No pairing
Post-canon
mystery, tragedy, friendship
Reborn, 3 tahun
Tsuna, 16 tahun (1 SMA)
Disclaimer: Penulis tidak memegang hak cipta Katekyo Hitman REBORN!
#mission 3
Original World, Tsuna's Room, Tsuna & Reborn
Beberapa saat sebelum kepergian Reborn
Tsuna menundukkan kepalanya dalam-dalam sehingga Reborn tidak dapat melihat ekspresinya yang sedang terpuruk. Akhir-akhir ini banyak sekali kejadian buruk terjadi di sekitar dirinya dan para penjaganya. Di saat susah seperti ini, dia masih bersyukur karena ketidakberuntungan hanya menyerang famiglia-nya bukannya menyerang Cavallone yang dipimpin Dino, Shimon yang dipimpin Enma, Gesso yang dipimpin Byakuran, Giglio Nero yang dipimpin Uni, Tomasso, famiglia Naito Longchamp, dan bahkan Varia. Meskipun sebenarnya dia tidak tahu secara rinci keadaan mereka semua karena sudah lama mereka tidak saling berhubungan.
"Kenapa kau mengait-ngaitkannya dengan mafia?"
Biasanya Reborn lah yang akan mengait-ngaitkan segala sesuatu di kehidupan Tsuna dengan mafia sementara Tsuna selalu mengelak, menolak, memprotes, mengeluh, dan mencibir soal itu. Tapi, daripada buang-buang waktu terkejut oleh sikap Tsuna, dia lebih khawatir kalau-kalau hal ini bersumber dari hyper intuition yang dimiliki Tsuna. Salah satu warisan nenek moyangnya yang satu itu tidak pernah meleset.
"Ah, tidak apa-apa. Kau tidak usah pedulikan ke-dame-anku ini ahaha..."
Waktu itu Tsuna jelas-jelas sedang berusaha menyembunyikan sesuatu. Apalagi tawa gugupnya tidak membantu sama sekali. Reborn sih, bisa menerkanya hanya dengan sekali lirik. Dan tepat seperti dugaannya, Hyper intuition Tsuna pasti terus-terusan menendang otaknya, menyuruhnya untuk selalu tetap waspada akan bahaya besar yang telah, sedang, dan akan terus terjadi. Dan menurut hyper intuition-nya hal itu berkaitan dengan mafia.
Sampai saat ini Reborn masih menjaga kontak dengan famili-famili terdekat dan belum mendengar kabar buruk tentang mereka. Reborn berharap dia tidak akan pernah mendengarnya. Itu artinya kejadian-kejadian buruk yang terjadi benar-benar merupakan ketidakberuntungan bagi Vongola, seperti yang pernah Fuuta bilang saat dia bercanda soal itu, sebenarnya mencoba untuk menghibur.
"Bianchi bilang dia masih belum bisa menemukan Gokudera," kata Tsuna, masih menundukkan kepalanya, memecah lamunan Reborn.
Reborn menarik fedoranya lebih ke bawah lagi dari yang seharusnya. Dia melakukan seperti yang Tsuna lakukan: menyembunyikan ekspresinya. Sekarang, setelah kedua partner itu saling melakukannya, tidak ada lagi yang bisa melihat ekspresi satu sama lain. Di samping itu, hari sudah semakin sore dan Tsuna belum juga menyalakan penerangan apapun di seluruh rumah, jadi sejak awal tidak ada yang tahu ekspresi masing-masing. Bahkan mungkin Tsuna sendiri tidak tahu ekspresi terluka seperti apa yang terpajang di wajahnya saat ini. Terluka karena ditinggal tangan kanannya pergi ke dunia antah berantah.
