"New Life And New War"
Disclaimer : Naruto dan Hight School DXD, Bukan punya saya tapi
Masashi Kishimoto & Ichiei Ishibumiuncak.
Warning: AU,gaje,abal,typo,dan alur nyeleneh. Melenceng dari canon,ooc,oc dll.
Summary: Naruto yangg telah menyegel chakra Madara,Obito,dan Juubi didalam tubuhnya. Akhirnya mencapai pada ambang batasnya, bukanya mati tapi ia malah terkirim ke dimensi lain dengan kondisi yang berbeda jauh,;
Chapter 15: Mentari berdara, hujaman Taring Kyuubi.
"GLORIA"
GROARRRRRRR,,,,,,,,!
Gelomang Youkai bergejolak ganas membanjiri hampir seluruh permukaan bukit Kyoto bagaikan ombak laut di tepi pantai menyapu habis butiran pasir. Mansion milik Tengu yang awalnya berdiri kokoh meski sudah terhantam ratusan serdadu Chimera kini mulai melunak. Bangunan berbekal ratusan kekkai itu roboh, layaknya sebuah gedung tertimpa dua bom atom ukuran sedang. Ukiran indah hasil karya ratusan Youkai pematri, dalam kurun waktu kurang dari satu menit musnah saat energi Youkai besar namun nampak tidak terkendali mulai meremukan tiang-tiang penyangga dan tumpukan batu-bata yang menjadi penopang mansion milik sang Youkai gagak untuk tetap berdiri.
Dari sela puing-puing bangunan berbahan 7O% kayu asli hutan Kyoto itu melesat cepat sesosok bayangan. Sosok yang samar-samar mempunyai bentuk menyerupai hewan berkaki empat namun memiliki surai kuning cerah itu berhasil lepas dari jeratan ribuan kayu sisa-sisa mansion setelah menghancurkan tumpukan reruntuhan bangunan yang sebelumnya menguburnya.
Tak jauh dari reruntuhan mansion, beberapa tubuh tampak terkulai merapat pada tanah. Asap coklat hasil ledakan yang awalnya menyelimuti sebagian halaman sampai hutan mulai menipis dan menampakan tubuh seorang gadis bersurai hitam pendek yang tertelungkup miris mencium tanah.
Dengan sedikit usaha, Sona mulai mengerakan tulang belulangnya yang jujur saja terasa begitu pegal setelah mendarat dari terbang bebasnya beberapa saat yang lalu. Di mulai dari gerakan pada kedua tanganya ia mencoba untuk bangkit meski tubuhnya serasa engan untuk mengikuti perintah otak. Dengan sedikit usaha memaksa, gadis dari keluarga Sitri itu mulai berhasil menumpukan tanganya sebagai penyanga, badan kecilnya mulai menegak meski kedua kakinya masih menekuk dan bokongnya juga masih menempel pada tanah.[ bayangin huruf ;W']
Kepala kecil itu mendongkak. Iris ungu terang di balik lensa milik sang gadis yang awalnya tampak sayu mulai menajam, mencoba menerobos sisa-sisa debu yang belum hilang sepenuhnya dari udara.
"Ugh,," Gadis itu melengkuh, bukan karena rasa sakit yang mendera tubuh kecilnya, namun karena adanya energi Youkai besar yang masih saja bergejolak liar memenuhi udara, seolah-olah ingin meremas paru-parunya hingga menjadi gumapalan daging tumpuk.
' Apa yang terjadi?'
GROARRRRRR,,,,,,,,!
Sang tersangka penghancur bangunanm milik Tengu kembali meraung dengan suara keras memekakan telingga. Asap di sekeliling mahluk itu terlontar bersamaan dengan gelombang kejut yang di hasilkan lolongan pita suara mahluk tersebut.
Sona menundukan kepalanya dengan kelopak mata yang terpejam, menghindar dari terjangan angin bercampur debu yang di lontarkan kesegala arah oleh mahluk itu. Kurang dari satu menit Sona kembali membuka matanya, meski kabut debu belum sepenuhnya menghilang, namun sudah lebih dari cukup untuk mata iblis Sona mampu memandang jelas keadaan sekitarnya.
" Astaga!" Sang Sitri tidak bisa untuk tidak menganga begitu kedua matanya menangkap dengan cukup jelas siapa yang saat ini berdiri dengan dua kaki dan tanganya di atas reruntuhan bangunan milik Tengu. Tubuh kecil sepostur dengan dirinya, surai kuning emas sepungung yang berkibar dengan liar serta wajah manis berekspresi datar dan mata merah beriris vertical yang tampak buas namun kosong memandang lurus kedepan.
" K-kyuubi,,,!" Sona mencicit dengan suara pelan, tak ingin sosok itu sampai mendengar dan mengetahui posisinya.
GrOAAARRRRR….!
Masih tidak bergeming dari posisi awalnya, sosok Kyuubi kembali meraung. Mata merahnya menatap kosong kearah hutan, tubuh gadis itu perlahan lahan bergetar bersamaan dengan kembali meledaknya energi Youkai berwarna kuning emas yang secara cepat keluar dari seluruh pori tubuhnya, membungkus sosok itu dalam cahaya kuning menyilaukan. Sona yang awalnya sudah mulai bisa berdiri dengan dua kakinya, kembali harus rela bokongnya terhempas ketanah begitu energi Youkai di atas tingatanya kembali menyentak tubuh kecil sang Sitri. Niat awalnya untuk mendekati sosok itu ia urungkan, begitu nalurinya sebagai iblis meneriakan tanda bahaya.
Sona meneguk ludahnya sendiri dengan suara 'glek' pelan. Mata Ungu cemerlangnya membola akibat sang pemilik mulai di rundung rasa khawatir, cemas dan penasaran yang cukup untuk menegakan bulu roman. Cahaya yang membungkus tubuh sang Kyuubi perlahan mulai membesat, membesar dan terus membesar hingga melebihi tinggi mansion yang tadi sosok itu hancurkan sebelum bangunan itu roboh.
SLASSSSSS,,,,!
Gumpalan cahaya berisikan tubuh pemimpin Youkai Kyooto itu tiba-tiba melesat cepat keangkasa, meningalkan sesosok gadis yang masih melonggo karena rasa penasaranya yang belum tertuntaskan. Yeh,, meski ada rasa was-was yang menyeruak dihatinya, tapi Sona juga sebenarnya penasaran akan apa yang terjadi dengan tubuh mungil Yasaka yang ada di dalam cangkang cahaya keemasan yang membungkus tubuhnya.
"Hah,," Sona mendesah antara kecewa dan lega. Gadis itu mengeleng dengan mata yang terpejam, tangan lentiknya mengapai gagang kacamata yang terselip kurang semprna di samping kepalanya, melepaskanya pelan kemudia ia gosok kedua lensa beningnya dengan ujung seragam yang ia kenakan secara bergantian hingga bersih.
"Kaicho!"
"Hem?" Sona mengankat kepalanya dengan kacamata yang sudah terpasang rapi. Gadis itu mengerjap beberapa kali sebelum menoleh kesamping." Tsubaki!" Buru-buru gadis itu bangkit untuk mendekati Tsubaki yang kini tengah bersandar pada sebuah pangkal pohon yang sudah tidak memiliki bagian atasan. Dan Sona yakin akibatkan berkontak dengan pungung Tsubaki.
"Kau baik baik saja?" Suara bernada khawatir ia suarakan begitu tubuhnya sudah berada beberapa langkah di depan Tsubaki. Sona meringis kasihan, keadaan wakilnya kali ini benar-benar menyedihkan. Dengan pakaian yang sudah compang camping, tubuh bermandikan debu dan beberapa luka sayatan yang masih mengeluarkan cairan merah." Hah~" Sona mendesah, tanganya terulur mengapai kaki sang wakil guna meluruskan kedua lututnya yang tertekuk." Kau baik-baik saja?" ia mengulangi pertanyaanya.
"Iya!" Tsubaki menganguk. Tangan kananya mengelus dada dengan gerakan naik turun, nafas gadis bersurai hitam panjang ini agak memburu, berusaha mengenyahkan rasa nyeri yang membungkus tulang dan organ dalamnya. " Apa yang terjadi dengan Kyuubi? Kenapa ia bisa seperti itu?" Dengan bantuan Sona yang menyangga samping tubuhnya, Tsubaki berusaha berdiri. Wajah gadis itu mengkerut ketika lutut dan tulang belakangnya terasa nyeri, tapi ia tidak mengeluh maupun meringis, gadis bersurai hitam panjang itu tidak mau menambah kekhawatiran sang King hanya karena memikirkan dirinya saat ini.
" Entahlah,,, tapi melihat matanya yang seakan tidak memiliki jiwa, aku yakin kalau sekarang Yasaka-sama tidak dalam keadaan sadar,,," Sona berhenti berbicara, dengan perlahan ia melepaskan peganganya dari samping tubuh ratunya, mebiarkan Tsubaki untuk duduk nyaman di atas dahan pohon yang telah tumbang.",,,aku yakin ada sesuatu yang mengendalikan tubuhnya."
Tsubaki diam tidak menjawab atupun bertanya lagi, tangan gadis itu merogoh kantung belakangnya dan menarik sebuah kantung kecil yang berisi beberapa butir pil hitam.
Dalam diam, Sona melihat Tsubaki yang tengah menelan beberapa pil penambah energi buatanya. Mata gadis itu bergeser dari sang ratu kesekeliling, mencoba mencari sesuatu yang sepertinya ia lupakan." Tomoe?" Sona terpekik. Sial ia lupa dengan Knightnya yang tadi juga ikut terlempar bersama ia dan Tsubaki. Mencari kesekeliling tapi tetap tak menemukan tanda-tanda keberadaan sang gadis bersurai merah.
" Kaicho!" Tsubaki mengengam pergelangan tangan kecil Sona saat gadis itu sudah membalikan tubuhnya untuk menyisir daerah sekitar. Begitu Sona memandang wajahnya dengan alis yang bertaut antara binggung dan khawatir, Tsubaki mengeleng." Tenanglah!"
"Tap-"
" Dia ada disana!" Tsubaki memotong protes Sona dengan suara pelan, ia mengedikan kepalanya kearah samping, memberikan arahan pada sang King melalui gerakan tubuh.
Herries Klan Sitri itu mengikuti petunjuk Tsubaki dan mendapati sesosok mahluk yang amat ia kenal tengah berjongkok di depan beberapa tubuh-tubuh Youkai penjaga yang selamat dari serangan Chimera dan ledakan energi milik Kyuubi. Keberadaan mereka yang persis di bawah pohon dekat semak-semak membuat Sona tidak bisa melihat mereka sejak awal.
