No pairing

Post-canon

mystery, tragedy, friendship

Reborn, 3 tahun

Tsuna, 16 tahun (1 SMA)


Disclaimer: Penulis tidak memegang hak cipta Katekyo Hitman REBORN!


#mission 4


"Kembalilah ke Namimori, tempat segalanya dimulai."

Tsunayoshi tidak menjawab. Tapi, semua orang tahu seorang Tsuna adalah pendengar yang baik.

Tiba-tiba terdengar suara berisik di luar, seperti kucing yang berlari serampangan sehabis maling ikan. Seseorang jatuh tersungkur. Menurut Reborn bunyinya seperti mayat yang dibanting, lebih dari sekadar pasrah dan tidak berdaya.

Reborn dan Tsunayoshi menoleh ke arah pintu. Rerbon tahu kalau Tsunayoshi diam-diam merasa lega karena bisa menghindari pertanyaannya, tapi untuk kali ini dia membiarkannya.

Tsunayoshi berjalan menuju pintu dengan tergesa-gesa. Dia cukup cemas. Reborn tidak bisa berbohong kalau dia tidak penasaran dan sedikit khawatir. Semua hal di dunia ini seperti mencoba membuatnya terkejut.

Pintu berdecit saat dibuka, memperlihatkan dua orang remaja berpenampilan seperti tentara pingsan di depannya. Mereka menggunakan seragam Kokuyo yang berwarna hijau dan bercak-bercak merah di mana-mana. Mereka berdarah-darah benar-benar seperti habis berperang dari sisi yang dibabat habis.

Semua hal di dunia ini seperti mencoba membuatnya—Reborn—terkejut. Tsunayoshi juga tampak terkejut, tapi dia lebih tenang daripada seorang warga sipil yang mendapati sesuatu seperti dua onggokan mayat di depan kediaman mereka atau seorang hitman nomor satu di dunia yang dikirim ke dunia paralel lain.

"Ken! Chikusa!" Tsunayoshi meneriaki kedua nama tamu tidak diundangnya.

Tanpa menunggu respon, Tsunayoshi segera bertindak.

Dengan cepat, namun hati-hati, Tsunayoshi membantu salah seorang di antara keduanya yang masih sadar, membopong yang lainnya. Darah merembes sangat banyak dari pakaiannya, namun wajahnya datar tanpa ekspresi kesakitan. Tapi, dia sudah pucat bagaikan mayat hidup sehingga Tsunayoshi menggalakinya untuk menjauhi tangannya dari tubuh yang tidak bergerak itu.

Reborn juga ikut bergerak. Tapi, dia hanya sekadar mengawasi kalau-kalau yang satu lagi juga ikut pingsan. Dia seperti pengawas yang mengawasi muridnya melakukan praktek P3K. Tapi, kemudian dia mengeluarkan banyak barang dari kopor kecilnya. Butuh dari sekadar seekor Leon untuk mengatasi semua ini dan sayangnya dia cuma punya satu.

Ken—anak yang pingsan dan sangat babak belur dengan berbagai luka benda tumpul—dibaringkan di atas sofa. Chikusa duduk di atas karpet yang hangat, tidak ada yang memarahinya karena meninggalkan genangan merah di lantai.

"Apa yang terjadi?!" tanya Tsunayoshi setelah dia cukup menerima situasi untuk bisa panik.

"… kami… diserang," hanya itulah jawaban Chikusa. Reborn bisa melihat keragu-raguan dirinya saat dia menjawab, bukan sekadar kesulitan dalam berbicara.

Dengan bijak, Tsunayoshi tidak menanyainya lebih lanjut. Yang lebih penting sekarang adalah mengobati luka mereka, tentu saja. Tapi, selain itu sepertinya dia benar-benar mengerti untuk tidak pernah bertanya lagi.

Di mata Reborn, kentara sekali kalau Chikusa tidak ingin melibatkan Tsunayoshi. Tapi, jika tidak, mereka berdua mungkin akan mati terkapar di jalannya seperti anjing liar.

Mukuro tidak ada di sini atau dimanapun di dekat mereka. Reborn sebenarnya merasa kesal karena tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, tapi semua itu sudah pasti karena dia berada di dunia paralel lain. Semua rasa penasarannya untuk saat ini dia abaikan, dan bergegas membantu Tsunayoshi mengobati luka Ken serta Chikusa.

Luka Ken tampak tidak lebih dari sekadar hasil perkelahian antarpreman, tapi Reborn tahu kenyataannya. Setiap benda tumpul yang menghantamnya sesekali mengenai organ vitalnya dengan tepat. Kalau saja Ken adalah manusia biasa, nyawanya mungkin tidak akan tertolong. Bahkan saat ini, dengan P3K dan alat-alat medis terlengkap yang Reborn punya, dia tidak bisa banyak membantu Ken. Luka-luka tumpul seperti itu harus bisa sembuh sendiri dengan kekuatan tubuh dan untungnya tubuh Ken cukup baik dalam hal ini.

