"New Life And New War"

Disclaimer : Naruto dan Hight School DXD, Bukan punya saya tapi

Masashi Kishimoto & Ichiei Ishibumiuncak.

Warning: AU,gaje,abal,typo,dan alur nyeleneh. Melenceng dari canon,ooc,oc dll.

Summary: Naruto yangg telah menyegel chakra Madara,Obito,dan Juubi didalam tubuhnya. Akhirnya mencapai pada ambang batasnya, bukanya mati tapi ia malah terkirim ke dimensi lain dengan kondisi yang berbeda jauh,;

Chapter 16: Mentari berdara, hujaman Taring Kyuubi.

"GLORIA"

Desir angin dingin menyapu inci demi inci dinding berbatu tajam sebuah ruang yang di dominasi oleh warna hitam gelap. Suara gemrecik air tanah beradu dengan batu koral silih berganti bersenandung merdu bersaing ketat dengan siulan serangga-seranga kecil penghuni asli perut sebuah goa.

Tap,,,tap,,tap,,tap,,,

Minimnya oksigen serta bau kurang sedap dari kotoran hewan yang menguar dari seluruh sudut goa tidak berhasil menarik mundur langkah kaki dari sosok jangkung berkerudung hitam untuk menghentikan langkahnya. Dengan tanpa hambatan atau kekurang nyamanan ia terus melangkah, mendekati sebuah cahaya buram kecil yang terletak di ujung terdalam goa.

"Akhirnya!" Dari balik kerudung yang menutupi hampir separuh wajah, sosok itu menyeringai." Aku mendapatkanmu, Putri dari Surga!" Di usapnya cahaya yang ternyata berasal dari sebuah cermin berdiameter tiga puluh centi berbingkai kayu coklat dengan berukiran akar melilit.

Cahaya temaram menyerupai nyala lilin itu musnah dan di gantikan oleh bayangan wanita berparas rupawan dengan bibir tipis berbalut lipstick berwarna ungu pucat, kulit wajah putih tanpa rona dan hidung mancung alami yang menambah daya pikat sosok itu. Surai raven panjang dengan poni datar di atas mata berperan sebagai mahkota pelengkap keindahan. Kelopak mata wanita itu masih tertutup, menyembunyikan pada dunia warna apa yang ia miliki, keindahan ataukah kepalsuan yang memudarkan warna putih.

" Setelah seratus tahun lebih keberadaan mu terkunci di balik. 'cermin kehidupan'…" dengan gerakan pelan sosok berjubah hitam itu menyelipkan tanganya keluar, mencengkram kain hitam yang ia kenakan tepat di bagian pundak kiri. "…sekarang bersiaplah kembali meratui dunia ini dengan kekuatanmu sebagai penguasa malam abadi!" Dengan sekali tarikan keras kain hitam itu terlepas, berkibar lebar sebelum akhirnya terbengkalai tak berguna di atas genagan air bercampur lumpur yang menjadi lantai goa.

"Luapan air mata duka yang mendalam dalam hatiku."

Sebait puisi karya Mikado mulai terlantun sendu dari mulut Zuko. Lantunan puisi yang awalnya bertujuan untuk mengenang sosok yang tidak mungkin sang pencipta puisi miliki, di mulut sosok dengan ambisi besar seperti Zuko berubah menjadi mantra kebangkitan.

"Apa yang baik ini ramuan kehidupan, tidak ada yang penting sekarang."

Angin yang awalnya bergerak tenang mulai bergejolak, ribuan langkah kaki serta cicitan hewan –hewan kecil sahut menyahut seolah menjeritkan ketakutan mereka. Cahaya putih kembali muncul dari permukaan cermin. Menyilaukan, jauh lebih terang dari sebelumnya hingga bisa membuat warna hitam di dalam goa berubah menjadi putih.

Dengan pungung tanganya Zuko menutup pandangan, sosok itu mundur beberapa langkah dengan pelan. Kekuatan legenda yang konon tidak dapat di lawan bahkan oleh Kyuubi terkuat pun kini ada di depanya. Membayangkan betapa ia akan bisa dengan mudah menjatuhkan Kyoto berbekal kekuatan gila sang Dewi dari Surga tak ayal membuat Zuko kembali menyeringai. Senyum setan penuh ambisi dan ketamakan yang mengambarkan betapa hausnya sang pemilik akan kekuasaan tercetak garang di wajah laki-laki bersurai hijau itu.

Selang beberapa detik, cahaya menyilaukan menyerupai lampu neon kualitar terbaik itu mulai lenyap. Zuko menurunkan tanganya ketika warna hitam telah kembali menyelimuti perut goa. Mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum kembali menghadap kedepan, tepat kearah cermin kehidupan.

" Selamat datang kembali tuan putri… Kaguya." Menekuk kedua kaki untuk berlutut layaknya seorang kesatria menghadap Raja. Suara dentingan kaca untuk sesaat terdengar ketika sang Youkai penghianat menumpahkan semua isi dari kantung coklat yang sedari awal ia persiapkan untuk menyokong kebangkitan sang Dewi Surga ketanah.

Enam bola beragam warna dan corak mengelinding di atas permukaan tanah, bergerak pelan mendekati cermin jiwa. Enam bola yang merupakan perwujudan dari syarat yang di ajukan Kaguya di masa lampau untuk para peminangnya, pelan namun pasti melayang meningalkan tanah. Tanpa koordinasi maupun perintah, masing-masing dari benda itu mulai menempati posisi. Membentuk sebuah formasi bulat dengan penjara sang dewi berada tepat di titik tengah.

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

"GAHHHHHH,,,,,,,"

"ISSEIII!"

Sayap kelelawar hitam yang berada di pungung Rias mengepak. Gadis itu terbang rendah menyusul tubuh sang pion yang terpelanting jauh terkena hantaman satu ekor milik Kyuubi yang entah bagaimana telah kembali bangkit padahal barus saja mendapat serangan telak mematikan dari sang Naga.

Grep,,,

"Dapat!" dengan posesiv, kedua tangan sang Gremory muda mendekap tubuh Issei dari belakang. Ia meringis sebentar begitu rasa sesak menyerang pernafasan ketika punggung Issei yang sudah tidak berbalut armor itu berkontak cukup keras dengan dadanya.

Meski terseret bereberapa langkah, namun tidak membuat seorang Rias Gremory mengendorkan cengkramannya. Setelah kedua kaki jejang itu menyentuh tanah, dengan gerakan cepat ia merebahkan tubuh sang pion. Menyangga kepala coklat Issei mengunakan pahanya."Issei!" seruan kekhawatiran jelas terkadung dari teriakan singkat Rias. Gadis itu menunduk, memandang wajah terengah sang Hyoudou muda di pangkuanya.

Diam. Pemuda pemilik Loginus itu tidak mengucapkan sepatah katapun hanya untuk menangapi teriakan Kingnya. Efek dari Balance Break masih belum hilang dan sekarang ia harus menerima benturan langsung dengan ekor keras Kyuubi. Ya ampun,, malang sekali nasib tubuhnya.

" Ugh,,," Issei melengkuh ketika tulang rusuknya tiba-tiba berdenyut nyeri begitu ia bernafas. Tidak perlu sinar X untuk memastikan, Issei yakin pasti ada banyak benda berkalsiup yang melindungi organ dalam tubuhya sekarang telah hancur, hingga hanya untuk bernafas saja ia harus merasa sesakit ini.

" Issei!" dengan gerakan lembut Rias membelai surai coklat milik pionya, tindakan sederhana yang ia harap bisa memberikan kenyamanan.

Kelopak mata pemuda itu berkedut, beberapa kali mengerjap sebelum akhirnya terbuka. Pemandangan pertama yang ia lihat di antara kesakitanya adalah wajah bulat cantik dengan di kelilinggi benang merah sehalus sutra yang berkibar acak di terjang angin.'Untuk beberapa detik tadi, aku lupa betapa sempurnanya Bucho!'

" Kau baik-baik saja Issei?"

" U-ghhh,,," awalnya ia ingin menjawab 'aku baik-baik saja' dengan aksen datar yang dapat membuat Rias terkagum dengan kekuatan tubuhnya. Tapi ketika dua bola mata coklatnya sedikit mengerling, ia mendapatkan sudut pandang baru. Dua gumpalan super besar yang masih tersembunyi rapat di balik kain berkancing!.

' OPPAI!' Mata Issei mengkilat, ringisan berubah menjadi senyum mesum begitu fakta bahwa sepasang berkah milik kaum hawa yang selama ini pemuda itu angap sebagai tongak hidup kini hanya berjarak kurang lebih dua centi dari wajahnya.

"Aku ingin meremas oppaimu Bucho,,,"

Bukk!

Rias mengeleng."Kuharap pukulanku cukup keras untuk menghilangkan kemesumanmu, Issei!"

GROARRRRRRR,,,,,!

Corong-corong cahaya biru berdampingan dengan tebasan serta sayatan-sayatan ungu putih bergerak tanpa henti dari tiga arah berlawanan, mengarah tepat pada satu titik yang merupakan tempat sang Ratu Youkai menginjakan keempat kaki besarnya. Langkah Yasaka untuk bergerak maju kembali terhambat karena Akeno dengan tawa psiko andalanya terus menghujami kepala Rubahnya dengan tombak petir dari arah depan. Sedangkan Xenovia dalam diam terus mengayunkan Durandal-nya mendatar, mengirimkan gelombang energi putih pemotong dari sudut kiri.

Seakan tidak mau kalah dengan kedua budak Gremory, Bennia dari arah kanan juga melakukan hal yang sama dengan gadis mantan abdi Tuhan. Serangan berbasis kematian dari sabit hitam dalam gengaman begitu brutal. Gadis mungil berkerudung itu tanpa menampakan rasa letih terus mengayunkan senjata Shinigami-nya mendatar, kadang pula horizontal, yang menciptakan lecutan energi demon berwarna ungu gelap.

"Khukhukhu,,,beraninya kau menyakiti Issei-kun?!" tawa sumbang sang Miko di balas geraman sang Rubah. Gadis itu meringis manis, kedua tanganya saling membentang dengan masing-masing mengengam sebuah tombak petir. " dasar Rubah kecil nakal, khukhuk~" Dengan kecepatan dan tenaga besar, Akeno mengayunkan kedua tanganya bergantian, ber ulang-ulang dengan sangat cepat hingga membuat tombak-tombak biru yang ia lempar nampak menyerupai sebuah rintikan air hujan.