" Hah, syukurlah!" Sona mendesah lega. Kejadian yang sukses menghancurkan kediamanTengu sama sekali tidak masuk kedalam perhitungan otak cerdik sang Sitri. Awalnya dia menduga kalau target utama para pemberontak hanya untuk melumpuhkan sang Kyuubi, mengingat dialah Youkai terkuat yang pasti akan merepotkan aksi-aksi para pembelot. Tapi sekarang, bukanya terkulai lemas setelah mendapatkan pengobatan dari Asia, Yasaka malah berkeliaran keluar dengan energi bergejolak yang sepertinya tidak bisa di kendalikan oleh sang pemilik
Niat Sona kembali mendatangi mansion wakil pemimpin Kyoto awalnya untuk memastikan kebenaran laporan dua budaknya mengenai sang Pion. Ia keluar dari sihir teleportasi tepat di depan pintu masuk Mansion yang kini telah menjadi reruntuhan. mendapati pertempuran sudah mendekati akhir dengan keungulan pihak mereka, Sona tak perlu ragu lagi untuk mengumpulkan dua budaknya, toh beberapa Youkai penjaga yang ada dapat di pastikan bisa mengurusi sisa Chimera.
Untuk beberapa menit setelah mendengar cerita kronologi dari dua sisi antara Tomoe dan Tsubaki, Sona memutuskan untuk segera mencari keberadaan sang Pion. Dia tidak ingin membuang banyak waktu, takut terlambat sedikit saja bisa membuat keselamatan Naruto benar-benar terancam, yang saat ini memang sudah terancam.
Tapi, ketergesaan mereka terhambat karena belum juga melangkah untuk memulai misi penyelamatan pada Naruto. Tubuh mereka keburu di terbangkan oleh ledakan energi Youkai Yasaka yang menghantam tubuh Sona cs beserta para semua Youkai penjaga yang kala itu tengah berjongkok ria mengistirahatkan tubuh.
Sang Sitri mendesah, matanya kembali bergulir kearah sang Knight yang agaknya sudah selesai memeriksa keadaan semua Youkai penjaga. " TOMOE, KEMARI!" Sona berteriak, begitu melihat sosok itu melambai, ia ikut melambai. Tomoe terlihat berbicara sebentar dengan beberapa Youkai penjaga sebelum akhirnya berlari tergesa mendekati Sona dan Tsubaki. Keadaan Gadis itu terlihat lebih baik jika di bandingan dengan Tsubaki, nilai plus buat Sona untuk tidak terlalu menghawatirkan keadaan sang Knight.
" Ya, Kaicho!?"
"Bagimana keadaan mereka?"
"Cukup buruk! Beberapa patah tulang dan sisanya kehabisan energi,,, Tapi tenang saja, kebetulan di antara mereka ada yang mempunyai pengalaman sebagai Youkai medis yang cukup bisa di andalkan untuk memulihkan keadaan." Tomoe buru-buru menambahkan begitu mendapai wajah sang King sudah mulai menunjukan gurat kecemasan.
Sona menganguk." Kau sendiri?" mendapati angukan Tomoe, Sona mengalihkan perhatianya pada Tsubaki, dan gadis itu juga menganguk memberitahukan pada Sona kalau keadaan mereka berdua sudah tidak perlu di cemaskan." Aku akan menyusuri hutan untuk mencari keberadaan Naruto. Dan untuk kalian berdua, terserah mau ikut apa tidak aku tidak akan memaksa, aku cukup paham dengan keadaan kalian saat ini, jadi semua pilihan kuserahkan pada diri kalian masing-masing!"
Tsubaki dan Tomoe berpandangan untuk beberapa saat sebelum akhirnya kembali menatap Sona." Keadaan ku memang belum seratus persen pulih, tapi kalau hanya untuk misi pencarian aku yakin masih mampu, jadi aku ikut!"
Sona menganguk, ia cukup senang dengan keputusan Tomoe yang masih mau memikirkan keberadaan Naruto. Ia mengalihkan perhatianya pada Tsubaki, memberi pandangan yang memiliki arti yang sama dengan apa yang tadi sempat ia katakan' pilihan'.
"Aku ikut!" Tusbaki menjawab singkat. Tiga pil hitam yang tadi sempat ia telan sekaligus sudah mulai menunjukan khasiatnya. Luka di tubuh gadis itu sedikit demi sedikit mulai menutup, walau tidak secepat dan sesempurna Air mata Phoenik tapi setidaknya kecepatan regenerasi iblis yang ia miliki membantu obat ciptaan Sona itu untuk bekerja lebih efektif.
Sona tersenyum tipis." Kalian yakin?" Lagi-lagi dua gadis itu menganguk bersamaan untuk menunjukan keseriusan mereka." Kalau begitu tunggu apa lagi?!" Sona membalik tubuhnya, matanya menatap tajam kepingir hutan, tepat dimana sosok misterius yang dikatakan Tomoe membawa sang Pion.
" Ha'i." Keduanya menyahut bersamaan, sebelum melesat mengikuti sang King yang sudah melesat terlebih dahulu meningalkan keduanya.
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-
Punggung pemuda pirang itu masih tegak dengan tangan kiri terkulai lemas di sisi tubuh sedang tangan kanan terangkat kedepan sejajar dengan dada, mencengkram sebuah bola energi merah sepiral yang beberapa saat lalu hampir menghantam tubuh Tifa. Wajah berhias tiga garis yang ia miliki menghadap kearah sisi kanan tubuhnya. Iris merah berbeda pola di masing-masing roga matanya dengan kompak memandang jauh keatas. Mengintip, rimbunan pucuk pohon yang tidak mampu menutupi gumpalan debu coklat yang tadinya di isi oleh cahaya kuning emas menyilaukan.
"Ugh!" Tifa melengkuh, tubuh moleknya mengeliat berusaha mencari celah yang bisa ia gunakan untuk melepskan diri dari kungkungan Naruto yang saat ini masih asik menduduki perut ratanya. Andai saja keadaan tubuhnya saat ini dalam kondisi prima, ia pasti sudah mengenyahkan pemuda pirang yang kini mengunakan perutnya layaknya sebuah kursi.
Satu serangan keras yang di layangkan Naruto beberapa saat yang lalu agaknya berdampak besar untuk Tifa, karena setelah menerima serangan berbasis penghancur mutlak itu, sang gadis Succubus benar-benar tidak bisa lagi mengerakan tubuhnya. Jangankan untuk bergerak hanya untuk berbicara yang pada dasarnya tidak memerlukan energi saja ia sudah kesusahan.
Terlalu focus dengan tempat yang ia yakini asal dari energi Youkai yang tadi menerjang tempatnya, Naruto melupakan keberadaan Tifa. Pemuda itu bahkan tidak terusik sedikit pun dengan geliatan-geliatan Tifa yang mungkin saja tengah menyusun usaha untuk menyerangnya. Tapi, sepertinya Nuruto cukup percaya diri kalau serangan andalanya yang tadi menghantam perut sang gadis lebih dari cukup untuk membuat tubuh Tifa mengalami malfungsi, dan itu memang benar.
"C-cepat selesaikan tugasmu bocah,, a-atau aku akan mencabik tubuhmu!"
Suara bernada ancaman sang gadi Succubus sukses menarik perhatian Naruto. Untuk sesaat pemuda pirang itu hanya diam dengan pandangan datar yang menyorot langsung wajah Tifa. Sangat menyedihkan, hidung mancung gadis itu agak bengkok karena pukulan pertamanya, kulit putihnya berbalut tanah dan cairan merah yang keluar dari robekan luka di kening, pipi dan bibir. Darah masih mengalir dari sela bibirnya, mungkin beberapa organ dalam gadis itu ada yang hancur karena terjangan Rasengan. Sebuah seringai kembali mengisi ekspresi wajah Naruto. Tangan pemuda itu mengapai pergelangan tangan Tifa yang terbengkalai di sisi tubuh, mengangkatnya sebatas wajah dan mulai memainkan jemari lentik sang gadis yang masih berbalut sisik berwarna kuning emas.
"Mencabikku?" Naruto memiringkan kepalanya kesamping. Seringai diwajahnya menghilang di gantikan dengan ekspresi sok polos yang menghasilkan geraman dari Tifa." Dengan ini? Hemmm" Tanpa keraguan Naruto langsung mengulum ujung jari telunjuk milik sang gadis. Ia sama sekali tidak khawatir kalau Tifa mungkin akan bertindak agresif dan menarikan jarinya dengan keras yang dapat di pastika bisa merobek mulutnya dengan mudah, mengingat betapa tajamnya cakar yang ada di ujung jari sang gadis.
Tifa hanya diam, gadis itu tidak menyahut keraguan yang ketara jelas di tunjukan oleh sang lawan kerena ia sadar benar bahwa apa yang di ungkapkan Naruto memang benar adanya. Sang Succubus beberapa kali mengernyit karena rasa nyeri di tubuhnya yang tak kunjung juga menghilang. Ia bukan mahluk supranatural dengan kemampuan regenerasi tinggi yang bisa sembuh dari luka apa pun hanya dalam kurun waktu singkat, jadi rasa sakit itu akan terus ia rasakan dalam waktu yang lama, selama nyawanya masih melekan pada raga.
Kekerasan sisik Succubus yang melekat di kulit tubuh Tifa lah yang selama ini selalu membantunya mengalahkan semua musuh. Serangan apapun akan sangat sulit untuk menembus pertahananya, dan sebelum benda itu hancur, Tifa sudah terlebih dahulu mengeksekusi sang lawan yang sudah terlebih dahulu terkuras setaminanya akibat bergulat dengan baju zirah kuning miliknya.
Krakkkk,,,
"Ugh" Tifa melengkuh begitu Naruto mengigit keras ujung jari gadis itu, membuat sisik yang menurut Tifa mempunyai daya tahan melebihi baja terbaik itu hancur.
Naruto kembali menyeringai. Pemuda itu semakin keras menyesap ujung jemari milik Tifa yang sudah tidak mempunyai pelindung." Aku meragukanya,,,tapi,," Naruto mengeluarkan kembali jari Tifa yang terumur liur beningnya, menatap kelopak tangan sang gadis sebelum akhirnya ia hempaskan dengan keras kesamping, tindakan yang menghasilkan rintihan kesakitan dari Tifa." Terima kasih telah mengingat kanku kembali!"