Ya, kejadian pertama adalah kehilangan. Bukan sekadar kehilangan pulpen, rumah, ataupun uang satu milyar rupiah, tetapi kehilangan sebuah sosok manusia yang nyawanya tidak akan pernah dapat digantikan oleh apapun di dunia ini. Apalagi orang itu sangat penting bagi Tsuna. Kehadirannya yang selalu ada disisi Tsuna, keributan yang ia buat dan tidak pernah bisa diabaikan, bau rokok dan terkadang bubuk mesiu yang selalu tercium dari seragamnya, kata-kata kasar dan kotornya yang selalu dapat bermetamorfosis menjadi kupu-kupu ketika berhadapan dengan Tsuna, caranya memanggil Tsuna dengan panggilan "Juudaime! Juudaime!" terutama ketika anak laki-laki berambut perak itu mencoba untuk membangunkan Tsuna dari halaman, dan wajahnya saat tersenyum terlampau bahagia ketika mengira dirinya sudah jadi sangat berguna sebagai tangan kanan Tsuna, semua itu sudah lama tidak Tsuna rasakan lagi.
'Gokudera Hayato, salah seorang murid SMA Namimori keberadaannya telah menghilang sejak tiga bulan yang lalu dan sejak saat itu belum terdengar kabarnya sama sekali' adalah satu-satunya kalimat yang sanggup Tsuna baca di surat kabar harian Namimori sebelum dia merobek koran itu jadi serpihan kecil dan membakarnya dengan api langit yang tiba-tiba keluar sendiri dari tangannya akibat berbagai macam gejolak emosi yang Tsuna rasakan saat itu. Reborn yang waktu itu juga ada disana hanya bisa berharap api Tsuna tidak berubah menjadi api kemarahan seperti Xanxus.
Sebenarnya Reborn sendiri sudah tahu bahwa wanita yang terbilang cukup hebat dalam mencari informasi bernama Bianchi itu masih belum bisa menemukan adiknya yang hilang. Jejaknya benar-benar tidak terlacak. Baik kabur maupun diculik bukan dua pilihan yang mungkin bagi seorang Gokudera Hayato. Untuk sekarang mereka hanya bisa bilang kalau Gokudera hilang ditelan bumi dan tubuhnya bisa dimuntahkan di mana saja, apalagi setelah Trident Shamal—orang yang menghapus seluruh data Reborn sebelum berubah menjadi arcobaleno dari akses seluruh dunia—juga tidak dapat menemukan jejaknya.
Meskipun Reborn sudah tahu bahwa pencarian Gokudera sama sekali belum membuahkan hasil, tapi mendengar beritanya keluar langsung dari orang yang paling merasa kehilangan benar-benar memberikan dampak tersendiri. Bianchi mungkin adalah seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, tapi hubungan Gokudera dan Tsuna juga tidak terbandingkan.
Jika saja Reborn tidak sedang dalam tugas menjaga Tsuna, dia sendiri pasti sudah pergi sampai neraka untuk menemukan Gokudera hanya untuk memastikan kalau Tsuna belum butuh seorang tangan kanan yang baru. Setelah seorang tangan kanan menghilang, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi pada Bos-nya, itu adalah pengetahuan umum di dunia mafia dan mungkin bahkan seluruh dunia. Tapi, pada kenyataanya itulah yang sedang Reborn coba disukusikan dengan Tsuna. Reborn berencana untuk melakukan suatu misi selama beberapa hari dan meninggalkan penjagaannya terhadap Tsuna.
"Menghilangnya Gokudera menimbulkan kekhawatiran yang menyebabkan Lambo dan I-Pin ditarik kembali ke tempat asal mereka, lalu Yamamoto dan Okaa-san dirawat di rumah sakit. Sementara Bianchi dan Shamal sibuk mencari Gokudera, kau juga akan pergi meninggalkanku dan Fuuta berdua saja, Reborn!?" sambil mengurutkan hal-hal buruk yang terjadi di Vongola Famiglia—keluarga Tsuna tepatnya—Tsuna mengencangkan kedua kepalan tangannya sampai kuku-kuku jarinya sampai membekas di telapak tangannya.
Perasaannya bercampur antara sedih, takut, dan marah, tapi dia lebih marah dari apapun juga. Hal ini membuat ruangan menjadi sedikit panas meskipun gerimis sudah mulai turun sehingga Reborn sadar kalau Tsuna benar-benar marah. Tsuna memang telah terbukti berhasil mengeluarkan apinya ketika dia marah tanpa bantuan peluru dying will. Reborn pun menghela napas panjang sambil masih berharap dalam hatinya kalau api Tsuna tetap akan menjadi api langit murni tanpa noda sedikit pun.
