Hiks...meski saya (secara tidak sengaja) mengupdate fic ini agak sedikit terlambat, lantaran beberapa alasan tak terhindarkan, rasa terima kasih saya tidak akan pernah cukup rasanya kpd seluruh reviewer. Karena itu, saya akan mengisi setiap keterlambatan dengan chapter berkualitas dan panjang yang gak tanggung2. Anyway, OoT, saya cowok tulen (23), kuliah, september ini wisuda. Ngeri kan, padahal udah diujung tanduk masiiih aja nulis fic.

Without further a do, please enjoy your ride.

Canis Loyalis

Fic by Crow

Chapter 5: From the Fox for the Lioness with Dog

"Kau melakukan hal yang benar, Kiba." Walau Shino tidak melihat Kiba mata-ke-mata secara langsung, entah mengapa Kiba merasa tenang.

"S-sungguh?"

"Ya. Ketika tadi pembicaraanmu menjerumus ke bagaimana kau ingin memanfaatkan 'tubuh' Hinata walau hanya untuk satu tahun, aku sudah menyiapkan seranggaku untuk segera menghisap habis chakra dari alat reproduksimu." Bulu kuduk Kiba berdiri keseluruhannya. Jika Shino mengancam, cepat atau lambat ia akan melaksanakan ancamannya tersebut. "Tapi...kau benar-benar mementingkan kebahagiaan Hinata melebihi apapun. Aku salut."

Senyuman lemah Kiba keluar. Senyuman pasrah dengan sepasang alisnya sedikit menurun dan juga tatapan mata yang menerima keadaan apa adanya. Yaah, bagaimanapun juga Hinata sangat mencintai Naruto, pikir Kiba dengan cepat. Sedikit keintiman yang ia berikan kepada Hinata tidak akan merubah apapun. Seperti yang lalu-lalu, seberapa besarpun perhatian yang diberikannya bersama dengan Shino, didalam kepala batu Hinata yang ada hanyalah Naruto dan Naruto seorang.

"Maafkan aku karena sudah memaksakanmu tadi, Kiba-san," Anzu menyentuh pundak Kiba, menyadarkannya dari lamunan. "W-walau pada akhirnya...kalian tidak akan bersama, tapi paling tidak kau adalah orang terpenting dalam diri Hinata."

"Terima kasih, Anzu-san," Kiba memberikan senyumannya lagi. Ia mulai berdiri dan meregangkan tubuhnya. Kiba belum mengatakan konsekuensi dari tindakannya ini kepada pasangan Aburame. Jika ia menceritakannya, mereka pasti akan memaksa Kiba untuk menghentikan kekonyolan ini sekarang juga. Tapi...tetap saja tidak ada yang mau mengalah...

Naruto tidak ingin mengalah dari impiannya untuk menjadi Hokage.

Para sesepuh tidak ingin menunda pernikahan Hinata sedikit lebih lama lagi.

Kiba tidak ingin membiarkan Hinata menikah dengan orang asing yang tidak tentu ujung pangkalnya. Bagaimana jika mereka hanya membawa siksa dan ketidakbahagiaan terhadap Hinata?

Langkah pertama dari sini mungkin adalah menemui Naruto.

Berpamitan dengan Shino serta Anzu, Kiba berjalan keluar komplek Aburame bersama Akamaru disebelahnya.

'Oke...' Komentar Akamaru dibawah terik matahari. Ketika tak satupun dari mereka berbicara dengan hebohnya, berarti ada keadaan yang agak mengganjal. 'Kau mulai bersikap aneh, Kiba. Jangan terlalu banyak berpikir atau kau akan jatuh sakit.'

Kiba menyengir, mengusap kepala Akamaru dengan begitu bersahabat."Memiliki anak dan istri membuatmu perhatian, ya Akamaru." Si anjing putih hanya memberikan umpatan pendek dengan menggeram. Ekspresi Kiba berubah tenang untuk sesaat sebelum kembali bertanya. "Hei, bagaimana rasanya memiliki keluarga? Meski sudah hampir dua tahun, aku belum pernah bertanya padamu, 'kan?"

Akamaru dan Kiba berpindah ke tepian kalan untuk berteduh dibawah pohon nan rindang. Akamaru mulai menjelaskan. 'Yaah, pertama, kau...merasa terpenuhi.' Jelasnya, singkat. 'Yang paling membuatmu merasakan hangat pada hatimu adalah ketika kau pergi jauh kemanapun juga...ketika kau mengingat rumah, kau menyadari bahwa ada seseorang yang terus menunggu kepulanganmu, menantimu dengan begitu setia. Mengharapkanmu kembali hanya untuk melihat senyummu, mendengar suaramu, dan juga menjilat pipimu.'

Kiba semakin tenggelam didalam pikirannya. Kedua matanya sedikit bergenang akan air mata. Jika dia membayangkan hal demikian terjadi padanya, ia hanya bisa menampilkan imagi Hinata sebagai istrinya. Kiba tidak bisa membayangkan wanita lain karena dia tidak begitu akrab dengan perempuan, dan karena hubungannya dengan Hinata memang cukup seistimewa itu sebenarnya.

Tapi ketika Kiba menyadari takdirnya...seorang diri, ketika ia kembali ke apartemennya, ia akan disambut oleh gelapnya ruangan. Ketika ia menyalakan lampu pada tepian daun pintu 'pun yang menyambutnya hanyalah ruang kosong dimana angin hantu bertiup dengan heningnya; persis seperti yang terjadi didalam hatinya.

