Canis Loyalis

Fic by Crow

Chapter 7: Devil's Call

Hitungan mundur menuju pernikahan terencana Hinata:11 hari.

Aku begitu lemah...

Namun apa yang membuat seseorang lemah? Apakah benar... kekuatanku lemah? Ataukah hatiku yang lemah? Aku tak pernah melupakan satupun temanku; bahkan aku hanya beberapa kali lupa akan Shino. Aku juga tak pernah melupakan budi terhadap orang lain. Aku ini anjing. Saking bodohnya, aku begitu setia.

Namun... kenapa aku tertinggal begitu jauh dari Naruto? "Hei, Akamaru... mengapa, mengapa aku tidak bisa menjadi tuan yang sedikit lebih kuat untukmu?" Kiba mengepalkan tangannya, menyalurkan energi frustasinya kepada satu titik. "Agar situasi ini tak menimpamu lagi... Agar aku bisa menepati kata-kataku pada Hinata... Agar aku tidak begitu merepotkan Shino, Hana, dan ibu."

'Kiba.'

"Akamaru!?" Kiba dengan segera mengelus kepala anjing setianya yang baru siuman. "Kau sudah sadar... syukurlah. Tapi jangan paksakan dirimu."

'Omong kosong, Kiba...' Akamaru melengking pelan, berniat duduk namun belum memungkinkan. Menuruti saran partner-nya, ia tetap berbaring. 'Kau kuat. Kau selalu kuat di mataku.'

Kiba menggigit sisi bibir, menampilkan satu taring tajamnya. "... Kau terlalu menilai tinggi diriku, sobat... aku bahkan membuatmu menjadi seperti ini... lagi."

'Lalu kenapa?' Si anjing setia mendengus, tatapan tak pernah lepas dari Kiba. 'Apa itu membuatmu menjadi sahabat sekaligus rekan yang menyedihkan?'

"... Akamaru?" Kiba tidak yakin kemana arah perkataan 'akita raksasa' ini.

'Di mataku... kau selalu nampak kuat dan keren. Kau tidak membutuhkan Hinata untuk mengatakan hal demikian.' Kiba merunduk, ekspresinya merona sambil bergumam: apaan, 'sih? 'Kebaikanmu... perhatianmu... kepekaanmu... Itulah yang membuatmu bersinar dari teman-temanmu yang lain. Itu adalah kekuatanmu. Kau terlalu baik untuk membiarkan Hinata tersiksa... kau begitu perhatian sehingga selalu mengkhawatirkan diriku terlebih dahulu ketimbang apapun... juga, dengan kepekaanmu, Shino menjadi orang yang lebih terbuka. Aku benar, 'kan?'

Kiba sekali lagi melipat bibirnya, berusaha menahan haru. Air matanya nampak semakin menggenang oleh si anjing-ninja. "... Terima kasih, Akamaru. Kau tidak tahu, betapa aku membutuhkannya.

Tapi, aku masih belum bisa menjadi lebih baik. Dari dulu sekalipun... aku selalu terbelakang. Aku memang tak pernah mengatakannya padamu, terkadang aku merasa 'kecil' di sekitar teman-teman semua... terutama Naruto." Kiba terdiam sebentar, mengucek mata yang tak jadi meneteskan airnya. "Katakan padaku Akamaru, apakah selama ini aku salah... karena sudah menyimpan kecemburuan itu?"

Akamaru tak langsung menjawabnya. Ia malahan menatap kedua mata setengah sayup milik sahabat terbaiknya. Ada perasaan bersalah di sana... ada dosa di sana... dan dari sana pula Akamaru melihat keputusasaannya. '... Maaf, Kiba, aku... tidak tahu." Akamaru mengerutkan alis mata.

Untuk sepersekian detik, kedua mata feral Kiba terbelakak. Ia cukup terkejut mendengar jawaban Akamaru, yang padahal di sisi lain ia begitu mengharapkan sebuah konseling dari si anjing. "Ah-ahahaha! Benar! Apa 'sih yang kukatakan!? Kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku sekarang. Kau harus beristirahat lagi, sobat!"

Kiba berusaha riang seraya berjalan keluar bilik perawatan Akamaru. Tak disadarinya sedikitpun, si anjing terus memperhatikannya dari belakang. '... Maaf, Kiba. Tapi, jawaban itu harus kau sendiri yang mendapatkannya. Aku... aku selalu tahu, apa yang kau rasakan selama ini. Bagaimana kau menginginkan perhatian lebih dari Hinata, juga bagaimana kau dalam hening mengumpat perkembangan Naruto; semuanya nampak begitu jelas di mataku. Aku tak bisa bilang kalau dirimu salah. Itu adalah normal; manusia cemburu terhadap manusia lainnya. Aku memang tak bisa membantumu... tapi aku akan selalu menemanimu, kemanapun dirimu pergi mencari jawaban tersebut. Karena kita adalah saudara.'