Jengkal demi jengkal langkah kaki Yasaka terseret kebelakang. Hantaman beruntun dari para iblis muda mempertahankan wilayah yang menjadi tangung jawab mereka mulai membuahkan hasil. Kepala berbalut bulu itu menunduk, moncong bertaring penuh liur menghadap tanah. Sesekali ia mengeram, saat berbagai macam serangan silih berganti menghantam telak tubuhnya dari berbagi sudut. Meski tidak sampai membuat tubuh besar itu terpelanting jatuh seperti yang di dambakan, namun mampu menghentilan usaha Yasaka mendekati kastil utama.

"Rasakan,,,rasakan,,,rasakan,,,!"

Di antara ketiga gadis yang saat ini beperan sebagai benteng pertahanan, Akeno benar-benar menunjukan kelasnya sebagi pendeta petir. Dengan tawa ceria, gadis berdarah campuran itu terus menghujami tombak-tombak biru tanpa menunjukan rasa letih maupun jenuh. Kelakuan sang Ratu bahkan membuat Xenovia selaku teman se'rumah' sampai mengelengkan kepalanya beberapa kali dengan sesekali mengumam kata-kata 'gila-sadis ataupun bodoh'.

Orang-orang yang mengenal keseharian Akeno pasti tidak akan menyangka, jika gadis bertitel Yamato Nadeshiko seperti Akeno memiliki kepribadian lain di balik kelembutanya. Apa lagi kalau kepribadian itu sangan melenceng jauh dengan kedok yang selalu ia pakai di muka umum.

Di saat masing-masing dari mereka mulai merasa yakin telah berhasil menjegal sang Ratu Youkai. Tidak ada yang menyangka jika dalam keadaan terdesak seperti sekarang, rahang kuat Yasaka telah terbuka. Percikan energi emas perlahan mulai terkumpul di mulut Youkai Rubah, tidak besar hingga bisa di lihat oleh mata para iblis.

Mata yang tadinya terpejam secara cepat menjeblak terbuka. Menghiraukan adanya tombak petir yang menghujami wajah. Kepala Rubah Yasaka terangkat. Rahangnya terbuka lebar mengampit sebuah bola Youkai padat berwarna kuning emas, dengan gerakan cepat dan tanpa membuang banyak waktu ia langsung memuntahkan gumpalan gelombang plasma penghancur padat sebesar kepala sapi tepat kearah Akeno.

"Are!" Nyaris saja tembakan itu mengenai perut Akeno, andai saja gadis bersurai dark blue panjang ini telat sedikit saja untuk mengeser badanya kesamping. Ketika merasa bahaya telah lewat, sebuah teriakan mengagetkan sang Ratu.

" AKENO! BERBALIK!"

Suara dari sosok yang ia kenal bernama Rias Gremory membuat kening Akeno berkedut binggung. Pandanganya yang tadi tertuju pada bola plasma milik Kyuubi kembali teralih kedepan. Mengikuti perintah dari suara mengelegar yang berisikan kecemasan.

"Oh?!" Akeno berguman lirih. Matanya hitamnya melebar penuh keterkejutan saat menagkap sebuah serangan lanjutan dari Yasaka kini telah berada cukup dekat dengan tubuhnya. Buru-buru ia merentangkan kedua tanganya kedepan. Mengonsentrasikan semua tenaga yang ia miliki di kedua telapak tangan untuk membentuk sebuah dinding pelindung.

BUMMMM,,,BUMMM,,,BUMMMM,,,,BUMMMMM,,,

Bukan hanya satu atau dua, melainkan puluhan. Lontaran bom plasma yang berasal dari rahang Kyuubi terus bermunculan seakan kepala mahluk itu adalah senapan mesin otomatis dengan amunisi tidak terbatas. Rias dapat melihat Akeno yang mulai meringis kurang nyaman. Siapa yang bisa merasa nyaman jika terus di bombardir oleh bola-bola energi penghancur yang bisa melumat tubuh dengan sekali terjangan?.

" Tidak akan bisa!" Rias bangkit, ia menyerahkan Issei sepenuhnya pada tangan Asia yang saat ini masih sibuk mengurusi Kiba." tolong jaga mereka Asia!" melihat gadis kuning itu menganguk. Rias kembali mengeluarkan sayap kelelawarnya, ia berniat membantu pertahanan Ratu sekaligus teman terdekatnya.

Terlihat dengan sangat jelas tubuh Akeno yang sudah bergetar serta di lumuri keringat dingin. Pertahananya mulai terkoyak, peningkatan serangan yang di lakukan oleh Xenovia dan Bennia sepertinya tidak mendapat reaksi apapun dari Kyuubi. Kali ini, Rubah itu benar-benar menargetkan Akeno sebagai mangsa utama, jadi ia tidak memikirkan mahluk lain di sekitarnya sebelum pendeta petir Ratu Gremory itu benar-benar jatuh.

Gigi-gigi Rias saling bergemretak, perasaan marah dan khawatir saling campur aduk mengerogoti kewarasanya. Nyawa sahabatnya tengah di pertaruhkan di depan mata, sementara ia tidak bisa berbuat banyak untuk membantu. Niat nya untuk membantu Akeno buyar, ketika puluhan bola plasma milik sang Rubah yang mengenai pelindung Akeno memental dan sialnya arah benda penghancur itu mendarat adalah tempatnya berada sekarang!.

Rias tidak mungkin pergi dan menghindar begitu saja karena di belakangnya tubuh-tubuh para budaknya yang lain serta budak Sona tengah terbaring tanpa daya di bawah telapak tangan malaikat Asia. Di sana mungkin memang ada Momo, namun melihat setatus gadis itu, Rias yakin kalau Momo tidak akan mampu menahan seluruh muntahan serangan Kyuubi. Bukanya ia meremehkan budak Sona yang satu ini, tapi setastistik kekuatan bertahan Momo untuk saat ini benar-benar meragukan jika di bandingkan dengan Level Youkai sekelas Kyuubi no Youkai..

Mau tidak mau, suka tidak suka. Rias harus memilih antara menyelamatkan Akeno atau melindunggi meraka yang ada di balik punggungnya. Dengan kekuatanya, Akeno mungkin masih bisa bertahan dari beberapa serangan, Sedangkan mereka? Rias yakin akan langsung musnah. Karena selain tidak bisa lagi mengangkat tangan untuk menghalau atau kaki untuk menghindar, kedudukan mereka di belakangnya masih terlalu kecil untuk menerima sengatan gelombang penghancur dari Youkai sekelas Kyuubi.

Rias menegakan badanya dengan pisisi lurus. Kepala merah itu berputar menghadap langsung wajah Momo yang nampak begitu tegang. 'Bertahanlah Akeno!'

" Momo, buat Kekkai di balik Kekkai milik ku." Perintah mutlak Rias di balas angukan patuh. Momo tidak begitu mempermasalahkan setatusnya sebagai keluarga Sitri maupun Gremory untuk sekarang, karena bagimana pun nyawa rekan-rekanya menjadi taruhan.

"Ha'i!"

Bola hitam sebesar bola basket yang ada di kedua tangan Rias tiba-tiba pecah dan berubah menjadi kubah setengah lingkaran cukup besar yang mengelilinggi seluruh budak Gremory dan Sitri. Di balik selimut Power Of Destruction nampak sebuah kubah baru berwarna hijau muda. Kubah pendukung yang di buat oleh Momo.

BUMMMMMMM…BUMMM…BUMMM…

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Berlindung di balik prisai tipis berpendar biru hasil karyanya sendiri. Akeno mulai merasakan beban berat yang menumpuk di sendi-sendi kedua tanganya begitu mortil-mortil karya Kyuubi puluhan kali menghantam pertahanan tipisnya dengan begitu brutal. Wajah putih gadis Miko ini sudah tampak pucat, gigi-giginya bergemletuk saling beradu. Pancaran ceria yang selalu ia umbar dari dua iris kelamnya kian lama semakin memburam. Kekhawatiran bersanding rapat dengan ketakutan ketika bunyi 'krak dan krak' semakin sering terdengar dari Kekkai pelindungnya.

"Ugh,,,tidak bisa!" Akeno meringis saat percikan Bom plasma Kyuubi berhasil lolos dari jerat Kekkainya dan mengores telak bahu kanan.

GROARRRRRRRR,,,,,,,!

Sosok Yasaka kembali mengaum dengan ganas, Rubah itu semakin membuka lebar rahangnya, menambah jumlah bom plasma yang masih bersemangat menghantam bloking milik Akeno. Raugan liar penuh keganasan yang berulang kali di teriakan oleh Yasaka, di telingga Akeno berubah menjadi tawa meremehkan

Krak,,,krak,,,karak,,,,

"Are,,,aku tidak kuat lagi." Gadis bersurai hitam panjang itu mengeluh, kepalanya ia miringkan kesamping guna menghindari percikan Bom plasma yang lagi-jagi berhasil menembus permukaan Kekkainya.

BUUMMMM…

PYARRR.

Mata masing-masing iblis membulat selebar-lebarnya menyaksikan Kekkai milik salah satu primadona Kuoh pecah layaknya sebuah kaca tarantuk batu. Tanpa pelindung, dapat di pastikan tubuh Akeno akan menjadi santapan empuk untuk Kyuubi.

"AKENO/SENPAI!"

Teriakan bernada kecemasan berdenging keras di pendengaran Akeno. Ia ingin menyahut, namun bola kuning emas yang memancarkan energi Youkai padat di depanya sukses menarik perhatian lebih. Mata hitamnya menyayu pasrah. Kekuatanya sebagai Ratu Petir lenyap. Bayangan kematian tergambar di permukaan Bom plasma milik sang Youkai seakan benda itu adalah Tv kabel di apartemenya.

Sensasi panas mengelitik permukaan kulit memutus semua panca indra perasa yang Akeno miliki, ia tidak bisa merasakan angin semilir di sekitar tubuhnya, rasa sakit, lelah atupun rasa sesak yang melilit di perut.

"Inikah akhir ku?"

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Krasak…krasak…krasak…

Bekali-kali bayangan sosok bersurai kuning bergerak leluasa bagai Raja hutan membela rimbunan dedaunan. Menyingirkan para pengangu jalan mengunakan kekuatyan tubuhnya, yang jelas-jelas jauh lebih unggul jika di bandingkan dengan dahan-dahan pohon tanpa daya yang entah sejak kapan menjadi lawan gulatnya.

"Naruto-kun,,, tunggu!"

Lengkingan suara feminim berisikan perintah dari arah belakang, Naruto hiraukan. Selain karena kekurang jelasan pendengaran akibat ganguan angin, suara ledakan-demi ledakan yang berasal dari arah tujuanya melangkah juga berperan penting untuk Naruto tidak mau menuruti keinginan rekanya.

