Stella tidak henti-hentinya mengumpat kata kotor dari mulutnya saat Namjoon meneleponnya. Ini benar-benar di luar pemikirannya. Anaknya dalam keadaan tidak baik-baik saja.

Setelah menitipkan Mino pada Song ahjumma, Stella memacu mobilnya ke tempat Jimin berada dari alamat yang di kirimkan Namjoon padanya. Stella kalut dan beberapa kali hampir menabrak mobil di depan dan disampingnya.

"What the f*ck is going on here?!" geram Stella. Dia tidak tau ada hal apa sampai Jimin harus di Sandera seperti ini. Belum lagi saat Namjoon bilang Yoongi pergi sendiri. Selain bodoh, Stella menganggap tindakan gegabah Yoongi itu namanya cari mati.

"Calm f*ckin down, Stella!" marah Stella pada dirinya sendiri. "Otakmu tidak bisa berpikir lurus kalau kau kalut seperti ini!" Stella memukul keras stir mobilnya sebagai pelampiasan.

"Ayolah, otakku, cepat beritahu aku apa yang harus aku lakukan..." geram Stella, masih saja berbicara dengan dirinya sendiri.

"SHIITT!" maki Stella saat dia benar-benar menabrak mobil di depannya. Stella mematikan mesin mobilnya dan turun dari mobil, bersamaan dengan pengendara mobil di depannya yang juga turun dengan wajah tak bersahabat.

"YAH! DIMANA OTakmu..." namja yang baru saja turun dari mobilnya itu mendadak menghentikan makian yang siap terlontar saat melihat wajah Stella.

"Yah! Aku turun karena ingin meminta maaf dan mengganti rugi. Kau bertanya dimana otakku? Ada! Disini!" Stella menunjuk kepalanya dengan geram.

Namja di depannya hanya diam sambil memandang Stella tanpa berkedip dibalik kaca mata hitamnya.

"Dengar, aku buru-buru. Aku tidak sempat mengurusi kerusakan mobilmu. Ambil ini untuk memperbaiki mobilmu" Stella menarik tangan namja itu dan memberikan setumpuk uang kedalam telapak tangan namja yang masih saja berdiri tak bergerak.

Stella berlalu tanpa mau repot-repot berurusan lagi dengan namja yang masih saja berdiri menatapinya. Stella berlalu melewati namja itu tanpa bicara apapun lagi bahkan hanya untuk mengklarkson, Stella tidak berminat. Stella memajukan mobilnya dengan sangat cepat, meninggalkan namja berkacamata hitam itu di pinggu jalan.

"Galak juga..." Yongguk tertawa setelah sadar dari keterpukauannya. "Benar-benar minta di jinakkan ternyata".

.

.

.

KOI NO YOKAN-2

.

.

.

"PAPA!" Stella berucap heboh saat teleponnya akhirnya diangkat.

"Ya, Nak? Kau baik?" Tanya tuan Min di ujung telepon.

"PAPA! Cucumu, anakku..."

"Huh? Sebentar, jangan panic. Tenangkan dirimu dulu, oke? Bicara pelan-pelan, ada apa?" Tanya tuan Min.

"Papa, aku butuh bantuan, sekarang. Alamatnya akan ku kirim. Anakku, Kitten, dia sedang tidak baik-baik saja" ucap Stella dengan nada cemas yang kentara.

"Apa maksudnya? Kitten kenapa?" Tanya tuan Min penasaran.

"Ada orang yang mengambilnya dariku!" Stella berucap geram.

"Berani sekali dia mengambil kesayangan anakku. Tenangkan dirimu, oke? Kirimi papa alamat Kitten berada, papa akan kesana sekarang" Tuan Min menenangkan.

"Sudah ku kirim. Cepat kesana, Pa!"

"Nak, dengar, kau tidak boleh panic. Kalau kau panic, kau hanya akan membuat dirimu dalam keadaan bahaya. Kau bisa menabrak orang. Kau sedang berkendara, kan?"

