Sudah seminggu lebih Changmin diganggu dengan sinar laser yang selalu mengintainya dimanapun. Tidak peduli di kantor, di mobil, bahkan di apartemennya yang berada dilantai 7 pun, sinar laser itu sering mengganggu dan Changmin sudah berada diatas batas sabarnya sekarang.
Dia sedang berada di mobil, baru saja pulang dari reuni dengan teman masa SMA-nya. Saat tepat di lampu merah, lagi, sinar laser itu mengarah tepat di dahinya, Changmin sudah bersiap keluar mobil sampai suara klarkson berbunyi nyaring dari mobil-mobil di belakangnya karena lampu lalu lintas yang sudah berubah hijau. Terpaksa Changmin mengurungkan niatnya.
Changmin menepikan mobilnya tidak jauh dari rambu lalu lintas tadi, matanya berkeliling mencari sumber sinar laser yang mengarah padanya, tapi nihil, jalanan mulai lengang karena jam sudah hampir tengah malam.
Changmin keluar dari mobil, berdiri di trotoar samping mobilnya dan matanya mengarah kearah gedung perkantoran disekitarnya, tidak ada yang mencurigakan sampai ban mobil bagian belakang miliknya pecah.
"Brengsek!" Changmin memaki saat melihat ban mobilnya yang ditembak hingga pecah.
Matanya kembali berkeliling kesekitarnya, beberapa orang yang kebetulan berjalan disana terkejut mendegar suara letusan ban mobil Changmin yang cukup kuat.
"Ada apa tuan?" Seorang pria yang sepertinya pekerja di restoran cepat saji bertanya memastikan keadaan Changmin.
"Ban ku pecah, tidak apa, jangan khawatir" ucap changmin tak enak hati.
"Astaga, ku pikir ada apa"
"Maafkan saya" ucap Changmin sambil membungkuk.
Pria itu kemudian berlalu, meninggalkan Changmin yang mulai merasa was-was. Matanya menatap curiga keseluruh tempat. Jujur saja, dia mulai tertekan dan merasa terancam selama seminggu ini, dia ingin bertindak tapi pelakunya seolah kasat mata dan Changmin membenci kenyataan itu.
.
.
.
KOI NO YOKAN
.
.
.
"Hyung tidak pergi ke club?" Jimin melirik Yoongi yang sedang memeluknya dari belakang.
"Tidak, aku ingin dirumah saja"
"Biasanya hyung selalu pergi jika sudah tengah malam begini" Jimin mengelus lembut tangan pucat Yoongi yang sedang memeluknya.
"Sedang malas" Yoongi beralasan.
"Apa di kantor banyak pekerjaan?"
"Tidak juga, memangnya kau tidak suka suami mu dirumah saja?" Yoongi menaikkan sedikit badannya untuk bisa melihat Jimin.
"Suka sekali, kalau bisa, hyung tidak usah saja pergi ke club lagi" Jimin terkekeh , mengelus pipi Yoongi yang sedang menatapnya.
"Harus kah aku pensiun dini?" Yoongi meletakkan kepalanya dibahu Jimin yang sedang tertidur miring.
"Bukan ide yang buruk. Nanti kalau kita punya anak, tenaga Yoongi hyung yang susah tidur malam itu sangat dibutuhkan. Baby akan minum susu setiap dua jam sekali, itu artinya, sama sekali tidak bisa tidur nyenyak" ucap Jimin.
"Minum susu dua jam sekali?" Yoongi mengernyit heran.
"Ne. nah, karena Yoongi hyung tidak biasa tidur malam, jadi, Yoongi hyung yang akan menjaga baby dari malam sampai pagi, mulai dari mengganti popok, membuatkan susu, me…"
"Yang benar saja…"potong Yoongi.
"Tentu saja benar" Jimin mengernyit, menggeser kepala Yoongi yang berada di bahunya, kemudian menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Kata siapa itu? Kenapa baby minum setiap dua jam? Bukannya berlebihan?" Yoongi mendudukan diri disamping Jimin yang sedang menatapnya lekat.
"Bayi memang seperti itu, hyung. Kenapa? Hyung tidak bersedia membantuku menjaga baby nanti?"
"Kita cari babysitter saja, ya…" usul Yoongi.
"Boleh,kita akan cari babysitter kalau hyung keberatan menjaga baby, tidak masalah, tapi nanti jangan keberatan kalau baby memanggil hyung dengan sebutan ahjussi" Jimin tersenyum lebar sarat ancaman.
