"Apa ini?" Changmin mengernyitkan alisnya bingung kearah salah satu bawahannya yang membawakannya sebuah salinan dokumen. Dokumen kematian.

"Dokumen kematian, Pak"

"Aku tau, milik siapa ini?" Changmin melirik nama asing yang tertera di dokumen itu. Dia tidak mengenali nama itu sama sekali.

"Stella."

"Apa maksud mu dia sudah mati?" Changmin menatap tak percaya pada dokumen di tangannya.

"Di dokumen Itu nama aslinya, Pak. Setelah dia merubah gendernya, dia merubah namanya menjadi Stella. Itu salinan dokumen yang baru saja dikirim dari interpol"

Changmin terdiam. Wanita berbahaya yang Changmin akui cantik itu, transgender dan sudah meninggal? Omong kosong macam apa ini!.

.

.

.

KOI NO YOKAN- 2

.

.

.

"Bangun, Pakai bajumu" Yoongi melemparkan jas yang dipakainya ke atas tempat tidur dimana Stella sedang tidur tanpa busana.

Stella terbangun saat jas Yoongi mendarat tepat di atas bokongnya, menutupi sebagian tubuhnya yang polos, mata Stella menyalang marah seperti siap menghajar Yoongi saat itu juga. "Aku baru bisa tidur satu jam lalu, brengsek. Kenapa kau menggangguku?" Stella mengeram marah, melempar balik jas Yoongi dan mendudukan diri diatas tempat tidur.

"Ku tunggu di ruang tamu. Kita perlu bicara." Yoongi berucap tak peduli, meninggalkan Stella yang sedang menyumpah serapah di dalam kamar.

Lima belas menit di pakai Stella untuk mandi sementara Yoongi sedang sibuk dengan ponselnya, sedang berkirim pesan dengan Jimin. Saat Stella muncul, Yoongi melirik Stella yang sudah terlihat segar dengan bathrobe membalut tubuhnya, mendudukan diri di depan Yoongi.

"Ku harap omonganmu penting" Stella menatap kesal pada Yoongi.

"Seseorang sedang mengikutiku" mulai Yoongi.

"Lalu kenapa kau kesini, stupid?"

"Aku berhasil mengelabuinya. Katakan padaku, apa yang membuat Shim Changmin itu mencarimu? Semalam Jimin bertemu dengannya dan dia menunjukan fotomu"

"Dia menemui kitten?" Stella menegakkan tubuhnya.

"Kau mendengarku dengan jelas. Jadi, apa masalahmu dengannya?"

"Aku membunuh yakuza yang kebetulan datang ke seoul, menurut informasi yang ku dapat, si Changmin itu sedang menyelidiki yakuza itu, tapi aku malah membunuhnya, mungkin dia kesal padaku" Stella tak sepenuhnya berbohong, dia hanya bohong soal Changmin yang kesal padanya.

"Kapan kau melakukannya?" Yoongi membolakan matanya. Apa Stella sudah gila? Membunuh yakuza, itu sama saja mengibarkan bendera perang.

"Saat kau menikah. Malamnya aku pergi dengan Luhan, ingat?"

Yoongi mengangguk.

"Singkatnya, dia mau mencoba menipuku dan kau tau sendiri kalau aku tidak suka ditipu. Karena kesal, ku tembak saja kepalanya, lalu aku pulang ke Kanada" Stella terkekeh mengingatnya.

"Kau gila" Yoongi berucap tak percaya.

"I am" jawab Stella cuek. "Jadi, apa saja yang si Changmin itu katakan pada Kitten-ku?"

"Dia mencoba mencari tau tentangmu, tapi Jimin bilang dia tidak kenal"

"Ah, aku terluka, anakku melupakanku..." Stella bermimik sedih.

"Hentikan" Yoongi menatap malas pada Stella. "Tapi aku yakin si Changmin itu pasti sudah tau Jimin berbohong"

"Tidak mengejutkan, Kitten sangat buruk dalam berbohong" Stella menaikkan bahunya.

"Kau benar" Yooongi menyetujui. "Aku harusnya tidak peduli ada urusan apa kau dengan si Changmin itu, terserah dia ingin mengusikku seperti apa, tapi aku tidak bisa diam saja kalau dia menyentuh Jimin dan anakku"

"Seperti aku akan diam saja kalau dia berani menyentuh anakku" Stella memutar bola matanya.

"Aku serius, aku akan membunuhnya kalau dia berani menekan Jimin lagi" Yoongi berucap serius.

