Disclaimer © Masashi Kishimoto
Story © Felicia Novresca a.k.a
Pair © Uchiha Sasuke, Hyuuga Hinata
Rated © T
WARNING : OOC akut, typo, alur cepat dan teman-temannya.
Summary © Sebuah kesalahan dan surat berwarna biru menjadi awal pembantaian misterius/Kejadian aneh yang dialami menjadi pertanda korban pembantaian/SasuHina/DLDR ya tapi RnR juga, haha.
Note © Ditengah-tengah peredaran cerita romance, dengan kepercayaan diri level minus derajat celcius dan dengan modal nekat, gue tetep pengen publish ni fic. (pundung di pojokan meluk Sasuke)
.
.
.
A Letter at 3 a.m.
Chapter 3
.
.
.
Sebuah ruang kerja dengan dekorasi modern diisi dengan tamu yang tak biasa, siswa yang mendapat terror memulai pencarian mereka untuk memecahkan misteri yang mengancam nyawa mereka.
"Gaara, bagaimana keadaan keluargamu di Suna?" tanya seseorang yang mirip dengan Sasuke, hanya saja yang ini lebih dewasa dan rambutnya agak panjang. Ia sedang mencari sesuatu di rak buku yang memanjang di ruang kerjanya.
"Mereka baik-baik saja" Gaara adalah teman baik Sasuke, ia sudah kenal dengan Itachi, kakak Sasuke. Mereka berada di kediaman Uchiha, rumah Sasuke.
"Maaf kalau kami mengganggu, anda pasti masih sangat lelah" Hinata mengutarakan permohonan maafnya telah mengganggu waktu istirahat Itachi yang baru tiba dari Iwagakure.
"Tidak apa-apa. Aku turut berduka atas meninggalnya teman-teman kalian" kata Itachi masih sibuk mencari sesuatu.
"Ku dengar, kak Itachi pernah menjadi ketua Osis KHS..." tanya Naruto duduk di sofa bersama Gaara, Hinata dan Sasuke.
"Benar sekali, sekitar 10 tahun yang lalu"
"Apa sesuatu pernah terjadi saat itu?" tanya Hinata.
"Sesuatu? Ada begitu banyak hal yang terjadi saat kau menjadi siswa Senior High School" Itachi menarik sebuah buku dari deretan buku lainnya.
Sasuke, Hinata, Gaara dan Naruto memperhatikan baik-baik buku tahunan yang telah terbuka di hadapannya. Hinata mencari seseorang tapi Sasuke dan yang lainnya tidak tahu siapa yang Hinata cari. Begitu membuka buku tahunan Itachi, Hinata sangat yakin orang yang telah membunuh ke-empat temannya adalah seseorang yang berasal dari masa lalu, terbukti dari seragam yang digunakan oleh siswa perempuan di buku tahunan tersebut sama dengan seragam gadis yang Hinata lihat di jendela bus.
"Ini foto angkatan kami" Itachi menunjuk sebuah foto dengan jumlah siswa yang banyak.
Hinata mendekatkan wajahnya kepada foto tersebut, mata ungu miliknya menelusuri satu per satu wajah-wajah yang ada pada foto di hadapannya.
Bingo!
Hinata menemukan wajah yang sama dengan wajah yang ia lihat di dalam bus. Berambut merah dan berkacamata.
"I-ini, ga-gadis ini..." bibir Hinata bergetar saat menunjuk foto seorang gadis berkacamata sedang tersenyum.
"Dia siapa, Hinata?" Sasuke mendekatkan wajahnya ke buku tahunan yang ada di meja berniat untuk memperjelas penglihatannya.
"Namanya Karin. Teman sekelasku" jawab Itachi enteng, "Ada apa dengan Karin?" lanjut Itachi.
"Dimana dia sekarang?" tanya Gaara pada Itachi.
"Dia sudah meninggal"
Deg
Deg
Deg
Tak hanya Hinata, Sasuke dan yang lainnya pun mematung, saling memandang saat mendengar perkataan Itachi. Sasuke, Gaara dan Naruto memang yakin teman mereka di bunuh tapi mengetahui bahwa mereka sedang berurusan dengan seseorang yang telah meninggal tentu saja menjadi sesuatu yang sangat mengejutkan bagi mereka.
"Meninggal karena sakit atau kecelakaan?" Gaara memberanikan diri bertanya.
"Dia ditemukan tewas di toilet laki-laki dengan luka sayat di pergelangan tangan kanannya" Raut wajah Itachi terlihat berubah saat mengenang teman sekelasnya tersebut.
Glek.
