Canis Loyalis
Fic by Crow
Chapter 8: The Helpers
Kiba memang jarang berada di Suna. Desa padang pasir ini memang agak tidak bersahabat, terutama kepada pendatang. Apalagi pendatangnya tersebut tiba dari desa Konoha yang terkenal dengan banyaknya pepohonan rindang. Banyak orang bilang tubuh seorang Inuzuka dapat menangani panasnya terik matahari dan juga dinginnya malam hari. Mereka salah. Berbedanya temperatur tubuh tidak berpengaruh apapun terhadap posisi mereka. Inuzuka juga manusia (setengah anjing, kasarnya), ketika kepanasan mereka bahkan bisa lepek seperti seekor anjing yang tergeletak diatas tanah dengan lidah yang terjulur keluar.
Agak kasar ya, memang.
"Apa yang kau lakukan...Kiba-kun?"
Temari tidak mempercayai matanya sendiri. Pria ini baru saja menjalani masa pemulihan dari luka-luka dalam yang dideritanya. Namun dihadapan si putri sulung Sabaku ia tengah telungkep, tubuh banjir akan keringat (lidahnya menjeler keluar juga). Yang membuat si perempuan dewasa lebih panik adalah ketika ia melihat tiang infus yang berdiri dengan diam ditepian kasur, berikut juga jarum infus yang sedikit demi sedikit mengeluarkan cairan hipotonik secara mubazir diatas ingin memarahi pemuda Konoha yang bersangkutan. Namun ia mengesampingkan amarahnya, dan mulai mengangkat tubuh Kiba dari atas lantai.
Temari merebahkan Kiba kembali ke kasur pasien, membuatnya menghadap langit-langit klinik. Ia berusaha mengambil pengganti infus sebelum tangan si pemuda menghentikannya. "...Tidak perlu. Aku sudah merasa jauh lebih baik."
"Kalau semua pasien bilang begitu, untuk apa adanya seorang dokter?!" Temari tak mengindahkannya, dan mengembalikan tangan Kiba kesamping tubuhnya diatas kasur.
Kiba membuka matanya. Semuanya nampak kabur. Perasaanya seperti setangkai es krim yang mulai mencair karena panas. "Tolong mengertilah... Aku tidak bisa diam disini. Aku harus bersiap-siap untuk kembali ke Konoha." Pandangannya menyorotkan bahwa dia tidak sedang bercanda. Temari berdecak, merasa sangat keberatan dengan permintaan Kiba. Apa yang akan dilakukan Gaara nantinya, jika terjadi hal yang tidak diinginkan kepada pria ini. Apa yang akan dikatakannya nanti pada Naruto? "Aku serius, Temari-san..."
Si sulung Sabaku tidak tahu harus melakukan apa. Dia seorang wanita. Dia tahu mana mata pria yang bersungguh-sungguh, dan mana yang tidak. Yang satu ini berbeda. Dia melihat determinasi sesolid baja dari sana... Meski nampak jelas terlihat, kebulatan hati itu bisa saja membahayakan nyawanya nanti.
"Neesan, aku dengar ribut-ribut. Apa yang...?!" Kankuro juga nampak kalap ketika masuk keruangan pasiennya si Inuzuka keras kepala. "Oi oi, apa kau sudah gila, Kiba!?"
Napas Kiba semakin berat. Tidak hanya panas, dadanya juga semakin sesak. "Aku cuma melakukan pemanasan barusan..." Ia menyengir meledek kearah Kankuro. "Ini belum apa-apa."
"'Apa-apa' yang bisa terjadi nantinya adalah jika kau mati tanpa sepengetahuan kami!"
Kankuro menghampiri kakaknya, dan menggantikannya berusaha mengambil peralatan infus yang baru di meja pasien sebelah kasur Kiba. Bagaimanapun juga Kankuro lebih menguasai mengenai bidang kedokteran tubuh manusia, ketimbang kakaknya yang dokter hewan. "Aku tidak terima kata 'tidak'. Sekarang aku akan kembali membiusmu tidur."
Kankuro sudah sadar lebih dulu bahwa si pria anjing ini tidak akan menerima perintahnya secara jinak. Dunia akan terbalik lebih dulu jika perkiraannya salah.
"Tidak, Kankuro...! Kumohon!" Kiba yang belum dapat bergerak hanya bisa meronta-ronta, berusaha kabur dari kasurnya. "Aku harus kembali! Aku harus kembali ke Konoha! Ada seseorang yang menungguku...dia menungguku, berharap agar aku kembali. Berharap bahwa aku baik-baik saja! Aku sudah tidak apa-apa sekarang, Kankuro, Temari-san...!"
Permohonannya yang meledak tiba-tiba tidak diindahkan oleh Kankuro. Namun ekspresi wajah itu juga disadari oleh si pria kabuki. Itu adalah wajah putus asa yang teramat sangat, sama seperti dulu ketika ia melihatnya memagut Akamaru yang masih mungil...erat dihadapan dadanya. Mereka berdua sekarat saat itu. Kankuro menyadari jelas Kiba sudah menyerah. Meski mati, paling tidak ia berada bersama Akamaru-nya.
Demi Rokudo Sennin di surga, apa yang sebenarnya terjadi di Konoha?
Ia beradu pandang dengan sang kakak sebelum menggeleng pelan kepada Kiba. Bagaimanapun juga, jika tidak segera ditindaklanjuti, perbuatannya ini dapat membuatnya cacat seumur hidup. Dampak tenketsu tersumbat tidak hanya berefek untuk masa ini saja. Jika diobati secara sembarangan dan si pasien juga tidak mengikuti prosedur yang efisien, bukan suatu hal yang mustahil jika kedepannya si pasien menjadi lumpuh. Diawali dengan kecenderungan mampetnya aliran chakra secara berkala, sampai kelumpuhan total pada anggota-anggota tubuh. Hanya satu hal yang Kankuro sangat yakini saat ini dan sifatnya adalah mutlak. "Jangan memaksaku melakukan ini, Kiba..." Dia tidak akan membiarkan Kiba berbuat seenaknya untuk saat ini.
