"Mino-ya, ayo bangun, minum susu…" Jimin mengangkat Mino ke gendongannya, menggoyangkan botol susu dan mengarahkan dotnya ke bibir Mino.

Mino terlihat bergerak-gerak karena tidurnya terganggu tapi tetap mengisap susu dari dot miliknya.

"Minooo…." Panggil Jimin lagi sambil menggoyang-goyangkan botol susu karena Mino berhenti menghisap susunya.

Mino terlihat membuka mata, mengerjab beberapa kali dan kembali menyusu. Jimin tersenyum kecil, menggesek hidungnya ke pipi Mino yang terlihat memerah.

"Anak pintar…" puji Jimin.

Saat Jimin sibuk bermain dengan Mino, pintu kamar mereka terbuka, menampilkan Yoongi yang terlihat sedang melepaskan jasnya. Berjalan santai kearah Jimin dan Mino yang sedang duduk di tempat tidur.

"Ada yang tertinggal, hyung?" Jimin menaikan alisnya. Ini masih siang dan sangat jarang Yoongi pulang disiang hari.

"Tidak. Hanya ingin makan di rumah saja" jawab Yoongi kemudian mengecup dahi jimin dan menoel pipi Mino yang sedang minum susu.

"Tumben, biasanya makan di kantor" Jimin mengernyit. "Sedang tidak ada pekerjaan ya, hyung?"

"Ada, tapi tidak terlalu banyak" ucap Yoongi dan mendudukan diri di depan Jimin, tangannya bergerak memegang tangan Mino yang terkepal, menyusupkan jari telunjuknya ke telapak tangan Mino yang kemudian di genggam erat oleh anaknya.

"Oh, sebentar ya, hyung. Setelah Mino minum susu, nanti makanannya aku siapkan" sudah kebiasaan Jimin untuk meyiapkan makanan untuk Yoongi walaupun hanya sekedar menghidangkan. Jimin kurang pandai dalam hal memasak, lagian pembantu di rumah mereka lebih jago dalam urusan masak memasak.

"Tidak perlu, aku sudah meminta Song Ahjumma untuk mengantarkan makanan ke atas…"

"Uwwuu… Appa sudah mandiri Mino-ya. Biasanya harus papa yang menghidangkan makanan untuk Appa" Jimin menggoda Yoongi.

"Kau bilang aku tidak boleh manja" Yoongi menaikan bahunya.

Jimin tertawa kecil. "Lihat siapa yang mau mengalah untuk Mino…." Goda Jimin lagi.

"Jim, nanti akan ada tukang service AC yang datang" Yoongi mengalihka pembicaraan.

"Ne"

"Kau bisa mengawasinya, kan? Nanti suruh salah satu pelayan membawaa Mino turun ke bawah selama AC masih di bersihkan"

"Ne Appa"

Yoongi kembali memanikan jarinya yang digenggam oleh Mino erat, menatap anaknya yang juga sedang menatap padanya. Mino melepas botol susunya yang sudah kosong, matanya terus menatap Yoongi dan sesekali berkedip.

"Apa? Kenapa melihat Appa seperti itu?" Yoongi balas menatap pada Mino.

Mino masih saja menatapnya dan kemudian tanpa mereka duga, Mino tersenyum walaupun tidak sampai satu detik.

"Jim, Mino baru saja tersenyum padaku?" Tanya Yoongi antusias.

"Mino! Jangan pilih kasih, kenapa tersenyum pada Appa lebih dulu? Papa yang menjaga Mino setiap hari" Jimin mengajukan protes.

Yoongi tersenyum meremehkan pada Jimin. " Kau lihat itu, Jiminie? Sudah kelihatan kan Mino lebih sayang pada siapa?" Yoongi berucap sombong.

"Mino, tidak boleh begitu. Ayo senyum lagi…" paksa Jimin. Jarinya bergerak menarik pipi Mino hingga bibirnya tertarik pelan.

"Itu pemaksaan namanya, tentu saja Mino tersenyum padaku lebih dulu. Dia tau dia anak siapa, iya kan, Min Mino?" Yoongi berucap makin menyebalkan.