Plak,,

"Aduh,,," Tomoe memekik kecil saat sebuah dahan tanpa sengaja menyambar keningnya. Gadis itu mendengus kemudian mengembungkan kedua pipinya. Ia jengkel, begitu teriakanya lagi-lagi di anggap angin lalu oleh si pirang yang masih saja melesat cepat jauh di depan matanya. Langkah kaki pemuda itu begitu konstan, tak ada satu pun pijakan yang meleset meski pada kenyataanya yang pemuda itu jadikan tumpuan bukanlah tanah lebar melainkan dahan kecil nan licin.

" Meski kau berteriak sampai mulutmu berbusa, Naruto tidak akan menghentikan lagkahnya!" Tsubaki kembali mengepakan sayapnya dengan tenaga ekstra. Tubuhnya yang dalam keadaan kurang bertenaga harus di paksa bekerja keras kembali hanya karena mengejar sang adik kelas yang entah bagaimana bisa mendahului ia dan Tomoe hanya dengan kedua kaki, padahal ia dan Tomoe telah mengunakan sayap masing-masing, tapi tetap saja kecepatan ngacir si pirang masih bisa mengalahkan keceptan mereka.

Tomoe menoleh kesamping." Apa Naruto-kun sekejam itu?" dengan cepat gadis bersurai merah coklat itu memiringkan kepalanya kekiri begitu seongok ranting melintang tertangkam indra penglihatan.

"Bukan Naruto yang kejam. Tapi,,,"

" Tapi?"

Tsubaki menatap balik sang lawan bicara dengan wajah datar bercucur keringat." Kaicho!"

Tomoe tersentak, ia meringis ketika ingat dalam pelarian-nya Naruto tidak hanya membawa beban tubuhnya saja. Di antara lengan kokoh itu terselip mahluk mini bersurai hitam pendek yang dengan santainya menumpang kaki pada Naruto.

Tanpa sedikit pun memperlambat laju, Naruto dengan sigap menapaki satu demi satu dahan pohon dengan langkah-langkah lebar. Pemuda yang beberapa waktu lalu tampak begitu loyo, kini terlihat nampak bugar. Wajah tan bergaris itu tidak lagi sering mengernyit menyembunyikan sakit akibat sisa pertarunganya dengan Tifa.

" Apa tidak sebiknya kita menungu mereka berdua, Kaicho?" Naruto menunduk, mencoba memandang wajah Sona. Kedua tanganya yang menampung berat badan sang Sitri ia naikan ketika merasakan cengkraman masing-masing jari pada lutut dan pungung Sona agak merengang.

Entah apa yang sebenarnya di pirkirkan Sona hingga dengan tegasnya ingin nebeng pada si pirang. Berbekal alasan lelah karena kehabisan tenaga akibat menyembuhkan seluruh luka dalam Naruto. Sona mengadu dan meminta, atau lebih tepat memerintah sang Uzumaki untuk memberikan tumpangan.

Naruto yang kala itu masih cengo dengan cara penyembuhan tak lazim yang di pakai Sona untuk memulihkan seluruh setaminanya yang sudah terkuras hingga akar, hanya bisa menganguk tanpa bisa membantah rengekan manja khas anak SD andalan Sona. Jadi ketika sang Sitri melompat, Naruto tanpa pikir panjang langsung meraup tubuh kecil sang King kedalam dekapan, menyelipkan rapat tubuh mungil Sona di antara lengan dan dadanya.

Tanpa mau membalas tatapan Naruto, Sona mengeleng. Gadis itu seakan enggan meningalkan wajahnya dari dada sang pion, bahkan hanya untuk bernafas. Sepasang tangan putih yang sejak awal melingkari tubuh toples Naruto kembali mengerat.

Sebenarnya bukanya Sona tidak mau bersebrangan dengan dua budaknya, ia hanya,,,malu. Malu bertatap muka kembali dengan dua gadis di belakangnya yang beberapa saat lalu menjadi saksi mata proses pemulihan yang ia terapkan pada Naruto.

Emm,,, mungkin jika tehnik penyembuhan dengan langkah normal seperti biasa, Sona harusnya tidak perlu merasa risih. Namun bagaimana bila cara yang baru pertama kali Sona terpakan sebagai media penyaluran energi terhadap tubuh si pirang kali ini terkesan tidak biasa dan bersifat 'pribadi', dan akan berdampak kurang baik untuk reputasinya jika di ketahui khalayak luar?. Jika biasanya berpengangan tangan atau tidur bersama, cara baru Sona adalah berciuman.!

Berciuman, menyatukan bibir dengan bibir.

' Oh,,,, demi dada super Rias, apa yang akan Onee-sama lakukan jika ia tahu semua ini!'

Wajah pualam Sona memerah menyamai surai terang sang Gremony begitu ingatanya terterik kembali pada peristiwa di mana ia meraup pipi bergaris Naruto, dan tanpa meminta persetujuan dari si pirang, ia langsung menempelkan kedua bibir mereka. Tidak adanya perlawanan dari Naruto, membuat Sona yang sudah mulai mabuk dengan basah dan hangatnya bibir pemuda itu tanpa sadar mulai menyelipkan lidah guna mencari kepuasan lebih.

Di saat naluri iblis menguasai tubuh, kewarasan sang Herries Sitri mulai memudar. Kelopak mata Sona tertutup rapat, ia melepaskan tangan kirinya dari pipi kasar Naruto dan tanpa kecangungan langsung berkelebat gesit mengapai kepala belakang si pirang guna menekanya kuat untuk memperdalam cumbuanya. Seakan masih kurang menemukan kepuasanya, satu tanganya yang berperan sebagai bingkai wajah Naruto ia lepas untuk mencengkram tangan Naruto yang naik merayap kepundaknya. Mencengkram punggung tangan pemuda itu erat, seraya menarik paksa turun kebawah hingga akhirnya berhenti begitu berada tepat di atas dada kananya.

Desahan yang di sertai dengan suara kecapan dua bibir saling melumat terlantun merdu mewarnai suasana. Naruto melotot begitu cengkraman tangan Sona pada punggung tanganya mengerat, memaksa pemuda itu untuk semakin kuat meremas gundukan daging sebelah kanan sang gadis. Terdorong oleh kehangatan menjanjikan yang di tawarkan oleh Sona, dalam waktu singkat Naruto mulai menandaskan tanda-tanda kekurang nyamanannya. Pemuda itu diam, tidak membalas namun juga tidak mengelak. Membiarkan begitu saja tubuhnya di permain layaknya sebuah bantal oleh sang Raja.

Aksi Sona menyusuri sela-sela rongga mulut putra tungal Yondaime Hokage itu tanpa ia sadari memakan waktu nyaris enam menit. Remasan tangan kanan Naruto pada aset nya serta rasa memabukan yang ia kecap melalui lidahnya membuat adik Maou Leviathan ini seakan lupa daratan. Andai saja kaum Iblis tidak membutuhkan Oksigen untuk bernafas Sona yakin ia akan mampu lebih lama mempertahankan posisi mengairahkan ini. Sementara Naruto masih ok-ok saja dengan ekspresi blon-nya, Sona yang sudah kembali mendapatkan udara berniat kembali menyerang sang pion lebih ganas, mungkin akan melakukan tidakan nekatnya lebih jauh lagi andai saja keberadaan Tsubaki dan Tomoe tidak menggangu sensor iblisnya.

Tersadar tindakanya bukan merupakan privasi pribadi lagi, dengan secepat kilat Sona berdiri. Dalam hati, gadis itu merutukki kedatangan Tsubaki dan Tomoe yang secara tidak langsung menganggu momen istimewa antara ia dengan Naruto. Tanpa mau memandang wajah kedua rekanya yang melonggo dengan liur menetes, bubu-buru Sona membalik badan untuk menyembunyikan rasa malunya karena ketangkap basah telah menodai anak orang.

[Sebagian besar luka yang di derita Naruto ada didalam tubuhnya, jadi untuk menyembuhkanya harus dengan menyalurkanya langsung kedalam tubuh!]

' Sial' Sona merutuk. Alasan konyol yang ia jadikan alibi memang tidak begitu meyakinkan. Tapi untuk Tomoe dan Tsubaki yang sudah paham arti tatapan menguliti Sona, hanya bisa menganguk dalam diam. Sona yakin kalau kedua budaknya tidak percaya dengan alasan konyol yang dia pakai, tapi meniliki kepatuhan mereka selama ini sedikit banyaknya membuat Sona cukup lega.

Kelegaan sang Sitri semakin meluas begitu entah bodoh, polos atau pura-pura bodoh Naruto 96% mempercayai alasanya.

"Naruto!"

Naruto kembali menunduk ketika Sona mendesis. Hembusan nafas gadis bersurai hitam pendek itu sempat membuat tubuh pemuda itu menegang." Hem?"

"Jangan katakana kejadian tadi pada siapa pun?"

" Kejadian yang mana?"

"Y-yang itu!~" Sona terbata. Tubuhnya mengeliat hingga membuat Naruto nyaris salah mengambil langkah.

Setelah beberapa detik terdiam Naruto akhirnya menganguk paham." Jadi aku tidak boleh mengatakan pada siapa pun bahwa Kaicho menciumku karena ingin mengobati luka dalamku!"

Dari sekian kata yang di lontarkan oleh si pirang, hanya kata 'menciumku' yang dapat tertangkap indara pendengaran Sona. Gadis itu menganguk. Mungkin jika saat ini Sona mendongkak Naruto akan dapat melihat kalau wajah gadis itu sudah sangat memerah.

" Kenapa?"

Sona mengeleng." B-bukan apa-apa, hanya tidak boleh saja!"

" Iya,,tapi kenapa?!" Nada suara Naruto terdengar tidak puas dan menuntut.

Sona kembali mengeleng, lebih kencang dari sebelumnya." P-Pokonya tidak boleh!"

Naruto mendesah." Baiklah,,,aku tidak akan mengatakan pada siapa pun kalau Kaicho telah menciumku, tapi— " Pemuda itu bebicara dengan tenangnya, tidak menyadari kalau gadis dalam rengkuhanya sudah mendongkrak dengan wajah lega bercampur penasaran."bagaimana kalau aku bilang, kalau Kaicho yang bermuka tembok ini ternyata mesum… dan hampir saja memperkosaku yang polos ini—ADUH~!"

Meski tapak kaki pemuda yang mengendongnya oleng, namun Sona tetap tidak melepaskan jeweranya pada kulit pinggang Naruto." Jika berani mengatakan itu, kau akan mati!" Suara Sona yang terkesan begitu dingin dan berbahaya berasil menciutkan nyali Naruto.

Pemuda itu mengeleng, namun dalam sekejap berubah menjadi anggukan patuh begitu Sona semakin mengencangkan cubitan sayangnya. "H-hai" Naruto mendesah lega, saat rasa sakit dan perih yang menjalar di pinggangnya mulai menghilang. Pemuda itu menunduk mengamati kepala sang King yang masih saja beta membenamkan wajahnya di permukaan dadanya." Em,,, Kaicho?" Naruto kembali membuka percakapan begitu merasa Sona telah kembali mendapatkan ketenagan.