"Aku akan membunuhmu jika kau membunuhnya, Cuma aku yang boleh menghabisinya. Dia mangsaku. Ingat itu" Stella berucap sama seriusnya. "Dan soal Jimin, aku bisa pastikan dia akan menemui Jimin lagi, cepat atau lambat" Stella berucap yakin.

Yoongi menaikkan alis matanya.

"Percaya padaku, Jimin tidak akan terlibat. Ini antara aku dan si brengsek itu. Aku akan menghabisnya tepat di depan matanya, dia harus merasakan setiap detik dari kematiannya." Stella tersenyum lebar. Dia benar-benar sakit.

"Soal kecelakaan mu di Kanada?" Yoongi menatap penasaran.

"Si Changmin itu terlibat" Stella menggeleng kepalanya. "Si sampah itu punya borok yang ingin dia sembunyikan demi reputasinya, makanya dia mengincarku, but, table has turned. Giliranku yang memburunya sekarang" Stella menaikkan salah satu kakinya ke kaki yang lain.

"Kau tau boroknya. Tidak heran dia mengincarmu"

"Aku bahkan tau dosa terkecil sampai dosa paling besar yang pernah dia lakukan selama hidupnya" Stella tersenyum sepele.

"Terserah padamu, hanya pastikan dia tidak menyentuh Jimin lagi." Yoongi berdiri dan bersiap pergi.

"Itu tugasmu untuk menjamin keamana Jimin, kau suaminya, kan?" Stella berucap remeh.

Yoongi menatap lurus pada Stella.

"Why so serious?" Stella tertawa melihat tatapan tajam Yoongi yang terarah padanya. "I'm his mom, Son in law." Stella tersenyum lebar saat melihat wajah kesal Yoongi.

Yoongi menatap lagi, meneliti wajah Stella dan berpaling saat melihat Stella yang sudah tertawa lagi. Susah memang berbicara dengan orang sakit jiwa.

.

.

.

"Yang warna biru bagus, tapi yang kuning juga, bagaimana ini Yoongi hyung?" Jimin menatap sedih pada Yoongi yang sejak tadi hanya berdiri dibelakang Jimin, mengikuti kemanapun Jimin pergi selama berada di toko peralatan bayi.

"Ambil keduanya" jawab Yoongi santai.

"Pemborosan namanya" omel Jimin.

Yoongi hanya terdiam, enggan menanggapi. Sudah berbaik hati memberi jalan keluar, kena omeli.

"Yang ini paling terbaru tuan" Salah satu pelayan toko menunjukkan box bayi disampingnya, memiliki warna dominan putih dengan aksen hitam.

Jimin berjalan kearah box bayi yang ditunjukan sang pelayan, matanya berbinar senang, jelas sekali kalau dia ingin box yang baru saja di tunjukkan oleh pelayan itu padanya. Jimin berbalik, menatap Yoongi tanpa bicara.

"Kami ambil yang ini" putus Yoongi.

Jimin tersenyum lebar, memeluk tangan Yoongi dan mengecup bahu Yoongi.

"Gomawo, Appa" Jimin terkekeh.

"Hmm.. ada lagi?" Yoongi menatap datar pada Jimin yang masih menempel padanya.

"Kita jadi beli baju piyama kembar dengan baby kan?" Jimin menatap penuh harap pada Yoongi yang sedang menatapnya juga.

Yoongi tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak akan bisa menang dari Jimin kalau sudah menatapnya seperti anak anjing.

"Appaa…" Jimin menggoyang-goyangkan tangan Yoongi karena Yoongi tidak menjawab pertanyaannya.

"Kau yang bayar piyamanya" Yoongi mengajukan syarat.

"Tapi aku tidak bawa dompet, hyung…" Jimin merengut sedih.

"Ya sudah, tidak jadi beli" Yoongi berjalan kearah kasir, meninggalkan Jimin yang menatap sedih pada Yoongi.

"Cash atau pakai card, tuan?" kasir yang sedang berhadapan dengan Yoongi itu tersenyum ramah.

"Card"

"Baiklah, box bayinya akan kami antar langsung, bisa tulis alamat lengkap anda tuan?" sang kasir menyerahkan kertas dan pulpen pada Yoongi.

"Piyama yang ada di patung itu, sekalian kirim ke rumahku" ucap yoongi tanpa melihat kasir karena dia sibuk menulis alamatnya.

"Piyama couple untuk keluarga itu?" sang kasir mencoba memastikan piyama mana yang dimaksud Yoongi.

Yoongi mengangguk.

"Baiklah, ada lagi tuan?"

