Chapter ini didedikasikan kpd tiga reviewer pertama yg udah bikin fic ini rame (?)
Canis Loyalis
Kiba's journey; Naruto a fic
Chapter 2: Reasoning
Fic by Crow
Kiba pikir dirinya tengah berhalusinasi beberapa saat yang lalu. Saat dia mencium aroma Hinata, sesaat ia berpikir bahwa kepalanya sudah mulai sinting dibuat gila oleh rasa kangen akan masa lalu. Tapi rupanya ia masih waras. Ia sempat terkejut betapa senangnya dirinya ketika melihat wajah Hinata lagi; serta bersyukur dia tidak jadi gila. Betapa bodoh dirinya, pikir Kiba. Boleh saja dia menjabat sebagai tokujo, tapi pikiran kekanakan klasik miliknya sepertinya belum ingin pensiun.
Ia melepas pagutannya dari Hinata, menatap sepasang mata nila pucat nan sembab itu. Kiba mengumpulkan energinya untuk memberikan Hinata senyuman congkak gaya khasnya sedari dulu. Ia mengangkat satu tangannya, mengacak rambut bagian atas milik Hinata. "Jadi...mau menceritakan apapun permasalahannya padaku?" Hinata mengangguk lemah selagi mengucek dan menghapus sisa-sisa air mata dari kedua bola permata nilanya. Jauh lebih baik, komentar Kiba, bukan pertanyaan maupun pernyataan. Hanya saja, sebagaimana semua orang tahu, Hinata lebih cocok tersenyum atau tersipu malu ketimbang menangis.
Hinata menyentuh sisi kepalanya, mengingat rentetan kejadian pelucut nyala kobaran api sore ini. "...Semuanya terjadi begitu saja, Kiba-kun. Aku...aku bahkan tak memiliki bayangan sama sekali dari kemarin-kemarin bahwa...e-entah mengapa, hari ini menjadi hari terburukku pasca perang tujuh tahun yang lalu."
Kiba menepuk satu pundak Hinata, tidak kuat tidak pula lemah. Ia hanya berniat menyadarkan Hinata dan menguatkan hatinya. Terkejut, Hinata mengusap dadanya, tersenyum kikuk. "...K-kau n-nampak sehat, Kiba-kun." Memberikan sahabatnya senyuman ramah, Hinata mempertahankan ekspresinya itu untuk sementara. "Hei...bu-bukankah ini Tsubaki-chan?" Ia mengangkat Tsubaki yang memang sudah tidak begitu asing lagi dengan Hinata. Dia sudah pernah bertemu dengan si anjing mungil pada beberapa kesempatan yang lalu. "Imutnya...baru satu bulan tapi kamu sudah besar, ya manis?"
Seakan tak seperti sehabis menangis semewek-meweknya barusan, ekspresi senang Hinata sudah larut dalam wajah dan suara gonggongan kecil nan imut milik Tsubaki. Kiba memberi tawa riang berat dengan nada baritonnya. "Hei, cengeng! Jadi tidak menceritakannya?"
"Oh...m-m-maaf, Kiba-kun...b-bulunya halus sekali," Kiba melihat Hinata mengembalikan Tsubaki ke atas tanah.
"Jadi para sesepuh itu lagi, ya?" Komentar Kiba mengandung racun dalam dosis yang cukup untuk membuat manusia mati rasa. "Kali ini...peraturan konyol macam apa lagi yang ditekankan padamu, Hinata?"
"B-bukan, Kiba-kun...h-hari ini memang sudah waktunya," Walau sudah berumur 23, beberapa bulan dibawah Kiba, Hinata masih sering mengalami keteteran dalam berbicara jika sudah grogi sedikit saja. "Para sesepuh menetapkan bahwa sudah tiba saatnya untuk menikahkanku, k-karena umurku sudah mencukupi d-dan aku juga sudah menjadi jounin serta instruktur di akademi,"
"Menikah?" Kiba berusaha memilih kata-kata yang pas. "Ini kesempatan, bukan? Si Naruto memang sudah berniat untuk merubah peraturan sepihak Hyuuga semenjak dulu. Tahun depan sudah bisa dipastikan, Hinata! Naruto akan menjadi Hokage! Dan setelah itu...hm?" Kiba kembali menyaksikan gerak tubuh Hinata yang semakin tidak karuan gugupnya. Pandangan matanya menyorot kemanapun ia bisa melihat asal tak membalas tatapan lawan bicaranya. Jari-jemarinya juga saling kulum kembali dihadapan dada. Walau secara fisik ia telah menjadi Hinata dewasa, baik tubuh ataupun pola pikir, tapi mentalnya kembali ke umur 12 tahun jika sudah berurusan dengan Naruto.