"Mana bisa begitu, aku Appa-nya!"
"Benar, hyung Appa-nya, se Korea Selatan ini juga sudah tau, tapi kalau baby tidak mengenali bau-mu dan menolak digendong oleh mu, jangan salahkan aku kalau baby memanggil hyung dengan sebutan Ahjussi nantinya" jelas Jimin.
"Nah, karena hyung keberatan membantuku menjaga baby dan memilih punya babysitter saja, jadi, jika nanti aku selalu tampil berantakan, tubuhku kurus kering, mataku ada lingkaran hitam, dan aku tidak bisa melayani hyung dengan baik, hyung juga tidak boleh protes" Jimin mengelus pipi Yoongi sambil tersenyum penuh ancaman.
"Kau mengancamku?"
"Tidak, tuan Min, aku sedang membeberkan fakta"
"Ya sudah, akan ku bantu…" putus Yoongi.
"Memang sudah seharusnya, kau kan Appa-nya. Lagian aku tidak ingin anakku diasuh babysitter, aku tidak percaya."
"Anak kita" koreksi Yoongi.
"Oh, ku kira ini hanya anakku, soalnya Appa-nya menolak merawatnya…" bisik Jimin sambil memicingkan mata pada Yoongi.
"Ya! Park Jimin, aku bukannya tidak mau, tapi…"
"Tapi apa?" pancing Jimin.
"Aku… aku tidak tahu caranya." Guman Yoongi pelan. " Aku takut baby sakit jika aku salah meletakkan tanganku nanti saat menggendongnya, aku takut aku salah menakar bubuk susunya, aku takut kalau airnya terlalu panas, aku takut menyakiti baby dengan tanganku…" Yoongi tertunduk. Ini pertama kalinya dia terlihat begitu ketakutan pada sesuatu.
Jimin tersenyum hangat, tangannya mengarah pada rambut Yoongi dan mengelusnya penuh sayang.
"Aku takut tidak bisa menjadi Appa yang baik, Jim" Yoongi tersenyum lemah.
"Kita bisa belajar menjadi orangtua yang baik bersama, kan?"
"Kau benar…" Yoongi meletakkan kepalanya dipaha Jimin, kembali tertidur dan memaksa Jimin untuk mengelus rambutnya lagi.
"Aku baru tau ternyata tuan Min ini takut pada bayi…" Jimin terkekeh.
"Jim…" panggil Yoongi pelan, mengabaikan candaan Jimin barusan.
"Ya?"
"Apa yang kau lakukan jika aku pergi malam hari?"
"Menunggu mu pulang tentu saja, aku tidak bisa tidur nyenyak sampai hyung pulang ke rumah kita" Jimin tersenyum dan tangannya masih sibuk mengelus rambut Yoongi.
"Selain itu?"
"Mengelus perutku?" ucap Jimin ragu.
Yoongi tersenyum dan mendudukan diri lagi di tempat tidur. "Istirahatlah" Yoongi mengecup dahi Jimin.
"Hyung mau kemana?" Jimin mengernyit bingung.
"Merokok, di balkon"
.
.
.
"Min Suga atau Min Yoongi, dinyatakan bersih pak. Tidak ada catatan kriminal lain selama sepuluh tahun terakhir" lapor bawahan Changmin.
"Kau sudah periksa keseluruhan? Bagaimana dengan pelanggaran lalu lintas?" Tanya Changmin tak percaya.
"Tidak ada, Pak. Min Yoongi selalu memakai supir"
"Kepemilikan senjata?"
"Revolver, Pak. Sudah ada izin resminya"
Changmin terdiam. Dia yakin Yoongi adalah orang penting bawah tanah, tidak mungkin catatannya bisa bersih sama sekali.
"Penggunaan obat-obatan terlarang?" Tanya Changmin lagi.
"Bulan lalu sudah ada pemeriksaan di Club malam milik Min Yoongi, semua tamu di periksa, termasuk Min Yoongi sendiri, dia bersih"
Changmin mendengus dan menggeleng tak percaya. "Bagaimana dengan pembayaran pajak miliknya?"
"Laporannya sudah ada, Pak. Sudah terlampir di dalam map dan Min Yoongi bersih"
Changmin terperangah. Rasanya begitu sulit mencari celah dari Min Yoongi, dia sangat licin, tidak tersentuh.
