Salam jumpa lagi! Sekali lagi saya uccapkan terima kasih kepada reviewers semuanya yand sudah membaca fic ini. Review selalu bisa membuat saya semangat menulis. Saya senang karena salah satu reviewer menanyai perasaan Naruto. Saya selalu suka readers yang memberanikan diri baca fic yg mengandung pairing yang bertolak belakang dg pairing fave mereka. Untuk catatan saya tidak membashing Naruto disini. Saya selalu membuat fic saya semasuk akal mungkin sesuai dengan karakteristik mereka. Sedikit ooc pd fic ini dibutuhkan demi kemajuan plot. Saya tidak akan mencueki Naruto karena dia karakter lumayan berperan di fic ini. Now on to the story. (maaf bacotnya, krn saya pikir ini perlu disampaikan. thx.)
Canis Loyalis
Kiba's journey; Naruto a fic
Chapter 3: Do it as You Wish
Fic by Crow
Entah mengapa, pikiran ini tiba-tiba saja mendatangi Hinata. Setelah Kiba berdiri kembali, Hinata menggigit bibirnya sejenak sebelum memutuskan untuk bertanya pada calon-suami-situasionalnya. "Apa kau takut?"
Kiba terkejut. Dia jelas tertegun, namun dengan kesigapannya ia menyembunyikan ekspresi 'sebenarnya' dari Hinata. Tapi Hinata bisa merasakannya. Aliran darah Kiba mengencang sedikit; ia tengah ragu.
Kedua alis mata Hinata mengerut. Ia mengencangkan kapitan tangan lembutnya pada tangan Kiba yang lebih kasar beberapa kali lipat. Hinata tersenyum maklum, namun ia terus diam. Ia ingin mendengar 'perasaan' Kiba langsung dari Kiba sendiri. Angin malam bertiup dari belakang Kiba, meniup rambut keduanya dengan lembut. Kiba tahu apa maksud Hinata, sebenarnya. Tapi dia tidak yakin ingin menjawab apa. "...Kau terdiam," Ucap Hinata, penuh keraguan. Ia semakin mengencangkan kapitan tangannya.
"Tak ada yang perlu ditakutkan." Akhirnya Kiba menjawab. Tatapannya lembut dan berselimut ketulusan. "Takut? Aku? Pfft, ayahmu tidak membuatku takut sedikitpun."
"Tapi tetap saja," Kiba melanjutkan, matanya mengalihkan diri dari Hinata. "Menghadapi 'ayah', ya? Hah...sekarang aku jadi kangen dengan pak tuaku sendiri."
Ketimbang Kiba yang mood-nya menurun, Hinata dilain pihak, tengah merasa nyaman dan tenang. Dengan segala janji dan kesepakatan dengan Kiba tadi, walau palsu, Hinata bersyukur ada satu cara yang bisa menghalanginya menikah dengan orang yang tidak ia kenal sama sekali.
Ketimbang mereka, Kiba jutaan kali lebih baik. Namun Hinata tetap belum bisa membayangkan pernikahannya dengan Kiba. Hinata kembali menatap wajah Kiba dengan lembutnya. Kiba...aku akan menikah dengan Kiba; pria yang tak pernah egois dan begitu pengertian terhadap diriku. Satu tahun, Hinata yakin satu tahun yang akan datang ini akan menjadi begitu berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Dia akan bersandingan dengan Kiba sepanjang tahun. Tapi tetap saja...itu semua adalah palsu.
Ketika Hinata sekali lagi memfokuskan tatapannya pada Kiba, Hinata berpikir: Kiba tak berhak menerima kepalsuan. Kiba berhak bersama seseorang yang sangat mencintainya.
"K-Kiba-kun,"
"Hm?" Pria dari Inuzuka itu kembali memfokuskan kedua matanya pada penerus klan Hyuuga.
"...K-kau masih bisa menarik dan membatalkan ini semua." Hinata merundukkan kepalanya sehingga bertemu dengan dada Kiba. Ia ingin menyentuhnya, dan menghapuskan ekspresi sedih Kiba itu. Prospek penawaran penarikan keputusan ini juga membuat napas Hinata sesak, entah apapun alasannya.