Kiba berjalan kembali ke kamarnya, tiang infus pada genggaman tangan kanan. Tak sedetikpun dirinya tidak menyesali pertanyaan menyedihkan yang ia ajukan barusan. "... Apa-apaan tadi itu...?" Ia menyengir tak percaya; pandangan kosong ke lantai itu adalah bukti rasa malunya yang tak tertahankan. Kiba menggigit bibir, menjedutkan kepalanya penuh akan depresi. Walau pelan ia menyalurkan penatnya ke dinding tersebut.

Ketika ia memasuki ruangannya kembali, ia benar-benar sudah tak peduli lagi. Kiba mencabut jarum infus pada lengannya, melepas baju dan melemparnya ke sudut ruangan. "... Aku tidak ingat diriku serendah ini." Kepalan tangannya mengepal dengan determinasi. Naruto kuat... lalu kenapa? Hinata selalu memperhatikan dirinya, lalu kenapa?! Gadis yang selalu memperhatikan Naruto itu sendiri kini sedang menungguku... mengharapkanku. Bukan orang yang menyimpulkan seperti apakah diriku, aku sendirilah yang membuat diriku serendah ini... dan aku sebenarnya menyadarinya. Aku depresi karena kecewa pada diriku sendiri. Aku hanya takut menyadarinya.

Kiba merebahkan tubuh ke lantai, dan menyiapkan kedua telapaknya untuk melakukan push-up. Satu. Dua. Tiga. "... Aku akan berubah. Aku akan kembali... dan berubah menjadi lebih baik... Untukmu, Hinata."

-o0o-

Hitungan mundur menuju pernikahan terencana Hinata:10 hari.

Kedua mata lavender Hinata terbuka secara perlahan. Telinganya mendengar cicip-cicip mungil burung lokal yang bertengger di pohon sekitar ataupun atap kamarnya. Nyanyian merdu tersebut membuat Hinata terjaga sekaligus terbuai secara bersamaan. Namun walau begitu, kepalanya hanya dapat memproses nuansa bangun tidurnya beberapa hari yang lalu... ketika Kiba menemaninya tidur untuk semalam.

Walau tentu saja tak ada kejadian khusus setelah ia menggigit leher Hinata, tapi si gadis merasa lain dari yang biasanya. Pagutan lengan hangat Kiba pada pinggangnya, juga bagaimana napas hangatnya menciptakan sensasi menjaga dari segala ancaman. Ia merasa terpenuhi.

Jika kembali diingat, Hinata belum pernah tidur bersama Naruto dulu. Mungkin bisa dikatakan, itu adalah karena kesalahan keduanya. Hinata terlalu malu; sedangkan Naruto terlalu sibuk... ataukah dia juga malu, hanya dewa yang tahu.

Yang pasti momen tersebut adalah pengalaman spesial pertamanya yang ia bagi bersama dengan seorang pria hingga pagi.

Akan tetapi, kenyataan menyerangnya dengan telak.

Pagutan Hinata kosong; dadanya terasa hampa. Tak ada lagi Kiba. Tak hanya jika bersamanya, namun Kiba Inuzuka dari Konoha sudah tak ada di desa ini lagi. Harapan Hinata hanya satu: agar Kiba tidak mati dan baik-baik saja. Ia sudah lebih dari tahu kalau tenketsu tersumbat memang sangat fatal dalam pertempuran shinobi, tapi jika dapat diatasi secepat mungkin sang korban akan baik-baik saja.

Hinata duduk di atas kasur, membelai helai demi helai rambut berantakannya dengan malas. Tatapan sayupnya tertuju pada selimut serta sprei berwarna ungu beraroma lili. Ia sudah tak bisa menangis lagi... sudah kering, semuanya. Hinata bahkan merasa tubuhnya seperti tak bernyawa.

Ia tak bisa membayangkannya sedikitpun; semua kebahagiaan itu berakhir hanya dalam lima menit. Oleh Ahura Kai. Semua janji Kiba dengan dirinya dipatahkan semudah mematahkan ranting kayu yang tergeletak di atas tanah. Apakah Hyuuga sekuat itu... kekuatan dan posisinya? Apakah benar... bahwa aku sudah tak punya 'pilihan' lagi?

"... Hinata."

Tubuh gadis sulung keluarga utama Hyuuga menegang. Kedua matanya menembak terbelakak ketika suara tegas ayahanda menegurnya dari balik pintu. "Kau sudah bangun?"

Hinata mengecek jam weker pada meja kerjanya. Pukul setengah tujuh, "S-sudah, ayahanda... baru saja."