"Bagaimana dengan Kim Namjoon?" Tanya Changmin lagi. Jika dia bisa mendapatkan sedikit saja cela pada Namjoon, maka itu bisa Changmin gunakan sebagai titik awal pemeriksaan.
"Laporan terakhir, Kim Namjoon hanya terlibat satu kali kecelakaan lalu lintas, itupun sekitar enam tahun yang lalu, Pak. Itu juga karena mobilnya tertabrak mobil dibelakangnya, secara garis besar, Kim Namjoon hanya korban"
"Sial" guman Changmin geram. "Terimakasih. Jika ada laporan baru atau hal yang mencurigakan, segera beritahu aku, kau bisa pergi" ucap Changmin.
Saat pintu ruangan Changmin tertutup dari luar, Changmin menghempaskan punggungnya kesandaran kursi. Dia benar-benar kesal sekarang.
"Tidak mungkin gadis itu bergerak sendiri, aku yakin ada orang besar yang membantunya! Aku juga yakin gadis itu belum mati" geram Changmin. "Park Jimin, aku harus mencari tahu ada hubungan apa dia dengan Stella"
.
.
.
"Berhenti bertingkah, Min Stella" Yoongi memijat pangkal hidungnya, kepalanya mendadak pusing.
"Apa? Bicara yang jelas" Stella menaikkan kakinya keatas meja kerja Yoongi.
"Apa yang ada dikepalamu? Apa maksudmu kau ingin liburan dengan tuan Choi? Kau sudah gila apa bagaimana?" Yoongi meradang.
"Kau terlalu cerewet, berikan saja aku paspor palsunya dan biarkan aku pergi liburan" Stella memutar bola matanya kesal.
"Tapi tuan Choi sudah punya istri" geram Yoongi.
"So? Where's the problem, Asshole?"
Yoongi kehilangan kata-katanya.
"Aku butuh paspornya besok siang. Kau masih punya power untuk itu, kan? Jangan bilang kalau kau sudah turun pangkat" Stella tertawa mencibir.
"Ku berikan kau paspor, tapi dengan syaratm jangan kembali kesini lagi. Kepalaku sakit menghadapimu setiap hari"
"Jangan mengaturku, Asshole. Kau sudah tahu aku bukan anak penurut" Stella menggedipkan matanya dengan genit.
"Si Changmin itu mengincar Jimin-ku" Yoongi mengalihkan pembicaraan.
"Aku tau. Dia mendekati produser bernama Jung Hoe.. siapa? Aku lupa namanya… Hoki?"
"Jung Hoseok?"
"Ah, iya, benar dia. Si Changmin itu sengaja mendekati Hoseok untuk bisa menggali informasi soal kalian dari Jimin, termasuk informasi tentangku, tapi, memangnya Kitten tau apa soal aku" Stella tertawa kecil.
"Cepat selesaikan masalahmu dengannya, kau tau aku seperti bom yang bisa kapan saja meledak dan membunuh siapa saja jika milikku di usik"
"Tidak salah aku menikahkan anakku padamu" Stella menatap bangga pada Yoongi.
"Kapan kau akan mengakhirinya?"
"Setelah liburan? Aku mulai bosan melaser wajahnya dari jauh, aku butuh hiburan sedikit untuk mengumpulkan tenaga agar aku bisa menghabisinya dengan tenang"
"Kata Namjoon, kau menembak ban mobilnya"
"Tadinya ku pikir untuk hiburan saja, ternyata tidak lucu, bahkan aku tidak tertawa saat menembak ban mobilnya, mungkin sebaiknya aku menembak kepalanya semalam, iya kan?" Stella menurunkan kakinya dari meja, menatap Yoongi seolah minta persetujuan.
"Kenapa tidak kau lakukan saja?"
"Aku masih ingin main-main. Kalau dia mati, mental siapa lagi yang bisa ku rusak?"Stella mengibaskan rambutnya.
"Kalau tuan Choi tau kau sakit jiwa, dia pasti akan membuangmu detik ini juga" cibir Yoongi.
"Hey, kalau di depan tuan Choi, aku kucing yang jinak yang perlu dilindungi. Miaw.." Stella ber-aegyo membuat Yoongi merinding jijik.
"Oh, semalam aku bertemu Yoon Jisung, mantan kekasihmu" Yoongi menyeringai saat tubuh Stella menegang.
