"Aku tidak suka orang yang bekerja tidak becus. Aku ingin si Changmin itu terlihat kecelakaan secara alami" Namjoon menatap lurus pada Kai yang sedang mengangguk paham di depannya.

"Apa ini perintah dari Yoongi-ssi?" Kai menaikkan alisnya.

"Ne. kau tau kan, dia tidak suka orang yang terlalu banyak mencari tahu soal kehidupannya, apalagi kehidupan 'bawah tanah' nya. Dia ingin malam ini juga si Changmin itu selesai"

"Tapi Stella-ssi bilang..." Kai menatap bingung pada Namjoon.

"Dia sudah menemukan mainan barunya. Terlalu lama membiarkan Changmin berkeliaran, itu bisa mengganggu kesenangan Yoongi hyung. Tapi, kalau kau menolak untuk bekerja kali ini, aku yang akan turun tangan langsung. FYI, uang yang akan masuk ke rekeningmu bukanlah jumlah yang sedikit" Namjoon menyeringai saat melihat Kai mulai goyah.

"Berapa?" Tanya Kai ragu.

Namjoon tertawa dan membuka laci miliknya, meletakkan sebuah buku tabungan atas nama Kai diatas meja.

Kai dengan ragu mengambil buku tabungan itu dan menatap lurus pada Namjoon.

"Kenapa diam? Kau tidak ingin tau jumlahnya?" pancing Namjoon. "Kalau kau tidak mau, uang itu akan masuk ke tempatku sekarang juga. Aku hanya sedang berbaik hati dengan memberimu pekerjaan, Kai. Wonho sedang sibuk mengurus club, itu kenapa aku memintamu melakukannya"

Kai terdiam beberapa detik, tangannya terulur membuka buku tabungan itu. Saat matanya menangkap jumlah yang fantastis di dalam buku tabungan itu, Kai menyeringai.

"Yoongi-ssi memang yang terbaik" Kai berdiri dan memberikan kembali buku tabungan itu pada Namjoon. "Malam ini, uang itu jadi milikku" ucap Kai.

"Aku suka anak muda yang optimis" Namjoon tertawa senang. "Pastikan dia bertemu Tuhan lebih dulu baru kau bisa menemuiku, anak muda"

.

.

.

KOI NO YOKAN-2

.

.

.

"Hyung?" Jimin menepuk pelan bahu Yoongi yang sedang berdiri di dekat pintu kaca samping yang mengarah langsung ke taman dan kolam renang milik mereka. Di depan sana sedang ada beberapa tukang yang bekerja mengeruk tanah disamping kolam dengan sebuah alat berat .

"Jim?" Yoongi berbalik dan tersenyum kecil, merangkul Jimin yang sedang menggendong Mino di tangannya.

"Kenapa tanahnya di keruk?" Jimin mengernyit heran. "Kenapa hyung tidak bilang kalau sudah pulang?"

"Tadi aku sudah ke kamar, tapi kau dan Mino sedang tidur, jadi aku ke bawah lagi" jelas Yoongi.

"Lalu tanahnya?"

"Oh, itu untuk membuat kolam yang lebih dangkal"

"Kolam berenang? Bukannya sudah ada?" Jimin menatap lurus pada Yoongi dan di hadiahi kecupan di hidungnya.

"Untuk Mino"

Jimin terkekeh. "Aigoo Mino-ya... Appa memberikanmu hadiah kolam berenang, bilang terimakasih pada Appa"

Yoongi menatap datar pada Jimin yang sedang tertawa.

"Kalau aku dapat hadiah apa, hyung?" Jimin menatap berbinar pada Yoongi.

"Ucapan terima kasih dari hatiku yang paling dalam." Yoongi berucap datar.

"Menyebalkan" Jimin memukul pelan lengan atas Yoongi.

"Mino masih tidur? Kenapa dibawa keluar?" Yoongi memainkan tangan kecil anaknya dan meletakkannya diatas telapak tangannya yang besar.

"Tadi sudah bangun, hyung. Waktu ku bawa berjalan ke bawah, dia tidur lagi" Jimin terkekeh. "Mau gendong?"

"Huh?" Yoongi memundurkan langkahnya karena terkejut.

