No pairing
Post-canon
mystery, tragedy, friendship
Reborn, 3 tahun
Tsuna, 16 tahun (1 SMA)
Disclaimer: Penulis tidak memegang hak cipta Katekyo Hitman REBORN!
#mission 2
Reborn berusaha untuk memalingkan pandangannya dari Tsunayoshi dengan mencoba berkonsentrasi melihat dedaunan yang basah terkena air hujan atau awan-awan hitam yang masih menghiasi langit. Meskipun seluruh jagad raya seperti sedang mencoba membuat suatu gambaran yang muram, Reborn justru merasa jauh lebih baik. Jauh lebik baik daripada harus melihat karangan bunga di tangan Tsunayoshi atau caranya berjalan melalui makam-makam tanpa memperhatikan sekitarnya. Seakan-akan dia berjalan dalam satu lintasan lurus atau—yang paling Reborn takuti—seakan-akan dia telah menghapal suatu lintasan di luar kepalannya, seperti dia telah melewati jalur yang sama puluhan kali.
Jarang sekali Reborn menyesali kemampuannya dalam membaca orang. Dan saat ini adalah salah satu dari yang jarang sekali tersebut. Atau mungkin Reborn hanya menjadi terlalu dramatis, kebanyakan orang mungkin sudah bisa menebak kemana jalan cerita ini mengarah...
Tiba-tiba Tsunayoshi berhenti di depan sebuah kuburan. Kemudian dia berjongkok dan mulai membersihkan sekitarnya. Setelah itu barulah ia meletakkan serangkaian bunga putih yang sejak tadi ia bawa di atasnya. Terakhir dia menepukkan kedua tangannya seperti sedang berdoa.
Reborn tidak mungkin hanya berdiam diri saja melihatnya. Jadi, Reborn berhenti membuntuti Tsunayoshi, keluar dari tempat persembunyiannya, dan berdiri tepat di samping muridnya.
"Ciaosso." Tsunayoshi, yang tampak tidak terkejut sedikit pun, menoleh pada Reborn dan mengangguk kecil.
Lalu keduanya saling memalingkan pandangan mereka dari satu sama lain. Keheningan pun menjalar bersama dengan angin dingin yang tiba-tiba berhembus kencang. Reborn menahan tubuh balitanya yang kedinginan dari menggigil berlebihan. Bulan November bukan bulan yang baik bagi Reborn untuk berjalan-jalan di sore hari.
Kemudian pandangan Reborn akhirnya mendarat di atas batu nisan di depan mereka.
Reborn tidak tahu harus berkata apa. Dia tahu kalau Tsunayoshi mengunjungi makam orang yang ia kenal. Kemungkinan orang yang dekat dengannya. Tapi, kenapa harus orang itu?
"Kau tidak akan tahu kapan seseorang terdekatmu akan pergi." Perkataan Tsunayoshi yang keluar tiba-tiba membuat Reborn tersentak kembali ke dunia nyata.
"Kau berharap bocah sepertiku akan mengerti?" Reborn bertanya dengan sedikit nada terkejut.
"Ahaha maafkan aku. Kau terlihat sangat cerdas sebelumnya."
"Itu benar. Kau bisa bilang kalau aku bukan balita biasa."
"Ja... jadi kau sungguh mengerti?"
"Apa itu penting, Tsunayoshi?" kini gantian Tsunayoshi yang tersentak.
Setelah itu tidak ada yang berbicara lagi. Keduanya diam membisu dan membatu dalam posisi mereka masing-masing sampai Reborn membuat sebuah keputusan besar.
Di depan batu nisan dengan nama 'Sawada Nana' terukir diatasnya, Reborn membiarkan Tsunayoshi melihat setetes air mata membasahi pipinya.
Tsunayoshi tidak bisa berkata apa-apa melihat Reborn menitikkan air matanya. Normalnya sih dia akan panik lalu berusaha menghentikan balita yang tiba-tiba menangis di depannya. Tapi daripada itu, entah kenapa dia malah merasa merinding tidak jelas melihatnya. Jika Tsuna melihat adegan ini dia pasti berpendapat kalau melihat Reborn menangis sama dengan melihat Satan menangis. Dan Dino—dari dunia manapun juga—pasti akan setuju. Untungnya, tidak lama kemudian Reborn telah menghapus air matanya yang sesungguhnya hanya tiga tetes.
"Namaku Reborn. Aku adalah kenalan orangtuamu," terutama ayahmu, Reborn menambahkan dalam hatinya. Dia tahu mengungkit-ungkit Iemitsu tidak akan pernah membuat Tsuna senang. Meskipun dia tidak tahu bagaimana dengan Tsunayoshi, tapi dia selalu yakin bahwa Iemitsu dari dunia manapun sama saja, selalu menjadi ayah yang payah. Kalaupun dia berhasil melakukan tugas seorang ayah, pasti selalu terlambat...
