Salam jumpa lagi! Tetek bengek dan minta maaf ada di bagian paling bawah. Hehe. Eniwei thx to Me Yuki Hina yg udah mengingatkan saya untuk update lewat PM. Enjoy the chapter.
Canis Loyalis
Fic by Crow
Chapter 6: You Are Mine
"Tidak,"
"...Tidak?"
Suasana di dalam kamar Hinata berubah mencekam. Kiba tak bisa lagi membaui aroma semerbak kamar Hinata. Ia sudah lupa; ia lupa dikarenakan bagaimana kepalanya dipenuhi oleh Hinata. Hinata. Hinata lagi. Hinata dan Hinata.
Dimana-mana terisi Hinata.
Namun kesadarannya sebagai pria tidak bisa menerima semua ini. Bagaimana bisa Naruto memutuskan seseorang yang dicintainya begitu saja? Kiba mengerti kalau alasan dibalik adalah dirinya. Tapi apa si rubah tidak bisa mengerti walau sedikit saja?
Dia berbuat seenaknya lagi. Tapi...ia sendiripun begitu,
Aku tidak mencintai Hinata...'kan?
Semakin jauh ia mengikuti panggilan hati nuraninya, sejauh itu pula ia menginginkan Hinata - seperti awal petualangannya. Ia menginginkan Hinata. Tapi,
Apa Hinata akan bahagia bersamaku?
"A-apa maksudmu Kiba-kun?"
Suaranya bergetar, wajahnya memerah redam, seluruh perasaan berkecamuk didalam dirinya; kecewa, sedih, kemarahan, semuanya Hinata tujukan pada Kiba. "...B-bagaimana kau bisa...m-mengatakan hal itu...?"
Kiba belum menjawab. Kakinya mulai menapak mundur. Sesaat memang begitu menyenangkan serta membahagiakan ketika gadis idamanmu mengatakan hal demikian kepada dirimu. Namun sesaat kemudian kau merasa takut. Takut kalau kau tidaklah cukup baik untuknya; kau takut mengecewakannya. Mungkin niat Kiba telah menjadi bulat untuk menolong Hinata, tapi perasaan meledak-ledak dari Hinata ini membuat Kiba tak tahu harus melakukan apa.
Ia takut mengecewakan Hinata.
Haruskah aku menghampiri dan memuknya?
Haruskah aku meminta maaf padanya?
Perkataan Shino kembali terngiang. Aku sudah melakukan hal yang benar. Jika ada satu halpun yang membuat Hinata bahagia adalah dengan berada didekat Naruto; hanya Naruto seorang. "...Tapi kita tak bisa, Hinata,"
Air mata Hinata mulai menetes, menarik garis lirus yang membelah dataran lembut pipinya. Melihat itu membuat Kiba ingin meraih dan memeluk tanpa pernah melepaskan diri si gadis lagi untuk selama-lamanya.
Awalnya Kiba menginginkan Hinata. Sesaat kemudian determinasi menguasai diri Kiba untuk konsisten kepada tugasnya. Namun setelah itu, tak lama kemudian, kebulatan tekad itu diaduk ulang oleh Hinata sendiri. Ia meminta cinta Kiba,
Apa susahnya? Apakah aku harus berterus terang juga padanya?
Tapi setiap keinginan Kiba untuk membuat Hinata tenang pupus sudah. Si gadis melap air matanya sendiri. Sepasang pelipis bawah matanya membengkak, dan hidungnya memerah. "Cukup, Kiba-kun. Semuanya sudah cukup."
Kiba mengernyit. Nada suara Hinata begitu dingin terdengar di telinga sensitifnya. "...Hinata?"
"Kupikir...memang diriku yang keliru." Hinata menolak membalas tatapan Kiba. Ia merunduk, membiarkan mata nilanya menatap lantai kayu jati kamarnya. "Naruto-kun, walau sedikit, mungkin masih menginginkan Sakura-san. Aku bisa menerimanya...ditinggal oleh seseorang yang kucintai. Tapi ketika kupikir...kini aku mencintaimu - bahwa kuharap kau juga memiliki perasaan yang sama terhadapku, ternyata lagi-lagi perasaan itu bertepuk sebelah tangan."