"Astaga, hyung. Ini hanya bayi, anakmu. Kenapa takut?" Jimin mengernyit saat melihat wajah panic Yoongi.

"Siapa yang takut?" elak Yoongi.

"Lihat Appa-mu, Mino-ya. Katanya tidak takut tapi dia terkejut hanya karena disuruh menggendongmu.." cibir Jimin.

Yoongi memilih tidak meladeni ucapan Jimin. Yoongi merapatkan Jimin ke sisi tubuhnya dan memeluk pinggang Jimin dengan salah satu tangannya.

"Dulu, sebelum Mino lahir, sepertinya hyung jarang sekali di rumah" Jimin melihat ke sisi samping wajah Yoongi.

"Memangnya kenapa? Kau tidak suka suamimu pulang ke rumah lebih cepat?" Yoongi memiringkan wajahnya dan bertatapan langsung dengan Jimin.

"Ani. Aku senang hyung lebih sering di rumah." Jimin tersenyum lebar.

"Oh ya, nanti malam temani aku pergi ke acara relasi bisnisku" itu bukan pertanyaan, itu perintah, jadi Jimin tidak punya pilihan selain menurut.

"Kemana hyung? Lalu Mino?"

"Acara di aula hotel. Tentu saja kita bawa Mino"

"Kalau begitu aku bilang mommy dulu, hyung"

"Huh? Kenapa harus izin padanya? Yah, Park Jimin, kenapa kau lebih menurut pada Stella daripada aku?"

Jimin terkekeh. "Aku sudah berjanji pada Mommy malam ini, hyung" Jimin mengelus dada Yoongi pelan-pelan. "Mommy mengajakku untuk menonton video konserku dulu"

"Video konser?"

Jimin memutar bola matanya. "Hyung, aku bahkan yakin kau tidak tahu lagu-lagu yang dulu aku nyanyikan" Jimin berdiri di hadapan Yoongi.

Yoongi tersenyum dan menggusak rambut Jimin. Dia tidak tega untuk mengatakan 'iya', jadi dia memilih untuk tersenyum saja sebagai jawaban.

"Sudah ku tebak" Jimin berucap kesal.

Ayolah Park Jimin, suamimu bahkan menonton televise terakhir kali selama satu jam itu saat kau masih membawa Mino yang berumur sebulan di perutmu, apa yang kau harapkan dari suami mu yang bahkan harus membuat janji jauh-jauh hari untuk ditemui?.

"Hey, kenapa malah marah?" Yoongi memeluk Jimin, membuat anaknya terjepit diantara mereka.

"Tidak marah" elak Jimin.

Yoongi tertawa kecil dan menangkup pipi Jimin dengan kedua tangannya. Matanya berkilat jahil saat melihat Jimin yang masih kesal dan berusaha melepas tangan Yoongi dari pipinya.

"Nanti aku akan memutar lagu mu sepanjang hari di kantor" Yoongi terkekeh.

"Tidak perlu"

"Mino-ya, papa merajuk" Yoongi menunduk untuk mengecup pipi anaknya yang masih saja tertidur, tangannya terlepas dari pipi Jimin.

"Itu karena Appa menyebalkan" Jimin ikut ikutan mengadu, padahal anaknya tidak perduli dengan pertengkaran kekanakan orangtuanya.

"Sudah tahu menyebalkan, masih saja mau diajak menikah. Punya anak lagi" balas Yoongi.

"Papa di paksa" Jimin tak mau kalah.

"Kapan aku memaksamu?" Yoongi mengernyit menatap Jimin.

"Waktu di Busan"

"Tidak. Aku tidak memaksa, aku bahkan memberimu pilihan"

Jimin terdiam. "Aku akan tidur di kamar tamu malam ini" Jimin berjalan melewati Yoongi dengan kaki yang menghentak kesal.

Yoongi yang menatap punggung Jimin mulai tertawa kecil dan berjalan menyusul Jimin dan Mino yang sudah berdiri ditangga pertama.

"Jangan ikut-ikutan!" Jimin menatap sengit pada Yoongi yang masih saja tertawa.

"Kata orang-orang, kalau masih melirik ke belakang itu artinya minta disusul" Yoongi tertawa remeh.

