Canis Loyalis

Fic by Crow

Chapter 7: The Wounded Dog

Sudah berapa kali... diriku kalah selama ini?

Kalah memalukan dari Naruto... Kalah dari si kembar Sakon Ukon... Tak berguna sepanjang perang... Dan sekarang, kalah dari Hiashi...

Sial, Kiba~

Kapan kau bisa menang? Kapan kau bisa dengan bangga... tersenyum cerah ke arah Hinata, dan mengatakan padanya bahwa semua baik-baik saja? Kapan kau bisa, sekali saja demi Rokudo Sennin, membuat Hinata mengakuimu?

Aku harus mengatakan padamu, Kiba, sebenarnya selama ini... selama ini kau begitu transparan di matanya.

Kau selalu takut mengakui hal tersebut.

Kenyataannya, aku hanya ingin diriku juga dilihat sama seperti Naruto olehnya. Aku ingin kecemburuan ini... amarah ini... keputusasaan untuk diakui ini berbuah hasil pada akhir perjuanganku untukmu...

Namun tanpa kusadari... aku telah membiarkannya berlalu. "Biarlah," kataku sedari dulu untuk menenangkan diri. "Hinata... memang takkan pernah menyukaiku balik."

Aku terus meyakinkan diriku, hingga meresap ke dalam tulangku sendiri bahwa aku takkan bisa menjadi seperti Naruto... Sekuat dan sekeras apapun kucoba, pembatasnya nampak begitu nyata.

Akhirnya aku menyerah.

Aku menyerah dari Hinata... dari hatinya... dari senyumannya...

Padahal... aku sudah mendapatkan kesempatan untuk membuktikan diriku di hadapannya. Membuktikan bahwa aku juga... aku juga berharga, sialan... Aku juga...

Tidak bisa... Kesadaranku semakin menghilang. Akamaru... Shino... Hana...

Ibu...

... Hinata...

Maafkan aku yang tak bisa diharapkan ini...

-o0o-

Dengkulnya terasa terbuat dari jeli dan tubuhnya bagaikan dahan daun yang ditiup angin badai sore hari. Hinata menahan napasnya seraya menyaksikan tubuh Kiba runtuh, terjerembab ke tanah nan becek. Napasnya berhenti ketika tangan kuat Neji menahannya untuk berlari menghampiri tubuh tak berdaya Kiba. "... Kiba-kun," Hinata terus meronta. "Kiba-kun!"

Penduduk Konoha yang sedaritadi menyaksikan duel maut tersebut telah kembali keseluruhannya ke dalam desa, berbarengan dengan perwakilan dari Hyuuga. Neji meyakinkan Hiashi bahwa sepupunya tersebut tidak akan melakukan hal yang dianggap 'tidak perlu'. Dengan kata lain, ia tidak akan membiarkan siapapun menyelamatkan Kiba. Ketika pada akhirnya dua puluh menit telah berlalu, yang masih berdiri dengan setia adalah Hana, Shino, dan Tsume.

"... Tentu saja keluarga Hyuuga tidak ingin melihat apa yang terjadi pada Kiba setelahnya," Hana, kakak satu-satunya Kiba memberikan komentar tidak kepada siapapun secara khusus. "Ketika seseorang kalah dalam tantangan Ahura Kai... itu semua menjadi akhir dari sang penantang. Seperti itulah dinginnya takdir... seseorang yang menentang 'langit'."

Tsume berbalik, mulai melangkah menjauh. "Tsume-san!?" Seru Shino yang menyadari perlakuan dingin ibunda dari Kiba. "Apakah... kita tidak bisa melakukan sesuatu terhadap Kiba?"

Tsume berhenti. "Shino-kun... seharusnya kau tahu, seberapa setianya kami terhadap 'peraturan Konoha'. Itu membuat kami wajib untuk tidak melanggar hukum Hyuuga."

"Tapi-!" Tangan Hana menahan Shino memojokkan kepala keluarga Inuzuka itu lebih jauh. Ia menggeleng penuh akan simpati, baik kepada adiknya dan sahabat terbaik adiknya.

"... Sudah cukup, Shino-kun." Ujarnya, menatap sisa-sisa becek dari hujan yang baru saja reda. "Kiba... anak itu sudah memilih takdirnya sendiri, dan... kalah. Tidak ada yang bisa kita lakukan jika Kiba pada akhirnya kalah dari takdirnya."

