"I trusted you, you fuck*ng Asshole!" Stella berjalan buru-buru dilorong rumah sakit bersama Yoongi yang terlihat panic disampingnya.
"Jackson, dimana Jimin?" Yoongi bertanya tanpa basa-basi begitu teleponnya di angkat.
"The f*ck?" Stella menatap jengkel pada Yoongi yang seolah mengabaikannya.
"Aku kesana" ucap Yoongi buru-buru dan berlari kecil di lorong rumah sakit menuju lantai 3.
"Asshole!" panggil Stella yang hanya diabaikan oleh Yoongi yang sudah berlari menuju tangga. Sangkin paniknya, Yoongi lupa apa fungsi lift yang berada didepannya. Stella memaki kesal dan mengikuti langkah Yoongi menuju tangga, dia berdecak kesal saat kakinya mulai terasa sakit karena heels yang dipakainya sangat tidak bisa diajak kerja sama sekarang.
"Where the F*ck we're going?" Stella berucap geram sambil terus mengikuti Yoongi yang berjalan melewati dua anak tangga sekaligus.
"Lantai 3." Jawab Yoongi buru-buru.
Stella berhenti saat mereka mencapai lantai 1 setelah dari lantai dasar. Matanya menatap kesal pada Yoongi yang sudah berlari meniti anak tangga menuju keatas. "Stupid Asshole" Stella menyibak rambutnya kebelakang dan berjalan menuju lift yang berada disudut di dekatnya berdiri.
.
.
.
KOI NO YOKAN-2
.
.
.
Stella lebih dulu sampai dilantai 3 dan disambut oleh Jackson yang terlihat agak panic.
"Dimana Yoongi hyung?" Tanya Jackson penasaran saat melihat Stella muncul sendiri dari dalam lift.
"Otak bodohnya sedang kambuh, dia lupa apa fungsi lift, jadi dia melewati tangga. Bodoh sekali" Stella menggeleng dan tersenyum miris. "Dimana kitten?"
"Sudah masuk ruang oprasi"
"Bagaimana bisa Kitten melahirkan sekarang?" Stella mengernyit dan berjalan menuju pintu dekat ruang oprasi.
"Saat aku kerumah untuk mengambil berkas untuk Yoongi hyung dari club, aku melihat Jimin-ssi sudah berkeringat dingin saat memberikan berkas itu padaku dan tiba-tiba dia…."
"Mana Jimin?" Yoongi dengan nafas yang berantakan berjalan menuju Stella dan Jackson yang sedang berdiri bersandar di dinding.
"Sudah di dalam" jawab Stella enteng.
"Bagaimana bisa dia melahirkan sekarang? Harusnya…"
"Shhhh…. Ini karena kau saja yang bodoh" potong Stella. "Bagaimana bisa kau meninggalkan anakku disaat dia akan memasuki bulan-nya? Otakmu sudah pensiun bekerja apa bagaimana?" Stella memarahi Yoongi.
"Menurut dokter…"
"Menurut dokter my ass! Harusnya kau bisa memperhitungkannya lebih detail. Bagaimana bisa kau memilih pergi mengurus club milikmu daripada anakku?" Stella seperti sudah siap member bogem mentah pada Yoongi kalau saja Jackson tidak muncul sebagai penengah.
"Stella-nim…"
"Jangan membelanya!" Stella memotong ucapan Jackson telak. "Sudahlah, kita tunggu saja disini sampai Kitten selesai di oprasi." Stella melepas heels yang dipakainya dan berjongkok di lorong rumah sakit.
Ini sudah tengah malam dan Stella sangat bersyukur saat tau Gyuri masih di Rumah sakit dan bersedia melakukan OP untuk Jimin. Jangan harapkan Yoongi, saat Jackson bilang Jimin akan melahirkan, otak Yoongi langsung kosong, dia tidak tau harus melakukan apa kalau saja Wonho tidak menegurnya dan menyuruhnya pergi ke rumah sakit.
Stella baru saja sampai di Seoul saat Jackson meneleponnya dan dengan sigap Stella menelepon Gyuri untuk mempersiapkan ruangan untuk Jimin. Dia bahkan meninggalkan kopernya di bandara, begitu juga dengan tuan Choi yang pergi berlibur selama tiga minggu dengannya. Stella sudah tidak peduli, yang ada diotaknya saat itu, dia harus menemani Kitten-nya.
Yoongi berdiri tepat di samping Stella, wajahnya terlihat datar tapi matanya jelas memancarkan ke khawatiran. Pandangan Yoongi menatap kosong pada dinding di depannya. Stella sadar, Yoongi pasti sedang kalut sekarang. Seumur hidup menjadi sepupu Yoongi, baru kali ini Yoongi tampak bodoh dimatanya.