"Tidak. Aku tidak lihat kebelakang. Ini namanya menatap kesamping, bukan ke belakang" Jimin berkeras.

"Sama saja. Kau tetap mencari keberadaanku, kan?" ejek Yoongi.

"Kau menyebalkan, hyung" Jimin melanjutkan jalannya.

"Tapi aku suamimu" Yoongi tertawa dan tetap ikut menyusul Jimin menaiki tangga.

"Jangan ikut!" Jimin berbalik kebelakang untuk melihat Yoongi.

"Aku mencintaimu, Park Jimin" Yoongi berucap dengan nada bercanda.

"Tidak dengar! Tidak lucu!"

"Jiminie, saranghae" Yoongi menjadi-jadi.

"Tidak dengar" Jimin berjalan makin cepat meniti tangga. Wajahnya memerah malu.

"Papa Mino, I love You"

"Kau norak, hyung"

Bukannya berhenti, Yoongi makin tertawa keras dan menggoda Jimin tanpa henti. "Jiminie, sayangku hanya padamu"

"Hyuuunnggggggg" Jimin berteriak kesal dan malu. Sekalinya mengatakan cinta, kenapa suaminya ini malah bercanda.

.

.

.

"Aku rasa ini cukup bagus" Gyuri menaikkan kalung dengan hiasan mata berlian kearah Stella.

"Terlalu feminim" Komentar Stella dan kembali sibuk menatap etalase kaca di depannya.

"Kita mencari kado untuk siapa?" Gyuri meletakkan kembali kalung ditangannya dan menyerahkannya pada pemilik toko perhiasaan yang sejak tadi melayani mereka berdua.

"Anakku, Kitten"

"Jimin-ssi ulang tahun?"

"Tidak. Asshole menyuruhku untuk membelikan perhiasan untuk Kitten."

"Yoongi-ssi maksudnya?" Gyuri menatap bingung pada Stella.

Stella mengangguk tanpa minat.

"Romantis juga ternyata. Aku pikir Yoongi-ssi itu orang yang keras dan tegas" komentar Gyuri.

"Dia hanya lemah pada Jimin dan takut pada anaknya" ucap Stella tak peduli.

"Aku pernah membaca beberap artikel yang membahas soal Jimin dan pernikahannya. Banyak komentar jelek yang muncul disana. Ada yang bilang Yoongi-ssi sebenarnya terpaksalah, menikah karena Jimin hamillah, bahkan ada komentar paling jahat yang pernah bilang Jimin-ssi menjebak Yoongi-ssi. Keterlaluan, kan?" Gyuri tertawa dan menggelengkan kepalanya.

"Untung saja mereka bersembunyi dibalik akun palsunya, kalau tidak, aku sendiri yang akan merobek jari-jari sampah mereka agar tidak bisa meninggalkan komentar jahat lagi"

Gyuri tertawa. Menjadi dokter pribadi Jimin dan sahabat Stella, membuat Gyuri tau cukup banyak soal Stella yang sangat sayang pada Kitten-nya. Stella ini sudah bisa dinobatkan sebagai 'Angry- Possessive Mom of the year' menurut Gyuri.

"Bagaimana Mino?" Gyuri mengalihkan pembicaraan.

"Dia semakin pintar" Stella tersenyum lebar. "Jarang menangis dan mulai mengeluarkan suara-suara imut seperti gumanan. Astaga, rasanya seperti masuk surga saat mendengar suara kecil Mochi-ku itu"

"Memangnya kau sudah pernah ke surga?"

"Kau tidak pernah mendengar kata perumpamaan? Sekolah dokter bertahun-tahun tapi hal sepele begitu saja tidak paham" Stella memutar bola matanya.

Gyuri mencebikkan bibirnya. "Oh, kau ingat Jisung? Mantan pacarmu? Dia bekerja di…"

"Aku ambil yang ini" potong Stella. Tangannya sudah memegang sebuah kalung berbandul batu berlian hitam.

"Pilihan yang bagus" puji Gyuri dan mendadak lupa dengan ucapannya barusan.

"Tentu." Ucap Stella bangga.

"Oh ya, soal Jisung.."

"Shut up, Gyuri!"