Luka-luka yang menaungi tubunya cukup parah, atau mungkin sangat parah. Bukan hanya tulangnya saja yang patah tapi organ-organ dalamnya sekarang sudah banyak yang hancur dan pastinya tidak bisa berfungsi sebagaimana layaknya. Tifa tahu, andai saja dirinya bisa selamat dari bocah pirang itu, tidak akan menjamin kalau ia masih bisa bertahan hidup untuk waktu yang lama. Meski Naruto melepaskanya, dia pasti juga akan mati, hanya tinggal menunggu waktu. Dan mati ditangan bocah itu akan mempercepat Tifa melewati rasa sakit yang saat ini begitu terasa menyiksa.
Terdorong oleh keinginan untuk segera mengakhiri penderitaanya, Tifa hanya diam saja meski tangan kanan Naruto yang mengengam Rasengan sudah terangkat dan siap untuk mengirim jiwanya ke nirwana. Gerakan-gerakan kecil yang tadi masih sering Naruto rasakan dari mahluk yang kini berada di bawahnya mulai menghilang, tubuhnya lemas seakan boneka manekin yang tidak mempunyai nyawa. Gadis itu pasrah, tidak ada lagi penolakan atau pun pembelaan untuk mempertahankan hidupnya.
Ketika pertama kali membuka mata setelah mendapatkan sedikit suplai Chakra milik Ringgo, rasa ingin mengalahkan gadis Succubus di bawahnya benar-benar begitu membeludak. Bukan hanya mengalahkan dalam arti menghajar, tapi mengalahkan dalam artian membunuh. Naruto yang pada dasarnya tidak begitu suka menghabisi nyawa mahluk lain sekarang bahkan tidak segan-segan langsung memberikan serangan terbaiknya untuk segera menuntaskan hasratnya itu. Hati sang Uzumaki telah ternoda, otaknya tidak bisa berfikir dengan jernih karena terkungkung gumpalan kebencian dari Chakra negative sang Kyuubi.
Melihat wajah cantik gadis itu, ia ingin sekali mencabiknya. Mengengam tangan itu, ia ingin menariknya keras hingga terpisah dari tubuh dan ketika menghujamkan pukulan demi pukulanya, pemuda itu sangat ingin meremukan setiap tulang yang ada di balik daging milik Tifa. Segala keinginan yang Naruto rasakan ketika melihat eksistensi Tifa, hanya bisa di ucapkan dengan satu kata' membunuh'.
Hasrat membunuh yang tadi begitu mengebu bahkan sampai mengalahkan rasa haus seseorang yang berhari-hari tidak mengkonsumsi air itu, sekarang perlahan lahan mengendur begitu mendapati wajah menderita sang gadis, padahal jika dia ingin, Naruto bisa dengan mudah menghancurkan sisa kehidupan Tifa hanya dengan menghantamkan Rasengan yang sudah terbentuk itu kewajah sang gadis. Meski mudah dan tanpa halauan, tapi ia tak kunjung melakukanya karena ada bisikan-bisikan di kepala yang menyuruh untuk berhenti dan tidak meneuskan tidakanya.
"Ugh" Naruto mengeram, tanganya yang sudah terangkat itu terlihat bergetar karena sang pemilik di rundung keraguan dan rasa sesak teramat sangat yang menyerang dada.
Jika di lihat dengan mata normal, Chakra Kyuubi hanya akan membuat sang penguna mengalami perubahan fisik, sifat dan peningkatan kekuatan. Tapi, kalau di perhatikan dengan cermat, ada konsekwensi yang juga menyertai keungulan itu selai sifatnya yang menyerupai psikopat haus darah dan binatang lapar.
Jauh di dalam tubuh tegap itu, aliran darah bergerak liar karena sang pemompa, alias jantung, terus berdetak dengan kencang. Naruto bahkan bisa mendengarkanya sendiri meski organ pendengaranya berada cukup jauh dengan benda berdetak itu. Nafasnya tercekat dan sering terasa tersumbat ketika Chakra negativ sang siluman Rubah terus membekap paru-paru dan seluruh saluran Chakra di tubuhnya. Dan dari semua itu, masih banyak lagi organ tubuh yang berfungsi over atau berlebihan. Sesuatu yang dapat di pastikan berdampak tidak baik untuk Naruto.
Untuk beberapa menit, Naruto mungkin bisa menahan rasa sakit yang terus mengerogoti tubuh dalamnya, tapi semakin waktu berjalan, orang terkuat pun akan tumbang jika organ dalamnya terus-menerus mengalami siksaan yang teramat sangat itu.
" Uhuk" pemuda itu terbatuk pelan, cairan merah merembas dari sela bibirnya, menandakan kalau tubuh itu benar-benar sudah mencapai batasnya untuk terus mempertahankan kekuatan mengerikan milik sang parner.
Naruto mengertakan gigi-giginya begitu mendapati tubuhnya tidak mau memenuhi keinginanya. Ia tidak tahu kenapa, tapi ketika ia berniat menghujamkan Rasengan untuk menghabisi Tifa, tanganya selalu bergetar dan membatu, seolah benda itu tidak ingin melakukan tindakan yang di perintahkan oleh sang tuan.
Tifa adalah musuhnya, musuh yang harus ia hancurkan agar tidak menjadi kendala untuk kesuksesan misi yang ia emban. Naruto tidak mengenal sang gadis Succubus, dia bukan keluarganya, temanya atau pun kenalanya, tapi kenapa sulit sekali untuk mengakhiri hidup gadis itu. Padahal kalau pemuda itu yakini, Sosok Tifa beberapa waktu yang lalu benar-benar berniat membunuhnya, tapi lagi-lagi kenapa ia tidak bisa membunuh sosok yang jelas-jelas adalah musuhnya itu?.
Lagi-lagi-lagi-lagi dan lagi. Naruto terus mencoba mengerakan paksa satu tanganya hanya untuk membenamkan Rasengan ketubuh Tifa, sesuatu hal yang simpel namun sekuat apa pun ia berusaha benda yang hanya berupa seongol tulang berbalut daging-otot dan kulit itu tetap tidak mau bergerak. Urat-urat yang mulai bermunculan di sepanjang lengan dan leher pemuda pirang itu cukup membuktikan kalau Naruto benar-benar telah berusaha keras untuk segera mengakhiri hidup Tifa. Namun kembali keawal, semua itu sia-sia karena sekuat apapun ia berusaha tetap tidak menghasilkan apapun. Tangan kananya masih teracuk keatas, seolah ada kekuatan sangat besar yang memasungnya tetap berada di sana.
Kelopak mata yang tertutup, membuat Tifa tidak bisa melihat pergulatan konyol Naruto dengan tangan kananya sendiri. Gadis itu hanya diam, menunggu ajalnya yang entah mengapa tidak kunjung datang meski waktu sudah berjalan cukup lama.
' Tunggu aku Tou-san, Kaa-san dan Oji-san, Tifa akan segera mengunjungi kalian. Kita akan segera berkumpul kembali tanpa takut akan ada yang mencoba memisahkan kebersamaan kita lagi. Setelah begitu lama aku merindukan kalian, akhirnya sebentar lagi kita bisa bersama lagi.' Kematian tak akan begitu terasa menyakitkan kalu kita mengigat hikmah di balik proses itu. Kehidupan hanya fana, meski kaum Youkai dan sebagainya memiliki umur panjang, tapi tetap saja jika hampir seluruh waktu yang kau punya hampir selalu di isi dengan penderitaan, Tifa lebih memilih mati dan melupakan dunia dari pada hidup, namun tidak bisa menikmati apa yang di sajikan oleh Tuhan.
'Selamat tinggal dunia yang kejam, selamat datang dunia kekal' Masih dengan menutup mata dan tubuh terkulai, sebuah senyum pasrah nan tipis melengkung di bibir bernoda darah Tifa.
"SIALAAANNNNNN,,,!"
Lamanya waktu eksekusi dan teriakan meleking Naruto tidak mampu membuat kelopak mata Tifa yang tertutup untuk kembali membuka,,ok mungkin untuk teriakan bernada frustasi itu cukum membuat alis sang gadis mengkeru dan tubuhnya menegang karena kaget, tapi itu tetap tidak membuat Tifa menampakan iris kuningnya.
"Uhuk,,,"
Kenapa pemuda itu berteriak seperti orang Frustasi, kalau pada kenyataanya ia berada di atas angin?
Kenapa pula dia batuk seperti orang penyakitan?
Dan kenapa dia tidak juga menghabisi nyawanya?
Sebelum pertanyaan-pertanyaan itu berhasil otak Tifa pecahkan, beberapa tetes benda cair hangat menerjang kulit wajahnya, memaksa ia untuk membuka mata karena di rundung oleh rasa penasaran.
"…" Gadis itu diam, namun matanya yang menyipit menunjukan kebingungan ketika iris kuningnya menemukan sang algojo masih berada tepat di tempat semula dengan keadaan tubuh yang juga masih sama. Mata milik sang Succubus semakin menyipit ketika pandanganya mulai menemukan pergerakan-pergerakan aneh di sebagian tubuh Naruto. tubuh pemuda itu memang masih tegap, tapi wajahnya yang tadi mendongkak sekarang menunduk dengan surai pirang liarnya yang menutupi hampir seluruh wajah kecuali hidung sampai mulut. Tangan kanan yang terangkat tegak dan mencengkram sebuah bola sepiral berwarna merah yang semakin lama semakin mengecil. Mengalihkan fokusnya pada lengan si pirang, mata Tifa yang sudah mulai mengabur sedikit mendapati getaran-getaran yang gadis itu sendiri tidak tau apa penyebabnya.
"Uhuk,,,uhuk,,,," Naruto kembali menyemprotkan ludah merahnya kesembarang tempat dengan Volume yang lebih banyak dari sebelumnya. Tangan kanan yang sudah kehilangan Rasengan bergerak cepat menyentuh dada, dengan brutal meremas kaus hitam ketatnya dan menariknya asal, seolah-olah bisa untuk sedikit banyaknya meredam rasa sakit yang sudah merambat keseluruh tubuh.' Tu-tubuhku,,,s-sial,,,!'
Menghadapi rasa sakit bagaikan tertimpa tubuh Juubi beralas kan beton, kesadaran Naruto yang masih tersisa mulai muncul dan mengerti kalau sekarang sudah saatnya ia menghentikan tubuhnya untuk menyerap Chakra sang parter. Kekuatanya sudah tidak begitu ia butuhkan karena sang lawan juga telah tumbang dan itu tandanya ia juga sudah tidak perlu lagi menahan penderitaan ini. Rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya, terlebih lagi dadanya benar-benar sangat menyiksa. Ini seperti mendapati kalau jantung serta organ dalamya tengah di cengkram oleh tangan monster tanpa belas kasih yang tidak akan mengendurkan remasanya hingga benda itu benar-benar hancur.