"Kau tidak berencana menunjukan tampang bodohmu itu pada anakmu kan?" ucap Stella santai sambil meluruskan kakinya.
"Aku takut…" guman Yoongi teramat pelan.
Stella mendongak sedikit kearah Yoongi dan tersenyum lembut. Rasanya cukup aneh mendapati adik sepupunya ini ketakutan. "Mochi bisa menangis histeris melihat wajahmu yang menyeramkan begitu" canda Stella.
Yoongi memilih tidak menanggapi candaan Stella dan sibuk berputar dengan isi kepalanya. Jackson terlihat pergi menuju lift, entah siapa lagi yang akan datang kali ini, Yoongi dan Stella tidak peduli. Keduanya hanya terdiam sampai satu jam lebih, seorang perawat keluar dari ruangan dan menanyakan keluarga Park Jimin.
Yoongi tersentak, matanya melirik pada Stella dan Stella hanya mendorong bahunya pelan. "Suaminya" Ucap Stella pada perawat sambil mendorong bahu Yoongi.
"ikut saya, tuan" ucap sang perawat mempersilahkan Yoongi masuk kedalam ruangan.
Yoongi sudah siap dengan pakaian khusus diruang oprasi, tangisan bayi yang terdengar samar membuat langkah Yoongi terhenti. Dia tidak berani mendekat, tangannya terasa dingin.
"Jimin-ssi mencari anda" ucap sang perawat lagi.
Yoongi terkesiap dan berjalan masuk ke ruangan disebelah kiri, terlihat Jimin sudah sadar meskipun selang oksigen masih terpasang di hidungnya.
"Hey…" Jimin tersenyum lemah saat Yoongi muncul di depannya. Jimin tersenyum makin lebar saat Yoongi terlihat sedang mencari-cari sesuatu. "Mochi sedang dibersihkan…"
Yoongi terdiam dan berjalan terburu kearah Jimin, mengecup kepala Jimin berkali-kali dan mengucapkan maaf. "Maaf…" guman Yoongi.
"Mana hadiah untukku, hyung?" Jimin terkekeh lemah dan mengelus pipi Yoongi yang terlihat makin pucat.
"Jiminie, terimakasih" ucap Yoongi tulus.
Ini adalah ucapan terima kasih paling tulus pertama yang pernah Jimin lihat. Biasanya Yoongi hanya berterimakasih hanya untuk basa-basi.
Jimin tersenyum sendu saat Yoongi menggenggam tangannya erat dan menutup wajahnya dengan tangan Jimin. Jimin bisa merasakan tangan Yoongi yang mendingin.
"Sudah jadi Appa sungguhan, huh?" goda Jimin. "Jadi, siapa nama Mochi kita?" Tanya Jimin lemah.
"Mino?" Tanya Yoongi seolah meminta persetujuan.
"Min Mino. Nama yang bagus, aku suka" Jimin menggusak rambut Yoongi.
"Kau sudah melihat Mochi?" Tanya Yoongi, tangannya masih menggengam tangan Jimin erat.
"Sudah. Dia merah sekali" Jimin terkekeh.
"Bagaimana wajahnya?"
"Tampan seperti Appa-nya" Jimin menaik turunkan alisnya.
"Permisi tuan, kami akan memindahkan Baby ke ruangan khusus bayi." Seorang perawat muncul samba menggendong mochi ditangannya.
Yoongi berdiri, matanya berbinar menatap bayi kecil yang terbungkus dengan kain biru ditubuhnya.
"Siapa nama-nya tuan?" Tanya perawat disebelahnya sambil mendorong sebuah troli seperti kaca yang mereka yakin sebagai tempat tidur mochi malam ini.
"Min Mino" jawab Yoongi sambil mendekat.
Seorang perawat yang mendorong troli kaca itu menulisakan nama Mino di papan yang dibawanya. Papan yang berisi nama, jenis kelamin, berat badan, tinggi badan bayi dan juga sebuah foto bayi.
"Ingin menggendongnya, tuan?" perawat yang menggendong Mino menawarkan.
Yoongi menggeleng gugup. "Nanti saja…"
"Appa-nya tidak tahu caranya" ucap Jimin sambil terkekeh. "suster, boleh aku lihat sekali lagi?" Tanya Jimin.
"tentu" perawat itu tersenyum, membawa Mino yang berada dalam gendongannya mendekat pada Jimin.