"...A-apa?"
Tepat ketika ia mengherankan ekspresi menyerah Kankuro, semuanya berubah menjadi gelap. Sebelum ia pingsan, ia melihat bintang-bintang berkerlip-kerlip, itu 'pun juga setelah tinju Temari menempel dengan erat dan kuat di pipinya.
"Pasien yang merepotkan." Meski gelap, Kiba masih bisa mendengar suara Kankuro. Intonasi berada ditengah-tengah kekesalan dan rasa simpati.
"Sepertinya dia melakukan cardio berat sebelum terbaring lemah karena dehidrasi. Lagi." Temari memijat-mijat tangan kanannya yang sudah membuat si pasien kembali tak sadarkan diri. "Apa yang dipikirkannya sebenarnya, aku tak mengerti."
...
Tentu saja, semua orang tidak akan mengerti. Kalian semua tidak akan mengerti. Tidak akan pernah...
Hinata. Hinata... Aku harus kembali. Sekarang juga, tanpa tertunda...
Aku hidup...selama ini... Hatiku terketuk untuk melakukan lebih demi dirinya. Gadis pemalu itu...hidup dalam tekanan keluarganya dan masyarakat. Tak punya suara, baik di rumah ataupun di akademi, namun memiliki determinasi yang tak terkalahkan...oleh siapapun juga.
Namun dia rapuh. Ketika ia akan mendapatkan kebahagiaan, hal tersebut selalu saja dengan cepat terebut.
Aku ingin disana...aku ingin disisinya...!
...
Namun aku lemah. Aku tak berdaya, sungguh tak berdaya.
Hinata bagaikan mata angin dari badai. Ia bagaikan pusat badai yang selalu tak bergeming, namun disekitarnya selalu ribut ini-itu tanpa memperdulikannya. Tanganku hancur, lenganku hancur, wajahku hancur, badanku hancur, seluruh jasadku hancur ketika mencoba meraihnya...menembus badai itu.
Hanya Naruto yang pernah bisa mendobrak semua itu...dan diakui.
Meski tak pernah menyuarakannya, aku selalu mengakui dan iri akan kekuatan yang dimiliki Naruto, tubuh dan hatinya. Aku tidak akan pernah bisa seperti dia.
...
... ...
Tapi aku menyayangi Hinata. Meski aku tidak akan pernah bisa seperti Naruto, aku ingin mencoba untuk menjadi lebih dari itu. Naruto berulang kali membuat Hinata menangis, baik disengaja ataupun tidak. Naruto selalu membuatnya menerjang bahaya. Namun, Naruto selalu membuat Hinata ingin melakukan sesuatu...sesuatu yang membuat dirinya menjadi lebih baik, lebih tegar, dan lebih kuat dari sebelumnya.
Aku ingin kembali kesana. Aku ingin melihatnya tersenyum. Aku ingin membuat pekikan rasa takutnya pada hari itu tidak akan pernah keluar lagi.
Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Akan dunia, akan keluarganya, akan dirinya sendiri...yang ia anggap adalah sebuah kekecewaan dan kekurangan... Akan diriku.
Aku ingin sekali lagi menghampirinya, memintamaaf karena sudah membuatnya khawatir... Dan mengatakan padanya bahwa, 'kau sudah sempurna dimataku, Hinata.'
Meski sesaat, begitu sesaat sebelum ia benar-benar pingsan kembali, ia tersadar, dan meraih lengan kiri Kankuro. Ia meremas pakaian hitam si pria kabuki...sangat erat hingga membuat Kankuro sendiri tertegun. "Aku ingin menjadi lebih kuat... Aku harus...kembali-"
Temari menyadari efek tak percaya adiknya yang muncul ke permukaan. Kedua matanya melotot, seperti sedang melihat penampakan makhluk halus kepada Kiba yang kembali tak sadarkan diri. Keringat tak percaya mengalir disisi wajahnya. Temari nampaknya tak begitu mengerti, namun seperti ada sesuatu yang membuat jantung Kankuro ikut terasa nyeri.
Ia tak pernah melihat ekspresi seseorang seperti ini sebelumnya. Kankuro tidak yakin melihat apa dari wajah Kiba barusan. Amarah? Determinasi? Kekecewaan? Atau bahkan depresi?
Atau mungkin...semuanya?
"K-Kankuro?" Temari memecah keheningan diantara dirinya dan si adik. Namun si anak kedua dari tiga bersaudara Sabaku tidak menjawab apapun.
-oOo-
9 hari lagi sebelum pernikahan terjadwalkan Hinata
Berada di perpustakaan pribadi khusus milik keluarga utama klan Hyuuga ini bagaikan serasa mencium aroma 'sejarah'. Hampir semua jenis dokumen-dokumen penting peninggalan leluhur, cetakan ulang dari kitab Rokudo Sennin, mitos mengenai 'Kaguya Otsutsuki', kisah-kisah kesusasteraan abad kejayaan sistem feudal tiranikal Nobunaga Oda, sampai masa revolusi pergerakan pemberontakan halus Hideyoshi Toyotomi ada disini. Buku-buku mengenai kepercayaan konfusius dan juga ilmu beladiri yang tidak melibatkan 'ninjutsu'-pun ada disini, bahkan sampai seni berperangpun juga ada. Hampir semuanya. Hinata mengucek sebelah matanya, masih membalik-balik halaman bacaannya saat ini. Matanya menerawang dengan malas, selagi telapaknya yang lain menumpu sebelah pipinya.
Tidak heran Hyuuga merasa begitu elit dan juga 'berilmu'. Mungkin semua hal ini hanya ada disini.
