"Hyung, Mommy belum pulang juga" adu Jimin pada Yoongi. Jam sudah menunjukan pukul 4 pagi dan Stella belum juga kunjung kembali. Saat Jimin menelepon ke ponsel Stella, tidak ada jawaban yang Jimin terima.

"Dia sudah di Seoul, jangan khawatir. Istirahatlah, nanti aku akan menjemput kalian ke Busan" jawab Yoongi datar.

"Huh? Kenapa Mommy tidak bilang?"

"Ada urusan mendadak. Dia tidak apa-apa. Sampai bertemu nanti, oke?" tanpa menunggu jawaban Jimin, Yoongi memutuskan sambungan teleponnya.

Jimin memandangi ponselnya yang masih menyala. Stella pulang ke Seoul tanpa memberitahu jimin, bukannya aneh?

.

.

.

KOI NO YOKAN-2

.

.

.

"Ini konyol, bagaimana bisa dia lengah seperti ini" guman Yoongi pelan. Saat Jimin menelepon, Yoongi sudah sampai di Busan bersama Namjoon, Wonho, dan Luhan.

"Setiap orang pasti punya saat-saat lengah, Hyung." Komentar Namjoon.

"Stella pasti akan menyelesaikan orang yang menembaknya. Ngomong-ngomong, kenapa Stella bersama si Yongguk itu?" Luhan melirik kebelakang dimana ada Yoongi dan Namjoon yang duduk tenang disana, sementara Wonho terus konsentrasi menyetir.

"Nanti saja kau Tanya sendiri padanya" ucap Yoongi tak berminat.

"Ini tempatnya, Bos" Wonho memberhentikan mobilnya didepan rumah besar yang berada ditengah hutan. Keadaan masih gelap karena matahari belum muncul. Didepan gerbang yang terlihat kusam dan tidak terawat itu, berdiri dua orang bersenjata berbadan kekar, berjalan menuju kearah mobil Yoongi.

"Min Yoongi" ucap Yoongi setelah menurunkan kaca jendela-nya.

Dua orang pria berbadan kekar itu membungkuk sopan dan berjalan membukakan gerbang agar mobil Yoongi bisa masuk. Mobil diberhentikan tepat didepan pintu rumah megah itu. Yoongi lebih dulu turun disusul oleh Luhan, Namjoon dan kemudian Wonho.

"Ini seperti rumah hantu. Aku merinding" komentar Luhan saat melihat suasana lingkungan rumah yang tidak terawat.

Wonho yang mendengar komentar Luhan dengan iseng meniup sisi telinga kanan Luhan, saat Luhan berbalik, Wonho bersikap santai seperti tidak terjadi apapun.

"Apa?" Tanya Wonho bingung.

"Ada yang meniup telingaku" Luhan berucap gugup. Wajahnya mulai memucat.

"Tuan Min, silahkan masuk" seseorang yang mengenal Yoongi membukakan pintu dan mempersilahkan, tapi, Luhan mendahuli, namja cantik itu melewati badan Yoongi dan masuk lebih dulu kedalam rumah. Wonho, tertawa tertahan dibelakang Namjoon.

"Dimana Yongguk?" Tanya Yoongi tanpa basa-basi.

"Silahkan masuk, tuan. Anda kesini pasti ingin menjemput nona Stella, benarkan?" pria berbaju jas lengkap itu tersenyum ramah.

"Hm" guman Yoongi pelan.

Yoongi melirik ke isi ruangan, memindai dengan teliti seluruh detail ruangan tempat dia berdiri sekarang. Disebelah kanannya ada tangga yang terbuat dari kayu mewah dengan ukiran rumit di sisi tangga. Ada juga obor tergantung di antara tiang tangga, yang membuat rumah ini terlihat seperti tempat pemujaan setan.

"Sebelah sini" pria itu mengarahkan Yoongi menuju arah kiri dimana ada tangga yang tersusun dari batu-batuan yang mengarah kebawah tanah.

"Aku berjaga disini, hyung" bisik Namjoon. Namjoon memundurkan langkahnya dan tubuhnya bertabrakan dengan Luhan.

"Yah!" Luhan memukul bahu Namjoon cukup kuat. Namjoon yang dipukul, hanya menatap Luhan kebingungan. "Aku kaget, brengsek!" maki Luhan tanpa sadar.

"Yah, Luhan..." desis Namjoon tajam.