"Hem?" meski engan Sona tetap menyahut.

"Tadi itu,,,Ciuman pertamaku lho…!" ' Ciuman pertama sejak aku berada di dunia ini' Naruto menambahkan dalam hati. Pemuda itu mendesah ketika cukup lama menunggu namun tak mendapat balasan dari gadis dalam gendonganya.

Mendengar pengakuan dari Naruto membuat hati kecil sang Sitri menjerit. Ada kebangaan yang menjalar di sana ketika tahu bahwa ia adalah yang pertama berhasil mendominasi si pirang. Senyum kecil tanpa bisa ia cegah terukir di parasnya, wajah ayunya bersemu ketika ingatan beberapa waktu lalu kembali mengalir. Mungkin sekarang tidak ada salahnya ia sedikit membuka diri dan membuang gengsinya.

Setelah memantapkan hati akan pilianya, Sona memberanikan diri untuk mendongkrak, memandang wajah tegas pemuda bersetatus Pion itu dengan tatapan lembut." Suatu hari kelak kau harus menikahiku!" Dan Sona terkekeh mendapati wajah pion Kesayanganya melonggo sebentar sebelum membuang muka kesamping dengan rona merah mejalar di pipi bergarisnya.

"Akan ku usahakan."

-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-

Dalam hidupnya selama ini, seorang atau telah berubah menjadi seekor iblis ber NIK name lengkap Genshirou Saji tidak pernah bermimpi bisa mendapatkan senyum manis nan tulus dari seorang gadis. Setelah sekian lama kutukan itu melekat padanya, Saji sama sekali tidak menyangka bahwa akan tiba waktunya juga kaum hawa yang tanpa meminta imbalan atau pemanfaatan dengan suka rela mau memberikan lengkungan bibir manisnya pada sosok pria pirang ini. Dan yang lebih membuat Saji ingin menangis haru adalah dua gadis tersebut bukanlah gadis biasa, ok lupakan setatus mereka yang merupakan dari ras Iblis! Mengkesampingkan fakta tersebut, dua gadis cantik di depanya adalah sosok yang menyandang gelar 'One-sama' di akademi Kuoh.

Bayangkan! dua gadis dengan kecantikan menyerupai malaikat dengan bodi bak gitar india yang selalu di eluh-eluhkan oleh setiap kaum adam. Mau membagi keindahan mereka tepat di depan matanya. Dua kecupan yang mampir di pipi secara bersamaan, seakan mebuat jantung pemuda itu copot. Bibir Saji melengkung mengumbar senyum, wajahnya merah menyerupai tomat busuk dan aliran merah kental tidak suci mengalir mulus melewati celah hidung.

'Jika ini mimpi, siapa pun jangan pernah bangunkan aku dari tidurku!'

PLETAK….!

"Cabul!" suara bernada sengak dan hantaman tinju dari Momo membuat pemuda pemilik Vitra itu tepar. Doanya terkabul meski sebuah benjolan bertingkat di kepalan adalah harga yang harus di bayar Saji.

"Ara-ara Momo-chan,,,kau kejam,,!," Akeno terkekeh. Gadis yang baru saja lepas dari ujung sabit Shinigami ini mengerlingkan bulu mata lentiknya kearah Momo yang mendelik galak kearahnya seakanan menuduh Akeno adalah perebut suami orang.

Rias yang juga duduk bersimpuh di samping sang Ratu, ikut tersenyum. Sedikit heran dengan keteguhan Akeno yang masih bisa bertingkah 'normal' meski beberapa saat lalu nyaris mengunjunggi alam kematian. Iris jernihnya bergati arah memandang kearah Saji." Arigato." Berbisik lirih hingga tidak ada siapapun yang mendengar.

Ketakutanya akan kehilangan sang sahabat menguar menjadi asap tak berati. Kecekatan dan ketepatan yang di miliki pemuda dalam pangkuan Momo itu Rias akui berkah tak terduga yang membuat Akeno masih bisa bernafas hingga sekarang. Rias masih ingat dengan jelas, melalui dua bola matanya yang kala itu sudah buram tertutupi air kesedihan melihat samar benang-benang hijau dalam jumlah banyak melilit perut Akeno sebelum permukaan Bom plasma Kyuubi berhasil menyentuh kulit sang Ratu. Di saat ia hanya bisa berteriak memanggil, Saji yang telah berhasil keluar dari reruntuhan bangunan bertindak lebih berguna dengan menarik sang Ratu Gremony kebelakang.

"Hah,,," Rias mendesah, sunggung ia tidak ingin lagi melihat tontonan tak mengenakan itu terulang kembali di mana salah satu anggota kelompoknya tersudut dan ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu.

"Jangan pegang-pegang tangan Saji-kun, Akeno." Momo mengerutu. Tanganya bergerak cepat menepis tangan Akeno yang terjulur meraba-raba tangan sang pemilik Vitra.

"Ufufufu…tapi aku hanya ingin membantu malaikat penyelamatku!" Akeno tersenyum, sama sekali tidak terganggu dengan delikan sebal sang budak Sitri.

Momo mendelik lebih lebar" Tidak,, aku sendiri saja sudah bisa memulihkan keadaan Saji-kun"

" Tapi bukanya lebih baik bila bersama?"

Mendengar perdebatan dua gadis di dekatnya menghasilkan hembusan nafas bosan dari kedua lubang hidung pewaris tahta Gremory." Hah,,,sudahlah Akeno! biarkan Momo melakukan tugasnya dengan tenang!" Rias menyela adu mulut kedua gadis di depanya dengan suara lembut khas bangsawan. Gadis itu memberikan kerlingan satu mata begitu Akeno menoleh kearahnya.

" BUCHO,,GAWAT!"

Teriakan bernada panik dari Xenovia dari balik kubah pelindung menghentikan protes yang yang hampir di layangkan Akeno. Kedua gadis itu untuk sesaat bertatap mata menyampaikan kebingungan, sebelum akhirnya memilih bangkit untuk melihat situasi di medan laga yang sampai-sampai membuat sosok keras kepala nan angkuh seperti Xenovia bisa menyuarakan kepanikan berlebih.

Di sana, di tengah reruntuhan sisa bangunan Desa dua tubuh nampak berdiri membungkuk mengatur nafas saling bersebelahan. Kelelahan teramat sangat tergambar jelas di wajah bermandikan peluh Xenovia dan Bennia yang yang masih setia menjegal langkah sang Rubah ekor sembilan untuk menghancurkan kastil utaman. Pakaian yang di kenakan kedua gadis berbeda sifat itu tampak acak-acakan dan tidak lengkap. Bennia yang sudah kehilangan jubahnya kini hanya mengenakan kaus kutang ketat pendek berwarna ungu yang hanya menutupi bagian dada serta punggung atasnya. Sementara untuk perut atas hingga pinggul, sudah tidak memiliki lagi pembalut apapun selain kulit mulusnya yang juga tak luput dari beberapa luka gores maupun memar. Bennia masih cukup beruntung rok hitam pajang yang ia kenakan hanya menerima robekan sampai kepaha, sehingga gadis manis ini tidak perlu cemas akan ada mata Mesum yang bisa mengekspos daerah segitiga rawanya.

Sementara dengan Xenovia? penampilan gadis mantan abdi Tuhan ini lebih memperihatinkan dari kondisi Bennia. Jika Bennia hanya kehilangan baju serta jubahnya. Xenovia justru kehilangan semua pakaianya dan hanya menyisakan celana dalam ketat berwarna hijau tua yang melekat di pangkal paha.

Tatapan mengasihani Rias dan Akeno kembali bergulir kearah di mana dua gadis itu memandang. Mau tidak mau sang King Gremory dan Ratunya harus kembali membulatkan mata begitu mendapati sosok Kyuubi yang masih berdiri kokoh tak jauh di hadapan Xenovia dan Bennia tengah menengadah keangkasa. Moncong mahluk itu terbuka sangat lebar. Di atas hidung Kyuubi yang menghadap langit, sebuah bola hitam sebesar Truk Tronton mengambang setabil dengan sesekali memercikan halilintar putih.

Keringat dingin kembali mengalir berjamaah melumasi kulit di seluruh tubuh para iblis saat menyaksikan Bola hitam menyerupai Power Of Destruction milik Rias yang melayang di atas mulut lebar Kyuubi tiba-tiba bergetar sebelum akhirnya mengecil hingga sebentuk bola basket.

Sebagai calon pemimpin, Rias yang sejak masih kanak-kanak sering di jejali oleh pengetahuan oleh Otou-san-nya, tanpa harus melihat buku muapun komentar cemerlang Sona mengetahui persis benda apa yang baru saja di telan oleh Yasaka. Bola hitam perbaduan antara energi Ying dan Yang. Senjata paling mematikan yang hanya bisa di buat oleh sesosok Youkai terpilih. Kehancuran dan kematian bersebrangan erat dengan energi itu bagi mereka yang yang berada di sekitar jangkauan replika Power Of Destruction.

'Bijuudama. Serangan terkuat sesosok Youkai terpilih. Satu hempasan mampu melenyapkan sebuah gunung, membelah lautan dan menghilangkan jutaan nyawa.' Sebuah teori meyakinkan yang tertulis tebal di atas selembar kertas hasil produksi kaum iblis. Dan Rias yakin buku yang menerangkan kedigdayaan para Youkai itu masih tersimpan manis di perpustakaan keluarganya di dunia bawah.

" KALIAN BERDUA,,,!," Rias berteriak keras hingga tengorokanya sakit. Gadis itu melambaikan tangan kananya untuk memberi perintah pada dua gadis bersetatus Knight miliknya dan Sona untuk segera mendekat dengan tujuan berlindung di balik Kubah Kekkai miliknya. "MENYINGKIR DARI SANA DAN CEPAT KEMARI!"

Akeno yang memang belum mengetahui situasi mulai menyampaikan kebinggunganya. Gadis itu mencoba mengambil perhatian Rias dengan cara memangilnya. "Bucho!" Dan hasilnya nihil, sang King masih menatap tajam kearah dua Knight yang kini mulai melangkahkan kakinya mendekati kubah yang Rias ciptakan untuk melindunggi keselamatan anggota Gremory dan Sitri.

"Bucho!" Akeno kembali mencoba, kali ini dengan di sertai tepukan pada pada pundak ringkih Rias.