Meski pandanganya sudah sedikit demi sedikit mengelap, tapi Tifa dapat melihat cukup jelas kalau pemuda itu tengah menahan rasa sakit yang amat sangat. Tifa diam, dan terus memperhatikan apa yang akan terjadi dengan Naruto. Keringat mulai bercucuran memenuhi wajah berkumis kucing yang sekarang terlihat mulai menipis, surai pirangnya yang tadi memanjang sekarang juga ikut mulai memendek dan kembali seperti pertama kali Tifa melihatnya. Tifa tidak bisa melihat kedua mata pemuda itu karena selain tertutup surai kuningnya kedua kelopak mata pemuda itu juga ikut tertutup, menyembunyikan dengan rapat apa yang ada di baliknya dari khalayak luar.
Tidak ada yang gratis di dunia ini, bahkan untuk manusia, membuang kotoran mereka sendiri yang pada kenyataanya bukan sesuatu yang besar maupun berharga para manusia harus membayar. Tifa paham hukum itu, dan kalau boleh jujur sihir tulang yang ia miliki bukan tanpa kelemahan. Ia akan merasa sangat lelah jika terlalu sering mengunakan sihir, maka dari itu dalam pertempuran gadis Succubus ini sangat jarang mengeluarakan sihir nya untuk menyerang. Memanfaatkan sisik Succubus miliknya yang tidak memerlukan banyak energi Youkai. Setelah sang lawan kehilangan tenaga, barulah ia mengunakan sihirnya dengan keakuratan tinggi.
Dan kalau boleh Tifa menebak, penderitaan si pirang itu sekarang adalah efek samping dari kekuatan mengerikan yang berhasil mengoyak sisik Succubusnya hanya dengan beberapa hantaman.
" S-sepertinya,,hah,,k-kali ini,,k-kau selamat hah~" Meski dengan nafas yang tersengal serta wajah mengeryit menahan sakit, Naruto masih berusaha untuk bersuara. Chakra Ringo yang mengalir kesemua urat nadi tubuhnya memang sudah terputus, tapi tidak berarti rasa sakit yang mendera tubuhnya langsung menghilang begitu saja. Kesakitan itu masih tertingal dan malah semakin menjadi, tubuh iblisnya yang konon memiliki regenerasi cukup tinggi tidak begitu membantu saat ini.
"Ugh,,,s-epertinya keadaanmu j-juga tidak lebih baik, d-dari ku heh~" Bukan pertanyaan tapi lebih kepada pernyataan, dan Tifa semakin yakin ketika pemuda itu tersenyum pasrah.
"Heh,,," Naruto meringis, merah terang di kedua matanya telah kembali kewarna awalnya, Hitam dan biru laut.
" B-bagaimana rasanya?"
Naruto mendesah. Bukanya dengan melihat tubuhnya yang bergetar dan mulutnya yang masih mengalirkan darah sudah cukup memberitahu Tifa tentang kesehatanya." I-ini sakit sekali," perlahan kedua kaki pemuda itu mulai bergerak, mencoba untuk berdiri,, tapi,,,
Bruk,,
"Ughh" Tifa kembali melengkuh. Matanya menyipit tajam penuh ketidak sukaan pada pemuda pirang yang malah cengengesan tanpa dosa. Naruto memang bisa mengangkat tubuhnya. Tapi baru beberapa senti saja tubuh pemuda itu terangkat, seprtinya fisik Naruto terlalu lemah untuk sekarang jadi dalam waktu singkat ia kembali terhempas, dan korbanya tentu perut Tifa yang secara kebetulan masih berada di bawah bokong Naruto kembali terhimpit dengan tekanan yang lebih besar dari sebelumnya.
Naruto memaksakan wajahnya untuk tersenyum, walau pada kenyataanya malah terlihat seperti orang nyengir." M-maaf,,tubuhku t-tidak bisa bergerak he he he"
"He he he~" Tifa ikut tertawa, bukan tawa bahaga melainkan tawa jengkel yang di buat-buat." Menyebalkan!"
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-
Dia atas ujung menara kasti berlantai sembilan, tubuh gadis itu berdiri tegak sama sekali tak tergoyahkan oleh angin pagi yang bertiup kencang dari dalam pedalaman hutan. Wajah cantik penuh senyum yang begitu familiar kini nampak tak berbekas sedikit pun sebab di gantikan dengan ekspresi datar yang mungkin Serafall tiru dari sang adik. Pemandangan kota rata dan hewan rakasa berekor sembilan yang mengamuk di depanya adalah factor utama yang membuat sang gadis bergelar iblis dengan pangkat Maou Leviathan ini benar-benar dalam keadaan 'serius'.
Dari info yang dia dapat dari sang adik beberapa saat yang lalu memang mengatakan kalau misi yang ia embankan pada Sona dan Rias kini telah berubah tingkatan. Misi yang awalnya hanya berprioritas menjaga keselamatan sang Kyuubi kini telah berubah menjadi menbendung kudeta dadakan. Dari sekian banyak dugaan yang Serafall perhitungkan mengenai otak di balik kudeta ini, yang membuat sang Maou Leviathan untuk menahan dirinya agar tidak mengelengkan kepalanya adalah sang Kyuubi sendiri yang katanya tengah tergeletak tidak berdaya di atas ranjang sekarang tengah mengamuk buas menghancurkan apapun yang ada di depanya, termasuk beberapa iblis yang Serafall yakin sangat ia kenal.
Dengan kekuatanya yang berlimpah sekalipun, melawan sosok Ratu Youkai merupakan tantangan yang cukup berat untuk Serafall. Yasaka menjadi pemimpin kaum Youkai bukan hanya karna keberuntungan keturunan atupun warisan. Serafall tahu bahwa gadis muda itu terlebih dahulu harus bertarung mati-matian dengan pemimpin terdahulu untuk mendapatkan posisinya sekarang. Dari statistik kekuatan sang Moau mungkin jauh lebih ungul tapi ketika melihat mata merah besar sosok itu begitu kosong seakan sang pemilik tidak lagi mempunyai nyawa kakak Sona ini menjadi ragu untuk menerjang langsung tubuh besar berkaki empat tak jauh di depanya itu. Dari penglihatanya, ada yang jangal dengan kondisi Kyuubi, otak Sitrinya yang sudah mulai berkarat karena tidak pernah Serafall gunakan lagi dalam waktu lama kini kembali berfungsi.
Kyuubi adalah mahluk dengan Youkai terbesar saat ini dan mengendalikan sosok itu bukanlah hal yang mudah untuk di lakukan oleh sembarang mahluk. Ada pun caranya, dia ' yang bertangung jawab' harus berada sangat dekat dengan sang rubah, karena selain untuk memastikan pergerakan sang ratu Youkai berada dalam arus permainanya, sang pelaku juga harus terus memberikan sugestinya langusng kedalam otak Kyuubi.
Pengendalian jarak jauh tidak akan bisa di lakukan, sebab sugesti yang menuju otak sang Kyuubi pasti akan mengalami ganguan berat begitu melewati aliran Youkai kuat yang secara tak kasat mata mengelilingi tubuh berbulu sang Rubah. Meski bisa, pengendalian itu pun tidak akan mampu bertahan lama. Sepengetahuan Serafall, Kyuubi sudah mengamuk lebih dari lima belas menit, waktu yang cukup lama untuk bisa dilakukan andai sang pelaku mengunakan pengendali jarak jauh.
" Sekarang, dimana dia hah?" Sang Maou bergumam, mata hitamnya memandang seluruh tubuh sang Rubah dengan cermat, mencari keberadaan sosok yang menjadikan tubuh Rubah ekor sembilan layaknya robot gundam penghancur.
-0-0-0-0-0-00-0-0-
Gumpalan asap hitam di beberapa tempat dibukit Kyoto menutupi hampir seluruh dataran tinggi itu dari jangkauan matahari. Asap teramat tebal yang di hasilkan dari sisa-sisa pertarungan mampu membuat sinar mentari yang harusnya menghangatkan mahluk-mahluk di dalam hutan hari ini tidak bisa melakukan tugasnya seperti hari-hari kemarin.
Di bawah rimbunan pohon, tiga sosok bergerak tergesa menyusuri sebuah jalur lurus yang mereka asumsikan menuju tempat tujuan. Sona yang melaju paling depan tidak hanya asal bergerak, mata tajamnya menatap awas pada setiap dahan-dahan pohon di depanya guna mencari beberapa keanehan yang tidak alami seperti ranting patah atau pun dahan yang hancur. Sosok yang membawa Naruto memang tidak meningalkan jejak kaki karena sosok itu tebang, tapi bukan mustahil kalau sosok itu juga tidak meningalkan bukti. Beberapa dahan dan batang yang patah atau melengkung menjadi perhatian Sona karena keadaan pohon yang tidak natural itu cukup membuktikan kalau tempat tersebut pernah di lewati.
" Berhanti!" Sona merentangkan satu tanganya kesamping., memerintahkan dua pengikutnya untuk menghentikan laju mereka. Sayap kelelawar kecil di pungung ketiga gadis itu menghilang setelah kaki mereka menjejak cabang bohon.
"Wow,, sepertinya ada yang baru pesta bakar disini!" Tomoe mengulirkan matanya kekanan dan kekiri untuk sekedar mencari tahu berapa luas area hutan yang sekarang sudah menjadi lapangan abu di depanya.
Di balik kacamata bening miliknya, Tsubaki memperhatikan seluruh dataran berisikan abu hitam yang masih mengepulkan asap tersebut dengan tatapan ngeri, bingung dan takjub. Dari struktur tanah yang mencekung ketengah dapat gadis itu simpulkan kalau siapa pun yang melakukan pembakaran besar-besaran ini hanya memngunakan sekali serangan, dan dari kesimpulanya itu hanya ada satu pertanyaan." Siapa yang melakukanya?"
Sona diam, ia tidak berniat menjawab pertanyaan kedua budaknya karena dia juga tidak tau siapa sosok di balik perusakan hutan ini. Mata ungu cerah gadis Sitri itu bergerak kesegala sisih untuk mencari tanda-tanda keberadaan sang pion yang merupakan alasan mereka bertiga melakukan pencarian ini. Di balik kacamata yang ia kenakan, iris matanya menajam begitu mendapati tanda-tanda kerusakan pada tempat yang terletak di sebrang kawah abu di depan mereka. " Ayo" Tanpa penjelasan, gadis itu kembali memunculkan sepasang sayap iblisnya yang mempunyai bentuk seperti sayap kelelawar, mengepakanya kuat dan di ikuti kedua budaknya dari belakang.