"Ada apa, Namjoon-ssi?" pria berjas itu berbalik dan menatap Namjoon dan Luhan.

"Aku tidak turun kebawah, aku akan tetap disini" ucap Namjoon.

"Maaf, tapi kalian semua harus turun" ucapnya Sopan.

Namjoon melirik Yoongi sekilas dan saat melihat Yoongi mengangguk, Namjoon menurut. Dia kembali berjalan disamping Yoongi yang sudah menginjak tangga pertama.

"Mari, sebelah sini" ucap pria berjas itu sopan.

Tangga berbentuk setengah lingkaran itu mengantarkan Yoongi, Namjoon, Luhan dan Wonho disebuah ruangan bercat merah maroon dengan aksen emas diseluruh dindingnya. Bagian sebelah kiri ruangan itu berhadapan langsung dengan laut dan ada sebuah tempat tidur didekatnya. Disana, mereka bisa melihat Stella yang bagian bahunya diperban, sedang tertidur tanpa baju. Hanya selimut yang menutupi badan bagian atas Stella.

"Mana Yongguk?" Yoongi menekan pelipisnya perlahan. Dia tahu Stella sedang tidur nyenyak sekarang.

"Sedang mengantarkan dokter yang tadi mengeluarkan peluru dari bahu nona Stella. Mungkin sebentar lagi kembali. Silahkan duduk" ucapnya Sopan dan mengarahkan mereka di sofa yang bersenrangan dengan tempat tidur.

"Apa yang terjadi?" Tanya Namjoon penasaran.

"Ada seseorang yang sedang mengincar tuan Yongguk" mulainya dan mendudukan diri disamping Wonho. "Anak haram dari yakuza yang pernah nona Stella tembak"

Yoongi menaikkan alisnya. Kepalanya kembali berdenyut. Entah sampai kapan Stella berhenti menyebabkan masalah.

"Kenapa Stella? Bukannya yang diincarnya adalah Yongguk?" Tanya Yoongi.

"Benar. Tapi tuan Yongguk juga tertembak di perut. Mereka memang mengincar keduanya. Motifnya, dendam" jelasnya.

"Yongguk tertembak?" ucap Yoongi tak percaya.

Pria berjas formal itu berdiri, mengambil sesuatu dari meja dekat Stella tertidur dan meletakkan piring kecil didepan Yoongi. Bisa Yoongi lihat ada dua peluru yang berada disana.

"Salah sasaran kalau menurutku. Mereka mengincar jantung nona Stella dan kepala tuan Yongguk. Tapi sayangnya, tuan Yongguk langsung berdiri dan akhirnya peluru mereka menyasar diperut" ucapnya kalem.

"Amatiran" ejek Luhan.

"Lama menunggu, tuan Min?" sapa Yongguk ceria.

Yoongi melirik kearah tangga dan melihat Yongguk berjalan dengan sedikit kesusahan, kaos yang dikenakannya terlihat menonjol dibagian perut dan ada bau povidone iodine yang tercium saat Yongguk mendekat.

"Selamat atas kelahiran anakmu, tuan. Dia tampan" puji Yongguk.

Yoongi tersenyum sedetik dan kembali berwajah datar. "Aku kesini ingin menitipkan Stella padamu untuk beberapa hari" ucap Yoongi tanpa basa-basi.

Yongguk membolakan matanya dan kemudian mata itu dipenuhi dengan binar bahagia, seperti anak kecil yang mendapatkan mainan impiannya. Namjoon terkekeh.

"Sebentar... sebentar" ucapa Yongguk dan mengeluarkan ponselnya. "Bisa katakan sekali lagi? Aku ingin merekamnya sebagai bukti" ucap Yongguk semangat.

Yoongi mendengus dan mengulang ucapannya.

"Aku rasa rumahmu cukup aman untuk Stella bersembunyi. Ini jauh dari perkotaan dan penjagaan dirumahmu cukup ketat" ucap Yoongi.

"Jangan mengambil keputusan sembarang, Asshole" ucap Stella yang sudah terbangun. Dia mendudukan diri ditempat tidur dan bersandar punggung dikepala tempat tidur. Belahan dadanya sedikit terlihat dan Yoongi menghela nafas frustasi.

"Pakai bajumu" perintah Yoongi.

"Disini tidak ada bajuku. Bajuku sudah bolong, terkena darah. Sudah tidak cantik lagi kalau dipakai, stupid" omel Stella.