Sudah lima hari semenjak ekstradisi yang dilakukan terhadap Kiba. Lima hari semenjak kabar mengenai si Inuzuka muda menghilang. Apakah dia masih hidup, ataukah dia sudah mati...tidak ada yang tahu. Ini juga sudah lima hari pula semenjak Hinata mengasingkan diri dari keluarganya sendiri...
Ia sangat takut...jika ia berada di dekat ayahnya, ataupun Hanabi, Hinata sangat takut bisikan maut itu mengundangnya lebih jauh. Bisikan yang mengundangnya untuk mengambil prospek dipersatukan dengan Naruto, tanpa adanya perdebatan atara sesepuh dan juga hukum Hyuuga.
Hiashi, dengan begitu mengejutkan dan walau tanpa diduga-duga, ternyata sudah menyukai Naruto. Semua itu semenjak pemuda tersebut membuktikan dirinya dikala menyelamatkan penduduk Konoha dari serangan keenam Pain. Jika itu artinya pernikahan mereka diundur hingga Naruto menjadi Hokage, itu 'pun nampaknya sudah bukan lagi menjadi masalah.
Hinata tak percaya itu semua.
Ini bahkan sudah bukan mengenai masalah itu lagi. Naruto memiliki prinsip; Naruto juga memiliki harga diri. Apakah dia sudi melakukan hal demikian? Lagipula, jauh didalam lerung hatinya, Hinata tahu bahwa Naruto masih menyukai Sakura-san...sangat, sangat mencintainya. Itupun dibuktikan dengan indikasi serta implikasi yand ditunjukkannya pada malam itu.
Hinata menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menerjunkan mukanya keatas buku bacaan (yang tebalnya bukan main). Semuanya begitu berantakan, semuanya sangat diluar kendali. Apa yang harus kulakukan?
Kiba-kun, jawab panggilanku... Apa yang harus kulakukan...? Berikan aku cengiranmu lagi. Seperti dulu, katakan padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja...
Kiba-kun...
"Hinata-sama?"
Bagaikan lari terbirit-birit, Hinata berusaha mengalihkan wajahnya dengan amat terburu-buru. Wanita dewasa yang menegurnya bisa melihat sedalam apakah si perempuan belia dihadapannya ini tengah tenggelam didalam pikirannya sendiri. "Eh, eh... Mm, R-Renge-san?"
Sekali lagi wanita itu menandai, sembab di kedua pelipis bawah mata Hinata. Ia tersenyum manis meski agak diliputi kepahitan dan rasa simpati. "Saya membawakan anda makan siang." Kedua mata nila Renge kini sudah berbalas tatap dengan Hinata. Tidak ubah bedanya dengan dahulu sekali, di mata Renge, Hinata masih serupa seperti dulu: gadis manis yang pemalu. Meski posisi Renge sendiri di klan Hyuuga adalah sebagai keluarga cabang, tapi dia sudah sangat akrab dengan Hinata.
"Renge-san tidak perlu memanggilku seperti itu. Kita tidak sedang di acara formal."
Si wanita tersenyum tulus. "Ara, maafkan saya, Hinata-san,"
Kedua wajah Hinata berubah merah. "R-Renge-san, jangan mengisengiku...!"
Kini si wanita mengeluarkan tawa ramahnya yang hampir tak terhentikan. Untuk sementara ia meletakkan rantang makan siang Hinata diatas meja pustaka si gadis, dan beralih untuk mengambil kursi lainnya yang berada diseberang. Ia mendudukinya setelah yakin sudah berada cukup dekat dengan si nona muda Hyuuga. "Baik, Hinata-chan. Eh, tapi aku masih boleh memanggilmu seperti itu 'kan - seperti dulu lagi?"
Senyumannya mengundang ukiran kehangatan yang serupa pada bibir Hinata. "Jauh lebih baik, Renge-san." Akhirnya tubuh Hinata dapat rileks. Dari kesemua orang, ia membutuhkan seseorang yang benar-benar mengerti akan dirinya.
Sejak melahirkan Hanabi, Hinata tidak lagi mendapatkan kehangatan dari sosok yang dipanggil ibu. Hubungan mereka pun tidak lama, dan Hinata pada saat itu masih sangat kecil sekali. Hinata 'pun mungkin bisa saja lupa dengan wajah ibundanya sendiri, jika tidak sekali saja dalam sehari melihat ke bingkai yang terletak di aula utama Hyuuga. Baginya, Renge-san, yang sudah diberikan kepercayaan oleh Hiashi serta mendiang ibunya, adalah pengganti sosok krusial tersebut.
Hinata menjadi agak ragu. Tatapannya secara ragu-ragu bertukar silih berganti, antara buku diatas mejanya, dan juga dada Renge. Wajahnya memerah.
"Sudah agak lama." Renge memecah keheningan diantara keduanya. Ia tahu Hinata memerlukannya. "Kau mau memeluk bibimu ini?"
Tawaran lembutnya dengan suara yang bagaikan malaikat...tidak membutuhkan waktu lama bagi Hinata untuk menyambut lengan terbuka Renge. Ia mengapit si bibi dengan erat, dan secara refleks Renge melayangkan satu tangannya ke kepala berambut lembut milik Hinata, dimana satu tangan lainnya mengusap-usap punggung si nona muda.
"Sangat banyak yang sudah kau lalui Hinata-chan." Itu bukanlah pernyataan. Renge hanya ingin mencurahkan isi hatinya, ingin menyampaikannya. Ia merasa iba, ia merasa bersalah kepada mendiang ibunda Hinata sendiri. "Mengapa aku sampai membiarkan hal ini terjadi kepadamu,"
Renge mengeluskan pipinya di kepala Hinata. Sementara si gadis belum menjawab apa-apa. Namun si bibi tahu, isakan yang dilakukan Hinata ini untuk apa... Untuk siapa. "Bagaimana keadaanmu, 'nak? Kau nampak kurus. Seandainya ada yang bibi bisa lakukan untukmu,"
Akhirnya Hinata menggeleng, masih didalam pagutannya. "Aku ingin bibi disini sebentar lagi. Aku membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritaku. Walau apapun yang Renge-san pikirkan, walau dimanapun Renge-san berpihak, aku hanya ingin mengeluarkan isi hatiku. Aku...ingin suaraku didengarkan. Kepalaku... Hiks hiks... Rasanya mau meledak."