Keduanya keluar dari toko perhiasan yang ada di sebuah Mall itu sambil berbincang kecil. Keduanya menuju sebuah restoran untuk makan malam. Hari ini Jimin sudah bilang kalau dia tidak bisa menonton video konser di rumah karena Yoongi mengajaknya pergi, jadilah Gyuri yang dijadikan Stella korban untuk menemaninya.

Keduanya duduk berhadapan dan sibuk memilih pesanan, kemudian kembali berbincang hal-hal yang tidak terlalu penting untuk dibahas.

Saat sedang sibuk makan, seorang pelayan berjalan kemeja mereka dan membawa sebuah kertas bill dan tersenyum ramah pada Stella dan Gyuri.

"Kami belum minta bill" Gyuri menatap bingung pada pelayan laki-laki yang berdiri canggung di samping meja mereka.

"Kau salah meja" Stella menaikan alisnya.

"Oh, bukan Nona, ini memang bill untuk meja ini…"

"Tapi kami tidak minta bill" Stella mengernyitkan alisnya.

"Ini sudah dibayar" jelas pelayan itu cepat-cepat sebelum ucapannya kembali di potong.

Stella da Gyuri saling berpandangan, keduanya bingung.

"Dan di bill ini ada pesan untuk anda. Nona Stella, kan?" Tanya pelayan itu memastikan dan tersenyum ramah pada Stella.

Stella mengangguk masih kebingungan. "Terimakasih" ucap Stella basa-basi.

"Lihat" Gyuri menarik kertas bill ditangan Stella yang sudah bertulisan tangan dibaliknya.

'Bagaimana urusan mobilku, Stella-ssi?'- BYG. Setelah membaca pesan yang ditulis oleh pengirim pesan itu, Gyuri mengembalikan kertas bill itu pada Stella.

"Si brengsek ini" maki Stella geram, matanya melirik kesekeliling ruangan untuk mencari keberadaan pria yang ditabraknya kemarin. Meskipun samar, Stella yakin dia bisa langsung mengenali pria itu jika bertemu.

"Siapa BYG?" Gyuri mengernyitkan alisnya.

"Pria yang sempat aku tabrak mobilnya. Ini benar-benar membuatku kesal"

"Kenapa kesal? Dia membayar makanan kita." Gyuri menatap bingung pada Stella.

"Kau tidak lihat dia menyepelekan ku? Dia pikir aku tidak mampu mengganti kerugian mobilnya!"

"Hey, ratu pemarah, sudahlah. Ambil sisi baiknya saja, setidaknya kita makan gratis hari ini" Gyuri terkekeh. "Kalau tau akan di traktir begini, aku memesan lebih banyak saja"

"Kau bisa memesan semua menu di restoran ini, Gyuri. Jangan berlagak seperti orang susah" Stella memutar bola matanya.

"Kalau pakai uangku sendiri kan tidak asik"

Stella mendengus. "Lihat saja, kalau aku bertemu muka dengannya, aku benar-benar akan melempar lembaran uang ke mukanya!" geram Stella.

.

.

.

Jimin meletakkan tubuh kecil Mino pelan-pelan diatas tempat tidur agar Mino tidak terganggu. Perlahan Jimin membuka pakaian Mino dan mengganti pakaian anaknya ke pakaian yang lebih nyaman. Tidak jauh dari mereka, Yoongi sedang tersenyum kecil melihat Jimin yang sepertinya sudah bisa menjaga Mino dengan benar.

"Hyung, tolong temani Mino sebentar, aku ingin ganti baju" pinta Jimin.

Tanpa menjawab, Yoongi berjalan kearah tenpat tidur dan melepaskan jas yang sejak tadi dipakainya di acara pesta. Namja pucat itu menidurkan tubuhnya di samping Mino yang sudah tidur telentang dengan kepala miring ke kiri, tepat ke samping Yoongi.

"Hey, gendut" panggil Yoongi sambil mencium pipi bulat anaknya.

Mino terlihat sedikit bergerak karena terganggu dan hal kecil itu membuat Yoongi tersenyum.

"Kau benar-benar anakku ternyata, kita punya hobi yang sama" Yoongi terkekeh.

"Hyung, tidak ganti baju?" Jimin muncul dengan bathrobe yang membalut tubuhnya, Yoongi mengernyit melihatnya.