Setelah merasa cukup merawat Ken, Reborn membatu Tsuna mengobati Chikusa. Berbeda dengan Ken, luka Chikusa berasal dari benda-benda tajam yang membuatnya banyak mengeluarkan darah. Dia bisa mati kapanpun karena kehabisan darah. Sungguh beruntung, Reborn menemukan peralatan transfusi darah termasuk donor darahnya yang Shoichi masukkan di dalam kopor ajaibnya. Tapi, bayangan membawa kopor yang berisi setumpuk kantong darah kemana-mana cukup mengerikan bahkan bagi hitman nomor satu seperti Reborn sendiri. Tsunayoshi bahkan benar-benar melihatnya dengan ngeri meskipun hanya sekejap.

Reborn jadi mulai berpikir, dengan kopor ajaib seperti ini dan kemampuan serba bisanya yang sempurna , dia bisa jadi peri sungguhan. Tinggal memakai cosplay ibu peri yang pernah ia pakai waktu itu dan semuanya akan sempurna. Mungkin petualangannya di dunia paralel lain ini bakal berubah jadi cerita komikal komedi dimana darah bermuncratan seperti saos tomat ditekan paksa keluar dari botolnya. Yah, Reborn akui, sedikit darah seperti ini bukanlah hal yang tidak biasa dalam masa lalunya.

"Re-Reborn, apa yang kau lakukan?!" tanya Tsunayoshi setengah berteriak setengah panik.

"Tepat seperti yang kau lihat," jawab Reborn sambil membenarkan jas putihnya.

Reborn menyerahkan semua peralatan tranfusi darah sederhananya pada Tsunayoshi.

"Kupikir kau tahu cara melakukannya!" protes Tsunayoshi, tapi tidak sekeras Tsuna yang Reborn kenal.

"Mereka kenalanmu, kan? Sebaiknya kau bertanggung jawab terhadap mereka," kata Reborn dengan nada bijak level pertapa-nya disamping kalimat yang sebenarnya sederhana dan benar-benar bukan kata-kata mutiara. Kesadaran tiba-tiba menyerang Tsunayoshi. Reborn hanyalah anak asing—orang asing—yang baru dia temui dan meskipun dia banyak bicara seperti tahu segala hal tentang dirinya, dia tetaplah tamu asingnya sementara Ken dan Chikusa bagaiakan berandalan yang dia ambil sendiri. "Lagipula aku hanya anak kecil damong~"

Tsunayoshi facepalmed. Setidaknya dia tidak harus mengatakan itu setelah dengan sempurna dia merawat Ken. Sebenarnya imej apa yang ingin Reborn tanamakan menganai dirinya, Tsunayoshi tidak bisa mengerti.

Reborn ingin mengetes Tsunayoshi sambil mengenakan cosplay dokter yang membuatnya bernostalgia tentang awal-awal dia mengajar Tsuna. Lagipula Kakimoto Chikusa tidak akan mati semudah itu. Setelah puluhan tahun bekerja di dunia kegelapan, Reborn tahu kalau manusia tidak akan mati semudah itu, meskipun manusia juga tidak sekebal itu. Ini adalah perasaan aneh yang hanya bisa dimiliki seseorang yang telah lama berurusan dengan nyawa manusia. Ini seperi firasat yang membuatnya mengetahui apakah seseorang akan bisa bertahan atau tidak, tanpa melirik fakta yang sudah terpampang di depan mata.

Chikusa yang masih cukup sadar, sepertinya mencoba menahan dirinya untuk tidak berkomentar sesuatu seperti, "Tolong jangan berbicara seakan-akan aku tidak mendengar," atau sesuatu seperti, "Tolong jangan mulai buat acara komedi dengan nyawa kami." Dan sejujurnya semua itu mudah saja baginya karena tubuhnya saat ini benar-benar terasa lemas. Kesadarannya bisa menghilang kapan saja.

Tsunayoshi menelan ludahnya bersama rasa gugup. Dia lalu mengambil tangan Chikusa yang sudah terbalut rapi dengan perban olehnya dan juga perlatan yang disodorkan oleh Reborn. Tranfusi darah bukanlah hal main-main. Setidaknya dibutuhkan lebih dari sekadar keanggotaan di PMR untuk ini. Tentu saja Reborn mengerti hal itu, dan dia berencana untuk mengambil tindakan jika Tsunayoshi tampak lebih ragu-ragu dari yang terlihat saat ini. Tapi, dia tidak. Tsunayoshi menerima tantangannya, meskipun dia benar-benar serius ingin menyelamatkan Chikusa. Reborn yang sadis dan berjiwa guru sama sekali tidak merasa menyesal karena mengujinya seperti ini sedikit pun. Malahan dia cukup merasa terkesan dengan muridnya itu.