Akamaru kembali menjilat sisi wajah Kiba. Kali ini dengan penuh perhatian dan kekerabatan. 'Kau masih bisa membatalkan semua ini, Kiba.' Jelasnya. 'Kau tidak bisa membiarkan dirimu sendiri selama-lamanya. Kau butuh rekan hidupmu yang sebenarnya. Bukan Hinata.'

"Entahlah, Akamaru." Kiba meraih tubuh besar anjingnya dan membenamkan sisi wajahnya pada punggung Akamaru. "Mengingat umurku yang sudah semakin matang, aku mulai memikirkan prospek masa depanku. Tapi sekuat apapun aku ingin beralih ke wanita lain, sekuat itu pula aku berharap mendapatkan perhatian dari Hinata."

Akamaru tidak ingin tahu apa yang Kiba lakukan di punggungnya dengan suara serak itu. "Aku mengerti aku sudah berbuat aksi tolol lainnya. Tapi, dengan semua keintiman dadakan antara diriku dan Hinata, itu membuat perasaan yang tertidur di dalam diriku bangkit. Jauh, jauh di dalam alam bawah sadarku, ternyata aku memang menginginkan Hinata."

'Menurutmu itu adalah cinta?' Tanya Akamaru.

"Aku tidak tahu-aku tidak mengerti," Kiba mengangkat kepalanya sebelum kembali bersender pada batang pohon taman rindang. "Aku hanya ingin membuatnya nyaman, aman, dan membuatnya merasa dibutuhkan olehku. Aku membutuhkannya...karena ketika aku melihat kearahnya, aku melihat sosok yang begitu tegar dan kuat. Dia hanya kurang beruntung dilahirkan di keluarga sinting-jenius itu."

Akhirnya Kiba menyimpulkan perkataannya. "Aku ingin seseorang berada dibelakangku untuk menegurku ketika melakukan kesalahan, menyabarkanku ketika aku kehilangan kontrol atas kebodohan dan kepala panasku, dan selalu ada disana untuk memberi senyuman lembutnya yang menenangkan kepadaku. Aku...sepertinya ingin wanita itu adalah Hinata."

'Jadi kau ingin menikahinya dengan sesungguhnya?'

Kiba tidak perlu menjawab hal yang sudah jelas jawabannya. Ini bukanlah kata kata 'cinta' yang selalu digembar-gemborkan. Perasaan ini tulus. Murni. Tak bernoda. Bagaikan sepasang mata bayi ketika baru terlahir ke dunia.

Ia ingin terus bersama Hinata. Sesimpel itu.

"Aku tahu...aku ini naif, dungu, atau apalah. Tapi aku hanya ingin melihat senyum Hinata itu, walau dari kejauhan, aku ingin melihat senyum mungil dan manisnya itu tak pernah memudar." Kiba kembali menatap anjing setianya. "Meski itu berarti dia harus bersama Naruto, aku akan melakukan apapun. Meski napsuku menghalangiku untuk melakukan hal ini dengan sejujurnya, aku akan terus memaksa diriku untuk membuat Hinata tersenyum. Meski aku harus menjauh darinya selama masa-masa pernikahan kami, aku akan melakukannya. Semuanya demi dirinya."

Akamaru tidak pernah melihat raut wajah Kiba secerah ini. Bukan karena senyuman pahit itu, tapi karena momen ketika dimana seseorang mengeluarkan isi hatinya, dan membiarkan orang lain melihat dan menelanjangi isi kepalanya. Akamaru melihat kepolosan tolol yang begitu hangat, serta;perhatian yang begitu lembut dari dalam diri Kiba.

-o0o-

"Hei,"

"Owh, hei Kiba!" Sosok Naruto membalikkan tubuh dan menyapa balik temannya dengan mulut yang masih dipenuhi ramen. "Apa kabar? Aku sudah lama tidak melihatmu!"

Kiba selalu berpikir, diantara semua orang yang ada di desa ini, hanya Naruto yang paling mudah ditemui. Pria pirang calon Hokage ini menghabiskan 70% waktunya di Ichiraku jika waktu tidurnya dihitung juga. Saat pergi misipun ia membawa beberapa Ichiraku ramen instan bersamanya.

"Hm? Oh ya...begitulah. Mungkin kau sibuk dengan ujian chuunin dan tes jounin," Kiba mulai menjelaskan. "Aku juga sibuk misi jounin...maklum sajalah."

Kiba duduk disebelah Naruto dan memesan sepiring gyoza daging asap. "Jadi...bagaimana tes Hokage-mu, Naruto?"

Kiba menyadari Naruto tengah mempelajari beberapa gulungan diatas meja kedai. Jika dilihat lebih terperinci lagi, itu adalah teknik dan jurus rahasia level-A khusus Kage. "Hm, lancar sekali. Nek Tsunade juga tidak memberikan kesulitan yang berarti. Belum lagi dewan senat Konoha yang sepertinya juga menyarankan pada nenek sudah waktunya untuk gantung topi Kage dan beristirahat."

"Bagus." Kiba berkomentar. Jika saja Naruto sejinak ini, ia berpikir jika mereka bisa menjadi teman baik. Api tambah api hanya menghasilkan kobaran yang takkan pernah habis, bukan? "Berapa lama lagi kira-kira?"