Biasanya di saat seperti inilah kemampuan Shino dalam membaca situasi dan berpikir tenang dapat diandalkan. Namun, tidak pada kesempatan kali ini. Sahabatnya diekstradsi dari desa, tepat di depan matanya sendiri. Jika tidak ada yang bisa mereka lakukan, lantas harus bagaimana sekarang?

Shino mengerutkan alisnya satu sama lain, berusaha keras memikirkan pemecahan yang dapat meringankan 'perpisahan' mereka ini.

"Shino-kun," Tsume akhirnya buka mulut. Ketika ia yakin kalau putri dan sahabat putranya memusatkan perhatian padanya, ia melanjutkan. "Terima kasih. Terima kasih karena sudah menjadi sahabat yang berharga dan begitu perhatian terhadap putraku yang idiot."

Shino menggemertakkan kedua kepalannya. Mengapa ia begitu tak berdaya? Mengapa ketika pada akhirnya Kiba akan memperoleh kebahagiaan dan kemenangan... ia malah harus terhalang kendala? "... Maaf!" Shino menjerit dalam bisikannya, begitu pelan namun menyakitkan. "Maafkan aku yang tidak berguna ini, Kiba!"

-o0o-

Dua hari kemudian...

Kaki lemah Akamaru menapak semakin dalam di tanah tandus gurun pasir. Sudah dua hari ini, Kiba berhasil diangkatnya ke balik punggung berkat tubuh besarnya. Ketika ia menginjak timbunan pasir, ia mengeluarkan lengkingan lemah seraya menyeimbangkan tubuh nyaris tak bernyawa partner sehidup-sematinya. Mau badai pasir, mau hujan petir sekalipun, tak sekalipun tubuh Kiba terjatuh dari popohannya. Walau apapun yang terjadi!

Sudah dua hari lamanya ia berjalan tak tentu arah. Akamaru hanya meyakinkan dirinya bahwa ia harus membawa diri mereka berdua ke tempat yang aman. Hutan Besar di luar Konoha sama sekali bukan area aman untuk mengistirahatkan tubuh Kiba akibat banyaknya pelarian dan jebakan yang telah terpasang. Tapi saat ini, kemana mereka harus pergi? Sebenarnya Akamaru benar-benar sudah kehilangan sense arah dan penciuman. Satu-satunya hal yang menjadi bahan bakarnya untuk berjalan adalah bagaimana ia harus segera merawat tubuh Kiba yang semakin lemah tak bernyawa.

Akamaru menggeram murka. Ia mengeluarkan satu lolongan terakhir ke langit berkabut pasir sebelum akhirnya terjatuh tak berdaya di sebelah tuannya yang juga ikut tersungkur.

Disinikah... Kiba? Disinikah kita akan mati? Setidaknya... jika bersamamu... Hinagiku dan Tsubaki tidak akan marah padaku. Dan setidaknya jika bersamamu... aku...

Tidak tahu berapa lama... Apakah sejam? Sehari, atau seminggu? Kesadaran lemah Akamaru mendengar teriakan orang-orang di sekitarnya sebelum pandangannya benar-benar menggelap secara total.

-o0o-

Air matanya telah mengering.

Semuanya sudah diperas secara brutal ketika ia melihat tubuh Kiba dihujamkan teknik khusus Hiashi, ayahnya. Bahkan ia tak bisa mengeluarkan air matanya lagi ketika membayangkan nasib Kiba di luar sana. Apakah dia masih hidup... ataukah...

"Hinata-sama?"

Suara ketukan yang begitu rendah diri terdengar dari arah pintu kamarnya. Ia tak perlu menerka-nerka lagi suara milik siapakah itu. "Aku membawakanmu makan siang."

Hinata mendengar bunyi rantang yang menyentuh lantai kayu. Demi Rokudo Sennin, ia sudah tak memiliki napsu lagi untuk makan. Bagaimana bisa mereka berlaku seperti tak terjadi apa-apa semenjak dua hari yang lalu! Apakah... apakah mereka tak punya hati? "... Niisan," suara yang keluar dari kerongkongannya begitu serak. Kapan terakhir kali aku minum?

"Ya, Hinata-sama?" Suara patuh Neji membalas imbauan serak Hinata.