"Papa terlambat mengingatkan. Aku sudah menabrak orang tadi. Sampai bertemu disana, Pa" Stella memutuskan sambungan teleponnya sepihak.

Stella buru-buru memarkirkan mobilnya disamping mobil Yoongi yang terbuka pintunya dan mesinnya masih menyala. Stella turun dengan sebuah pisau terselip di sepatu boots hitam yang melindungi kaki hingga lututnya. Stella memperbaiki celana jeans ketat yang membalut kaki panjangnya, merapikan sedikit kaos putih polos yang memeluk ketat tubuh atasnya.

Stella berjalan masuk kedalam gudang yang terlihat kumuh dan mendengar adanya suara riuh tawa mengejek dari dalam gudang itu. Stella mengernyit dan detik berikutnya darahnya berdesir panas melihat apa yang terjadi di depannya. Jimin sedang di cium paksa. Kitten-nya di lecehkan.

"Pertunjukan yang buruk" Stella mengeraskan suaranya dan mengambil alih seluruh perhatian orang yang berada disana.

Jikyung langsung melepaskan tangannya dari rambut Jimin yang tidak sadarkan diri dan sedang dirantai.

Stella menatap ke sekitar. Jika dihitung, ada dua puluh orang namja yang berada di gudang ini. Dia bisa mati konyol kalau melawan mereka semua sendirian. Kalau satu lawan satu, Stella pasti bisa menanganinya, tapi kalau sekali maju dua puluh orang?.

"Kau siapa?" Tanya Jikyung sinis. Tangannya bergerak ke atas untuk menahan pergerakan orang-orang yang berada disana yang sudah bersiap menghajar Stella.

"Hanya kebetulan lewat saja. Ku dengar kalian sedang tertawa kencang. Ku pikir ada apa, ternyata hanya sedang melecehkan seseorang yang sedang tak sadarkan diri" ejek Stella.

Stella menyeret kursi kayu berdebu melewati kerumunan namja disana, menarik salah seorang namja berbadan kekar ikut dengannya yang langsung menerima reaksi siulan nakal dari mereka.

"Duduk, ya." Stella menekan bahu namja itu dan membuat namja itu duduk di kursi kayu. Siulan makin meriah saat Stella mendudukan diri dipaha kiri namja itu, kakinya menopang di kakinya yang lain, salah satu tangannya memeluk bahu namja kekar itu sebagai pegangan agar tidak jatuh dari pangkuan.

"Kau sedang menjajak diri atau hanya tersesat?" Jikyung menatap lurus pada Stella yang duduk santai sambil balas menatapnya.

"Anggap saja aku menjajakan diri" jawab Stella enteng dan mendapat sorakan riuh dari pria disana.

"Kau ku beri waktu untuk keluar dari gudang ini sekarang juga, anggap saja aku sedang berbaik hati pada wanita cantik sepertimu" Jikyung menyeringai.

"Oh my God, I'm touched" Stella tersenyum penuh binar pada Jikyung. "Sayang, bisa kau kunci pintu gudangnya?" Stella melirik kebelakang dimana namja yang lain dengan senjata ditangannya berdiri. Dadanya bertabrakan langsung dengan namja yang sedang didudukinya saat melihat kebelakang.

Lagi, tindakan Stella membuat para namja disana seolah tertantang. Siapa yang tidak akan meneteskan air liur melihat wanita cantik dan menantang datang sendiri tanpa di undang?.

"Punya nyali juga" Jikyung mendengus dan tertawa.

"Aku bahkan lebih mengejutkan dari yang bisa kau bayangkan." Stella mengedipkan satu matanya pada Jikyung. Diam-diam Stella melirik Yoongi yang terkapar dilantai dalam keadaan babak belur dan ada darah yang tercetak disekitar Yoongi terkapar. Stella memutar bola matanya.