" PERCEPAT LANGKAH KALIAN"

Akeno mendesah, kembali menarik tanganya yang sama sekali tidak membantu. Niatnya untuk bertanya urung saat menangkap kilau kegelisahan dari balik permata hijau milik sahabatnya. Memutar kepalanya kesamping, mengikuti arah pandang Gremory muda. Akeno dapat melihat Xenovia dan Bennia yang terengah di depan Kekkai. Dua gadis itu membungkuk untuk sesaat sebelum akhirnya kembali melangkah memasuki benteng Kekkai setelah Rias menciptakan sebuah lubang cukup lebar untuk jalan mereka.

"Asia, pulihkan Xenovia dan Bennia!" Asia yang mendengar perintah mutlak dari Rajanya tanpa pikir panjang langsung bangkit. Dia meningalkan tubuh Issei yang masih pingsan namun sudah menampakan tanda-tanda membaik. Rias mengeser badanya kekanan, memberi jalan untuk Asia yang bergegas mendekati Xenovia dan Bennia.

" Akeno!" Sang Miko berjenggit kaget mendapati suara tajam Rias yang menyebutkan namanya.

"Yah?" Setenang mungkin Akeno membalas. Gadis itu menatap Rajanya yang masih kusuk mempergatikan gerak pola Ratu Youkai!

" Bantu aku memperkuat Kekkai pelindung!"

Alis Akeno terangkat. Ia mendadak binggung dengan perintah Rias. Dari sekian banyak musuh yang pernah mereka lawan, sepengetahuan Akeno sampai saat ini belum ada yang pernah berhasil menembus benteng pertahanan Power Of Destuction. Setelah semua pembuktian nyata yang mempertontonkan kekuatan mengagumkan berkah alami Klan Bael ini, kenapa kali ini ia menangkap adanya keraguan di wajah Gadis bersurai merah itu dengan kekuatanya sendiri?." Kenapa?"

" Tidak ada waktu untuk menjelaskanya, Akeno!" tanpa menoleh Rias menjawab. Tidak ada waktu untuk sekedar bertatap wajah ketika pandanganya menangkap postur tubuh Kyuubi yang sepertinya sudah siap menembakan Bijuudama dari mulutnya yang berasap. Dia mengangkat kedua tanganya tinggi-tinggi keatas, seakan ingin mengapai langit. Dari seluruh inci tubuhnya secara perlahan aura merah pekan merembas mengalir halus menabrak dinding Kekkai. Mendapat suplai tambahan lebih, pelindung yang awalnya berwarna merah terang itu secara perlahan berubah, mulai dari ketebalanya serta warnanya yang semakin mendekati warna hitam." Kerjakan saja perintahku, jika masih ingin melihat matahari terbit esok hari."

Akeno mendesah, jika Rias sudah berkata seperti itu berarti tidak akan ada jawaban memuaskan yang dapat ia peroleh. Meski belum menemukan titik temu mengenai penyebab kepanikan Rias, sebagai seorang Ratu yang loyal pada kingnya, Akeno mengikuti perintah Rajanya. Pelan-pelan ia mengangkat kedua tanganya lurus kedepan sebatas dada. Tatapan matanya yang sayu alami menajam ketika energi biru menguar dari seluruh permukaan telapak tangan. Tidak membutuhkan waktu lama energi yang di hasilkan tubuh mahluk campuran itu menguar melapisi Kekkai Power of Destruction milik Rias yang sudah terlebih dahulu berada di sekelilingnya.

GROARRRRRRR,,,,,,,,

Gumpalan hitam pekat meluncur ganas dari moncong berkumis Kyuubi, melesat lurus kedepan tanpa bisa di perlambat oleh beberapa sisa bangunan yang menghalangi lajunya. Tanah tersingkir kemudaian hancur, sebuah kawa memancang menyerupai sebuah sungai langsung tercipta ditempat yang campuran energi Ying dan Yang itu lewati.

Di dalam kubah, Rias kembali mengertakan gigi-giginya saat insting Iblisnya menjerit, menyuarakan ia untuk segera menghidar dan bukanya menahan energi penghancur murni yang tengah bergerak ganas seolah membelah bumi menuju ketempatnya. Meski dengan batuan Akeno sekali pun, dia tidak yakin seratus persen bisa menghentikan laju Biijudama itu dengan sempurna. Jika apa yang di katakan buku benar, lebih dari keberuntungan untuk Rias dan para anggotanya selamat dari serangan Kyuubi kali ini.

DUARRRRRRRRRRRRR….

Bumi bergetar, tanah tersisih beramaan dengan angin yang berhembus liar menerbangkan segala bentuk benda yang luput dari pelindung Kekkai kebangaan Herries Gremory. Tumit kaki jenjang sang Miko dan Rajanya terseret kebelakang begitu Bijuudama terus merangsek dinding tipis pelindung mereka. Rahang kedua gadis ini saling bergemletuk merasakan sensasi nyeri yang mulai menjalar di setiap persendia. Jeritan Asia yang berada di pelukan Xenivia, seakan menjadi lantunan sendu musik kematian memenuhi indra pendengaran.

Tangan, kaki dan seluruh tubuh Akeno bergetar dengan sangat ketara ketika fisiknya yang kian lama semakin melemah ia paksa untuk terus beroprasi demi melindungi mereka yang di belakanya dan dirinya sendiri. Pertanyaan yang beberapa waktu lalu ia lontarkan pada sang Bucho 'kenapa ia bisa begitu tertekan melihat sang Ratu Youkai Rubah' kini telah terjawab.

Bruuk…

Melalui ekor matanya Rias dapat melihat sang Pendeta Petir kini telah mencapai pada batas maksimalnya. Akeno jatuh bersimpuh di atas tanah dengan nafas putus-putus. Energi biru yang melapisi Kekkai Power Of Destruction milik Rias langsung menghilang begitu sang pemilik tak lagi mampunyai tenaga ekstra untuk bisa mempertahankan benda itu lebih lama.

Gemuruh menyerupai tanah longsor menulikan pendengaran, tanah –tanah terkikis semakin menjauh di belakang kaki Rias. Mata hijau Rias kembali menghadap kedepan, menatap langsung pertemuan permukaan Kekkai miliknya dengan Bijuudama. Percikan energi hitam dan merah terlontar dari pergesekan dua energi tersebut, membentuk sebuah bola-bola kecil menyerupai bola tenis berhamburan kesegala arah tak dapat dikontrol. Ledakan demi ledakan sahut menyahut menakuti seluruh penghuni bukit Kyoto, saat bola-bola hitam-merah yang mempunyai daya hancur menyamai sebuah geranat militer menyentuh tanah, pohon mau pun sisa bangunan.

Di deraa rasa letih dan putus asa. Rias hampir saja menurunkan kedua tanganya yang terjulur untuk mempertahankan Kekkai yang masih berusaha menahan amukan energi Youkai murni Yasaka, menghentikan usahanya dan membiarkan Bijuudama melumat tubuhnya hingga menjadi debu.

Namun, tak lebih dari satu detik pikiran itu ia tepis dengan sangat cepat begitu sadar bukan hanya nyawanya saja yang ia pertaruhkan. Ada banyak anggotanya serta anggota Sona yang kini berlindung di belakanya, dan mereka semua mengantungkan nyawanya pada dia seorang!

Masih di tempatnya semula, Gadis penyandang gelar Leviathan ini menundukan kepalanya, mata hitam coklatnya berkilat tajam memandang punggung adik rekanya yang masih bergelut dengan energi penghancur Ratu Youkai. Seulas senyum bangga ia perlihatkan begitu melihat semangat juang Rias melindunggi selurung Peeregenya serta Pereege Sona.

Mearasa sudah cukup melihat tontonan menarik di bawahnya, Serrafall mulai menegakan tubuhnya untuk bersiap-siap memasuki medan pertempuran. Semangat Rias memang pantas di acungi dua jempol, namun hanya dengan tekat saja ia tahu Rias tidak akan mampu mengalahkan Kyuubi. Butuh dari sekedar semangat dan tekat untuk mengulingkan sang Youkai saat ini. Melawan mahluk yang bahkan tidak bisa mengendalikan tubuhnya sendiri, kekuatan adalah modal terbesar yang harus ia miliki, dan sayangnya untuk sekarang Rias belum memiliki yang satu itu.

Saat keteguhan tidak bisa mendapatkan simpati, maka kekuatan adalah jalan satu-satunya untuk menumbangkan sang lawan.

"Jikukan Kekkai"

Suara teriakan bernada serak menghentikan niat Serafall yang sudah nyaris terjun kelapangan. Meski suara itu teredam oleh bunyi ledakan dan tanah pecah, tapi sebagai bangsa iblis yang mempunyai panca indra kelas wahid, kakak Sona Sitri ini dapat mendengar cukup jelas suara khas seorang laki-laki yang entah berasal dari sudut mana.

Setelah sekian lama kedua bola matanya menyusuri arena untuk mencari sumber suara, akhirnya titik temu mulai ia dapatkan. Di pengir hutan di belakang tubuh besar Kyuubi. Alis mata Srafall sedikit naik begitu merasakan beberapa energi demon yang sangat familiar mulai mendekat dari arah itu.

"So-tan?" Gadis yang selalu mengunakan dandanan Cosplay ala-ala penyihir ini kembali menunduk. Matanya mengeryit binggung melihat kemunculan simbol-simbol aneh yang berada tepat di tengah-tengan pertemuan Bijuudama dan tameng ciptaan Rias, seolah benda itu ada untuk memisahkan dua energi berbeda tersebut.

" I-itu~?" Mata sang Maou melebar. Sama sekali tidak menduga benda yang tidak memiliki tekanan energi iblis bisa memusnahkan kumpulan energi padat milik Yasaka dengan sangat mudah dan cepat." Telepotasi." Serafall berdecak antara kagum dan binggung. Ia hanya melihat bagaimana benda yang awalnya hanya berupa huruf-huruf kanji itu menyebar semakin luas dan kemudian menagkup seluruh permukaan Bijjudama seperti sebuah tangan mengengam Bola kasti. Dan detik selanjutnya, benda itu hilang bersamaan dengan Bijuudama.

Rias mematung, matanya masih melotot menghadap kedepan dan tanganya juga masih terjulur. Otak di balik tempurung tulangnya seakan mencair memikirkan apa yang sebenarnya baru saja terjadi.

Kemana perginya benda hitam itu?

Siapa yang menghilangkanya?

Apa ia berhasil?

Dan kebinggungan yang di alami Rias sepertinya juga di alami oleh mereka yang masih tersadar di sekitarnya. Akeno yang masih engan bangkit dari acara bersimpuhnya, melonggo. Xenovia mengerjap binggung, tanganya masih mendekap kepala Asia kedalam pelukanya. Bennia juga hanya bisa diam membisu mencermati dan mengolah apa yang sebenarnya telah terjadi.