Gaara, Naruto dan Sasuke kembali saling memandang.
"A-apa dia bu-bunuh diri?" Pertanyaan Naruto dijawab oleh anggukan Itachi.
'Tidak salah lagi' Batin Hinata.
"Apa kak Itachi ingat sesuatu dengan surat ini?" Hinata memperlihatkan surat warna biru kepada Itachi.
"Seingatku, aku pernah mendapat surat seperti ini saat menjadi siswa KHS dulu. Tapi aku tidak tahu siapa pengirimnya dan aku juga tidak tahu apa isinya, belum lagi surat tersebut sempat terkena jus semangka sebelum aku sempat membacanya" Itachi memandang surat di tangan Hinata,
"Apa kak Itachi memiliki seorang kekasih saat itu?" tanya Hinata mulai menemukan sesuatu.
"Ada, namanya Konan"
.
.
.
Mobil sport warna biru kembali melaju kencang menuju tempat seseorang bernama Konan. Hinata menarik kesimpulan bahwa Itachi, Karin dan Konan pasti memiliki hubungan satu sama lain yang akan menjadi petunjuk untuk mereka. Itachi dan Konan adalah sepasang kekasih. Dugaan sementara, Karin menyukai Itachi. Itachi mendapat surat warna biru tanpa nama pengirim, beberapa hari kemudian Karin di temukan tewas. Berangkat dari kesimpulan tersebut, Karin adalah arwah seseorang yang memiliki dendam terhadap sepasang kekasih terbukti dari teman mereka yang terbunuh, Kiba dan Shion, Sai dan Ino, mereka semua adalah sepasang kekasih.
"Jadi maksudmu, arwah gadis bernama Karin yang telah membunuh teman-teman kita?" Naruto bertanya dengan beberapa bulir keringat yang membasahi pelipisnya.
"Tapi aku belum mengerti mengapa harus teman kita dan mengapa hanya teman sekelas kita" kata Hinata setelah menjelaskan panjang lebar tentang kesimpulannya kepada Sasuke, Gaara dan Naruto.
"Hinata, apa kau percaya terhadap hal-hal mistis semacam itu?" tanya Sasuke.
"Tidak mempercayai hal mistis adalah sebuah Idealitas, tapi kita tidak bisa sertamerta menutup mata dari Realitas. Realitanya, kita sedang menghadapi makhluk seperti itu" Hinata memandang serius kepada Sasuke.
Sasuke menepikan mobilnya di sisi jalan saat menemukan rumah yang diberitahukan Itachi pada mereka. Rumah yang tidak terlalu besar dengan taman yang asri di halaman rumah.
Seorang gadis berambut pendek berwarna ungu duduk di kursi roda tersenyum hangat kepada Hinata dan yang lainnya. Teh hangat sudah mengepul di depan mereka tak lupa setoples kue nastar yang menjadi makanan kecil suguhan Konan kepada 4 remaja yang bertamu ke rumahnya.
"Kau sangat mirip dengan Itachi, hanya saja kau sedikit lebih tampan darinya" kata Konan saat Sasuke memperkenalkan dirinya.
"Bagaimana keadaan Itachi, apa dia sudah menikah?" tanya Konan kepada Sasuke.
"Dia baik-baik saja dan dia belum menikah, masih sibuk mengurus perusahaan Ayah" kata Sasuke dengan ramah.
"Kalian kesini ada perlu apa?"
Hinata menjelaskan semua yang telah terjadi, sesekali Sasuke, Gaara dan Naruto pun menambahkan. Konan mendengarkan dengan begitu serius karena kelumpuhan kedua kakinya juga merupakan terror dari arwah Karin. Saat itu Konan melihat penampakan Karin dan akhirnya ia terjatuh di tangga rumahnya karena ketakutan.
"Aku pernah masuk Rumah Sakit Jiwa karena diduga tidak waras, aku selalu berbicara tentang arwah Karin yang ingin membunuhku. Aku turut berduka atas meninggalnya teman kalian, aku tidak bisa membantu banyak tapi ada satu hal yang bisa kalian lakukan" kata Konan.
"Apa itu?" tanya Hinata.
"Dulu dia selalu datang padaku setiap malam, selalu menghantuiku dan ingin membunuhku. Dari dulu sampai saat ini aku masih mengidap insomnia akut, aku tidak bisa tidur sebelum jam 5 pagi. Karin selalu mendatangiku di jam yang sama setiap malamnya, kuperkirakan sekitar pukul 03.00 a.m. dengan sepucuk surat berwarna biru di tangan kanannya. Ia hanya mendekat padaku dan tidak mampu menyentuhku sedikit pun" Hinata dan yang lainnya memandang serius kepada Konan.