Kiba merasakan cubitan kuat dilancarkan pada jantungnya. Pada saat ini ia merasa begitu terkutuk. Apakah Hinata barusan serius mengatakan mencintainya? Tapi, bukankah,
"Tragis," Tatapan Hinata berubah kosong. Ia membalikkan tubuhnya dari Kiba. "Kau tidak perlu mengikuti Ahura Kai, Kiba-kun. Kau tidak perlu membahayakan dirimu. Sudah cukup. Aku akan melakukan apa yang sudah ditetapkan padaku."
"H-Hinata...tunggu sebentar,"
"Tidak perlu, Kiba-kun." Suara Hinata sedikit meninggi. Tak pernah sekalipun ia mengeluarkan nada seperti itu, terlebih lagi ia gunakan untuk membentak Kiba. Serasa disengat ular. Menyakitkan, dingin; Kiba diserang rasa bersalah. "Aku akan mengumumkan pembatalan Ahura Kai kepada chichihue esok pagi. Kau tidak perlu melakukannya."
"Tapi, Hinata-"
"Aku mau tidur, Kiba-kun." Hinata memotong pembelaan diri Kiba. "Maaf jika aku berlaku tidak sopan, tapi kau harus pergi sekarang."
"Hinata-"
"Terima kasih karena sudah memikirkan diriku sejauh ini, Kiba-kun." Nada suara si gadis melembut. "Tapi kupikir tak ada gunanya hidup bersama orang yang tak mencintaiku; seperti katamu dulu."
"Jangan bercanda, Hinata. Kita bisa melakukan sesuatu - a-aku bisa menemui Naruto lagi!"
"Sudah kubilang cukup, Kiba-kun." Hinata masih menolak untuk menatap Kiba. "Cukup."
"Tapi kau sahabatku...aku tidak ingin melihatmu menderita." Kiba bersungguh-sungguh dalam ucapannya. Hinata tahu itu, tapi dia juga tak ingin membuat Kiba melakukannya sejauh itu.
Jika semua itu selesai, apa yang akan mereka lakukan? Naruto tidak akan ikut campur pada pernikahan mereka dan tak akan menikahi Hinata di masa depan. Pikiran itu mengganggu Hinata. Lalu apa yang akan dirinya dan Kiba lakukan jika waktu satu tahun sudah lewat? Kiba tak mencintainya. Kiba tak mencintainya. Lalu mereka akan kemana? Bercerai?
Mengapa nasibmu semalang ini...Hinata?, si gadis berbisik.
"Maaf. Aku sudah tak membutuhkan bantuanmu lagi." Jelas Hinata. "Aku tak bisa melihat masa depan jika dirimu masih ada disini, Kiba-kun. Mungkin saja suamiku nanti adalah seseorang yang baik serta perhatian. Jika orang tersebut memang bukanlah Naruto-kun ataupun dirimu, aku tetap masih bisa mengharapkan hal demikian, bukan?
Aku masih bisa berharap, 'kan Kiba-kun?"
"Tapi, Hinata, aku-" Aku mencintaimu! Mengapa begitu susah untuk mengatakannya? Mengapa hubungan mereka harus berubah seperti ini? Mengapa aku mengatakan 'tidak' tadi?
Katakan kau mencintainya! Katakan kau mencintai Hinata!
"H-Hinata...aku-!" Si gadis kini membalas mata Kiba. Sepasang mata nila itu membuat mata feral Kiba yang berwarna hitam pekat melarikan diri. "A-aku tidak tahu...a-apakah kau serius?"
"...Mengenai apa?" Wajah kaku Hinata, meski sekilas, kembali memperlihhtkan kelembutannya. Tanpa disadarinya sedikitpun, ia mulai berharap banyak dari pertanyaan Kiba. Ketika Kiba terdiam, Hinata kembali bertanya. "Katakan padaku, mengenai apa, Kiba-kun?"