Oh, ya ampun, apalagi yang kau perbuat padanya, Naruto?
"Paling lambat...pada akhir bulan ini a-aku sudah harus menikah dengan salah satu bangsawan dari kelima negara,"
Bulu roma Kiba bergidik. Sekarang sudah tanggal 16. Oi, oi. Kurang dari dua minggu lagi, 'kan itu? "Kau 'kan sedang pacaran dengan Naruto. Tidak bisakah itu membuat para sesepuh diam? Maksudku, kau memacari pahlawan dunia shinobi yang legendaris!"
Hinata tampak semakin terbenam kedalam tanah. Kakinya yang duduk bersimpuh, kedua tangannya yang mulai mencabut-cabuti rumput liar dengan kalap, juga detak jantung serta aroma kepanikan yang semakin tak terkontrol. Mungkin ini sudah jauh lebih baik ketimbang Hinata dulu, yang mungkin akan langsung tepar dan pingsan. "Ada hubungan tertentu...kau putus dengan Naruto dan tak bisa meyakinkan sesepuh?"
Lagipula, jika dipikir baik-baik kembali...musibah bencana alam macam apa yang membuat Naruto bermasalah untuk menikahi Hinata? Dia mencintai Hinata. Hinata juga tak perlu diragukan lagi. Apa stok ramen dunia manusia tengah menipis saat ini; sehingga dia terpaksa melakukan perjalanan untuk mendapatkan sumber 'mata air' ramen di planet luar angkasa sana?
Oh Rokudo Sennin...mau dulu atau sekarang, situasi Naruto dan Hinata selalu begitu. Ditambah lagi para tua bangka kolotan dari Hyuuga yang bukannya mati ASAP. Sisi kening Kiba ikut melengking nyeri.
Hinata mulai menceritakannya...
Flashback, beberapa jam yang lalu pukul 15, kedai ramen Ichiraku.
Naruto dan Hinata keluar dari dalam tirai pintu masuk kedai. Naruto mengeluarkan sendawa abnormal miliknya setelah menghabisratakan sembilan mangkuk ramen kuah tonkotsu spesial Ichiraku. "Fuaaaah, itu baru ramen! Mau satu juta mangkok 'pun dimakan, kau tidak akan pernah bisa bosan!" Naruto melirik kekasihnya selama hampir satu tahun disebelahnya. Naruto terus memperhatikan Hinata yang menutup mulutnya dengan lapisan jari-jemari kanannya. Akhirnya Hinata ikut melepaskan sendawa kecil. Naruto tertawa lepas. "Hahaha dasar Hinata. Padahal aku yang traktir, paling tidak kau harus menghabiskan empat mangkuk lagi."
"Umph...po-porsinya sangat banyak sekali, Naruto-kun. A-aku sudah sangat kenyang." Balas Hinata, memaklumi tingkah kekanakan pacarnya.
Naruto tersenyum lepas. "Yang seperti itu juga manis. Tidak memaksakan diri, terkadang juga bagus kupikir." Naruto memberikan kecupan ringan pada kening Hinata, membakar kedua sisi pipi gadis berambut lavender gelap itu. "Oh ya, tadi ada yang ingin kau bicarakan, 'kan? Ayo sekalian kuantar ke kompleks Hyuuga. Kalau kemalaman, nanti Neji jadi punya alasan untuk menghajarku,"
Tertawa kecil, akhirnya Hinata meraih tangan yang ditawarkan Naruto dan mulai berjalan beriringan. "Anu, Naruto-kun. U-umur kita sudah cukup dewasa. A-aku berpikir un-untuk melangkah ke tahap berikutnya,"
Naruto berhenti. Wajahnya tertegun, nampak tak percaya. Isi perut Hinata serasa digulung-gulung. Belum lagi gara-gara ramen tadi. Hinata bukan fans ramen; ia malahan tidak begitu menyukainya. Jika kelompok Konoha 13 mengunjungi Ichiraku (hingga sumpek) Hinata tidak pernah memesan ramen. Ia hanya memakan beberapa potong gyoza atau ohitashi. Jika sudah terlanjur terpesankan, Kiba akan mencomot ramen milik Hinata dan memesankan gyoza baru untuk Hinata.