Mata masing-masing iblis muda itu jelalatan untuk sekedar melihat keadaan gumpalan abu bekas pembakaran hutan yang ada di bawah mereka. Benar yang di perkirakan Tsubaki, ada bagian tegah lingkaran lapangan abu yang mempunyai luas hampir dua kali lapangan bola itu terlihat membentuk kawah cukup dalam dengan bara merah yang masih sedikit nampak menyala. Kondisi ini membuat mereka yang mempunyai pikran akan langsung mengunakan benda di dalam tempung kepala itu untuk berkerja mengenai siapa yang melakukan? Bagaimana ia melakukan dan apa yang membuat ia melakukan semua ini?.
Sona yang notabene gadis dengan rasa penasaran tinggi kali ini agaknya tidak begitu memikirkan lebih lanjut tentang masalah lapangan abu yang baru saja mereka lewati. Wajah gadis itu mengkerut, kekhawatiran benar-benar mendominasi ekspresi wajahnya sekarang. Ketegasan, keseriusan dan keangunan yang selama ini ia junjung tinggi demi mengimbangi setatusnya sebagai Herries Klan Sitri perlahan namun pasti mulai terurai hanya karena sesosok budak bersetatus pion.
Sang pion idiot, yang dengan bodohnya menantang sosok sekelas Tengu bertarung dengan alasan harga diri dan kehormatan sang Raja. .
'Semoga kau baik-baik saja Naruto!' Kepakan kedua sayap di pungung Sona semakin meningkat, hal itu membuat laju terbang gadis iblis itu semakin kencang dan membuat Tsubaki dan Tomoe agak kesulitan untuk mengekori Sona. Melihat bukti nyata pertarungan yang begitu ekstrim mengakibatkan pikiran sang Sitri benar-benar di monopoli rasa gelisah. Kedua tangan Sona yang terkulai di samping tubuh mengepal dengan kuat, tindakan yang ia harapkan bisa untuk meredam rasa cemasnya.
-0-0-
"Hoy!"
Baik Sona, Tsubaki maupun Tomoe yang memang tengah melaju dengan kecepatan tinggi tidak begitu memperhatika seluruh tempat yang sudah mereka lewati. Jadi ketika ada sebuah suara lemah yang begitu mereka kenal memanggil dari belakang, sontak secara reflek membuat ketiga iblis muda itu secara serempak berhenti mengepakan sayap masing-masing. Tapi tindakan rem mendadak itu agaknya tidak berjalan mulus untuk Tomoe karena bukanya berhenti di tempat seperti Sona dan Tsubaki, tubuh Tomoe malah terus melesat dan berakhir dengan menabrak dahan berdaun lebat salah satu cabang pohon.
Krasakk….
"I-tttaiiii!" Sayang, ringisan gadis itu tidak menghasilkan simpati dari dua rekanya karena mereka bukanya datang membantu malah kembali melesat menjauhinya untuk menyongsong ketempat pemuda bersurai pirang yang tengah bersandar pada pangkal pohon yang terletak tidak begitu jauh di belakan mereka.
Dengan sesekali meringis, Naruto berjalan gontai meningalkan sang pohon yang tadi menjadi sandaran tubuhnya. Melihat Tubuh Sona dan Tsubaki yang kian lama semakian mendekat membuat Naruto tersenyum, tangan kirinya ia paksakan untuk melambai demi bisa memberi sambutan hangat untuk Sona yang terbang paling cepat menuju langsung kearah tubuhnya, meningalkan Tsubaki beberapa meter di belakangnya.
'Tunggu dulu,,,kalau dia terbang secepat itu Kaicho tidak akan bisa berhenti dan,,,' Kedua kaki yang tadi bergerak maju perlahan berganti arah, wajah bahagianya luntur dan di gantikan oleh kecemasan. Tubuhnya masih terlalu lemah untuk bisa bergerak cepat, selain itu mana mungkin Naruto tega membiarkan gadis semenawan Sona menghantam pohon kasar di belakangnya heh. Naruto sadar usaha apapun yang ia pikirkan untuk menghindar dari terjangan tubuh Sona tidak akan membuahkan hasil memuaskan, jadi satu-satunya pilihan hanyalah pasrah akan keadaan..
"Hah" Naruto mendesah pasrah." Bersiap dengan benturan!"
"NARUTO!"
BRUKKKKK,,,,!"
Dua tubuh yang melekat mejadi satu itu terlempar cukup jauh, terseret ditanah sebelum akhirnya berhenti ketika punggung si pria menghantam pohon.
"GAHHHHHH,,,,,,"
"Ugh" Tsubaki yang masih melayang di udara meringis. Menatap kasian pada adik kelasnya yang tengah melengkuh nyeri penuh penderitaan di dalam pelukan erat Sona yang sepertinya belum sadar kalau aksi tabrak mautnya mungkin mematahkan beberapa tulang sang korban." Pasti sakit!"
" Kasiahan, Naruto-kun" Dan komentar dari Tomoe yang sudah kembali dari acara gulat pohonya ikut memeriahkan suasana. Gadis yang juga masih melayang di saming Tsubaki itu mengeleng-gelengkan kepalanya yang di penuhi beberapa daun dan ranting kecil.
" K-kaicho!"
"Syukurlah,,,syukurlah,,,"
"K-kaic—ughhh" Kedua mata pemuda pirang itu melotot begitu merasakan kedua tangan Sona yang menlingkar di pingangnya semakin lama semakin erat.' D-dia mau membunuhku,,,'
Untuk kali ini, Sona benar-benar telah melenceng jauh dari sifatnya selama ini. Ketegasan yang sering ia pertontonkan di muka umum bahkan hingga lingkungan keluarga menguar entah kemana, dia bahkan mungkin tidak sadar kalau kelakuanya ini di saksikan langsung oleh dua rekanya yang sudah duduk manis di atas pohon sambil memandang keduanya dengan cermat.
Ketenangan dan keseriusan Tsubaki dan Tomoe menyaksikan adegan NaruSona itu dapat di samakan dengan gadis remaja yang tengah menonton beberapa cuplikan menarik dalam Opra sabun di TV atau bioskop.
Kecemasan yang tadi begitu mengerogoti kewarasan Sona saat ini telah menguar ketika dengan tubuhnya sendiri ia masih bisa menjamah sosok di dekapanya. Bau anyir darah yang melumasi sebagian kulit tan Naruto tidak begitu gadis Sitri ini hiraukan. Kelegaan itu sepertinya membuat sang gadis yang masih membenamkan kepalanya pada dada toples Naruto mengalami kerusakan Syaraf. Bukan ya mual atau jijik dengan aroma besi menyengat itu, Sona malah berangapan kalau aroma tubuh pemuda pirang itu saat ini begitu sangat memabukan. Dan sebagai pembuktianya, di mana Sona berkali-kali menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengisi penuh paru-puru di balik dadanya dengan aroma sang pion.
" A-aku takut,,," Suara kecil Sona yang berisikan kecemasan menghentikan geliatan Naruto. Pemuda pirang itu memang tidak bisa melihat mata Sona yang sudah berkaca-kaca, tapi begitu menerima perasaan khawatir sang King dari aura tubuhnya yang entah bagaimana dapat Naruto rasakan membuat pemuda pirang itu mulai melupakan rasa sakitnya.
"Kaicho ~"
Sona mengeleng, entah maksudnya apa Naruto tidak mengetahuinya." Aku takut tidak bisa menemukanmu lagi. Aku takut mahluk yang menyerangmu akan membunuhmu,, aku takut, Baka!"
Dan perhatian Sona kali ini benar-benar membuat Naruto merasa senang. Dadanya bergemuruh, jantungnya berdetak semakin keras hingga hampir menyamai ketika ia mengunakan Chakra Ringo, hanya saja kali ini bukan rasa sakit yang pemuda pirang itu rasakan melainkan rasa nyaman yang secara ajaib mampu membuat rasa nyeri di sekujur tubuhnya terlupakan..
Ingin sekali Naruto nyengir seraya mengatakan' Itu tidak mungkin terjadi!' dengan suara lantang di depan Sona. Tapi mengingat kondisi tubuhnya, ia mengurungkan niatnya dan hanya bisa tersenyum seraya mengucapkan beberapa kalimat yang mungkin bisa membuat Sona berhenti mencemaskanya.
"S-sekarang aku memang belum mati, tapi k-kalau kau meremasku se'erat ini terus, tidak lama lagi aku pasti benar-benar akan mati!"
Keheningan melanda keduanya. Mendengar gurauan Naruto, sadar atau tidak membuat kabel-kabel dalam kepala Sona mulai kembali saling mengait ketempat yang seharusnya hingga benar-benar bisa kembali membangkitkan kinerja otak cerdik sang Sitri. Kelopak mata gadis itu mengerjap untuk beberapa kali, wajahnya yang masih ia tempelkan didada keras Naruto bergerak dengan pelan. Mengesekan kulit mulus pipinya dengan permukaan dada kasar sang Uzumaki' Licin!'.
Naruto merinding mendapati kelakuan sang gadis yang mengesekan kedua kulit mereka, bajunya yang sudah tanggal entah kemana membuat putra tungal Yondaime Hokage Konoha itu dapat merasakan betapa halus dan lembutnya sisi wajah sang Sitri. Lain dengan Naruto yang terlihat begitu tersiksa namun tetap mendamba, Sona malah kembali mengerakan kedua tanganya yang masih memeluk pinggang si Ninja dengan mengambil pola naik turun. Tubuh depan Sona memang tidak bisa merasakan sensasi bersentuhan langsung dengan kulit Naruto karena terhalang dengan pakaian yang gadis itu kenakan, tapi bagian lengan hingga telapak tangannya yang tidak berbalut kain, bisa dengan jelas merasakan hangat tubuh sang lawan serta sensasi licin dari keringat yang melumasi pungung pemuda pirang itu dengan cukup jelas.
"Eh?" Gadis itu tersadar dan langsung bergerak mundur, kegugupan yang menyerang membuat konsentrasinya goyah hingga mampu membuat iblis darah murni seperti Sona terjengkang kebelakang.