"Tidak sampai enam bulan. Kenapa?"

Bagus, enam bulan. Ini menjadi lebih mudah dari perkiraanku...

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Temui aku di Training Ground No.16."

Kiba tidak ingin berbicara banyak di kedai. dia tidak ingin kedai ternama seperti Ichiraku luluh lantah menjadi satu dengan tanah.

Sekitar sepuluh menitan Kiba menunggu si pirang hingga akhirnya orang yang dimaksud muncul dan menghampiri si jounin pengejar.

Masih dengan beberapa gulungan dibacanya, Kiba dibuat takjub dengan kerajinan mantan murid drop-out yang satu ini. Setelah mendengar sapaan 'Yo!' yang khas dari Naruto, Kiba berniat langsung ke topik permasalahan.

"Naruto, aku tidak ingin berpanjang lebar. Aku ingin ini selesai dengan cepat."

"Hm? Ok, baiklah." Naruto menyengir, berkomentar tentang bagaimana Kiba nampak lebih (sok) dewasa karena sudah menjadi jounin. Menerima omelan singkat Kiba, ia langsung melanjutlan.

"Aku akan menikahi Hinata." Titik. Kiba tidak berniat melanjutkan pernyataannya sebelum Naruto merespon.

Seperti yang sudah dikira Kiba sebelumnya, raut wajah calon Hokage itu perlahan-lahan berubah murka. Sejujurnya, ya, sejujurnya, Kiba sudah bersiap menerima bogem mentah dari Naruto.

"...Asal kau tahu saja Kiba, sebelum aku keluar rumah tadi aku yakin hari ini bukan tanggal 1 April. Leluconmu tidak membuatku tertawa sedikitpun." Naruto menggulung rapat gulungan pelajarannya, dan mengembalikannya kebalik pinggang. "Jika kau ingin melucu, cobalah yang lebih 'nyata' sedikit."

'Nyata'?-Urat amarah Kiba hampir pecah. Apa maksudnya 'nyata'? Apakah dia berpikir kalau pernikahan antara Kiba dan Hinata hanya terjadi didalam mimpi.

Tapi sekali lagi, Kiba berusaha menahan amuknya. Khusus untuk saat ini. "Aku mengerti jika kau tidak percaya. Tapi itulah kenyataannya. Setelah ini aku ingin bertemu Hokage untuk memberikanku rekomendasinya menantang Hiashi, ayah Hinata."

"Oi, oi." Suara Naruto terdengar bergetar akan amarah dan rasa tidak percaya. "Lalu bagaimana denganku!? Aku adalah kekasih Hinata, dan bukan kau Kiba!"

"Naruto, aku berusaha kuat untuk tidak mengikuti emosimu saat ini!" Kiba menghardik balik. "Kalau kau terus seperti ini...aku jadi harus memikirkan ribuan kali untuk membiarkan Hinata menikah denganmu!"

Naruto menyengir tak percaya. "Oh, oh, jadi kau lebih baik dariku? Apa yang kau pikirkan, Kiba?! Menikahi pacar orang! Kau gila atau apa?"

Kiba menahan kuat rahangnya untuk tidak segera menerkam Naruto dan mencabik dagingnya. "Kalau begitu maafkan aku karena sudah terlalu peduli dan sayang kepada sahabatku, Naruto! Kalau saja kau tidak mengecewakannya gara-gara gelar Hokage...yang-yang konyol itu!"

"...KAU!"

Naruto meraih kerah jaket kulit Kiba, menggemertakkan buku-buku jarinya; Akamaru bersiaga akan pertarungan, kepalan Naruto menempel pada sisi pipi Kiba, Akamaru melompat dan menggigit lengan Naruto.

Semua terjadi begitu cepat hanya dalam hitungan detik. Akamaru melepas lengan Naruto dan beralih mendekati Kiba, partnernya. Akamaru menggeram penuh akan amarah kearah Naruto. Ia menggeram begitu kesal: 'Dan orang tak sabaran ini adalah calon Hokage kalian? Aku lebih memilih untuk segera pensiun jadi anjing-ninja,'

Kiba berusaha kuat untuk menghilangkan bintang-bintang dan kilau-kemilau yang masih berkerlipan di matanya. Sial, kuat sekali pukulannya?!

Kiba menepuk pundak Akamaru untuk menenangkannya. Kiba menggeleng pelan kearahnya. Hidung dan bibir Kiba mengalirkan darah segar. Bibirku sepertinya pecah,

"Untuk catatan saja Naruto, aku tidak bermaksud memberikan ultimatum ataupun tantrum...tapi kau berhutang satu bogem mentah dariku."

Napas Naruto masih memburu. Pikirannya masih kalap. "Coba katakan sekali lagi kau akan menikahinya!"

"...Hh, ya, aku akan tetap menikahi Hinata."

"Satu bogem saja tidak cukup sepertinya, Kiba!"

Akamaru kembali bersiaga, menghalangi Naruto menghampiri partnernya yang tengah tak berdaya diatas tanah. "KAU HARUS MENDENGARKAN ORANG BICARA DULU, SIALAN!" Kiba berteriak, benar-benar emosi; kesabarannya sudah habis nampaknya.