"...B-bahwa kau mencintaiku,"
Wajah Kiba kini memerah. Sesuatu yang jarang dilihat Hinata selama ini. Hanya satu yang ingin ditanyakan Hinata; hanya satu lagi. "Menurutmu bagaimana?"
Mata Kiba kini diliputi determinasi. "A-aku ingin melindungimu, Hinata; aku tidak ingin mengecewakanmu. Aku tidak ingin membuatmu menangis, ataupun bersedih."
Hinata belum mendengar jawabannya. "Apakah kau mencintaiku, Kiba-kun?"
Pertanyaan Hinata keluar lagi. Untuk kedua kalinya, dengan harapan tinggi, ia menginginkan jawaban sepenuh hati Kiba.
"Aku mencintaimu."
Akhirnya.
Perasaan Hinata serasa menjelma menjadi gula-gula kapas. Manis, ringan; diterbangkan oleh hembusan angin bernamakan Kiba.
Si pria mendekatkan dirinya pada Hinata, meremas lembut kedua lengan atasnya. "Tapi...kau mencintai Naruto. Kau tidak boleh tahu bahwa aku...mencintaimu. Dari dulu; ketika kau hanya melihat Naruto, dan Naruto seorang.
Ketika aku bilang ke ayahmu bahwa...aku mencintaimu semenjak dulu - jauh sebelum Naruto mencintaimu, aku sudah menganggapmu. Kau ada. Aku selalu menikmati kehadiranmu di dekatku."
Hinata menggigit bibirnya. Ia bisa merasakan rona merah kembali menggerayangi wajahnya. Ia tersenyum tipis, dan tanpa bisa ia sadari, air mata kembali membendung tinggi di soket bawah matanya. Menganggapnya ada? Entah mengapa Hinata merasa mencair ketika mendengar frase tersebut keluar dari dalam mulut pria ini. Kata-kata itu lebih dalam maknanya ketimbang 'aku mencintaimu.' Dan ia manyukainya. Sangat.
"Lalu...mengapa, Kiba-kun?"
"...Hinata,"
"Mengapa kau harus berdusta pada dirimu...pada diriku?"
"...Karena aku tahu, kau tidak mencintaiku balik." Kiba meringankan remasannya dari lengan Hinata. "Bisa menikahimu walau hanya setahun sudah bisa membuatku senang. Pada awalnya, aku tak memikirkannya, tapi perlahan-lahan itu membuatku ingin memanfaatkan satu tahun kebersamaan ini sebaik mungkin. Karena setelahnya kita akan berpisah, dan mungkin persahabatan kita akan berubah.
Tapi, Hinata. Satu hal saja yang harus kau ketahui: Aku Menyayangimu."
Hinata mendekatkan tubuhnya kembali kearah Kiba. Ia menyentuhkan sepasang tangan mulus terampilnya pada kedua sisi pipi Kiba, mengangkat dan memastikan pandangannya tertuju hanya pada dirinya. Mata feral Kiba menatap ragu Hinata. Namun dengan senyuman lembut itu, Kiba turut menyunggingkan ujung bibirnya ke atas. "Seharusnya aku tidak bilang 'tidak' tadi, ya?"
Wajah Hinata memerah semakin membara. Ia teringat merasakan wajahnya terbakar tiap kali ia berdekatan dengan Naruto. Panas itu membuatnya gerah, membuatnya kehilangan kendali atas alam sadarnya. Kali ini juga begitu. Namun ada satu pendorong lain daripada yang lain bagi dirinya untuk terus menatap Kiba. Ia tidak ingin pria ini menjauh dari dirinya.
Ia hanya merasa, jika diperbolehkan benar-benar jujur dengan hatinya, tidak ingin berpisah dengan Kiba.
Hinata ingin pria ini menjadi suaminya, menjaganya, membimbingnya, dan menjadi ayah dari anaknya di masa depan. Ia ingin merasakan kebahagiaan, kesedihan, serta kekecewaan bersama dengan Kiba. Asalkan dengan pria ini...entah bagaimana, Hinata tersadar bahwa ia bisa melakukan apapun juga - ia merasa bisa mendobrak penghalang seperti apapun juga.