"Kurasa tidak ada" Yoongi selesai menulis alamat, menyerahkan kertas dan pulpen pada kasir yang masih tersenyum padanya.

"Berarti satu box bayi dan piyama ya, tuan" sang kasir mengkonfirmasi ulang pesanan Yoongi.

"Ne."

"Cardnya tuan?"

"Oh, sebentar" Yoongi melirik ke belakang dimana Jimin masih berdiri di dekat box bayi berada, bibirnya tertekuk sedih membuat Yoongi tersenyum kecil.

"Jiminie, dompetku" panggil Yoongi. Iya, seperti kebiasaan yang mulai berubah, jika Yoongi dan Jimin sedang pergi, Jiminlah yang memegang dompet Yoongi.

Jimin berjalan lamban kearah Yoongi yang masih berdiri di kasir, menyerahkan dompet Yoongi dan menatap sedih pada Yoongi lagi.

"Hyung, nanti kita kesini lagi ya" bujuk Jimin.

"Aku sibuk. Nanti saja kalau sudah tidak sibuk lagi" jawab Yoongi tegas.

"Kalau begitu, nanti aku kesini bersama supir, boleh ya?"

"Tidak boleh" jawab Yoongi final.

"Yoongi hyung…." Jimin mulai merengek.

"Tidak, berarti tidak. Ini sudah hampir malam, kita juga akan makan malam setelah ini, kalau kembali lagi, tokonya pasti sudah tutup"

"Kalau begitu, pinjami aku uang hyung dulu, nanti sampai di rumah aku ganti" bujuk Jimin.

"Tidak, sayangku" Yoongi menekan kata sayangnya di akhir, itu artinya Jimin harus menurut.

"Tapi mau piyamanya hyung…" rengek Jimin.

"Kau tidak malu merengek di depan orang lain?" Yoongi merangkul bahu Jimin, membawa Jimin mendekat padanya, menggusak rambut Jimin dengan sayang dan menyerahkan kembali dompetnya setelah transaksi selesai.

"Pesanan anda akan kami kirim setengah jam lagi, tuan" kasir itu tersenyum dan menyerahkan card milik Yoongi.

"Terimakasih" Jimin yang menjawab, tersenyum ramah pada kasir yang berjaga.

"Eum, Jimin-ssi, boleh aku minta tanda tangan?"

.

.

.

"Hyung, besok kita ke toko itu lagi ya" bujuk Jimin, masih berusaha keras mendapatkan piyama yang diinginkannya.

"Jangan bicara saat makan" Yoongi mengusap bibir Jimin yang sedikit terkena saos dari makannannya.

"Tapi hyung…" Jimin menatap sedih pada Yoongi. Dia menatap sedih pada Yoongi, sebenarnya dia tidak ingin merengek seperti anak kecil seperti ini, tapi entahlah, sifat Jimin banyak berubah semenjak hamil, dia jadi manja dan suka merengek untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Seperti tadi saat memilik tempat makan, Jimin berkeras ingin makan ayam goreng sementara Yoongi tidak mengizinkan karena tidak sehat, tapi lagi-lagi Jimin merengek dan mengancam tidak mau makan kalau tidak makan ayam goreng, jadilah Yoongi mengalah dan ikut makan disamping Jimin yang terlihat lahap dengan ayamnya.

"Besok kita harus pergi ke acara ulang tahun tuan Choi, ingat? Kau harus menemaniku, atau kau lebih memilih ke toko bayi daripada menemani suamimu?"

"Acaranya kan malam, hyung" Jimin mencoba bernego.

"Kita akan pergi sore hari, aku tidak berencana sampai tengah malam disana, kau butuh istirahat yang cukup"

"Kalau aku perginya siang?" tawar Jimin.

Yoongi menatap lurus pada Jimin yang masih saja mencoba bernego dengannya, membuat Jimin salah tingkah karena Yoongi hanya menatapnya tanpa bicara.

"Oke, Appa." Jimin menurut, rasanya sangat malu jika di tatap berlama-lama seperti itu.

"Makan yang benar" Yoongi kembali makan tanpa bicara.

Selesai makan, Yoongi dan Jimin berjalan keluar restoran, Yoongi memakaikan Jimin coat miliknya dan salah satu tangannya melingkar di pinggang Jimin dengan erat. Beberapa mata yang mengenali Jimin, menatap terang-terangan dan mengarahkan kamera mereka pada Jimin dan Yoongi.