"Ma-maksudnya..." Naruto mulai berpikir.
"Waktu kematian Kiba, Shion, Sai dan Ino memang sekitar pukul 03.00 a.m." Sasuke kembali mengingat-ingat, mencoba mengaitkan beberapa informasi.
"Dia tidak akan menyentuh kita saat kita tetap terjaga" sambung Gaara.
"Bukan hanya kau, kekasihmu pun harus melakukan hal yang sama karena dia akan menyakiti sepasang kekasih" lanjut Konan.
"Pantas saja, setiap kejadian ada dua orang yang menjadi korbannya, satu perempuan dan satunya lagi laki-laki. Belum lagi mereka adalah sepasang kekasih" Sasuke bergumam pelan.
"Tapi kenapa arwah Karin harus mengincar teman-teman sekelas kami, mengapa bukan kelas lain? Maksudku, mengapa harus kami?" tanya Hinata.
"Pertanyaan yang seharusnya aku tanyakan pada kalian. Ada satu kamar toilet yang dikeramatkan di KHS setelah kejadian itu. Apa salah satu diantara teman sekelas kalian membukanya?" tanya Konan memandang satu per satu siswa yang masih mengenakan pakaian hitam di depannya.
Hinata, Sasuke dan Gaara saling memandang, sementara Naruto lebih memilih menatap ujung sepatunya dengan tatapan kosong.
"Naruto..." Gaara menatap Naruto yang mulai pucat.
"Saat itu, aku di kejar Kotetsu saat ia menemukanku bermain COC di belakang sekolah. Lalu, aku masuk toilet untuk bersembunyi, saat aku disana ku lihat rantai kamar toilet itu terbuka jadi aku bersembunyi di dalamnya. Setelah itu satu per satu dari kami mengalami kejadian aneh lalu keesokan harinya..." Naruto menggantung kalimatnya.
"Kalian harus menemui seseorang yang telah menyegel arwah Karin di dalam toilet tersebut. Kalian harus menemui Sarutobi Hiruzen, mantan Kepala Sekolah KHS. Kalau tidak, akan ada korban lainnya"
.
.
.
Berdasarkan petunjuk dan penjelasan dari Konan, perjalanan menuju kediaman Sarutobi, mantan Kepala Sekolah KHS, akan memakan waktu yang lama dengan medan yang tak biasa. Namun, mereka tidak memiliki pilihan selain menemui Sarutobi untuk membantu mereka menghentikan kegilaan yang telah dimulai oleh Naruto.
Mereka tidak punya waktu untuk kembali ke rumah masing-masing menyiapkan apa yang mereka perlukan, perjalanan yang akan mereka lewati adalah pegunungan dan pedesaan. Tidak ada ATM dan tidak ada fasilitas yang biasa mereka temukan di perkotaan, dari rumah Konan kembali ke kota juga menyita banyak waktu sementara hari sudah siang. Sasuke, Hinata, Gaara dan Naruto mengeluarkan uang mereka masing-masing untuk membeli apa yang mereka butuhkan, uang mereka tidak seberapa tapi cukup untuk membeli makanan dan bensin.
Sasuke mengendarai mobilnya melewati area persawahan, sungai dan pegunungan. Untuk pertama kalinya dalam hidup Sasuke, ia baru melewati medan seperti ini.
"Sial, batereku habis" Gaara merutuki Iphone-nya yang sudah tidak dapat digunakan.
"Bahkan tidak menangkap signal" Naruto ikut menggoyang-goyangkan Iphone-nya yang tidak menangkap signal.
"Oeh, Sasuke. Kita singgah dulu untuk beristirahat, pantatku panas dari tadi siang duduk terus" Naruto menepuk pundak Sasuke dari belakang.
"Tidak bisa, bodoh. Perjalanan kita masih jauh" Sasuke terus melaju tanpa memperdulikan Naruto yang sedari tadi duduk tak tenang karena pantatnya sudah sangat panas dan kram.
"Ayolah, Sasuke. Istirahat dulu, kasihan mesin mobilmu" Sebenarnya pantat Gaara juga sudah panas tapi demi menjaga image-nya Gaara mengatasnamakan 'mesin mobil' untuk menyakinkan Sasuke agar beristirahat sejenak.
"Ku bilang tidak ya tidak. Tahan saja, aku yang duduk sambil menyetir saja masih kuat. Kenapa kalian yang hanya duduk banyak komentar?" Sasuke tetap konsisten meneruskan perjalanan.