"Huh? Kita lihat saja nanti, kata pertama yang Mino ucapkan pasti Papa"

"Jangan terlalu percaya diri. Iya kan Mino-ya?" Yoongi mengecup tangan kecil anaknya.

"Kita lihat saja nanti"

Eum… kenapa ini jadi seperti kompetisi?

.

.

.

KOI NO YOKAN-2

.

.

.

"Disebelah sini" seorang pelayan di rumah Yoongi mengantarkan dua orang namja yang mengaku sebagai tukang service AC ke depan pintu kamar Jimin dan Yoongi.

Setelah mengetuk beberapa kali, akhirnya Jimin membuka pintu dengan Mino yang berada dalam gendongannya.

"Tuan, mereka yang ingin membersihkan AC" ucap pelayan itu sopan.

"Oh, iya, silahkan masuk" Jimin membuka pintu kamarnya cukup lebar. "Nara, tolong bawa Mino kebawah" Jimin memberikan Mino pada Nara yang langsung disambut Nara dengan senang.

"Ne tuan" ucap Nara.

"Silahkan masuk…" ucap Jimin lagi saat kedua namja itu masih berdiri di depan pintu.

Jimin masuk lebih dulu ke dalam kamar, menunjukan letak AC yang akan di bersihkan.

"Ambil tangga" ucap salah satu dari mereka.

"Kalian bisa menginjak sofa ini kalau tidak membawa tangga" Jimin menawarkan.

"Kami bawa tangga tuan" ucap salah satu dari mereka yang menggunakan kaos hitam.

"Oh, oke" Jimin tersenyum mengerti.

Tepat saat si kaos hitam keluar kamar, salah seorang dari mereka yang mengenakan topi berjalan mendekat pada Jimin. Jimin tercekat dan memundurkan tubuhnya ke belakang.

"Lama tidak bertemu, Park Jimin, atau sekarang harus ku sebut Min Jimin?" Jikyung menyeringai.

.

.

.

Yoongi merasa tidak tenang selama pertemuannya dengan mitra bisnisnya yang baru. Yoongi sedang berada di salah satu café tempat minum kopi yang biasa menyewakan ruangan VIP mereka untuk dipakai rapat atau pertemuan penting. Selama mendengarkan presentasi di depannya, Yoongi merasa dadanya berdebar tidak menyenangkan.

"Hyung, kau tak apa?" Namjoon mencondongkan tubuhnya kearah Yoongi yang duduk disampingnya. Tidak hanya sekali Namjoon melihat Yoongi seperti mengernyit dan menggelengkan kepalanya, terlihat tidak tenang, sangat berbeda dengan yoongi yang biasanya.

"Huh? Tidak apa" jawab Yoongi tak yakin.

"Kau terlihat gelisah" komentar Namjoon. "Kau tidak puas dengan apa yang mereka presentasikan?"

"Bukan. Aku hanya merasa perasaanku tidak enak. Dadaku berdebar aneh tiap mengingat Jimin dan Mino" ungkap Yoongi.

"Kau baru saja dari rumah, kan, hyung?" Namjoon mengernyit.

"Ya, aku tadi dari rumah satu jam yang lalu. Jimin dan Mino baik-baik saja, mungkin kopi-nya saja yang terlalu kuat, jadi dadaku berdebar tidak enak" ucap Yoongi.

"Bisa jadi" Namjoon membenarkan, memang salah satu efek dari kopi adalah dada berdebar. Tapi, Yoongi sudah sangat terbiasa dengan kopi, kan?

Yoongi berusaha konsentrasi selama rapat, berusaha bersikap professional dengan mengabaikan getaran ponselnya di saku kemejanya. Selesai rapat, Yoongi undur diri lebih dulu, memerika ponselnya yang tidak berhenti berbunyi. Ada nomor asing yang menghubunginya.

Yoongi membuka pesan yang masuk ke ponselnya dan matanya membola. Seseorang mengirim foto Jimin yang terlihat tidak sadarkan diri dalam keadaan berlutut di lantai dengan tangan dan kaki yang di ikat rantai. Yoongi merasa dadanya berdebar makin kencang. Jimin tidak baik-baik saja.

Yoongi menghubungi nomor yang berkali-kali meneleponnya, saat panggilannya di angkat, Yoongi mengeram marah.