Lagi-lagi Yoongi menghela nafas dan melepas coat yang dipakainya untuk Stella kenakan. Belum sempat Yoongi melangkah, pria berjas formal itu sudah mengambilkan kemeja milik Yongguk dan memberikannya pada Stella.

"Silahkan nona" ucapnya sopan.

"Apa tidak ada yang lebih manis?" protes Stella. "Ini sangat tidak feminim"

"Pakai saja!" geram Yoongi.

"Yah! Asshole number two, kau tidak punya baju yang lebih bagus dari kemeja ini? Ini sangat tidak feminim, aku tidak suka" protes Stella pada Yongguk.

"Aku tidak punya baju perempuan, Nona perkasa" Yongguk memutar bola matanya. "Ambilkan dia sweater saja" perintah Yongguk.

"Dan sweatpants" tambah Stella. "Katakan padaku, Asshole number two, siapa yang menelanjangiku? Huh? Kau cari kesempatan saat aku tidak sadar, ya?" tuding Stella.

"Harusnya kau biarkan saja dia sekarat" geram Yoongi.

"Aku mendengarmu, Asshole" Stella memicing tajam pada Yoongi.

"Kau, tetap tinggal disini. Papa akan marah sekali kalau tau kau terluka seperti ini" Yoongi berjalan menuju tempat tidur dan berdiri diujungnya.

"Kau adikku kalau kau lupa" ucap Stella sarkastik. "Adik tidak punya hak mengatur kakak-nya. Paham?"

Yongguk membolakan matanya saat mendengar ucapan Stella. Yang benar saja...

"Lalu? Kau ingin pulang dengan keadaan sepert ini? Kau mau tuan Choi tau kalau kau ini sebenarnya sakit jiwa? Perempuan yang bekerja bersama mafia? Huh?" tantang Yoongi.

"Benar juga" Stella mengibaskan rambutnya kebelakang. "Mana ponselku. Aku harus menghubungi kitten, dia pasti khawatir" ucap Stella panic saat sadar dia sempat melupakan anakknya.

"Baju anda, nona" ucap pria berjas itu sopan dan meletakkan baju dan celana diatas tempat tidur.

"Dimana ponselku?" Tanya Stella panic.

Yongguk berjalan mendekat kearah Yoongi dan menjatuhkan ponsel Stella ditempat tidur. "Kitten mencarimu sejak tengah malam" ucap Yongguk dingin.

"Pasti khawatir" Stella menyambar ponselnya dan mulai sibuk sendiri. Yoongi menarik Yongguk menjauh untuk memberikan Stella privasi untuk bicara.

"Hyung, apa tidak lebih baik kalau kita bawa Stella pulang?" Tanya Namjoon.

"Disini lebih aman." Ucap Yoongi tegas. "Aku akan mengirimi uang untuk perawatan luka Stella selama disini. Berikan dia dokter yang terbaik dan pastikan keadaannya pulih sebelum dia kembali." Ucap Yoongi pada Yongguk.

"Tidak perlu. Aku akan memberikan semua keinginan Stella Cuma-Cuma. Aku tidak butuh uangmu, tuan" Yongguk terkekeh.

"Baguslah kalau begitu" Yoongi berucap senang.

Yoongi kembali duduk disofa yang tadi dia tempati, samar-samar Yoongi bisa mendengar suara Stella yang tertawa dan meminta maaf pada Jimin. Mau tidak mau, Yoongi tersenyum kecil.

"Karena aku tidak mau kitten khawatir, aku setuju tinggal disini" ucap stella tiba-tiba.

"Call. Aku akan minta asistenmu mengirim semua bajumu kesini" ucap Yoongi.

"Asshole, aku bohong pada kitten dan bilang kalau aku sudah di Seoul. Ada urusan mendadak. Jadi, jangan sampai salah bicara"

Yoongi mendengus dan tertawa. Ternyata Stella memang saudaranya, bahkan soal bohong pun mereka sepakat.

"Ada info lain yang bisa ku dapat soal penembakan kalian?" Tanya Yoongi pada Yongguk yang sudah mendudukan diri disamping Luhan.

"Kami sedang mencari tahu siapa orangnya untuk lebih pastinya. Kalau kami sudah dapat, aku akan memberikan infonya padamu" Yongguk berucap serius. Mendadak rasa geram dan marah menyelimutinya.