"Ah,,," Naruto yang juga ikut kaget dengan kegesitan Sona, berniat membantu gadis itu dengan mengengam lengan atas Sona, tapi Naruto segera kembali menarik tanganya karena baru menyentuh kulit mulus sang Sitri saja entah apa penyebabnya Sona tiba-tiba tersentak dan langsung menunduk." M-maaf"
Sona yang masih menunduk hanya bisa meganguk, wajahnya merona ketika hampir seluruh darah dalam tubuhnya seolah-olah naik dan mengumpul di dalam kepala. Ia tidak kembali berniat membenarkan posisi duduknya yang bersimpuh membentuk huruf 'W' di antara kaki-kaki Naruto yang tegak lurus ke depan karena rasa malu yang sangup memuat tubuhnya seakan kram mendadak. Rok pendek yang ia kenakan agap tersingkap, jadi Sona menekanya ketanah dengan kedua telapak tangan yang ia letakan di depan pangkal paha untuk mencegah mata si pirang agar tidak melihat bagian intimnya yang hanya di balut kain ungu tipis." T-tidak apa!" Sekarang dia gagap, dan itu tidak lah Sona Sitri sama sekali.
-0-0-0-0-0-0-0-0-
Di balik helem baju perangnya yang menyerupai kepala naga itu, bibir coklat Issei menyeringai senang ketika dua laser merah sebesar tiang listrik yang ia tembakan dari dua meriam di masing-masing pundaknya mengenai telak kedua kaki depan mahluk besar yang muncul tiba-tiba dari sebuah gumpalan cahanya kuning.
GROARRRRRR,,,,,
Pelatihan keras dengan sang Gubernur Malaikan Jatuh yang selama ini ia jalani agaknya memang tidak sia-sia. Kegigihanya menempa fisik dengan segala siksa yang di berikan mahluk mesum itu Issei jalani dengan lapang dada, ia tidak mengeluh terlalu berlebihan meski porsi latihan yang berikan oleh Azazel bisa dikatakan gila dan tidak mungkin bisa di jalani oleh mereka yang tidak mempunyai semangat besar. Meski benci mengakuinya, tapi pemuda bersurai coklat itu sadar setelah melihat lawanya si putih, kekuatan yang ia miliki sekarang masih tergolong sangat jauh di bawah kualitas sang rifal dan jika memang pemilik naga putih itu menyerangya sekarang, dapat Issei pastikan kalau ia tidak akan mampu memberikan perlawanan memusakan di pertempuran takdir tersebut.
Meski tidak dalam kekuatan penuhnya, tapi mengalahkan Yasaka tanpa harus membunuh gadis itu benar-benar merepotkan. Selain gesit dan kuat, sang rubah juga mempunyai regenerasi tubuh yang sangat cepat, berbagai luka besar maupun kecil yang tim Rias dan Sona torehkan kembali menutup sempurna dalam waktu singkat. Hal ini otomatis membuat semua usaha yang di lakukan oleh kubu iblis nampak sia-sia semata, dan yang lebih menjengkelkan adalah Kyuubi akan semakin ganas ketika serangan mengenai tubuhnya.
Dari kelompok Gremory yang masih mempunyai usaha untuk melawan hanya sang kaisar Naga merah dalam mode Balance Breaknya, Xenovia dengan Durandal nya, serta Akeno dan Rias. Sementara dari tim Sitri hanya tersisa Bennie, Momo yang berdiri tegak mempertahankan kubah pelindungnya untuk menaungi Asia memulihkan keadaan rekan-rekanya dan budak Gremony, serta Saji yang masih berusaha keras menjegal kaki-kaki Kyuubi dengan benag hijau yang berasal dari moncong Sacred Gear miliknya yang berupa sarung tangan berkepala reptil, sementara rekan setimnya yang lain memilih masuk kedalam mansion guna mencari tahu keberadaan para petinggi Youkai yang secara mengecutkan sama sekali tidak menampakan batang hidungnya sekali pun meski pertarunan jelas-jelas mengegerkan kediaman mereka.
Dua laser merah yang bersarang telak di kedua kaki depanya tidak membuat sang Ratu Youkai tumbang begitu saja. Dalam hitungan detik luka yang sempat membuat tubuh besarnya membentur tanah itu kembali kekeadaan normal. Sekali lagi Kyuubi mengaum, satu kaki debatnya mencakar kuat kesamping, memutuskan ribuan rajutan benang berwarna biru mudah yang di keluarkan dari sarung tangan reptil milik Saji.
Tubuh remaja pirang itu tertarik paksa kedepan ketika helai-helai benang miliknya tersangkut paksa kebeberapa cakar sang Kyuubi." Sial,,," Tubuhnya masih terlalu lemah untuk berkontak langsung dengan sosok sebesar Kyuubi, Saji sadar kalau ia bertemu dengan salah satu lengan atau ekor sang Rubah dapat di pastian beberapa tulang di tubuhnya pasti akan langsung patah atau yang peling ringan hanya akan mengalami pembengkakan.
Menghindari petakanya sendiri, Saji segera memutus saluran benagnya, tubuhnya yang sempat tertarik kearah sang lawan langsung terhenti. Dengan sekali hentakan kuat pada tanah pemuda itu melompat mundur, mengambil jarak aman yang dapat ia jangkau.
"Hyaaaa!"
"Hyaa,,,"
Memanfaatkan kesibukan sang Ratu Youkai yang masih bergelut dengan benang-benang Saji, dua tubuh melesat dari kiri dan kanan sang Rubah. Xenovia dengan Durandal yang ia angkat tinggi siap menebas dari arah kiri dan Bennie dengan sabit hitam mengkilapnya yang ia ayunkan mendatar dari arah kanan.
Crassss,,,cras,,,,
GROARRRRRRR,,,,,
Dua tebasan berhasil telak mengores leher bahah Kyuubi. Dua senjata pembunuh yang harusnya mempunyai dampak mengerikan untuk semua korbanya kali ini agaknya tidak lebih dari sebuah pisau kater mainan anak sekolah. Tubuh besar itu memang terluka namun regenerasi supernya membuat luka itu dalam hitungan detik langsung menghilang.
Kyuubi mengaum keras. Dua dari sembilan ekornya bergerak agresif mengincar tubuh dua gadis yang baru saja menapak pada tanah tidak jauh di sebelak kaki-kaki depanya.
Bummm,,,,
Xenovia membulatkan matanya saat ekor besar berbulu kuning sudah ada di samping tubuhnya ketika kedua kakinya baru saja menapak tanah. Gadis mantan abdi Tuhan ini memang mengkonsumsi bidak kuda yang terkenal akan kecepatan dan kegesitanya tapi Xenovia tahu ia tidak secepat itu untuk bisa menghindari seranggan cepat dadakan seperti kali ini. Berharap mampu mengurangi dampak kerusakanya, Xenofia segera menyilangkan pedang besarnya di depan dada.
Bukkk,,,
"Ughhh,,,"
Tubuh gadis bersurai biru itu terlempar jauh, menembus beberapa tembok bangunan. Kegesitan Bennie yang lebih ungul dibandingkan dengan Xenovia membuat gadis itu bisa terhindar dari hantaman sang Rubah setelah dengan cepat melompat kesamping.
GOARRRRRRRR,,,,,
Kepala sang Kyuubi menegadah, rahang penuh taring itu terbuka dan memuncukan sebuah gumpalan energi hitam bulat yang berisikan energi Youkai. Menelanya pelan dan dalam hitungan detik kemebali memuntahkanya dalam bentuk lser merah kehitaman kearah Mansion utama.
Bummmmm!"
Ledakan besar di sertai angin kencang kembali terjadi ketika benda hitam bulat menghalangi laju laser pemusnah sang Youkai. Rias tampak terengah, keringat kelelahan mengalir deras di sekeliling wajah ayunya yang sudah berlapiskan debu dan darah kering milik Chimera." AKENO!" Rias berseru dengan suara keras. Ia dapat melihat Rubah jelmaan Yasaka itu kembali membuat peluru penghancur kembali. Untuk kali ini Rias tidak yakin bisa menghadang serangan Kyuubi jadi ia lebih memilih menghalangi sosok itu sebelum sang Ratu Youkai menemakan proyektilnya lagi.
Setelah mendapatkan perawatan Asia, Akeno kembali mendapatkan kebugaranya. Baju Mikonya yang tadi sudah hilang kini kembali dapat ia kenakan. Dengan sepasang sayap berbeda di punggung mahluk setengah iblis-malaikat jatuh itu melayang tinggi di atas kepala sang Rubah. Kedua tanganya terangkat, bibir tipisnya bergerak pelan membisikan mantra-mantra sihir.
Berjarak dua meter di atas telapak tanganya sebuah diagram sihir berwarna biru dengan huruf-huruf aneh seluas lapangan voly tergambar di angkasa. Kelopak mata yang awalnya tertutup mulai terbuka, menampakan fiolet tajam yang nampak bercahaya akibat memantulkan sinar dari lingkaran sihir miliknya sendiri." Rain tander". Dengan gerakan cepat tangan kananya ia jatuhkan kebawah, gerakan yang hampir sama seperti ketika seseorang menepuk nyamuk.
Dalam langit cerah berselimut asap keajaiban terjadi. Beribu-ribu tombak berwarna biru secepat tetesan hujan dalam jumah ribuan tiba-tiba muncul dari dalam lingkaran Sihir di atas kepalan sang Quin Gremony. Tombak biru dengan percikan listrik itu melesat kencang menuju satu titik yang sudah di koordinasi oleh sang pencipta sihir. Tanpa ampun dan belas kasihan ujung tajam tombak-tombak petir sebesar tiang bendera itu menghujami tubuh besar sang Kyuubi, mengangu konsentrasi sosok itu yang tengah mengumpulkan energi Youkai di antara rahanya yang terbuka lebar.
BUUM…BUUUM…BUUM….
Ledakan demi ledakan saling menyahut memeriahkan halaman komplek pekarangan Mansion Utama. Raugan Kyuubi teredam oleh meriahnya bunyi-bunyi gemuruh festifal pribadi Akeno. Asap tebal kembali meenyelimuti hampir seluruh halaman ketika hujan petir dengan durasi kira-kira satu menit itu akhirnya berhenti memuntahkan amunisinya.
Dari tiga puluh detik waktu yang awalnya bisa ia pertahankan dalam mode armor Naga merahnya, berkat latihan mengerikan dari Azazel sekarang Issei dapat terus berada dalam cangkang kebangaan itu lebih dari hitungan menit, lebih tepatnya sepuluh menit. Dan sekarang sudah menginjak sembilan menit ia telah bergantung di dalam pelindung mengagumkan itu, hanya tinggal satu menit lagi waktu tersisa untuknya dalam mode terkuatnya saat ini.
Boost! Boost! Bood! Boost! Boost! Bood! Boost! Boost! Bood! Boost! Boost! Bood!