Sial, sebenarnya seberapa kuat pukulan si brengsek ini?! Kiba masih merasakan sisi wajahnya nyut-nyutan sehabis berteriak lantang. Sebanyak apapun misi yang ia terima, sebanyak apapun kriminal dan ninja pelarian yang eksel pada bidang taijutsu, Kiba belum pernah merasakan tinju mentah yang sekuat ini sebelumnya.

"Aku harus menikahi Hinata sekarang. Karena jika tidak, sesepuh Hyuuga akan menjodohkannya dengan pria asing dari negara lain." Kiba mulai bisa merasakan sisi wajahnya kembali, kesemutannya perlahan menghilang. "Setelahnya kami akan bercerai; Hinata menjadi pemilik sah Hyuuga, dan kau...kau bisa menikahinya setelah menjadi Hokage."

Pertamanya Naruto memikirkan ulang perkataan Kiba, namun ia memutuskan untuk mengklarifikasinya lagi. "Konyol sekali, Kiba. Kau semakin terdengar bodoh dari yang biasanya."

Kiba tidak langsung menjawabnya. Akamaru yang merasakan Kiba yang tengah tersinggung dan terpukul, kini kembali menjilati sisi mukanya. "Biar adil, Naruto..." Mulai Kiba. "Aku memang bodoh; aku bukanlah pria yang memiliki kejeniusan tersembunyi sepertimu. Ya, aku mengakuinya. Aku kagum padamu, walau aku tidak begitu suka mengatakannya. Tapi untuk yang satu ini...aku senang...karena aku mengerti perasaan Hinata melebihimu. Jauh melebihimu."

Naruto mulai mencerna perkataan Kiba. "Dengar, Naruto. Aku murni melakukan ini semua demi Hinata. Namun dibandingkan denganku dan Shino, ia jauh berbahagia jika berada bersamamu. Kami selalu tahu itu."

Kiba belum ingin membiarkan Naruto menyelanya. Jika kembali diingat, kenangan yang telah mereka lalui bersama berempat, Kiba, Naruto, Shikamaru, dan Chouji, mungkin hanya akan tinggal kenangan indah. Naruto yang bodoh, Shikamaru yang pemalas, Chouji si rakus, dan Kiba si anak anjing yang sok jadi bos.

Kiba ingin tetap berteman dengan Naruto. Tapi, Naruto-nya yang sekarang berada beberapa konstelasi jauh diatasnya. Sementara Kiba, jika mau jujur, mungkin berada di level terbawah, jauh dari teman-teman Konoha 13-nya yang lain.

Kiba hanya mulai tersadar akan realita disekitarnya. Dia tersadar bahwa dirinya tidak memiliki dasar-dasar sebagai seorang Hokage. Dia juga sadar bahwa ia bukan lagi rival Naruto. Dan ia juga telah sadar kalau balas dendam atas tindakan memalukan Naruto terhadapnya pada ujian chuunin tidak akan pernah terwujud sampai kapanpun juga.

Lebih baik, bukan...? Untuk tersadar akan realita ketimbang melayang tak tentu di alam mimpi?

"...Karena itu, aku akan menyatukan kalian berdua."

"Grr...memangnya ada apa sebenarnya, Kiba?!" Seru Naruto, kali ini dia tidak ingin disela. "Ada apa sebenarnya ini?"

"Kau masih ingat, pasti, ketika Hinata mengajakmu menikah kemarin." Naruto mengangguk. "Dia melakukannya lantaran sudah disudutkan oleh sesepuh Hyuuga. Jika tidak menikah sebelum usianya memasuki 24, dalam beberapa hari lagi, ia akan dijodohkan dengan orang lain yang tak dikenalnya sama sekali secara paksa. Satu-satunya pria yang ia inginkan hanyalah kau, Naruto. Tapi demi gelar Hokage, kau menolaknya begitu saja."

Naruto mengeluh kesal bercampur rasa bersalah. "Tapi kenapa dia tidak bilang padaku?!"

"Itu karena dia sangat mencintaimu; dia hanya tidak ingin kau sampai mengurunkan niatmu menjadi Hokage gara-gara dia!" Kiba menggeleng. "Kau tidak pernah mengerti, Naruto; Hinata memang wanita sebaik dan sepolos itu!"

Naruto tak memiliki apapun untuk membalas. Dia tidak tahu harus memilih yang mana. Gelar Hokage atau Hinata? "...Aku tidak mengerti, Kiba."

"Kau cukup lihat dan berusaha untuk mengerti Hinata lebih dari sekarang." Kiba mulai berdiri dan melangkah menjauh. "Aku tahu kau takkan sudi melepas gelar Hokage yang akan segera kau raih. Karena itu enam bulan lagi, aku akan menceraikan Hinata dan kau bisa kembali bersamanya. Kau cukup pura-pura menghiburnya biar keluarga Hyuuga percaya bahwa Kiba adalah bajingannya disini. Jangan khawatir, Naruto...aku tidak mencintainya. Tidak akan ada perasaan yang terlibat dalam pernikahan kami. Pada akhirnya, semua senang, semua menang."

Naruto menyusul Kiba dari belakang, dan menarik pundak agar kembali bertemu pandang dengannya. "Hei, apa-apaan itu, brengsek!? Apa maksudmu? Aku tidak bisa membiarkanmu melakukan hal itu?"