Senyum Naruto semakin merekah. "H-Hinata, mungkinkah-kita-kau?"
Perasaan Hinata semakin terangkat. Ia ikut tersenyum lepas. "Y-ya, Naruto-kun...a-aku berpikir untuk me-me-menikah denganm-m-mu!" Hinata menjerit dari balik napasnya. Tapi dilain pihak, Naruto memeluk Hinata dengan erat.
"Terima kasih, Hinata. Aku akan segera menyiapkan cincin dan segala macamnya." Hinata merasakan air mata mulai membubul di kedua pelipis bawah matanya. Naruto menatap wajah Hinata penuh dengan perasaan. "Kapan tanggal yang pas menurutmu?"
Naruto mendekatkan bibirnya, berbisik lembut, berniat menyambar lapisan lembut bibir Hinata. "Akhir bulan ini, Naruto-kun."
. . .
Hinata menunggu.
Ia tak kunjung mendapatkan ciuman hangat dari kekasihnya.
Lantas Hinata membuka matanya dan menatap sepasang mata biru Naruto. Kedua alis Naruto mengerut. "H-Hinata...kenapa cepat sekali?"
"I-itu...Naruto-kun...t-tapi, anu,"
"Tidak bisakah ditunda? Sampai tahun depan, Hinata?" Naruto mengencangkan kedua tangannya pada lengan atas Hinata. Tentu saja bisa, tapi pada saat itu Hinata sudah menjadi istri orang yang sama sekali tak mereka kenal. Hinata menyentuh buku-buku jari tangan Naruto. "Aku...aku tidak bisa menjadi Hokage jika sudah menikah. Itu adalah peraturan dasar tertulis syarat para Kage lima negara."
Saat itu juga, entah mengapa, Hinata merasa tahu kemana arah hubungan spesial ini mengarah. Keping demi keping hati Hinata berguguran menjadi debu. "Maaf Hinata, tapi kau pasti mengerti...bahwa kita punya mimpi yang tak bisa dialihkan sama sekali. Bahwa mimpi itu adalah tujuan kita hidup-alasan kita hidup."
Hinata mengangguk. Sepasang bola matanya mulai beriak bagaikan danau. Tentu saja dia mengerti. "Kita bisa menunda pernikahan hingga paling tidak satu tahun lagi, Hinata. Begitu aku jadi Hokage, bum!, kita langsung adakan pesta resepsi dan pernikahannya! Kita akan mengundang semua orang dari desa, makan enak, dan kita akan berbahagia!"
Semua rencana itu bagaikan serasa hidup di surga, batin Hinata. Tapi tanpa kekuatan jabatan seorang Hokage, Naruto tak bisa melakukan apapun terhadap Hyuuga; demi diplomasi dan harga diri klan, mereka akan tetap menikahkan Hinata secara paksa sekuat apapun Naruto memprotes untuk mengundurnya selama satu tahun. Hinata menggigit bibirnya. Dia tidak bisa mengecewakan Naruto. Jika dia harus membatalkan mimpi Naruto, keputusan itu akan terus menghantuinya seumur hidup. Dan Naruto tidak akan bahagia hidup bersama Hinata. Sama sekali.
Dibanding semua hal yang ia pikirkan, dengan bibirnya yang bergetar hebat, Hinata menanyakan satu hal yang paling ingin ia ketahui-mengenai satu hal yang paling diinginkan Naruto. Dirinya, atau gelar Hokage? "A-apakah kau mencintaiku, Naruto-kun?"
"...Maaf Hinata. Sepertinya...tak satupun dari kita mau mengalah, ya,"
Setelah itu, semua berubah gelap bagi Hinata.