"Beritahu secepatnya." Ucap Yoongi.

"Hyung, kau akan tinggal bersama Jimin atau ikut kami langsung ke Seoul? Seokjin sedang manja, dia tidak bisa ditinggal lama-lama" ucap Namjoon.

"Kalian kembali lebih dulu. Aku akan kerumah Jimin." Putus Yoongi. "Luhan, kau tetap di Busan untuk menyelesaikan urusan club malam yang ada disini"

"Ne" ucap Luhan tak semangat.

"Wonho, setelah sampai Seoul, kau pergi ke rumah tuan Chae. Temani Hyungwon jalan-jalan" perintah Yoongi.

Wonho tersedak. Dadanya berdebar. "N-ne, boss"

"Kalau kau tidak tahan dengan sikapnya bossy-nya, bius saja agar tenang" ucap Yoongi pada Yongguk. Matanya melirik kearah Stella yang sudah memakai baju dan tengah sibuk dengan ponselnya.

Yongguk terkekeh. "Aku tidak akan tega"

Yoongi memutar bola matanya. "Kami permisi." Pamit Yoongi.

.

.

.

"Yoongi oppa" Jihyun tersentak mundur saat melihat Yoongi tengah berdiri didepan pintu dan tersenyum ramah.

"Hey, kau sehat?" sapa Yoongi.

"Aku sehat, Oppa. Masuklah. Jimin oppa sedang dikamar bersama Mino. Baru saja kami akan pergi jalan-jalan" ucap Jihyun.

"Mau kemana?" Tanya Yoongi sambil mengikuti Jihyun masuk kedalam rumah.

"Ke pantai." Ucap Jihyun ceria. "Oppa, temui Jimin oppa dan Mino dulu" Jihyun mempersilahkan.

"Ne. gomawo" Yoongi berjalan mendahului Jihyun. Kakinya melangkah kearah kamar Jimin dan membuka pintu itu pelan-pelan.

Yoongi tersenyum hangat saat Jimin sedang memasangkan baju pada Mino dan menyanyikan lagu anak-anak, sementara anaknya hanya menatap Jimin dengan tangan dan kaki yang terangkat keatas.

"Nah, sudah tampan. Anak siapa ini?" Jimin berucap gemas dan mencium pipi Mino sampai pipi anaknya naik keatas.

"Min Yoongi tentu saja"

Jimin tersentak dan melirik kesamping. Yoongi sedang berdiri disamping pintu dan tertawa kecil.

"Hyung, cepat sekali sampainya" Jimin melirik kearah jam yang tergantung dikamarnya. Jam delapan pagi.

"Tidak ada pelukan untukku yang baru datang?" Yoongi menaikkan satu alisnya.

Jimin tertawa kecil dan berjalan menuju Yoongi yang sedang menutup pintu dibelakangnya.

"Selamat datang, Appa" Jimin memeluk erat Yoongi dan mencium bahu Yoongi lama.

"Hm. Bagaimana Mino?" Yoongi mengurai pelukan Jimin dan menangkup wajah Jimin dengan tangannya.

"Dia menjadi anak yang baik" ucap Jimin dan terkekeh kecil saat Yoongi mengecup bibirnya. "Mino, lihat siapa yang sudah merindukan kita..." Jimin berjalan kearah Mino dengan tangan Yoongi yang memeluk pinggangnya erat.

Yoongi melepaskan pelukannya dan telungkup disamping Mino. Tangannya bergerak memainkan tangan kecil anaknya yang lagi-lagi mengarah keatas.

"Bagaimana rasanya tidur tanpa Appa, huh?" Tanya Yoongi sambil menggigit-gigit gemas tangan Mino yang terkepal memegang jari telunjuknya.

Jimin mendudukan diri disamping Yoongi yang sedang telungkup, tangannya mengelus tengkuk Yoongi pelan dan meletakkan dagunya dibahu Yoongi. "Kami baik-baik saja tidur tanpa Appa. Iya kan, Mino?" Jimin menjawab dan mendapat kernyitan kesal dari Yoongi.

"Bercanda, sayang" Jimin menggusak rambut Yoongi dan mengecup pipi Yoongi sekilas.

"Kalian mau ke pantai?" Yoongi membalikan badan, tertidur dengan kepalanya yang tepat berada disamping Mino.