"Lama sekali, Min Yoongi…." Ucap suara itu meremehkan.

"Kau…" geram Yoongi.

"Masih ingat denganku? Atau aku perlu memperkenalkan diri lagi?" Jikyung tertawa meremehkan.

"Dimana Jimin?"

"Santai sedikit. Setidaknya tanyakan dulu kabarku" ucap Jikyung, tawa meremehkannya bisa Yoongi dengar sangat jelas.

"Dimana Jimin?" Tanya Yoongi lagi, berusaha menekan amarahnya yang sudah siap akan meledak kapan saja.

"Bukannya kau sangat ahli dalam mencari seseorang? Kenapa tidak kau cari saja seperti dulu?" Jikyung meremehkan. "Satu jam, Min Yoongi. Waktumu hanya satu jam. Jika kau tidak menemukan Jimin, aku yang akan mengantarkan jasad Jimin ke rumahmu" Jikyung mematikan sambungan teleponnya.

Tangan Yoongi bergetar. Amarahnya benar-benar sudah berada di ujung kepalanya dan seakan siap meledak detik itu juga. Buru-buru Yoongi menghubungi Jackson dan meminta Jackson melacak nomor yang Jikyung pakai untuk menghubungi.

Namjoon keluar dan menatap Yoongi yang terlihat benar-benar marah sedang duduk dengan tidak tenang disalah satu bangku café. Tangan Yoongi terlihat mengetuk meja tidak sabaran. Namjoon yakin pasti ada yang salah dengan Yoongi.

"Hyung?" Namjoon menatap Yoongi penuh Tanya.

Yoongi hanya diam. Matanya benar-benar terlihat kelam. Sangat jelas namja pucat itu sedang dalam kondisi yang siap membunuh siapa saja.

Namjoon dengan berani merampas ponsel yoongi dan matanya terbelalak saat melihat foto Jimin terpampang di layar ponsel Yoongi. Buru-buru Namjoon menelepon Jackson untuk melacak tempat Jimin. Saat Namjoon mencoba menghubungi Jackson, Jackson sudah lebih dulu menelepon ke ponsel Yoongi.

"Hyung, tidak terlacak. Apa ada hal lain selain nomor ponsel ini?" Tanya Jackson di ujung telepon.

"Jackson, aku ada fotonya. Segera ku kirim" ucap Namjoon.

"Namjoon? Mana Yoongi hyung?"

"Sudah, kerjakan saja. Jangan banyak Tanya" ucap Namjoon dan mengirim foto Jimin pada Jackson.

"Hyung, tenangkan dirimu" ucap Namjoon takut-takut. Jika Yoongi sudah tidak bersuara, Namja pucat itu pasti sedang berpikir keras dan sedang menekan mati-matian amarahnya.

Tidak sampai tiga menit Jackson sudah menemukan lokasi Jimin. Namjoon memberitahukan Yoongi dan Yoongi langsung menyambar ponselnya dan pergi begitu saja dari café, sendirian.

"Brengsek!" Yoongi memaki. Waktunya sudah tinggal 45 menit dan jarak yang harus Yoongi tempuh cukup jauh, belum lagi keadaan cukup macet. Seperti kehilangan akal, yoongi menerobos lampu merah dan mengabaikan makian yang Yoongi terima dari kendaraan lain. Tidak hanya sekali Yoongi nyaris membunuh dirinya sendiri karena berkendara dengan sangat cepat.

Yoongi memarkirkan asal mobilnya disalah satu bangunan tua yang berada di sudut kota. Yoongi menendang pintu dengan keras dan matanya benar-benar terlihat kelam saat melihat Jimin dirantai dalam keadaan tidak sadarkan diri.

"Kau sudah datang, Min yoongi. Cepat juga" Jikyung melompat turun dari meja yang bertumpuk yang berada tidak jauh dari Jimin. "Lama tidak bertemu" Jikyung berdiri tepat membelakang Jimin hingga Yoongi tidak bisa melihat Jimin lagi.

"Apa mau mu?" ucap Yoongi dingin.