Benar sekali, ada mimpi yang tak bisa dialihkan yang merupakan tujuan hidup kita. Yang menjadi arti hidup kita. Hinata mengerti itu. Tentu saja Naruto masih tidak menyadari bahwa ia adalah tujuan hidup serta mimpi Hinata yang tak bisa dialihkan. Namun dengan ironisnya, Naruto sendiri yang mematahkannya. Dilema oh dilema.
Hinata membanjiri wajahnya, berlari kencang, dan berusaha mencari perlindungan,
End of Flashback
"...S-s-setelah itu, Naruto-kun bilang, dalam setahun ia akan menemuiku lagi dan langsung melamar. T-tapi, Kiba-kun, saat itu...aku sudah menjadi istri orang lain. I-itu akan menyakitinya,"
Kiba, duduk bersila, masih menyembunyikan wajahnya dibalik satu telapak tangannya. Napasnya berat, Hinata bisa melihat kedua kuping Kiba berubah merah, seolah tengah mengeluarkan uap menggelegak air mendidih.
Hinata merasa tahu apa yang akan dilakukan Kiba. Naruto dan Kiba hampir mirip sifatnya. Mereka berdua adalah pria yang jalan pikirnya lurus-lurus saja. Kiba akan melabrak Naruto dan mengatakan semuanya. Mengenai perjodohan paksa yang diatur sesepuh dan juga perasaan Hinata yang tak ingin menyakiti diri Naruto beserta impiannya. Ketimbang menyudutkan Naruto pada posisi menyulitkan, Hinata lantas lebih memilih meruntuhkan egonya sendiri. Belum dihitung satu-dua pukulan kuat untuk menyelesaikan masalah sebagai mantan rival semenjak kecil, Kiba juga akan mempermalukan dirinya sendiri didepan umum. Hinata tidak ingin menyusahkan orang lain demi dirinya.
Namun entah datang darimana, Kiba meraih tubuh Hinata dan menariknya sekali lagi kedalam dekapan hangatnya. Tubuh klan Inuzuka memang sedikit lebih hangat ketimbang orang lainnya. Mungkin itu didapatkan mereka akibat pelatihan secara intensif dengan anjing sebagai contoh.
Satu kalimat saja keluar dari dalam mulut Kiba. " Kau memang wanita yang baik, Hinata."
Hinata mencair.
Semuanya. Otaknya. Benaknya. Pikirannya. Hatinya. Dagingnya. Tulangnya. Ia tenggelam didalam dekapan Kiba yang kuat. Ia kembali membanjiri wajahnya, dibawah perlindungan salah seorang terpenting dalam hidupnya.
Hinata tidak yakin. Apakah ia segitu inginnya mendengar seseorang mengatakan hal demikian kepadanya? Semua pilihan yang ia buat selalu terkesan salah. Hingga sampai membahayakan dirinya sendiri demi orang tercinta, tak hanya satu-dua orang yang mengatainya 'gila' pasca kejadian itu. Dan lagi terutama, 'pengakuan' adalah satu hal yang begitu diharapkan Hinata. Mendengar kata-kata Kiba itu entah mengapa ia merasa begitu terharu berliput senang.
"...Kenapa kau selalu saja memikirkan orang lain ketimbang dirimu sendiri?" Kiba berbisik tepat disebelah telinga Hinata yang tengah berlikuidasi bersamaan dengan seluruh bagian tubuhnya. "Tidak bisakah kau egois sedikit?"
Akhirnya, Kiba melepaskannya. Tatapannya melembut, serta prihatin, menatap wajah kesedihan Hinata yang berliput cinta penuh akan pengorbanan terhadap Naruto. "...Lupakan semua yang kukatakan barusan. Apapun itu, pokoknya yang aku tahu kau selalu mendukung Naruto dengan jiwa ragamu."
"...Oh, Kiba-kun,"
Kiba tersenyum lemah. "Sudah, hentikan tangisanmu. Sayang kalau dihabiskan sekarang, hei." Hinata tertawa singkat, menerima sapu tangan milik Kiba.
"Aku sudah merasa lebih baik hanya dengan bercerita kepadamu."
