhirnya Tifa memutuskan untuk memulai. Dengan kecepatanya gadis itu melesat lurus dengan cakar kanan yang siap melubangi dada Naruto. Sedikit demi sedikit jarak keduanya semakin terkikis, meski dengan sedikit keraguan yang masih menganjal dihati kecilnya Tifa terus melaju mendekati Naruto yang belum bergerak sedikitpun dari tempatnya.

" MATI KAU!"

Grep

"Dasar tidak sopan!"

Kedua mata Tifa membola, tanganya yang sudah berjarak beberapa centi lagi dari dada kiri sang Uzumaki tiba-tiba terhenti karena ada sebuah tangan yang mengengam pergelanganya dengan sangat kuat hingga Tifa yakin bahwa ia sempat mendengar bunyi'krek'."A-apa?" Tifa menambah tekanan tenaganya, tapi percuma saja, satu milipun cengkraman itu tidak mengendur dan jarak tanganya dari tubuh Naruto sama sekali tak berkurang.

"Sekarang,,," Secara perlahan kedua kelopak mata Naruto terbuka, membuat tubuh Tifa seakan membatu begitu Iris kuningnya bertabrakan dengan dua mata berwarna merah beriris berbeda. Tifa tersentak saat tanganya ditarik paksa kedepan, memaksa tubunya untuk semakin mendekati tubuh pemuda pirang itu." Kau milikku"

Sekujur tubuh Tifa mengigil saat Naruto membisikan deklarasi sepihaknya tepat disamping wajahnya. Gadis itu menahan dirinya untuk tidak menjerit begitu salah satu daun telinganya digigit kecil oleh sang iblis, sensasi kecil bagai disengat listrik yang terasa hinga keujung jari kaki.

" Ughh l-kepas". Permintaan itu terkabul dan Tifa yang menyadari kesempatanya berniat sesegera mungkin menjauh dari kukungan itu, tapi usahanya kembali gagal karena sebuah tangan dengan sangat cepat mencengkram leher jenjangnya, kembali menariknya kuat dan berakhir dengan hantaman keras diperut.

"Gahhhhhh"

Di barengi geraman lirih, tubuh Tifa terlempar kebelakang. Serasa belum puas hanya dengan satu pukulan, Naruto tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di tempat Tifa yang sayang sekali belum siap dengan serangan baru yang mengancam jiwanya.

Brak

"Argggg" Tifa kembali mejerit begitu merasakan tulang belakangnya terasa hancur terhantam benda keras yang ternyata adalah lutut si bocah besar yang digunakan Naruto membuat tubuh gadis setengah Succubus itu melayang tinggi keudara. Di sela rasa sakitnya Tifa dapat melihat sesosok tubuh berbalut Chakra Orange sudah menungunya di udara. Tifa mengigit bibir bawahnya, merasa rasa ngeri saat mendapati sosok itu menyeringai.

Buk,,,,

",,,,"Tifa terdiap, suaranya tercekat ditengorokan saat sebuah tumit kembali menghantam telak perutnya dengan tenaga gila dan berhasil kembali melontarkan tubuhnya kebawah. Satu-satunya yang menandakan kalau ia dalam keadaan yang kurang baik terlihat dikedua mata kuninnya yang membola dan mulutnya yang juga menganga dengan sedikit cairan merah kental terlontar keudara.

Bagai sebuah meteor yang tertarik grafitasi bumi, tubuh ramping Tifa melesat cepat dan berakhir setelah menghantam tanah.

Brukkkk,,,

Tanpa ada rasa kasian sedikitpun, Naruto membuat satu bunshin. Tanpa basa-basi bunshin pemuda pirang itu melesat turu kebawah dengan dua lutut yang tertekuk.

Bummmm,,,

"Argggg,,," Tubuh Tifa melengkung begitu mendapati perutnya serasa di hantam palu godam malaikat kematian, melalui tatapanya yang sedikit kabur, samar Tifa melihat kembali dua mata merah yang memandangnya dengan ganas, seakan siapapun dibalik mata itu sama sekali tidak memiliki hati maupun perasaan, benar-benar mata monster yang menjanjikan penderitaan.

Naruto yang masihdi udara memperlebar seringainya, wajanya yang biasa begitu terlihat hangat sekarang tampak mengerikan, ketiga garis kebar dipipinya nampak semakin tebal, mata kananya yang merupakan Sharingan dengan tiga tomoe berputar lambat sedangkan mata kirinya yang sudah berubah menjadi seperti mata sang Kyuubi no Kurama, samakin membuat wajah itu terlihat mengerikan.