Ia merasa bisa memecahkan berbagai macam masalah jika terus bersama dengan sosok yang begitu perhatian dan mengerti akan dirinya ini; yang sudah dikenalnya begitu lama, jauh, lebih dari 15 tahun ini.
Dia bisa bahagia. Dia 'pun bisa bahagia di atas dunia ini.
Karena dia juga ingin bahagia, seperti orang lain pada umumnya.
"Nikahi aku, Kiba Inuzuka." Ia mengucapkannya. Kedua mata Hinata berbinar. Ia mengucapkannya dari lubuk hati yang terdalam. Dari tatapan itu, ia menyampaikan semua pesan penuh akan harapan kepada si pria jounin. "Aku tidak peduli apa yang kau pikirkan - kecemasan apa yang kau takutkan...tapi, tapi...kumohon, pandanglah mataku lebih dalam dan lihat, apakah aku berdusta?"
Kiba tak perlu melakukan hal demikian.
Secara pribadi, ia berpendapat, hal terbersih yang jauh dari noda dan kotoran duniawi adalah sepasang mata lavender lembut milik Hinata. Ia melihat keindahan hidup dari sana; mencerminkan kebahagiaan tak terbendung.
Kiba, jujur saja, merasa tak tahu apa yang ia takutkan. Tapi mungkin, ia hanya merasa terancam jika pada suatu hari Hinata kembali tersadar akan cintanya pada Naruto. Dan bagaimana Kiba (sebenarnya) hanyalah sahabat terbaiknya. Kiba juga menginginkan Hinata, sungguh-sungguh menginginkannya, tapi-
Ia terhenti dari proses pemikirannya karena sepasang bibir lembut nan empuk 'kembali' mengejutkan kelima indera sensitif Kiba.
Aroma semerbak dari Hinata tercium semakin mendominasi akan dirinya. Sentuhan lembut pada pipi Kiba juga belum terlepaskan, membuatnya mencair dalam kehangatan. Telinganya mendengar erangan kecil nan mesra dari Hinata, dan kedua matanya melihat Hinata yang memejam penuh khidmat.
Kiba merasakan saliva yang kini telah tertukar (kembali) antara dirinya dengan Hinata. Manis. Segar. Penuh akan rasa kenikmatan.
Tolong, Hinata,
Tolong jangan lepas bibirmu.
"...Omh...K-Kiba-kun!?"
Kiba meraih punggung Hinata dan memeluknya dengan kuat. Mengapitnya luar biasa erat, namun cukup lemah untuk membuat Hinata merasakan keintiman yang diberikan Kiba. "Kau mencintaiku?"
Kiba melepas pagutan dan beralih menancapkan mata feral-nya pada Hinata, mengakibatkan si penerus Hyuuga tertegun ngeri. Tubuhnya merinding dingin, melihat peluh di sisi kening Kiba, serta bibir si pria yang sedikit memerah akibat 'serangan mendadak Hinata.' "Aku mencintaimu, Kiba-kun. Aku menginginkanmu; karena itu, seperti biasa sedari dulu, tumpahkan perasaanmu padaku."
Kiba menanggalkan jaket jounin-nya, menjatuhkannya begitu saja ke lantai kamar Hinata. Dia akan memiliki Hinata. Dia akan memiliki Hinata. Aku akan memiliki Hinata!
Kiba meraih dagu Hinata dengan tiba-tiba menggunakan ujung bibirnya, mengecup dan menjilatinya. Manis. Kiba selalu penasaran, mengapa aroma Hinata bisa begitu manis. Apa dia selama ini selalu mandi dengan menggunakan sari bunga serta madu dan susu?
Yang jelas Kiba menyukai ini.
Berangkat daru dagu mulus Hinata, Kiba mulai melancarkan serangan balik. Napas mereka kembali beradu di dalam rongga mulut diantara keduanya. Kedua mata Hinata menyayup lemah, menerima dengan lapang dada dominasi suprim sang ninja pemburu.