Jikyung mendengus dan tertawa meremehkan. "Aku mengundangmu ke sini untuk melihat bagaimana aku menghabisi kesayanganmu ini tepat di depan matamu" Jikyung bergerak kebelakang Jimin dan menjambak rambut Jimin hingga kepala Jimin mendongak.

Yoongi merasa seluruh darahnya memanas melihat Jimin di perlakukan tak layak seperti itu. Dia ingin segera membunuh Jikyung tapi Yoongi yakin Jikyung tidak sendiri disini. Pasti ada orang lain yang bersamanya dan yoongi yakin mereka sedang bersembunyi diantara bangku dan kursi yang sudah usang berdebu.

"Kenapa? Kau tidak marah Jimin-mu ku perlakukan begini?" ejek Jikyung dan menghempaskan kepala Jimin begitu saja.

Yoongi hanya diam dan menatap tajam pada Jikyung yang tersenyum mengejeknya.

"Tidak ingin menyelamatkan Jimin-mu? Kenapa kau hanya berdiri disana?" pancing Jikyung.

Tepat saat Yoongi melangkah, saat itu juga Jikyung mengeluarkan sesuatu dari kantongnya, mengarahkannya pada leher Jimin, matanya seolah menantang yoongi yang bergerak makin maju kearahnya.

"Maju dan Jimin-mu akan merasakan ini di kulit mulusnya" Jikyung mendekatkan alat berwarna hitam itu pada Jimin.

Yoongi berhenti. Jikyung sedang memegang stun gun ditangannya.

Tapi Jikyung bukanla orang yang bisa di peganga ucapannya, meskipun Yoongi berhenti, Jikyung tetap menyeturum Jimin dan membuat Yoongi berlari kearah Jimin. Langkahnya hampir sampai hingga seseorang menghantamkan balok kayu tepat di punggung Yoongi dan membuat Yoongi terjatuh.

Belum lagi selesai rasa sakit atas pukulan yang Yoongi terima, yoongi harus merasakan lagi setruman di tubuhnya beberapa kali dan membuatnya lemas.

"Jauhkan dia dariku" ucap Jikyung angkuh.

Yoongi diseret paksa menjauh dari Jimin dan Jikyung oleh beberapa orang. Rasa perih akibat diseret paksa tidak lagi Yoongi rasakan. Matanya hanya menatap lurus pada Jimin yang lagi-lagi disentuh oleh stun gun di tangan Jikyung. Yoongi rasanya ingin mati saja saat melihat Jimin seperti itu dan tidak bisa melakukan apapun.

Gelak tawa terdengar mengolok Yoongi yang sudah tidak bisa bergerak. Badannya terasa sakit seluruhnya dan membuatnya tidak sanggup berdiri lagi walau hanya untuk membela dirinya sendiri.

"Bangun" Jikyung dengan sengaja menendang bahu Yoongi yang sudah tersungkur di lantai kotor penuh debu. "Kenapa? Kau tidak bisa melawan ku? Lemah sekali, Min Yoongi. Dulu kau tidak seperti ini" ejek Jikyung.

Jikyung menjambak rambut Yoongi dengan keras hingga kepala Yoongi terangkat. Keduanya saling bertatapan dengan Yoongi yang menatapnya datar dan dingin.

"Bahkan disaat seperti ini kau masih berusaha menantangku?" Jikyung terkekeh, detik berikutnya dia menghempaskan kepala Yoongi ke lantai, ada darah yang sedikit mengalir dilantai. "Dimana para peliharaanmu, eoh?" ejek Jikyung.

Yoongi menutup matanya, kepalanya terasa sangat pusing saat terhempas menghantam lantai.

"Jangan pingsan dulu, kau harus melihat bagaimana aku menghabisi kesayanganmu secara perlahan" Jikyung menepuk pipi Yoongi dengan kasar.

"Kau tau Min Yoongi, jika aku tidak bisa memiliki Jimin, maka kau juga tidak bisa. Jadi kita impas" Jikyung terkekeh pelan.

"Rantai lehernya" perintah Jikyung pada orang-orang yang sedang berdiri di dekat Yoongi. Ada sekitar dua puluh orang lebih disana. Ini jelas bukan jumlah yang seimbang.

Yoongi merasa lehernya diangkat paksa lagi, sesuatu yang dingin dan keras melingkari lehernya. Bunyi gemerincing rantai besi terdengar begitu nyaring di telinga Yoongi.