"T-tadi itu,,,, apa?" Momo mengambil suara pertama, matanya menatap lurus kepungung Rias, tak mendapat respon apapun dari King Gremory itu ia mengalihkan pandanganya kearah Akeno, Xenovia dan Bennia. Dan hasilnya sama saja, tak ada yang bisa menjawab pertanyaanya.

"A-ano—"

GROARRRRRRRR—

" ODAMA RASENGAN!"

DUUUUAAAARRRRRR,,,,,

Untuk kesekian kalinya mereka di buat membisu. Gertakan Kyuubi yang awalnya sudah bisa mengembalikan koneksi otak mereka masing-masing di buat kembali terputus, begitu dua sosok yang mengapit satu bola biru sebesar ban mobil muncul dari lebatnya hutan di belakang ekor Kyuubi, dan tanpa segan langsung menghantam kepala Rubah itu dengan keras hingga membuat dagu Kyuubi melesat mencium tanah.

Hening seketika menyerang saat ledakan dan letupan energi Demon dan Youkai yang beberapa saat lalu silih bergati mewarnati bukut Kyoto kehilangan eksistensinya. Suara hembusan angin tanpa tuan hanya satu-satunya nada yang masih tetap bertahan menyapu indra pendengaran. Para iblis, hanya bisa mengerjap dengan pandangan baru yang di suguhkan gratis di depan mata mereka. Sedangkan sang Rubah yang dari awal memang tidak bisa diam, secara ajaib menutup mulutnya yang saat ini masih terkubur di dalam tanah.

"Naruto-kun~!?"

Rias kembali mengerjap. Leher jenjangnya ia putar kekanan begitu suara halus sang Queen memasuki pendengaranya. Untuk sesaat gadis merah ini hanya menatap Akeno dengan pandangan tanya. Namun melihat arah mata gadis Miko itu tertuju, Rias kembali memindahkan pandanganya, sama ketempat yang sekarang menjadi daya tarik Akeno.

"Naruto." Rias akhirnya ikut menyuarakan hal yang sama dengan Akeno. Surai pirang mencuat yang bergerak liar tertiup angin, tubuh tegap berbalut kulit tan dan luka-luka familiar yang membekas di sepanjang punggung lebarnya. Hanya satu orang yang Rias rasa memiliki fisik seperti dia yang kini berdiri tegap di depan moncong Kyuubi. Meski sosok itu belum memperlihtakan rupanya. Tapi untuk Rias dan beberapa Iblis di sekitarnya sudah yakin tahu persis siapa pemuda itu sebenarnya.

"Bucho!"

"Ah,,,yah?" terlalu larut dalam pengamatanya, Rias sama sekali tidak menyadari keberadaan Asia yang entah kapan sudah bebas dari dekapan perlindungan Xenovia. Rias menunduk, mempertemukan pandanganya dengan Asia." Ada apa, Asia?"

"Um,,ano,,," meski sudah berusaha menjadi gadis yang pemberani, namun untuk ukuran seseorang seperti Asia, menghilangkan rasa malunya agaknya masih cukup sulit. Pandangan berubah-ubah fokus Asia membuat Rias mengernyit, tidak paham dengan apa yang ingin disampaikan salah satu budaknya itu." Bucho lelahkan?"

Rias memiringkan kepalanya kesamping. Dia yang sudah sedikit mengerti sifat sang mantan Biarawati langsung tersenyum menyadari tatapan Asia adalah kekhawatiran." Ah,,yah." Suara pembenaran Rias membuat Asia mendongkrakan wajahnya untuk memandang rupa sang Raja. Rias menurunkan tanganya yang sedari tadi masih terangkat, menempatkanya santai di samping tubuh lelahnya." Bisa bantu aku, Asia!"

Asia menganguk dengan antusia. Gadis itu mengulas senyum manis sebelum akhirnya berjalan cepat kebelakang tubuh Rias" Tentu, Bucho." Dari ketiadaan dua cincin kembar muncul di jari Asia yang terangkat dan menempel dipunggung Rias. Energi hijau penyembuh menyeruak dan melapisi kulit di balik seragam yang di kenakan sang Gremory muda. Menyembuhkan dan mengembalikan setaminanya yang telah anjlok.

Tap,,,tap,,,tap

Tiga pasang jejak kaki mendarat mulus di belakang punggung para iblis. Suara cukup keras yang mereka hasilkan membuat berpasang-pasang kepala menoleh secara serempak pada waktu yang hampir bersamaan.

"Kaicho bisa kau turun sekarang?" Naruto mengoyangkan tubuh di dalam pelukanya yang masih meringkuk nyaman mirip orang tertidur.

Sosok itu mengeliat. Agak kurang setuju dengan permintaan Naruto. Sona akhirnya mendongkrak begitu tubuhnya terus mendapat goncangan tak mengenakan." Apa si?"

Naruto nyengir grogi begitu kilat tajam dari Fiolet Sona menuntutnya." Kita sudah sampai!" ia mengedikan kepalanya kedepan, memberi tanda pada Sona untuk ikut melihat apa yang ada di depan mereka.

Untuk sesaat Sona terdiam. Alis lentik gadis itu terangkat bersamaan dengan otaknya yang kembali bekerja mencoba memahami perkataan pionya. Melihat tanda perintah dari Naruto, dengan agak segan ia memutar pandanganya." Ah,,," wajah-wajah familiar terpampang jelas di depanya, menatap kearah dirinya dengan berbagai ekspresi dan emosi. Sona melihat sang sahabat bersurai merah yang terpukau, Akeno yang tersenyum aneh, Xenovia yang mengeram dan sesekali meninju tanah, Bennia yang hanya diam dan Momo yang mengangkat alisnya heran.

"AHHH" Kesadaran seratus persen ia dapatkan. Dengan secepat dan sebrutal mungkin Sona memberotak dari gendongan Naruto. Tindakan gadis ini membuat sang ninja kehilangan keseimbangan dan mau tidak mau melepaskan peganganya dengan sepontan, membuat tubuh mengil itu jatuh gedebuk dengan bokokong mencium tanah" Aduh,,"

Erangan Sona di balas dengusan oleh Naruto. Pemuda itu membuang muka begitu mendapati Sona mendelik murka kearahnya.

Dengan sedikit tergesa, Sona bangkit, menyempatkan diri menendang kaki sipirang sebelum berbalik menghadap kearah Rias dan sekutunya. "Ehem,,hai?!" Semburat merah mulai mucul di pipi mulus Sona begitu sapaanya tak membuat banyak perubahan." Rias!"

Rias tersentak. Gadis itu mengeleng singkat sebelum kembali menatap Sona dengan mata menyipit." Apa yang kau lakukan?" setiap kata berisi penekanan, membuat Sona menjadi agak gelisah.

Dengan segala kemampuanya Soan menahan diri untuk tetap bersikap tenang. Tanganya ia angkat untuk menaikan kaca matanya. Tindakan yang justru membuat ia tampak gugup." Ini tidak seperti yang kau pikirkan!"

Pandangan Rias menajam. Ia mendadak bangkit dan melangkah garang mendekati Sona, menghiraukan Asia yang terpekik kaget dengan tindakanya. " Memang kau tahu apa yang aku pikirkan?" Rias menghentikan langkahnya dua jengkal didepan Sona. Tatapanya semakin menajam, membuat Sona sadar atau tidak mengeser kakinya kebelakang.

"Ehem,,," Sona kembali mendehem dan tangannya kembali mengapai kaca matanya." Ano i—

"

"PERSETAN DENGAN ALASANMU!" Rias tiba-tiba berteriak tepat didepan wajah sang Herries Sitri. Sona berjengit dan mundur dua langkah sementara Rias dengan wajah menyeramkan maju dua langkah." Tidak tahukah kau Aku dan mereka" tangan jejang Rias berkelebat kebelakang menunjuk kepada budaknya dan budak Sona dalam satu gerakan." Nyaris mati disini hanya untuk menahan pergerakan Kyuubi, sementara kau? malah enak-enakan bermain kuda-kudaan dengan Naruto, hah!"

Tuduhan Rias yang seolah menelantarkan anggota dan rekanya membuat langkah mundur sang Sitri terhenti. Matanya yang tadi tampak seperti pencuri tengah mencari alasan langsung berkilat. Sona menegakan tubuhnya, bersiap menyangkal semua tuduhan tak jelas sang sahabat. " Maaf Rias, aku memang salah telah meningalkan kalian. Tapi aku memiliki alasan yang cukup kuat kenapa aku melakukan itu semua." Sona melangkah maju hingga wajah mereka berdua nyaris bersentuhan." Dan alasanku, berbeda sangat jauh dengan tuduhanmu!"

"Oh" Rias menegakan tubuhnya, memandang sangsi gadis di depanya yang hanya memiliki tinggi badan setara dengan hidungnya." Alasan apa yang kau punya hem? Dengan kedatanganmu yang berada di pelukan seorang pria tanpa pakaian lengkap kurasa sudah menjadi bukti nyata bahwa tuduhanku adalah kebenaran!"

"Rias!"

"Dan kau?" Rias menghiraukan bentakan Sona, ia menunjuk wajah Naruto dengan telunjuknya.

Naruto tersentak, ia keder kenapa sang Gremory sepertinya juga ingin menyalahkanya." Y-ya" ia menyahut terbata. Keringat dingin mulai mengalir di pungung telanjangnya saat Rias mulai melangkah mendekatinya dengan kaki di hentak-hentakan keras ketanah.

" Apa yang Sona lakukan padamu hem?" Rias memincingkan matanya menuntut.

Naruto menarik tubuhnya kebelakang, saat Rias mencondongkan badanya kedepan." I-itu,,em—"

"Stop!" Gremory muda itu mengangakt telapak tanganya tepat didepan wajah Naruto. membungkam mulut sang Ninja sebelum ia mengatakan pembelaanya.

"Rias!"

"Kau juga, Stop!" melakukan hal yang sama kepada Sona yang berniat menghentikan tidakan Rias mengintrogasi pion miliknya.

Rias mengalihkan perhatianya dari Sona ke Naruto. dengan mata memincing ia mengamati tubuh sang Ninja mulai dari ujung kepala hingga ke kaki. " Hem,,melihat keadaanmu, aku bisa menebak kalau Sona pasti sudah melakukan hal senono padamu,," Sona tersentak, wajahnya memerah membayangkan cumbuanya dengan si pirang didalam hutan. Dan untuk saat ini Sona pantas bersyukur karena Rias tengah tidak menatapnya.

GROARRRRRRRRR…..

Kyuubi kembali bangkit, bergerak semakin tak terkendali menyulitkan dua bunshin Naruto yang bertugas menahanya. Serangan Odama Rasengan sepertinya berhasil mengacaukan sugesti sang pengendali sehingga membuat tubuh Yasaka kini seakan bergerak sesuai insting hewannya saja.