.
.
.
"Jim, maaf merepotkanmu siang-siang begini" ucap Hoseok tak enak hati.
"Tidak apa, hyung. Silahkan diminum" Jimin mempersilahkan. "Kau mencari apa, Changmin-ssi?" Tanya Jimin tajam.
Siang ini, Jimin dibuat terkejut dengan kedatangan Hoseok yang tiba-tiba, ditambah adanya Changmin disamping Hoseok, membuat Jimin mau tidak mau menatap waspada padanya.
"Maaf, aku hanya melihat dekorasi rumah kalian saja. Maaf tidak sopan" Ucap Changmin tenang.
"Kalau kau mencari suamiku, dia ada di kantor. Aku akan lebih senang kalau kau mau berkenalan langsung dengannya" ucap Jimin lagi. "Lain kali, datanglah saat sore hari"
Changmin menatap lurus pada Jimin, sedang membaca sifat Jimin yang terlihat tenang didepannya.
"Maaf soal pertemuan pertama kita yang kurang menyenangkan" Changmin menunduk sopan.
"Jimi…" ucapan Seokjin tertahan saat melihat ada tamu lain diruang tamu bawah milik Jimin.
"Seokjin hyung, duduklah." Sambut Jimin senang.
"Kenapa tidak bilang jika ada tamu?" Seokjin tersenyum kearah Hoseok dan Changmin dengan canggung.
"Mereka datang tiba-tiba, duduklah hyung" Jimin mempersilahkan.
"Kalau begitu, aku permisi ke dapur sebentar, aku mau mengabari Namjoon kalau aku sudah sampai di rumah mu" pamit Seokjin.
Saat nama Namjoon disebut, Changmin menegakkan tubuhnya, matanya bergerak mengawasi Seokjin dari jarak terjaga, menatap Seokjin beberapa detik dan mengingat dengan baik rupa Seokjin, bertambah satu lagi orang yang bisa dia jadikan sumber informasi.
"Oh, ne, hyung" Jimin tersenyum dan memperhatikan langkah Seokjin menuju dapur.
"Jadi, ada apa hyung kesini? Tumben sekali?" Jimin menatap Hoseok dan tersenyum hangat.
"Hanya ingin bertemu saja, aku merasa pertemuan terakhir kita berakhir tidak baik, aku khawatir kau kesal padaku, jadi aku datang untuk minta maaf" jelas Hoseok.
"Mana mungkin aku bisa marah denganmu, hyung" Jimin tersenyum ramah.
"Syukurlah kalau begitu" Hoseok balas tersenyum.
"Kau butuh sesuatu Changmin-ssi? Sepertinya kau sedang mencari-cari sesuatu di ruangan ini?" tembak Jimin. "Yang di foto itu suami-ku" ucap Jimin menjelaskan foto yang terpajang di dinding ruang tamu, meskipun Jimin yakin kalau Changmin mengenali Yoongi.
"Maaf aku kembali tidak sopan, hanya saja, rumah kalian sangat mewah" Changmin beralasan.
"Benarkah?" Tanya Jimin sinis.
"Ya, ini benar-benar rumah mewah yang elegan"
"Aku ingin mengajakmu berkeliling, tapi kau tahu sendiri, aku tidak bisa capek. Mungkin nanti kalau suami-ku datang kau bisa diajak berkeliling rumah kalau mau. Sepertinya kau sangat tertarik dengan rumah kami, kau seperti sedang merekam isi ruangan ini dengan matamu" ucap Jimin sambil tersenyum dengan mata yang menyorot tajam pada Changmin.
"Maaf membuatmu tidak nyaman, Jim" Hoseok berucap tak enak hati.
"Hyung, jangan terlalu baik, lihat sekitarmu, bisa saja ada orang yang sedang memanfaatkan kebaikkanmu, iya kan, Changmin-ssi?" Jimin tersenyum kecil.
Changmin balas tersenyum. Dia yakin Jimin mulai curiga padanya, terlihat dari sikap Jimin yag mulai terang-terangan menunjukan rasa tidak sukanya pada Changmin.
