No pairing

Post-canon

mystery, tragedy, friendship

Reborn, 3 tahun

Tsuna, 16 tahun (1 SMA)

-...-...-...-

Disclaimer: Penulis tidak memegang hak cipta Katekyo Hitman REBORN!

-...-...-...-

Italic/garis miring = kilas balik (flashback)/ kata asing/suara yang ditimbulkan benda mati/hal-hal misterius lainnya

"Italic/miring" = pikiran seseorang/perkataan di dalam hati

"Bold/tebal" = perkataan seseorang di masa lalu yang berdiri sendiri (tidak dalam flashback)/hal-hal misterius lainnya

-...-...-...-

#mission 6

-...-...-...-

Saat Tsunayoshi meninggalkan apartemennya, matahari sudah mulai tinggi. Dia berlari tidak lebih cepat dari sepeda ontel setelah memutuskan arah dengan menggunakan intuisinya yang secepat cahaya.

"Kalian berdua, bertahanlah sampai aku tiba di sana..."

"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?"

Nyaris tersandung angin, Tsunayoshi berhenti bergerak.

"Apa yang bisa kulakukan?"

"Dame-Tsuna!"

"Baka-Tsuna!"

"Kau yang terpayah."

"Dasar tidak tahu malu!"

"Memangnya kau bisa apa?!"

Mata Tsunayoshi melebar, penglihatannya berkunang-kunang. Tapi dia melanjutkan perjalannya meki harus tersandung-sandung seperti orang mabuk, atau tentata yang habis ditembak kakiknya. Dia berjalan dengan menyeret sepatunya; wajahnya menunjukkan keputus asaan yang tidak seharusnya ditunjukkan di situasi seperti ini.

"Kumohon," pinta Tsunayoshi, "Jangan lagi; jangan sekarang." sebelum dia kehilangan kesadarannya.

UtDS

Ken mendengar suara langkah kaki serampangan. Bukan, bukan serampangan. Ada banyak reruntuhan di sekitar situ, jadi pasti tidak mungkin ada manusia yang bisa berjalan mendekatinya tanpa menimbulkan suara. Manusia. Berarti dia beruntung. Vindice belum datang untuk menjemputnya. Hal ini sedikit aneh dan menyebalkan. Mau tidak mau dia jadi harus berterima kasih pada apapun yang berhasil menarik perhatian mereka.

"Tapi, itu tidak akan lama, byon." Ken merogoh sakunya untuk mengeluarkan gigi taring paling tajam yang ia miliki. "Chikusa berangkat duluan karena dia lebih lambat dariku, sementara aku bisa menyusulnya dengan cepat dengan mode cheetah-ku. Kalau vindice muncul, aku akan mengalihkan perhatian mereka sebentar lalu berlari menggapai Chikusa, lalu kami akan lari seperti itu sampai Namimori." Dia mengulang lagi rencana Chikusa berkali-kali di kepalanya agar dia tidak lupa. Bukan rencana yang paling bagus, tapi layak dicoba apalagi karena dia yakin - meskipun tidak bisa menandingi kecepatan Vindice - dia bisa kabur dari mereka sampai perbatasan yang sudah sangat dekat.

Ken masih mengocek sakunya, saat suara langkah kaki makin terdengar jelas. Dia sudah waspada, tapi tidak lama kemudian wajahnya menjadi pucat.

Saat pemilik langkah kaki itu sudah sampai di hadapan Ken, Ken mengangkat kepalanya dari pencariannya.

"Tsuna? Kenapa kau..." Sosok itu juga menoleh padanya.

Mata mereka belum bertemu, ketika tiba-tiba sebuah bangunan di dekatnya bergetar. Dengan refleks dan sedikit panik, Ken melompat menerjang Tsunayoshi.

Bruuk! Tsunayoshi jatuh tidak jauh dari Ken yang terkubur di bawah reruntuhan.

"Ken!" Tsunayoshi tampak panik. Dia juga masih sedikit kaget dan belum tercerna olehnya bahwa gara-gara kecerobohannyalah Ken jadi seperti ini.

"Tsu- Uhuk!" Ken batuk darah. Ada darah yang mengalir dari keningnya juga. Sial, dia tidak sempat mengaktifkan mode kingkong-nya atau apapun sejenisnya. "Ja-jangan khawatir, byon. Biasanya aku lebih kuat dari ini. Andaikan aku bisa merogoh sakuku sekarang aku bisa..." Tapi, Ken tidak bisa merogoh sakunya. Kedua tangannya tidak bisa bergerak karena dijepit besi dan beton di sana-sini. Rasanya sakit sekali, tapi lebih baik daripada mati rasa karena bisa berarti banyak hal.