Stella butuh mengulur waktu selama mungkin. Tidak ada waktu yang pasti kapan Papa-nya akan muncul. Menunggu Namjoon dan yang lain datang, jelas bukan pilihan Stella sekarang. Namjoon sedang dimana saja, Stella tidak tau. Dan Stella jelas akan berakhir seperti Yoongi jika dia melawan sekarang.

"Jadi, kalian sedang apa sebenarnya?" Stella berdiri dari duduknya, berjalan kearah Jikyung yang berdiri didekat Jimin.

Dengan sengaja Stella menginjak punggung Yoongi yang terkapar dan berpura-pura terkejut. "Astaga, apa yang baru saja ku injak?" Stella berpura-pura.

Yoongi menutup erat matanya saat badannya kembali diinjak. Rasa sakit yang belum hilang semakin bertambah karena Stella menginjak tubuhnya.

Jikyung berubah waspada dengan pergerakan Stella.

"Astaga, ternyata hanya sampah masyarakat. Mengagetkan saja" cibir Stella sambil menatap sinis pada Yoongi yang menatap sayu padanya.

"Jadi, kau sedang bermain apa, Daddy?" Tanya Stella ramah. Kepalanya bergerak miring untuk mengintip keadaan Jimin yang masih tak sadarkan diri.

Yoongi yang terkapar dilantai kembali menutup erat matanya, kepalanya benar-benar berputar dan penglihatannya terasa kabur. Sedikitnya dia bisa merasa lega karena ada Stella muncul disana.

"Tetap disana, Nona. Jangan mendekat" Jikyung menatap dingin pada Stella.

"Oh, oke" Stella menurut dan berdiri didekat Yoongi.

Jikyung terkesiap saat ada suara keras yang berasal dari mobil besar yang menabrak habis orang-orang bayarannya tanpa sisa bahkan menghancurkan kedua sisi bangunan. Hanya dalam hitungan detik keadaan sudah berputar. Orang bayarannya yang berjumlah puluhan itu sudah tidak bisa diandalkan lagi. Mereka berserakan penuh darah karena di tabrak oleh dua mobil besar sekaligus dan ada beberapa yang terlindas ban mobil.

"Jangan mendekat!" Jikyung mengarahkan stun gun miliknya pada Jimin lagi. Dia terancam.

"Apa acaranya sudah selesai, Princess?" tuan Min turun dari salah satu mobil besar itu dengan senyum cerianya, seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya. Seperti tidak ada orang yang bersimbah darah didekat mobilnya.

Pria dengan tampang dingin mengerikan itu berjalan menuju anaknya dan merangkul bahu Stella, menatap ramah pada Jikyung yang mulai gugup.

"Baru di mulai, Papa. Kenapa lama sekali?" Stella menyiku perut papa-nya dengan keras dan hanya ditanggapi dengan tawa menggema dari tuan Min.

"Maafkan Papa. Papa harus melacak gps mobilmu dulu" tuan Min mengacak surai panjang anaknya. "Jadi, ini dia orang yang merebut kesayangan anakku?" tuan Min berjalan kearah Jikyung.

"Kalau kau mendekat, Jimin tidak akan selamat" ancam Jikyung.

"Ah, Papa takut, Princess." tuan Min terkekeh dan menghentikan langkahnya.

" Papa, jangan mendekat. Dengarkan saja permintaan terakhir pecundang menyedihkan itu" Stella memperingatkan dengan gaya yang mengolok pada Jikyung.

"Oke, Papa mundur saja lagi" tuan Min mundur lagi kesamping stella. "Ah, Anakku, tebak Papa bawa siapa di mobil" ucap tuan Min dan mulai mengabaikan Jikyung.

"Siapa?" Tanya Stella penasaran.

"Papa bawa Yoongi!" Tuan Min tersenyum ceria. "Jaebum, turunkan Yoongi" perintah tuan Min pada Jaebum yang berdiri bersama empat bodyguard lain di dekat mobil.

Jikyung tidak bisa untuk tidak takut sekarang. Kedua orang didepannya ini pasti sudah tidak waras lagi. Yoongi yang mereka maksud bukanlah manusia, tapi macan kumbang besar berwarna hitam.