"Sebenarnya aku datang ke sini untuk bertemu denganmu, Sawada Tsunayoshi." Dan Reborn pun memulai langkah awalnya untuk menyelesaikan misi menyeimbangkan dunia.
"Hah? Apa?" Reborn dan Tsunayoshi sudah berhadap-hadapan. Kedua mata mereka bertemu. Melihat keseriusan yang terpancar dari mata Reborn, Tsunayoshi jadi gugup.
"Aku memiliki suatu misi dan kau harus membantuku untuk mencapai karena itulah takdirmu," jelas Reborn singkat. Asal kau tahu, kenyataannya akulah yang akan membantumu. Kata Reborn dalam hati.
"Hiii... tu... tunggu dulu. Seorang balita tidak perlu bicara tentang takdir!" Kata Tsunayoshi, nyaris berteriak dengan teriakan khasnya. "Lagi-lagi kenalan orangtuaku..." dia bergumam pelan sekali, tapi seorang hitman seperti Reborn bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Reborn memutuskan untuk mengacuhkannya, tapi dia akan mengingatnya.
"Kau tidak bisa menolak. Turuti dan lakukan saja apa yang kukatakan," seperti biasanya...tambahnya dalam hati.
"Meskipun kau bilang begitu..." Orang normal tidak mungkin menerima begitu saja diperintah oleh balita. Dan sayangnya Tsunayoshi lebih normal dari Tsuna.
"Kau pasti bingung. Tapi, kalau kau percaya padaku, kau akan mendapatkan hidup yang lebih baik."
"Aku sudah cukup puas dengan hidupku... mungkin" Katanya mencoba terdengar meyakinkan meskipun dia sendiri tahu kenyataannya.
Hidup sendiri tidaklah semudah yang terlihat, terutama awalnya. Meskipun 'seseorang' telah membayar semua kebutuhannya, tapi dia harus tinggal seorang diri dan merawat dirinya sendiri. Banyak sekali pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan sendiri. Banyak sekali yang harus ia pelajari, terutama sampai di bisa membuat makanan yang dapat di makan. Berkali-kali dia terluka hanya karena belajar memasak dan menjahit. Saat ini hidup Tsunayoshi sudah lebih baik. Namun, masih ada satu hal yang sangat sulit baginya—
"Aku tidak bicara tentang uang atau gaya hidup," bukan berarti kau tidak akan mendapatkannya kalau kau menjadi Vongola Decimo, "Aku berbicara tentang keluarga."
—Dan hal yang tersulit itu adalah saat dia pulang ke apartemennya yang gelap dan sepi. Tidak ada seorang pun yang menyambut kepulangannya dengan berkata "Okaeri," atau sekadar membuat suara yang menegaskan bahwa ada orang yang tinggal di sana. Karena Tsunyoshi tinggal sendiri, dia nyaris tidak pernah mengeluarkan suaranya. Terkadang dia berpikir, kalau dia terus seperti itu maka dia akan kehilangan suaranya. Untungnya sesekali dia masih berbicara di sekolah meskipun dia tidak punya teman.
"Ke... keluarga? Apa maksudmu?" Tsunayoshi berusaha terdengar tegar, namun gagal. "Ibuku sudah meninggal dan ayahku sudah lama menghilang," lanjutnya tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya lagi.
Cih, si Baka Iemitsu pasti ada di Italia. Di saat seperti ini kebohongannya makin menyiksa anaknya sendiri. Kalau aku bertemu dengannya aku akan... Reborn mengutuk dalam hatinya, tapi dia segera tersenyum. Tidak akan sulit baginya untuk membujuk Tsunayoshi yang sekarang.
"Kalau kau mendengarkanku kau akan mendapatkan bukan hanya satu, tapi tujuh orang keluarga yang akan selalu bersamamu. Tepatnya tujuh orang teman yang bisa kau anggap seperti keluarga sendiri. Selain itu, kau juga akan mendapatkan teman-teman yang baik dan dapat kau andalkan." Tsunayoshi menatap Reborn seperti sedang menatap seorang pendongeng yang sedang membawakan dongeng kesukaannya. Dia sangat senang mendengarnya, tapi di saat yang sama ia juga sedih karena tahu bahwa semua itu hanya berupa dongeng belaka.
"Aku tidak bohong dan aku juga tidak sedang mendongeng lo," kata Reborn, membaca pikiran Tsunayoshi dan membuatnya tersentak. "Aku mengatakan ini padamu saja karena cuma kau yang bisa mendapatkan—" posisi Vongola Decimo, "—keluarga yang hebat seperti itu. Perjalananmu masih panjang dan untuk itu aku akan membingbingmu" sebagai guru privatmu, "Kau boleh tidak percaya padaku, tapi aku percaya padamu, Tsunayoshi."