"Aku tidak punya pilihan lain, Naruto. Jika kau menjadi Hokage kelak, kau bisa merubah peraturan konyol Hyuuga itu. Kau bisa membawa kedamaian, bahkan ke klan Hyuuga yang tidak kalah terkutuk dengan Uchiha. Dan lagi, aku percaya jika harus menitipkan Hinata padamu. Jika...kita tidak melakukan sesuatu sekarang, Hinata akan berada di tempat yang terlalu jauh. Bahkan dengan gelar Hokage-mu, kau tidak akan bisa melerai pernikahan dua orang yang dianggap saling mencintai. Apalagi jika salah satunya berasal dari negara besar shinobi selain Hi. Sayang, 'kan, sudah sejauh ini kau mempertahankan kedamaian sebagai duta perdamaian."

"Tapi, kenapa Kiba...?" Intonasi Naruto menunjukkan rasa iba kepada sahabat masa kecilnya. "Kenapa kau melakukan ini-sejauh ini? Apa yang kau dapat?"

Pertanyaan itu lagi? Kiba menyengir didalam hatinya. "Tidak usah memikirkan itu. Lagipula aku tidak menolongmu. Hanya tidak sengaja saja karena kau bersama dengan Hinata."

"Grr...! Kau akan menerima cemooh semua orang! Kau akan menerima 'tatapan' dingin itu juga! Apa kau tidak peduli, Kiba?!" Ketika pemuda dari Inuzuka itu melanjutkan jalannya, Naruto bersorak. "Kau belum menyadari perasaan terpojok itu hingga kau merasakannya sendiri! Itu tidaklah enteng!"

"Semenjak dulu, aku tidak pernah peduli dengan mereka semua, Naruto. Lagipula klan Inuzuka memang selalu dipandang sebelah mata hanya karena kecenderungan kami bersama anjing. Mereka tidak mengenal kami. Mereka hanya melihat kulit luar kami. Mereka tidak tahu apa-apa karena mereka cuma ikut-ikutan sesamanya. Karena itu mereka bodoh dan berwawasan sempit. Mereka lebih parah dan buruk dari anjing, jika kau bertanya padaku."

Naruto berdiri seorang diri di bukit kecil training ground ini. Nampaknya tak ada satupun kata yang bisa merubah keputusan Kiba saat ini.

Masalah perdamaian adalah masalah yang jauh lebih kompleks dari yang terdengar. Masalah klan, masalah 'pengucilan' grup oleh masyarakat luas, dan terutama masalah seperti ini... Naruto sudah merasa cukup ketika salah satu sahabatnya termakan kebencian. Naruto tidak ingin Kiba menjadi salah satunya.

Naruto pernah dengar dari kabar angin lalu, tentang bagaimana orang-orang melihat klan Inuzuka. Naruto tidak suka pengotak-ngotakan itu. Ia benci ketika ada seseorang atau beberapa orang dikucilkan.

Sasuke sudah kembali ke desa. Tapi sepertinya, Naruto harus menambah satu masalah ini kedalam 'buku rencana Hokage'-nya.

Sudah cukup dengan semua kebencian, dendam dan masalah tersembunyi.

Kiba adalah sahabatnya. Terlebih lagi, sahabat yang begitu rela berkorban... Dia pria yang baik, batin Naruto.

Naruto tahu apa itu Ahura Kai (berkat studinya). Jika saja Kiba kalah dalam duel itu, dia harus menghadapi konsekuensi setimpal karena sudah berani menantang Hyuuga.

Ada satu destinasi pasti yang harus dituju Naruto. Jika Kiba rela mengorbankan segitu banyak nasibnya; dia 'pun begitu. Heh, aku tidak pernah mau kalah darimu semenjak kecil, Kiba. "Jangan kira hanya dirimu saja yang bisa berlagak keren. Aku bisa membacamu seperti buku!"

Ada satu hal terpenting yang harus dipastikan Naruto.

-o0o-

Malam sudah tiba. Jika Naruto tidak salah, kediaman Hyuuga sudah seperti rumah hantu sepinya pada pukul sebelas malam. Naruto juga ingat tentang curhat Hinata yang mengatakan bahwa ia selalu belajar tentang masalah diplomasi, ekonomi, dan hubungan masyarakat sebagai calon pewaris klan Hyuuga. Sampai jam dua belas tengah malam, kira-kira biasanya. Jadi, pikir Naruto, mungkin Hinata masih terjaga saat ini.

Naruto melompat dengan anli dari satu atap rumah ke atap lainnya. Bagaikan ninja yang paling lihai dan hebat, langkah kakinya 'pun bahkan tak bisa dirasakan hingga akhirnya ia mendarat pada salah satu balkon rumah utama klan Hyuuga.

Naruto mengetuk pintu jendela kamar seseorang dengan interval unik. Nampaknya itu adalah sandi rahasia untuk memanggil siapapun yang berada didalam.

Ketika Hinata membuka gordin jendelanya, kedua matanya melebar tak percaya akan hal yang dilihatnya. "Hai," Sapa Naruto ketika si gadis mendapati dirinya tak bisa berkata apa-apa.

"N-N-N-Naru-Naru-" Gelagapan seperti biasa, pikir Naruto dengan humorisnya. "T-tunggu sebentar...biar kubukakan,"

Ketika Naruto mendarat di kamar Hinata, si gadis berniat memeluk si calon Hokage Konoha. Tapi ekspresi-tidak, nuansa hati Naruto begitu tenang dan membuat Hinata nyaris pangling mengenalnya. Memang dia adalah Naruto yang biasanya. Tanpa Byakugan 'pun, Hinata bisa mendeteksi mana Naruto asli dan yang palsu.