Satu yang jelas, Hinata tahu mengenai hubungan Kiba dengan ayahnya. Ayahnya pergi meninggalkan desa semenjak Kiba kecil sekali, membuatnya tak memiliki banyak waktu untuk saling berbagi. Berbeda dengan Hinata yang terus berada disebelah ayahnya, setiap kali topik 'ayah' diangkat sebagai tema pembicaraan antara Tim Kurenai atau Konoha 13, Kiba hanya terdiam di tepian. Hinata mengerti perasaan Kiba yang akan menemui ayah Hinata tidak lama lagi guna mengajukan lamaran atas putrinya, tapi ini juga merupakan beban bagi Kiba.
"Halah, tidak perlu mengkhawatirkanku, Hinata." Jelas Kiba, tak gentar sedikitpun. "Jangan bilang kau memintaku membatalkan lamaranku hanya gara-gara aku sedikit sensitif tentang masalah 'ayah'?" Hinata menjawabnya dengan memberikan tatapan lurus ke matanya. "Sekali lagi tidak usah khawatir. Aku juga tidak akan senang jika orang yang tak kita kenal menikahimu, 'kan?"
Kiba mengangkat dagu Hinata menggunakan jarinya. Ia ingin Hinata mendengarkan kata-katanya berikut secara seksama. "Dengan semua kesabaranmu di masa lalu, Hinata, cobalah untuk egois sekali-sekali."
Dia tidak bisa. Dia tidak bisa, hanya karena ini adalah Kiba yang akan menerima keegoisannya. Walau begitu, Hinata tetap menjawab, "...T-terima kasih, Kiba-kun." Hinata begitu ingin memeluknya. Ia juga senang karena Kiba sudah menolak tawarannya untuk menarik mundur pernikahan kondisional yang akan mereka lalui. B-bukankah aku telah bersikap egois barusan?
Jika kembali mengingat ketulusan Kiba demi menolongnya (belum lagi dengan lamarannya yang bagaikan dalam mimpi untuk si gadis tadi) Hinata seakan tidak bisa berhenti bersyukur terhadap tuhan karena menjadikan Kiba sahabat terdekatnya. "...B-boleh a-a-aku memelukmu?"
Senyum Kiba semakin lebar sembari menghela napas panjang. "Sini. Berikan pelukan terbaik pada calon suami-selama-setahunmu." Hinata memicingkan mata, menyambut tangan terbuka lebar Kiba, meraih punggung lebarnya, sebelum membenamkan kepalanya di dada Kiba dan menyeruput aroma tubuh Kiba dengan tamak.
Wangi hutan oak dari tubuh lawan peluknya menyelusup masuk melalui rongga hidung Hinata. Ini selalu ditandainya sedari dulu. Setiap kali dirinya berada didekat Kiba, ia selalu merasa berada ditengah hutan oak yang lebat. Dengan tambahan bau lembut anjing yang begitu bersahabat dari tubuh Kiba juga, Hinata bisa menghasilkan gambaran dirinya dikelilingi oleh sekelompok anjing sahabatnya yang ramah serta bersahabat. Hinata merasa kumplit.
Hinata mengeluarkan tawa kecilnya. "Kau tidak tahu Kiba-kun...seberapa bersyukurnya aku memilikimu." Kiba meletakkan dagunya pada kepala Hinata, tatapan matanya nampak begitu puas apapun itu yang dilihatnya. "Maafkan semua keegoisanku padamu. T-terutama yang satu ini."
Hinata belum ingin melepaskan tubuh yang begitu hangat tersebut, namun gonggongan heboh Tsubaki memisahkan mereka secara paksa. "Oh! Y-ya ampun! M-maafkan aku, Tsubaki-chan," Akhirnya menyadari ada seekor anjing yang tengah ia gendong, Hinata menyaksikan Tsubaki yang menggongong kepadanya.
Kiba akhirnya bisa tertawa begitu lepas malam ini. Ia meraih Tsubaki dari gendongan Hinata. "Hei, hei, Hinata tidak sengaja, jagoan cilik." Kiba menggantikan Akamaru menjilati pipi Tsubaki untuk merendahkan tensi ketika tidurnya terusik. "Tenang saja, Hinata, ia cuma terkekut."
"O-oh...y-ya, a-aku minta maaf sekali lagi ya, Tsubaki-chan."
"Baiklah. Aku harus kembali sekarang." Ujar Kiba, menggendong Tsubaki pada pundaknya. "Akamaru pasti akan memarahiku karena terlambat."