Yoongi mendegus kesal, bagaimana pun Yoongi harus mencoba untuk bersabar agar tidak menghajar orang-orang yang sepertinya tidak mengenal kata privasi ini. Terkadang Yoongi bingung bagaimana bisa Jimin bertahan dengan kamera yang selalu mengarah padanya selama menjadi artis, Yoongi saja rasanya sudah ingin meledak.

Yoongi bisa melihat beberapa gadis memekik dan berbisik sambil melihat mereka berjalan, Jimin yang selalu ramah, melemparkan senyum dan terkadang menyapa beberapa orang yang memanggilanya, berbeda jauh dengan Yoongi yang terlihat datar tanpa emosi di wajahnya, tidak tahu saja namja pucat itu sedang menahan diri agar tidak meledak sungguhan.

Saat melihat supir yang sudah menunggu mereka di samping mobil, Yoongi mempercepat langkahnya, membawa Jimin makin mendekat pada mobil, membukakan pintu dan membantu Jimin masuk kedalam mobil. Setelah memastikan Jimin sudah duduk dengan benar, Yoongi masuk dan pintu di tutup oleh supir yang membawa mereka.

"Sabar…" Jimin mengusap dada Yoongi dan tertawa kecil, dia sangat tau Yoongi sedang menahan diri sedari tadi.

"Hmm" jawab Yoongi sekenanya.

Yoongi melirik kearah keramaian yang sedang terjadi di luar sana, dia sedang mencari sesuatu dan dia menemukannya. Dia menemukan mobil yang belakang ini mengikutinya kemana pun Yoongi pergi. Yoongi menyeringai mengejek. Mobil polisi itu lagi. Ya, biarlah, toh selama dua bulan kedepan dia tidak akan turun tangan di dunia malam, dia hanya akan focus pada Jimin-nya. Sia-sia orang itu megikuti Yoongi.

.

.

.

Acara itu berlangsung meriah, banyak orang kalangan atas yang muncul diacara ulang tahun pengusaha itu. Jimin berdiri disamping Yoongi yang sedang berbincang kecil dengan beberapa kenalannya, sesekali Jimin juga di kenalkan pada relasi bisnis Yoongi.

Suasana mendadak hening sedetik saat seorang wanita muncul didepan pintu megah itu. Dress putih yang membalut tubuhnya, wajah cantik dan terkesan sombong, serta aura dominan yang menguar saat orang itu berjalan, membuat orang-orang tidak bisa berpaling menatapnya.

Stella muncul dan Yoongi mengumpat dalam hati.

"Mommy…" cicit Jimin tak percaya.

Yoongi buru-buru menahan pinggang Jimin yang sudah akan bergerak kearah Stella dan mendapat tatapan kesal dari Jimin.

"Hyung, aku ingin bertemu Mommy" bisik Jimin tidak sabar.

"Tidak sekarang, ada yang sedang mengawasi kita. Tidak ada yang bisa menjamin kalau si Changmin itu tidak ada disini. Tetap disini" Yoongi tersenyum hangat pada Jimin untuk mengelabui orang-orang, terutama seseorang yang sedang bersembunyi dilantai dua yang sedang memantau Jimin dan Yoongi.

"Dia disini?" Jimin membolakan matanya. Jujur saja, Jimin agak takut pada Changmin.

Yoongi bergerak memeluk Jimin erat "Tetap tenang, oke? Aku disini" bisik Yoongi. Setelah berbisik, Yoongi mengurai pelukannya dan mengecup dahi Jimin.

"Hyung, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kan?" Jimin menatap lurus pada Yoongi.

"Tidak, dia tidak akan berani di tempat seramai ini. Aku akan menghajarnya kalau berani membuat Jimin-ku ketakutan" Yoongi terkekeh.

"Aku akan menempeli hyung terus"

"Aku akan senang kalau begitu" Yoongi terkekeh dan kembali meletakkan tangannya di pinggang Jimin.

Stella berjalan santai diantara kerumunan orang-orang yang menatapnya. Dia berjalan kearah Namjoon dan Seokjin yang sedang berdiri membelakanginya, menepuk bahu Namjoon dan tersenyum ramah padanya.

"Stella-ssi" Namjoon hampir saja menjatuhkan gelasnya saat melihat Stella muncul. Gadis ini benar-benar gila. Dia sudah dapat kabar dari Yoongi soal Stella dan melihat gadis ini muncul di depan umum dengan santai, sepertinya Namjoon harus mempertanyakan nyalinya.

"Jangan seperti melihat hantu, Namjoon-ssi" Stella tersenyum mengejek pada Namjoon. "Tidak ingin mengenalkanku pada pasanganmu?" Stella menunjuk Seokjin yang sedang menatap bengong padanya.