"Mau mandi?"

"Huh? Oh, ani. Aku sedang mencari penjepit rambut, hyung. Aku ingin cuci muka" ucap Jimin.

"Kesini" panggil Yoongi.

Jimin menaikkan alisnya dan tetap bertahan diposisinya didekat sofa.

"Yah, Min Jimin" panggil Yoongi tak sabaran.

"Kenapa, Appa? Kau butuh sesuatu?" Jimin terkekeh dan berjalan menuju Yoongi yang duduk didekat Mino.

Yoongi menurunkan tungkai kakinya saat Jimin sudah berada disamping tempat tidur, tangan pucatnya menarik Jimin agar mendekat. Tanpa Jimin duga, Yoongi memeluk pinggangnya dan menyurukkan wajah pucatnya di perut Jimin.

"Sedang manja, huh?" Jimin terkekeh. Jari-jarinya bergerak memainkan rambut Yoongi. Rasanya sudah lama Jimin tidak memanjakan suaminya ini. Kasihan juga.

"Nanti aku akan ke club, ada urusan dengan Namjoon" gumanan Yoongi teredam di perut Jimin.

"Jam berapa hyung akan pulang?" Jimin menunduk, mengecup puncak kepala Yoongi.

"Subuh mungkin"

Jimin terdiam.

"Malam ini saja. Besok tidak pergi ke club" Yoongi berbicara lagi saat Jimin masih terdiam.

Yoongi mendongak dan melihat Jimin hanya menatap kosong kearah tempat tidur. "Hey, Jiminie"

Jimin menghembuskan nafasnya. Sekalipun Jimin tidak suka Yoongi pergi ke club lagi, tapi Jimin tidak berani melarang, bagaimanapun itu pekerjaan Yoongi dan akhirnya Jimin mengangguk, pertanda dia setuju.

Yoongi menarik Jimin hingga terduduk di pahanya, tersenyum nakal dan mendapatkan cubitan di perutnya.

"Aku tidak bilang apa-apa, kenapa dicubit?" Protes Yoongi.

"Wajahmu terlihat mesum, Hyung" Jimin memicingkan matanya.

"Aku hanya ingin minta cium"

"Tinggal bilang, kan? Kenapa memasang wajah seperti tadi?"

"Seperti apa memangnya?" pancing Yoongi.

"Wajah Yoongi hyung seperti ingin memakanku hidup-hidup"

"Aku tidak tau ekspresi wajahku sejujur itu" Yoongi tertawa dan lagi dihadiahi cubitan oleh Jimin.

"Sini" Jimin menarik wajah Yoongi mendekat, mencium Yoongi pelan beberapa menit sampai Yoongi akhirnya yang memegang kendali. Jimin meremas kemeja Yoongi saat lidah Yoongi mejelajah didalam mulutnya dan Jimin kelepasan mendesah karena Yoongi menjalankan telapak tangannya dipaha Jimin yang terlihat sebagian karena bathrobe-nya yang tidak lagi sempurna menutupi paha dan dadanya.

"H-hyuung…" Guman Jimin gemetar. Yoongi sudah berpindah menuju dadanya. Remasan tangan Jimin di kemeja Yoongi terlihat mengerat dan nafas Jimin terasa memberat. Ini bisa gawat kalau di lanjutkan.

"Hyuungg…" rengek Jimin saat Yoongi malah makin membuka lebar bathrobe yang Jimin kenakan dan memunculkan sebelah bahu Jimin.

"Eung…" Jimin dan Yoongi membatu. Anaknya terbangun dan sedang menatap polos pada Yoongi dan Jimin.

"Astaga!" Jimin mendorong bahu Yoongi, memperbaiki bathrobe-nya buru-buru. "Mino… kau bangun?" Jimin salah tingakah. Tangannya terulur untuk mengambil bayi kecilnya di tempat tidur.

"Mino-ya. kasihan sedikit pada Appa-mu" Yoongi meletakkan dahinya diperut Mino yang sedang dipangku Jimin.

Jimin tertawa dan mengelus kepala Yoongi pelan. "Hyung, kau berat, kasihan Mino"

Baru saja Yoongi ingin mengangkat kepalanya, Yoongi merasakan ada tangan kecil yang sedang mencengkram pelan rambutnya. Tangan Namja pucat itu terulur memegang tangan kecil anaknya dengan dahi yang masih menempel diperut Mino.