Mereka yang tadi asik menyaksikan cek cok alot antara RiasSonaNaru kembali memfokuskan perhatian pada musuh besar mereka. Rias masih memandang sang Pion Sitri dengan tajam, seolah tak terpengaruh dengan bahaya yang di tebarkan oleh Kyuubi.

Naruto mendesah, jika masalah ini tidak segera di atasi mungkin keberhasilan Tim Sitri dan Gremory menuntaskan misi akan semakin sulit di gapai. Naruto menatap Sona yang masih berdiri di belakang punggung Rias. Ia mengedipkan mata kananya, memberi tanda sekaligus persetujuan dari Sona untuk menjelaskan pada sang Gremory muda masalah yang sebenarnya terjadi.

Tesenyum kecil begitu Sona menganguk. Mata hitam dan Blue safir Naruto kembali memandang Hijau giok Rias yang masih berkilat dengan agak tajam." Dengar, Rias!" membuang embel-embel' Senpai' atau yang lainya guna meyakinkan gadis itu bahwa ia benar-benar serius." Kaicho dan aku sama sekali tidak melakukan apapun seperti yang kau tuduhkan tadi. Aku di sana bertarung menjaga keberadaan Kyuubi dari serangan Chimera, tapi sayangnya sesosok misterius muncul dan menarikku jauh kedalam hutan."

Sorot mata Rias masih tajam, ia nyaris membuka suara andai saja sang Ninja tak sesegera mungkin mengangkat tanganya." Musuh yang kuhadapi jauh lebih kuat dari pada Chimera. Mungkin bisa kau bayangkan kalau sosok itu berada sedikit tingkat di atas Kokabiel."

Mendengar nama Kokabiel membuat tatapan tajam Rias yang awalnya berisi kegeraman menjadi menyelidik, mencoba mencari kebohongan dari ekspresi si pirang yang mungkin saja pemuda itu sembunyikan." Lalu?" sekian lama mencari, namun sayangnya Rias tak dapat menemukan kebohongan disana yang mengatakan bahwa pemuda itu hanya mengada-ngada untuk bisa menyangkal semua tuduhanya. Setelah kecurigaan dan amarahnya menguap, tatapan tajam Rias berubah menjadi penasaran.

"Yah,,, kau tahu seperti apa kekuatan gagak tua itu kan?" medapat angukan dari Rias membuat Naruto mendesah. " kemenangan atas Kokabiel waktu itu tidak lepas dari campurtangan kalian. Dan tadi aku bertarung dengan mahluk sekelas itu hanya sendiri, tanpa sokongan dari siapapun. Beberapa tulang rusuk dan tangan ku patah, organ dalamku hancur serta masih banyak lagi kerusakan yang tubuhku terima."

Ekspresi Rias benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Permata hijaunya melotot ngeri, membanyangkan kesakitan seperti apa yang di terima pemuda didepanya saat itu. Merasakan sendiri rasa lelah yang ia alami tadi ketika menahan Bijuudama Kyuubi saja sudah membuat Rias mengutuk nasib, apa lagi kalau harus merasakan tulang-tulang nya di patahkan dan organya di hancurkan? Sungguh, Rias tidak mau merasakan semua kesakitan itu" L-lalu?" hanya satu kata yang bisa gadis merah itu utarakan.

Melihat senyum miris pemuda di depanya membuat Rias menahan diri untuk tidak berteriak panik saat sekelebat bayangan imajinasi memenuhi otaknya tetang Nasib si Ninja menjalani pertarungan dengan luka seberat itu seorang diri. Ia memang pernah melihat bagaimana sosok Issei maupun Kiba mengalami patah tulang atau kaki saat mereka berlatih atau bartarung. Namun saat itu ada Asia yang senantiasa bisa memulihkan kondisi tubuh mereka kekeadaan semula dengan efisien dan singkat. Dan jika tidak salah ingat, tadi Naruto mengatakan kata' Sendiri' tanpa bantuan untuk menolong ataupun rekan untuk memulihkan kondisinya.

GROARRRRRRRRRR,,,,,,!

"BOS,,, CEPAT! DIA SEMAKIN LIAR!"

"CEPAT BOS! SEGEL SUDAH KAMI PASANG!"

Suara cempreng dua kembaranya menyentak Naruto. Pemuda itu tersenyum singkat kearah Rias. "Ah,,sepertinya cukup di siniya ceritanya, ada hal lebih penting yang harus kami selesaikan!" Pemuda pirang tanpa pakaian atas itu bergerak maju, menepuk pelan pundang sang Gremory ketika tubuh keduanya bersisihan." Kaicho terlambat kemari karena harus menyembuhkan semua lukaku dulu yang sepertinya memerlukan waktu lama ketika mengingat seberapa parah kerusakan yang tubuhku terima. Dan dalam perjalana kami kemari pun ada beberapa penduduk Youkai yang selamat kami temukan dihutan, jadi kami membantu mereka dulu untuk mencari tempat berlindung yang aman. Maaf kalau keterlambatan kami membuat mu susah Rias-Senpai."

Rias memutar kepalanya kesamping, memandang sisi wajah Naruto dengan rasah bersalah. Gadis itu mengulum senyum kecut begitu di suguhi cengiran humor yang seolah mengajaknya untuk tersenyum dan melupakan semua ulahnya tadi.

" Sebagai permintaan maafku dan Kaicho, serahkan masalah Rubah itu pada kami!" Naruto kembali bergerak, tangan yang masih tersampir di pundak Rias ia tarik kembali kesisi tubuhnya. Senyum kecil Naruto ulas begitu beradu wajah dengan Sona yang menatapnya kosong.

Tanpa suara, Sona hanya melihat sang Pion melewatinya. Gadis Sitri ini memandang punggung tegap itu menjauh sampai tak sadar kalau sang sahabat telah berdiri di sampingnya. Rias melihat Sona mematung di belakang sosok Naruto yang bergerak pasti mendekati medan perang. Pemuda itu mengelus kepala Asia begitu melewati sang gadis Biarawati.

" Apa semua yang ia katakan benar?" Rias betanya dengan suara pelan dan parau, matanya ikut menatap pungung telanjang Naruto begitu dalam.

Tidak merespon untuk beberapa saat sebelum akhirnya mengeleng." Aku tidak tahu?" Sona menghiraukan Rias yang menoleh kearahnya dengan dahi mengernyit, binggung." Saat aku tiba, dia sudah terduduk lelah di dekat batang pohon. Melihat kondisi sekitarnya, aku yakin apa yang ia katakan adalah kebenaran. Kehancuran itu begitu nyata dan besar. Kala itu, tubuh luarnya memang terlihat tanpa cacat,,, tapi aku yang berada sangat dekat denganya tahu persisi di balik selubung kulit sok kuat miliknya terdapat kerusakan parah yang akan sangat fatal bila terlalu lama di biarkan." Sona mendesah." Kurasa aku telah gagal, Rias!" Sang Gremony hanya diam menangapi keluh kesah sahabatnya. Sona mendongkrak, menatap langit gelap Kyoto dengan angan jauh.

"Gomen ne, telah menuduhmu yang aneh-aneh."

Sona mengeleng, menolehkan wajahnya kesamping kemudian tersenyum maklum." Jangan di pikirkan, aku sendiri pasti akan bertindak hal yang sama jika berada di posisimu, Rias."

Iris merah bertomoe Tiga miliknya kembali nampak bersinar di kegelapan. Memandang pergulatan sang Bunshin yang masih berjibaku dengan Kyuubi. Melihat mahluk besar itu bergerak besit menghindari Shuriken, kunai dan Jutsu membuat Naruto menaikan alisnya.

Keanehan dapat ia peroleh dalam setiap langkah sang Ratu Youkai. Gerakanya acak, seranganya juga terkesan liar dan tanpa perhitungan.

" Genjutsu kah?"Naruto mengeleng, setahunya di jaman ini sudah sangat jarang bahkan tidak ada seorang ninja pun yang tersisa selain dirinya. Tapi melihat perilaku sang Youkai, sudah jelas kalau ia di kendalikan. Naruto mulai membentuk sebuah segel tangan. Dua Bunshinya sudah tumbang terkena hantaman ekor dan cakat Kyuubi.

Kerusakan yang di sebabkan mahluk sebesar Kyuubi tidak bisa diangap remeh. Jika tidak di hentikan secara cepat, Naruto tidak tahu musibah apa lagi yang akan Youkai itu timbulkan.

" KAI "

Bersamaan dengan mulutnya berucap, sebuah susunan huruf-huruf kanji yang membentuk menyerupai cakar ayam sebesar rumah mulai muncul tepat di atas tubuh Yasaka. Black hole tercipta tengah-tengah pusaran kanji tersebut, semakin lama semakin membesar dan hingga akhirnya sebesar tubuh Rubah betina itu sendiri.

Kedatangan yang tidak bisa di sadari oleh Kyuubi dan pengendalinya membuat tubuh berbulu itu pasrah kembali mencium tanah, begitu Bola Hitam yang familiar muncul cepat dari dalam lubang hitam yang terletak di tengan susunan kanji menukik tajam menimpa punggung Yasaka.

DUARRRRRRRRRRRRRRR…

Tanah kembali bergoncang dan hutan di sekitar Kyuubi terhempas kesegala arah dengan pohon-pohon beterbangan tercabut paksa dari dalam tanah. Ledakan yang menyamai bom atom Nagasaki mengelegar hebat meratakan seluruh permukaan tanah tempat berpijaknya Kyuubi.

Sona dan Rias yang melihat kanji aneh di atas Kyuubi merasakan firasat buruk. Kedua gadis itu untuk sesaat saling berpandangan satu sama lain, menganguk bersama saling membenarkan insting mereka. Di saat bola hitam mulai muncul dari inti susunan Kanji yang kedua gadis itu yakini berasal dari Naruto, dengan tergesa mereka mendatangi para budak yang masih bersimpuh. Mebentangkan tangan kedepan, membuat kubah pelindung berlapis terkuat mereka.

Bola hitam sebesar tubuh Kyuubi muncul, bola pemusnah yang sangat Familiar di mata Rias, Akeno , Bennia, Asia dan Momo. Mereka meneguk luda masing-masing menyaksikan dengan jelas begaimana benda itu turun cepat mengarah langsung kepunggung Kyuubi.

Sona dan Rias dapat merasakan efek ledakan besar menerjang Kekkai yang mereka buat. Suara gemretak gigi saling beradu menandakan seberapa kuat usaha dua Herries ini mempertahankan Jubah pelindung mereka. Tanah bergoyang hampir membuat pijakan kaki mereka yang berdiri goyah. Tontonan mengerikan seakan filem Kiamat tersaji Live di depan mata-mata membola yang kagum sekaligus ngeri dengan efek Destruction Bijuudama. Tanah beterbangan dan hancur, puing-puing dan pohon tersapu bersih tanpa menyisakan apapun selain debu kosong.