"Sasuke, kau pasti kelelahan. Sebaiknya kita beristirahat dulu" Hinata berbicara dengan sedikit senyum kepada Sasuke dan langsung saja-
"Ku rasa istirahat memang ide yang bagus"
Sasuke segera menepikan mobilnya. Hinata keluar dari mobil di susul Sasuke, tingkah Sasuke tentu saja membuat Gaara dan Naruto heran. Dari tadi Naruto dan Gaara memang menyarankan untuk beristirahat tapi selalu di tolak Sasuke, tapi kenapa waktu Hinata yang menyarankan Sasuke langsung menepikan mobil?
"Mungkin kita berbicara terlalu keras..." Naruto memiringkan kepalanya memikirkan apa yang salah dengannya sehingga permintaannya di tolak.
"Atau mungkin kita berbicara tanpa senyum manis seperti Hinata..." Gaara pun tak habis pikir.
Entah kebetulan atau tidak, Sasuke menepikan mobilnya di bawah tebing di bagian sisi kiri jalan, sementara di sisi kanan jalan ada jurang yang begitu curam. Namun disinilah hal terbaiknya, sore hari seperti ini memang sangat menyenangkan jika kita menyaksikan matahari tenggelam dari ketinggian.
"Hee.. kireeii..." Naruto bergumam pelan menikmati hangatnya sinar matahari senja.
"Aku jarang sekali melihat pemandangan seperti ini" Gaara keluar dari mobil dan menyaksikan langit yang mulai berwarna kemerahan.
Hinata berdiri tak jauh dari mobil dan yeah Sasuke ada di sampingnya. Sekedar berdiri. Tanpa sepatah kata pun. Hinata diam menatap langit kemerahan, Sasuke diam mencoba menetralkan detakan jantungnya.
"Ba-bagaimana menurutmu, Hinata?" Sasuke melirik Hinata dengan ekor matanya,
"Apanya?" Hinata mendongak menatap Sasuke yang agak sedikit lebih tinggi darinya, Sasuke buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Pemandangannya.." Sasuke menarik nafas panjang, meregangkan seluruh tubuhnya yang pegal menyetir mobil berjam-jam.
"Aku lapar" Hinata tak mengalihkan matanya dari Sasuke, Hinata sedikit mengerucutkan bibirnya. Hinata tidak meminta Sasuke untuk membeli makanan tapi-
'Ya ampun, wajahnya imut begitu. Dia ingin makanan apapun akan ku berikan' batin Sasuke melihat ekspresi wajah Hinata.
Sasuke dan Hinata berjalan menuju sebuah warung kecil yang tak jauh dari mobil, Gaara dan Naruto menyempatkan diri mengambil beberapa gambar.
"Apa yang salah?" Hinata berjalan menatap ke depan.
"Maksudmu?" Entah mengapa Sasuke selalu memperhatikan Hinata dengan ekor matanya.
"Apa yang salah? Mengapa kau selalu melihatku?"
Deg.
'Dia menatap ke depan, bagaimana dia bisa tahu kalau aku memperhatikannya?' Sasuke sedikit heran.
"Ti-tidak ada. Aku hanya memperhatikan rambutmu, aku... menyukai gadis berambut panjang" Sasuke merasa pipinya agak panas, ia dengan susah payah menyembunyikan senyumnya.
.
.
.
Hujan deras menambah kesan dramatis perjalanan mereka, cahaya petir tampak membelah langit yang mulai gelap, gemuruh langit seakan mengisyaratkan bahwa hujan malam ini tidak akan reda sampai di penghujung pagi.
"Ini..." Sasuke memberikan sweater yang tergantung di joknya kepada Hinata.
"Arigatou" Hinata memakai sweater Sasuke, ia merasa hangat dan wangi maskulin Sasuke membuatnya sedikit nyaman.
"Teman-teman, semua ini gara-gara aku. Mengapa kalian tidak membenciku?" tanya Naruto memulai pembicaraan saat suasana sedang genting.
"Kau memang tipe orang yang tidak mendengar, lalu kenapa kami harus membencimu? Melakukan kesalahan adalah keahlianmu" sambung Gaara.
"Biasanya, di film-film Horror mereka akan saling membenci dan-"
"Aa.. Itu rumahya" Hinata menunjuk sebuah rumah yang tidak terlalu besar.
Ting... Tong...
Hinata menekan bel rumah, seorang anak kecil membukakan pintu dan menemukan empat orang asing sedang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Mencari kakekku?" tanya bocah bernama Konohamaru. Sasuke dan yang lainnya mengangguk dan dipersilahkan masuk.