"Oke, Appa kalah. Kau bos nya sekarang. Papa milikmu, bisa lepaskan rambut Appa sekarang?" guman Yoongi.

Bukannya dilepas, Mino malah tetap bertahan dengan tangan kecilnya yang menjambak rambut Yoongi pelan.

Yoongi terkekeh, melepaskan tangan anaknya dari rambutnya pelan-pelan, mengangkat kepalanya dan menggantikan rambutnya dengan jarinya yang kini di genggam Mino dengan erat.

"Kenapa kau kecil sekali? Huh?" Yoongi menatap lurus pada anaknya yang sedang menatapnya juga.

"Appa, gumawo" guman Jimin pelan.

Yoongi mengangkat kepalanya dan melihat Jimin tersenyum hangat padanya. Jimin harus akui, Yoongi sudah sangat banyak berubah sejak mereka memiliki anak. Pria pucat ini tidak lagi kaku seperti dulu. Yoongi bahkan sudah pintar menggodanya sekarang.

"Huh?"

"Terimakasih sudah mencintai kami berdua" ungkap Jimin tulus.

Yoongi terdiam, ada rasa hangat yang menjalar di dalam dadanya saat Jimin mengungkapkan itu padanya. "Harusnya aku yang berterimakasih" Yoongi menggusak rambut Jimin pelan.

.

.

.

"Mana Asshole?" Stella membanting pintu dibelakangnya dengan keras. Luhan yang sedang berbincang dengan Namjoon bahkan terkejut dengan kemunculan Stella yang tiba-tiba.

"Sedang di ruangan Wonho…" jawab Namjoon tak yakin. Sepertinya singa betina ini sedang benar-benar marah.

"Ada apa, Princess?" Tanya Luhan hati-hati.

Stella mengibaskan rambutnya kebelakang dan berjalan kesal kearah meja kerja Luhan dan mendudukan bokongnya diatas meja.

"Si Asshole brengsek itu, berani sekali dia membunuh Changmin" geram Stella.

Namjoon menelan ludahnya susah payah.

"Kau terlibat" tuduh Stella, matanya memicing tajam pada Namjoon.

"Huh?"

"Oh, tentu saja kau terlibat, Kim Namjoon" Stella memutar bola matanya. Rasanya kesal sekali saat mendengar Changmin sudah tidak bernyawa. Hey, nyawa Changmin itu hak nya!.

"Dengar Stella…"

"Suaramu keras sekali" Yoongi yang baru saja muncul di ruangan Luhan menatap kesal pada Stella yang duduk diatas meja Luhan.

"Ini dia adik brengsek yang berani sekali menentang perintahku" Stella berdiri diatas meja, tangannya bersidekap didepan dada.

"Apalagi sekarang? Mana hadiah Jimin?" Yoongi berucap santai dan mendudukan diri disamping Namjoon yang sudah memasang alarm tanda bahaya ditubuhnya. Stella ini gila, tindakannya tidak pernah terbaca, makanya Namjoon perlu waspada.

"Kenapa kau membunuhnya?" Stella menatap Yooongi dengan tajam.

"Itu kecelakaan" Yoongi berucap santai.

"Cuma orang awam yang akan percaya kalau itu kecelakaan, Asshole!"

"Anggap saja aku orang awam" Yoongi berucap tak peduli.

"Si brengsek ini" Stella berjalan dan menendang bahu Yoongi sampai Yoongi tersudut di sandaran kursinya. "Kau tau aku tidak suka dilanggar, kan?" geram Stella.

"Kau tau aku tidak pernah taat aturan" balas Yoongi.

Stella makin menekan keras heelsnya pada bahu Yoongi. "Kau mau mati?"

"Kau mau anakmu cepat jadi duda?" balas Yoongi.

"Berterimakasihlah karena kau menikah dengan Kitten ku, brengsek" Stella menarik kakinya dan kembali duduk diatas meja.

Yoongi hanya menaikkan bahunya tak peduli.

"Kai menghantam jackpot kali ini" Luhan berucap tiba-tiba.