"Bagus." Hinata mendengar tapak kaki berat sang ayah memutar balik. "Aku ingin berbicara denganmu. Aku tunggu di meja makan."

"B-baik."

Beginilah aku... tak punya 'suara' sedikitpun. Pandangan Hinata semakin menyayup akan kesedihan. Untuk bertanya... untuk menyanggah... untuk memberikan ide.

Setelah akhirnya terdiam selama beberapa detik, ia akhirnya berbisik pelan. "... Aku hanya bisa menerima semuanya." Ia mengepalkan kedua tangan, mengernyit tak kuasa. Penyesalan seperti ini selalu datang terakhir ketika kita menyesali kelalaian masa lalu. "Seandainya... aku menjadi sedikit lebih berani. Seandainya aku mengalami perubahan dari diriku yang dulu... Sedikit saja."

Hinata melangkah keluar kamarnya dengan perasaan lesu. Kamarnya adalah satu-satunya bilik yang terletak di lantai dua 'rumah utama' klah Hyuuga. Ketika Hinata melangkah turun ke lantai satu, ia tak menyadari sosok adiknya, Hanabi, menunggunya tepat di ujung tangga. Si adik menawarkan senyumannya. "Neesan,"

Hinata terselak napasnya sendiri. Murni secara refleks, ia menghalangi dadanya menggunakan kedua lengan. "H-Hanabi! M-maaf... aku termenung tadi."

Selama ini, Hanabi adalah sosok seorang adik yang begitu suportif terhadap Hinata. Ia tidak pernah bisa melihat si kakak tertekan oleh peraturan keluarga utama selama ini. Ketika Hinata membutuhkan tempat untuk berbagi, Hanabi akan di sana. Walau ia dielu-elukan sebagai 'si jenius' setelah Neji, ia tidak pernah besar kepala dan tidak pernah melihat kakaknya sebelah mata barang sekali. Apapun kekurangan sang kakak, ia selalu melihat kelebihan kakaknya melebihi apapun.

Terkadang, ia bisa menjadi over-protektif terhadap Hinata. Memang tidak banyak yang mengetahuinya, Hanabi hanya pandai menutupi sisinya yang 'itu' dari khalayak umum.

"Neesan sudah baikan?" Hanabi memperhatikan si kakak dengan mata lavender besarnya.

"I-iya... aku tidak apa-apa." Hinata merundukkan kepala, berusaha menutupi raut bermasalahnya.

Awalnya Hanabi hanya memperhatikan sosok si kakak. Namun pada akhirnya, ia tersenyum lepas. Bisa melihat kakaknya lagi saja sudah menghiburnya. "Neesan sudah dua hari lebih berada di dalam kamar. Apa neesan makan dengan baik...? Kami jadi khawatir,"

"Kami?"

"Aku dan Neji-niisan."

Terkadang Hanabi bisa begitu terang-terangan tanpa menyadarinya sedikitpun. "O-oh, begitu... maaf,"

"Ayahanda sudah menunggu." Ucap si adik dengan begitu manis. "Mari kuantar, neesan."

Hinata mengangguk. Karena beberapa alasan, ia merasa kurang mood untuk berbincang-bincang. Mungkin ini memang terdengar kasar terhadap adiknya, tapi... ekspresi gemilang Hanabi (yang seolah tak tahu menahu dengan perkembangan terakhir) membuatnya sedikit tidak nyaman. Bukan hanya karena Hanabi tidak menyinggung soal Ahura Kai, tapi juga karena ia tidak membawa-bawa topik yang berhubungan dengan Kiba.

Hinata ingin ia disalahkan. Hinata ingin seseorang menyalahkannya karena sudah memanfaatkan Kiba dalam situasi genting ini. Demi Rokudo Sennin, berhentilah menyalahkan Kiba, seluruh orang di atas rumah ini!

Ini menyakiti hati Hinata. Karena sedari tadi, setiap anggota klan yang melintasi mereka berdua (dan melirik Hinata) pasti akan membisikkan satu-dua hal mengenai 'Inuzuka rendahan' atau 'Inuzuka kotor'. Dia melakukan itu semua demi diriku, agar aku tidak menanggung malu; terlebih lagi agar klan ini tidak kehilangan muka nantinya.

"Jangan menentang ayahanda, neesan."

"Eh?" Perkataan Hanabi menghentikan Hinata pada langkahnya. Apakah yang barusan... dari Hanabi?

"... Ayah juga tidak mau kalau klan ini menanggung malu nantinya." Hanabi masih menjelaskan tanpa menatap Hinata. "Sebenarnya... ayahanda sudah mengetahui mengenai rencana kakak berdua. Karena itu, dia tidak bisa membiarkan Kiba-san melakukan hal seenak dirinya."