Renge semakin mengeratkan pagutannya terhadap Hinata. "Sedari kau dititipkan kepadaku, oleh mendiang ibundamu, sejak saat itu pula aku selalu berada dibelakangmu...akan selalu mendukungmu. Ibundamu menitipkan kebahagiaanmu kepadaku...aku tidak akan pernah, sekalipun, menyia-nyiakan pesan terakhir kakakku."
-oOo-
Kembali ke desa Suna pada malam harinya, nuansa dingin padang pasir membuat tubuh Kiba bergidik ngilu. Ini masuk diakal, bagaimana sifat padang pasir dimalam hari. Satu hal yang ia tandai cukup berbeda, tempat dimana dirinya berada sudah tidak berbau alkohol lagi. Ini bau tanah liat...dan bau api unggun. Wangi pakaian yang baru dicuci, dan...wangi kedamaian. Aroma rumah kesayangan.
Kedua matanya kini terbuka. Kiba berkedip beberapa kali untuk mendapati dirinya menatap langit-langit ruangan dengan lentera gantung yang terbuat dari besi. Cahaya jingga membanjiri wajah Kiba dari atas dengan begitu silaunya. Ia harus menutupi wajahnya dengan satu lengan sebelum mendengar suara penyambutan dari seseorang yang terdengar tidak asing lagi oleh si ninja pemburu Konoha.
"Sudah merasa lebih baik, Kiba?"
Akhirnya si pemuda benar-benar tersadar. Hidungnya masih dapat mengaromai bau khas ini. Bau kaktus dan oase padang pasir. Disisi ranjang tempatnya beristirahat, duduk seseorang berambut merah. Diatas bangku santai itu, si pria yang dimaksud menumpukan kakinya satu sama lain. Kedua tanyannya masih memegang buku bacaan yang saat ini tengah terbuka diatas tumpuan kedua pahanya. Sepasang mata berpelipis hitam menatap Kiba dengan wajah tenang. Namun Kiba dengan jujurnya mengakui bahwa senyuman tersebut sangat tipis diukir di bibir lawan bicaranya. "Gaara,"
Sesaat kemudian Kiba merasa kepalanya berputar kembali. Ia mengerang pelan sembari memegangi rahangnya. Rasanya mau lepas. "Pukulan Temari bisa sangat menyakitkan." Untuk suatu alasan Gaara terdiam sejenak. "Percaya padaku, kau tidak mau membuatnya marah."
Kiba mengerti implikasi arah pembicaraan temannya. "Berapa kali...Gaara?"
"Beberapa kali." Jawabnya singkat.
Kedua alis mata Kiba terangkat, hampir menempel di keningnya. "Tapi...pasir...? Melindungimu?"
"Terlambat."
"Aww,"
"Ya." Gaara menghela napas, dan tersenyum lumayan panjang. Ia meletakkan telapaknya ke kening Kiba. "Lupakan masalah itu. Nampaknya beristirahat penuh seharian sudah membuat kondisi tubuhmu stabil kembali. Beberapa jam yang lalu badanmu masih sepanas padang pasir diluar sana."
Kiba awalnya tertegun melihat Gaara. Gaara 'si pembunuh' bisa setenang ini kini? Itu agak tidak sopan, Kiba mengakuinya. Tapi Tim 8 adalah saksi mata, dulu sekali, betapa sadisnyakah pria Kazekage dihadapannya ini.
Tiba-tiba kepala Kiba menjadi tambah berat, ia mengutuk dibalik napasnya. "Terundur satu hari lagi..." Kali ini ia mengurut jidatnya.
Sang Kazekage masih diam, memperhatikan Kiba dengan kedua bahunya yang melusuh turun seperti orang yang tidak bersemangat hidup; tidak seperti seorang Inuzuka. Ada sesuatu yang ingin diceritakannya, namun itu bisa ditunda...untuk beberapa saat. "Kau harus mengisi perutmu. Jika ini bisa membuatmu kembali bersemangat pula, Akamaru sudah siuman. Dia sudah aktif lagi."
Itu tidak membutuhkan waktu lama bagi si ninja pengejar untuk memberikan responnya. "S-sungguh?!"
"Temari sudah selesai memasak, beberapa saat yang lalu. Mengapa kau tidak ikut juga?"
Kiba mengikuti tuntunan Gaara, keluar dari kamar siapapun ini yang aromanya, setelah ia menajamkan indera penciumannya, seperti kayu...besi, dan bubuk mesiu serta racun. Dengan aroma bau yang baru saja ia cium ini, suasana rumah sebelumnya yang ia rasakan untuk beberapa saat menjadi agak tersamarkan. Apa ini, kamarnya Tenten? Celetuk bisik Kiba, teringat akan si Ratu Senjata, sampai ketika ia melihat beberapa rangkai boneka kayu tergantung di sisi kamar. Ghee, kamarnya Kankuro?!Bikin merinding saja?!
Menapak keluar, suasana yang diperhatikan oleh si ninja Konoha adalah...rumah. Rumah yang asri, damai, dan...rumah; tempat yang membuatmu nyaman, aman, santai, dan tenang. Kiba memegang satu pagar kayu yang menjadi pembatas antara lantai dua dan lantai satu dibawah sana.