Changmin menatap Hoseok yang sedang menunduk karena merasa tidak enak pada Jimin, rasanya Changmin sedikit merasa bersalah, tapi sesuatu yang berada didekat Hoseok menarik perhatian Jimin. Pistol pink didalam kotak kaca. Changmin membolakan matanya sedetik dan kembali bersikap normal. Dia tahu siapa pemilik pistol pink itu, pistol yang sama yang digunakan untuk membunuh tamunya yang berasal dari Jepang. Yang menjadi pertanyaannya, kenapa pistol itu ada dirumah ini.
.
.
.
"Hyung, Shim Changmin ada dirumahmu" lapor Namjoon.
Yoongi dan Stella sama-sama menegakkan tubuhnya saat mendengar ucapan Namjoon.
"Dari mana kau tahu?" Tanya Yoongi.
"Saat akan kesini, aku ditelepon oleh Seokjin dan dia bilang sudah sampai di rumah kalian karena dia dan Jimin ada janji untuk bertemu, Seokjin bilang kau ada tamu, jadi aku meyuruh Seokjin mengambil foto diam-diam, disana ada Hoseok dan Changmin" Namjoon meletakkan ponselnya diatas meja Yoongi.
Stella yang lebih dulu menyambar ponsel Namjoon dan menatap geram pada foto itu.
"Harusnya aku menembak kepalanya semalam" geram Stella.
"Jangan gegabah" Namjoon menarik ponselnya dari tangan Stella. "Aku dapat informasi baru soal Shim Changmin" Namjoon mendudukan diri disamping Stella.
"Apa?" Tanya Yoongi mulai tak tenang.
"Yakuza yang kau bunuh" Namjoon menepuk bahu Stella pelan. "Changmin bekerja untuknya dalam menyelundupkan obat-obatan terlarang ke sini"
"Yah, sudah tidak seru" Stella mengibaskan rambutnya, menatap kesal pada Namjoon yang sudah membeberkan fakta yang sengaja Stella simpan untuknya sendiri.
"Kau tahu, anak buah yakuza itu mencari-carimu, mereka ingin kau yang memimpin grup mereka selanjutnya. Ini gila" Namjoon tertawa. "Itu kenapa Changmin ingin membunuhmu, karena dia mengincar posisi yakuza itu. Ternyata ada yang lebih busuk dari aku" Namjoon terkekeh.
Stella dan Yoongi menaikkan alisnya tidak percaya.
"Info dari mana itu?" Stella mengernyitkan alisnya.
"Kim Taehyung, yang pernah merebut mantan pacarmu" Namjoon dan Yoongi tertawa puas.
.
.
.
"Mereka sudah pulang sore tadi, hyung" Jimin membantu Yoongi melepaskan jasnya dan meletakkan jas kerja Yoongi di atas tempat tidur, kemudian beralih membuka dasi Yoongi.
"Kau tidak apa?" Yoongi menarik Jimin agar mendekat, memegang kedua sisi wajah Jimin dan menatap lekat kedalam mata Jimin.
"Tidak, aku bisa mengatasinya sendiri, hyung" Jimin berucap bangga.
"Anak pintar" puji Yoongi dan tertawa kecil.
"Hadiahnya?" Jimin mengedip-kedipkan matanya.
Yoongi menarik wajah Jimin semakin dekat dan memberikan Jimin ciuman dibibir. Saat sibuk berciuman, sesuatu terasa menendang perut Jimin. Buru-buru Jimin melepaskan tautan bibirnya dan Yoongi.
"Hyung, ada yang menendang perutku" ucap Jimin terlihat bingung.
"Hanya ada kita berdua disini, siapa yang menendang?" Yoongi mengernyit heran.
Keduanya menatap kearah perut Jimin.
"Kau sudah mulai berani mengganggu kesenang Appa, ya." Yoongi berkacak pinggang sambil menatap keperut Jimin.
Jimin tertawa sambil mengelus dada Yoongi dan mengatakan sabar berkali-kali.
"Bibit nakalnya sudah terlihat sepertinya." Jimin menatap memicing tajam pada Yoongi.
"Syukurlah itu bukan dariku, aku anak yang baik saat kecil" Yoongi balas menatap Jimin dengan memicing.
.
.
.
TBC
Buat kakak-kakak yang kurang puas dengan FF ini, yang nanya, ini kok begini? Kok ini begitu? Monmaap yes. Apalah dayaku yang masih anak sekolah ini… jadi author juga masih bisa diitung jari lamanya…
Monmaap kalau ga memenuhi ekspektasi kakak yorobun sekalian…
*Lari ditengah hujan*