Yoongi ikut mendekat dan tersenyum kecil melihat bibir Mino yang bergerak-gerak karena Jimin menyentuh pipinya. "Lucu, kan?" Jimin menatap Yoongi yang masih tersenyum pada Mino.
Yoongi menyentuhkan jarinya pada pipi Mino dengan hati-hati. Dia takut tangan besarnya akan menyakiti Mino, jari Yoongi bergerak halus menyentuh pipi Mino dan lagi-lagi Mino bergerak merasa terganggu. "Sampai bertemu besok, Mino-ya" guman Yoongi pelan.
Jimin tersenyum lucu saat Yoongi mengajak Mino bicara. Suaminya mendadak sudah tidak menyeramkan lagi.
.
.
.
"Lucunya…" Stella berkedip-kedip menatap Mino yang tertidur di dalam troli kaca.
Pagi ini Mino diantarkan ke ruangan Jimin setelah selesai di mandikan. Stella langsung menyambut dengan terlalu heboh begitu troli bayi itu muncul di depan pintu.
"Mommy, ingin di panggil apa oleh Mochi?" Tanya Jimin sambil tersenyum hangat.
"Apa ya? Mommy belum memikirkannya." Jawab Stella.
"Tentu saja Ahjussi" Yoongi ikut andil dalam pembicaraan Jimin dan Stella.
"Asshole, you wanna die?" Stella tersenyum lebar.
Jimin tertawa kecil.
"Aku kan hanya menyarankan, kalau kau mau di panggil ahjussi ya bagus, mau di panggil ahjumma juga tidak masalah" Yoongi berucap santai dan mendudukan diri disamping Jimin.
"Hyung, dokter Gyuri bilang ada banyak wartawan di bawah" Jimin meletakkan tangannya diatas paha Yoongi untuk menarik perhatian Yoongi.
"Sudah ditemui oleh Namjoon. Kepalaku sakit berurusan dengan mereka." Jawab Yoongi.
"Aku heran dengan wartawan itu, bukannya Kitten sudah bilang akan berhenti jadi artis? Kenapa masih saja muncul dan suka mencari tau." Stella menegakkan tubuhnya dan berjalan menuju kulkas yang tersedia di ruangan Jimin.
"Percuma juga dilarang. Makin dilarang dan dihalangi mereka malah makin penasaran" Yoongi menggeleng.
"Jihyun kapan akan datang?" Stella melirik Jimin yang sedang dielus kepalanya oleh Yoongi.
"Belum tau, Mom. Surat cutinya belum ditanda tangani oleh direktur rumah sakit tempat Jihyun bekerja" Jawab Jimin pelan.
"Permisi" Jungkook memunculkan kepalanya dari balik pintu dan langsung berhadapan dengan Stella yang masih berdiri di dekat kulkas.
"Kau teman kitten, kan?" Stella menaikkan alisnya.
Jungkook mengernyit bingung. "Aku mencari Jimin" jawab Jungkook masih bertahan di posisinya.
"Sama saja. Masuk" ucap Stella.
"Siapa Mom?" Tanya Jimin penasaran.
"A baby boy with bunny teeth" jawab Stella lembut.
Jungkook masuk kedalam setelah yakin kalau ruangan ini adalah ruangan milik Jimin, setelah membungkuk sopan pada Stella, Jungkook berjalan senang kearah Jimin dan memeluk Jimin erat.
"Selamat hyung" ucap Jungkook bahagia. "Mana dia?" Tanya Jungkook sambil mencari-cari anggota baru keluarga Min. setelah melihat troli kaca yang tidak jauh dari tempat tidur Jimin, Jungkook berlari kecil kesamping troli kaca dan melihat Mino dari samping. "Lucunya…"
"Namanya Mino" ucap Yoongi sambil tersenyum ramah. Ini agak langka sebenarnya.
"Namanya bagus" Jungkook melihat kearah Yoongi dan Jimin. "Hallo Mino, aku Jungkook…" ucap Jungkook sambil menempelkan jarinya di kaca.
"Kau sendirian kesini?" Tanya Jimin penasaran.
"Ada Taetae hyung juga, tapi dia sedang menemani Namjoon hyung bertemu wartawan di bawah" jelas Jungkook.
Selang lima belas menit, Taehyung muncul didalam ruangan bersama Namjoon dan Seokjin. Stella yang baru keluar dari kamar mandi terlihat terkejut melihat Taehyung ada disana, berdiri disamping tempat tidur Jimin sambil merangkul bahu Jungkook.
"Lama tidak bertemu, Kim Taehyung-ssi" sapa Stella sinis.