Hinata selalu bilang begitu setiap kali dihibur Kiba. Namun nyatanya tidak selalu begitu juga. Kiba mengerti rasa sakit dan kecewa itu masih ada disana. Dia lantas memutuskan untuk membantu Hinata. Tapi bagaimana caranya? "...Sudah jam tujuh. Aku janji pada Akamaru untuk membawa Tsubaki-nya pulang jam segini. Biar kutemani pulang juga kau, Hinata" Kiba meraih Tsubaki yang sudah kembali terlelap dengan pulas. Kiba meraih tubuh mungilnya dan mengangkatnya secara perlahan menggunakan kelembutan ekstra. "Kau ingin menggendongnya?
Hinata mengangguk dan membalas tatapan Kiba, mengeluarkan napas lega serta lepas. Kedua bahunya nampak semakin rileks. "Manis...manis," Hinata meraih tubuh Tsubaki dan memeluknya tepat dihadapan dada. "Oh, dia imut sekali, Kiba-kun."
Hinata menangkap basah Kiba memperhatikan wajahnya dengan tatapan kritis yang namun, anehnya, begitu peduli dan perhatian. Ini memang tidak seperti Kiba, tapi dengan segala kejadian yang dialami Hinata, entah mengapa Kiba menjadi sedikit prihatin terhadap nasib Hinata. "...A-ada apa?" Tanya si pewaris klan Hyuuga setelah mereka beradu pandang selama beberapa detik.
"...Tolong, Hinata. Jangan bersedih dan menangis lagi."
Hinata kembali tersenyum kepadanya. "...Akan kucoba. Terima kasih."
Selama perjalanan kembali ke komplek perumahan elit Hyuuga, Kiba dan Hinata membicarakan jalan terbaik untuk melewati masa-masa sulit ini. Tapi memang pada dasarnya Kiba sangat payah dalam kerja otak, tak banyak masukan yang bisa ia berikan. Hanya satu, dan begitu mecolok. Hingga sampai didepan gerbang komplek Hyuuga, Kiba berbalik dan menatap mata Hinata dengan lurus.
"Menikah denganku, Hinata."
Hinata terpaku ditempatnya berdiri. Wajahnya berubah merah membara dan detak jantungnya bekerja empat kali lebih cepat untuk mengolah oksigen dan karbondioksida yang saling berselisih jalan. "Kib...ap...ap...k-kenapa tiba-tiba begitu?" Entah mengapa Hinata menjadi super kalap begini, ia sendiri tidak mengerti.
Kiba menggaruk belakang kepalaya. "Ini tidak mendadak, Hinata. Ini jalan terakhir."
Kiba melanjutkan. " Coba pikirkan ulang. Jika semua yang kau sampaikan tadi adalah benar, berarti para sesepuh juga berada pada situasi yang menyulitkan. Yang satu demi mempertahankan kelas mereka dan satu lagi demi masalah diplomasi dan kekerabatan dengan negara luar. Masalah terpenting yang mereka pikirkan saat ini adalah menjaga kelas mereka dikalangan Konoha. Karena dunia sudah memasuki masa-masa perdamaian atau semacamnya, masalah diplomasi bisa diperlancar dengan kerja sama para Daimyo dan Kage seperti biasa. Jadi jika pada akhir bulan ini, ketika kau menginjak umur 24 dan kau belum memiliki calon suami, mereka akan bergerak cepat untuk mempertahankan nama baik."
Hinata masih terdiam, menilai poin-poin Kiba. "Dan ini bagian terpentingnya. Ketika kita menikah, maka pada saat itu kau adalah pewaris klan yang legit dan sah. Sedikit banyaknya suaramu akan didengarkan oleh sesepuh dan anggota klan."
Belum ada tanda bahwa ia akan berhenti, Hinata semakin memusatkan perhatiannya. "Lalu dilain pihak aku selalu tahu bahwa Naruto mencintaimu, dan dia juga sudah berjanji akan menikahimu satu tahun lagi paling lama. Kita tahu bersama Naruto tidak akan pernah mengingkari janjinya. Aku menjaminnya. Namun untuk sampai disana, selama satu tahun itu kita harus bekerja sama dengan para sesepuh. Ketika waktunya tiba, ketika sudah saatnya, kita bisa bercerai. Dan kau bisa langsung meneruskan ke pernikahan keduamu yang merupakan pernikahan yang sesungguhnya. Semua selesai. Tak ada masalah. Kau penerus Hyuuga, sementara pada saat itu Naruto sudah menjadi Hokage yang sah."