"Ne. tadinya mau pergi dengan Mommy, tapi Mommy pulang lebih dulu karena pekerjaan" gerutu Jimin. Tangannya terlipat diatas dada Yoongi dan meletakkan dagunya dilipatan tangannya.

"Ya sudah, kita bisa pergi bersama, kan. Lagian, ini pertama kalinya kita pergi liburan sekeluarga" ucap Yoongi menghibur.

"Benar juga" Jimin menegakkan tubuhnya. Tangannya terulur untuk menggendong Mino kedalam pelukannya. "Ayo, hyung" .

.

.

.

"Kabari oppa kalau kau sudah sampai di rumah sakit, Jihyunie" pesan Jimin.

"Ne. oppa dan Yoongi Oppa juga hati-hati di jalan" pesan Jihyun sambil memasukan tasnya kedalam mobil temannya yang menjemput Jihyun dari rumah.

Setelah selesai bermain di sekitaran pantai, mereka kembali pulang kerumah pada sore hari karena Mino sudah mulai rewel. Dan sekarang, Jihyun harus pulang ke rumah sakit sementara Jimin dan Yoongi akan kembali ke Seoul juga sore ini.

"Sampai bertemu lagi, Jihyunie" ucap Yoongi.

"Ne, oppa. Sampai jumpa. Aku pergi dulu, Oppa" pamit Jihyun.

Mobil yang membawa Jihyun sudah berlalu, meninggalkan Jimin dan Yoongi didepan pagar rumah Jimin yang hanya sebatas betis orang dewasa.

"Ayo pulang" ajak Jimin dan memperbaiki posisi gendongannya pada Mino.

"Kita akan ke rumah Appa dan Eomma nanti. Mereka minta kita menginap disana" Yoongi merangkul pinggang Jimin dan berjalan kearah mobil.

"Oh iya, Hyungwon sedang disini, kan? Eomma bilang dia baru saja pulang liburan dari Jeju bersama teman-temannya semalam" cerita Jimin.

"Oh, aku tidak tau soal itu" Yoongi membukakan pintu dan kemudian menutupnya untuk Jimin kemudian berjalan memutari mobil dan masuk kedalam kursi kemudi.

"Eomma bilang, Hyungwon membelikan sesuatu untuk Mino" cerita Jimin.

"Oh" jawab Yoongi tak peduli.

"Sudah lama ya, kita tidak bertemu dengan Hyungwon" Jimin mengelus kepala Mino yang tertidur di dada-nya dan melirik Yoongi yang sudah konsentrasi menyetir.

"Iya mungkin" jawab Yoongi seadanya.

Jimin memutar bola matanya. "Jangan terlalu dingin dengan adikmu sendiri, Hyung. Aku saja sudah melupakan soal pertengkaran kami dulu"

"Iya" jawab Yoongi malas.

"Iya.. iya…" Jimin mencebik kesal mendengar jawaban Yoongi yang terdengar malas-malasan.

"Iya sayangku…." Yoongi menggusak rambut Jimin, menarik tangan Jimin dan mengecupnya sekilas. "Iya, aku tidak dingin lagi"

.

.

.

"Akhirnya cucu eomma sampai juga…" Chae eomma menyambut kedatangan Jimin dan Yoongi dengan senang. Tangannya langsung terulur kearah Mino yang sedang terbangun meminum susu-nya.

"Botol susu-nya, eomma" ucap Jimin saat memindahkan tubuh Mino ke Chae eomma, botol susu milik Mino terlepas dari bibir bayi itu.

Yoongi terlihat sedang menurunkan koper yang cukup besar dari dalam mobil, Yoongi yakin 90% isinya adalah milik anaknya.

"Kau bisa sendirikan, Yoon?" Chae Appa melirik Yoongi yang sudah menarik koper beroda itu menuju pintu rumah.

"Bisa, Appa." Yoongi menjawab dan terus menarik koper beroda itu.

"Masuk, Jim, Yoon, kalian pasti capek" Chae Appa mempersilahkan. "Hyungwon sedang pergi dengan Wonho. Ngomong-ngomong, terimakasih sudah mengizinkan Wonho menemani Hyungwon" ucap Chae Appa.

"Bukan masalah" Yoongi menyerahkan koper ditangannya pada pelayan yang baru saja muncul dari dalam rumah. "Masukan ke kamar tamu saja" perintah Yoongi pada pelayan itu.