Hinata mengerti ketika dia mengharapkan Kiba, dia juga akan diperlakukan bagaikan binatang (anjing, tepatnya). Bayangan hal seperti itu selalu bisa membakar wajah Hinata, mengirimkan bayangan dan gairah liar yang jauh melebih fantasi terliar Hinata.
Hinata kembali mengangkat kakinya kebalik pinggang Kiba. Namun kali ini lain. Ia melompat dan menggantung penuh keintiman pada tubuh Kiba bagaikan seekor kera. Namun tetap saja hinata hanya dapat bertahan darite terkaman anjing milik Kiba.
"Fhaah~!" Hinata melepas dirinya terlebih dulu. Saliva kental menggantung diantara keduanya. Napas mereka memburu tak menentu, raut merah keduanya tak tertahankan lagi. Mereka tenggelam dalam hasrat dan cinta, ingin saling memiliki satu sama lainnya. "K-Kiba-kun, aku tak bisa menahan diriku...maaf," Hinata kini mendarat diatas lantai. Ia berniat menarik diri, namun Kiba sepertinya masih belum ingin melepaskannya.
"Tidak secepat itu, hime." Hinata kembali merinding. Tatapan liar Kiba serasa menelanjangi dirinya, membuatnya bugil tanpa keinginannya sendiri. "Aku belum 'menandaimu.'"
"...Apa...maksud-oh, tidak..." Wajah Hinata berubah pucat pasi. Ia tahu apa yang akan dilakukan Kiba. "A-apakah akan sakit rasanya, Kiba-kun?"
Menghapus tatapan 'laparnya,' Kiba mengecup ujung hidung Hinata. "Apa aku membuatmu takut?"
Si gadis mengangguk. "...Hm, sedikit."
"Maafkan aku..." Kiba mengecup kedua mata Hinata silih berganti. Kali ini dengan kelembutan yang tiada dua. Ia menuangkan rasa sayangnya kepada Hinata. Ia ingin menunjukkan padanya bahwa ia sudah tak salah pilih. "Hanya dengan berada di dekatmu, aku menjadi terlalu bersemangat."
Hinata tersenyum, mendengar kata-kata jujur dari Kiba. "Aku siap, Kiba-kun. Buat aku menjadi milikmu; aku adalah jalang setiamu."
"Aku mengabdikan hidupku dan cintaku dan masa depanku dengan mencintaimu sampai mati, Hinata. Kau milikku."
Hinata teringat dengan lamaran dadakan Kiba tempo hari. Oh, begitu romantisnya. Kini juga begitu. Walau ia berlaku seperti anjing betina, tapi ia kini adalah milik Kiba. Dan, "...Kau juga milikku, Kiba."
"Aku selalu milikmu; dulu, sekarang, dan selamanya."
Hinata menanggalkan kancing demi kancing pakaian tidurnya. Piyama selembut sutra itu melonggar pada bagian kerah hingga dada, menampakkan kulit seputih mutiara milik Hinata yang merona dengan sehat. Tulang pundaknya nampak begitu lezat (oh, Kiba suukaaa tulang), membuat Kiba tak bisa menahan diri lagi. Ditambah dengan tali bra berwarna hitam kemerahan, Kiba benar-benar tak bisa menahan lonjakkan 'Kiba Jr.' di bawah sana.
Kedua mata Hinata terbelakak lebar. Ia mengerang kuat, namun dengan segenap kekuatan keinginan dan fisiknya, ia menutup mulutnya. Aliran air mata menetes dengan sendirinya, membuat pandangannya membuyar lantaran rasa perih di sekitar leher dan pundaknya.
Darah segar mengalir dari sekitar perbatasan leher dan lundak Hinata. Kiba telah menggigitnya dengan hati-hati agar tak mengenai syaraf fatal. Bagaikan tipisnya jarak hidup dan mati, ia menggigit beberapa sentimeter jauhnya dari urat leher Hinata.