Dari atas, Ken tampak sangat payah dan tidak berdaya. Orang setingkat Daemon pasti menertawakannya dengan sadis dan tanpa perasaan, berusaha menginjak-injak harga dirinya. Ken sendiri pun pasti merasa harga dirinya jatuh jika bukan dia sendiri yang sengaja melakukannya, dan untuk menyelamatkan seseorang yang ingin ia selamatkan.

UtDS

Tembok tinggi di kedua sisinya, dua anggota Vindice menyusul di belakangnya, beberapa bagian tubuhnya terluka dan staminanya terkuras, saat sosok itu menghampirinya dengan senjata tajam yang berkilat-kilat menakutan. Apabila dia sedang dalam kondisi prima pun tidak mungkin dia bisa rileks dalam situasi seperti ini. Tapi, dia melepaskan ketegangannya dan hanya memusatkan perhatiannya pada sosok di hadapannya; sudah tidak ada jalan keluar lagi, dia memutuskan untuk mengangkat tangan.

"Apa kau tahu," Chikusa memulai. "Kenapa Ken selalu menjaga anak itu dari masalah?"

Lawan bicaranya tidak memberikan tanda-tanda akan merespon. Dia hanya berdiri di hadapan Chikusa seperti dewa kematian menunggu targetnya berjalan sendiri ke arah gerbang kematian yang tidak terlihat.

"Itu karena dia ingin melindungi yang sepertinya mustahil untuk dilindungi."

Pupil lawan bicaranya sedikit melebar, membuat Chikusa sedikit bersorak dalam hatinya karena berhasil membuat reaksi pada wajah yang sekaku patung itu - lebih kaku dari dirinya.

"Meskipun anak itu tampak jauh lebih buruk dari kami - dipenuhi keputusasaan seorang diri dan bayangan masa lalu yang lebih kelam dan tidak kami ketahui; tapi, semuanya menghilang sekali dia tersenyum. Saat bersamanya, kami jadi bisa merasakan sedikit cahaya."

Karena ini adalah akhirnya, sekalian saja dia tumpahkan segalanya, "Ken - kami - berpikir itu artinya dia masih punya harapan yang tidak kami miliki. Kami ingin anak itu menemukan jawaban atas masalahnya untuk bagian kami juga. Terutama Ken, dia sangat peduli. Dia tidak pernah seperti itu sebelumnya."

Sosok itu mendengus dengan nada sedikit tertarik seperti menemukan sesuatu yang lucu dan bisa diejek. "Apa gunanya mengatakan semua itu padaku?"

Agar tidak terbawa emosi, Chikusa menutup matanya dan menghembuskan napasnya seperti yang biasa ia lakukan saat menghadapi Ken. Lalu dia tersenyum tipis - sedikit tidak percaya diri karena pipinya terasa sangat kaku - "Karena..."

UtDS

Sosok itu mendengarnya, jawaban dari anak berkacamata yang sangat terdengar jelas sebelum otaknya berhenti berpikir. Nalarnya tidak bisa memproses apa yang anak laki-laki itu katakan. Bagaimana bisa seseorang mengatakan sesuatu yang terasa hangat dengan ekspresi yang dingin? Tidak hanya pikirannya, pandangannya pun ikut menjadi buram karena kemarahan yang meliputi seluruh dirinya.

"DIAM!" dia ingin berteriak, tapi tenggorokannya terasa panas dan kering. Seluruh tubuhnya juga terasa panas dan dadanya sesak. Kalau dia tidak melakukan sesuatu rasanya dia akan merasa menjadi seperti ikan yang terlempar dari oasisnya ke gurun pasir yang ganas. Jadi dia mengangkat bilah pisaunya dengan genggaman yang menunjukkan keputusasaannya. Perlahan-lahan pemandangan dengan seorag anak dan mata kosongnya, berubah menjadi merah.

UtDS

Reborn!

Reborn merasakan seseorang memanggilnya, seseorang yang menggunakan seragam hijau, berasal dari Italia, berrambut pirang, dan bergaya serampangan. Mungkin bukan seseorang yang ia kenal baik, namun panggilan itu tidak kalah pentingnya. Meskipun tidak sehebat Tsunayoshi, Reborn kan juga memiliki intuisi sebagai seorang hitman, dan ditambah dengan kemampuannya membaca pikiran (tanpa melihat apakah itu benar), serta teori Shoichi yang mengatakan bahwa orang dengan flame yang sama dan memiliki hubungan tertentu dapat berkomunikasi saat dalam keadaan bahaya - yang juga berarti Ken sedang dalam keadaan hidup dan mati. Sayangnya, Reborn berada terlalu jauh di belakang. Jika bukan karena bantuan dari teman-teman serangganya, dia juga tidak akan tahu harus pergi ke arah mana.