Lalu dia melepaskan fedoranya, tanda bahwa ruangan benar-benar telah menjadi panas. Kini ekspresinya tidak dapat dia sembunyikan lagi dan dia pun tidak dapat bersembunyi dari ekspresi Tsuna yang ternyata sudah menatapnya dengan tatapan penuh tantangan bercampur amarah dan perasan-perasaan lain yang akan makan waktu jika Reborn berusaha menguraikannya. Dan waktu adalah hal yang paling tidak ingin Reborn sia-siakan saat ini.
Mengabaikan semua fakta yang baru saja Tsuna urutkan, Reborn bersikeras untuk tetap pergi, "Ini misi penting. Langsung dari Uni dan Byakuran."
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi seorang diri. Ba, bagaimana kalau kau juga menghilang? Maksudku—biarkan aku ikut denganmu!"
Baru tiga bulang dan Tsuna sudah menjadi paranoid. Namun, Reborn tidak bisa marah meskipun Tsuna baru saja meremehkannya secara tidak langsung.
"Hanya kau yang bisa melaksanakan misi ini Reborn-ojisama."
Jika saja bukan Yuni, mantan arcobaleno langit sekaligus bosnya, yang meminta langsung padanya, Reborn tidak akan setuju.
"Aku yakin Sawada-san akan bisa melewati semua rintangan selama kau pergi. Lagipula Ojisama sendiri yang telah melatihnya, bukan?"
Itu benar. Diantara semua murid yang pernah Reborn ajar selama ini, Tsuna adalah yang paling spesial. Bukan hanya karena dia adalah calon bos keluarga mafia terkuat di dunia, namun juga karena potensi yang ia punya. Setiap hari Reborn memperhatikan Tsuna dan setiap hari pula ia melihat potensi Tsuna yang semakin meningkat. Dengan kemampuannya saat ini, kehilangan seorang tangan kanan (semoga hanya untuk sementara) dan guru pembimbing tidak akan meruntuhkannya. Terutama karena dia adalah murid seorang hitman nomor satu.
"Setidaknya dengarkan aku dulu. Misi ini sama pentingnya dengan kutukan arcobaleno."
Sebenarnya Reborn meragukan yang satu itu. Tapi, tidak ada salahnya mendengarkan permintaan Yuni yang manis. Lalu hari itu Reborn pergi menemui Yuni. Byakuran rupanya juga ada di sana. Setelah mendengar penjelasan mereka, Reborn memutuskan untuk melakukan misi itu. Sebenarnya dia sendiri tidak yakin alasannya menerima misi tersebut. Dan sekarang Reborn telah selesai berkemas dengan memakai kopor ajaib buatan Shouchi yang mengingatkannya pada salah satu film anime legendaris. Setelah itu dia harus memberitahu Tsuna tentang kepergiannya. Jika dia pergi begitu saja, Tsuna pasti tambah panik. Bisa-bisa dia kena serangan jantung nanti.
"Jadi kau berniat ikut dan meninggalkan Fuuta seorang diri, Dame-Tsuna!?" Reborn balik bertanya pada Tsuna yang jadi tersentak mendangarnya.
"A… aku setidaknya bisa meninggalkannya pada Haru… atau Kyoko… atau mungkin—" Tsuna berhenti berbicara di detik yang sama saat dia melihat Fuuta mengintip mereka berdua dari balik pintu.
Setelah Lambo dan I-Pin kembali ke negara mereka masing-masing, Fuuta jadi kesepian. Tsuna selalu berusaha untuk berada di sisi Fuuta sepanjang waktu sementara Fuuta selalu berusaha terlihat seceria mungkin untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh dua orang anak lainnya (tapi tentu saja itu tidak mungkin, terutama Lambo yang super berisik). Oleh karena itu, tidak pernah sekalipun Tsuna melihat Fuuta tanpa senyum menghiasi bibirnya. Di kala Tsuna mendengar tentang Yamamoto atau ibunya masuk rumah sakit, Fuuta lah yang selalu ada untuk menghiburnya. Tapi, sekarang sosok mungil yang ia lihat di balik pintu itu tampak sangat terluka dan semua itu disebabkan oleh dirinya. Tsuna langsung menyesal pada apa yang baru saja ia ucapkan.