Kiba benar. Semua poinnya masuk akal dan tidak berkontradiksi sedikitpun dengan jalan pikir para sesepuh. Tapi ada satu hal yang mengganjal,
Mengapa Kiba sudi melakukan ini semua demi Hinata dan Naruto? Ia tak mendapatkan untung apa-apa. Jika dia, dengan piciknya-yang namun Hinata tahu tidak benar adanya, mengharapkan tubuh Hinata dan hubungan seks belaka, ia tidak akan mendapatkannya. Ini adalah pernikahan kondisional. Walau sesepuh tidak mengetahuinya, ada jarak pembatas nyata diantara Hinata dan Kiba: persahabatan mereka. Singkat kata, secara kasar, Kiba tak mendapatkan apa-apa?
Hinata menatap wajah penuh keyakinan Kiba. Hinata tak membaca adanya niat terselubung. Ia melakukannya murni demi Hinata seorang. Tapi tetap saja pertanyaannya...
"...M-mengapa Kiba-kun?" Setelah sepersekian detik yang bagaikan ratusan tahun lamanya bagi Hinata, ia bertanya pelan. Suara yang keluar dari balik mulut mungilnya berhembus bagaikan bisikan malam yang membuat bulu kuduk merinding. "Mengapa kau rela melakukan ini demi kami? K-kau tidak mendapatkan apapun dariku...k-kenapa?"
"Aku mendapatkan sesuatu." Kiba akhirnya tersenyum hangat. "Jika bersama Naruto, aku yakin, kau tidak akan pernah bersedih ataupun menangis lagi. Aku bisa percaya padanya, bahwa Hinata, sahabat terbaikku, selalu berada dalam hangat perlindungan Naruto."
Mata Hinata mulai berair. Perlahan-lahan, ia kembali teringat bahwa Kiba memang seperti ini sedari dulu. Demi dirinya, Kiba rela bersusah-susah melakukan apapun. Mungkin karena sifat penuh perhatiannya inilah, ia menutupnya dengan kebandelan dan mengisengi Hinata serta semua orang sekitar mereka. Jika bukan karena perhatian penuhnya, tidak mungkin rasanya anjing kecil seperti Akamaru akan tumbuh menjadi anjing dewasa yang pemberani sekaligus ayah yang sangat menyayangi istri dan putrinya. Kiba pria yang baik.
Hinata percaya sepenuh hati, bahwa Kiba adalah orang yang akan menjadi suami sempurna suatu hari nanti; dengan siapapun wanita beruntung tersebut...
Perasaan panas yang menggetarkan jiwa dan raga naik ke sekitar dada Hinata. Hatinya menghangat oleh tatapan lurus yang diberikan oleh Kiba.
Pada saat itu pula, Neji, sepupu Hinata melintas di halaman tengah komplek Hyuuga. Dia berniat mengimbau sepupu pewaris klannya, tapi suaranya tak kunjung sampai. Hinata dan Kiba telah tenggelam di dunia milik mereka berdua.
Hingga sampai Kiba melayangkan tangannya untuk meraih satu tangan Hinata yang masih menggendong Tsubaki, isi perut Hinata mulai bergejolak. A-apakah tangan Kiba-kun memang selembut dan sehangat ini sedari dulu? Walau sebenarnya kasar memang, tapi sensasi tangan petarung liar dan tangan bertapak lembut Hinata menciptakan perpaduan sempurna yang semakin memutar organ dalam tubuh Hinata, penuh akan kenikmatan yang membuat dirinya mual dan perbatasan dengkulnya melemah.
Tubuh Hinata seolah terasa terbang ketika Kiba mulai berlutut dihadapannya. Tatapan Kiba lurus kepada wajah merah membara beruap Hinata, seolah menelanjanginya. Namun, entah mengapa, dengan tatapan dan gerakan itu Hinata kini merasa menjadi seperti wanita paling berbahagia di dunia...