Sebelum ia membalik, Hinata meraih jaket kulit si pria bertato taring merah pada kedua sisi wajah. "Terima kasih, Kiba-kun. A-aku tidak tahu harus melakukan apa untuk membayarnya,"
Kiba melangkah mendekat pada Hinata, mengusap kepalanya. "Tidur yang nyenyak untuk malam ini, cengeng. Besok kita akan menemui bos kepala mafia, 'sih."
Setelah mendengar tawa kecil nan geli dari Hinata untuk sekali lagi, Kiba beranjak pergi. Sejak malam itu, Hinata melihat Kiba dari perspektif yang sungguh-sungguh berbeda. Dari belakang, punggung Kiba nampak begitu lebar dan begitu bertanggung jawab. Perasaan hangat itu kembali mendatanginya walau sosok Kiba sudah tak didekatnya lagi.
-o0o-
Malam itu Kiba bermimpi,
Ia tengah berdiri pada deretan kursi tamu paling belakang yang digelar di dalam aula putih bersih. Sekeliling aula melingkar tersebut juga dikelilingi oleh danau kecil yang disambungkan menggunakan jembatan menuju tanah utama. Jembatan dan bangunan ini nampak begitu mewah, lengkap dengan ukiran dan dekorasi elegan karya arsitek unggul. Kiba tidak akan 'pernah' mampu untuk membayar ini semua.
Didepan sana, berbalut dengan gaun renda berwarna putih suci tanpa noda, berdiri Hinata dengan rambut panjang lavender gelapnya digerai dengan begitu anggun. Setangkai bunga krisan menempel apik pada jepit rambutnya. Kiba tidak bisa menahan semburat merah ketika melihat penampilan yang bagaikan perwujudan dari dewi tersebut. Sebuket bunga dafodil pada tangan Hinata dan senyuman penuh akan kebahagiaan menghiasi wajahnya. Melihatnya saja membuat hati Kiba tergugah.
Ketika ia memasukkan tangannya kedalam kantong, Kiba merasakan satu benda kecil mungil melingkar sebelum mengeluarkannya. Cincin perak dengan dekorasi berlian mungil menghiasinya. Sekejap saja, Kiba tahu bahwa itu adalah cincin pernikahannya sebelum ini bersama Hinata.
Jadi...semua itu sudah berlalu, ya?
Kiba kembali menghadap kedepan. Hinata dan Naruto...mereka akhirnya menikah. Kiba tak memberikan ekspresi apapun. Masih memegang cincin tersebut diujung jarinya, Kiba merasa dadanya sedikit sesak.
Mata mereka berdua tiba-tiba saling bertabrakan. Senyum Hinata menghilang secara perlahan. Walau ketika melihat Kiba ia sedikit terkejut, Kiba bisa mengerti kalau Hinata tengah berpikir keras saat ini hanya dari tatapannya yang menatap balik 'mantan suaminya'.
Pandangannya terus tertuju pada Kiba selagi pendeta tinggi membacakan sumpah kepada kedua mempelai yang tengah disatukan. Hinata mengangguk lembut pada Kiba, mengangkat sedikit tangannya sebatas pinggang. Ia meminta Kiba untuk menarik dirinya, membawanya keluar dari sini.
Seluruh hadirin membalikkan tubuh mereka, memperhatikan tindak-tanduk Kiba. Seluruh mata itu menyorot dirinya dengan begitu sinis. Selagi seluruh tamu undangan mengeluarkan bisik-bisik konspirasi tanpa terkecuali, hanya Hinata yang tersenyum yakin kepadanya. Kedua mata nilanya sedikit berair, memantrai kata-kata dalam bisiknya pada Kiba untuk meraih tangannya. Secepatnya. Sekarang juga. Sebelum semuanya terlambat sama sekali.
Kiba menggeleng. Senyum Hinata menghilang. Kedua alisnya mengkerut kecewa, dan ia ikut menggeleng seolah bertanya balik padanya: '...Tidak?'
Tidak, Kiba menegaskan.
Dan semuanya berubah putih.
Kembali ke dunia nyata, Kiba terjaga dengan Akamaru yang menjilati sisi wajahnya dengan lembut. Napas Kiba tersengal. Ia sungguh-sungguh terkejut, dan tidak menyangka saja akan bermimpi seperti itu. Akamaru melengking, masih terus menjilati wajah Kiba. Di sisi lain dari tubuh Akamaru, ada Hinagiku, istrinya beserta dengan Tsubaki dalam pelukan kedua orang tuanya.