Melihat Tsuna yang tiba-tiba diam mematung sambil menunjukan ekspresi penuh rasa bersalah, membuat Reborn penasaran apa yang Tsuna lihat di ujung sana. Jadi, dia berbalik dan mendapati sekelebat tubuh mungil (pastinya tidak semungil tubuhnya) berlari ke arah tangga. Kemudian sebelum Reborn sempat berkedip, Tsuna bangkit dan mengejar pemilik tubuh mungil itu yang Reborn tahu adalah Fuuta, satu-satunya penghuni kediaman Sawada saat ini selain Tsuna dan dirinya.
"Fuuta!" Fuuta langsung berhenti di tempatnya, satu langkah sebelum menuruni anak tangga pertama sementara Tsuna memanggilnya dari depan pintu kamarnya. "Jadi, eto—"
"—Maafkan aku Tsuna-nii!" seru Fuuta tanpa membalikkan tubuhnya. Sudah lama Tsuna dan Reborn tidak mendengar suara Fuuta selantang ini. "Maafkan aku…" Lalu nada suaranya kembali seperti semula, perlahan dan lembut, ciri khas Fuuta.
Mata Tsuna melebar mendengar Fuuta meminta maaf dua kali padanya. Tidak ada alasan kenapa Fuuta harus meminta maaf. Ini semua adalah salahnya, "Aku yang harusnya minta maaf. Maafkan aku Fuuta. Aku tidak bermaksud untuk—"
"—Tidak! Aku minta maaf karena selalu menjadi beban buat Tsuna-nii…"
"Apa maksudmu!? Kau sama sekali bukan beban Fuuta! Kalau kau adalah beban aku pasti sudah lama akan meninggalkanmu," aku Tsuna.
"Itu karena Tsuna-nii adalah mafioso yang paling tidak bisa menolak permintaan! Itu karena Tsuna-nii orang baik. Tsuna-nii pasti akan menerima dan menolong siapapun yang membutuhkan bantuan, bahkan Rokudo Mukuro sekalipun. Jadi bukan hanya aku…"
"Kau mungkin benar Fuuta," kata Tsuna jujur membuat Fuuta menjadi dada Fuuta menjadi sesak. "Tapi, meskipun begitu aku tidak pernah menyesal sudah menyelamatkanmu…" dada Fuuta yang sesak makin terasa sesak tapi kini ada sesuatu yang hangat mengalirinya. Bukan hanya di dadanya, tapi juga di pipinya. Tanpa sadar air mata Fuuta mengalir.
"Ma, maafkan aku karena aku belum bisa memberikan dukungan yang baik buat Tsuna-nii. Aku tidak bisa seceria Lambo atau semanis I-Pin, aku…" Fuuta tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi dan mulai terisak.
Tsuna menggunakan kesempatan ini untuk mendekati Fuuta sementara Reborn menggunakan kesempatannya untuk menyelinap keluar. Dengan lembut Tsuna membelai rambut cokelat muda Fuuta yang terasa lembut di tangan. Biasanya dia akan ketagihan sekali dia mencoba membelainya. Tapi, kali ini dia membelainya dengan perhatian yang tulus tanpa maksud lain.
"Tidak ada yang memintamu untuk menjadi Lambo atau I-Pin. Justru karena kau adalah Fuuta kau jadi bisa menemaniku seperti ini," kata Tsuna tanpa berniat membuatnya sedih dengan mengungkit-ungkit bahwa Fuuta tidak memiliki keluarga lain diluar keluarga Sawada.
Tidak, justru karena Tsuna adalah satu-satunya keluarga Fuuta, Tsuna jadi tidak perlu merasa khawatir kalau-kalau Fuuta akan meninggalkannya suatu hari nanti. Jadi, kenapa tadi dia berusaha untuk meninggalkan Fuuta seorang diri ketika dia tahu bahwa dia adalah satu-satunya keluarga Fuuta? Tsuna benar-benar menyesali perkataannya barusan dan mulai detik itu juga dia bertekad untuk tidak pernah meninggalkan Fuuta seorang diri lagi.