Saat dia sampai ke daerah tanpa serangga, barulah dia menggunakan alat pelacak Vindice buatan Shoichi - atau lebih tepatnya pelacak black flame dan segala jenis enegi negatif yang bukan berasal dari dunia ini, singkatannya BFD dalam bahasa Italia, atau cukup Pelacak Hitam saja.

Reborn tahu dia tidak akan sempat. Lagipula, dia tidak akan bisa berbuat banyak selain melihat sendiri proses penangkapan anak buah Rokudo Mukuro, memastikan keduanya tidak terlalu disakiti, dan menjaga agar Tsunayoshi terhindar dari masalah. Yang lebih penting, Reborn tidak suka ketinggalan sesuatu. Namun, dalam lubuk hatinya yang terdalam, Reborn berharap dia bisa melakukan sesuatu, seperti melarikan kedua anak itu ke Namimori. Dia tahu ada sesuatu yang misterius di sana, seperti kabut yang menghilangkan seluruh kota dari peta. Jika dia bisa membawa Ken dan Chikusa ke sana mungkin akan ada sesuatu yang berubah; mungkin mereka bisa selamat.

Setelah Tsunayoshi meninggalkan apartemennya, Reborn mengemasi semua keperluan pindahan Tsunayoshi ke dalam kopornya. Keberadaan kopor itu terdengar menggelikan karena terlalu berbau fantasi - dengan mengabaikan hal-hal fantastis seperti api dying will di sekitarnya - tapi rupanya sangat berguna. Saat mereka terjebak masalah, mereka bisa langsung melarikan diri ke Namimori.

Reborn berhenti sejenak dan melihat ke belakang, ke bangunan-bangunan tinggi, namun tidak semodern Namimori yang ia tahu, ke beberapa jalanan yang masih tanah dan sepi pejalan kaki, ke daun-daun rindang dan relief alam yang masih alami, ke semua aspek Kokuyo yang tidak Namimori miliki, dan berkata, "Selamat tinggal Kokuyo. Meskipun sebentar, terima kasih telah menerima orang luar sepertiku," kepada langit yang menaungi kota kecil tersebut dan juga kepada teman-teman serangganya. Reborn sedikit keluar dari karakter yang biasa ia tunjukkan pada orang-orang, namun saat ini kan tidak ada orang, dan mood yang dia tangkap dari udara rasanya sudah pas meskipun tanpa matahari terbenam.

UtDS

Reborn melirik Pelacak Hitamnya yang mengeluarkan suara mirip seperti detektor logam hanya saja dengan pilihan volume dan earphone yang bisa ia pasang. Tiba-tiba tanda yang menyatakan ada black flame di kota menghilang. Reborn juga bisa merasakannya dengan instingnya.

"Sepertinya urusan Vendice sudah selesai. Bagaimana dengan Ken?"

Reborn tiba di bagian daerah yang ikut terkena longsor bersama dengan Kokuyo Land. Itu berarti dia sudah dekat dengan perbatasan Namimori. Reborn mendatangi daerah yang kerusakannya terlihat masih baru, yang bangunan-bangunannya runtuh ke bawah bukannya terkubur di bawah, dengan tanda-tanda kepulan pasir yang masih tersisa di udara. Setelah berbelok di satu sudut, Reborn bisa melihat sosok Tsunayoshi - yang sebelumnya tertutup bangunan - membelakanginya sambil berjongkok.

"Tsuna!" Reborn memanggilnya. Dia berjalan mendekati Tsunayoshi. Dia baru berhenti ketika sebilah pisau berlumurah darah masuk ke jarak pandangnya.

Tsunayoshi membalikkan badannya menghadap Reborn. Ekspresinya berisi kengerian dan sedikit penyesalan.

"Re-reborn… ini darah yang sama de-dengan yang sebelumnya di rumah…" Tsunayoshi memulai dengan suara yang bergetar, "I-ini darah Chikusa…"

Bagaimana mungkin Tsunayoshi bisa melupakannya. Sebagian besar dialah yang merawat Chikusa yang terluka. Darah Chikusa yang warnanya sedikit berbeda telah melumuri tangannya dan menodai rumahnya, sampai akhirnya harus ia bersihkan dengan teliti. Dan semua itu terjadi kurang dari satu jam yang lalu. Kini darah yang sama tertempel di benda yang Tsunayoshi genggam dengan gemetaran.

"Ta-tadi aku mencoba mencari… tapi dia... Apa kita terlambat Reborn? Apa kita sudah terlambat?"

Reborn memperhatikan pisau yang berada di tangan Tsunayoshi, sedikit sulit berkonsentrasi karena perkataannya. Gagangnya habis dibalut tangan muridnya yang pucat, jadi dia tidak bisa melihatnya. Bilah pisau itu sedikit lebih kecil dari apa yang Tsunayoshi bawa sebelumnya. Tentu saja itu pisau yang berbeda.