"... Apa kau setuju dengan ini semua, Neji-niisan?" pertanyaan Hinata dibalut oleh setiap helai unsur sarkastik, dan itu terdengar begitu dingin di telinga si sepupu. Neji merasa mendengar Hinata berbicara sembari melindur. Nada dingin ini seumur-umur belum pernah didengarnya keluar dari dalam mulut Hinata sebelum ini. "... Kiba-kun cukup akrab denganmu... Tidak hanya sekali juga dia menyelamatkan kita di medan perang tujuh tahun silam. Apakah kau tidak merasakan apapun? ...Sedikitpun?"

Neji merasa dihujam oleh seribu jarum tak kasat mata. Yang membuatnya mengernyit ngilu adalah bagaimana kakunya suara Hinata menusuk telinga dan memburu tepat pada jantungnya. "... Aku mohon maaf, Hinata-sama. Tapi, bagiku..." Neji teringat dengan cengiran lebar nan bodoh milik Kiba. "Bagiku... Kiba sudah menjadi seperti Lee. Mereka memang sedikit tidak menghargai privasi, namun... mereka selalu 'ada'. Aku menghargai pertolongannya padaku, tapi... tapi, aku tidak berada pada posisi dimana memungkinkanku untuk membalas budinya."

Neji mendengar Hinata tersedak, berusaha menghentikan cegukan tak berairnya. Ini adalah klimaks dari perasaan tertekannya selama ini. Ini turut menyakiti Neji... Dia sudah pernah berusaha membunuh putri keluarga utama tersebut dulu, dan dia tidak pernah bisa tidak menyesali tindakan masa lalunya itu. Terlebih dari itu, Hinata tak boleh dibiarkan menderita lagi. Ketika akhirnya Kiba tiba menawarkan 'jalan keluar' kepada Hinata, sekali lagi hal tersebut harus dirusak... harus dibengkokkan; oleh orang terdekatnya sendiri bahkan.

Nampaknya Hinata tak ingin melanjutkan percakapan ini lebih lama lagi. Maka dari itu, Neji berniat pamit. Namun satu pikiran terakhir terlintas di kepalanya; satu hal yang harus diketahui hanya oleh Hinata dan sifatnya tak bisa ditunda lagi. "Walau begitu... aku merasakan 'kedekatan' yang amat kuat antara dirimu dan Kiba, Hinata-sama... Aku tidak pernah bisa mengingkarinya. Walau jasadku berada pada peraturan klan, percayalah pada kata-kata hatiku ini, Hinata-sama... Kiba adalah orang yang tak pernah mau diam dan menyerah jika sudah menyangkut dirimu."

Hinata tak pernah ingat pernah menggantungkan harapannya begitu besar terhadap Kiba. Ia merasa kurang yakin apa masalahnya. Jika kembali diingat kembali, semua yang Kiba lakukan sedari dulu adalah bagaimana agar Hinata tidak begitu merasa tertekan dalam hidup. Di akademi, pada saat-saat berlatih, di Hutan Kematian, saat ia membutuhkan konseling dalam 'masalah Naruto'... tak pernah sekalipun Kiba menolak permintaannya. Ia bahkan begitu jujur terhadap keselamatan Hinata, seperti wanti-wantinya dulu megenai betapa berbahayanya Neji dan Gaara saat ujian chuunin, juga bagaimana ia selalu mementingkan perasaan Hinata ketimbang apapun.

Namun... mengapa baru sekarang Hinata teringat akan semua kebaikan dan ketulusan sahabatnya tersebut? Ketika dia sudah berada jauh dari dirinya?

Ini tidak adil... aku belum sempat membalas semua kebaikan Kiba-kun sedari dulu.

Dan... mengapa aku juga tak pernah menyadari seberapa pentingnyakah dirinya selama ini untukku?

"... Kiba-kun," Hinata memicingkan matanya, menggeramkan kedua tangan hingga memucat, dan menggigit bibir bawahnya. Ia bernapas berat, merasa begitu bersalah pada seseorang yang rela berkorban begitu banyak terhadap dirinya. "Masih banyak yang ingin kuceritakan kepadamu... yang ingin kubagi bersamamu. Kembalilah; kapanpun juga. Aku akan selalu... menunggumu."

-o0o-

3 hari pasca Ahura Kai...

Hmn...! Bau alkohol ini... tercium begitu keras. Suara senbon dan scalpel yang beradu dengan meja aluminium... Dimana ini...? Klinik hewan Hana, 'kah? Apa aku masih di Konoha? Bagaimana dngan Ahura Kai-nya? Hinata? Akamaru?