Singkat cerita, Tsunayoshi berhasil menyelamatkan nyawa Chikusa. Dia sedikit canggung saat melakukannya, tapi tidak ada kesalahan fatal dan memalukan di bidang kedokteran. Reborn mencatat kalau Tsunayoshi mungkin sebenarnya jenius (dia menggunakan kata 'mungkin' hanya karena dia merasa belum mau mengakuinya).

UtDS

"Byon!" Ken kembali siuman dengan sangat cepat. Secepat kembali berfungsinya indera penciumannya. "Apa ini bau omelet?" tanyanya. Dia itu memang idiot. Begitulah pikir Chikusa. Tapi, dia tidak menyarakannya karena dia juga mulai merasa tertarik dengan sekelilingnya setelah kondisinya membaik (untuk tidak mengatakan betapa laparnya dia, Chikusa menolak mengakuinya).

Tsunayoshi kembali ke dapur dan beberapa saat kemudian mereka semua sarapan bersama-sama di ruangan yang masih berbau darah. Setidaknya suasana sudah kembali ceria seperti keadaan setelah terpojok dalam perang, namun menerima gencatan senjata yang mengejutkan.

Mereka makan dengan tenang seakan-akan kejadian barusan tidak pernah terjadi, seakan-akan beberapa tulang rusuk Ken tidak patah dan Chikusa tidak kehabisan banyak sekali darah.

Setelah makan, Chikusa membawa semua piring kosong ke dapur sementara Reborn berbicara dengan Tsunayoshi.

"Ini punyamu?" Tsunayoshi mengambil kotak P3K-nya dari tangan Reborn dan masuk kamar untuk menyimpannya. Reborn sedikit tidak nyaman mengetahui Tsunayoshi juga punya kotak P3K yang super lengkap dan Tsunayoshi menyadari hal ini. Tapi, Reborn cukup merasa tenang karena Tsunayoshi sepertinya tidak punya luka serius. Itu lebih seperti persiapan untuk saat-saat terburuk. Mungkinkah Tsunayoshi berpikir dia masih diincar oleh orang yang telah membunuh Sawada Nana? Ngomong-ngomong bagaimana dia bisa selamat? Pertanyaan-pertanyaan itu kembali kepada Reborn. Lalu dia menoleh ke arah Chikusa yang sudah kembali dari dapur.

"Ngomong-ngomong kau siapa, bocah?" tanya Ken sedikit kasar.

"Arcobaleno," kata Chikusa dengan muka datar—tapi, dia memang selalu bermuka datar, jadi ini tidak perlu disebutkan lagi—tapi dia sendiri tampak tidak terlalu yakin.

Meskipun Reborn sangat ingin tahu bagaimana keadaan arcobaleno di dunia paralel ini yang bisa saja juga menjadi petunjuk baginya terhadap semua masalah ini, dia menahan dirinya. Tidak ada hal yang baik untuk terlibat terlalu banyak dengan dunia paralel lain, kecuali jika itu berhubungan dengan kehancuran dunia. Sementara, menurut Shouichi, tugasnya hanya menjadikan Tsunayoshi sebagai decimo saja, tidak lebih. Lagipula, jika dia benar-benar membutuhkan arcobaleno lain dia bisa mencaritahunya nanti.

Kemudian Tsunayoshi masuk kembali ke dalam ruangan dan dia sudah harus mengakhiri semua pembicaraan ini.

"Siapapun kau, itu bukan urusanku, sih! Yang penting, apa kau teman? Apa kau musuh?! Katakan dengan jelas!" kata Ken.

"Ken," Chikusa menegur. "Cih!"

Reborn dan Chikusa saling bertatap-tatapan. Sesama orang yang selalu menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya, keduanya sampai pada persetujuan. Ken dan Chikusa tidak akan bertanya tentang latar belakang serta tujuan Reborn dan sebaliknya Reborn tidak akan mencampuri urusan mereka.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kalian bisa mengenal Tsunayoshi?" tentunya menurut Reborn hal ini tidak termasuk mencampuri urusan, namun tidak bagi Ken.

"Cih, itu tidak penting. Kita Cuma kebetulan ketemu di jalan," jelas Ken singkat dan ketus.

Tsunayoshi tidak ikut nimbrung dalam pembicaraan ini, tapi ekspresinyaya menyetujui perkataan Ken. Mereka bertemu di jalan seperti orang-orang pada umumnya, kebetulan jadi saling kenal, dan sejujurnya mereka belum berteman. Reborn menangkap semua itu.

"Bagaimana kalian bisa terluka seperti itu?" tanya Tsunayoshi lebih kepada Chikusa. Ken tidak dapat diandalkan kalau soal menjawab pertanyaan dengan serius.