'Mimpi buruk?'
Apakah itu tadi mimpi buruk? Kiba sendiri tidak tahu. Ia memilih mengangguk, dan mulai berpikir kalau itu memanglah gambaran mimpi yang buruk. "...Mm, semacamnya." Ia mengusap keningnya yang telah lembab akan keringat.
'Hinata, 'kah?' Kiba mengangguk kecil. 'Ingin menceritakannya padaku?' Kiba hanya menggeleng. Akamaru kembali menjilati sisi wajah sahabat sehidup sematinya. '...Kembalilah tidur kalau begitu, Kiba.'
Kiba membenarkan tanktop gombrong bercorak tentara yang tengah dikenakanya, sebelum kembali merebahkan diri diatas kasur. Apa maksud mimpi itu, ia berbisik. Kiba memutar tubuhnya kearah Akamaru dan keluarganya terlelap. Cahaya bulan dari jendela menyibakmandikan wajahnya, menelanjangi pikirannya. Tak pernah Kiba tunjukkan memang, tapi yang seperti Akamaru miliki inilah impian Kiba. Tidur berpelukan dengan istrinya; buah hati mereka ditengah.
Semenjak kejadian kemarin, Kiba menjadi memikirkan masak-masak untuk menikah secara sungguh-sungguh. Tapi...dengan satu kesempatan menikahi Hinata, takdir Kiba di masa depan akan terkunci rapat.
Pernikahan seorang Inuzuka dan manusia lainnya agak 'sedikit' berbeda. Bagaikan anjing, jika sudah sekali memilih pasangan hidup ia tidak akan pernah menikah lagi dan berpindah kelain hati selama-lamanya.
Ini adalah taruhan beresiko. Untuk lebih jelasnya, dia tidak memiliki rasa yang terlalu spesial terhadap Hinata. Yang ia tahu, ia begitu perhatian pada Hinata lantaran gadis itu banyak mengalami kesulitan dalam hidupnya. Sebagai sahabat yang setia, semua yang dia lakukan ini adalah demi kebahagiaan Hinata. Walau itu berarti ia akan terikat selama-lamanya pada gadis tersebut meski harus bertepuk sebelah tangan.
Apakah satu tahun ini bisa menggantikan seumur hidup kesepianku nantinya?
Di ujung desa Konoha lainnya, di kediaman Hyuuga, Hinata membuka matanya. Ia terjaga begitu saja meskipun tidak ingat tengah bermimpi apapun. Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya. "...Tidak."
Ia kembali merapal mantera barusan. "...Tidak?"
Hinata duduk diatas kasurnya, melirik bulan dari balik gordin yang ditiup angin tengah malam.
-o0o-
Kiba tahu ibunya akan mengatai dirinya anak paling tolol sejagat raya. Dan dia juga tidak akan mau mengerti jika Kiba mengatakan "Hinata sudah terlalu banyak menderita dalam hidupnya."
Benar, 'kan?
Tsume Inuzuka menggampar putranya dengan sangat keras hingga telinganya rasanya melengking dan tengah memekik nyeri saat ini. "I-ibu, apa yang-?!"
"Jangan bilang kau berpihak pada adik tololmu ini, Hana!" Nada suara Tsume masih meninggi, menoleh kepada kakak perempuan Kiba satu-satunya.
"A-aku tidak bilang aku memihak padanya. Tapi, Kiba pasti sudah memikirkannya masak-masak." Hana berusaha menarik adiknya dari amukan sang ibunda. "Dia sudah mengerti akan resikonya tapi tetap melakukannya...i-itu sungguh terpuji,"
"Neechan," Kiba berusaha bangkit dengan bantuan Hana. Akamaru, Hinagiku, Kuromaru, dan Haimaru kembar tiga memilih diam dan tak berkomentar apapun. Akamaru 'pun sesungguhnya terkejut dengan keputusan Kiba ketika Kuromaru bertanya padanya tadi.
"...Kau tidak bisa memberikanku cucu nantinya, Kiba." Akhirnya suara Tsume bergetar. Ia duduk di bangku meja makan, mengusap kedua keningnya. "Memangnya penerus keluarga kita terlahir dari batu, ha?! Seperti Sun Wukong, begitu? Apa yang kau pikirkan dengan otak tumpulmu itu sebenarnya, aku tidak mengerti?"