"Yoongiiii..." Stella berlari dan memeluk macan kumbang hitam itu dengan senang dan mengecup puncak kepala macan yang terlihat jinak padanya.

Stella menarik tali di leher macan itu dan kembali berjalan kesamping papanya yang sedang tersenyum hangat padanya.

"Kau senang?" Tanya tuan Min.

Stella mengangguk antusias.

"Yoongi belum makan saat sampai disini" Tuan Min menatap ramah pada Jikyung.

"Jangan coba mengancamku!" Jikyung berteriak keras dan kembali menjambak rambut Jimin.

"Astaga, kenapa kau biarkan adikmu babak belur?" Tuan Min akhirnya menyadari keadaan Yoongi yang terkapar di lantai dengan rantai besi melilit lehernya. Tuan Min berjalan dan melepas rantai di leher Yoongi, membalik tubuh Yoongi yang lemas dan meminta Jaebum membawa Yoongi ke mobil.

"Jimin..." guman Yoongi pelan.

"Tenang, ada Papa. Kau, tidurlah. Ini tidak akan lama, Papa membawa kembaranmu yang kelaparan" Tuan Min menepuk kepala Yoongi pelan dan membiarkan tubuh Yoongi di angkat oleh Jaebum dan seorang bodyguard nya.

"Itu karena dia saja yang bodoh, Papa. Membuat malu keluarga Min saja" cibir Stella saat Papa-nya kembali berdiri di sampingnya.

"Nah, Yoongi, anak Mommy, kau tahu kan siapa yang jadi makanan mu hari ini? Yang sedang tidur itu anak mommy juga, jadi tidak boleh kau sentuh. Kalau kau menyentuh kitten mommy, mommy akan menggorengmu, mengerti?" Stella membungkuk di depan macan kumbang miliknya, mengelus kepala macan itu dan melepaskan tali dilehernya.

"Siap untuk makanan mu hari ini?" Stella menatap Jikyung yang bersiap akan menyetrum Jimin lagi. "Lakukan dengan cepat, Yoongi" Stella melepas macannya.

Suara teriakan kesakitan dari Jikyung tidak ada satupun yang menghiraukan. Stella berjalan santai kearah Jimin dan melepas rantai yang mengikat Jimin tanpa ada kesulitan apapun. "Angkat Anakku" perintah Stella dan dituruti tanpa banyak bicara.

Stella menatap kosong pada tubuh Jikyung yang sudah robek dimana-mana tanpa ada ras belas kasihan di matanya, tidak heran kalau orang bilang dia sakit jiwa.

"Tikus sepertimu memang lebih baik untuk jadi makanan hewan saja" Stella berbalik, mengibaskan rambutnya santai seolah yang baru saja dilihatnya memang kejadian wajar.

"Cukup makannya, Yoongi. Ikut Mommy pulang sekarang" Stella berjalan lurus tanpa melihat lagi kebelakangnya. Macan kumbang miliknya mengikuti dengan patuh, meninggalkan sosok Jikyung yang sudah tidak bernyawa lagi dilantai penuh debu.

.

.

.

"Dimana Jimin?" Tanya Yoongi parau. Badannya sedang terbaring diatas ranjang rumah sakit. Setelah dari gudang itu, tuan Min membawa Yoongi langsung ke rumah sakit meskipun Stella tidak setuju.

"Di bawa si pecundang itu. Sudah dijadikan istri. Kalian sudah bercerai" ucap Stella asal. "Kenapa harus aku yang menjagamu disini" Stella mengomel. Padahal sejak tadi dia duduk disamping tempat tidur Yoongi tanpa bergerak sedikitpun hanya untuk memastikan keadaan adik sepupunya itu.

"Mino..." guman Yoongi lagi.

"Sudah ku adopsi jadi anak. Kau kalah di pengadilan karena sudah gagal jadi Appa" omel Stella lagi.