"Aku sangat bersyukur masih ada kau di sini," Fuuta hendak membalikkan badannya untuk menghadap Tsuna agar dia bisa melihat kesungguhan di mata Tsuna agar dia yakin Tsuna tidak berbohong. Sebelum dia sempat melakukannya, Tsuna sudah memeluknya dari belakang. "Maafkan aku Fuuta. Aku benar-benar minta maaf. Kau sudah berjuang selama ini. Aku tidak akan meninggalkanmu." Lalu tangis Fuuta pecah. Dia merangkul tubuh Tsuna-nii-nya dan menangis di pelukannya. Tidak jauh dari mereka, Reborn berdiri sambil menggenggam kopor barunya.
"Jadi begitulah, Tsuna. Aku akan pergi dan kau akan menjaga rumah," kata Reborn dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Entah itu senyum licik atau senyum pura-pura Tsuna tidak tahu. Keduanya mungkin tampak sama saja, tapi punya arti yang sangat berbeda untuk Reborn dan terkadang Tsuna tidak yakin apakah dia pernah melihat Reborn tersenyum tulus sebelumnya.
"Ta…tapi Reborn…" Tsuna masih ingin protes.
"Selain Gokudera, kau masih punya keluarga yang harus kau lindungi, bukan?" Tsuna tersentak mendengarnya, setelah itu dirinya dipenuhi rasa bersalah lagi. Sejak Gokudera menghilang, dia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. "Salah. Maksudku kalau kau tidak ada saat Gokudera pulang nanti dia pasti sedih, jadi tunggulah di sini."
Kedua pupil Tsuna melebar karena terkejut. Dia pikir Reborn sama sekali tidak peduli dengan menghilangnya Gokudera karena dia selalu mengeluarkan aura mengeluh yang seperti berkata, "Cih, sekarang kau harus mencari tangan kanan baru," dan sebagainya. Dada Tsuna pun terasa hangat saat Reborn secara tidak langsung meyakinkan bahwa Gokudera akan kembali. Ya, Gokudera pasti akan kembali.
"Lalu kenapa kau pergi? Apa kau tidak berniat melindungiku dan yang lain? Apa kau tidak akan menunggu Gokudera?"
"Melindungi keluarga adalah tugas Bos," jelas Reborn yang mulai tampak tidak senang karena dia merasa telah mengatakan sesuatu seperti itu ribuan kali sebelumnya. Tsuna memang benar-benar dame sampai melupakan semua itu. "Lagipula aku percaya kalau kau bisa melindungi keluargamu dengan tanganmu sendiri."
Kalau Tsuna sedang makan, dia pasti jadi tersedak mendengarnya. Reborn membiarkan Tsuna terkejut. Tidak ada salahnya memberikan sedikit dorongan seperti itu terutama di saat genting seperti ini.
Tsuna sudah melepas pelukannya terhadap Fuuta dan kini adik angkatnya yang manis itu bertengger di dekat Tsuna, memegang ujung bajunya. Tsuna mengencangkan kepalan tangannya sebelum akhirnya melemaskannya lagi setelah mengambil keputusan. "Aku tidak tahu apa misimu yang begitu penting itu, tapi aku berharap kau kembali dengan selamat."
"Kau tidak perlu mengatakannya. Aku pasti akan kembali—dan bertambah ganteng…"
"Reborn!" Tsuna memarahi Reborn karena tidak menganggap serius pembicaraan mereka.
"Hahaha…" Fuuta tertawa melihat tingkah laku mereka berdua.
Parallel World, Tsunayoshi's apartment, Tsunayoshi & Reborn
Present Time, Reborn's POV
Reborn mengingat kembali kejadian di kediaman Sawada sebelum keberangkatannya ke dunia paralel sambil menikmati espresso yang ia suruh Tsunayoshi belikan untuknya, mengabaikan fakta bahwa dia sebenarnya menyimpan beberapa termos espresso di kopornya.