Hanya satu pertanyaan Hinata...mengapa Naruto memasang raut demikian?

"Aku sudah dengar, 'loh Hinata."

Wajah si gadis kembali berkobar akan rona. Ia langsung menyadari maksud Naruto saat itu juga. "M-maafkan aku, Naruto-kun...semuanya terjadi begitu saja dan aku...aku tidak ingin m-m-menikah dengan orang asing. K-Kiba-kun tidak bersalah...d-dia hanya-"

Naruto meletakan satu jarinya pada bibirnya sendiri dan mendesis kearah Hinata dengan wajah rubah klasiknya. "Sst-! Jangan keras-keras. Kalau ayahmu menemukanku, aku pasti dibunuhnya."

"M-maaf," Hinata kini yang berbisik.

Naruro kembali memusatkan tatapan dan chakra alamiahnya yang lembut kepada Hinata. "...Jadi bagaimana perasaanmu? Akan menikah dengan Kiba dan semacamnya?"

Kerika mendengar kata-kata itu dari orang lain tanpa ia pikirkan pertamanya, membuat Hinata teringat pada ciuman panas yang ia bagi dengan Kiba. Saat-saat dimana ia merasa hidup dan dibutuhkan oleh keberadaan sumber panas yang berkobar bak api kehidupan. Itu semua mencairkan tubuh Hinata bagaikan lilin.

Wajah Hinata kembali merona, dan Naruto menangkap ekspresi lain daripada yang lain barusan. Ronanya berbeda. Ekspresinya berbeda. Hanya dari itu saja membuat perasaan Naruto sudah terkalahkan dari Kiba. Rona itu adalah rona kebahagiaan. Rona yang belum pernah dilihat Naruto sebelumnya dari Hinata.

Sepertinya dugaanku benar, pikir Naruto. "Sahabat masa kecil itu...memang selalu meninggalkan kesan mendalam, bukan begitu?"

"...Eh? M-maksudmu, Naruto-kun?"

"Kau tampak 'bahagia'." Naruto tersenyum kearah Hinata, memicingkan matanya sembari menyentuh pundak si gadis. "Begitu bahagia."

Hinata menyentuh wajahnya dengan kedua tangan. Ia nampak megap-megap tak kuasa menahan ekspresi terbakarnya itu. "Kau tidak bisa berbohong, Hinata,"

Mereka terdiam sejenak. "Kiba sudah merebut hatimu dariku."

Wajah Kiba terbayang kuat dalam pikiran Hinata. Bagaimana aroma maskulin tubuh Kiba yang begitu menggoda Hinata, dan bagaimana lembabnya bibir dan taring liar itu ketika mengapit erat bibir Hinata. Hanya satu malam. Hanya satu malam, demi Rokudo Sennin. Hanya satu malam, dan kini semuanya telah berubah.

Kiba meniupkan badai kuat kedalam hati Hinata. Membuatnya tersedot dan terbawa setiap inci dari keberadaan Kiba.

Pemikiran itu membuat Hinata tersedak...dan tersedak lagi. Hinata meraih segelas air mineral dari tepian meja belajarnya. Ia berusaha mengalihkan wajahnya dari Naruto; apa yang akan pemuda itu pikirkan nantinya?

Mereka tengah 'beristirahat'; meski Hinata sempat mengatakan 'putus' saking kalapnya dalam keterkejutan dan kesedihan. Tapi, hanya satu yang membuatnya bingung, apa hati manusia bisa berubah hanya dalam dua hari maksimal?

Mengapa tiap kali dia berpikir mencintai Naruto saat ini, perasaannya malah berkata lain. Setiap kali ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa pernikahan ini hanyalah siasat demi kepentingan Hinata, malah membuatnya semakin ingin berada didekat Kiba lebih lama lagi, bila tidak untuk selamanya; merasakan hangat dan hasrat dirinya.

Yang lebih anehnya lagi...mengapa setelah Naruto berkata demikian, Hinata menjadi sedikit lebih tenang berada didekatnya? Berbeda dari biasanya yang bahkan tidak berani menatap mata biru lautnya selama lebih dari lima detik.

Kini Hinata membalas tatapan tenang Naruto konstan selama beberapa menit dalam hening. Hingga akhirnya elusan akrab Naruto pada kepala Hinata mengejutkannya. "Tidak apa. Tidak apa, Hinata."

"...Naruto-kun?" Gelagapnya hilang. Gelagap Hinata terhadap Naruto menghilang entah kemana. "...Maafkan aku,"

Kedua bola mata si gadis mulai berlinang dan Naruto yang melihatnya malah tersenyum semakin panjang. Ia lantas meraih kedua pelipis bawah mata Hinata dan menyapu air yang mulai menetes. "Sst...ssst, jangan menangis. Aku tidak marah padamu...aku hanya tidak mengira saja Kiba memikirkan ide gila seperti itu. Dia bodoh, 'kan?

Bahkan sampai menerima tantangan Ahura Kai ayahmu."