Boost! Boost! Bood! Boost! Boost! Bood! Boost! Boost! Bood! Exsposion.
Puluhan kali pengandaan yang di pusatkan dalam satu titik. Tangan kiri kesatria merah itu bersinar hijau terang. Gumpalan demonick power bercampur aura Naga menguncang tanah disekitarnya. Tekanan kekuatan melimpah membuat pijakan pemuda itu terangkat sedikit demi sedikit hingga pada akhirnya menciptakan kawah, krikil-krikil kecil hingga besar beterbangan sebelum akhirnya hancur menjadi pasir ketika berjarak lima kaki di atas permukaan tanah..
[ Sekali serangan partner!]
" Yah,,mohon bantuanya, Draig!" Memanfaatkan pendorong roket di belakang pungungnya sosok Issei melesat kencang mengudara. Tanah pijakan yang ia tingalkan hancur menciptakan cekungan baru dengan di ameter cukup lebar namun tidak dalam.
Dari jarak puluhan meter di atas tanah, mata coklat milik Issei menatap tajam gumpalan asap hasil hujan tombak Akeno. Pemuda itu menghentikan laju terbangnya dan saat auman keras yang di sertai hembusan angin kencang mengenyahkan debu dan asap pengangu pandangan, Issei langsung kembali melesat, bukan keatas namun menukik kebawah menuju langsung kepala rubah Yasaka yang masih nampak linglung.
Di hadapkan dengan mata merah mengintimidasi sang Youkai tak membuat Issei gentar, pemuda itu terus melesat dengan sesekali mengelak saat ekor-ekor Kyubi berusaha mengapainya dari berbagai arah.
"Dragon Canon!" Sebuah basoka muncul dari samping kepala armor tempur Issei. Gumpalan energi iblis berwarna hijau cerah perlahan mulai muncul dari moncong meriam yang di pangul di sebelah kanan pundak sang Sikuryuutei. Dalam hitungan detik enrgi iblis yang ada dimoncong basoka telah beruba menjadi padat. Dan tanpa mengurangi kecepatan terbangnya Issei menembakan sebuah laser berwarna hijau kemerahan berbentuk bulat yang ketika berjarak tiga meter dari tubuh sang pemilik langsung pejah menjadi ribuan laser yang menghujami tubuh besar Kyuubi tanpa ampun.
BUUM BUUM BUUM BUUM BUUM…
GROOOOARRRRR!
Hujan cahaya penghancur menghantam telak sebagian besar tubuh Ratu Youkai. Ekor-ekor dan cakat yang tadi bergerak gesit mengincar tubuh Issei terhempas oleh beberapa laser hijau yang juga menghantamnya.
' Terbuka!"
Serangan yang sengaja Issei lepaskan memang tidak untuk menumbangkan Kyuubi, pemuda itu sadar serangan seperti itu tidak akan berdampak besar untuk sang Ratu. Serangan bersekala luas yang baru saja sang Sekiryuutei tembakan semata-mata hanya untuk mengangu konsentrasi Kyuubi dan mengenyahkan cakar dan ekor yang menghalangi lajunya. Rencana sepihak yang tergolong sukses karena sekarang pemuda itu bisa menerobos lurus tanpa halangan atau gangguan.
Tangan kiri yang berselimut Demonik pawer dalam jumlah melimpah ia tarik kebelakang dan ketika telah mencapai jarak jangkau dengan segenap tenaga yang ia miliki, Issei langsung menghantamkannya tepat ke ubun-ubun kepala Kyuubi.
" RASAKAN INI SIALAN ! HYAAAAA,,,,!"
BUMMMMMMMM,,,,,,,,
Seluruh mahluk yang ada di sekitar halaman Mansion Utama terlonjak merasakan guncangan dan hempasan kuat ketika tinju milik Issei berkontak kasar dengan batok kepala sang Rubah. Layaknya sebuah meteror yang jatuh menghantam bumi, tanah, puing, pohon maupun bangkai Chimera dan Youkai yang ada disekitar tempat itu terhempas kuat kesegala arah. Rumah-rumah dan pagar beton yang masih selamat dari amukan Chimera dan Kyuubi rubuh dan terlempar entah kemana.
Kekuatan Kyuubi yang sejak awal begitu berkuasa mulai terlihat lemah ketika di hadapkan dengan tinju penuh sensasi dari tangan kiri sang pemilik Loginus berisikan salah satu Naga Surgawi. Tulang leher kuat mahluk Mitologi ini tidak mampu menahan eksistensinya untuk tetap menahan kepalanya untuk mendongkrak. Pukulan menyerupai hantaman palu godam milik Kaum Titan itu dengan sukses menjatuhkan kepala sang Ratu Youkai. Debaman keras berasal dari dagu Kyuubi yang dengan kecepatan tinggi menghantam tanah menyebarkan kengerian tersendiri bagi mereka disekelilingnya.
Tanpa kuasa untuk mengelak tubuh mahluk berekor sembilan itu membunguk, tubuh belakangnya naik sedangkan tubuh depanya turun dengan kepala yang merapat pada tanah. Kedua mata mahluk itu terpejam, menyembunyikan iris mengerikan penuh terror. Satu-satunya tanda yang memberitahukan pada dunia bahwa ia masih memiliki nyawa adalah pungungnya yang naik turun karena sang Rubah masih bisa bernafas.
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-
"BAGAIMANA BISA HILANG?"
Tsubaki mengkeret takut, kedua matanya berputar-putar kekanan dan kekiri, kemana pun asal tidak bertemu pandang dengan Fiolet berkilau milik Sona yang tengah memasang tampang ala-ala algojo. Tomoe yang juga merasakan ke ngerian yang sama dengan Tsubaki memilih menjauh, beruntung kali ini bukan dirinya yang menjadi target amukan Sona.
" Ehehehe,,,Gomen ne"
Kadang inilah yang membuat Tomoe dan Tsubaki salut dengan sifat Naruto. Pemuda itu tidak gentar sedikitpun meski di hadapkan dengan kegusaran Sona yang menurut mereka menyerupi induk singa dalam mode protektif itu.
Sona mengeleng, kedua tanganya berkacak pingang, tubuhnya membungkuk setengah badan." Tidak kali ini Naruto!" Gadis itu masih memasang tampang seram yang nampaknya tidak terlalu berhasil untuk menakuti iblis sekelas Naruto" Benda itu sangat berharga, bagaimana bisa dengan mudah kau hilangkan, hah,," Kedua alis gadis itu menukik, memberi pandangan setajam belati yang di arah kan langsung pada pemuda yang masih duduk nyaman di depanya.
"Um,,ano,," Naruto mengaruk pipinya sendiri dengan grogi."Sepertinya benda itu terjatuh ketika mahluk itu menghajarku tadi!" Naruto meneguk ludahnya sendiri dengan pelan, ia tidak mau membuat alasanya itu terbongkar begitu saja oleh rajanya.
" Kau,,di hajar?"
Naruto menganguk dengan semangat, pemuda Uzumaki itu tiba-tiba mendongkak kan kepalanya dengan cepat membuat Sona kaget karena jarak wajah keduaya sekrang tak lebih dari satu jengkal. Dalam hitungan kurang dari satu detik, pipi putih mulus milik Sona kembali memerah begitu tanpa ijin ingatan tentang kehangatan tubuh sang Pion yang beberapa waktu lalu sempat ia rasakan dalam keadaan sama-sama sadar tiba-tiba melintas di otaknya.
" Dia sangat kuat dan cepat, aku tidak bisa mengimbangi gerakanya." Naruto menghiraukan kelakuan Rajanya yang tiba-tiba menarik kepalanya kebelakang dan membuang pandangan kearah samping. Pemuda itu tidak begitu bisa melihat perubahan pada kulit wajah Sona karena tertutup oleh bayang-bayang pohon." Aku masih bisa merasakan dengan jelas setiap pukulan keras dan cakar tajamnya yang bisa melumat tubuh dan tulangku."
Melalui ekor matanya Sona memandang kebawah dan hanya di suguhi oleh Blue Safir dan Only yang bersinar memelas penuh pengertian." K-karena i-itulah aku memberikanmu Air mata Phoenik!"
Naruto mendesah" Gomen Kaicho,,,sepertinya benda itu hilang bersamaan dengan hancurnya Sweterku." Naruto menunduk tidak melihat kalau Sona yang sudah menatap kearahnya dengan tatapan simpati dan sedikit bersalah.
Yeh,,,gadis itu merasah bersalah kerena telah ber reaksi berlebihan hanya karena setetes Air mata Phoenik yang ia serahkan pada sang pion beberapa malam yang lalu kini hilang entah kemana. Sona sebenarnya tidak perlu marah seperti itu pada Naruto, toh ia memberikan air ajaib itu memang untuk menjamin keselamatan sang Pion jadi hilang atau tidak pun asal Naruto masih dalam keadaan utuh, harus nya bukan masalah bukan?.
Untuk beberapa saat hening menyeruak, Naruto hanya diam tidak lagi membuka mulutnya. Tsubaki yang merasa bahwa keberadaanya di sekitar dua sejoli itu hanya menjadi penganggu memutuskan untuk beranjak menjauh menyusul Tomoe. Sona tidak berkometar melihat wakilnya yang sudah melangkah meningkalkan ia dan Naruto, mata gadis itu dalam dia mengikuti pergerakan Tsubaki, begitu punggung wakilnya benar-benar hilang ia kembali mengalihkan perhatianya kerah Naruto yang masih menunduk menatap tanah.
"Hah,,," jemari lentik itu terangkat memijat pelipis, helaan nafas terdengar halus menyapa pendengaran. Dengan pelan Sona berjongkok, tanganya terjulur mengapai dagu sang Uzumaki, memaksa pemuda itu untuk kembali menatapnya. Meski detak jantungnya kembali bekerja over, namun Sona tetap kekek untuk memberanikan diri beradu pandang dengan dua iris berbeda warna di depanya." Kau tidak apa-apa?"
Pertanyaaan yang melenceng dari pembahasan awal membuat Naruto hanya bisa mengedipkan matanya binggung.
Sona kembali mendesah, ingin sekali ia megetok kepala pirang itu. Tidak bisakan Naruto peka dengan suasana disekitarnya sekarang?." Kau baik baik saja?" Suara tegasnya menguar dan di gantikan dengan alunan lembut menyaingi merdunya suara Siren.
",,,," Naruto diam, tapi ketika melihat Fiolet itu nampak begitu sayu sarat akan kecemasan membuat pemuda pirang itu mengerti kalau Kaichonya itu tengah menghawatirkan dirinya." Aku baik-baik saja~?!"