"Eomma, aku pinjam handuk" pinta Jimin. "Bajuku ketumpahan susu Mino" adu Jimin.

"Sebentar, ne. masuklah dulu ke kamar, nanti Yoongi yang akan memberikan handuk padamu" ucap Chae Eomma.

Jimin melirik kearah Yoongi, biasanya suaminya ini paling tidak suka diperintah dan disuruh-suruh, jadi Jimin agak kaget saat melihat Yoongi tersenyum licik dengan satu alis yang naik keatas.

"Aku tunggu handuknya saja, Eomma" Jimin masih melihat lurus pada Yoongi yang sudah berubah ekspresi wajahnya. Wajahnya terlihat seperti tengah protes. Jimin terkekeh.

"Ya sudah, eomma ke dapur dulu"

"Aku saja, eomma" tolak Jimin.

"Tidak apa. Jangan segan pada eomma, kalian baru sampai, pasti masih capek. Duduk dulu" Chae eomma menepuk bahu Jimin dan tersenyum kecil kemudian berjalan kedapur untuk menemui pelayan bersama Mino yang masih minum susu dalam gendongan.

"Mandi saja dulu, Jim. Nanti masuk angin. Bajumu sudah basah. Biar Yoongi yang nanti mengantarkan handuk ke kamar" Chae Appa memperingatkan. Yoongi yang berdiri disampaing Appa-nya tersenyum miring dan mengangguk senang.

Jimin tersenyum kecil. Rasanya tidak enak menolak perintah dari Chae Appa seperti ini. Akhirnya dia menurut dan pamit untuk masuk kamar. Saat Jimin melewati Yoongi, Jimin dengan sengaja mencubit main-main perut Yoongi yang dibalas Yoongi dengan seringaian.

"Buatkan kami kopi" pinta Chae Appa saat pelayan yang tadi membawakan koper Yoongi kekamar melintas diruang tamu.

"Ne, tuan" jawabnya sopan dan berlalu ke dapur.

"Bagaimana keadaan kantormu? Appa dengar kau sedang membangun club baru di Busan" tuan Chae mendudukan diri di sofa tunggal, bersebrangan dengan Yoongi yang duduk di sofa bermuatan tiga orang.

"Hampir 90% selesai. Tinggal pembukaannya saja dan sekarang sedang sibuk perekrutan pegawai. Kalau semua posisi sudah diisi, club malamnya akan dibuka" cerita Yoongi.

"Club mu maju pesat sepertinya" puji Chae Appa.

"Menurut appa seperti itu?"

"Tentu, kau sudah buka cabang baru, tentu saja itu hebat." Tuan Chae tersenyum bangga. "Sesekali kau perlu mengajari adikmu berbisnis. Dia terlalu manja dan tidak mandiri sama sekali. Sebentar lagi kuliahnya akan selesai, tapi Appa masih ragu untuk membuatnya menjadi pengganti Appa" keluh tuan Chae.

"Aku rasa Appa orang yang tepat untuk mengajari Hyungwon" elak Yoongi.

"Kau tahu sendiri Hyungwon itu selalu merengek kalau dia merasa tertekan. Kalau Appa yang mengajari, dia pasti banyak tingkah"

"Minta tolong Wonho saja, Appa. Belakangan aku sedang sibuk" Yoongi menolak tegas permintaan Appa-nya.

"Apa tidak masalah? Kau tahu sendiri bagaimana Hyungwon kalau dengan Wonho"

"Kalau begitu, biar Luhan yang mengajarinya. Tapi aku tidak jamin kalau Hyungwon bisa baik-baik saja. Luhan tidak suka orang yang tidak menurut padanya"

"Luhan yang berambut terang?" Tanya tuan Chae memastikan.

"Ne. dia yang bekerja mengelola club untukku. Bagaimana? Kalau Appa mau, aku bisa minta Luhan membawa Hyungwon ke Busan untuk belajar dasar-dasarnya secara langsung" ucap Yoongi.

"Appa akan Tanya Hyungwon dulu kalau begitu" Tuan Chae tersenyum kecil.

"Bisa tidak kalau kalian tidak membahas bisnis terus menerus?" Chae eomma yang baru muncul bersama Mino, mendudukan diri disamping Yoongi.

"Kami hanya berbincang kecil" elak tuan Chae.