"H-Hanabi... apa yang kau katakan?" Hinata merasa tidak percaya dengan ini semua. "I-ini bukan salah Kiba... ia melakukan itu semua demi diriku!"

"Neesan... neesan tahu aku tidak akan pernah bisa melihat neesan menderita dan tersakiti, dari pihak luar ataupun dalam." Hanabi akhirnya berbalik. "Kali ini aku harus setuju dengan ayahanda dan klan. Kakak tidak akan bahagia dengan orang yang tidak mencintai neesan!"

"Ap-Hanabi...! Mengapa kau bilang begitu...?!" Dadanya terasa begitu sesak. Sesak oleh semua pemojokan yang ia rasakan. Jika hal itu tentang Kiba sekalipun, ia merasa turut tersakiti... ikut merasa tersinggung. Apakah ini karena mereka telah berbagi sumpah, Hinata belum tahu. Namun ketika ia mengingat senyuman Kiba yang berusaha membela dan menenangkan dirinya... ia tidak bisa membiarkan Kiba dihina ataupun dituduh berlaku jelek. "Kau tidak mengenal Kiba-kun... Bagaimana bisa kau mengatakan hal demikian?!"

"Neesan... seluruh perkataan neesan sangat bertolak belakang." Mulai Hanabi. "Neesan bilang kalau dia melakukan itu demi neesan, demi klan kita juga... tapi, apa benar neesan mencintai dia? Apa benar dia sungguh-sungguh mencintai neesan? Apa dia tidak hanya memanfaatkanmu saja? Kalian berdua bahkan tidak berpacaran... ataupun pernah mengungkapkan perasaan kalian berdua. Tiba-tiba saja... dan, kalian sudah akan menikah. Ini sangat aneh!"

"... Itu... tidak, aku dan Kiba-kun... kami," kami saling mencintai, 'kan?

Kiba-kun bilang dia sudah mencintaiku dari dulu sekali... tapi bagaimana dengan diriku?

Apa aku benar-benar mencintai dirinya? Apakah benar... aku tidak hanya mencari 'pelarian'?

"Apa neesan tidak mencari pelarian dari Naruto-san saja?"

"H-Hanabi!?" Hinata menutup mulutnya dengan kedua tangan, kedua matanya mulai berkaca-kaca kembali.

Tersakiti oleh ekspresi kakaknya, Hanabi berusaha melangkah maju. Ia menyentuh lengan Hinata dan menatap wajah tak percaya si kakak. "Neesan... aku mencintai neesan. Aku ingin neesan bahagia. Tapi tidak dengan rencana mendadak seperti ini. Semuanya akan berakhir di tengah jalan, dan seluruh pihak akan menanggung malu."

"Hanabi sepertinya sudah merangkum isi diskusi pagi kita..." Hiashi berjalan dengan perlahan dari arah ruang makan. Kedua tangannya berada pada pergelangan haori berwarna karamel. "Kukira ada ribut-ribut apa... rupanya Hanabi tidak bisa menahan perasaan dan penatnya kepadamu, Hinata."

"... Maaf, ayahanda." Si adik merundukkan kepalanya. "Aku tidak tega melihat neesan diomeli olehmu."

Hiashi mengembalikan tatapannya kepada si sulung dari dua bersaudari. Ia tak ingin ambil pusing komentar tersebt. "... Apapun tak masalah, Hanabi. Jadi, kau sudah menangkap apa yang ingin kusampaikan bukan... Hinata?"

Si kakak tak bisa bergerak ataupun menjawab. Kedua lengan masih menjadi tameng yang menutupi dadanya dari pihak 'luar'. Maka dari itu, Hiashi melanjutkan, "Jadi apa masalahmu? Naruto yang ingin menjadi Hokage? Haah, kau pikir kita tak bisa mengatasinya?"

Hinata mengangkat kepalanya. "Jangan meremehkan posisiku sebagai kepala klan Hyuuga, Hinata, putriku." Mata tegas Hiashi tak berpaling dari putrinya. "Anggap saja masalahmu dengan Naruto sudah selesai. Apapun yang tengah kalian berdua hadapi... kau tidak perlu mencari jalan pintas."

"Ayahanda... bisa melakukan sesuatu?"

Hiashi mengangguk.

Hanabi tersenyum.

Sesaat tak ada Kiba di dalam pikiran Hinata. Imagi Kiba di dalam benaknya perlahan tergantikan dengan sosok Naruto.

Hanya Naruto... dan dirinya. Berhiaskan pakaian serba putih, bersih, dan suci.

|Bersambung|

AN: Siapa yang bilang Hinata adalah gadis paling suci di jagat Naruto? Think again! Anyway, review, kritik dan saran terus ditunggu.

Crow, signed out.