Saat ini Tsunayoshi sedang memasak sarapan untuk mereka berdua. Kebetulan hari ini hari Sabtu, jadi sekolah libur. Reborn lega karena dia tidak perlu lagi melihat sosok Tsuna memakai seragam hijau khas Kokuyo. Melihatnya, membuat Reborn membayangkan bagaimana jadinya nanti jika Mukuro berhasil mengambil alih tubuh Tsuna dan memaksanya memakai seragam Kokuyo. Untung saja Tsunayoshi menggunakan seragam siswa bukannya siswi…
Reborn sebenarnya terkejut melihat betapa rapuhnya Tsuna di dunia ini. Dia tampak kesepian sampai-sampai membuka lebar pintunya untuk orang asing seperti Reborn. Tapi, kalau diperhatikan baik-baik, Tsuna di dunia ini memiliki banyak kemiripan dengan ibunya. Dia tidak hanya bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik, tapi bau masakannya saja mengingatkan Rebron dengan masakan Nana, meskipun rasanya masih beda jauh. Tsunayoshi juga sepertinya memiliki sifat Nana yang terlalu menerima segalanya tanpa banyak tanya. Mungkin itu jugalah yang membuat Tsunayoshi menjadi mudah untuk menerima kenyataan bahwa satu-satunya keluarga yang ia punya (mari kita coret Iemitsu!) telah tiada. Reborn beruntung karena sifat Tsunayoshi ini membuatnya jadi lebih mudah didekati, tapi dia sama sekali tidak senang. Terlalu terbuka bukanlah sifat yang pantas dimiliki oleh seorang bos mafia. Untuk sekarang, Reborn akan mengabaikan fakta itu, yang penting sekarang—
"Tsunayoshi," Tsunayoshi yang sedang membuat omelet menoleh sedikit pada Reborn, tanda bahwa dia mendengarkan. "Apa kau benar-benar percaya pada perkataanku waktu itu?"
Hening. Tsunayoshi bahkan berhenti dengan pekerjaannya. Reborn bahkan berhenti meminum Espressonya.
"A-aku tidak tahu, tapi kurasa kau tidak berbohong," jawabnya sebelum melanjutkan memasak.
Reborn hanya mengangguk. Setidaknya Tsunayoshi memiliki hyper intuition yang membuatnya bisa menilai orang. Jadi, meskipun dia terlalu cepat menerima dia masih bisa sedikit mempertahankan dirinya.
"Sebenarnya aku sudah punya rencana. Kau mau dengar?" Tsunayoshi tidak merespon, tapi Reborn sama sekali tidak berencana menunggunya, "Kembalilah ke Namimori, tempat segalanya dimulai."
Adegan demi adegan bermunculan di kepala Reborn. Saat pertama kali dia tiba di Namimori, saat pertama kali dia bertemu dengan Sawada Tsunayoshi, saat pertama kali dia menembak Tsuna dengan peluru dying will, saat pertama kali Tsuna menyatakan perasannya pada Sasagawa Kyouko, saat pertama kali Gokudera Hayato menyatakan loyalitasnya pada seseorang, saat pertama kali Tsuna menyelamatkan nyawa seorang Yamamoto Takeshi, saat pertama kali Trident Shamal menyembuhkan seorang laki-laki, saat pertama kali Fuuta de La Stella tinggal di satu tempat, saat pertama kali Rokudo Mukuro berhasil ditundukkan, saat pertama kali Reborn merasa beruntung karena bisa hidup sebagai Arcobaleno, semuanya terjadi di Namimori. Reborn punya insting—yang sebenarnya lebih ke perasaan, tapi dia lebih suka menyebutnya insting—bahwa awal mula cerita seorang Sawada Tsunayoshi haruslah dimulai dari kota yang sangat dicintai seorang Hibari Kyouya itu. Kota dimana semuanya berawal…
Reborn selesai menghabiskan secangkir espressonya. Cukup memakan waktu untuk menghabiskannya karena dia benar-benar menikmatinya. Kota Kokuyo memiliki daya tarik juga rupanya. Selama itu, Tsunayoshi tidak menjawab. Dia sempat menegang selama beberapa detik, tapi belum ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Tidak perlu orang sejenius Reborn untuk tahu alasannya.