Mereka disambut hangat oleh mantan Kepala Sekolah KHS yang sudah tua, Sarutobi tidak ingin memulai pembahasan sebelum tamunya ganti baju dan makan. Hinata mandi duluan dan membantu Sarutobi membuat makanan dan teh, Sasuke, Gaara dan Naruto menunggu di ruang tamu sambil berbicara ringan dengan Konohamaru.
"Kau bukan gadis biasa. Aku bisa merasakannya, kau memiliki sesuatu" Sarutobi memandang Hinata yang sedang menuangkan teh hangat ke dalam cangkir.
"Aku hanya gadis biasa, Kek" Hinata membalas dengan senyum hangat.
"Lalu bagaimana kau bisa menyimpulkan semuanya dengan begitu cepat" Hinata telah menceritakan beberapa hal kepada Sarutobi.
"Semuanya terjadi begitu saja" Hinata mengangkat nampan yang berisi beberapa cangkir berisi teh.
"Apa kau keluarga Hyuuga?" tanya Sarutobi.
"Benar. Darimana kakek tahu?" Hinata sedikit kaget saat orang asing mengenalinya.
"Dari kalung yang kau kenakan"
Ruang tamu yang biasanya diisi oleh dua orang, orang tua dan seorang bocah, kini menjadi agak ramai dengan kedatangan Hinata, Sasuke, Gaara dan Naruto.
"Jadi kau yang telah membuka pintu kamar toilet itu?" Sarutobi memandang tajam kepada Naruto.
"Be-benar, Kek" Naruto memandang Sarutobi takut-takut.
"Tidak ada cara lain. Karin akan berhenti setelah membunuhmu"
Krik... krik... krik... suasana menjadi hening.
"Hahaha, ayo minum teh kalian. Aku hanya bercanda" Naruto menghembuskan nafas lega, ternyata hanya candaan.
"Dimana suratnya?" Sarutobi memulai pembicaraan yang sebenarnya.
Hinata memeriksa saku celananya, ia adalah orang terakhir yang mengantongi surat tersebut. Hinata mencari ke seluruh saku baju dan celana yang ia kenakan tapi tidak ada.
"Te-teman-teman..." Gaara merogoh saku celananya sambil memandang semua orang di ruangan satu per satu.
"Sial...!" Sasuke menatap Gaara yang memperlihatkan surat warna biru, surat tersebut secara ajaib tiba-tiba ada di saku celana Gaara.
"Kau berikutnya..." Sarutobi memandang serius kepada Gaara.
"Matsuri..." Gaara mengingat seorang gadis yang telah mengisi hari-harinya selama 3 bulan terakhir.
"Hubungi dia agar tidak tertidur saat pukul 03.00 pagi" Hinata berucap cepat.
"Tapi tidak ada signal, batere habis. Ayo, kita harus pulang..." Gaara panik berdiri ingin segera pulang untuk memberitahu Matsuri.
"Jangan gila...! Sekarang pukul 02.45 pagi, di luar tengah hujan deras, jalan depan di tutup. Hubungi menggunakan telepon rumah" Sarutobi menunjuk telepon rumah yang terletak di meja kecil.
Gaara dengan sigap menyambar telepon rumah lalu menekan beberapa tombol untuk menghubungi Matsuri.
Tut... tut... tut...
Matsuri tertidur nyenyak saat Iphone-nya menyala menerima panggilan dari Gaara. Sayang sekali tapi Matsuri adalah orang yang tidak suka mendapat gangguan dalam bentuk apapun saat ia tertidur, termasuk panggilan telepon. Sebelum tidur Matsuri menyetel Iphone-nya dalam silent mode.
Gaara mulai panik saat tidak ada tanda-tanda teleponnya diangkat oleh Matsuri, ia memandang Naruto yang mondar-mandir kesana kemari, Sasuke yang sedang berpikir dan Hinata yang berdiri disampingnya.
"Tidak di angkat" Gaara menggengam erat-erat gagang telepon.
"Coba lagi, Gaara" Hinata menggigit bibir bawahnya menahan rasa takutnya.
Teng... Teng... Teng...
Jam di ruang tamu Sarutobi menunjukkan pukul 03.00 pagi, Gaara menoleh menatap jam sesaat kemudian ia menutup telepon, berjongkok dan mulai terisak.
"Aku tidak bisa melakukan apapun.." Gaara menangisi dirinya yang tidak bisa menyelamatkan nyawa Matsuri.
Petir dan suara gemuruh terdengar memekakkan telinga, tirai jendela rumah Sarutobi melambai tertiup angin, sosok yang Hinata lihat di jendela bus kini berdiri di balik jendela menyeringai kepada Hinata. Bibir pucatnya mengatakan sesuatu tapi tak bisa didengar oleh Hinata, Hinata mematung tak berkedip memandang sosok gadis yang tiba-tiba memudar seiring bertiupnya angin.