Apakah hal seperti ini yang selalu ditunggu-tunggu oleh Hinata sedari dulu dengan naifnya? Menanti pria idamannya berlutut dan melamar dirinya, mengikat keduanya untuk sehidup dan semati.
Namun dalam mimpinya, Narutolah yang akan melakukan hal ini terhadapnya; tak terbayangkan sedikitpun, ternyata Kiba 'lah yang melakukannya pada akhirnya.
Dikejauhan, Neji yang melihat apa yang tengah dilakukan Kiba merasakan wajahnya kalap sendiri. Tidak berlebihan memang, tapi ini pertama kalinya Neji merasakan wajahnya menghangat dengan percampuran bahan kimia unsur ketidakpercayaan dan kebahagiaan (?). Dia sampai tidak sadar, kalau dagu dan mulutnya tengah menggantung saat ini. Menyadari ekspresi Hinata-sama yang tak terlukiskan kata-kata saat ini, Neji memutuskan untuk melihat ini sedikit lebih lama lagi sebelum men-jyuuken Kiba menjauh dari sini.
Hinata menyadari bibirnya gemetar, ia tak tahu harus berkata apa. Perasaan dan momen ini membiusnya untuk menjadi satu, terbawa benang merah kehidupan Kiba melantun melintasi jagat raya. Hinata masih terus teringat...bahwa ini adalah pernikahan kondisional. Tak satupun dari mereka melibatkan cinta yang sebenarnya. Walau mungkin terlibat rasa sayang dan perhatian terhadap satu sama lainnya, tapi Kiba tidaklah mencintainya, begitupula Hinata. Tapi...mengapa,
Mengapa batin Hinata berteriak kalau ia menginginkan ini adalah hal yang sesungguhnya dan untuk terakhir kalinya. Momen paling spesial yang akan ia kenang selama-lamanya hingga hari tua nanti, bersama dengan suami setia disisinya selalu...Kiba.
Sesaat, tak ada Naruto didalam benaknya. Sesaat ia berpikir Kiba adalah segalanya. Sesaat ia merasa bahwa dunia tempatnya hidup adalah didalam bola mata Kiba Inuzuka. Sesaat ia berpikir, mereka akan menikmati kebersamaan mereka selama-lamanya; hanya berdua, dalam cinta dan hasrat. Mencinta dan dicinta.
"Hinata Hyuuga, maukah engkau menikah denganku?"
Inikah kebahagiaan seorang wanita, mendapati dirinya dilamar oleh pria idamannya? Pria yang mengerti akan dirinya, begitu setia, dan rela mengorbankan apapun demi sang mempelai perempuan,
Hinata meneteskan air matanya untuk kesekian kali, masih tidak percaya bila ini hanyalah pertunangan bersyarat. Tapi dia begitu bahagia sampai akhirnya menangis; tangisan kebahagiaannya yang pertama kali pada hari ini.
Setelah menghapus sisa-sisa air matanya, Hinata akhirnya tersenyum lembut, tersipu malu dan merasa begitu tersanjung.
"Ya. Kiba Inuzuka, ya!"
|Bersambung|
Berikutnya di Canis Loyalis:
"Aku sungguh minta maaf, ibu. Tapi...aku dibesarkan untuk peduli sesama; seperti anjing."
"Hyuuga cilik itu bukan anjing sepertimu."
"...Walau begitu, aku juga masih setengah manusia."
AN: Konfrontasi dengan mamah Inuzuka akan menjadi cukup berat bagi Kiba. Namun saya pastikan, chapter berikutnya akan 'hot' dalam berbagai makna.
Saya terkejut traffic fic ini cukup rame. Hit dan Visitor jg terhitung lumayan untuk chapter satu. Thank you yang sudah baca. Jika ada yang ingin disampaikan, monggo lewat pojok Review! Click! Voila!
Saya putuskan untuk memasukkan Neji. Di fic ini hubungan Neji dan Kiba cukup akrab. Terbukti dari bagaimana keduanya nampak saling membantu saat perang. Mungkin akan dieksplor sedikit di chapter berikut, juga mungkin mengenai bagaimana dia masih hidup. Terima kasih untuk reviewers pertama: Haruna Yukira, Me Yuki Hina, dan livylavals.
Crow signed out, adieu!