"Menyedihkan" Sosok itu berbisik dengan suara yang berat. Tangan kanan pemuda itu terangkat, dan dalam hitungan detik sebuah pusaran Chakra berwarna Orange kemerahan sebesar bola sepak sudah tercipta di sana. Tanpa menunjukan adanya rasa kasihan melihat kondisi mengenaskan sang gadis Succubus Naruto menukik dengan cepat kebawah dan tanpa ada keraguan menghantamkan kumpulan energi penghancur itu tepat di perut bersisik emas Tifa.

BUMMMMMMM,,,,,,,

"ARGGGGGGGHHHHH—"

Ledakan besar memekakan telingga kembali mengisi kesunyian huatan Kyoto. Asap tebal dan debu sekali lagi berhamburan menutupi apa yang terjadi di sekitar sumber ledakan menyamarkan jeritan penderitaan Tifa yang baru saja menjadi korban kebrutalan sesosok monster berwujud manusia.

-0-0-0-0-0-0-0-0-

"RIAS, SEKARANG!" Dengan keringat yang mengucur di sekitar pelipisnya Sona berteriak memberi komando pada sang Herries klan Gremony untuk mengakhiri pertarungan.

"OK!"

"BRENGSEK, LEPASKAN AKU, IBLIS!"

Tak mengindahkan sosok bertubuh mirip kelelawar yang terus berteriak dan meronta di kekangan penjara air sahabatnya, Rias melemparkan bola hitam yang merupakan Power of Destruction dengan bringas.

"KURANG AJAR KALI—"

BUMMMM,,,,,,

Sebelum menyelesaikan umpatanya sosok itu telah musnah begitu kekuatan khas milik sang iblis bersurai semerah darah menelan seluruh tubuh miliknya. Setelah pertarunngan dengan sosok bernama Ran yang memakan waktu hampir satu jam nonstop itu berakhir Sona dan Rias merileks kan tubuh masing-masih. Sona mendudukan dirinya ditanah, masa bodoh dengan pakaianya yang kotor saat ini, ia terlalu lelah hanya untuk membahas hal sepeleh itu. Kepala gadis itu bergerak kesamping dimana sahabatnya juga ikut melakukan halyang sama dengan dirinya.

" Dimana Akeno!"

" Dia bersama Asia!" Mendapati tatapan khawatir sahabat berwajah datar yang masih memandangnya dengan itens membuat Rias tersenyum, sedikit tak menyangka juga kalau rivalnya itu ternyata juga mencemaskan ratunya yang beberapa saat yang lalu mendapatkan serangan telak Youkai kelelawar yang tadi ia musnahkan.." Tenang, lukanya tidak begitu parah, dalam beberapa menit Asia pasti bisa menyembuhkanya."

Sona menganguk, ia kembali mengalihkan pandanganya kedepan dimana disana para budaknya dan budak sahabatnya tengah berjibaku dengan sisa-sisa Chimera. Melihat jumlah Chimera yang hanya tersisa beberapa ekor saja membuat sang Sitri berinisiatif untuk tidak terjun kemedan laga. Ia percaya bahwa para budaknya lebih dari mampu mengalahkan mahluk berkepala tiga itu tanpa campur tangan ia dan Rias.

"Oeh, Sona?"

"Hem?"

Rias cemberut ketika mendapatkan gumaman sebagai jawaban." Kau ini! kapan Serafall-sama datang?"

"Entahlah." Sona menjawab tanpa memandang sahabatnya. Mata gadis itu terlalu fokus mengawasi satu persatu budaknya yang masih bergulat dengan beberapa Chimera.

"Ohh".

Keheningan tercipta untuk sesatat diantara dua Herries hingga Rias kembali buka suara." Bagimana keadaan tiga budakmu itu?". Rias hampir saja terjungkal kebelakang saat sahabatnya dengan gerakan cepat memutar tubuhnya hingga menghadap kearahnya. Kening adik Maou terkuat itu mengkerut ketika melihat pemandangan yang sangat tidak biasa berupa mata Sona yang melotot dan mulutnya yang sedikit mengantung dan bergetar." Ada a—"

" Sial, aku lupa!" Sona merutuk, tanpa mengindahkan sahabatnya yang menatapnya dengan berbagai pertanyaan, gadis berkacamata itu segera berdiri. Dengan gerakan cepat Sona membuat sebuah lingkaran sihir kecil di depan wajahnya yang berfungsi sebagai alat komunikasi." Tsubaki!" Sona diam menungu jawaban dari ratunya. Tangan gadis itu dengan gelisal mencengkram ujung baju seragam yang ia kenakan dengan kuat. Mimik cemas tergambar jelas di wajah putri bangsawan Sitri tersebut.