Parallel World, Tsunayoshi's apartment, Tsunayoshi & Reborn
Present Time, Tsunayoshi's POV
Saat ini Tsunayoshi sedang memasak untuk dua orang. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Terutama karena ada seorang balita—yang baru ia temui kemarin—bergabung dengannya. Balita itu bernama Reborn dan saat ini sedang duduk di meja makan sambil menyeduh espresso. Tsunayoshi tentu saja merasa aneh, tapi dia sangat senang. Sudah lama dia tidak makan dengan seseorang. Membayangkannya, membuat Tsunayoshi ingin menangis. Tapi, air matanya tidak mau keluar karena rupanya Tsunayoshi sudah sejak lama menerima kematian ibunya. Lagipula ibunya tidak akan hidup kembali jika dia menagisinya siang dan malam seperti seorang wanita hamil yang ditinggal mati suaminya. Bahkan jika dia menangis darah sekalipun Nana tidak akan kembali hidup. Kini, Tsunayoshi adalah satu-satunya keluarga Sawada yang ada.
Entah kenapa keheningan yang tercipta dari dua orang asing berada di ruangan yang sama tidak menganggu Tsunayoshi sama sekali. Mungkin karena Reborn memancarkan aura yang *uhuk*bersahabat*uhuk*—atau lebih tepatnya Reborn tidak menganggap Tsunayoshi sebagai orang asing sama sekali. Sebenarnya kalau dipikir-pikir Reborn memperlakukan Tsunayoshi seperti bawahannya. Sejak kemarin malam, Reborn terus memerintahnya seenak jidat.
"Kau sudah mandi? Bagus. Sekarang cepat tidur."
"Tsunayoshi buatkan aku espresso, cepat!"
"Aku mau sarapan dengan omelet."
"Kau harus berusaha lebih keras dari yang pernah kau lakukan untuk membuat sarapan untukku, ya! Kalau tidak…"
Kalau Reborn adalah anak susianya atau lebih tua lagi, dia pasti kesal. Tapi, Reborn adalah seorang balita, anak-anak yang polos dan suka seenaknya. Saat itu juga Tsunayoshi merasa seperti memiliki seorang adik yang menjengkelkan. Mengganggu memang, tapi entah kenapa Tsunayoshi bisa menyayanginya dengan tulus. Meskipun dia merasak sedikit ngeri tidak jelas karena tahu bahwa Reborn bukanlah balita biasa, dia tidak mungkin tidak merasa senang. Rasanya seperti memiliki anggota keluarga. Apalagi karena Reborn tidak pernah sekalipun menganggapnya seperti orang asing.
"Okaeri, kau sudah membeli espresso-nya?"
"Ohayou…"
"Oyasumi—
—Tsuna."
Tidak ada kata-kata yang bisa mendeskripsikan betapa bahagianya Tsunayoshi.
Tsunayoshi mungkin terlalu lembut pada balita asing itu. Membiarkan orang berkomentar tentang dirinya dan menginap di apartemennya, bukanlah kebiasannya. Tapi, dia memiliki perasaan bahwa Reborn berbeda di samping kenyataan bahwa dia adalah balita dengan mental orang dewasa.
Pakaian Reborn yang serba hitam seperti penjahat membuat Tsuna merasa tidak nyaman, tapi bukannya dia menganggap semua orang yang berpakaian hitam adalah orang jahat seperti yang sudah membunuh ibunya. Jadi, dia bisa mengabaikannya. Terutama mengabaikan fakta bahwa pakaian Reborn benar-benar terlihat seperti seorang mafia yang pernah ia lihat.
Jadi, disinilah Tsunayoshi. Memasak dua omelet sebagai sarapan untuk dua orang. Dirinya, dan tamu kecilnya yang misterius.
Di tengah keheningan yang nyaman ini, tiba-tiba tamunya memecah keheningan, "Tsunayoshi." Tsuna menoleh pada Reborn. "Apa kau percaya pada perkataanku waktu itu?"
Hening. Tsunayoshi menghentikan seluruh pekerjaannya.
"…kalau kau percaya padaku, kau akan mendapatkan hidup yang lebih baik."
Hidupnya sudah jauh lebih baik. Kehadiran Reborn yang misterius di meja makannya sudah cukup membuat Tsunayoshi merasa senang. Kesepiannya juga sudah sediki terobati. Rasanya seperti sudah puluhan tahun dia tidak merasa seperti ini.
"Kalau kau mendengarkanku kau akan mendapatkan bukan hanya satu, tapi tujuh orang keluarga yang akan selalu bersamamu. Tepatnya tujuh orang teman yang bisa kau anggap seperti keluarga sendiri. Selain itu, kau juga akan mendapatkan teman-teman yang baik dan dapat kau andalkan."