"Kalian bisa menjadikannya samsak tinju kalian" ucap Jikyung.

Tidak sampai satu menit sampai Yoongi merasakan injakan dan pukulan yang mengarah pada tubuhnya secara betubi-tubi tanpa henti. Yoongi rasa kesadarannya sudah mulai akan menghilang sekarang.

.

.

.

"Mochhhiiii…." Stella berjalan riang dan melemparkan tas belanjaannya sembarangan saat melihat Mino yang sedang digendong pelayan di halaman belakang.

"Mommy Princess, selamat datang" ucap pelayan Yoongi sopan.

"Aw, kau sangat tahu cara menyenangkanku" Stella menepuk pelan kepala pelayan itu dengan riang. "Berikan Mochi padaku" Stella mengambil Mino dari gendongan pelayan itu dan menimang tubuh Mino.

"Ingin minum jus sayur, Nona?" tawa pelayan itu.

"Aku masih kenyang. Dimana anakku?" Stella bertanya tanpa melihat kearah pelayan rumah itu. Dia terlalu sibuk dengan Mino yang berada di gendongannya.

"Di kamar, AC kamar tuan besar sedang di bersihkan, jadi, tuan kecil dibawa ke bawah" jelas pelayan itu.

"Oh, oke. Kau istirahat saja. Biar aku yang menjaga Mochi" perintah Stella dan berlalu begitu saja keruang tamu. "Oh, sebelum aku lupa. Di depan ada belanjaan, aku membeli baju untuk Mochi, tolong bawa ke keranjang kotor untuk di cuci" ucap Stella.

Pelayan itu mengangguk dan membungkuk sopan.

Stella membawa Mino ke ruang tamu atas, menyalakan TV dan menonton bersama Mino yang ada di gendongannya. Sesekali Stella melirik kearah pintu kamar yang terbuka dan kembali menonton.

Sudah setengah jam Stella menonton dan tidak sedikitpun Stella mendengar suara mesin atu apapun dari dalam kamar Jimin dan yoongi, sedikit penasaran, Stella membawa kakinya ke arah kamar dan Stella mengernyit heran, tidak ada seorang pun di dalam kamar.

"Kitten? Kau didalam?" Stella mengetuk pintu kamar mandi pelan, mendekatkan telinganya ke daun pintu untuk memastikan apakah Jimin ada di dalam atau tidak.

"Kitten, ini Mommy. Kau didalam?" ucap Stella lagi. Setelah tidak mendengar sahutan apapun dari dalam, Stella membuka pintu kamar mandi yang tidak terkuci dan mengernyit lagi. Kamar mandi itu kosong.

Stella berjalan kearah dapur dimana ada seorang pelayan yang Stella kenal dengan panggilan Song ahjumma sedang sibuk mempersiapkan bahan masakan untuk makan malam.

"Ahjumma…" panggil Stella pelan.

"Nona Princess?" Song Ahjumma menaikkan alisnya dan tersenyum lebar menatap Stella yang baru muncul di dapur bersama Mino dalam gendongannya.

"Dimana Jimin?" Tanya Stella penasaran.

"Di kamar, Nona. AC di kamar tuan besar sedang di bersihkan"

"Tidak ada siapa-siapa di kamar" ucap Stella.

"huh?" Song ahjumma terkejut dengan ucapan Stella.

"Oh, sudahlah. Lanjut saja masaknya. Dimana ruang control CCTV di rumah ini?" Tanya Stella lagi.

"Ada di kamar tuan besar, hanya tuan besar yang bisa mengakses masuk kedalam ruangan itu, Nona. Membukanya harus dengan sidik jari" jelas Song Ahjumma.

"Oh, oke" ucap Stella dan berlalu dari dapur.

Perasaannya mulai tidak enak saat Stella menghubungi Yoongi tapi tidak juga di angkat. Merasa buntu, akhirnya Stella menghubungi sekertaris Yoongi dan lagi-lagi Stella merasa kesal karena Yoongi tidak ada di kantor.

"Kemana perginya orangtuamu, Mino-ya?" Stella menatap Mino cemas.

.

.

.

TBC