Lima menit.

Kurang lebih hayanya dalam kurun waktu lima menit. Tempat yang awalnya di penuhi rumah dan pohon hijau hutan rata dengan tanah tanpa menyisakan apapun yang menandakan benda-benda yang awalnya berdiri di daerah itu pernah ada. Kawah besar bulat berselimut asap hitam menjadi tontonan utama bagi mereka yang ada di sekitar tempat itu.

Merasa ancaman telah meningalkan mereka. Sona dan Rias menghilangkan Kekkai pelindung. Mata dua iblis ini menajam. Mencari keberadaan sang Ninja yang menyebabkan bencana ini.

"Ah"

Sona dan Rias entah siapa pun hanya bisa mengucapkan satu kata singkat itu begitu melihat sebuah tubuh berdiri tegap di pingir kawah. Keadaanya masih sama, seolah tak terkena ibas sedikit pun dari kejolak ganas gumpalan Youkai padat yang nyaris membuat puncak bukit Kyoto rata.

Sang Ninja yang mendapat tatapan haus akan tanya dari para rekan di belakangnya hanya diam seraya mengedarkan pandanganya ketengah kawa. Bersyukur ia telah memasang dua segel fariasi kecinya dari Shisekiyoujin tepat dua langka di depanya, sehingga bisa membuat tubuhnya terlewat dari daya hancur leadakan Bijuudama milik Yasaka.

Angin bertiup semilir membawa asap naik cepat keatas langit. Membiarkan mata sang pemuda untuk menjelajahi isih kawah dengan leluasa. Di asana, tepat ditengan cekungan setengah bola itu, dua sosok tubuh tergolek lemah memprihatinkan. Sesosok gadis remaja bersurai kuning cerah terduduk bersandar pada dinding kawah, nafasnya memburu, pakaian yang ia kenakan tanpak hancur tak berbentuk.

Pemuda pirang itu tersenyum kecil, menjejakan kakinya kuat pada tanah dan melompat jauh menuju tengah kawah.

Yasaka menunduk, wajahnya yang sudah berbalut debu halus menghadap tanah tandus di bawah kedua kakinya. Deru nafas yang ia keluarkan terasa berat dan menyesakan. Energi Youkai Besar yang gadis itu miliki serasa habis tak tersisa. Perlahan Namun pasti sang Ratu Youkai mengangkat kepalanya kedepan, melihat dengan tatapan kosong mayat sosok lain yang terbujur kaku di depanya.

Sosok itu, orang yang telah mengendalikanya. Ia yang telah melumuri jari dan taringnya dengan darah kaumnya dendiri. Gigi-gigi Yasaka bergemletuk saling beradu, instingnya sebagai predator murka dan ingin melampiaskanya pada sosok itu.

"Sial" Dia mendesah, menarik nafas panjang dan megeluarkanya pelan. Tidak ada gunanya mengumbar nafsunya. Meski ia melumat tubuh sosok itu diantara taring tajamnya pun tak akan membawa perbedaan. Sosok itu sudah mati, tidak ada lagi yang bisa Yasaka lakukan untuk menuntut sosok itu untuk memepertangung jawabkan perbuatanya

Dengan agak terhuyung dan beberapa kali terjerembab, ia mencoba bangkit. Kedua kaki jenjangnya bergetar, tak mampu untuk menahan beban tubuhnya sendiri. Setelah sekian lama mencoba, akhirnya ia mampu kembali berdiri. Meski kepala terasa berputar meminta di rebahkan, namun Yasaka masih memaksa tetap tegak.

Tap…

Gadis itu menoleh kesamping kiri, di mana sesosok pemuda bersurai kuning acak-acakan baru saja mendarat." Arigato!." Dia tersenyum, sama sekali tidak menunjukan kebuasanya seperti saat dalam wujut Rubah ekor sembilan.

Naruto menganguk." Tidak masalah." Pemuda itu melangkah maju mendekati sang Rubah." Butuh bantuan?

Yasakan mengedikan bahunya, ia nyaris terjungkal karena tidakanya itu." Menurutmu?"

Naruto nyengir, tanpa persetujuan tanganya bergerak cepat mengapai pinggang dan lutut Yasaka. Mengangkatnya pelan sama seperti saat ia mengendong Sona." Rubah merepotkan." Berbisik lirih di atas pucuk kepala sang Siluman Rubah

Otot-otot yang menegang seketika itu melemas saat dua tangan kokoh menyangga tubuhnya. Yasaka mendesah, tidak memberontak atupun menolak inisiatif sang Ninja. "Hehehehe,,," Gadis itu nyengir seraya melingkarkan tanganya pada leher pemuda pirang yang telah berhasil menjatuhkanya dengan seranganya sendiri. Di saat-saat seperti ini, ingin rasanya ia terlelap.

TBC

A/N: pijat tengkuk dulu buat ngilangin pegal linu.

Ah,,,berapa lama gw gak updet ni cerita? Satu bulan? Dua bulan atu malah lebih?..

Maaf kalau ada diantara kalian yang kecewa dengan jadwal updet gw yang gak nentu ini yah. Gw gak bisa ngasih pembelaan apa-apa karena semua terjadi akibat faktor rasa malas yang menyerang..

Untuk yang merasa cerita gw semakin lama semakin kurang menarik atau mmembinggungkan, gw juga minta maaf karena di arc Kyoto ini semua cerita original pemikiran gw sendiri. Jadi untuk kalian yang merasa kurang nyaman atau puas gw mintaa maaf ea!

Sedikit jawaban untuk pertanyaan kalian yang sudah mau berbaik hati mereview fick gw ni.

Romi Uzumaki : suatu saat pasti bisa, tapi itu pun pas dah mencapai akhir konflik.

Untuk familiar,,mungkin. Belum kepikiran ea…

.165 : Mungkin pas pertemuan Tiga fraksi, karena disana selain buat momen NaruKara akan gw buat momen-momen mengejutkan lainya.

narulover: Trims pujianya hehehe…untuk EMS, keyaknya pas rating Game deh

ra: Banyak kata gak penting ya? Gimanaya, buat Fick itu susah bro, jadi kadang pas diotak dah kepikiran, namun pas di ketik ilang gak tau kemana, jadi binggung lagi dah.

Agunghidayat836 : wah terimakasih ea atas dukunganya,,,Gua usahain buat alurnya, and rencana chap depan besok adalah akhir dari arc Kyoto ini. untuk fik yang lain, lagi gw usahain..

Tamma : Untuk nasib air mata Phoenix,,akan terjawab di chap-chap depan..

Sagianto: untuk kekuatan mungkin akan lebih gw tonjolin pas konflik dah bener-benar panas, kira-kira sejak pertemuan tiga fraksi ea…hey ni chakra Kyuubinya belum disaring ma Fuin yang satunya{ Lupa} jadi selain kekuatanya yang membeludak, kebencianya juga gak main-main, apa lagi chakra Kyuubi kali ini dah terkontaminasi langsung dengan Juubi{ embahnya kejahatan hohoho}

Senjutsu,, pasti bisa, tapi entar. Harus ada pelatihan lagi. Gak lama karena pada dasrnya Naru dah bisa gunain meski sudah gak terikat ama kontrak katak.

Ryoko: untuk penguasaan dua mata sharingan mungkin nanti, karena untuk sekarang gw fokusin buat nyempurnain mata Obito. Pas lawanya benar-benar berat pasti kepake kok, sharingannya.

Mikaeru346: Gw juga awalnya kepikiran buat gunain Fuinjutsu, tapi pas dipikir-pikir kayaknya kurang asik deh, kalau Cuma kaya gitu ja hehehehe… ah dan terimakasih pujianya…

Nawawim451: Yasaka gak bakal ketemu Ringgo! Dalam waktu dekat !

Dan terima kasih pujianya, bikin semangat bagt heheheh

Ringgo vs Yasaka? Tentu kuat Ringgo dong. Dia kan selain kebagian kekuatan Juubi juga telah menjalani pertarungan banyak banget. Ingat pengalaman itu guru paling berharga lho..ckckckck

Ai no dobe: hem nanti gw tanyain ma Tifa, di ngintip gak hahahahahahaha

Genji namikaze: Untuk alur ntar gw usahain.

Juan matheus asarya: ah,,,yah kesalahan gw, thanks atas infonya.

: bisa jadi-bisa jadi,,,bagaimana menurutmu hem?

Light bullet : yap..jempol untuk anda…

Ranggagian76: menurutmu begitu ya? Hah,,mungkin karena niat nulis gw udah down jadi agak mulai asal jadi aja deh…sory

ArdiSilver: Kenapa Sera-chan gak ikut bantu? Kerena buat mantau\ ngeliat perkembangan anggota SonaRias…yah kaya ujian praktek,,, diliat dulu, kalau mampu yang di tepukin kalau gagal atau gak mampu baru dibantu….

Antoni Yamada: di chap-chap ini gw lagi fokusin ke Adventure, jadi Dramanya gw kurangin. Emang yang namanya drama, contohnya kaya apa si? Sebagai penulis gw ja kagak paham seperti apa Drama itu{ Nyedihin ya?}…

yuuki uzumaki naruto: kalau u cermat ngebaca chap{ emmm, gw lupa}.. disana diterangin ada seorang anggota Zuko selain Tifa ama Ranmaru..nah dialah yang ngendaliin ntu Yasaka!

uzumakiseptian: Mungkin iya mungkin tidak hehehehe…coba aja lihat di chap-chap depan,,ntar ada kok penjelasanya!

The KidSNo OppAi: ni udah ada scan Naru vs Kyuubi, meski sngkat hehehehe….tapi tanag ja..puncaknya bukan ama Kyuubi kok pertarunganya…

Kuzuri Reiketsu: Tifa gak mati kok santai ja,,

Nakia 7610: OK BRO!

Untuk jadwal updet,,gak bisa gw pastiin,, ni ja lemptop gw LCD nya lagi bermasalah..padahal ntu satu-satunya alat gw buat ngetik..

Untuk Typo,,yah maaf dah gw mungkin kurang cermat, apa lagi LCD leptop gw lagi eror jado konsengw juga agak error,,mungkin di Chap ini Typonya agak membeludak hehehehe…

Berikan pendapat kalian untuk Chap ini, membosankankah? Menjijikaankah? Baguskah? Atau membinggungkankah? Gw tunggu pendapat dan suara kalian semua di kotak Review maupun PM atau yang lainya…

Salam Karasumaru.666.