Reborn baru mengingat sesuatu.

"Buang itu! Jangan tinggalkan sidik jari!" Tsunayoshi kaget mendengar Reborn tiba-tiba berteriak sehingga dia melemparkan pisau itu jauh-jauh ke arah reruntuhan.

Pisau itu jatuh di lautan beton, batu bata, dan pasir. Mungkin akan sulit ditemukan, tetapi bukannya mustahil. Reborn hanya bisa mendesah melihat kelakuan muridnya yang tidak profesional.

"Polisi tidak mungkin terlibat, jadi biarlah," pikir Reborn.

Saat ada orang yang iseng dan beruntung - atau mungkin tidak beruntung - menemukannya, darah di pisau itu sudah mengering atau terhapus alam.

Tsunayoshi masih dalam kondisi panik. Reborn baru hendak bertanya apakah dia baik-baik saja ketika tiba-tiba Pelacak Hitam mengeluarkan suara.

Zzzzzzt….zzzt...

Tsunayoshi tidak dapat mendengarnya karena Reborn sedang memakai earphone-nya. Reborn melihat alat itu. Jarumnya mulai bergerak. Awalnya suara yang yang dhasilkan pun kecil, sampai kemudian jarumnya bergerak dengan cepat ke arah kanan, tanda bahwa ada aktifitas ganjil yang kuat.

"Alat ini bisa melacak black flame dan aktifitas-aktifitas ganjil lainnya..."

"Seperti apa?"

"... hmm... black flame masih bisa dilacak dengan insting dari dunia mafia. Meskipun tidak ilmiah, sesuatu yang tidak selalu bisa kita lacak... seperti hantu kurasa."

Zzzzzzt…. Zzzzt…! ZZZZZZZZZZzzzzttt!

Dengan jantung yang berdebar sedikit lebih cepat, Reborn melihat ke sekelilingnya.

UtDS

Belum lama ia pindah ke Kokuyo, kondisi mental Tsunayoshi sudah mulai stabil. Dia sudah bisa merelakan kepergian ibunya dan hidup dengan tenang. Mimpi-mimpinya sudah mulai berkurang. Dan dia cukup mempercayai walinya yang ada saat ini.

Namun suatu malam, Tsunayoshi mendengar suara-suara di kepalanya. Kata-kata yang mungkin pernah diluncurkan pada dirinya selama dia berada di Namimori. Namun di Kokuyo, mereka hanyalah gema dalam mimpinya. Sama sekali tidak terpikir bahwa masa lalu yang itu akan mengikutinya. Padahal, hal-hal seperti itu tidak ada efeknya. Dibandingkan mimpi buruknya yang biasa, mimpi buruk ini bagaikan semilir angin di musim panas.

Dia memang lelah melihat warna merah dalam mimpinya. Tapi apa dia sebosan itu, sampai dengan isengnya alam bawah sadarnya menarik masa lalu lain untuk siaran ulang. Rasanya menyedihkan kalau berpikir dia terlalu bodoh dan tidak kreatif untuk merangkai mimpi yang orisinil.

Setelah beberapa kali ia menangkap suara-suara yang berpantulan dalam ruang mimpinya itu, Tsunayoshi menyadari sesuatu. Setelah terbangun, dia jadi sulit bernapas. Untuk beberapa saat dia mengira dirinya terkena gangguan pernapasan atas dan hampir melagkahkan dirinya masuk ke ruang check up. Tapi, saat dia meletakkan tangannya yang dibalut keringat dingin di atas dadanya, dia tidak merasakan adanya keganjilan. Hanya saja tidak ada udara yang masuk; tidak ada yang bisa dia rasakan.

Di tengah-tengah keburaman penglihatannya, Tsunayoshi berusaha meraih segelas air di samping tempat tidurnya. Dia hampir menggapainya sebelum kembali kehilangan kesadarannya. Mungkin dia kembali tertidur karena tidak normal rasanya kalau dia tiba-tiba pingsan. Namun, saat dia terbangun - atau siuman - keesokan harinya, gelas tersebut sudah setengah kosong. Ruangan yang semula gelap pun diterangi oleh cahaya dari sebuah lilin yang dia tidak ingat pernah nyalakan.

Dengan hati-hati dan sedikit berdebar, Tsunayoshi berkata, "Apa ada orang? Siapa disitu"

Sesuatu bergerak, Tsunayoshi bisa merasakannya. Intuisinya meneriakkan sesuatu, tapi bukan tanda bahaya yang membuatnya ingin meloncat keluar dari jendela.

"Siapa kau?"

Sebuah jawaban. Sebuah bayangan. Mungkin tidak bisa dirasakan oleh manusia biasa. Sementara itu Tsunayoshi bertanya-tanya apakah semua ini nyata.

Itulah malam pertama mimpi buruk barunya dimulai.