Hinata mengangguk ragu. Ia meraih tangan Naruto dan mendiamkannya disana. Naruto melanjutkan. "Ia pasti tidak tahu konsekuensi Ahura Kai,"

"S-setelah menerima tantangan...K-Kiba-kun langsung pergi untuk menemui Hokage-sama t-tanpa mendengar keterangan lebih lanjut."

"Eh...yaah, memang dia seperti itu." Naruto menggaruk kepalanya. "Aku mengerti karena beda sifat kami seperti hanya...sekitar 11/12."

Dia langsung melanjutkan. "Tapi tidak usah khawatir. Tsunade-baachan akan menjelaskan padanya."

"...Kau tidak marah padaku, N-Naruto-kun?" Pertanyaan berintonasi rendah itu terdengar begitu rendah diri.

"Yang membuatku kesal adalah karena Kiba tidak membicarakan ini dulu padaku; aku kesal sekali." Hinata kelihatan semakin risih dan bersalah.

"M-maaf...tapi ia melakukannya karena tidak ingin membuang waktu terlalu lama. A-akhir bulan ini aku-"

"Ya. Aku mengerti itu, Hinata. Kiba sudah menemuiku tadi."

Naruto memejamkan matanya, mengingat momen-momen yang telah ia lalui bersama dengan Hinata. Menyedihkan memang karena harus segera berakhir. Bagaimana gadis ini begitu setia menemaninya belajar, berlatih, berperan sebagai penasihat; semuanya terasa begitu menyenangkan. Berkat Hinata, ia memiliki pengalaman sebagai pacar ideal. "Maaf, Hinata. Salah satu dari kita memang harus mengucapkannya...

Seperti kemarin, biar aku, oke?"

Hinata merasa tahu apa yang akan dikatakan Naruto. Pasti itu. Kedua matanya kembali berair.

"Kita telah selesai disini."

"...N-Naruto-kun,"

"Jangan menangis; takdir yang lebih besar tengah menantimu sebagai kepala keluarga Hyuuga di masa depan. Ketika saat itu tiba, kau membutuhkan seseorang yang setia-anjing yang setia," Napas Hinata tersedak, mengeratkan pegangannya pada pergelangan Naruto. Namun si bocah ramen hanya menyengir begitu bersahabat. "Sekuat apapun kau menahannya, ada saja perasaan yang terusik ketika akhirnya kau menyadari bahwa sahabat masa kecilmu begitu berarti, membuatmu jatuh cinta padanya. Ketika kau menyadarinya...akan sangat sulit menghapusnya. Jadi kau tidak perlu meminta maaf, karena aku mengerti itu."

Sakura-san, ya...?

"...Maafkan aku," Hinata tidak mengerti apa yang tengah merasukinya. Tapi dia merasakan satu genggam penuh rasa senang bercampur dengan sesendok kesedihan, dan diaduk rata didalam hatinya. Ini adalah kali pertamanya. Mendengar dukungan dari Naruto membuatnya positif akan perasaannya terhadap Kiba, tapi melihat ekspresi Naruto itu sungguh...

"...Jangan bersedih untukku, Hinata. Sekuat apapun kau memohon padaku...aku tidak akan pernah mau mengurunkan niatku menjadi Hokage. Itu adalah mimpiku seumur hidup, dan aku bercita-cita menjadikan Konoha model dari perdamaian dunia. Jika aku ingin membawakan kedamaian yang sebenarnya, aku harus membenahi Konoha pertama-tama. Dimulai dengan menjadi Hokage."

Naruto melanjutkan. "Aku belum bisa menikah sebelum menjadi Hokage. Syarat utama Hokage adalah ketidakterikatan kepada dunia, namun itu hanya untuk tahap inisial. Menyadari ada sesuatu yang hilang, barulah sang Kage diijinkan menikah. Ninja bagaikan Yin dan Yang. Untuk menjadi lebih baik, keseimbangan diri dan batin harus tercipta." Naruto tersenyum. "Ini adalah siklus kehidupan Rokudo Sennin; dan seluruh desa ninja turut mempraktekkannya."

"...Naruto-kun,"

"Aku tidak bisa...membiarkan peraturan sepihak Hyuuga...atau bagaimana masyarakat melihat Inuzuka..." Ia tersenyum bersahabat kepada Hinata. "Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, Hinata, karena aku harus beregois diri demi itu semua. Aku tidak ingin tragedi Uchiha terulang, dan langkah awal untuk semua itu adalah dengan menjadi Hokage."

-o0o-

Malam itu, hati Hinata terasa begitu berkecamuk. Dia merasa tak tentu arah, dan ia juga tak tahu harus melakukan apa. Ia telah terbawa badai Kiba terlalu jauh.

Ini semua begitu membingungkan. Hinata tidak mengerti; Kiba tidak menyukai dirinya seperti dalam tahap 'percintaan'. Satu kata saja untuk menggambarkan rasa perhatian Kiba terhadapnya adalah dibawah motif 'persaudaraan' atau 'kekerabatan'. Tapi kenapa Hinata malah mencintainya?

Apakah karena ciuman tadi pagi-dan seluruh hal yang Hinata ketahui menjadi berputar-putar dan terbawa arus?

Jantung Hinata kembali terpompa ketika mendengar ketukan ringan pada jendelanya lagi. Siapa itu? Sudah jam dua pagi, namun kedua mata Hinata belum mau menutup lantaran situasi ini.