Taehyung tersentak dan menegakkan tubuhnya. Seokjin terlihat akan menjerit histeris melihat Stella, entah sejak kapan Seokjin mulai mengikrarkan diri sebagia fans dari Stella.
"Hey, Puppy. Lama tidak bertemu" sapa Stella ramah pada Seokjin. Yang dibalas dengan lambaian gugup dari Seokjin. Entah sudah berapa kali Seokjin melihat Stella secara langsung, aura Stella tetap membuatnya takjub dan terintimidasi, padahal Stella hanya berdiri tanpa melakukan apapun. Iya, Stella sedominan itu.
"Wah, ada reuni kecil-kecilan ternyata" Namjoon terkekeh senang dan bertos ria bersama Yoongi yang juga ikut tertawa, mengundang rasa penasaran Jungkook, Jimin dan Seokjin yang hanya berdiri kebingungan. "Hanya tinggal membawa Jisung saja kesini, dengan begitu reuni jadi lengkap"
"Jadi, si bunny ini pacarmu sekarang?" Stella menaikan alisnya sinis menatap Taehyung yang terlihat gugup dan salah tingkah.
"Apa kabar?" Tanya Taehyung gugup.
"Sangat baik sejak saat itu" sindir Stella. "Kau, apa kabar?" Stella menatap lurus pada Taehyung.
"Aku baik…"
"Baguslah" ucap Stella cuek dan mendudukan diri di kursi.
"Jangan Tanya soal Jisung, Taehyung sudah tidak tahu kabarnya" goda Namjoon.
"Shut up" Stella memutar bola matanya kesal.
.
.
.
"Pak, Stella-ssi terlihat di bandara" bawahan Changmin meletakkan selembar foto diatas meja Changmin.
Changmin buru-buru mengambil foto itu dan tercengang. Meskipun yakin kalau Stella belum mati, tapi kemunculan Stella di Seoul jelas akan menjadi ancaman untuk Changmin.
"Terimakasih, kau bisa keluar" ucap Changmin pelan untuk menutupi rasa gugupnya.
Changmin terlihat sibuk menekan layar ponselnya untuk mengirim pesan. Dia bingung. Jika Stella baru saja sampai di Seoul kemarin, lalu siapa yang selama ini menerornya dengan laser?. Changmin rasa kepalanya nyaris pecah.
Belum lagi laporan soal Yoongi yang sudah di mata-matai selama ini hasilnya sangat-sangat mengecewakan. Tidak ada hal yang mencurigakan dari Yoongi. Yoongi hanya pergi kerja dan sesekali terlihat pergi keluar bersama Jimin untuk berbelanja atau sekedar makan malam, selebihnya, Min Yoongi selalu ada di rumah!.
Changmin mengusap wajahnya kasar karena dia tidak tahu dengan siapa dia sedang berhadapan sekarang. Ini seperti bertarung bersama udara, tidak terlihat, tapi jelas ada.
"Aku bisa gila kalau begini" ucap changmin.
Saat sibuk meremas rambutnya, lagi, sinar laser muncul tepat di pipinya dan kemudian menghilang lagi, Changmin merasa mulai frustasi. Dia sudah lelah setiap detik harus waspada, tidak ada lagi rasanya hari tenang dalam hidupnya sejak dia berurusan dengan Stella.
Di sudut sana, diantara gedung tempat Changmin bekerja, seorang namja cantik sedang memain mainkan laser ditangannya sambil mengerung kesal. Sudah tiga minggu dia diminta Stella untuk mengganggu Changmin dan tampaknya dia mulai kesal.
"Aku sudah melakukannya lagi hari ini, lalu apa? Ini sama sangat mengesalkan, kau tau? Kenapa tidak ditembak langsung saja? Apa serunya bermain-main dengan laser seperti ini?" Luhan protes, tangannya memegang ponsel ke telinganya. Dia sedang tersambung dengan Stella di ujung sana.
"Sebentar lagi. Kau sudah akan menyelesaikan tugasmu selama tiga minggu ini dan kau mendapatkan mobil barumu minggu depan" Stella terkekeh. "Urusan menyelesaikannya, aku akan menyelesainya dengan Changmin secepatnya"
.
.
.
Tepat di hari dimana Jimin keluar dari rumah sakit, Stella benar-benar muncul untuk Changmin.
Seperti kebiasaan yang sudah Stella tau, Changmin akan berada di kantornya sampai tengah malam. Ada banyak polisi yang lalu lalang selama Stella berjalan menuju gedung kepolisian tempat Changmin bertugas.