"...Maafkan aku, ibu," Kiba merundukkan kepalanya. Dia sendiri, jujur saja, juga merasa bingung. "Aku sungguh minta maaf. Tapi...aku dibesarkan untuk peduli sesama; seperti anjing."
"Hyuuga cilik itu bukan anjing sepertimu." Jelas Tsume, tanpa intonasi. Ia entah mengapa merasa letih pagi ini hanya dengan membicarakan masalah ini.
"...Walau begitu, aku juga masih setengah manusia." Jawabnya, yakin. Itu mengalihkan perhatian Tsume dan Hana, kembali pada Kiba. "Dia...Hinata dianggap kekecewaan oleh ayahnya. Adiknya lebih unggul daripada dirinya dan menerima jauh lebih banyak sanjungan, baik dari anggota klan atau orang luar. Neji, sementara itu, adalah bayangan yang menutupi Hinata dengan kejeniusannya yang dipuja bagaikan nabi.
Tak seorangpun menganggapnya." Suara Kiba berubah menjadi sebuah bisikan. "Kecuali...Naruto."
"Bagaimana denganmu...?" Tsume bertanya tanpa melirik putranya. "Jadi kau akan menikahinya tanpa sedikitpun rasa kepadanya? Kau juga tak menganggapnya...?"
Ini pertanyaan sulit bagi Kiba. Sungguh.
Perasaan ini apa? Perasaan pada Hinata ini apa sebenarnya?
"Apa kau tidak bisa...meyakini Hinata-chan untuk menikahimu untuk seterusnya ketimbang Naruto?" Kini Hana yang bertanya dengan suara lembutnya. Yang ia inginkan hanyalah yang terbaik bagi adiknya.
"...Itu bukan pilihan." Kiba menggeleng. "Bahkan hampir seluruh penduduk desa tahu...hanya satu orang yang dicintai Hinata,"
Naruto.
Tsume berdiri dan mulai mengepak perlengkapannya. Meski kini umurnya sudah berkepala lima, ia masihlah merupakan salah satu petarung terbaik klan Inuzuka. Bersama Kuromaru, partnernya, ia melangkah ke pintu utama rumah. "Aku pergi misi, Hana. Tolong jaga rumah selama aku pergi."
Kiba menghimbau ibunya dengan suara menyerah. Sembilan bulan ia mengandung putranya, sembilan bulan ia memberikannya perhatian penuh, sembilan bulan ia membayangkan putranya akan menjadi pewaris dan membimbing serta menjadi panutan seluruh anggota klan. Sembilan bulan pula Tsume membayangkan putranya di masa depan akan memiliki pasangan hidup yang setia dan memiliki anak-anak yang selalu bersemangat seperti ayah mereka.
Dalam heningnya, Tsume merasa bangga dengan loyalitas dan rasa perhatian yang dimiliki putranya. Ia sungguh bangga. "Lakukan sesukamu, putraku yang bodoh."
-o0o-
Ketika Kiba kembali bertemu dengan Hinata, ada satu nuansa lega yang menyelimuti hatinya. Ia bersyukur Hinata baik-baik saja. Kiba merasakan secara samar sifat posesif yang anjing miliki terhadap pasangan mereka mulai terbentuk. Tapi Kiba berusaha menggeser pikiran itu untuk sementara karena hari ini cukup penting bagi Hinata... Bagi Kiba juga.
"Selamat datang, Kiba-kun."
"Sepertinya tidurmu tadi malam nyenyak ya?" Berbeda denganku, batin Kiba. Namun, melihat wajah cerah pagi hari Hinata membuat mood Kiba perlahan-lahan terangkat kembali. Dia mulai berpikir, menolong Hinata untuk yang satu ini sepertinya akan memuaskan batinnya...selama-lamanya. Tentu saja itu hanyalah satu dari sekian banyak pikiran naif kekanakan Kiba. "Akamaru, sebentar ya, sobat."
Akamaru mengangguk, dan Hinata mengajak Kiba masuk.