Seraya menapakkan kakinya satu persatu menuju lantai pertama, Kiba tidak bisa tidak menggerayangi seisi rumah dengan kedua mata feral-nya. Di beberapa sudut rumah, ada guci-guci berisikan bunga. Alas tempat injakan di lantai satu, tepatnya yang persis berada dihadapan pintu besar dua daun kenop - yang diduga Kiba merupakan pintu utama - adalah kulit harimau biru raksasa. Kepala sang (mantan) predator menganga lepas, menampilkan masa-masa kejayaannya yang sudah lewat. Mengikuti arah wajahnya, Kiba bisa melihat perapian yang saat ini tengah menyala di ujung sisi lain dari ruangan. Disana, didekat api penghangat, Kiba melihat Kankuro menyelonjorkan kakinya sembari membaca buku. Dihadapannya beberapa meter, ada Temari yang sedang bermain dengan Akamaru. Ia mengambil potongan daging, dan memberikannya kepada Akamaru yang sedang rebahan di pahanya. Terlalu akrab?, bisik Kiba, sungguh tak percaya.
"Kakak menyukai hewan, khususnya anjing dan musang." Seperti mengetahui apa yang ada di benak Kiba, Gaara membuka mulut kembali, menjelaskan tidak kepada siapapun. Kiba hanya mengangguk.
"Hei, si bintang utama acara sudah muncul!" Seruan dari Temari membuat Kankuro melirik dan Akamaru berdiri dengan semangat. Ia menggonggong satu kali sebelum meninggalkan Temari dan berlari kearah partner sehidup-sematinya. Gaara memberikan si akita raksasa jalan lewat, membiarkannya menyeruduk Kiba hingga terjatuh diatas lantai. Ia menjilati tuannya, seperti sudah tidak bertemu untuk selamanya.
Kiba mengeluarkan tawa akrabnya, mengusap-usap kepala Akamaru yang masih dipagutnya. "Maaf, terkadang dia bersikap seperti ini. Dasar bayi raksasa. Padahal kau sudah punya istri dan anak."
"'Loh, bukannya semua anjing begitu?" Tanya Temari dengan nada setengah usil. Itu mengundang tawa lepas dari Kankuro dan juga cemberut datar dari Kiba. "Jangan tersinggung. Aku hanya bercanda." Dia berusaha menahan tawanya seraya menepuk kedua tangan. "Daripada itu, ayo makan sekarang!"
Suara sendok dan piring saling beradu. Persis di masing-masing wadah piring yang mereka miliki sepotong sirloin segar dan hangat disajikan. Tidak lupa juga saus tomat dan sambal serta sayur-sayuran ringan seperti kacang, jagung, brokoli, dan wortel. Kiba suka sirloin (sangat, sangat suka), namun dia menyisihkan sayur-mayur ke tepian piring dengan wajah mendendam, seakan ia dan sayuran tersebut adalah musuh abadi. Sementara Sabaku bersaudara sepertinya tidak begitu pemilih soal makanan. Baik porsi daging ataupun sayurannya dihabiskan dengan merata oleh mereka. Sementara dibawah Kiba, Akamaru juga menikmati bagiannya.
Tidak sekali-dua kali saja mereka bertukar obrolan. Kiba juga sesekali ikutan disana. Namun sebagian besar yang mereka bicarakan adalah mengenai desa Suna sendiri. Seperti bagaimana menumbuhkan hijau-hijauan di desa gersang ini, atau cara untuk mengurangi bertebarannya sampah-sampah kering yang terbawa angin sehingga masuk kedalam lingkungan permukiman warga. Semuanya serasa normal. Kiba juga sedikitpun tidak merasa asing... Ia tidak merasa diasingkan hanya karena menganggap dirinya sendiri adalah tamu dadakan yang tak diundang.
Sesekali Gaara menanyakan kondisi Konoha. Si pemuda Inuzuka menjawabnya dengan jujur, tentu saja. Hampir tidak ada yang patut disembunyikan di jaman damai shinobi seperti saat ini. Namun disisi lain, Temari seperti merasa Gaara seolah memancing sebuah topik. Apapun itu.
"Ngomong-ngomong, Kiba," sang Godaime Kazekage kembali meminta perhatian penuh Kiba yang tengah bersenda gurau dengan Kankuro. Setelah ia yakin mendapatkan yang diinginkannya, si pemuda berambut merah mengambil secarik surat beramplop, surat yang nampaknya sangat resmi sekali. Kiba bisa melihat segel Konoha menjepit batasan surat (yang kini memang sudah tersobek; menandakan bahwa Gaara sudah membaca isinya). Sementara itu, disisi lain dari lembaran amplop 'mahal' itu ada cap stempel... Logo ini adalah lambang keluarga Hyuuga!?
Kedua mata Kiba agak sedikit terpaku, melebar melihat hal tersebut. Namun hal tersebut memang belum ditangkap jelas oleh seluruh orang yang ada disana. Tubuh Kiba menegang, kedua kepalannya mengenggam agak erat.
Hingga akhirnya tersadar akan tatapan bertanya-tanya si tiga adik-kakak, Kiba membuang wajahnya ke bawah. "Benar dugaanku," ujar Gaara, dengan wajah stoiknya yang datar, mata tak lepas dari si ninja pemburu. "Sepertinya, sedikit banyaknya, ini ada hubungannya dengan dirimu."
"Surat apa itu, Gaara?" Temari, si kakak tertua bertanya. Jadi ini yang ingin dipancing adiknya. "Dan kenapa mukamu seperti melihat hantu begitu, Kiba?""
Kankuro memilih diam. "Kau sudah membacanya, Gaara?"
"Secara teknis, sudah." Jawab sang Kage, meletakkan surat tersebut di meja dan mulai memangkukan pipinya pada satu telapak. Ia memainkan amplop tersebut dengan pasti sehingga secarik kertas dapat ditariknya dengan satu tangan saja tanpa kesulitan. "Surat ini ditujukan untuk 'Kazekage'. Rasanya sangat tidak sopan jika aku tidak membacanya."