"Hinata, ada apa?" tanya Sasuke melihat Hinata yang memandang ke arah jendela, Sasuke tidak melihat sesuatu.
"Tadi dia di sini tapi dia sudah pergi... ke suatu tempat" Hinata memegang sesuatu di lehernya.
.
.
.
Kamar yang gelap tanpa cahaya sedikit pun dipercaya mampu meningkatkan kualitas tidur dan mampu membuat sel-sel tubuh bekerja dengan optimal untuk memperbaiki kerusakan tubuh. Atas dasar itulah, gadis berambut coklat sebahu, Matsuri, mematikan seluruh lampu di kamarnya.
Kuncian jendela kamar Matsuri bergeser pelan secara misterius sehingga jendela tersebut terbuka dan angin malam bebas memasuki kamar Matsuri. Bersamaan dengan angin malam yang begitu mencekam, sesosok gadis yang wajahnya tertutup oleh sebagian rambutnya melangkah perlahan menghampiri Matsuri yang tertidur lelap dalam balutan selimut hangat. Arwah gentayangan yang diketahui sebagai arwah Karin meraih gunting di meja belajar Matsuri. Gunting yang tadinya digunakan oleh Matsuri untuk membuat kerajinan tangan kini menjadi gunting yang akan membawanya menemui ajal.
Dengan senyum licik penuh kebencian, Karin mendekati Matsuri bersiap untuk memutuskan pembuluh darah di leher Matsuri.
'Rasakan bagaimana kesakitan yang aku rasakan...' Karin bersiap menghujamkan gunting di genggamannya.
"Meeooonngg~...Meeoonngg~" Kucing Angora pelihataan Matsuri mengeong dengan suara yang sangat keras hingga membangunkan Matsuri.
"Nghh... " Matsuri terbangun dari tidurnya menggeliat tak nyaman saat mendengar suara kucingnya.
Di tengah kegelapan, Matsuri tak mampu melihat apapun tapi kaki dingin Karin mundur perlahan menjauhi Matsuri. Ia menjatuhkan gunting ke lantai lalu ia menghilang dalam sekejap.
"Apa itu..." Matsuri dengan sigap menekan saklar lampu tidur di samping kasurnya.
"Bagaimana bisa guntingku sampai kesini?"
Matsuri menggendong kucing kesayangannya merasa heran melihat gunting yang terakhir kali ia simpan di meja belajarnya kini berada tak jauh dari kasurnya. Matsuri mengalihkan pandangannya kepada Iphone-nya yang menyala. Ada panggilan masuk.
"Moshi-Moshi..." kata Matsuri pelan menyambut telepon.
'Matsuri? Ini Matsuri kan? Kau Matsuri kan? Suaramu mirip Matsuri, ini kamu kan?' Gaara gelagapan di balik telepon.
"Gaara? Iya ini aku, Matsuri. Mengapa menelponku tengah malam?" rasa kantuk yang tadinya menyerang Matsuri kini sirna perlahan saat mendengar suara Gaara.
'Apa kau baik-baik saja? Apa sesuatu terjadi padamu?' Gaara bertanya dengan suara yang keras dan terdengar sangat khawatir.
"Gaara berhenti mengerjaiku. Aku baik-baik saja. Kenapa kau belum tidur?"
Hinata, Sasuke dan Naruto menghembuskan nafas lega setelah Matsuri akhirnya mengangkat telepon Gaara. Bisa dipastikan Sarutobi akan membayar banyak tagihan telepon bulan ini karena Gaara berencana bercerita sepanjang malam bersama Matsuri, Gaara ingin membuat Matsuri tetap terjaga hingga matahari terbit.
Mentari pagi belum juga menunjukkan tanda-tanda kemunculannya, entah mengapa malam ini terasa sangat panjang. Tuan rumah masih duduk di kursi sambil menghisap rokok, Naruto tidur terlentang di sofa panjang lengkap dengan suara dengkurannya, Gaara masih bercerita panjang lebar dengan Matsuri. Sasuke juga belum tidur, entah karena suasana yang sangat mencekam atapun karena seseorang sedang tertidur sambil bersandar di bahunya. Lengan kanan Sasuke mulai pegal tapi ia tidak ingin mengganggu Hinata yang sedang tertidur.
"Ngh.." Hinata tampak gelisah dalam tidurnya. Matanya yang tertutup bergerak kesana kemari membuat Sasuke khawatir dan ingin membangunkannya.