Si pemuda Inuzuka tidak bisa tidak melirik Hinata yang tengah berbalut kimono tebal, berbeda total dengan penampilan standar sehari-harinya yang casual dan terkesan tak peduli pada mode. Kimono Hinata berwarna biru tua sebagai warna dominan, dengan biru langit memberikannya warna tambahan. Rambutnya disanggul secara tradisional keatas kepala, memperlihatkan tengkuk jenjangnya yang mulus dan seputih permata. Itu memaku perhatian Kiba untuk beberapa detik. Ketika akhirnya Kiba mengarahkan kedua matanya ke punggung, lalu ke pinggang, hingga akhirnya ke sepasang bokong Hinata yang montok, Kiba semakin ingin memaki dirinya karena mulai berpikiran macam-macam.
"Menikmati apa yang kau lihat, Kiba?"
Imbauan itu mengejutkannya. Dia hampir saja tercekik napasnya sendiri. Hinata membungkuk dan gerakan itu dibalas serupa oleh orang yang menegur Kiba barusan. "Neji-niisan, selamat pagi."
"Selamat pagi, Hinata-sama."
"Uh, err, kau rupanya Neji," Kiba mendapati dirinya kelabakan ketika Hinata memutar tubuh dan bertanya apa yang tengah ia lihat.
Neji memejamkan matanya, tersenyum antara geli pada situasi dan murni menertawakan kelengahan junior akademinya tersebut. "Lukisan itu, Hinata-sama." Ia melangkah sedikit ke depan dan membimbing tatapan Hinata pada lukisan megah 80 inci yang menghiasi lorong utama kediaman Hyuuga. Lukisan tersebut kebetulan terletak bersebelahan pada posisi dimana Kiba dan Hinata berdiri.
"Oh!" Seru Hinata, benar-benar terkejut. "A-aku tidak pernah tahu kau memiliki selera terhadap karya sastra klasik, Kiba-kun!?" Tidak juga 'sih sebenarnya, bisik Kiba dari dalam benaknya. Kali ini Neji menolongnya. Senyuman congkak diberikan Neji secara tidak langsung kepada Kiba dengan kedok mengagumi lukisan tersebut.
"Lukisan ini adalah peninggalan kaisar Hideyoshi Toyotomi 400 tahun silam." Hinata memulai penjelasannya. Eh? Mau dijelaskan!? Kiba cukup terkejut melihat Hinata yang meneruskan penerangannnya. "Ketika lukisan ini dibuat, saat itu sang kaisar..."
Kiba terdiam, menyaksikan keagungan yang tengah ia pandang. Bukan, bukan lukisan tersebut, melainkan wajah Hinata. Kapan terakhir kali ia melihat Hinata begitu percaya diri seperti ini, Kiba tidak ingat. Melihat ekspresi penuh keyakinan si gadis ketika menjelaskan kuliahnya, itu mengirimkan getaran ke sekujur tubuh Kiba; dan ia berbisik Apakah ini masih Hinata yang ia kenal?
Tak ada tanda-tanda keraguan sedikitpun, baik dari nada ucapan maupun gerak tubuhnya. Dia begitu percaya diri. Kiba tak pernah tahu, jika wanita anggun yang begitu pe-de bisa menjadi seseksi ini. Hinata sungguh seksi.
Apa barusan dia melihat Hinata dari sudut pandang yang sungguh berbeda dari yang biasanya?
Kiba memperhatikan bibir berlapis lipgloss tradisional Hinata yang memiliki aroma leci bercampur mint. Dengan setiap kata dalam untaian kalimat, bibir Hinata bergerak dengan begitu menggairahkan. Sial, ada Neji disini. Tapi ketika Kiba perhatikan lagi, Neji sudah menghilang, meninggalkan suara Hinata yang masih menjelaskan secara panjang lebar dan Kiba yang tidak tertarik sama sekali untuk mendengarkannya.
Sesekali Hinata akan tertawa sembari memicingkan mata karena lupa dengan beberapa detil. Namun ia berusaha sebaik mungkin kembali pada jalur penerangan kuliahnya. Tak ada satupun yang masuk kedalam kepala Kiba kecuali satu hal,
"Kau cantik sekali hari ini, Hinata."
"Eh?"
Kiba mendekati Hinata, melingkarkan lengannya pada batas pinggul dan bokong Hinata. Si gadis memekik pelan karena terkejut, namun dengan sigap ia menutup mulutnya.