"Ya! asshole, aku tau otak di kepalamu itu hanya hiasan, tapi, apa memang instingmu tidak bisa bekerja? Pergi sendiri untuk menyelamatkan anakku, kau pikir kau keren?" omel stella tanpa henti.

"Cerewet" balas Yoongi dan menutup kembali matanya.

"Besok kau harus sudah bisa berjalan dan pulang dari rumah sakit. Aku tidak mau tau!" Stella berjalan menuju sofa dan mendudukan diri disana.

"Mom..." cicit Jimin yang sedang berdiri di depan pintu ruang rawat inap Yoongi lengkap dengan baju khas pasien miliknya.

Mendengar suara Jimin, Yoongi kembali membuka matanya. Rasa bersalah seolah menertawakan Yoongi saat itu juga. Dia merasa gagal.

"Kitten? Kenapa kemari?" Stella berdiri dari duduknya dan membantu jimin berjalan masuk kedalam ruangan.

"Yoongi hyung sudah sadar?" Tanya Jimin pelan.

"Matanya sudah menghijau, begitu kau datang" ejek Stella.

Jimin tersenyum lebar dan berjalan kearah Yoongi yang berbaring.

"Aku pergi dulu, baru kalian bermesraan" ucap Stella dan beranjak keluar dari ruangan Yoongi.

"Mommy!" Jimin merajuk. Dia malu.

Saat pintu tertutup dari luar, Jimin mendudukan diri di kursi disamping ranjang Yoongi, menatap sendu pada wajah Yoongi yang penuh lebam dan luka.

"Pasti sakit..." Jimin meletakkan kepalanya dibahu Yoongi, menggesekan pipinya yang mulai dialiri air mata.

"Aku senang kau baik-baik saja" Yoongi menaikkan tangannya dan mengelus rambut Jimin.

"Maaf aku ceroboh, hyung" isak Jimin pelan. Tangannya menggenggam tangan Yoongi yang berada di kepalanya.

"Salahku. Harusnya aku memperketat penjagaan dirumah. Jangan menangis, lupakan kejadian semalam. Kau harus sembuh, Mino membutuhkanmu" ucap Yoongi lagi.

"Mino juga membutuhkan Appa-nya" Jimin menegakkan tubuhnya, menatap sedih pada Yoongi yang malah terkekeh kecil melihat wajah menangis Jimin.

"Dimana Mino?" Yoongi mengalihkan pembicaraan.

"Dirumah Chae Appa, Eomma yang menjaga Mino sejak semalam. Eomma bilang Mino akan disana sampai kita benar-benar sudah pulih" adu Jimin.

"Syukurlah kalau begitu" Yoongi berucap lega, tapi saat melihat Jimin menangis makin keras, Yoongi mengernyit heran. "Kenapa menangis?" Yoongi menghapus air mata Jimin yang makin deras.

"Aku merindukan Mino. Chae Appa melarang Mino dibawa kerumah sakit karena Mino masih rentan terkena penyakit. Tapi... tapi... huks... ini pertama kalinya aku jauh-jauh dari Mino, hyung..." isak Jimin.

Yoongi tertawa kecil dan membuat perutnya terasa sedikit sakit. "Naik, sini" Yoongi menepuk ranjangnya, menggeser sedikit tubuhnya untuk berbagi tempat tidur dengan Jimin.

Jimin menurut, menidurkan tubuhnya di samping Yoongi, tangannya memeluk perut Yoongi pelan.

"Appa benar. Kasihan Mino kalau di bawa kesini. Besok kita pulang" Yoongi mengelus kepala Jimin untuk menenangkan.

Jimin mengangguk. "Hyung, ini pasti sakit semua kan?" Jimin menyentuh lembut lebam diwajah Yoongi.

"Sudah tidak sakit lagi" elak Yoongi.

"Bagaimana tidak sakit, lukanya saja masih basah" Jimin menatap sendu pada wajah Yoongi.