"Jangan mengganggunya, biarkan saja" Sarutobi menghentikan Sasuke yang hendak membangunkan Hinata.
.
.
.
Hinata mengangkat kepalanya dari sebuah meja di dalam kelas yang sangat asing baginya. Semalam ia berada di rumah Sarutobi bersama Sasuke, Gaara dan Naruto tapi mengapa sekarang ia berada di sebuah kelas? Hinata menunduk menatap bajunya, ia masih mengenakan baju yang terakhir ia kenakan saat duduk di samping Sasuke. Hinata menatap sekeliling, ia sangat terkejut saat melihat seluruh siswa di kelas tempatnya berada menggunakan seragam yang sama dengan seragam KHS 10 tahun lalu. Hinata mencari sesuatu, mengarahkan pandangannya ke dinding dan menemukan sebuah kalender.
"A-apa.. ta-tahun 2005?" Hinata kaget mendapati dirinya kembali ke 10 tahun yang lalu.
Hinata meninggalkan bangku tempatnya terbangun dan menemukan dirinya kembali ke masa lalu. Ia mencoba berbicara kepada siswa-siswi yang sedang belajar tapi tampaknya ia tidak dapat berkomunikasi dengan siapapun.
"Kakashi-sensei..." Hinata menemukan salah satu guru yang mengajar di kelasnya tapi guru tersebut tampak lebih muda.
"Ini gilaaa..." Hinata memegang kepalanya, membuat rambutnya terlihat berantakan.
"Kak Itachi?" Hinata berjalan ke bangku yang tidak terlalu jauh dari tempatnya, Ia menghampiri Itachi yang tampak lebih muda dari yang terakhir ia lihat, Itachi tengah berbicara dengan seseorang yang duduk di sampingnya.
"Kak Konan.."
Hinata benar-benar yakin, ia berada di masa 10 tahun silam, saat Itachi masih menjadi siswa KHS. Bukan hal yang kebetulan ia berada di kelas ini. Ia harus melakukan sesuatu, Hinata kembali mengedarkan pandangannya dan menemukan gadis yang menjadi penyebab kematian teman-temannya.
"Karin.." Hinata menghampiri Karin yang menatap Itachi dan Konan dengan mata yang berair.
Karin membuka tasnya, mengeluarkan buku diary lalu merobek kertas berwarna biru. Kertas yang selama ini menghantui Hinata dan teman-temannya. Hinata menutup mulutnya menatap jari-jari Karin yang begitu lincah menulis sebuah surat menggunakan Bahasa Inggris, sebuah surat cinta.
Hinata membaca kata per kata yang di tulis oleh Karin, ia turut merasa perih membaca tulisan Karin, kalimat terakhir yang tertulis di surat tersebut mengatakan 'Tidak peduli kau menerima atau menolak perasaanku, ku harap kau menghubungiku ataupun langsung menemuiku. Aku menunggu jawabanmu hari ini'
Waktu berjalan cepat, bel istirahat berbunyi. Hinata melihat Itachi menemukan sebuah surat berwarna biru di laci mejanya. Itachi mulai membuka lipatan surat tersebut tapi belum sempat membacanya karena siswa bergigi runcing mengajaknya keluar kelas. Itachi mengikuti Kisame ke kantin, surat yang belum dibaca oleh Itachi dimasukkan ke dalam saku celananya. Hinata menyusul Itachi ke kantin.
Itachi berbicara dan sesekali tertawa bersama teman-temannya di kantin, dari kejauhan Hinata melihat Karin sedang memandangi Itachi sambil menggigit bibir bawahnya. Itachi merogoh sakunya, mengambil surat yang belum sempat ia baca tapi seseorang bernama Kakuzu menumpahkan minuman yang membasahi surat tersebut, Itachi menjatuhkan suratnya. Beberapa detik kemudian, siswa bernama Hidan memanggil Itachi untuk ke ruang BK, sedang terjadi masalah serius, Itachi yang notabene-nya sebagai Ketua Osis harus bertanggung jawab atas malasah tersebut. Itachi dan yang lainnya berlari menyusul Hidan, ia menjatuhkan surat dari Karin dan lupa untuk mengambilnya kembali. Surat warna biru yang tergeletak di lantai kantin terinjak begitu banyak pasang sepatu.
Hinata kembali memandang Karin yang bercucuran air mata berjalan mengambil suratnya yang sudah tak berbentuk. Karin mengira Itachi telah membaca suratnya.
Dimensi lain, Hinata berada di kamar seorang gadis yang serius menatap handphone jadul yang tak kunjung berdering.