"Ini handuk untuk Jimin,Yoon." Chae Eomma menyerahkan handuk putih itu dipangkuan Yoongi. "Oh ya, dimana baju Mino? Biar eomma yang gantikan bajunya"

"Di kamar, eomma. Biar aku saja yang ambil, sekalian memberikan handuk pada Jimin" Yoongi berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamar.

Yoongi membuka koper dan mengambil piyama milik Mino dari dalam koper. Setelahnya dia berdiri didepan pintu kamar mandi, mengetuk beberapa kali sampai Jimin menyahut dari dalam kamar mandi.

"Hyung?" Tanya Jimin dari dalam kamar mandi.

"Handukmu, nyonya Min" teriak Yoongi dari luar.

Jimin membuka pintunya sedikit, kepalanya menyembul dari balik pintu. Rambutnya basah dan pipinya terlihat merona.

"Silahkan handuknya" Yoongi menyerahkan handuk ditangannya tapi saat Jimin menariknya, Yoongi menahan sebagian handuknya.

"Hyung…" Jimin merengek. "Handuknyaa…"

Yoongi terkekeh dan menyerahkan handuk Jimin. Buru-buru Jimin menutup pintu.

"Aku suka wangi sabunmu, nyonya Min"

"Hyyuuungggg" Jimin berteriak malu dari kamar mandi, sementara Yoongi sudah tertawa lebar dan berjalan menuju pintu kamar.

"Ini eomma…" Yoongi mendudukan diri kembali disamping eomma-nya dan menyerahkan piyama milik Mino.

"Jimin kenapa berteriak?" Tanya Chae eomma dan mengambil piyama Mino dari tangan Yoongi.

"Tidak ada, aku hanya sedikit mengganggunya" Yoongi terkekeh.

"Kopi-nya tuan" pelayan rumah itu meletakan dua cangkir kopi diatas meja dan permisi kembali kedapur.

"Yoon, malam ini Mino tidur dikamar eomma dan appa, ya" pinta Chae Appa.

Yoongi mengernyit. Dia ingin protes. Dia rindu tidur sempit-sempitan bersama Mino, tapi saat melihat wajah penuh harap Appa-nya, Yoongi jadi tidak tega dan menghela napas. "Sebaiknya kita Tanya Jimin dulu, Appa" ucap Yoongi akhirnya.

Tidak sampai 15 menit, Mino sudah selesai berganti baju dan Jimin juga sudah selesai mandi. Jimin mendudukan diri disamping Yoongi yang sedang meminum kopinya sampai habis.

"Appa ingin Mino tidur dikamar mereka malam ini" ucap Yoongi dan meletakkan kembali cangkir kopinya di meja.

"Huh? Tapi nanti Appa dan Eomma tidak bisa tidur dengan nyenyak" ucap Jimin tak enak hati.

"Kami sudah biasa. Saat kalian masuk rumah sakit, Appa dan Eomma yang menjaga Mino. Jadwal minum susunya juga Eomma masih hapal" ucap Chae Eomma dan berjalan kearah Chae Appa, meletakkan Mino digendongan kakek-nya yang dari tadi sudah begitu sabar menunggu antrian menggendong.

"Apa tidak apa?" Tanya Jimin memastikan.

"Tidak apa. Lagian kami sudah rindu dengan cucu kami ini. Kalian sangat jarang kesini. Jadi, malam ini Mino tidur dengan kakek, iya kan?" tuan Chae menatap Mino yang berada digendongannya. Bayi itu menaikkan kakinya seolah sedang kegirangan.

"Kalau eomma dan appa tidak keberatan, aku tidak apa" ucap Jimin dan menatap Yoongi. "Appa tidak apa-kan malam ini tidak tidur dengan Mino lagi?" Jimin menaik turunkan alisnya saat menatap Yoongi.

"Ya sudahlah" ucap Yoongi pasrah.

"Ya sudah, kalian istirahat saja dikamar. Sepertinya Hyungwon akan pulang larut. Besok pagi saja bertemu-nya" ucap Chae eomma.

"Kami bawa Mino keatas, ya" Pamit tuan Chae dan berdiri dari duduknya. Mino terlihat senang, kaki dan tangannya bergerak heboh digendongan tuan Chae.

"Ne, Appa" jawab Jimin dan Yoongi kompak.

Sepeninggalan tuan Chae dan nyonya Chae, Yoongi dan Jimin masih berada diruang tamu. Mata Jimin tidak sengaja menatap kedinding dan tersenyum hangat saat melihat foto Mino sudah terpajang cukup besar didekat jam.