Hinata mengaktifkan Byakugan dan mendapati sosok Kiba tengah mencangkung masih sambil mengetok pelan jendela kamarnya. "...Hinata, ini aku."

Hinata kembali membuka tirai jendela kamarnya. Kiba yang kini telah berpakaian khas jounin membalas tatapannya. Ia tersenyum kepada Hinata-sebuah senyuman lemah diberikannya. Hinata bisa melihat tubuh letih Kiba hanya dari sirkulasi udara dan gerak dadanya. Sepertinya dia sehabis dari luar desa. Namun si gadis tak menjawab senyumannya itu. Ada sesuatu yang mengganjal dan terkesan mengganggu pada perasaan Hinata.

"...Cukup dengarkan aku saja," Jelas Kiba, menyadari raut 'tak menyambut' dari Hinata. Belum lagi tatapan tak berekspresinya yang menatapnya dari balik jendela, perasaan dan hati Kiba seolah menyusut dan tenggelam semakin dalam. Apa aku melakukan kesalahan?

Persis ketika Kiba hendak berbicara, Hinata membuka pintu jendela dan mempersilahkan pria kedua memasuki kamarnya. Awalnya Kiba ragu-ragu, namun akhirnya ia menapak masuk.

Kamar Hinata bagaikan bentuk utuh dari Hinata dengan ukuran yang lebih besar. Tiap aroma Hinata yang bisa ia cium ada didalam kamar ini. Kamar ini membuat Kiba nyaman dan serasa berada di rumah. Aneh, namun tidak seaneh itu juga sebenarnya. Kamar ini hanya terasa begitu akrab kepada dirinya, seperti teman.

"...Ada masalah, Hinata?"

Menyadari Hinata yang ragu dalam diam, Kiba ingin melelehkan es itu. Ia tidak terbiasa diperlakukan dingin oleh Hinata. Jujur saja, Hyuuga memiliki tatapan yang hangat-tatapan yang tidak cocok jika dibawakan dengan alis mengkerut. "...Naruto-kun mengunjungiku,"

Dan? Ada kelanjutan dari kata-katanya; maka Kiba menunggu.

"...Dia mengharapkan kita untuk menikah."

Dada Kiba kembali berdenyut ngilu. "Tentu saja, Hinata. Aku juga sudah mengatakan padanya. Kupikir ia setuju untuk ikut serta dalam rencana kita."

Hinata berbalik, wajahnya kelihatan panik dibawah siraman sinar rembulan. "Tidak, Kiba-kun...maksudnya, agar kita benar-benar menikah!" Hinata meninggikan suaranya namun memastikan cukup rendah agar tak ada seorangpun yang mendengarnya dari lorong luar kamar. "Dia tidak menerima perceraian kita, dan tidak akan menikah denganku lagi nantinya."

Kemana gelagapan Hinata yang biasanya; ia dalam tekanan, ia tak kuasa menahan gejolak dadanya ini. Dia mencintai Kiba, perasaan ini membuatnya ingin segera menerkam Kiba dan mengatakan padanya kalau tindakannya pagi tadi sudah memutarbalikkan hukum kosmik yang mengatakan bahwa cinta Hinata hanya milik Naruto.

Kini 'Matahari' Hinata bukan lagi pusat galaksi bima sakti; ia terbit di barat dan akan tenggelam di timur-kiamat. Isi kepala Hinata serasa kiamat.

"...Katakan padaku, Kiba-kun, a-a-apakah kau juga memiliki rasa yang sama terhadapku?" Kedua mata ebony Kiba semakin melebar. Ia tak percaya Hinata akan menanyakan ini kepadanya.

Hinata meremas dada kirinya. "Apakah kau juga mencintaiku, Kiba-kun?"

Kedua alis matanya mengkerut. Rasa takut terukir jelas dari sepasang mata berwarna lavendernya. Dia terluka. Dia begitu rapuh saat ini. Dia, untuk pertama kalinya, takut akan masa depan. Dia ingin jawaban.

Dia menginginkan Kiba.

Kiba bisa melihatnya dengan jelas dari wajah Hinata. Dan seperti Shino serta ideologinya yang terus diucapkan pada Kiba sedari dulu: 'Bersiaplah terbakar jika kau bermain api.'

|Bersambung|

Berikutnya di Canis Loyalis:

"Tidak usah memikirkan yang macam-macam. Ayahmu tidak akan bisa mengalahkanku; aku tidak akan diekstradisi dari desa. Aku akan disini, menemanimu."

AN: Yeah, bagaimana menurut kalian? Semoga ga begitu aneh. Author's Note kali ini mau saya gunakan untuk promosi. Bagi kalian yang masih lapar dengan KibaHina silahkan visit fic saya Canis Minor: Lick Me Please dan Canis Minor: Snake's Confession. Setiap fic KibaHina saya akan memiliki kode 'Canis' pada judul, so sampai bertemu juga di oneshot KibaHina saya lainnya di masa depan.

Saya juga mo nanya...apakah ada salah satu diantara kalian yang suka series Persona 4? Silahkan visit fic Persona 4 saya yg berjudul Persona 4: Gods' Rebellion.

Project Canis dan Project Rebellion adalah dua fic utama saya. Saya tidak akan menulis di fandom lain untuk sementara, karena saya akan fokus kepada dua project ini. So enjoy your ride with me.

With everything said, please review, critic, comment! Click! Voila!

Crow signed out, Adieu!