Aromanya begitu wangi. Campuran aroma buah-buahan dan bunga dari rambutnya ini membuat Kiba seperti tengah dibius. Kiba menarik tubuh Hinata sehingga memangkas habis jarak yang ada diantara mereka berdua. Kiba menusukkan hidungnya ke perbatasan leher dan pundak Hinata, memanfaatkan celah yang terbentuk oleh garis kerah kimono-nya. Kiba menghirup kuat apapun yang dapat diciumnya. Tubuh Hinata sedikit bergetar dan mengejang ketika Kiba berhasil meraih jackpot.
"K-Kiba-kun," Bisikan Hinata kembali keluar. Kali ini tak hanya bisikan biasa. Ketika Kiba perhatikan, wajah Hinata sudah membara akan rona, dan matanya, matanya seperti anjing betina yang hendak bercumbu dengan si jantan. Sebuah pemandangan yang teramat langka. Hinata melayangkan kedua lengannya, yang satu melintasi ketiak menuju punggung Kiba dan yang satunya melingkari leher untuk meraih rambut coklat berantakannya. "J-jangan,"
Suara serak basah itu hanya memaksa Kiba untuk melakukan lebih. Agar impas ia membalasnya dengan intonasi yang serupa. "Hm, tapi di telingaku kau seperti memintaku untuk terus."
Masih dengan Kiba mencumbui lehernya, napas Hinata semakin berat dan pandangannya menjadi berkabut. "...Hh, jangan...disini,"
"Jangan di leher?"
Bibir Kiba, dengan intim, berjalan meniti jalan setapak melintasi dataran musim semi dari pipi putih dan mulus Hinata menuju tepian lembah bibirnya. "Kalau begitu...disini?"
"Oh...b-bukan itu maksudku," Hinata semakin mengeluh lemah dalam dekapan kuat Kiba.
"Oh, ya?" Kiba menggeser sedikit bibirnya untuk berbicara tepat didepan bibir seksi Hinata yang sudah sedikit terbuka. "Bagaimana jika disini?"
Hinata seperti tengah diberikan berkat oleh Kiba. Segala hal yang ada di dunia berubah tak penting dan tak ada harganya ketika bibir pria tersebut akhirnya menyelami bibir lembut dan empuk miliknya. Hinata memberikan perlawanan dengan menjambak dan meraih punggung Kiba secara lebih kasar, namun kekuatan lengan dan dada si pria Inuzuka memojokkan sang penerus Hyuuga kepada lukisan klasik dibelakangnya.
Sebelah paha Hinata terangkat, meraih pinggang Kiba, memperlihatkan garis surgawi pahanya yang begitu anggun dan cemerlang bagaikan mutiara. Kiba meraihnya dan terus memojokkan Hinata. Seluruh bagian tubuh Kiba menyudutkan Hinata, tak terkecuali selangkangannya. Tiap kali Kiba menekannya, tiap kali itu pula secara respon Hinata melebarkan kedua pahanya untuk memberikan Kiba jalan lewat.
Bibirnya masih belum ingin terpisah, namun dengan sekuat tenaga Hinata mematahkannya.
Keduanya tengah memburu napas dengan brutal. Ujung hidung dan dahi mereka masih menempel seolah tak ingin terlepas. Hinata secara perlahan mengeluarkan senyuman kecil di tengah bara api rona pada wajahnya. Setelah memicingkan matanya sejenak, akhirnya Kiba mengeluarkan tawa rendah dari balik napasnya.
"A-a-apa yang telah kita lakukan?" Tanya Hinata, belum bisa mengganti senyuman keheranannya menjadi apapun juga. Seperti sehabis melihat aksi penyita napas yang luar biasa dari seorang pesulap kelas duina bias, Hinata terus menerka-nerka bagaimana trik barusan dilakukan dan dilaksanakan. Napasnya masih memburu keras, menembakkan tiap uap panas beraroma mint dan leci yang dapat diaromai oleh Kiba dengan baik.
"Entahlah." pria tersebut kembali tertawa, berbicara hanya beberapa mili tepat dihadapan bibir Hinata. Hinata bisa melihat taringnya, berada di ditepian lekukan bibirnya yang tengah terangkat. "Kita tidak sempat menggunakan lidah...tapi kita hampir saja bercinta." Kiba menggemertakkan gigi-giginya, menatap Hinata dengan penuh kegemasan. "Aku juga...hampir saja berniat menanam benihku didalam badanmu."