Chikusa dan Ken terdiam untuk beberapa saat.

Ah, ini lagi. Begitulah pikir Reborn. Mereka berdua tidak ingin melibatkan Tsunayoshi, tapi sesuatu yang serius jelas sudah terjadi. Dengan mudah, Reborn menebak semua itu. Dia sudah mulai menebak sejak melihat luka parah yang mereka alami, tapi apakah dia harus menerima semua kenyataan itu begitu saja? Kenapa menjadikan Tsunayoshi sebagai Vongola Decimo terasa setidakmenyenangkan ini? Seingatnya dia banyak bersenang-senang bersama Tsuna. Memang sih itu sebelum badai menerjang. Begitu dia sampai di dunia paralel ini, hal-hal berdarah seperti kematian Nana langsung menyapanya dan sekarang insiden kedua anak hilang ini. Buruknya, isnting hitman Reborn memberitahunya bahwa akan ada lebih banyak hal-hal berdarah yang akan menyapa perjalanan mereka.

"Ini tidak ada hubungannya denganmu," Ken memutuskan untuk menjawab. Tapi, jawaban seperti itu tentu saja malah membuat orang makin khawatir.

Tentu saja tidak ada hubungannya, lalu memangnya kenapa kalau begitu?! Kan tetap saja… Reborn membaca kefrustasian dari wajah Tsunayoshi. Tapi, sekejap kemudian dia menggantinya dengan ekspresi datar seperti saat pertama dia melihatnya di atap sekolah waktu itu.

"Kami berterima kasih atas bantuannya, tapi semuanya cukup sampai sini." Chikusa yang sudah selesai mengisi darahnya bangkit diikuti dengan Ken. "Kami akan membalas hutang ini suatu saat nanti, tapi untuk sekarang, kami akan pergi."

"Ta-tapi…" Tsunayoshi sangat ingin menghentikan mereka, tapi sesuatu yang tampak sederhana namun jelas berpengaruh menghentikannya. Menurut Reborn sesuatu itu adalah suatu perjanjian yang biasanya terbentuk tanpa direncanakan—atau bahkan disadari—antarorang asing yang tidak punya rencana untuk saling berteman kedepannya. Yaitu sesuatu seperti "Kau boleh berkenalan denganku, tapi jangan terlibat dengan urusanku," dan masa lalu Tsunayoshi, Ken dan Chikusa, jelas sangat berpengaruh dalam hal ini. Sesuatu yang sederhana, namun cukup mengganggu, bukan?

"Aku ingin menolong mereka meskipun itu berarti aku masuk ke dalam kehidupan mereka, tapi aku benar-benar tidak ingin jika mereka masuk ke kehidupanku," hati Tsunayoshi seperti mengatakan hal ini dengan jelas dan terang pada Reborn.

Dunia jelas tidak berputar mengelilingi Tsunayoshi ataupun Reborn. Sebelum keduanya sempat memutuskan untuk berbuat sesuatu, pintu tertutup dengan suara keras, membuat Ken dan Chikusa menghilang dari pandagan.

#to be continued


#behind the scene

Mukuro: Oya, oya, aku gak ada?

Tsuna: Bukannya udah biasa, ya. Dia kan tipe karakter yang muncul habis ngeluarin anak buahnya.

Mukuro: Oya, ternyata Tsunayoshi-kun mengerti karakterku, kufufu… aku jadi senang.

Tsuna: Hiie! Lupakan saja! (dia membuatku merinding)

Mukuro: Tapi, aku punya firasat aku gak akan muncul dalam waktu yang cukup lama. Bagaimana jika kau mencari tahu tentang itu Tsunayoshi-kun?

Tsuna: Huh, bagaimana caranya?

Reborn: Tentu saja dengan hyper intuition!

Tsuna: Mana bisa!

Gokudera: Kurasa aku mengerti sedikit Juudaime, biar aku jelaskan.

Tsuna: Gokudera-kun!

Gokudera: Menurut penelitianku sebenarnya ini bukan salah plot atau timeline, tapi karena kelambatan penulis.

Tsuna: Go-gokudera kun…

Yamamoto: Ma, ma, Gokudera, tidak baik menyalahkan orang.

Gokudera: Tapi, sebanyak apapun plotnya kalau penulisnya cepat, pasti karakter jadi cepat muncul kan!

Tsuna: I-itu benar.

Gokudera: Memangnya kau tidak kesal? Bukankah seharusnya kau sudah dijanjikan bakal cepat muncul?

Yamamoto: Eh… yah… mau bagaiamana lagi. Aku juga bingung.

Reborn: Sepertinya ada perubahan rencana. Tapi, bukankah begini lebih seru? Ada lebih banyak darah dan lebih dekat ke tragedi kan? *senyum*

Tsuna: Jangan senang soal itu dong!