Ia menandai Hinata bahwa si gadis kini adalah miliknya.
Kiba menjilati luka 'kecil' yang baru milik Hinata tersebut. Kiba terus menjilatnya, selagi Hinata masih menghalangi mulutnya dengan punggung tangan. Ia bergetar; seluruh bagian tubuhnya mengerang seolah merintih kesakitan.
Kiba memeluknya, masih terus menjilat. "Psst, cup cup, lukanya akan menutup...aku janji."
"...Sakit," Rengeknya, berusaha menguatkan dirinya dihadapan Kiba. Namun si pemuda mengerti itu. Ia mengagumi kesungguhan serta keteguhan hati si gadis idolanya.
Kiba mengecup sisi kepala Hinata, membelai lembut rambutnya. "Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji, Hinata."
"Kiba-kun...kumohon, hati-hati melawan ayah." Ujar si gadis dari balik isakkan kecilnya. "Aku berdoa demi kemenanganmu."
"Aku akan di sini; bersamamu dan menjagamu. Aku tahu resiko Ahura Kai. Jika sang penantang kalah, karena sudah berani menantang klan elit Hyuuga, maka ia akan dienyahkan dari desa." Kiba mengambil napas dalam sebelum melanjutkan. "Aku tidak akan diekstradisi dari desa. Aku akan terus berada di dekatmu. Jika kita berpisah, yakinlah bahwa aku akan kembali kepadamu. Tidak peduli jarak dan rintangan, kau adalah milikmu. Anjing selalu mencintai dan mengasihi pasangan hidupnya. Aku akan terus menyayangi dan mencintaimu."
Air mata. Lagi-lagi air mata. Oh, Kiba, "A-aku begitu beruntung karena memilikimu, Kiba-kun. Aku juga mencintaimu."
-o0o-
Kiba terbaring di atas tanah. Debu dan becek menjadi satu. Alam menghina kesombongan dirinya. Menantang 'langit' adalah ketololan terbesar, menantang Hyuuga berarti kau sudah siap dipermalukan dan mati terekstradisi.
Kiba tak sempat melihat wajah Hinata untuk kedua kalinya pada hari itu. Tubuhnya melemah. Yang ia ingat, Hiashi membisikkan sesuatu padanya. "Aku mengerti kau adalah salah satu orang yang tak percaya pada takdir. Tapi sekarang, coba pikir-pikir kembali kebodohanmu." Hiashi menepuk punggung lemah Kiba, dan berbisik semakin pelan. "Cobalah bangkit, jika kau memang sebodoh itu. Dunia akan menjadi membosankan jika orang bodoh sepertimu tak pernah ada."
Hiashi berdiri, berbicara lantang. "Hinata akan menikah dalam seminggu ini. Kau sudah gagal, dan baik aku maupun desa ini tak ingin melihat wajahmu lagi." Ia berjalan kearah keramaian penduduk desa dan shinobi yang menonton duel maut itu. "Enyah, Kiba Inuzuka."
Sial, bagaimana Hinata? Hinata-ku,
Berikutnya yang ia dengar hanyalah lengkingan lemah Akamaru dan semuanya menggelap.
|Bersambung|
Berikutnya di Canis Loyalis:
Tidak Ada! Surprise!
AN: Saya mohon maaf atas keterlambatan update. Ada beberapa alasan, salah satunya adalah karena saya tengah menggandrungi serial Shingeki no Kyojin. Dan satu lagi karena saya tengah sibuk dg skripsi.
Tgl 24 Juli hari Rabu jam 11, saya akan ujian komprehensif (kompre). Mohon doa kalian agar saya sukses dalam menjalaninya. Setelah itu, mungkin saya bisa fokus pada fic Project Canis dan Project Rebellion Persona 4, serta apapun fic Shingeki no Kyojin yang tengah saya tulis.
Bagaimana menurut kalian fluff KibaHina di chapter ini? Saya tetap tak bisa berbohong mengenai hot-nya mereka berdua. Heheheheee, tunggu kelanjutan beriktnya.
Crow signed out, Adieu!