Melihat tingkah sabahat sekaligus rifalnya yang tidak biasa membuat Rias ingin sekali menanyakan pada yang bersangkutan perihal apa yang bisa membuat sosok Sona sampai hilang ketenagan sampai seperti itu, padahan seingat Rias, saat bertarung saja tadi Sona tidak secemas ini.

"Kaicho" Suara Tsubaki, berhasil membungkam mulut Rias yang sudah hampir terbuka dan mengatakan'ada apa?'.

" Bagaimana keadaan disana?" Tanpa basa-basi Sona langsung nyerocos.

" Masalah disini sudah teratasi Kaicho. Kami beserta sisa Youkai penjaga berhasil memukul mundur para Chimera."

Mendengar berita dari ratunya membuat Sona mendesah lega." Syukurlah, lalu bagaimana keadaan kalian?" Tangan gadis sang Sitri yang tadi sempat ia gunakan untuk mencengkram ujung bajunya sendiri hingga kusut sekarang sudah terlepas.

"Aku dan Tomoe baik-baik saja, kami hanya butuh istirahat untuk sekarang. Tapi,,," Suara Tsubaki terhenti, seakan yang bersangkutan tidak yakin untuk memberi kabar selanjutnya. Satu alis Sona terangkat ketika mencium adanya kejangalan disana.

Sona membuang pikiran buruk yang sedetik lalu hinggap diotaknya, gadis itu menaikan kacamatanya yang sedikit melorot dengan jari telunjuk." Tapi apa?"

",,,,"

Diamya Tsubaki membuat perasaan Sona tiba-tiba terasa aneh, benar ada yang jangal disini. Tidak perlu dengan otak cerdasnya, Rias saja cukup tahu bahwa ada yang aneh dengan Tsubaki, seakan-akan gadis itu tidak sangup untuk mengatakan. Dan Rias maupun Sona yakin apapun itu bukanlah kabar yang baik.

"Tsubaki, apapun yang terjadi katakan padaku, sekarang1" Dengan setiap penekanan di dalan kata-katanya, Sona mencoba memaksa ratunya untuk berterus terang.

",,,Aku dan Tomoe baik-baik saja ,tapi,,," Sona bisa membayangkan kalau di sebrang sana Tsubaki tengah mendesah karena meski samar ia bisa mendengar helaan nafas wakilnya.",,, Naruto hilang"

"A-apa?!" Kedua iris fiolet Sona membola, tubuhnya menegang dan jantungnya tiba-tiba seakan berhenti berdetak." B-bisa kau ulanggi?" Sona memaksa sang ratu untuk mengulangi perkataanya.

",,,N-naruto hilang!"

"BAGAIMANA MUNGKIN!" Tanpa sadar Sona berteriak. Gadis itu sama sekali tidak perduli pada sahabatnya yang tersentak kaget mendapati dirinya yang saat ini begitu melenceng dari imaje tenang dan berwibawah seperti yang selama ini Sona pertontonkan.

Rias berjengit. Jantungnya nyaris saja jatuh ketika suara melengking Sona tanpa peringatan menghantam telak pendengaranya. Gadis penerus Klan Gremony ini menatap wajah sahabatnya yang sudah memucat, mata yang biasa terlihat tegas dibalik kacamata bening milik Sona tampak berkaca-kaca. Andai saja dalam situasi normal, Rias pasti sudah berguling-guling sambil menjepretkan berkali-kali kamera hp-nya untuk mengabadikan momen tak biasa ini. Tapi sekali lagi, Rias sadar kalau kabar dari Tsubaki bukanlah sesuatu yang bisa di angap guyonan. Rias yakin andai saja ia memaksakan dirinya untuk tertawa, gadis di sampinya pasti akan langsung menengelamkanya dengan air bah detik itu juga. Merasa tidak ada hak untuk bertanya pada Tsubaki, Rias memilih diam, jujr saja ia juga penasaran dengan kabar pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya dalam insiden penyerangan Kokabel beberapa hari yang lalu.

",,,G-gomen, Kaicho. Tadi ditengah pertarungan ada satu sosok tak dikenal yang tiba-tiba muncul dengan sangat cepat dan langsung membawa Naruto pergi. Aku dan Tomoe yang berniat mengejar sosok itu terhalanig oleh para Chimera yang sepertinya memang di tugaskan menghadang langkah kami untuk menyusuk sosok itu."