Ah, kepalaku pusing... berat sekali rasanya hanya untuk berpikir.

"... -kuro-san... a... dah... dar..."

Siapa, siapa di sana? Kenapa gelap sekali? "... i! Oi!"

Alam bawah sadar Kiba merasakan pipinya ditampar beberapa kali. Beberapa cukup kuat walau awalnya lumayan lemah. Sialan... biarkan aku tidur lima menit lagi!

"OI!"

"AaaaGhhH! Berisik banget!"

"Hoo, sepertinya tubuhmu benar-benar sudah sehat ya?"

Kiba akhirnya meraih kesadarannya. Mata berpupil tajamnya memperhatikan pria dengan lukisan pada wajah, tidak lupa keseluruhan tubuhnya yang terbalut pakaian serba hitam. Pria kabuki tersebut nampak berambut coklat. "K-Kankuro... 'kan?!"

Melihat pria muda Inuzuka itu menunjukkan jarinya penuh akan keterkejutan, Kankuro memberikannya senyum serta sapaan sederhana. "Yo."

"... Kukira siapa, aku hampir tak mengenalmu tanpa penutup kepala." Kiba berusaha mencapai ingatan ke beberapa hari yang lalu. Tak bisa. Sejauh ini yang ia ingat hanya... Hinata.

"Buat apa aku menggunakannya jika berada di desa sendiri; di dalam ruangan lagi. Kesampingkan itu, bagaimana perasaan dan tubuhmu sekarang, Kiba?" Kankuro bertanya sembari memperhatikan laporan hasil pemeriksaan yang baru saja diserahkan oleh salah satu shinobi medis Suna.

"... Tubuhku?" Tanya Kiba, kabel utama antara benak, tubuh, dan ingatan miliknya benar-benar belum tersambung saat ini.

"Jangan bilang kalau kau juga lupa ingatan, ya," Kankuro melanjutkan dengan nada setengah panik dan setengah jengkel. "Kami menemukan tubuhmu diambang kematian di padang pasir. Apa yang kau lakukan di sana dengan seluruh tenketsu tersumbat?! Terlambat sedikit saja... hh, aku tak bisa membayangkannya."

"... Tenketsu?!" Benak Kiba serasa ditabrak oleh pengalaman pahit masa lalu. Dia ingat dirinya benar-benar dihabisi Hiashi saat itu; Ahura Kai. Kiba mengepalkan kedua tinjunya, menatap langit-langit klinik dengan raut hancur dan berantakan. Aku... kalah...!?

Kankuro meletakkan laporan kondisi Kiba kembali ke atas meja, melepas sarung tangan sterilnya. "Syukurlah desa kami memiliki tim medis yang ahli dalam merawat serta melepas penghambat tenketsu. Namun karena tubuhmu mengalami dehidrasi, serta kurangnya pasokan nutrisi, kami harus melakukan setiap tindakan darurat dengan menginfusmu."

"Oh, begitu rupanya... pantas lenganku terasa mati rasa sedaritadi." Kiba belum bisa menghilangkan perasaannya yang masih dihantui kekalahan. Namun untuk saat ini... "Terima kasih, Kankuro. Kurasa aku berhutang nyawa lagi padamu."

Kankuro tersenyum iseng. "Haa, darimana kesopanan asing itu tiba?" Secepat itu ia tersenyum, secepat itu pula ia menghapusnya. "Selain tim medis kami, kau harus berterima kasih sekali kepada Akamaru, anjingmu. Jika saja bukan karena perjuangannya, yaah, kau tahu apa yang akan terjadi pada dirimu."

"Benar! Mana Akamaru?! Katakan padaku kalau dia baik-baik saja!?"

Kankuro mengorek telinga, sepertinya gendang telinganya menjadi tuli sesaat akibat sorakan si ninja pengejar. "Dia baik-baik saja. Saat ini masih beristirahat di ruang sebelah. Tenang saja, ada Temari menjaganya."

Kiba mengeluarkan helaan napas penuh akan kelegaan ke udara. Oh Rokudo Sennin, ia tidak ingat pernah bersyukur selepas ini. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika sesuatu terjadi pada Akamaru. "Boleh aku menjenguknya?"

"Tentu saja. Tapi aku tidak mau membawakan tiang infusmu!"