Untuk yang kesekian kalinya, dia tersentak, terkejut, bahagia, berbagai macam perasaan bercampur aduk setiap kali kata-kata Reborn tepat sasaran. Dia tidak tahu kenapa, tapi sudah sejak lama dia bisa membedakkan antara orang yang bohong dan orang yang jujur. Dan sejak awal dia merasa kalau Reborn sama sekali tidak berbohong.
Apakah saat ini sama dengan adegan dimana seorang malaikat turun untuk menolong seseorang yang sedang dalam kesulitan? Tanyanya pada dirinya sendiri. Bukan, tentu saja bukan. Itu sepertinya pujian yang ketinggian. Tapi kalau aku bisa mendapatkan teman-teman seperti itu… Uuh, apa yang kupikirkan, tentu saja itu tidak mungkin.
"Untuk sekarang aku akan terus bersamamu," kata Reborn pada akhirnya. Sebenarnya yang ia maksud, aku akan tinggal denganmu.
Satu detik, dua detik, sepuluh detik, tiga puluh detik, Tsunayoshi tidak merespon. Ekspresinya belum berubah. Saat Reborn mencoba membaca pikirannya, pikirannya kosong. Tidak ada lagi pertentangan atau pemikiran-pemikiran tidak jelas lainnya. Hanya saja kata-kata Reborn lagi-lagi tepat sasaran. Untuk sekarang hanya kata-kata itulah yang Tsunayoshi butuhkan.
UtDS
Bau darah tercium di mana-mana. Sejauh yang Tsunayoshi ingat, baunya amis dan seperti karat... Atau mungkin tidak juga. Sejujurnya, Tsunayoshi tidak begitu ingat. Saat ia pergi ke ruang tamu untuk melihat apa yang terjadi, Ibunya sudah berada di depannya.
Wajah Nana dipenuhi oleh kesakitan dan ketakutan. Dia seperti bisa pingsan kapan saja karena syok berat, tapi daripada itu, Nana justru memilih untuk menarik Tsunayoshi ke dalam dekapannya. Dari pakaiannya dapat tercium bau darah yang sangat kuat.
"Okaasan?" Dalam kebingungan, Tsunayoshi menatap Nana.
Tangan Nana bergetar dengan sangat hebat, meskipun begitu dia tetap mendekap putra tunggalnya seakan-akan hidupnya tergantung pada keselamatan Tsunayoshi. Namun, Nana tahu kalau hidupnya tidak akan lama lagi karena luka yang ia dapat akibat tusukan di perutnya ternyata cukup dalam.
Tiga orang pria berpakaian serba hitam berdiri di depan keduanya. Seorang pria paling belakang memegang sebuah pistol di tangan kanannya, sama sekali tidak terlihat akan menembak. Pria di sampingnya memegang tongkat yang sepertinya dialiri oleh listrik. Kedua pria itu hanya berdiri di tempat mereka sambil memperhatikan pria yang paling depan, paling dekat dengan Nana dan Tsunayoshi. Di genggamannya, pisau yang tajam dan tampak baru berkilat-kilat menakutkan. Dan mata pria itu, yang terlihat dari balik topengnya, penuh dengan nafsu membunuh. Pria itu lalu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memamerkan pisaunya, bersamaan dengan Nana yang berusaha untuk menutupi semua pemandangan mengerikan itu dari anaknya.
Tsunayoshi tidak bisa melihat apa-apa karena tubuh Nana menghalangi pandangannya. Tiba-tiba terdengar suara tebasan. Nana menjerit kesakitan sebelum dengan susah payah membisikkan kata-kata terakhirnya di telinga Tsunayoshi.
"Bertahan hiduplah, Tsu-kun..." Setelah itu tubuh Nana langsung ambruk ke lantai.
Tsunayoshi ingin menangkap tubuh ibunya yang jatuh, tapi dia baru saja bersentuhan dengan blusnya dan tangannya sudah penuh dengan darah. Seketika itu juga tubuhnya diliputi oleh ketakutan yang amat sangat. Dia tidak bisa berhenti bergetar. Menjerit pun ia tidak kuat.
Pria yang baru saja menusuk ibunya itu tertawa dengan sangat mengerikan. Seperti orang bodoh yang haus darah. Pria itu mencoba menyerang Tsunayoshi, rupanya tidak akan membiarkan siapapun yang tinggal di kediaman tersebut hidup, terutama saksi yang sangat penting atau mungkin juga Tsunayoshilah target sebenarnya.
Hanya tinggal beberapa detik sampai pria yang membunuh ibunya membunuhnya. Pisau sudah di depan mata. Lalu ingatannya berhenti disini.