"Kenapa?" Tanya Yoongi penasaran dan matanya melihat kearah tatapan Jimin dan ikut tersenyum kecil.

Jimin menjatuhkan tubuhnya, kepalanya bersandar malas didada Yoongi dan tangannya melingkar diperut Yoongi. "Hyung belum mengantuk?" Jimin menggusak pipinya didada Yoongi.

"Belum. Kau sudah mengantuk?" Yoongi merentangkan tangannya, memeluk bahu Jimin dan mengelus bahu itu lembut.

"Lumayan" ucap Jimin. Jimin membolakan matanya saat Yoongi menarik dagunya dan mencium bibir Jimin. Dengan perlahan Jimin mendorong dada Yoongi hingga ciuman mereka terlepas dan menatap memicing kearah suaminya itu.

"Kenapa?"

"Hyung, bagaimana kalau ada yang lihat?" protes Jimin.

"Memangnya kenapa?" Yoongi mengernyit.

"Ini diruang tamu, hyung" Jimin berucap gemas.

"Berarti kalau dikamar, boleh?"

Jimin tergugup. Wajahnya merona .

"Ayo kekamar kalau begitu" Yoongi menarik pinggang Jimin menuju kamar.

Tepat saat pintu itu terkunci, Yoongi mendorong Jimin kedinding dan mencium Jimin seperti tidak ada hari esok untuk melakukannya. Jimin sendiri sudah tidak berniat mencegah Yoongi, dia membiarkan Yoongi melakukan apapun maunya malam ini.

Jimin mendorong Yoongi tanpa melepas ciumannya dan mengarahkan Yoongi keatas tempat tidur. Ciumannya terlepas saat Yoongi jatuh keatas tempat tidur dengan kaki yang menggantung kearah lantai. Jimin melepas bajunya tepat didepan Yoongi dan merangkak menaiki perut Yoongi dan duduk disana.

"Bad kitten" Yoongi terkekeh.

"Daddy tidak suka?" Jimin memiringkan kepalanya. Tangannya bertengger diatas dada Yoongi dengan kaki yang terlipat diantara tubuh Yoongi.

Yoongi tertawa kecil. "Daddy, huh?"

"Hari ini, Jiminie yang akan memanjakan Yoongi hyung…" Jimin membuka satu persatu kancing kemeja Yoongi sampai terlepas seluruhnya.

"Tapi daripada dimanjakan, aku lebih suka menandai daerah kekuasaanku di tubuhmu, Jiminie" Yoongi menarik tubuh Jimin hingga menempel ditubuhnya dan membalik tubuh mereka hingga Yoongi yang berada diatas.

"Hyung…" Jimin mengerjapkan matanya karena terkejut dengan gerakan Yoongi yang tiba-tiba.

"Disini tidak kedap suara, Jiminie. Kita tidak bisa berisik" Yoongi menurunkan tubuhnya dan mulai menandai tubuh Jimin dengan bibirnya.

Saat sibuk dengan pekerjaannya melukis dengan lidah ditubuh Jimin, ponsel Jimin yang berada dikantong piyama yang Jimin kenakakan bergertar. Dengan kesal Yoongi menyambar ponsel yang berada didalam baju Jimin yang sudah tergeletak diatas tempat tidur dan sedetik kemudian matanya membola.

"Hyung? Ada apa?" Tanya Jimin penasaran.

Yoongi menghela nafas putus asa melihat pesan yang masuk keponsel Jimin dari Stella.

"Bukan apa-apa. Hanya salah kirim." Ucap Yoongi setelah menghapus pesan dan foto yang dikirim Stella ke ponsel Jimin yang Yoongi yakin salah kirim.

"Tapi, hyung…"

"Aku sedang lapar, Jiminie"

Protes Jimin tertahan karena Yoongi sudah membungkam mulut Jimin dengan ciuman panas. Tangan nakal Yoongi juga sudah merayap kearah celana Jimin dan membuka celana itu tanpa kesulitan. Persetan dengan Stella. Yoongi sedang ingin bermain dengan Jiminie lebih dulu sebelum dia harus membereskan kekacauan yang akan Stella buat sebentar lagi.

.

.

.

Stella: Asshole, coba tebak siapa yang akan membuat masalah malam ini?

tbc