Kiba semakin merasa tidak enak. Apakah sudah waktunya menceritakan semuanya? Semuanya? "Aku tidak akan memaksamu untuk bercerita, Kiba." Ujar sang Kage. "Namun kami berhak tahu alasan dibalik mengapa sesama teman kami dari negara aliansi sempat berada pada kondisi memprihatinkan seperti itu."
Raut wajahnya semrawut. Ia tidak yakin harus menceritakannya seperti apa. "...Bukan maksudku untuk menyembunyikannya, tapi maaf, aku sama sekali tidak ingin melibatkan orang lain. Karena ini adalah masalah pribadiku."
Gaara tidak pernah melepas tatapannya dari Kiba. Tidak sedikitpun. "Bagaimana kalau kukatakan bahwa aku adalah salah satu dari tamu terundang lima negara besar untuk mempersunting Hinata Hyuuga... Salah satu dari lima calon suaminya."
Tak terkecuali Akamaru, semuanya selain Gaara terperanjat. "APA?!" Temari 'lah yang pertama kali membelah udara kesunyian ini. Ia berdiri dan memelototi adiknya. Dengan emosinya yang meluap-luap, ia mengambil secarik surat tersebut dari tangan Gaara.
"Kau...salah satunya?" Kiba bertanya sekali lagi, seakan tak percaya dengan hal yang didengarnya.
Kiba mengigit kail yang dilempar Gaara. Dia hanya merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di Konoha. "Kurasa aku harus memberitahukannya denganmu, karena aku tahu Hinata-san adalah sahabatmu. Dan kupikir sepertinya ini ada sangkut-pautnya dengan dirimu."
Tubuhnya merosot turun diatas bangku, kakinya terasa bagaikan jelly. Seluruh isi kepalanya diisi oleh Hinata...oleh janji-janji yang sudah dengan seenaknya dibuatnya sendiri. Bagaimana ia bisa memberikan sumpah kosong itu begitu saja kepada Hinata, sementara waktu yang telah ditentukan semakin lama semakin mendekat. Jika waktunya tiba, tidak ada lagi kesempatan kedua untuknya. Semuanya berhenti disana.
Kiba mulai menceritakan semuanya. Bagaimana Kiba mengalihkan hati Hinata dari Naruto kepadanya, bagaimana ia menjanjikan kebahagiaan pada Hinata, dan bagaimana ia sampai menghujam tanah, tumbang dihadapan Hiashi Hyuuga.
"...semuanya begitu kacau, runyam." Ia merasa tak bisa mengangkat kepalanya, memberanikan diri menceritakan segalanya tanpa merasa harga dirinya terluka. Tanpa merasa mempermalukan dirinya sendiri. "Sekarang kalian mengerti, mengapa aku harus kembali. Mengapa sekali lagi aku harus melawan Hiashi-san...!" Ia menggeramkan kedua tanganannya dengan kuat, kedua rahangnyapun seperti siap menghancurkan apapun yang digigitnya. "Aku merasa tidak perlu menceritakan hal ini kepada kalian, para penyelamat nyawaku dan juga Akamaru. Aku tidak ingin merepotkan kalian lebih jauh..."
"Kau mencintainya, Kiba?" Nada suara Temari kini terdengar memerintah dan dominan. Mungkin ini efek dirinya yang merupakan kakak sulung dari dua adik laki-laki. Walau tengah merunduk, mereka bertiga menyadari tubuh si pemuda bagaikan tersengat listrik bertenaga rendah. "Perempuan tidak suka pria yang tidak memiliki ketetapan hati!"
"Aku menyukainya!-tidak, bahkan lebih dari itu!" Dinding yang menahan Kiba selama ini runtuh dan kesabarannya kembali teruji. Napasnya menderu, uap panas dapat dilihat oleh Temari keluar dari dalam hidung Kiba. "Aku menyayanginya sepenuh hati. Aku ingin bilang bahwa ia sudah sempurna...sebagaimana dirinya saat ini! Perasaan ini...selalu ada sedari dulu sekali, semenjak baru pertama kali bertemu di akademi."
Kiba mengernyit ngilu, perutnya bergolak dan dadanya serasa sesak. "Namun perasaan ini selalu kusimpan erat...karena aku tahu Hinata hanya menyukai Naruto - mencintainya, mengaguminya. Aku tahu hal itu hingga rasanya sakit sekali. Maka dari itu, aku tidak ingin memberikan beban pada Hinata, berharap seiring dengan berjalannya waktu...aku bisa melupakan perasaan ini. Naif sekali. Aku benar-benar naif. Aku selalu mensugesti diriku bahwa 'aku tidak menyukai Hinata'... Sekarangpun aku bahkan nyaris tak menyadari bahwa diriku begitu menyedihkan seperti ini."
Hening.
"... Wow," Kankuro menghela napasnya dengan berat setelah agak beberapa saat. Dia sama sekali tidak menyangka Kiba bisa tiba-tiba meledak seperti ini. "Aku kehilangan kata-kata...dalam banyak arti."
Temari adalah seorang wanita. Dan hati lembutnya sebagai perempuan merasa iba terhadap Kiba. Pemuda ini menyimpan perasaannya sendiri demi kebahagiaan gadis pujaannya. Sejauh yang ia tahu, Kiba terus-terusan mengisengi Hinata mengenai Naruto. Siapa sangka kalau keisengannya itu sebenarnya membuat dirinya sendiri terluka... Tersiksa.
"Bagaimana dengan Naruto?" Disisi lain, Temari tahu cinta gila tanpa pamrih yang dimiliki oleh Hinata terhadap si calon Hokage hampir tak tergantikan. Cinta dan rasa kagum itu nyata selama belasan tahun. Yang menjadi pertanyaannya adalah, jika ia menghubungkannya kembali dengan cerita Kiba tadi, apa memang mungkin hati Hinata berbelok semudah itu hanya dengan satu ciuman? Atau ada hal lainnya... Hal lain yang tersimpan di hati Hinata juga?