"Apa maksudmu?" Tanya Namjoon penasaran.

"Selain Changmin, ada korban lain" Luhan tersenyum.

"Huh? Tentu saja ada. Itu kecelakaan beruntun" ucap Yoongi.

"Memang ada orang penting lain yang jadi korban?" Tanya Stella.

"Ada. Bang Yongguk, si pemilik kartel minyak yang biasa menjual perempuan di perlelangan manusia" Luhan terkekeh.

"Wow, kau harus membayar Kai jauh lebih mahal, hyung" canda Namjoon.

Yoongi tertawa kecil. "Aku yakin dia belum mati. Kalau dia sampai mati, akan ada satu orang yang dia gentayangi di ruangan ini"

Luhan menatap horror pada Yoongi. "Bos, kau tau itu tidak lucu. Jangan membicarakan soal makhluk tak kasat mata disini"

Namjoon tertawa keras. Membuat Stella dan Luhan menatap bingung pada Yoongi dan Namjoon yang sedang bertos ria didepan mereka.

.

.

.

"Ini ponsel milik salah satu korban, pak" seorang berpakaian polisi yang bekerja di TKP menunjukan ponsel temuannya pada atasannya.

"Oke" ucap sang atasan.

"Maaf, dok, bisa pegangkan ponsel ini sebentar? Aku harus kesana sebentar" polisi itu menunjuk mobil yang terbalik dan mengeluarkan asap dari mesinnya.

"Oh, ne" Jisung mengangguk kaku. Keadaan begitu kacau di TKP, banyak darah tumpah di aspal dan itu membuat Jisung semakin maul.

"Ya, Dokter yang disana" seorang namja yang duduk di dalam ambulan memanggil Jisung yang masih berdiri ditempatnya.

"Ya?" Jisung berjalan mendekat pada Namja itu. "Apa masih ada yang sakit?" Tanya Jisung khawatir. Kepala Namja itu sudah di balut perban, tangannya juga sudah diobati.

"Bukan, itu ponselku" Yongguk tersenyum ramah.

"Oh, maaf" Jisung menyerahkannya tanpa berpikir dua kali.

Sesaat sebelum ponsel itu sampai ke tangan Yongguk, Jisung tanpa sengaja memencet tombol bulat di ponsel yang sudah retak layarnya itu. Jisung merasa nafasnya mendingin melihat wallpaper ponsel milik Yongguk.

Yongguk yang jeli, bisa menangkap raut terkejut diwajah Jisung. "Ada apa dokter? Kau seperti terkejut melihat foto kekasihku?" Yongguk menaikkan alisnya.

"Ke-kekasih?" ulang Jisung tak yakin.

"Huh? Yah! Apa-apaan wajah tidak percayamu itu. Dia benar-benar kekasihku!"

Jisung terdiam memandangi wajah Yongguk.

"Dengar dokter, aku sudah punya pacar, jangan memandangku seperti itu, nanti kau jatuh cinta"

Jisung merasa ingin muntah mendengarnya.

"Bilang pada polisi itu, aku akan pulang, aku butuh tidur dan mengembalikan staminaku" Yongguk berdiri.

"Huh? Yah! Kau tidak boleh pergi" Jisung menghalangi Yongguk.

"Woah.. agresif juga…" Yongguk menggeleng tak percaya. "Dengar dokter, aku tidak tertarik padamu. Maaf-maaf saja." Yongguk menepuk bahu Jisung dengan tatapan iba.

"Bu-bukan begitu…"

"Aish, biarkan aku pulang oke? Begini saja, mana ponselmu?"

Jisung mengernyit bingung. Dengan lancang, Yongguk merogoh kantung jas dokter Jisung dan berhasil menemukan ponsel Jisung.

"Buka ini" perintah Yongguk sambil mengarahakan ponsel Jisung kedepan pemiliknya.

Jisung menurut.

"Ini nomor ponselku, kalau kau butuh teman, kau bisa menghubungiku. Namaku Yongguk. Ingat itu" ucap Yongguk sambil berjalan menjauh meninggalkan Jisung yang sedang melongo tak percaya.

Ngomong-ngomong, sejak kapan Stella jadi pacarmu, Yongguk-ssi?.

.

.

.

TBC