Tujuh orang? Mendapatkan satu orang teman saja dia tidak pernah bermimpi. Tsunayoshi tidak pernah berani bermimpi untuk mendapatkan seseorang yang sangat berharga seperti itu. Karena dia yakin bahwa mimpinya itu hanya akan menjadi sebuah mimpi untuk selamanya.
"Aku mengatakan ini padamu saja karena cuma kau yang bisa mendapatkan keluarga yang hebat seperti itu. Perjalananmu masih panjang dan untuk itu aku akan membingbingmu"
Kalau saja dia benar-benar bisa mendapatkan bukan hanya satu tapi tujuh orang keluarga, seberapa jauh pun perjalanannya, dia akan menempuhnya dengan senang hati.
"Kau boleh tidak percaya padaku, tapi aku percaya padamu, Tsunayoshi."
Tsunayoshi ingin percaya. Dia ingin percaya pada Reborn. Namun, jauh di dasar hati maupun otaknya, dia tahu bahwa itu… itu mustahil.
"Apa kau benar-benar percaya pada perkataanku waktu itu?"
Namun, saat Reborn bertanya demikian, entah kenapa dia sudah tahu jawabannya.
"A-aku tidak tahu, tapi kurasa kau tidak berbohong."
Aku tidak tahu apa yang bisa kau lakukan untuk mengubah hidupku. Tapi, aku merasa bahwa kau tidak berbohong. Tidak mungkin ada yang setega itu berbohong seperti itu padaku… Lagipula hanya perasaan anehku ini saja yang selama ini bisa kupercaya sehingga aku bisa hidup dengan baik sampai sekarang… A-aku percaya… Oleh karena itu bisakah kau membuktikan semua perkataanmu? Tsunayoshi bertanya dalam hatinya. Terkadang dia memiliki firasat kalau Reborn bisa membaca pikirannya. Tapi, dengan tubuhnya yang benar-benar membelakangi Reborn, membuat ekspresinya tidak dapat dibaca. Mungkin Reborn tidak bisa benar-benar membaca pikirannya—tapi hanya menerka lewat ekspresi dan gerak-geriknya—
"Sebenarnya aku sudah punya rencana. Kau mau dengar?"
—atau mungkin pikiran Reborn sedang berada di tempat lain.
Sambil meletakkan oemelet terakhir yang sudah jadi di atas piring, Tsunayoshi menyiapkan hatinya untuk rencana Reborn.
"Kembalilah ke Namimori, tempat segalanya dimulai."
Oke, dia tidak siap untuk yang satu ini.
#to be continued
#preview
Gokudera: *sulking*
Yamamoto: Apa yang kau lakukan disana, Gokudera? Semua orang sedang mencarimu lo!
Gokudera: Aku senang Juudaime mengkhawatirkanku, tapi aku juga sedih karena tidak bisa berada di sisinya...
Yamamoto: Ma, ma, nanti kau juga muncul kalau sudah saatnya. Lihat saja aku! Masih belum saatnya aku juga muncul, ha... ha...
Gokudera: Itu karena aku lah tangan kanannya Juudaime! Aku selalu muncul lebih dulu darimu!
Yamamoto: Yang benar? Tapi di anime aku duluan yang-
Gokudera: -Aaaarggh! Aku harus cepat menampakann diriku, tapi aku tidak bisa keluar dari sini!
Ken: Jangan khawatir, byon! Aku lah yang akan muncul duluan, byon! Akan kuhajar Vongola itu saat kau tidak ada, wahahaha!
Chikusa: Maksudmu kita, Ken. Lalu, kau harus mengucapkan namanya dengan benar.
Ken: Siapa yang peduli?! Aku bisa mengatakan 'Vongola' sesukaku, byon! Vongola~ Vongola~ Vongola bodoh~ Byon!
Gokudera: teme!
Yamamoto: Hahaha... kalian menarik! Tapi karena Tsuna di dunia lain belum main mafia-mafiaan, semua orang masih memanggilnya Tsuna, ya! Kalau begitu, di dunia itu, Gokudera harus berhenti mengatakan 'Juudaime'. Pasti menarik!
Gokudera: Ba-bagiku, Juudaime itu Juudaime!