Sona mengeleng pelan, bibirnya terkatup dan melengkung membentuk senyum, senyum kecut ketika sadar kalau pionya itu masih saja menyembunyikan sesuatu dari dirinya." Kau bohong!" Meski sebentar namun sosok seteliti Sona tidak bisa melewatkan ekspresi kaget yang sesaat terpancar dari sorot mata Naruto.
" Ini~" Masih dalam keadaan berjongkok, kaki-kaki Sona mulai mengambil langkah maju. Tanganya yang terjulur meraba lembut pipi bergaris Naruto yang masih agak membiru, sedangkan tangan lainya menyetuh pelan dada kiri si pirang." Dan ini~"
Meski tampilan luarnya tidak menampakan luka sedikitpun, Tapi entah mengapa Sona yakin kalau sesuatu di balik kulit dan tulang itu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Fisik pemuda itu sekarang memalsukan keadaan sesunguhnya, seperti cangkang telur yang melindungi sang isi yang begitu lunak" Jujurlah padaku!" Ketika mata keduanya kemali bertemu Sona tanpa sadar memberikan kerlingan mengharap yang ia sendiri tidak yakin bisa membuatnya.
Setiap sentuhan yang Sona berikan, membuat tubuh tegap itu menegang. Mulutnya memang mungkin bisa berbohong tapi tidak dengan tubuhnya. Dalam hati, Naruto ingin sekali jujur tapi melihat kecemasan gadis di depanya membuat ia tidak tega untuk menambah beban itu hanya karena kecemasan akan dirinya. Tapi entah sadar atau tidak setiap kali ia berbohong tubuhnya akan merespon hal yang sebaiknya dan sayang sekali semua gerakan jangal sekecil bulu berdiri pun masih mampu di tangkap jelas oleh Sona yang entah sejak kapan mulai memahami gerak-gerik pemuda itu.
Melihat masih adanya keraguan dari mimik wajah pemuda di depanya membuat Sona semakin menekan. Tanganya yang masih membelai pipi bergaris Naruto mulai bergerak pelan membentuk usapan-usapan halus yang sangat membuat pemuda pirang itu merasa nyaman. Merasa masih kurang, sekarang Sona mulai bertindak agresif, ia memajukan wajahnya, mengadukan keningnya dengan kening si pirang, ia tidak perduli dengan kekagetan Naruto karena yang paling dia inginkan saat ini dan seterusnya hanya kepercayaan dari Naruto.
"K-kaic—"
"Kumohon!" Sona berbisik dengan suara pelan menyentuh. Masa bodoh dengan harga diri maupun imejnya. Ia hanya ingin lebih memahami luar dalam budak barunya itu. Deklarasi Naruto ketika menantang Tengu agaknya semakin menambah hasrat Sona untuk memiliki sosok itu. Dan sebelum ia dapat merengkuh tubuh tegap namun ringkih pemuda pirang itu dalam buaianya, Sona harus terlebih dahulu bisa mendapat kepercayaan dan mengetahui lebih dalam kepribadian terpendam yang menurut Sona selalu coba Naruto sembunyikan dengan cengiran lebar dan semangatnya.
Naruto masih diam, dan Sona sepertinya masih sabar menunggu masih dalam posisi kontroversi yang ia buat sendiri. Ketiadaan Tomoe dan Tsubaki semakin mebuat Sona berani menunjukan emosinya sekarang. Tangan Naruto yang sejak tadi terkulai santai di sisi tubuh perlahan mulai terangkat, menangkup masing-masih tangan halus Sona yang masih berlabuh diwajahnya.
"Jujur, Kaicho!" Suara pelan Naruto membuat perhatian Sona kembali, matanya ungu jernihnya menatap lurus kedepan, tepat ke masing-masing sepasang iris berbeda sang pemuda." Seluruh tubuhku menderita kesakitan yang sejak tadi coba aku tahan, aku tidak ingin membuatmu khawatir. Perhatianmu padaku selama ini benar-benar membuatku sangat nyaman,,,, dan aku tidak ingin hanya karena aku kau kesusahan." Naruto mengeratkan cengkramanya pada masing-masing tangan Sona, mata pemuda itu tertutup, mencoba menikmati kehangatan yang coba Sona tawarkan." Aku tidak ingin merepotkanmu, Kaicho."
"Dasar bodoh" Sona mendesis merutuki kebodohan sang Ninja. Dari semua kejadian yang telah mereka lewati beberapa bulan ini, tidak sadarkah Naruto bahwa dirinya secara tidak niat telah sering membuat sosok setinggi Sona Khawatir. Tidakan sembrononya, kebebalanya dan tindakan seenaknya sendiri putra Namikaze Minato itu telah berkali-kali membuat Sona sport jantung. Dan dari semua aksi mengancam nyawa yang telah ia lalui berkali-kali kenapa Naruto masih harus takut membuat Sona cemas kembali?.
"Gomen~"
"hem~" Sona menganguk, merekatkan semakin dalam permukaan dahi putihnya dengan Naruto. Nafas menderu Naruto dapat ia rasakan dengan sangat jelas, keluar masuk tidak begitu normal, ujung hidung keduanya yang sudah bersentuhan semakin membuat Sona dapat menghirup aroma Citrus bercampur dengan bau anyir darah yang ia yakini memenuhi wajah pionya itu beberapa saat yang lalu, sebelum dia dan dua pelayanya menemukan keberadaan Naruto." Kau adalah miliku,,,! kumohon jangan adalagi kebenaran yang kau tutupi lagi jika itu menyangkut keadaanmu….Kau tak ingin membuatku Khawatir bukan? tapi dengan sifat sok kuat mu itu, kau malah membuatku semakin cemas"
Senyum Sona kali ini benar-benar nampak natural dan tulus, tidak ada keterpaksaan ataupun kesenduan. Angukan tanda persetujuan dari sang Ninja sudah cukup untuk sang Sitri mengenyahkan kegundahanya.
"Janji ya!" Sona menarik kepalanya. Tangan kananya yang masih mendekap sisi wajah bergaris si pirang ia tarik hingga sejajar dengan hidung keduanya." Mulai saat ini hingga seterusnya, jangan ada yang coba kau sembunyikan dariku hanya karena tidak ingin membuatku khawatir." Empat jari menekuk membentuk kepalan, menyisakan jari kelingking yang tegak berdiri menunggu untuk di kait.
Naruto tidak langsung menyambut janji sang gadis. Pemuda itu tertegun untuk waktu yang cukup lama ketika kedua iris berbeda warna miliknya di suguhkan dengan pandangan indah memukau yang sangat cantik. Di depanya, sesosok iblis namun bagi Naruto lebih cocok disebut sebagai malaikat, tersenyum indah dan tulus dengan mata tertutup dan bibir merah muda yang melengkung naik.
Sejak dulu, ketika pandanganya masih berupa kegelapan total, Naruto memang sering mendengar bahwa keindahan sang Sitri yang katanya sangatlah pantas untuk di damba. Tapi, dari semua kelebihan Sona, Naruto juga mendengar bahwa sifat gadis itu yang begitu tegas dan dingin cukup untuk membuat beberapa murid Akademi Kuoh melontarkan angapan negatif yang cukup banyak mengurangi keidahan sang Sitri.
Dalam kebutaan yang tidak dapat menilai segala sesuatu secara pasti, Naruto mau tidak mau menerima keburukan Sona, yang menurut sumber suara menyerupai Singa betina, tenang namun mematikan. Menjauhi sosok itu ada prioritas utama bagi si pirang untuk menghindari masalah yang entah takdir atau nasib selalu melekat erat di setiap kehidupan si pirang.
Jika dulu Naruto hanya bisa menerima, sekarang Naruto akan menolak. Bagaimana mungkin sosok selembut dan seindah ini bisa di samakan dengan hewan mamalia buas pemakan daging?. Wajah manisnya yang merona merah terbingkai luwes dengan surai hitam mengkilap di samping tulang pipi, alis mata runcing alami, hidung mungil namun macung menyerupai paruh burung elang dan jangan lupakan bibir merah muda tipis mengoda yang begitu indah terpatri di wajah Sona. Ck,, Naruto menduga kalau siapapun yang telah memberi julukan Singa betina pada Sona benar-benar tidak bisa mengunakan kedua bola matanya dengan normal.
Dengan pelan namun pasti Naruto ikut mengangkat tanganya. Wajah tanya yang sudah sedikit berwarna merah mendongkrak. Pemuda pirang itu tersenyum dan tanpa ragu langsung mengaitkan jemari kecil miliknya pada jemari Sona." Janji!"
Kesepakatan yang di isi oleh senyum masing-masing antara sang Jinchuriki dan Herries Sitri tanpa keduanya sadari telah mengikat takdir keduanya. Kebersamaan yang akan membawa kepercayaan baru dengan di selinggi bumbu-bumbu romansa manis. Di setiap jalan pasti akan ada kerikil penghalang yang dapat mengelincirkan tapak kaki. Kebahagiaan yang di dambakan semua mahluk termasuk kaum iblis sekalipun, tidak akan selelu berjalan mulus tanpa halangan. Dalam setiap langkah mereka untuk menyongsong cahaya pasti akan ada kegelapan yang berusaha menghambat atau bahkan menghentikan laju mereka. Dan mimpi manis itu, hanya mereka sendir yang bisa menentukan, apakah terus melangkah menerobos kegelapan demi bisa meraih tujuan atau berhenti dan berbalik arah kembali ketempat semula. Semua keputusan ada ditangn masing-masing.
TBC
A/N : Hoes damn, sekian lama kagak nulis, bahasanya jadi amburadul.
Ada bebera peristiwa yang gw potong di sini dan akan terjelaskan dichapter-chapter depan. Misalnya seperti Nasip Tifa. Nasib Tengu dan beberapa lainya.
Maaf bila chap kali ini kurang memuaskan dan terkesan amburadul. Gw lagi banyak pikiran jadi kurang konsentrsi dan teliti. Sekali lgi gw minta maaf ya apa bila ada yang kecewa…..
Segini aja ya bacotan dari gw,. And terimakasih banget buat kalian semua yang mendukung karya-karya gw. Gw sadar kualitas fict gw masih jauh dari kata bagus. Jadi gw masih butuh tuntunan dari kalian semua buat memperbaiki fict-fict gw yang lain. jangan pernah bosen ngasih masukan atau negur gw yah, karena bagaimanapun juga setiap usul kalian adalah penambah semangat gw.
Cukup sekian dari gw. Karasumaru.666 gooooooooo.
Gw lagi males nomong, jadi sekian ja lah ok.