"Jackson, it's showtime" Ucap Stella pada sambungan telepon. Stella memperbaiki headset Bluetooth yang terpasang ditelinganya dan berjalan santai dengan pistol pink miliknya di dalam kantong coat coklat yang sedang dipakainya
"Aku sudah menghancurkan system CCTV mereka. Kau sidah bisa masuk Stella-nim" lapor Jackson. "Tapi Stella-nim, apa tidak bahaya? Aku tidak bisa memantau keadaan mu disana karena CCTV mereka sudah ku hancurkan" ucap Jackson khawatir.
"Kau tidak perlu memantauku, aku bukan bayi" Stella memutar bola matanya kesal.
Stella memasuki gedung tanpa dicurigai sama sekali, keadaan yang lengang membuat Stella lebih gamppang bergerak. Stella melangkahkan kakinya kelantai dua dimana ruangan changmin berada. Setelah memastikan keadaan sepi, Stella berjalan keruangan Changmin, berdiri tepat disamping pintu, menuggu Changmin keluar sendiri dari ruangannya.
Setelah setengah jam menunggu akhirnya penantian Stella sudah berakhir, saat melihat Changmin yang sedang mengunci ruangannya, Stella menembak betis Changmin tanpa aba-aba.
"Annyeong, Changmin-ssi" sapa Stella terlalu ramah.
.
.
.
"Kenapa lama sekali?" Hoseok mengernyit heran. Changmin bilang dia akan turun menemui Hoseok, tapi sudah 10 menit Hoseok menunggu, Changmin belum juga muncul.
Hoseok mencoba menghubungi telepon Changmin tapi ponsel Changmin sudah tidak aktif, Hoseok mengernyit dan memilih tetap menunggu didalam mobil saja karena keadaan yang sepi membuat Hoseok agak takut keluar mobil.
Merasa tidak tahan, Hoseok akhirnya turun dan memilih menyusul Changmin. Sampai di lobi keadaan kantor kepolisian itu benar-benar lengang, hanya ada beberapa polisi yang berlalu lalang membawa minuman panas menuju ruangan mereka masing-masing.
Hoseok memilih menitikan kakinya di tangga dan apa yang dilihatnya saat hampir sampai diruangan Changmin, membuat kakinya bergetar hebat. Di depan sana, sedang berdiri seorang wanita cantik menggunakan dress selutut berwarna putih yang membentuk lekukan tubuhnya yang sempurna dan dibalut sebuah coat berwana coklat. Wanita itu sedang menjambak rambut seorang pria yang terlihat berlutut didepan gadis itu, pria yang Hoseok kenali sebagai Changmin.
Hoseok membolakan matanya dan menutup mulutnya dengan tangan, gadis itu mencium Changmin tepat di depan mata Hoseok. Hoseok yakin gadis itu sudah mengetahui ada Hoseok disana, terlihat dari matanya yang menyorot tajam seperti menantang Hoseok untuk mendekat. Hoseok ingin lari tapi kakinya seolah terpaku disana.
Stella menyeringai saat melihat Hoseok yang terlihat syok didepan sana. Tangannya menarik rambut Changmin kebelakang dan membuat bibirnya dan bibir Changmin terpisah begitu saja.
"Bagaimana ini, pacarmu melihat kita" Stella menyeringai dan memaksa Changmin untuk melihat kebelakangnya.
"Ja-jangan sentuh Hoseok!" Changmin berucap ditengah rasa sakit akibat tembakan di kaki dan jambakan tangan Stella di rambutnya.
"Tidak ingin berteriak meminta tolong seperti pengecut, eoh?" Stella menertawai wajah pucat Changmin dan mengusap bibir Changmin yang sudah belepotan terkena lipstick Stella dengan ujung pistolnya.
"Haruskah aku menyelesaikan pacarmu lebih dulu?" Stella menaikan satu alisnya. Wajah cantiknya terlihat dingin dengan senyum cantik yang mengancam.
"Jangan sentuh dia…" geram Changmin.
"Aku jadi semakin ingin menyentuhnya." Stella mengarahkan pistolnya pada Hoseok yang masih saja berdiri kaku disana.
Tepat setelah suara klik terdengar dari pistol milik Stella, Hoseok terkesiap dan terjatuh kelantai. Kakinya kehilangan daya dan dia menyeret langkahnya semakin mundur dan terguling ditangga hingga kelantai.
"Hoseok…" ucap Changmin panic.
"Farewell, Shim Changmin" ucap Stella sambil tersenyum sinis.
.
.
.
TBC
banyak yang nanya identitas asli stella itu siapa. Kalau kakak yorobun, pengennya siapa? LOL