"... Aku juga tak mengerti." Kiba mengawali, "Terkadang aku tidak bisa menebak sifatnya."
"Bukankah Naruto memang orang yang seperti itu?" Gaara memotongnya. "Dia adalah orang yang selalu mengejar mimpinya, walau orang lain menertawakannya dan mencemoohnya sekalipun."
Kiba terdiam dan terpaku. Ia kelihatan ragu. "Kalau itu aku tahu. Aku secara langsung melihat jerih payahnya dari kecil. Namun yang kuherankan, ia begitu mudah melepas Hinata...yang merupakan pacarnya pada saat itu."
Masuk akal, namun Temari kali ini menyelak dengan cepat. "Bukannya aku sok tahu, tapi Naruto memang orang yang sangat baik. Mungkin saja, dia lebih melihat kebahagiaan Hinata jika bersamamu...?" Ia mengangkat kedua bahunya. "Aku melihatnya di medan perang. Satu hal yang terus dilakukannya adalah melindungi shinobi lainnya. Tidak peduli itu Sakura, Hinata, kau sendiri, bahkan juga aku. Bahkan orang yang belum dikenalnya sekalipun."
Kankuro menyengir dan terdengar terkekeh pelan. "Mungkin dia memang peduli dan menyayangi semua orang... Bagaikan itu adalah sifat alami dari dirinya sendiri."
"Kini giliranmu, Kiba." Gaara melipat kedua lengannya diatas meja. Kedua mata biru mudanya tidak beralih satu incipun dari si jounin Konoha. "Apa kau sanggup?"
Kata-kata Gaara mengandung makna yang luas, namun dibiarkan menggantung seperti itu begitu saja. Namun nampaknya si pemuda bermata tajam mengerti akan hal itu - apa yang seharusnya dijawabnya... Bebannya di dalam hati: "Tapi aku lemah. Aku tidak tahu harus melakukan apa agar menjadi lebih kuat. Agar aku bisa meruntuhkan tembok tebal Hyuuga."
Temari tersenyum panjang. Kiba hampir tidak mengerti senyum itu ditujukan untuk apa. "Kau tidak menyedihkan, Kiba... Kau juga tidak lemah. Cukup bertolak belakang malahan." Ia memangkukan satu pipi, menerawang langit-langit aula makan. "Seandainya Shikamaru menunjukkan sedikit saja usahanya, seperti yang dirimu perlihatkan saat ini. " Ia kembali melirik si pemuda Inuzuka. "Upayamu, niatanmu, hatimu, perasaanmu, rasa sakitmu itu... Sedikit demi sedikit kau memukul dinding tak kasat mata itu, mendobraknya - apa kau tahu, kau sudah membuatnya retak. Meski hanya sedikit, kau sudah menunjukkannya bahwa kau memang adalah seorang pria. Kau sudah memberikan apapun untuk mendapatkan kembali cintamu, meski awalnya kau sekeras mungkin menolak perasaan itu - berusaha menguburnya jauh-jauh. Tapi kau tidak bisa mendustai dirimu terus-terusan. Perasaan itu ada disana.
Hehe percaya padaku, itu sangat menggoda - sangat manis. Dan itu keluar dari diriku sebagai perempuan, dan sebagai Sabaku no Temari."
Kedua pipi Kiba memerah. Seseorang mendukungnya...? Seseorang mendukung cintanya terhadap Hinata? Kiba merunduk, lekukan pada sisi bibirnya itu tidak berdusta. Perasaannya terangkat; jadi ini semua tidak percuma. Ia meremas celananya dibawah meja... Ia merasa sangat senang.
Dia kembali teringat dengan Hinata. Seperti rencana awalnya. Dia tidak akan mati. Tidak akan pernah sampai kebahagiaan Hinata sudah terjaminkan. Pada saat itu, ingatannya kembali kepada Hinata beberapa malam yang lalu. Wajah bersibak rembulan itu menaruh harapan besar pada Kiba. Resolusinya semakin bulat. "Karena dari itu, meski mati, aku harus kembali. Aku harus kembali kepada Hinata."
"Jangan mati, bodoh~! Khh, bodoh banget!" Kankuro menyelak, ia mengibas-ibaskan tangannya. Itu mengundang raut merah lagi dari wajah Kiba. "Kalau kau mati, siapa yang akan menemani Hinata nantinya?"
"Aku tahu," jawabnya pendek, berusaha tegas sekuat yang ia bisa. "Namun ini semua harus kuperjuangkan."
"Maka berjuanglah dengan aman." Gaara tersenyum padanya. "Kau sahabat kami. Tinggallah disini beberapa waktu dan berlatih. Temari," si Kazekage melirik kakaknya seraya berdiri dari bangkunya. "Boleh aku minta tolong: tolong ambilkan segelas ekstrak Kaktus Iblis dari badan riset bio-organisme nomor 3."
Tanpa pesan tersirat apapun, si kakak merasa mengerti maksud Gaara. Bagaimanapun juga, Temari adalah salah satu orang yang menangani hal tersebut. "Hmm, tidak akan lama!"
"A-ada apa?" Kiba dan Akamaru setengah tertegun melihat kedua adik-kakak itu berniat segera berangkat, malam ini juga.
Masih menyengir congkak, Kankuro 'lah yang menjawabnya. "Kalian Inuzuka senang mengkonsumsi doping herbal, 'kan? Tunggu sampai kau coba yang satu ini." Si pria kabuki merasakan raut agak risih yang ditunjukkan Kiba. Entah itu risih karena ragu menggunakan doping ataukah risih karena merasa merepotkan Sabaku bersaudara... Nampaknya keduanya. "Jangan terlalu dipikirkan, jika itu mengenai kami. Sekali-sekali kami juga ingin membantu kalian. Atau... Kau mungkin lebih suka memilih cara yang aman?"