"Kumohon... kumohon..." Karin mengatupkan kedua tangan di depan handphone-nya. Sedang menunggu kabar dari Itachi.
Karin tampak bahagia mendapat sebuah pesan, tapi bukan pesan dari Itachi. Isi pesan tersebut membuat Karin menangis, pesan dari temannya yang mengatakan bahwa Itachi sudah memiliki kekasih bernama Konan.
"Padahal aku lebih dulu menyukainya" Karin menundukkan wajahnya, menangis.
Lagi- lagi di dimensi lain, Hinata kaget mendapati dirinya sedang berdiri di tengah malam yang gelap, hanya cahaya remang-remang lampu KHS yang menyinarinya. Ia menatap jam di pergelangan tangan kirinya, pukul 03.00 pagi.
"Apa ini? Toilet?" Hinata memandang sekeliling, berjalan menyusuri toilet dan mendengar suara tangisan di salah satu kamar toilet laki-laki. Hinata berdiri mematung melihat Karin sedang duduk sambil memegang pisau yang diarahkan ke pergelangan tangan kanannya.
.
.
.
"Sudah bangun?" tanya Sasuke kepada Hinata yang membuka matanya dengan terkejut.
Hinata baru saja bangun dari mimpi teraneh sepanjang hidupnya, ia menatap Sasuke yang memegang lengan kanan, sepertinya agak kesakitan.
"Kita harus kembali menyegelnya" Sarutobi berdiri bersiap untuk ikut ke Konoha.
"Tidak... Karin harus tenang, ia harus kembali ke tempat seharusnya ia berada" Hinata memandang Sarutobi dan teman-temannya.
"Jangan gila, Hinata. Kakek Sarutobi pernah menyegel arwah Karin beberapa tahun lalu, biarkan saja Kakek Sarutobi menyegelnya kembali. Kita tidak bisa hidup seperti ini terus menerus" Gaara protes terhadap Hinata yang menolak usulan Sarutobi.
"Menyegel hanya akan menyiksanya. Ada banyak siswa seperti Naruto, siswa yang tidak bisa mendengarkan orang lain. Apa jadinya jika setelah tersegel tapi pintu toilet tersebut terbuka lagi" Hinata melangkah mendekat kepada Gaara, mencoba meyakinkan Gaara bahwa tak seharusnya arwah gentayangan tersebut terus menerus hidup di dalam toilet.
"Aku tidak ingin ada orang lain yang meninggal sia-sia karena kesalahan konyol yang bisa dihindari" Hinata menatap Gaara lekat-lekat.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan? Apa kau yakin kita akan berhasil?" Naruto menuntut penjelasan dari Hinata.
"Apa kalian menganggapku teman?" Hinata memandang Sasuke, Gaara dan Naruto bergantian.
"Tentu saja" Kata Sasuke, Naruto dan Gaara bersamaan.
"Aku akan melakukan sesuatu, jadi kumohon percayalah padaku"
.
.
.
Sarutobi melambaikan tangan kepada mobil sport yang telah meninggalkan halaman rumahnya. Sarutobi berencana untuk kembali menyegel arwah Karin di toilet sama halnya dengan apa yang ia lakukan sebelumnya tapi Hinata menolak. Hinata akan melakukan sesuatu dan Sarutobi percaya kepada Hinata.
"Hinata, apa yang akan kau lakukan?" tanya Sasuke.
"Kita akan mengakhirinya" kata Hinata pelan.
"Untuk apa?" tanya Naruto heran ketika Sasuke menepikan mobilnya,
"Makan, sekarang sudah jam 9. Kita belum sarapan"
Mereka berempat duduk di meja yang sama dekat jendela, tak ada yang ingin membuka pembicaraan. Mereka makan dengan lahap dan larut dalam pikiran masing-masing. Mereka tidak ingin membuang-buang waktu, setelah makan Sasuke segera menuju ke kasir diikuti Hinata, Gaara dan Naruto di belakangnya. Sasuke merogoh dompet di saku celananya, nafas Sasuke terasa sesak saat memandang isi dompetnya, bibirnya terbuka dan matanya membulat sempurna.
"Apa tidak cukup?" tanya Naruto.
"Bukan" Gaara ikut memperhatikan dompet Sasuke.
"Aku... mendapat surat biru" Sasuke memperlihatkan dompetnya yang berisi surat biru kepada teman-temannya.
.
.
.
TBC
Siapa saja tolong selamatkan Sasuke :v
Haha, segini dulu, gan!
Reviewnya yang nunggu chap depan manaa nih... :v
*Gakada/Hening*