" Lalu?" Suara Sona memelan, ia sadar membentak ratunya bukan jalan yang tepat karena bagaimana pun juga ia yakin bahwa Tsubaki tidak ada sangkut pautnya dengan masalah yang menimpa pemuda yang jujur Sona akui mulai mendapat perhatian lebih darinya.

" Kami tidak tahu, tapi kami melihat kobaran api besar dan beberapa ledakan yang aku asumsikan hasil pertarungan Naruto dengan sosok itu!"

Sona terdiam, kepalanya tertunduk dalam membuat Rias yang berdiri disamping gadis itu tidak bisa melihat ekspresi apa yang di keluarkan sahabatnya.

" Rias"

Rias berjengit begitu mendengar suara teramat dingin dari Sona." Y-ya?" Ia menjawab terbata.

" Kau tetap disini!"

"T-tapi kau mau kemana?"

"Ada urusan yang harus kuselesaikan." Sona menajamkan pandanganya." Katakan pada para budakku kalau aku ada keperluan." Tanpa menunggu jawaban Rias, Sosok Sona sudah hilang.

"Hah,,seenaknya sendiri. Tapi aku tidak pernah melihat Sona seperti itu." Rias mengelus dagunya, otaknya mulai mengira-ngira hal apa yang bisa membuat sahabatnya bisa bertingkah seperti orang kehilangan sesuatu yang paling berharga seperti itu.",,,Tunggu dulu,, sesuatu yang berharga ya?" Rias mengelus dagunya dengan cukup encang kening gadis itu mengkerut dalam." Mungkinkan Sona mempunyai rasa pada Naruto?"

TBC

A/N: yo pendapt kalian tentang chap ni.

Sory kalo chap ini agak lama updtnya, karena jujur saja gw harus membagi waktu untuk ngetik dan kerja, jadi gw hanya bisa negtik kalau ada mood aja hehehehe..

Konflik di Kyoto udah mulai mendekati puncaknya . mungkin dua atau tiga chap lagi akan selesai dan memulai kembali dengan pertemuan tiga fraksi.

Segini aja ya bacotan dari gw,. And terimakasih banget buat kalian semua yang mendukung karya-karya gw. Gw sadar kualitas fict gw masih jauh dari kata bagus. Jadi gw masih butuh tuntunan dari kalian semua buat memperbaiki fict-fict gw yang lain. jangan pernah bosen ngasih masukan atau negur gw yah, karena bagaimanapun juga setiap usul kalian adalah penambah semangat gw.

Penghianat:Kumo

Chimera disini, ternyata adalah ciptaan Tengu. Namun sistem nya telah dirubah oleh Kumo yang berhianat.

Zuko{OC}. Mantan angota dewan Youkai yang berniat mengunakan kekuatan Kyuubi untuk memangil sesuatu yang ia yakini bisa memberikan kekuatan yang sangat besar. Sosok ini telah menghilang cukup lama setelah pertarungan terakhirnya dengan Tengku yang diperintahkan mengusir Suko dari tanah Kyoto karena sepak terjang sosok itu yang terlalu sering melakukan bermacam-macam percobaan aneh.

Di chap ini juga gw jelaskan kenapa para Youkai tingkat atas tidak bisa turun tangan langsung membantai para Chimera{ males jelasinya, sermati dan pahami aja sendiri]

Kata ' Kai' yang Naruto ucapkan pada saat awal pertarungan dengan tifa, sebenarnya hanya melepas segel Chakra yang selama ini ia kumpukan di dalam tubuhnya dan bukan pelepasanpelepaan lainya.

Chakra merah yang Naruto tarik paksa dari Kyuubi[ Ringo] hanya bagian kecilnya.[Sama seperti ketika pertarungan Naruto dengan Neji] tapi karena saat ini dalam tubuh Naru tidak tertanah hakke no fuin shiki',, jadi selain menambah kekuatanya, chakra itu juga ikut mempengaruhi emosi naru{ makanya Naru terlihat begitu ganas saat mengunakan Chakra ini}

Di fict ini banyak yang tidak sesuai dengan aslinya, karena memang jalan cerita maupun sihir dalam fick ini banyak yang karangan gw sendiri, maaf kalau diantara kalian ada yang kurang paham atau tidak suka dengan imajinasi gw.

Cukup sekian dari gw,

Karasumaru.666

Jaa ne,,