Kiba menelan gumpalan pada tenggorokannya. Apakah ini yang orang katakan menjual jiwa kepada iblis? "K-kau sudah mendengar keputusanku! Aku tidak akan berpaling! Meski aku harus menyeret tubuhku kembali ke Konoha sekalipun, biarpun aku menantang Hiashi sekali lagi sambil merangkak, walaupun aku harus makan kotoran menanggung malu cemoohan warga desa sekalipun... Aku harus kembali. Hanya demi dia."
"Sudah ditetapkan kalau begitu."
Tepat pada saat Kankuro mengakui resolusi Kiba dan ketika hendak berdiri, seseorang berpakaian bergaya pengembara padang pasir muncul secara tiba-tiba. Ia mengenakan topeng, dan nampaknya adalah seorang wanita, dinilai dari pitch suaranya. ANBU Suna mungkin?
"Lapor, Kazekage-sama!" Suara paniknya mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam kediaman pria tertinggi Suna. "Sekelompok Inugami terdeteksi 500 meter dari gerbang desa, bergerak dengan kecepatan tinggi kearah sini! Para FUKURO, chuunin, dan jounin terdekat dari lokasi sudah dikerahkan! Tapi, jumlahnya masih belum cukup! Bisa terjadi..."
Si ninja pemberi pesan terdiam, tapi Gaara yang mengerti akan situasilah yang menambahkannya. "Pembantaian." Dengan langkah seribu, Gaara segera mengambil jaket Kazekage, dan mengenakannya. "Murakumo, segera kerahkan tiga tim inti FUKURO dari base utama! Biar aku yanh meng-cover baris depan pertahanan."
Wanita yang disebut Murakumo itu mengangguk dan menghilang kebalik udara setelah mendapatkan perintah tuannya.
"T-tunggu, itu berbahaya Gaara!" Si kakak perempuan nampak tidak setuju. Ia menahan adik bungsunya pada satu pundak. "Kau tahu Inugami tidak sembarangan. Kau harus pergi bersama dengan beberapa penjaga!"
"Tidak ada waktu lagi, nee-san!" Gaara menghalau tangan kakaknya untuk segera berlari kencang keluar dari rumah. Ia menghilang ke langit malam dengan bantuan gumpalan pasir yang baru saja dibuatnya dengan sekejap mata.
"Khh, anak itu~!?"
"Nee-san, biar aku yang pergi melindunginya. Kau bantu warga evakuasi saja jika dibutuhkan, terutama yang dekat dengan gerbang utama!" Kankuro memainkan tangannya, dan entah darimana tiga gulungan tebal sebesar termos sudah mendarat di kedua dekapan tangannya. Ia menggendongnya seperti tas, dan memberikan tatapan kepada Kiba sebelum menyusul adiknya. "Dan, kau tinggal disini! Jangan kemana-kemana!"
Si Inuzuka tidak sempat membalas apapun, ditinggalkan dengan mulut setengah menganga. Inugami, FUKURO, Murakumo? Apa yang sebenarnya terjadi?!
Temari 'pun nampaknya hilang didalam pikirannya. Kiba melihatnya menggigit kuku ibu jari kanannya, tidak yakin harus melakukan apa. "Temari-san!"
"Kiba, seperti kata Kankuro, kau harus tinggal disini!" Perintahnya ketika tersadarkan dari lamunannya. "Inugami adalah keberadaan yang sangat berbahaya. Mereka bisa menghabisi jounin dengan mudahnya jika tidak bersiap."
"Apa ada yang bisa kulakukan?!" Pertanyaannya keluar dengan begitu saja.
"Tidak ada, Kiba. Kondisimu saat ini sangat tidak memungkinkan untuk bertarung."
"Tapi aku tidak munkin bisa diam saja, Temari-san!"
"Kalau bisa aku ingin menyuruhmu pergi dari desa... Jika Inugami sudah muncul, bahkan Gaara 'pun akan sedikit kesulitan dengan kegesitannya. Aku tidak bisa menjamin keselamatan nyawamu dan Akamaru! Pokoknya kau tinggal disini! Ini masalah Suna, dan kami sendiri yang akan menyelesaikannya!"
Dengan itu Temari berlari keluar, mengunci pintu, dan menghilang dari penciuman Kiba. Si pemuda mulai mendengar keributan dan kepanikan yang diciptakan oleh masyarakat. Beritanya nampaknya menyebar dengan sangat cepat. Bagaimanapun rumah Gaara lokasinya hampir bertolak belakang dengan gerbang utama desa, dan histeria sudah sampai kemari.
Begitu banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan Kiba. Ia berharap Hinata bisa menunggu lebih lama lagi, karena Kiba tidak akan membiarkan budi baik Sabaku bersaudara dan desa ini pada umumnya terbuang percuma. Dia memutuskan untuk membantu evakuasi, jika saja memang hal itu yang dapat dilakukannya saat ini.
"Aku pasti kembali. Tunggu aku sebentar lagi Hinata."
|Bersambung|
Berikutnya di Canis Loyalis:
"Aku mengenal bau ini... Bau ini sudah tidak asing lagi. A-apakah mungkin? O-oyaji?"
AN: Iya... Saya masih hidup. Saya tahu kalian mungkin sedikit kecewa dengan lamanya update tiba. Tapi real life benar2 menyita waktu saya. Tapi saya senang, karena udah berpenghasilan tetap yang lumayan hueee curhat. Saya tidak bisa janjikan update cepat juga. Tapi, cepat atau lambat chapter berikutnya akan segera tiba lagi. Yours truly, Crow.
Ps: I knowwww, KibaHina kandas seperti Titanic... Kiba itu Jack-nya, Hinata Rose-nya. Tapi Hinata tetap buat anak ma Naruto and it makes me sad... saya ikutan tenggelam sama Jack. Much sad. Wow. Tapi kalian masih KibaHina setia kan seperti saya? More rambling on my profile. See you there. Leave me messages, and how've you been these far, my readers? Hello again and I wish you always be well :3
Janne,
EJC, 2015