Tsunayoshi terbangun dari tidurnya. Kepalanya menjadi pusing setiap kali ia melihat mimpi tersebut. Mimpi tentang ingatan masa lalunya, kurang lebih dua setengah tahun yang lalu itu, biasanya dia alami sehari sebelum dan sesudah mengunjungi makam ibunya. Terkadang mimpi itu begitu nyata sampai-sampai dia harus berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya seperti sekarang. Tiba-tiba perutnya benar-benar menjadi mual. Tsunayoshi segera bangkit dari futon-nya dan berlari menuju ke kamar mandi. Di tengah perjalanan, kakinya nyaris tesandung sesuatu yang lembut.
Reborn mengangkat kepalanya. Dia tidak bisa lagi berpura-pura tidur ketika Tsunayoshi tanpa sengaja mencoba menendangnya. Atau ketika dia mencoba membuat Tsunayoshi tersandung, namun gagal. Yang jelas, melihat kondisi muridnya yang sekarang, Reborn pun berbaik hati dan memaafkan kesalahnnya.
Sambil menunggu Tsunayoshi selesai dengan urusannya, Reborn mengingat-ngingat kembali kejadian sore kemarin di depan makam Nana. Dia tidak bisa percaya membiarkan dirinya menangis di depan Tsunayoshi.
Tsunayoshi memang bukan Tsuna, tapi di saat yang sama dia juga Tsuna. Tsunayoshi adalah versi lain dari Tsuna yang terbentuk karena masa lalu yang berbeda. Jadi, Tsunayoshi tetaplah Tsuna? Yang pasti, Reborn sama sekali tidak menyesal karena menangis untuk Nana. Wanita sebaik Nana, setidaknya pantas mendapatkan setetes atau dua tetes air mata dari Reborn. Apalagi Nana di dunia asalnya sangat baik dan hangat terhadap Reborn. Terkadang Reborn merasa seperti anaknya Nana. Nana memang lebih tua darinya sih, tapi pastinya Nana tidak pernah mengaggap Reborn seperti adiknya.
Reborn merasa marah pada dirinya sendiri, tepatnya pada dirinya di dunia paralel ini. Namun, dia tahu betul kalau kematian Nana tidak ada hubungannya dengan dirinya. Meskipun Reborn di dunia ini dikirim ke Namimori, dia akan datang sekitar dua setengah tahun yang lalu sementara Sawada Nana menghembuskan napas terakhirnya sekitar tiga tahun yang lalu. Perbedaannya tipis, namun tidak ada yang bisa membuat Reborn datang lebih cepat. Jadi inilah takdir Tsuna di dunia ini—bukan, ini takdir Sawada Nana… Pikir Reborn sambil membuka jendela apartemen Tsunayoshi untuk menyambut datangnya mentari.
#to be continued
#omake
Plung! (Reborn melemparkan botol kecil berlabel 'Obat Mata' ke tempat sampah)
Reborn Jahat: Sudah habis, huh?
Reborn Baik: Tapi, air mata itu tidak palsu.
Reborn Jahat: Mana mungkin seorang hitman mengeluarkan air mata kesedihan!
Reborn Baik: Maman pantas mendapatkannya.
Reborn Jahat: Orang sebaik Maman tidak perlu air mata seorang pembunuh...
Reborn Baik: Tapi, yay~ berkat itu aku berhasil menarik perhatian Tsunayoshi. Sekarang kita bisa lanjut ke tahap berikutnya!
Reborn Jahat: Kau ini... Sebenarnya siapa yang jahat di sini?
#preview
Reborn: Akhirnya berakhir juga tahap pertama. Sekarang kita bisa lanjut ke tahap berikutnya!
Tsunayoshi: Memangnya tahap pertama itu apa?
Reborn: Tentu saja memperkenalkan diriku padamu!
Tsunayoshi: Ehm… tapi kurasa kau belum memperkenalkan dirimu dengan jelas. Apa-apaan perkenalan yang cuma nama itu?
Reborn: Diamlah Dame-Tsuna! Aku punya alasan sendiri.
Tsunayoshi: Ja, terus tahap berikutnya?
Reborn: Mudah saja. Kita hanya akan kembali ke tempat yang seharusnya.
Tsunayoshi: Jangan-jangan…
Reborn: Salah! Yang benar: mari kita ucapkan selamat tinggal Kokuyo dan selamat datang Namimori!
Tsunayoshi: Pa-padahal aku belum ngomong apa-apa! Tapi, kau tidak akan bisa memaksaku pindah semudah itu, tahu!
Reborn: *evil grin* Kita lihat saja nanti~
Tsunayoshi: Berarti tahap berikutnya itu membujukku, ya...