"Haha, baik, baik."

Bersama Kankuro, Kiba berjalan keluar ruang medik perawatannya. Ia berjalan selangkah-selangkah secara perlahan, dan melihat teman dari Suna-nya itu berhenti di depan pintu ruangan sebelah. "Dia tengah tidur, tapi ayo masuk." Kiba mengangguk.

Ketika Kankuro menapakkan langkahnya ke dalam ruangan, ia mengangguk kepada sosok berkepang empat, mengenakan masker dan sarung tangan steril serta pakaian perawat standar yang memanjang dari atas ke kaki "Bagaimana keadaan teman 'besar' kita, neesan?"

Masih dari balik maskernya, Temari menjawab secara profesional. "Denyut nadi normal, detak jantung normal, kondisi fisik dan mental stabil. Tak perlu khawatir," ia nampaknya menjelaskan hal demikian bukan kepada adik pertamanya, melainkan si pemilik anjing. Ketika ia melepas masker, ia melanjutkan, "Kau bisa bernapas dengan lega, Kiba-kun."

Kiba mengangguk, melipat bibirnya, nampak sedikit terharu sembari berjalan ke arah ranjang Akamaru. "Neesan memang tidak terlihat seperti salah satunya, tapi ia seorang vet yang lumayan handal."

"Apa maksudmu 'lumayan', Kankuro?"

Kiba tertawa kering melihat keduanya. "Hana, kakakku, juga tidak kelihatan seperti dokter hewan."

Temari dan Kankuro melihat Kiba mengelus kepala Akamaru yang tengah terlelap dengan begitu pulas. Keduanya tersenyum tipis, melihat Kiba yang hampir meneteskan air mata penuh syukur. Jika saja tak ada mereka berdua, mungkin saja Kiba akan membanjiri bulu-bulu lembut seputih salju Akamaru.

"Ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan kalian?" Melipat kedua lengan di depan dada, Temari bertanya pada si ninja pengejar.

"... Cukup panjang ceritanya sebenarnya,"

"Apa ini semacam penyerangan...? Dari musuh Konoha, 'kah?"

"Jauh dari itu sebenarnya, Temari-san... ini... uh, bagaimana mengatakannya, ya... Persoalan internal?"

Kankuro memecahkan keheningan. Dia yakin kakaknya juga memiliki pertanyaan yang serupa dengan dirinya: separah itukah situasinya? "Yaah, beginilah kakakku... Tidak bisa dengar gosip sedikit."

"Ini bukan gosip, Kankuro!" Si kakak mengomel.

"Apapun itu, kalian harus beristirahat dulu." Kankuro bertegak pinggang, menjelaskan. "Aku akan segera melapor ke Gaara kalau kau sudah siuman. Aku yakin dia akan senang mendengarnya."

"Ah... baiklah."

Kankuro mulai berjalan keluar pintu, sementara Temari melambai ringan kepada si pria Inuzuka. "Baiklah, Kiba-kun, kalau begitu-"

"... A-anu, Kankuro... Temari-san?"

"Apaa? Perutmu sakit?" Respon si anak kedua dari Sabaku bersaudara.

Dulu mereka memang musuh; menyerang Konoha dan semacamnya, namun di saat seperti inilah Kiba benar-benar merasakan buah dari jerih payah shinobi seluruh dunia, terutama Naruto. Sial... lagi-lagi kau ya, Naruto.

Kiba membalikkan tubuhnya dan membungkuk dengan sungguh-sungguh. "... Terima kasih banyak. Budi ini takkan pernah kulupakan!"

Kankuro beradu pandang dengan kakaknya. Ketika Temari mengeluarkan tawa ramah singkatnya, Kankuro turut tersenyum dan mengangkat kedua bahunya. "Beristirahatlah. Kau membutuhkannya, Kiba."

|Bersambung|

AN: Yupz it's me! It's your Crow truly! Halo apa kabar? Saya tau saya udah ngebuat kalian menunggu2 updetan fic ini. I got caught up with real life, so busy, with work and all. Saya juga baru kehilangan kitty kesayangan... sob sob. Semoga dia tenang di sana.

Eniwei, maaf kalau chapter kali ini membosankan. Akan saya pastikan chapter ke depan2 lebih menarik dari yang sebelumnya! Review, kritik, dan saran selalu ditunggu seperti biada ya!

Salam hangat, Crow!