"Hanya luka kecil, tidak masalah. Di cium juga sembuh" Yoongi menatap lurus pada mata Jimin membuat Jimin salah tingkah dan buru-buru duduk di tempat tidur.

"Hyung! Kita sedang di rumah sakit" Jimin menatap memicing pada Yoongi.

"Aku tidak minta di cium sekarang juga, kan?" goda Yoongi.

Jimin merona.

"Sini tidur lagi" Yoongi menepuk bantal yang dipakainya agar Jimin kembali berbaring.

"Jangan macam-macam" ancam Jimin tapi tetap saja menurut dan menidurkan tubuhnya disamping Yoongi.

"Kata dokter Gyuri aku memang tidak boleh macam-macam sampai luka jahit bekas oprasimu sembuh. Jadi, tenang saja"

Jimin mencubit perut Yoongi. Niatnya hanya bercanda tapi Yoongi meringis saat perutnya terasa perih.

Jimin kembali mendudukan diri dan menatap penuh rasa bersalah pada Yoongi. "Hyung, sakit, ya?" Tanya Jimin panic dan mengelus bekas cubitannya di perut yoongi.

"Lumayan" yoongi terkekeh dan membuat Jimin semakin merasa bersalah.

"Hyung, maaf..." sesal Jimin. "Coba ku lihat"

Tanpa menunggu persetujuan dari Yoongi, pelan-pelan Jimin membuka kancing piyama rumah sakit yang Yoongi pakai dari yang paling bawah. Mata Jimin membola saat melihat tubuh Yoongi yang membiru nyaris diseluruh tempat. Jimin menangis lagi.

"Jim, tidak apa. Sudah tidak sakit" Yoongi menarik tubuh Jimin yang bergetar karena menangis. Memeluk tubuh Jimin erat meskipun badannya terasa sakit jika digerakkan.

Tidak ada yang Jimin ucapkan. Yoongi hanya mendengar isak tangis Jimin yang makin keras setiap Yoongi mengatakan dia sudah baik-baik saja. Tapi bekas luka fisik ditubuhnya memang tidak bisa berbohong.

"Jangan menangis, Jim. Ini sudah tidak sakit" bujuk Yoongi dan mengecup kepala Jimin berkali-kali.

"Ini semua karena aku, hyung. Aku menyesal..." isak Jimin.

"Kau ini bicara apa? Aku akan marah kalau kau menyalahkan dirimu lagi. Ini bukan salahmu"

"Hyung maaf..." isak Jimin pilu.

"Sudahlah. Kalau kau menangis, badanku jadi sakit lagi..." Yoongi mengelus kepala Jimin.

Hampir setengah jam penuh Jimin menangis dalam pelukan Yoongi hingga akhirnya Jimin merasa lelah dan mulai tertidur.

Yoongi menatap kelangit-langit di kamar rawatnya, Jimin masih meringkuk disampingnya. Sesekali Yoongi aku mencium dahi Jimin jika Yoongi mendengar isakan Jimin dalam tidurnya. Kepala Yoongi terasa penuh sekarang, Ingatan soal semalam kembali masuk dalam kepalanya saat di depan matanya Jimin di cium dan tubuhnya di sentuh sembarangan. Mengingat itu Yoongi merasa ingin sekali membunuh Jikyung. Kemudian ingatannya kembali kesaat sebelum dia dibawa pergi dari gudang, Saat terakhir sebelum kesadarannya hilang, dia masih bisa melihat Namjoon yang berlari panik bersama Jackson dan Wonho, dan seekor macan kumbang hitam yang membawa daging penuh darah di mulutnya. Yoongi jadi penasaran, daging siapa yang dibawa Yoongi di mulutnya.

.

.

.

"Kasus ini bisa kita buat untuk menjebak Min Yoongi. pertama kasus Shim Changmin yang di serang di kantor dan yang kedua kasus penculikan Park Jimin dengan korban meninggal 22 orang, bukannya Min Yoongi ini terlalu luar biasa?. ingat, jangan bawa kasus ini ke media"

TBC