Hinata mengencangkan pagutan lengannya pada leher Kiba, sementara Kiba memegang kedua pinggul Hinata dengan begitu erat. Hinata menggigit bibir bawahnya sekali lagi, "...Oh, Kiba-kun," Untuk sesaat mereka terdiam, saling pandang dan tak mengalihkan mata mereka sedikitpun. Beribu-ribu keraguan terlukiskan dari mata Hinata, namun seluruh rasa ketidakpercayaan tersebut ditutupi oleh ketakjubannya.
"Jadi...kau tidak memperhatikan penjelasanku tadi?" Suara Hinata begitu pelan, hanya Kiba yang bisa mendengarnya. "Penjelasan panjang lebarku tadi?"
"Hm? Oh itu," Kiba menggerakkan matanya guna melirik lukisan dibelakang Hinata. Ia kemudian menunjukkan jari telunjuk kanannya pada setiap objek yang ia temui. "Ada rusa,"
"Itu kijang. Lihat? Tanduk panjangnya,"
"Mm-hm, terserah; dua-duanya sama-sama enak," Hinata berusaha kuat menahan tawanya, tapi tak kuasa, ia tertawa dengan intonasi serendah mungkin, masih tepat dihadapan wajah Kiba. "Lalu ada babi hutan... Kupu-kupu... Lalu, anjing yang keren-kaisar pasti merawatnya dengan sangat baik,"
Hinata sekali lagi tertawa dari balik napasnya. "Lukisan yang cantik; aku menyukainya." Kiba menyimpulkan. "Terima kasih sudah menerangkannya."
"Hm...sama-sama." Jawab Hinata. "...J-jadi, kau akan melepaskanku sekarang?"
"Ya...beberapa menit lagi,"
"Ayahku sudah menunggu sedaritadi,"
"Oh, aku akan dibunuhnya."
"Kita akan dibunuhnya."
"Aku tidak keberatan...asal bersamamu," Kiba sudah tak memikirkan hal-hal merepotkan lagi. Mau satu tahun 'kek, mau selamanya 'kek, asal ia bisa memiliki Hinata barang satu menit saja, ia sudah bisa mati berbahagia. Ada aroma kenikmatan yang belum pernah dirasakan Kiba sebelumnya; itu membuatnya begitu menginginkan Hinata. Sangat. "...Kita sungguh akan dibunuhnya, ya?"
Hinata mengangguk, simpel; senyumannya tak pernah lepas dari sepasang mata Kiba. "Baiklah, kita selesaikan ini dengan cepat." Kiba melepas Hinata dan meraih tangannya.
Ketika Kiba mengeratkan tangannya, ia pikir ia takkan mendapat balasan dari Hinata. Namun gadis itu meremas balik dan menatap wajah Kiba, penuh akan determinasi. "A-aku tidak akan membiarkanmu pergi seorang diri, Kiba-kun."
"Sepertinya aku akan langsung menuju surga jika mati tepat dihadapanmu." Ia bergurau, setengah melucu dan setengah serius.
Kiba hanya telat beberapa detik...sebelum menyadari bahwa tindakan dan aksinya barusan akan memelintir putaran takdir menuju pintu keluar yang sama sekali tak pernah diduganya.
Detak-detak linier takdir telah didistorsinya; hubungan Kiba - Hinata - Naruto takkan pernah sama seperti yang dulu.
|Bersambung|
Berikutnya di Canis Loyalis:
"Jadi yang harus kulakukan untuk bisa menikahi Hinata adalah melakukan Ahura Kai, Hiashi-san? Apa ketentuannya?"
"...Satu lawan satu; kalahkan aku."
AN: Ups itu tidak akan baguuus, Kiba. Dia bakal kena bully kayaknya, apalagi setelah batukbercumbubatuk dengan Hinata di kediaman utama Hyuuga sendiri. Kiba bakalan mampus beneran 'nih kayaknya. Gimana menurut pembaca? Lalu bagaimana perasaan Hinata thd Naruto sekarang? Yang jelas adegan terakhir tadi murni dalam pengaruh kendali birahi tanpa melibatkan cinta...mungkin.
Ada bagian yang paling disuka? Kalo saya 'sih yang pas 'itu'. Itu yang 'itu'! Iya, yang 'itu'!
Saya khawatir dengan respon pembaca menyangkut perkembangan plot ini. Karena itu silahkan masukannya. Saya begitu membutuhkannya.
Please review here! Click! Voila!
Crow, signed out. Adieu!