"Oh, kenalkan, ini Seokjin, Seokjin, ini Stella" Namjoon memperkenalkan keduanya.

Seokjin berkedip-kedip, sadar kalau dia baru saja bertingkah aneh didepan Stella. Dia buru-buru mengulurkan tangan pada Stella dan menyebut namanya.

"Aku sering mendengarmu dari Namjoon" ucap Stella ramah.

"Oh, terimakasih" ucap Seokjin gugup.

Stella mendengus dan tertawa. "Aku heran kenapa pria brengsek seperti kalian bisa mendapatkan anak baik-baik" Stella merujuk pada Yoongi dan Namjoon . Rasanya tidak percaya melihat Namjoon dan Yoongi mendapatkan pasangan polos seperti Seokjin dan Jimin.

Seokjin membolakan matanya, bukannya gadis didepannya ini terlalu frontal dalam bicara?.

"Ada apa?" Namjoon mengalihkan pembicaraan.

"Tidak apa si puppy ini tau?" Stella melirik pada Seokjin yang menunduk disamping Namjoon.

"Jinseok, bisa ku tinggal sebentar?" Namjoon meminta izin.

"How cute! Pergi beberapa meter saja minta izin, astaga, carikan aku suami, Namjoon…" Stella memekik gemas.

"Stella-ssi, hentikan, oke?" Namjoon memutar bola matanya.

"Hey, Puppy, aku pinjam suami mu sebentar ya?" Stella tersenyum lebar saat Seokjin mengangguk.

"Ayo" ajak Namjoon.

Stella dan Namjoon berdiri didekat pilar megah yang berada didalam ruangan, keduanya terlihat bicara santai dengan minuman ditangan masing-masing.

"Kau bawa?" Stella menatap lurus pada Namjoon.

"Kau ingin apa dengan laser pointer ini?" Namjoon menyerahkan benda ditangannya pada Stella.

"Bermain-main sedikit" jawab Stella sekenanya.

"Jangan aneh-aneh"

"Aku memang sudah aneh dari dulu, apa yang bisa kau harapkan dari orang aneh seperti ku?" Stella memutar bola matanya.

"Dan kenapa kau keluar dari hotel?"

"Tuan Choi mengundangku, tentu aku harus datang saat sugar daddy ku ulang tahun" ucap Stella cuek.

"Omong kosong macam apa itu?"

"Kau pikir aku membayar tagihan hotelku pakai uang siapa?" Stella menatap Namjoon remeh.

"Kau punya uang sendiri kan?" Tanya Namjoon tak percaya.

"Punya, tapi kalau ada yang mau membayarkan semua tagihanku, kenapa harus menolak?"

"Kau tau dia sudah punya istri" geram Namjoon.

"Tau. Tapi dia mengejarku, bahkan selama di kanada, dia yang membayar semua tagihan rumah sakitku" jawab Stella tanpa dosa.

"Kau sakit?" Tanya Namjoon lagi.

"Hampir mati"

"Kenapa?"

"Kecelakaan"

"Kenapa bisa?"

"Sejak kapan kau jadi cerewet?" Stella menatap kesal pada Namjoon.

"Aku hanya Tanya. Jadi, untuk apa laser pointer itu?"

"Aku ingin bermain, sudah ku bilang kan?"

"Dengan siapa?"

"Shim Changmin"

.

.

.

Changmin terkejut saat ada laser merah yang mengarah padanya. Buru-buru Changmin berdiri, menatap keluar jendela kerjanya dan sialnya, sinar itu sudah hilang.

"Ada apa, pak?" salah satu bawahan Changmin menatap bingung padanya yang sedang menatao kearah luar jendela dengan panic.

"Ada yang mengarahkan laser ke wajahku" guman Changmin pelan.

"Huh?"

"Bukan apa-apa. Ada apa?" Changmin kembali duduk di kursinya.

Disebrang gedung tempat Changmin bekerja, Stella sedang memainkan benda di tangannya sambil tertawa mengejek.

"Masih di laser saja sudah takut, bagaimana kalau aku benar-benar menembak kepalanya" ejek Stella sambil tertawa. "Ini masih awal, Changmin-ssi. Aku tidak akan membunuhmu langsung, silahkan nikmati permainanku ini dulu sampai kau nyaris gila" Stella tersenyum senang, membuka tasnya, mengambil lipstick dan memoleskan lipstick ditangan ke bibirnya.

"Cantik sekali…" Stella menatap kaca yang memantulkan wajahnya dengan tatapan memuja.

.

.

.

TBC